I Refuse to Lose You! (Chapter 2)

I Refuse to Lose You! (Chapter 2)

Author: @kim_mus2

Note : Sequel of HMH: Luhan Version

Main Casts: Luhan & Myung Hee

Length            : Multi Chapter (Prediction: 3 Chapters)

Genre  : Romance, Comedy, School Life

Rating : PG-15/ PG-13

(Gak yakin nih ratingnya, tapi chapter ini aman ko readers)

Summary:

No matter how hard to reach you, I will never give up on you.

Disclaimer:

Ide cerita FF ini murni 100% hasil imajinasi author saat sedang nongkrong di suatu tempat yang penuh inspirasi 😛

=♡♡♡=

Author’s Side

Sore itu Luhan sudah tiba di apartemen barunya. Kini dia akan memulai kehidupan yang berbeda, kehidupan kampus di negeri orang tanpa sanak saudara dan tanpa seseorang yang paling berarti dalam hidupnya. Siapa lagi kalau bukan Lee Myung Hee, yeoja manis yang selalu ceria, tak peduli sesulit apapun tugas dan kewajiban yang harus ia pikul sebagai seorang Ketua OSIS dan Ketua Ekskul Jurnalis.

Tapi, sungguh sangat disayangkan, selama satu bulan terakhir menjelang masa kelulusan Luhan, dia berubah. Dia jarang tersenyum dan selalu menghindari Luhan. Perubahan itu membuat Luhan menyadari satu hal, dia bukanlah namja yang bisa membuat Myung Hee bahagia. Alasan itulah yang kini membuatnya menerima beasiswa di Universitas Tokyo, sebuah tempat yang cukup jauh dan tenang untuk menghilangkan semua perasaannya pada Myung Hee.

Meskipun masih merasa kurang enak badan karena mengalami Jet lag, Luhan tak menunda pekerjaannya untuk mengeluarkanpakaian dari dalam kopernya. Setelah semua pakaiannya tertata rapih di dalam lemari, Luhan langsung meraih koper satunya lagi yang berisi buku-buku favoritnya. Seketika setelah Luhan membuka koper itu, raut wajahnya menegang. Ia langsung meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Yoboseyoo…” jawab seorang namja di seberang telepon Luhan.

“Yoboseyoo… Sehunnie ini aku …”

“Hah? Nugu?”

“Yaa! Kau tak mengenalku? Ini aku, hyungmu Luhan” jawab Luhan tak sabaran.

“Aahh… hyung! Kau sudah sampai? Bagaimana di Jepang? Apartemennya bagus tidak? Ini nomor barumu ya?” tanya Sehun antusias.

“Ya… ya… ya… simpan dulu pertanyaanmu! Aku mau tanya sesuatu padamu Sehun-aah, ini penting!” tegas Luhan pada dongsaengnya yang mendadak cerewet.

“Marhebwa hyung! Waeyo?” ujar Sehun dengan santainya.

“Itu, emmhh… apa kau liat buku agendaku?”

“Buku agenda? Yang mana ya?”

“Yang covernya hitam hun!” Luhan semakin kesal.

“Yang covernya hitam kan banyak hyung! Memangnya isinya apa sih? Penting sekali ya hyung?”

“Ah sudahlah, kalau kau tak melihatnya.” Luhan mulai tak tahan dengan pertanyaan Sehun dan berniat untuk segera memutuskan telepon kalau saja dongsaegnya itu tidak melanjutkan pembicaraannya.

“Maksud hyung, buku yang isinya curhatan itu ya?” tanya Sehun dengan nada menyindir.

“Yaa! Sehunnie! Kau membacanya? Dimana bukuku sekarang?” bentak Luhan panik.

“Yup, betul! Lebih tepatnya, aku sudah hatam membaca bukumu itu hyung hehe… sekarang bukunya ada di… kasih tahu gak ya? hihihi.” Sehun benar-benar senang menggoda hyungnya itu, apalagi kalau urusan cinta, soalnya Luhan benar – benar polos dalam urusan itu.

“Sehunnie! Aku marah padamu! Aku tak mau menghubungimu lagi! Kita putus!”

“Yaa! Hyung! Putus apanya? Aku ini adikmu hyung! Mana ada adik kakak putus hubungan? Hyung kadang memang rada-rada ya…”

“Cepat katakan! Dimana bukuku?” tanya Luhan geregetan.

“Okay… okay… santai aja hyung! Bukumu itu aman di tangan Myung Hee” jawab Sehun santai.

“Mwo?! Are you crazy Sehunnie? Ah ani… aku yang bisa gila, eottokhae? Sehunnie… jawab aku! Aku harus bagaimana sekarang?” Luhan sangat panik, kesal, bingung, bahkan otak cerdasnya mendadak tak bisa bekerja.

“Santai saja hyung! Aku yakin, Myung Hee pasti sangat senang membaca diarimu, eh maksudnya agendamu itu kekekek.” Lagi-lagi Sehun meledek hyungnya.

“Ini salahmu Sehunnie! Aku marah padamu mulai dari sekarang! Jangan hubungi hyung, sebelum kau berhasil mengambilnya kembali. Titik.”

Tuut… tuut… tuut…

“Waah… Luhan hyung benar-benar marah. Andwaee… Myung Hee! Kembalikan buku itu!”

=♡♡♡=

Masih sedikit sedih dengan kepergian Luhan yang tiba-tiba, Myung Hee memutuskan untuk  mengunjungi tempat dia dan Luhan biasa bertemu. Di bawah pohon yang kokoh itu, Myung Hee menyandarkan punggungnya sambil memejamkan mata, mencoba memutar kembali kenangan – kenangannya bersama Luhan.

Myung Hee’s Side

Oppa… kini kau jauh meninggalkanku. Apakah kau akan melupakanku? Apa disana kau akan mencintai gadis lain? Aku takut oppa, aku takut kita akan benar-benar berpisah selamanya. Aku takut, jika yang tersisa hanyalah cintaku yang tak akan pernah berbalas, dan buku ini yang mewakili perasaanmu yang ku yakni tak pernah sungguh-sungguh padaku. Aku sangat mengerti itu.

Meski hatiku takut untuk mengetahui semua kebenaran tentang perasaannya, aku sadar semuanya sudahlah terlambat bagiku. Tapi, akhirnya kuberanikan diri untuk membuka buku itu dan membaca setiap halaman di dalamnya.

Page 1

Nama                          : Lee Myung Hee

Tempat/Tgl. lahir       : Jinan/ 2 Agustus 1995

Pendidikan                  : Kelas 2, Seoul International High School

Golongan Darah         : AB

Organisasi                   : OSIS (Ketua) & Ekstrakurikuler Journalist (Ketua)

Personality                 : Super Clumsy

Sumber: Data OSIS 2012

Dia, yeoja pertama yang membuatku berpikir lebih keras dari biasanya.

 

Page 2

Agenda :

06.15 : Menjemput Myung Hee di rumahnya

09.45: Istirahat pertama

12.15: Makan siang bersama di dekat pohon belakang sekolah

14.00: Mampir ke café Kris

15.00: Mengantar pulang

Page 3

Hari Minggu:

07.00: Menjemput Jogging

9.00 : Pergi ke bukit

13.00: Mengantar Myung Hee pulang

Luhan oppa… kenapa isinya hampir sama seperti ini? Ini buku diary atau rundown acara sih? Oiya benar, ini kan buku agenda. Tapi tak harus seformal ini juga kan? Baiklah, akan kucoba membaca halaman-halaman terakhir. Semoga saja bukan rundown acara lagi.

Page 25

Wow! Baru pertama kali ini nilaiku menurun, ini sesuatu yang langka dan orang yang mengalahkanku adalah Lee Taemin, kakak yeojachinguku sendiri. Daebakk! Aku sedikit bosan selalu mendapatkan posisi pertama. Aku rasa hidupku jadi lebih aneh dan penuh ranjau setelah bertemu dengannya.

Myung Hee’s Side

Ya ampun… ternyata Luhan oppa menganggapku sebagai yeojachingunya, aku senang sekali hehe.  Tapi apa maksudnya dengan hidup yang lebih aneh dan penuh ranjau? Apa dengan bersamaku hidupnya jadi kacau ya? Haahh… Taemin oppa memang benar, aku ini memang bisanya mengganggu Luhan oppa saja.

Author’s Side

 – Flashback-

Di ruang tengah kediaman keluarga Lee, dua kakak beradik sedang menonton acara music kesukaannya.  Biasanya mereka sangat akrab dan selalu bercanda bersama, tapi tidak pada malam ini.

“Taemin oppa, dapat juara satu di ujian percobaan ya? Lalu bagaimana dengan Luhan oppa? Andwae! Pokonya serahkan kembali juara satumu itu pada Luhan oppa!” Racau Myung Hee sambil menarik-narik lengan kemeja pendek yang dikenakan Taemin.

“Mwo?! Enak saja! Aku sudah bersusah payah belajar untuk ujian percobaan ini tahu! Aku kan tidak punya pacar sepertimu. Apalagi yang bisa kulakukan selain belajar?”

“Aahh… pokonya oppa tak boleh mengalahkan Luhan oppa! Titik!”

“Adik macam apa kau, huh? Aku ini oppa kandungmu!”

“Terus?”

“Aish! Coba kau pikir baik-baik! Orang yang bersalah pada Luhan itu bukan aku, tapi KAU!”

“Mwo? Waeyo?” Myung Hee tidak terima dengan pernyataan oppanya.

“Ne… kau selalu pergi dengannya kan? Aku rasa, ini semua terjadi karena kau mengganggunya saat belajar, nona Lee Myung Hee.” Ujar Taemin dengan nada yang sedikit meledek.

Myung Hee mencoba mencerna semua perkataan oppanya itu sambil memasang wajah serius dan dia pun akhirnya menangis histeris.

“Oppaa… oppa… benarkah seperti itu? Aku jahat… huaaaaa… huaaaaa… eotokkhae?” Myung Hee langsung memeluk lengan kiri Taemin dengan kuat.

“Ya ampuun… Myung Hee… Myung Hee… kau ini masih seperti anak kecil saja. Tak usah pusing segala, yang harus kau lakukan hanya jangan mengganggunya belajar, Myung Hee….” Ujar Taemin sambil mengusap lembut puncak kepala adiknya.

“Tapi aku ingin bertemu dengannya, oppa…” keluh Myung Hee.

“Siapa bilang tak boleh bertemu? Maksudku… saat kamu bertemu Luhan, jangan membuatnya pusing dengan mulutmu yang cerewet itu. Konsentrasinya pada ujian akhir bisa sangat terganggu. Paboya!” jelas Taemin sedikit kesal.

“Memangnya aku cerewet ya oppa?” tanya Myung Hee polos.

“Sangat! Kau juga sangat menyusahkan dan ahli membuat masalah.”

“Oppa!” teriak Myung Hee.

-Flashback Ends-

Myung Hee’s Side

Menyebalkan! Pokonya menyebalkan sekali kalau ingat kata-kata nappeun oppaku itu! Heuu… memangnya aku ini gadis cerewet, menyusahkan dan pembuat masalah, huh? Itu tidak benar kan? Siapa yang setuju denganku? (gak ada Non… haha)

Okelah kalau begitu! Aku mau pulang saja, sekarang sudah sore. Aduh suasananya sudah mulai gelap, menakutkan sekali. Aku harus berlari sampai rumah, hana… dul… set… Go!

BUGH!

“Aww! Kalau jalan hati-hati dong!” racauku kesal.

“Hey! Bukannya kau yang harusnya hati-hati nona? Kenapa berlari-lari di jalan huh?” jawab seorang namja di depanku sambil mengambil bukunya dan buku agenda milik Luhan oppa yang tak sengaja kujatuhkan.

“Ini bukumu…” ujar namja itu sambil menyodorkan buku Luhan oppa padaku. Tunggu sebentar, sepertinya aku tak asing dengan wajah ini.

“Apa kau Myungsoo?” tanyaku mencoba memberanikan diri.

“Ne… Aish! Myung Hee… Kau Myung Hee kan? Bogohippeoyoo…” Myungsoo langsung mencubit pipiku dengan gemas. Dasar pabo! Aku kan sudah bukan anak kecil lagi, memalukan sekali.

“Ya! Kim Myungsoo! Jangan cubit pipiku lagi! Umurku sudah 17 tahun tahu!” bentak Myung Hee sewot.

“Hahahaha… kamu sama sekali tidak berubah, masih seperti anak kecil! Oiya, mianhae Myung Hee. Aku harus pergi ke suatu tempat sekarang, mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi ya… annyeong!” Namja itu langsung melesat dan menghilang seperti di telan bumi. Sepenting apa sih urusannya itu? Memangnya dia tidak rindu dengan teman lamanya ini? Haah… whatever!

Sesampainya di rumah

“Aku pulang!” aku berteriak melepas semua penatku saat tiba di rumah.

“Oy! Jangan berisik pendek! Aku sedang serius main game nih, kalau aku kalah kamu gak dapet makan malam!” teriak Taemin oppa tak kalah nyaring dari suaraku, dasar menyebalkan! Dia tahu saja kalau aku tak bisa memasak heuu…

Beginilah nasibku, eomma dan appa benar-benar tega meninggalkanku hanya untuk urusan bisnis. Terlebih lagi, mereka membiarkanku menderita bersama oppa paling menyebalkan di  dunia, sepertia dia. Arrrgghhh…  untung saja oppaku itu imut, pintar, keren, dan jago memasak, kalau tidak pasti akan kutendang dia dari rumah ini.

Tak peduli seberapa kesalnya aku pada oppaku itu, dia memang penyelamatku untuk urusan makanan. Kupaksa oppaku berhenti main game dan segera memasak untukku.

“Oppa! Ayo buatkan aku makan malam, ppalli!” paksaku sambil menarik-narik kaos kuning yang melekat di badannya.

“Sebentar lagi”

“Shireo! Mana yang oppa pilih? Membuatkanku makan malam, atau kehilangan semua celana dalam?”

“Andwaee! Ne… ne… ne… jangan coba-coba menyetrika celana dalamku sampai bolong lagi! Aku bisa kehabisan persediaan tahu!”

“Oiya, aku sampai lupa. Waktu Luhan mengantarkanmu pulang ke rumah kemarin malam, dia menitipkan surat ini untukmu” sambung Taemin.

“Mwo? Taemin oppa mengantarkanku pulang?” Aku tak bisa percaya dengan perkataan oppa barusan.

“Ne… dia yang menggendongmu ke kamar. Aku rasa dia melakukan sesuatu padamu”

“Melakukan apa oppa? Beritahu aku… ppalli!”

“Apa ya? Hmm… sepertinya Luhan membekap mulutmu dengan bantal, soalnya kamu ngorok kenceng banget buwahahaha…”

“OPPA! Kenapa oppa tidak melindungi aibku huh? I HATE YOU!”

“Haha sudahlah… baca dulu saja surat darinya, cerewet!” balas Taemin oppa sambil berlalu menuju dapur.

Akhirnya aku menurut saja dan membaca isi surat yang bentuknya seperti memo itu:

Kepada            : Lee Myung Hee

Belajar yang rajin dan jaga kesehatanmu. Aku pergi ke Jepang. Terima kasih untuk segalanya selama ini. Aku senang.

Oppa… kau senang bersamaku? Ya Tuhan… syukurlah, ternyata selama ini Luhan oppa tidak membenciku. Baiklah aku akan menyusulmu ke Jepang oppa! Tunggu aku!

Aku harus menyimpan surat ini baik-baik. Tadi, dimana ya akau menyimpan bukunya? Oh, ini dia.

Sebentar, ini bukan milik Luhan oppa. Ini milik Myungsoo. Dia sekarang tinggal dimana? Aku tak bisa menukarkannya lagi. ARRGGHH… PABO! PABO! PABO!

=♡♡=

Author’s Side

1 TAHUN KEMUDIAN

Myung Hee berhasil masuk Universitas Tokyo jurusan Social and International Relations. Meskipun jurusan yang ia pilih berbeda dengan jurusan Luhan,  Science and Technology Studies, setidaknya mereka masih berada dalam satu fakultas, Faculty of Arts and Sciences. Dengan kata lain, kemungkinan Myung Hee untuk bertemu dengan Luhan masih cukup besar. Yeoja itu benar-benar senang, apalagi sekarang ini, tepat di hari pertama dia memulai kehidupan kampusnya, sosok pertama yang dilihatnya tak lain adalah pujaan hatinya yang sudah cukup lama tak pernah ia ketahui keadaannya.

“Oppa… Luhan oppa… aku berhasil masuk Universitas ini!” Teriak Myung Hee sambil berlari ke arah Luhan. Myung Hee langsung meraih lengan Luhan. Nampaknya gadis manis yang satu ini tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.

“Luhan, siapa yeoja ini? Dia bukan pacarmu kan?” tanya seorang yeoja di samping Luhan.

“Aniya… dia hanya hoobaeku waktu SMA” jawab Luhan sambil melepas genggaman Myung Hee di lengannya.

“Oppa…” Myung Hee terlalu shock dengan pernyataan Luhan.

“Benarkah? Baguslah kalau begitu. Rambut cokelat bergelombang diikat seperti ekor kuda, rok biru turqoise dengan renda putih, kaos putih, cardigan putih, sepatu flat, semuanya terlihat kampungan. Aku yakin dia pasti bukan tipemu.” Ucap yeoja di samping Luhan dengan bahasa Jepangnya sambil tersenyum sinis. Mungkin dia mengira kalau Myung Hee tidak akan mengerti dengan ucapannya barusan.

“Hahaha… iya benar eonnie, aku cuma hoobae Luhan Oppa dari Seoul. Maaf kalau pakaianku membuatmu terganggu. Senang bisa bertemu denganmu, sampai jumpa!” Tukas Myung Hee dengan bahasa Jepangnya yang tak kalah fasih dan sontak mengejutkan yeoja itu. Tapi tidak dengan Luhan, karena dia tahu benar kalau Myung Hee adalah ketua klub Jurnalis yang sangat fasih menggunakan beberapa bahasa Internasional khususnya Inggris, Mandarin dan Jepang untuk kepentingan wawancara dan membuat artikel. Kemampuannya bersosialisasi dengan banyak orang pun tidak dapat diragukan, apalagi prestasinya dalam bidang jurnalis. Kemampuannya itulah yang membuatnya diterima di universitas favorit ini.

Karena teramat kecewa pada Luhan, Myung Hee hanya bisa berlari sejauh mungkin. Untung saja kuliahnya hari ini sudah selesai. Dia bisa meluapkan semua kesedihannya sebebas mungkin dengan menangis sepanjang jalan.

Seperti biasa, bukan Lee Myung Hee namanya kalau tidak mendapat kesialan, oops maksudnya ketidakberuntungan. Saking khusyunya berlari, Myung Hee bahkan tak sadar sedang ada di penjuru Jepang bagian manakah dia saat ini. Tak ada satu orang pun yang bisa ia tanyai jalan pulang.  Kini, yang bisa dilakukannya hanya duduk termenung di salah satu bangku dekat taman bermain sambil berdoa mengharapkan keajaiban datang padanya.

“Miawww… miaww…” seekor kucing menghampiri Myung Hee yang sedang tertunduk lesu.

“Hey kucing! Apa kau tahu jalan pulang ke rumahku? Aku sekarang tersesat! Hiks… hiks…”

“Miawww… miaww…” (Dasar pabo!)

“Apa? Kau tahu perasaanku saat ini? Iya nih aku sedang sedih kucing manis… Luhan oppa punya yeojachingu baru… dia sudah tidak menganggapku sebagai yeojachingunya huaaaa…”

“Miawww… miawww… miawww… miawww…” (Terus? Masalah buat hidupku?)

“Apa kau juga sedang sedih? Kau pasti kesepian ya, tidak punya kekasih?”

“Miaww…” (Ani…)

“Gwaenchanayoo, kau tidak akan sendirian. Aku akan datang kesini lagi kucing manis…”

“Mmeongg….” Seekor kucing yang lebih besar datang menghampiri kucing manis dihadapan Myung Hee dan dengan santainya mereka pergi meninggalkan Myung Hee yang tercengang dalam duduknya.

“Mwo? Ternyata kau punya pacar? Kalian juga sangat harmonis! Jadi, mahluk yang paling menderita itu aku? Gitu? Arrgh… semua mahluk menyebalkan!” rutuk Myung Hee.

“Siapa yang menyebalkan huh? Aku rasa, mahluk setampan aku tak mungkin menyebalkan.” Seorang namja menghampiri Myung Hee dengan senyuman khasnya.

“Myungsoo! Akhirnya aku bertemu denganmu lagi, tolong aku… aku lupa jalan pulang hehe”

“Hah? Jinjja? Pabo! Sekarang dimana kau tinggal? Aku akan mengantarmu.”

“Molla, hehe… aku telpon Taemin oppa dulu kalau begitu ya…”

“Ooh sekarang kau tinggal bersama oppamu lagi? Kalau begitu aku tahu tempatnya, tadi pagi aku mengunjungi rumahmu. Kajja!”

Myung Hee dan Myungsoo pun pergi dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan mereka asyik bercerita tentang pengalamannya selama di SMP dan SMA. Keduanya sangat senang bisa bertemu lagi.

=♡♡=

Luhan’s Side

Kini aku duduk terdiam di bangku kantin bersama Shida, yeoja Jepang yang sudah mengejarku sejak pertama kali aku masuk ke universitas ini. Menyebalkan! Aku sudah tak tahan dengan keadaan ini.

Myung Hee… maafkan aku sudah menjauhimu dan tak mengakuimu sebagai yeojachinguku. Hanya cara ini yang bisa aku lakukan untuk melindungimu. Wanita itu pasti akan menyakitimu jika dia tahu kalau kau adalah orang yang paling aku cintai. Terlebih lagi, aku namja yang membosankan untukmu, aku rasa kau pasti akan lebih baik tanpaku.

“Shida, aku pergi dulu. Aku mau mencari buku di perpustakaan.”

“Aku ikut ya… ya… ya…”

Hah! Dasar penguntit!

BRUUKK…

“Maaf…” ujar seorang gadis yang menabrak Shida tepat di depan pintu perpustakaan. Dia tampak sibuk membereskan buku yang ia jatuhkan.

“Hati-hati Myung Hee…” Seorang namja membantu yeoja itu membawa buku-bukunya.

“Aku tidak apa-apa Myungsoo, santai saja.”

Itu Myung Hee, dia bersama seorang namja. Kenapa dadaku terasa sakit begini melihat mereka berdua?

“Hey kau! Kalau jalan lihat-lihat dong! Jangan menabrak orang sembarangan! Bodoh!” Bentak Shida pada Myung Hee.

“Ya! kau tak boleh membentaknya seperti itu Shida! Dia kan sudah minta maaf!” aku tak bisa menahan amarahku. Seenaknya saja dia membentak Myung Hee.

“Kenapa kau membela yeoja itu Luhan? Dia itu pembawa sial! Setiap hari, dia selalu saja menabrak orang. Dasar yeoja bodoh!”

Aish yeoja ini benar-benar menyebalkan. Myung Hee bukan yeoja pembawa sial!

“Mianhae eonnie, mianhae… jeongmal mianhae… Oiya, oppa… kau tak perlu repot lagi menghadapiku yang pembawa sial ini. Kau baik-baiklah bersama eonnie.” Aku tak pernah mengharapkan kata-kata itu terucap dari bibir Myung Hee. Kenapa semua jadi seperti ini?

“Myung Hee… apa itu yang kamu inginkan?” tanyaku ragu.

“Ne… mulai saat ini aku akan tak akan mengganggumu lagi oppa. Aku akan menjalani hidup baruku. Perkenalkan, dia adalah tunanganku. Kim Myungsoo.”

TBC

Preview:

”Kau ada dimana Myung Hee?”

“Oppa sama sekali tidak pintar. Oppa orang paling bodoh di dunia!”

Curcol Author:

Ya ampun… ya ampuun… akhirnya chapter ini selesai juga. Sumpah ya readers… author stuck banget pas bikin chapter ke-2 ini heuheu, kalo ga salah sampe satu minggu ga ada ide. Parah banget! Author masih belum tahu nih mau dijadiin berapa chapter. Readers maunya seberapa panjang nih cerita Luhan Myung Hee –nya? Ayo… ayo… dijawab hehe, author butuh suntikan semangat nih. Oke deh, daripada curcolnya kepanjangan, mendingan langsung dicomment aja ya… oce? Oce? Hehe. Happy commenting 😀

 

 

 

20 pemikiran pada “I Refuse to Lose You! (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s