Hello Mr.Wu! (Chapter 1)

Title: Hello Mr. Wu!Part 1.

Part 1 : The Girl On The Way

Author: @rollingkris

Casts:
EXO-M Kris, You (Song Yeon Ah), other casts will be revealed soon.

Kris membuka matanya lebar-lebar ketika jam weker di meja buffet sebelahnya berdering sangat kencang. Bergetar dan sangat bising, membuat Kris kesal.Ia masih tiduran dengan malas, sambil menggaruk rambut kuning pasirnya frustasi kemudian menggosok wajahnya dengan telapak tangan. Hingga akhirnya Kris tidak tahan dengan bunyi weker itu dan dia pun duduk, meraihnya, kemudian mencabut baterainya. Jam weker itu tentu saja mati seketika, lalu Kris mendesah dan melemparkan tubuhnya lagi ke atas tempat tidur ukuran king size majestic paling mahal itu.

Kris menarik selimut hingga ke ujung dagunya kemudian memejamkan matanya.Tidur lagi.Dia memang sangat membutuhkan tidur, setidaknya setelah membaca buku-buku tebal berisi bursa efek hingga pukul 4 pagi. Dan weker tersebut selalu berbunyi setiap pukul 6 pagi, yang berarti Kris hanya punya 2 jam untuk tidur. Sudah bertahun-tahun ia hidup seperti ini, kurang tidur walau tetap harus bertenaga setiap hari. Memang tidak normal untuk semua manusia, tapi itulah kehidupan Kris, si pemilik hotel elit se-Asia, Wu Hotel and Resorts.

Akhirnya, Kris berhasil tidur selama setengah jam, lumayan untuk menyegarkan pikirannya. Walaupun bertambah setengah jam, tapi tetap saja 2 setengah jam itu tidak berarti apa-apa untuk kesehatan tubuh Kris.Dan sekarang kedamaian tidurnya terusik lagi, ketika kali ini handphone-nya yang berbunyi. Erangan panjang keluar dari Kris yang masih menutup matanya rapat-rapat, ia meraih ponselnya tanpa mau repot-repot membuka mata.

“yobseo….” sahut Kris, tak lebih dari sekedar bisikan malas.

“Wu Fan! Kau masih di rumah ya?!” suara balasan yang menggelegar terdengar bahkan dari luar ponsel itu.Kris menjauhkannya sementara kemudian menempelkan layarnya kembali ke telinga.

“Ye hyung…. Aku akan ada disana… setengah jam lagi oke? Ah ani-ani, satu jam lagi.”Kris sudah hampir melempar ponselnya namun teriakan Suho masih terdengar. Kris memutar matanya kemudian bertanya apa yang barusan dikatakan Suho.

“Hah?” tanya Kris seenaknya.

“KANTOR ADA DI SEBELAH APARTEMEN MU! KAU SELALU BANGUN TERLAMBAT HINGGA KAMI MEMINDAHKAN KANTOR KE SEBELAH APARTEMENMU! KENAPA HANYA BERJALAN KE SEBELAH MEMBUTUHKAN WAKTU 1 JAM??”
Suho panjang lebar memarahi Kris, yang entah kenapa menjadi sangat pemarah pagi ini. Biasanya kalau direktur muda bangun terlambat, Suho hanya akan menasehatinya. Dengan senyum pula.Jadi tentu saja Kris tidak pernah menganggap Suho itu serius.

“Ah hyung kau ini kenapa??!Iya, iya aku bangun sekarang!” Kris pun membanting handphonenya kemudian ia duduk di tepi tempat tidur. Layaknya orang yang hanya tidur 2 jam- oke, dua setengah jam- Kris masih sangat mengantuk. Bahkan untuk berdiri pun ia tidak punya cukup tenaga. Kris menggaruk-garuk rambutnya yang memang sudah acak-acakan itu dengan frustasi kemudian sambil berpegangan pada meja kecil ia pun akhirnya bangkit.

“Kalau begini terus kenapa aku tidak ikut mati bersama orang tuaku saja sih.” gumamnya sambil melepaskan kaus dalam putihnya yang pas di tubuh, memperlihatkan tubuh padat Kris.Ia juga melepaskan celana trainingnya kemudian mengambil handuk untuk memulai mandi paginya.

*

“Hyung-nim!!” Kris menjerit ketika ia melihat Suho di lobby kantornya, sedang mengobrol dengan pekerja lain.

“a-annyeong haseyo Wu sajangnim!” para pekerja itu langsung membungkukkan badannya pada Kris, kecuali Suho.Ia malah menyipitkan matanya pada Kris, sambil menyesap kopi panas yang ia pegang.

“Kau ini kenapa sih hyung-nim??” tanya Kris yang merasa terganggu dengan tatapan Suho. Suho tidak menjawab, ia malah menggenggam pergelangan tangan Kris.

“Eh? Hyung! Kau kenapa?”

“Ikut aku.” Suho pun menarik Kris ikut bersamanya, mereka menaiki lift menuju ke lantai 12, kantor pribadi Kris dan Suho.

“Eiyy hyung-nim, kalau kau mau aku naik lift, kau hanya perlu menyuruhku ‘Kris, naik lift ke lantai 12 sana’, tidak usah menarikku seperti ini kan.” Kris menepuk-nepuk kaus putih yang ia pakai dibawah jas biru lautnya.

“Bukan begitu, aku ingin kau mengetahui jadwalmu hari ini.” ujar Suho, tangannya sibuk membuka map-map tebal di meja kerjanya.

“Ada apa memang?” Kris dengan santai duduk di meja yang sama dengan tempat Suho mencari dokumen.

“Walikota Busan, ia ingin menemuimu sore ini.”

Kris butuh beberapa detik hingga matanya melebar kemudian ia memekik, “Apa?! Walikota Busan?! Mau apa lagi dia??”
Memang waktu itu dia pernah bertemu dengan walikota Busan saat pembukaan hotelnya disana.Tapi walikota itu adalah orang yang sombong, tukang pamer, dan banyak bicara.Kris sangat membencinya.

“Dia mau mengadakan pesta minum teh di hotel kita, dan dia memintamu untuk datang juga.Mau tidak mau, kau harus datang Kris.” Suho sudah tahu masalah Kris  yang membenci walikota itu.

“Tapi..tapi… aku mau diwakilkan saja. Aku tidak mau datang!” tolak Kris mentah-mentah. Memang, kalau dia sudah tidak suka terhadap satu orang, dia akan selamanya tidak menyukai orang itu. Sifat yang keras, Kris mendapatkannya dari hidupnya yang keras juga.

“Kau harus datang kalau kau tidak mau hotel kita dirubuhkan besok.” ujar Suho singkat, tapi sangat padat dan jelas untuk Kris. Suho menyerahkan sebuah map berisi surat permintaan walikota itu.

“Aku tidak mau melihatnya.Singkirkan dariku!” Kris menepis map itu dari hadapannya sambil melihat ke arah yang lain dari Suho. Bibirnya mengkerut karena marah.

“Tapi kau akan datang kan?” tanya Suho hati-hati. Sekarang suara lembutnya yang seperti malaikat itu sudah kembali, tidak setegas tadi.Suho tau, kelemahan Kris adalah keramahannya.Kris tidak bisa menolak kalau Suho sudah membujuknya begini baik.

“Oke.Aku pergi.Tapi dengan satu syarat, aku pergi sendirian.”Kris sekarang memandang Suho dengan poker face-nya.Suho menaikkan dua alisnya, membuat kerutan di dahinya muncul.

“Apa?Pergi sendiri?! Tidak! Tidak boleh! Kau harus pergi bersamaku!”

“Kalau begitu aku tidak mau pergi.”

“…”

“Tidak mau nih? Ya sudah, aku ke ruanganku sekarang.”
Kris berdiri dari meja Suho dan bersiap masuk ke ruangannya yang berada tepat di belakang tempat kerja Suho.Kini Suho mendesah.

“Kau ini tidak pernah memikirkan pekerjaanmu tau. Ya sudah kau pergi sendiri sana. Aku tidak akan ikut.” ujar Suho pasrah, ia mengalah demi kelancaran hotelnya di Busan.

“Tidak membuntuti?” tanya Kris akhirnya, matanya mulai berbinar-binar pada ‘ayah’nya. Suho menarik nafasnya.

“Tidak, aku sumpah, aku tidak akan pergi bersamamu.” terlihat kelelahan di mata Suho.

“Bagus.Kalau begitu aku pergi ya!”Kris memutar tubuhnya 180 derajat dengan senyum lebarnya, kemudian beranjak pergi dari hadapan Suho.

“Hey kau! Kau harus pulang sebelum jam 9 malam kau mengerti?!! Telpon aku begitu sudah sampai di Busan!!”Suho memekik khawatir tapi Kris hanya mengangkat tangannya, melambaikannya pada Suho tanpa melihatnya sedikit pun.

Begitu Kris sudah berada di dalam lift, senyum semakin lama semakin lebar sambil dia bergumam, “dasar tante Suho. Selalu bawel.Andai dia tahu rencanaku.Di Busan kan banyak wanita-wanita cantik, aku tidak mau melewatkannya.”

*

Porche biru tosca berdecit sempurna ketika berhenti di depan Wu Hotel and Resort Busan. Semua orang yang ada di lobby hotel langsung memperhatikan mobil sport mahal itu dengan wajah kagum, tidak percaya bisa melihat sebuah porche yang begitu cantik. Satpam dan para petugas hotel langsung berbaris rapi di depan mobil itu, mereka sudah sangat tahu siapa pemilik mobil itu. Tidak lama, pintu pengemudi terbuka, dan kaki-kaki panjang mulai menjejak tanah.Kemudian muncullah pria luar biasa tinggi, dengan setelan rapi jas putihnya. Kris Wu. Rambut kuning pasirnya di sisir rapi dengan bagian depan di angkat ke atas dan kaca mata hitam tersampir di atas hidungnya yang mancung. Seorang petugas valet parkir berlari luntang-lantung menghampirinya, petugas itu tidak menyangka kalau bosnya akan datang.

“Kau. Terlambat 5,10 detik. Aku sudah bilang untuk menghampiri pelanggan tepat 1 detik setelah mereka turun.” ujar Kris dengan pandangan lurus ke depan, tanpa mau melirik petugas parkir itu. Sang petugas langsung membungkuk-bungkuk minta maaf pada Kris.

“Jesonghabnida sajangnim!Jesonghabnida!!”

Tapi Kris hanya menyerahkan kuncinya ke tangan pria itu kemudian ia pun memasuki hotelnya. Deretan petugas hotel langsung membungkuk bersamaan begitu melihat sosok Kris, tidak ada satupun yang berani melihat Kris.Karismanya, pesonanya terlalu membara.

“Annyeong haseyo Wu sajangnim!!” sapa mereka semua.
Kris hanya melemparkan senyum miringnya kemudian ia bertolak ke restoran mini hotelnya, tempat si walikota harusnya berada. Dan benar, mata tajam Kris menangkap sosok gendut pria paruh baya di ujung restoran, walikota Busan.Di sebelahnya duduk seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan si walikota, isterinya.Dan di seberang bapak dan ibu itu ada seorang gadis muda.Kris mengangkat alisnya, siapa gadis itu?Pikirnya.

“Eo! Tuan Wu! Kemarilah!” si walikota memekik sambil berdiri begitu melihat Kris dan dua orang lainnya ikut bangkit dengan senyum sumringah.

‘dasar tidak tahu malu.’ bisik Kris sepelan mungkin. Kemudian ia menghampiri mereka, ia menjabat tangan tiga orang itu dengan terburu-buru, malas bertata krama.

“Selamat siang tuan Wu, senang bertemu dengan anda.” isteri walikota yang berdandan habis-habisan itu menyapa Kris begitu ia sudah duduk di tempatnya, di sebelah gadis tadi.

“Siang.” jawab Kris singkat, dengan senyum seadanya.Dia memang tipe orang yang tidak suka bermanis-manis.

“Oh dan Wu Fan, kenalkan, ini anakku, Ahn Ye Seol, dia akan berumur 19 tahun ini.” Kris melirik gadis di sebelahnya yang ditunjuk walikota. Gadis mungil dengan paras lumayan cantik. Rambutnya berwarna cokelat dengan high light emas, dan pakaiannya terlihat mahal.Gadis yang bergaya.Ye Seol memandang Kris dengan malu-malu, wajahnya memerah seiring mereka bersalaman. Tapi Kris agak risih dengan gadis itu, karena ia tidak suka gadis pemalu yang sok manis padahal terlihat sombong dari penampilannya.

“Hey aku akan memesankanmu anggur oke?” pak walikota mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan, tapi Kris buru-buru menahannya.

“Aku menyetir sendiri, jadi aku tidak mau mabuk.” ujar Kris, membuat walikota itu salah tingkah.

“Eh..ehm baiklah, bagaimana dengan teh?” tawarnya lagi. Kris menggeleng.

“Tidak. Aku mau bubble tea. Rasa mint.” pesan Kris, dengan gaya seenaknya dan walikota itu pun mau tidak mau memesankan minum untuk Kris.

“Jadi, Wu Fan, kenapa kau menyetir sendiri? Kau tidak memiliki supir?” tanya isteri sang walikota, berusaha mencairkan suasana.

“Aku suka memakai supir. Tapi aku tidak mau merepotkan orang, makanya aku menyetir sendiri.” jawab Kris dengan sopan, dan ia telah membuat nyonya itu terharu dengan jawabannya. Kris menyadari itu, membuatnya ingin sekali memutar mata. Tapi tentu saja tidak ketika ia diperhatikan dengan seksama oleh satu keluarga itu.

“Ini bubble tea anda, tuan..” seorang pelayan dengan lembut dan hati-hati meletakkan gelas plastik berisi bubble tea ke hadapan Kris. Kris mengangguk kemudian memberikan senyum manisnya pada pelayan tadi.Setidaknya ini menunjukkan bahwa Kris lebih menyayangi pelayan itu dibandingkan si walikota. Wajah si pelayan langsung merah padam kemudian dengan malu-malu ia membungkuk dalam dan berlari kecil. Kris entah kenapa tertawa melihat pelayan itu, lalu ia berkata, “lihat dia, manis sekali ya! hahaha!” dan wajah satu keluarga walikota langsung berubah masam.

Kris peduli setan, dia malah sibuk menyedot bubble teanya.

“Ehm, anda tahu tuan Wu, kami disini untuk satu hal penting.” ujar si walikota mengalihkan topik pembicaraan. Kris melepaskan sedotan dari bibirnya.

“Boleh saya tahu apa itu?” tanyanya, masih sangat sopan.Tapi kemudian langsung meminum tehnya lagi.

“Kami ingin anda berkencan dengan Ye Seol.” dan sukses, Kris tersedak oleh bubble teanya sendiri setelah ia mendengar ucapan walikota itu. Dia syok, dipandanginya si walikota dan putrinya berkali-kali.

“Kencan… katamu?” tanya Kris dengan suara seperti orang dicekik. Genggamannya pada gelas plastik bubble tea mengeras, mungkin bisa membuat gelas itu sendiri meledak.

“Yah..berhubung aku tahu kau belum memiliki pasangan, begitu juga Ye Seol… ada baiknya kalian bersama kan? Lagipula tuan Wu tidak memiliki orang tua yang biasa mengatur pasangan anda,, jadi.. ini adalah kesempatan bagus untuk anda, tuan Wu.”

Kris menahan nafasnya.Rahangnya mengeras dan bibirnya kaku.Hatinya sudah terbakar sekarang, di dadanya terasa panas.Dia tidak percaya walikota sialan itu bisa menyebutkan perjodohan, dan orang tuanya yang sudah meninggal.Orang tuanya yang sudah meninggal.Kris menggigit bibirnya keras-keras agar tidak mengamuk dan melempar minumannya ke wajah ahjussi tua itu. Sebagai gantinya ia hanya menekan gelas plastik tadi hingga buku-buku jarinya memutih.

“Bagaimana… tuan Wu?” isterinya angkat bicara.Kris memandangnya tajam, penuh amarah.Kemudian berganti ke putrinya.Ye Seol sedang tersenyum malu pada Kris, mengharapkan jawaban iya dari pangeran tampannya.

“Aku..”Kris bersuara, tapi hanya seperti gumaman, karena suaranya bergetar akibat menahan emosi.

“Anda..?” walikota menuntut jawabannya.

“kau harus pergi kalau kau tidak mau hotelmu dirubuhkan”

“kau tidak pernah memikirkan pekerjaanmu kau tau?”

Kris teringat seluruh ucapan Suho tadi pagi. Tentang bagaimana ia tidak memikirkan pekerjaannya. Sebenarnya Kris sangat sakit hati.Ia tidak memiliki tidur cukup selama 4 tahun hidupnya sendirian, semua detik di umurnya telah ia dedikasikan pada pekerjaan. Tapi Suho masih menganggapnya main-main, tidak serius. Kris marah, tapi ia tahu ia memang seringkali ugal-ugalan dalam bekerja. Dan ketika ia berbuat kesalahan fatal, Suho lah yang selalu membereskannya. Tidak heran kalau Suho merasa lelah dan menuduh Kris tidak bekerja dengan baik.Kris mendesah. Perjodohan demi pekerjaan ini..mungkin harus ia terima agar Suho menyadari kerja kerasnya. Akhirnya Kris menghela nafas.Ia meletakkan bubble teanya di meja kemudian duduk dengan rapi.

“Aku menerima perjodohan ini.” ujar Kris, yang langsung membuat satu keluarga itu heboh.

“Benarkah?!Benarkah kau menerima Ye Seol kami?!! Oh terima kasih Wu Fan!! Kami sangat bersyukur akan segera memiliki menantu yang mapan seperti anda!” ujar walikota itu panjang lebar sementara Ye Seol tersenyum sangat lebar, mungkin kalau ia sedang sendirian saat itu, ia akan menjerit senang.

“Eh? Tapi aku tidak mau menikah cepat-cepat.” sela Kris.

“Oh kenapa tuan Wu?” tanya sang isteri dan Kris menggeleng.

“Aku belum siap dan aku masih sangat muda.”Kris menjawab tegas, membiarkan si walikota kebingungan.

“Bagaimana yah… Baiklah, undur saja pernikahan ini tuan Wu. Bagaimana kalau.. 5 bulan dari sekarang?” tanya walikota dan Kris membelalakkan matanya. Ia berharap satu tahun, bukan lima bulan.

“Bukankah itu terlalu..” /kau tidak pernah memikirkan pekerjaanmu, Kris/
Kris terdiam sebelum ia berhasil bilang ‘terlalu cepat’. Ia berpikir sangat keras, ia tahu ia harus menunjukkan pada Suho tentang kinerjanya, tapi di sisi lain pernikahan adalah suatu ikatan yang sakral yang tidak boleh diputus. Ia tidak yakin dengan Ye Seol ini, ia tidak bisa menjamin kebahagiaan pada gadis itu, terlebih karena ia mendapat kesan yang tidak baik dari Ye Seol. 5 bulan itu terlalu cepat untuk Kris berpikir. Tapi bisnisnya..bisa hancur kalau ia membatalkan pernikahan ini. Dan Suho akan semakin marah padanya. Kris tidak punya pilihan lain.

“Baiklah.5 bulan dari sekarang.”

*

Kris mempercepat laju mobilnya di dalam gelap malam tanpa peduli keadaan sekitar.Ia sangat marah, tertekan juga. Bahkan rencananya untuk pergi ke klab malam harus ia batalkan karena moodnya hancur berantakan. Semua karena keluarga sialan itu. Andaikan tadi pagi ia tetap menolak undangan itu, mungkin ia tidak akan mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya secepat tadi.

“Brengsek sekali.Kenapa tadi aku juga bersikap sopan?Kenapa aku bilang ‘aku tidak ingin menyusahkan orang lain’ dan membuat mereka terharu?? Kenapa….” Kris menekan stir dengan sangat kencang, sebelah tangannya lagi ada di mulutnya, ia sibuk menggigiti kukunya.
Mobilnya melaju di kecepatan penuh, dan Kris benar-benar tidak sadar ia ada dimana saat ini. Ia menghela nafasnya kemudian berusaha tenang hingga akhirnya ia bisa melihat keadaan sekitarnya. Dia tidak berada di jalan raya menuju Seoul, melainkan hanya jalanan sepi yang gelap, dikelilingi hutan dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Kris segera menghentikan mobilnya, ia dibuat terbengong-bengong karena tidak tau sama sekali dimana ia sekarang.

“Apa..aku tersesat?” gumam Kris putus asa. Ia menggaruk rambutnya untuk kesekian kalinya hari ini, dan ia benar-benar ketakutan sekarang. ‘Bagaimana kalau aku benar-benar tersesat dan tidak bisa menemukan jalan keluar?!’ pikir Kris. Keringat dingin kini mengucur deras di keningnya, ia tidak tahu bisa berbuat apa kecuali mengeluarkan handphonenya. Menelepon Suho mungkin jalan yang terbaik.Kris pun menempelkan layar handphonenya ke telinga dan menunggu jawaban Suho. Tapi memang dasar sial, ternyata sinyal di wilayah itu sangat payah hingga Kris tidak berhasil menelpon siapa pun. Putus asa, Kris akhirnya menyalakan mobilnya lagi, dan mencoba untuk mencari jalan keluar sendirian. Hingga dari lampu mobilnya yang menyorot jalan, ia melihat sesuatu seperti tubuh manusia, tergeletak begitu saja, tidak berdaya. Kris tentu saja syok, dia langsung mengerem mobilnya mendadak, mengakibatkan dia harus menahan tangan di stir agar tidak terpelanting ke depan.

“Itu… orang kan?” bisik Kris, dengan grogi ia melepas sit beltnya kemudian langsung keluar dari mobil. Dari lampu sorot ia bisa melihat seorang gadis, yang tergeletak di aspal itu. Kepalanya.., tidak. Seluruh tubuhnya berlumuran darah dan bau amismulai tercium oleh Kris. Pria tinggi itu langsung histeris.Dia berlari kencang menghampiri gadis itu hanya dengan tiga langkah lebar dari kakinya yang panjang. Dan begitu ia sudah di dekat tubuh itu, Kris langsung berlutut di tanah dan meraih gadis itu ke pangkuannya.

“Agassi! Agassi! Kau masih hidup!??”Kris meringis melihat wajah gadis itu yang berlumuran darah dan lebam dimana-mana.Mengerikan, seakan kau melihat hantu-hantu di film horor.Kris menggigit bibirnya panik, dia segera mencari tahu apakah gadis itu masih hidup atau tidak.Diambilnya tangan gadis itu dan Kris memeriksa denyut nadinya.Beruntung, detak jantungnya masih terasa.Dada gadis itu juga masih naik dan turun teratur, walaupun terlihat lebih cepat dari normalnya manusia. Ia… kesulitan bernafas.. Kris sekarang kebingungan.Ia tengah memeluk gadis itu di dalam dekapan tangannya, sementara di depan mata Kris, darah terus mengucur dari kening sang gadis, membasahi rambut hitamnya yang diikat dan sekaligus jas putih Kris.

“Aku..harus menelpon 119.” gumam Kris dan ia dengan gelagapan memgambil ponsel di sakunya. 119 adalah nomor telpon darurat di Korea, dan mereka merupakan jaringan wireless yang bisa dihubungi tanpa pulsa atau pun sinyal.

“Selamat malam, ini 119, ada yang bisa kami bantu?”
Kris langsung menghembuskan nafas lega ketika terdengar suara operator menjawabnya.

“Aku..aku menemukan seorang gadis tergeletak di jalanan, ia terluka parah! Sepertinya korban tabrak lari,, aku tidak tau.. Kumohon bantu kami..” ujar Kris dengan nada yang sangat panik.

“Baik. Boleh kami tau nama dan tempat anda berada sekarang?” tanya operator itu lagi.

“Aku Wu Fan. Dan aku ada di wilayah Busan.. Tapi aku juga tersesat aku tidak tau aku ada dimana sekarang..aku.. aku di… oh demi tuhan bisakah kalian melacak keberadaan kami?!! Ini membuatku muak!!”

“Baiklah tuan Wu.Kami segera mengirim ambulans.Dan bisakah anda mengabarkan kami bagaimana keadaan korban?Apa dia pucat, kehabisan darah, atau terlihat sesak nafas?” Kris melirik gadis di pangkuannya lagi kemudian ia menjawab, “sesak nafas.” si operator terdiam sejenak -untuk mengisyaratkan ambulans pada kru-nya- kemudian ia bicara lagi oada Kris.

“Tuan Wu, anda harus segera melakukan CPR, atau dia akan mati.” ujar operator itu.

“C… CPR?”Kris tercekat.CPR adalah pertolongan darurat berupa nafas buatan dan pompa jantung manual.Mata tajam Kris yang melebar sekarang memandangi gadis di tangannya.Bibir mungilnya yang juga mengeluarkan darah tengah terbuka, seakan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.

“Tuan Wu?Anda masih mendengar kami? Lakukanlah CPR atau gadis itu akan me…”

“Iya aku akan melakukannya!” pekik Kris kemudian melempar ponselnya begitu saja.Ia segera meletakkan tubuh sang gadis kembali ke aspal, hingga terbaring sejajar untuk menghambat keluarnya darah dari kepala. Kris pun membungkuk ke arah gadis itu dan sebelah tangannya tengah menghimpit hidung sang gadis. Sebelumnya Kris bergumam, “maaf ya” dan dia pun segera menempelkan bibirnya yang penuh ke bibir gadis itu, seketika merasakan darah di lidahnya.Kris ingin muntah, tapi dia tahu kalau nyawa gadis ini ada di tangannya.Ia pun segera meniupkan nafasnya pada gadis itu.
Berulang kali Kris melepaskan udara dan berulang kali itu pula gadis itu menghirupnya.Sebenarnya jantung Kris berdebar sangat kencang sekarang, merasakan bibir seseorang di atas bibirnya untuk yang pertama kali.Perasaan yang baru sekaligus aneh. Berada begitu dekat dengan seseorang.. Padahal tidak saling mengenal..

tring!

Kris melepasakan ‘ciumannya’ ketika ia merasa jari tangannya menyentuh sesuatu di pakaian gadis itu. Di kerah kemejanya, ada sebuah name-tag, itulah yang barusan disentuh Kris. Kris melepaskan name tag tersebut, kemudian mendekatkan kepingan logam itu ke depan matanya untuk bisa membaca tulisan yang tertera lebih jelas.

“Song.. Yeon..Ah.” gumam Kris menyuarakannya.

“Ini..namamu? Song Yeon Ah?” Kris melirik gadis mungil itu yang tentu saja tidak akan menjawab pertanyaannya karena masih tidak sadarkan diri. Kemudian entah mengapa pandangan Kris melembut pada Yeon Ah, ia meletakkan jempolnya di dagu gadis yang sebenarnya cantik itu.

“Kau..ciuman pertamaku, Yeon Ah.” gumam Kris kemudian ia menunjukkan sebuah senyum pahit. “Karena itu kau harus hidup oke?”

Kris hampir membelai rambut Yeon Ah yang sangat terlihat menyedihkan itu, namun sebuah sirene ambulans terdengar menggelegar di belakangnya.Kris melompat kaget dari posisinya sekarang.Ia menoleh dan benar saja, sebuah mobil ambulans sudah berada di belakang mobilnya. Beberapa petugas laki-laki berpakaian putih langsung menghampiri Kris dan dengan sigap mengangkat Yeon Ah sesuai prosedur rumah sakit.Lalu seorang polisi menghampiri Kris.

“Kau Wu Fan?” tanya polisi itu pada Kris.

“Iya..” jawab Kris walaupun matanya tetap tertuju pada Yeon Ah.

“Kau harus mengikuti ambulans ke rumah sakit berhubung kau yang menemukannya.Mobil polisi akan mengikutimu dari belakang, dan kami akan memulai interogasi di rumah sakit.”

*

Kris tidak mau menyalakan handphone-nya, dia tau kalau tante Suho akan memberondongnya dengan berbagai jenis pertanyaan. Bahkan sekarang mungkin Suho sedang sibuk menelpon dan meninggalkan pesan pada Kris.Jadi sekarang Kris memilih untuk diam saja, melamun sambil menunggu dokter di koridor rumah sakit. Dan sambil menunggu, ia teringat ucapan kepala polisi yang barusan menginterogasinya.

/flashback/

“Baik. Anda tidak bersalah tuan Wu. Kami sudah mendapat kabar dari pihak walikota bahwa anda bertemu dengannya sore ini.Kau akan kami lepaskan, tapi sebagai tahanan bersyarat.”

“Apa?! Tahanan?!Katanya aku tidak bersalah, dan sekarang aku tahanan??”

“Ini adalah hukum, tuan Wu.Kau tidak boleh seenaknya.Kalau anda menemukan korban tanpa pelaku, saksi lah yang akan bertanggung jawab hingga kami menemukan pelakunya.”

“Lalu… apa syarat yang kalian ajukan?”Kris mulai merasa khawatir. Dan polisi itu menjawab…

/flashback off/

Lamunan Kris buyar seiring lampu merah pada papan emergency mati.Kris langsung bangun dari kursinya.Semoga gadis itu baik-baik saja dan aku bisa hidup damai, pikir Kris.Tidak lama, sebuah tempat tidur dengan seorang gadis di atasnya muncul, suster-suster di sekelilingnya mendorong tempat tidur roda itu menjauh dari tempat Kris.Kris membelalak, itu Song Yeon Ah.Ia awalnya ingin mengikutinya, tapi seorang dokter keluar dari ruangan emergency. Dokter muda, namun terlihat pintar dan berpengalaman.Dengan sigap Kris menghampirinya.

“Dokter Yixing! Bagaimana keadaan gadis itu?” tanya Kris panik, ia ingin mendapatkan jawabannya segera.

“Song Yeon Ah, dia masih hidup. Hanya saja..”Yixing terdiam sebentar untuk menyusun penjelasan.

“Apa?”

“Dia terkena gegar otak berat.Bagian belakang kepalanya terbanting ke aspal dan terseret hingga tulang tengkoraknya pecah.Beruntung anda menemukannya, kalau terlambat sedetik saja, mungkin dia sudah meninggal.”Yixing menghela nafasnya.Begitu juga Kris.Tapi tidak lama Kris kembali menanyakan banyak hal.

“Lalu apa?Kalau sudah gegar otak apa ada efek sampingnya?”
Yixing memandang dua mata Kris dengan kesedihan yang terpancar jelas.

“Dia hilang ingatan atau bahkan rusak otak.Yah, akibat paling ringan hanya hilang ingatan itu.”

Kris melebarkan matanya.Dia tidak percaya bisa separah ini keadaan gadis itu. Hilang ingatan… Rusak otak…

“Ayo, tuan Wu, aku akan menemanimu melihatnya.” Yixing mengangkat tangannya dan menunjukan ruangan tempat Yeon Ah berada.Kris mengangguk kemudian mengikuti Yixing. Mereka berdua bergerak melewati lorong-lorong rumah sakit, menuju sebuah kamar vip yang memang sudah dipesan oleh Kris.

“Silahkan, tuan Wu.” Yixing dan Kris berhenti di ujung lorong dan Yixing pun membukakan pintu kamar itu untuk Kris.

Kris buru-buru melangkahkan kakinya masuk, sementara suster-suster yang sudah selesai merawat Yeon Ah berjalan keluar. Kris menyibak tirai yang menutupi tempat tidur, dan tampaklah disana, gadis menyedihkan yang ia lihat barusan penuh dengan darah. Gadis itu sudah bersih sekarang, sudah tidak ada bekas darah walaupun tetap ada luka gores dan lebam yang jelas di sekujur tubuhnya. Di kepalanya tampak perban besar yang kuat mengikat hampir seluruh wajahnya.Tangannya pun digips, dengan kakinya yang penuh biru-biru mengerikan. Kris menggigit bibirnya ngeri dengan apa yang ia lihat, tidak terbayang seperti apa sakitnya.
Dari belakang, Yixing menepuk-nepuk bahu Kris, melihat Kris yang wajahnya mulai pucat.

“Sepertinya kau sangat tidak tega melihatnya Tuan Wu.Kami turut bersedih.” ujar Yixing berusaha menenangkan Kris.Ia tersenyum hingga lesung pipitnya terlihat.

“Beruntung mengetahui anda yang akan merawat gadis ini hingga pulih.” tambahnya.Kris yang masih bisu sontak menolehkan kepalanya pada Yixing.

“M-maksudmu apa?” tanya Kris.

“Kau tidak lupa kata-kata polisi kan? Karena anda menemukan seorang korban tanpa tanda-tanda pelaku, anda sebagai saksi akan merawat gadis ini hingga polisi berhasil menemukan dalangnya. Sampai itu terjadi, gadis ini harus tinggal bersama anda di bawah pengawasan polisi.Itu kan yang mereka ucapkan?”

Hening sejenak.Kris termenung dan ingatannya kembali melayang pada ucapan si polisi tadi. Memang iya, apa yang diucapkan Yixing sama persis dengan ucapan polisi tadi.

Intinya, ia harus tinggal bersama gadis itu hingga ingatannya pulih. Atau setidaknya hingga polisi menemukan pelakunya.

“Hei dokter Yixing.”

“Ya?”

“Aku tidak bisa tinggal bersama dengannya.” ujar Kris.

Baik. Pertama, di apartemen ia hanya tinggal seorang diri. Tidak akan ada yang menjaga Yeon Ah kalau dia pergi bekerja. Kedua, Kris baru saja bertunangan dengan anak walikota. Tidak mungkin kan ia tinggal dengan wanita asing? Ketiga, Suho akan membunuhnya atau membakarnya hidup-hidup, satu dari dua pilihan tadi, kalau ia tahu Kris membawa masuk seorang wanita ke dalam rumahnya. Kris menggigit bibirnya lagi begitu ia merasakan hari kematiannya sudah dekat.

Yixing menautkan alisnya pada Kris, dia mulai merasa tidak senang.

“Kuharap kau memiliki kasih tuan Wu, hanya anda yang bisa merawat gadis ini dengan baik dan tercukupi.”

Kris menundukkan kepalanya dengan resah. Dia memang mau membantu gadis malang itu, tapi seluruh keadaannya saat ini tidak memungkinkan untuk menolongnya. Apa..yang bisa ia lakukan?

Dokter Yixing berjalan mendekati Yeon Ah yang masih dalam keadaan koma.Ia dengan lembut memegang tangan Yeon Ah untuk memastikan darahnya masih hangat mengalir, kemudian ia merapikan rambut hitam bergelombangnya dengan hati-hati. Dokter Yixing menarik nafasnya kemudian menghembuskannya dengan berat.Kris termenung melihat kasih sayang dokter Yixing pada Yeon Ah.Kemudian terbersit satu ide.

“Dokter! Kenapa tidak kau saja yang merawatnya?” tanya Kris dan dokter muda itu membalikan tubuhnya seraya menatap Kris tidak percaya.

“Anda mau kabur dari tanggung jawab anda? Lagipula saya tidak bisa tuan Wu, saya adalah dokter jaga 24 jam di rumah sakit ini. Kalau ia tinggal di rumah saya, tidak akan ada yang bisa merawatnya dengan baik.”

Kris ingin mengatakan kalau kendala yang mereka alami itu sama, namun ia malah mengutarakan hal lain.

“Kalau begitu Song Yeon Ah ini yang akan berada di rumah sakit.Aku akan membayar biaya rumah sakitnya, tidak perlu khawatir.”

Dokter Yixing semakin tidak percaya dengan apa yang diucapkan pria tinggi di sebelahnya itu. //Pria ini tidak memiliki hati//, pikirnya. Tapi mau bagaimana lagi, sulit membuat pria dingin seperi Kris ini melunak.Dokter Yixing mendesah.

“Itu bisa terjadi.Tapi anda harus sering berkunjung kesini atau saya terpaksa melaporkan anda pada polisi.” jawab Yixing tegas dan sangat jelas di kepala Kris.Bagus, masalahnya selesai.Tidak perlu lagi banyak khawatir, yang perlu dia lakukan hanya sesering mungkin mengunjungi gadis ini.

*

Dokter Yixing sudah pergi dan di kamar rumah sakit kini hanya tertinggal Kris serta Yeon Ah yang masih tidak sadarkan diri. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi, sudah sangat malam. Tidak memungkinkan bagi Kris untuk pulang sekarang, ia merasa sangat mengantuk dan kalau dipaksakan ia malah bisa mencelakai dirinya.

“Sebaiknya aku tidur disini.” gumam Kris sambil berpikir dua kali, kemudian ia mengangguk pasti. Tidur disini dan mengatakan pada Suho kalau ia ada di hotel semalam. Masalah beres.

Kris pun meletakan tubuhnya di sofa rumah sakit, yang berada di seberang tempat tidur Yeon Ah.Pria berbahu bidang itu melepaskan jas biru dove-nya hingga tersisa kemeja putih yang pas di tubuh.Ia melepaskan dua kancing atasnya agar tidak terlalu sesak.

Kris memandangi gadis itu. Tidak bergerak sama sekali, hanya hidungnya yang berusaha mencari oksigen. Lalu teringatlah Kris dengan bibirnya.Ciuman pertamanya sekarang telah dimiliki oleh Song Yeon Ah ini.Kris menelan ludahnya.Dia memang tidak pernah merasakan seorang wanita dalam hidupnya.Tidak pernah menjalin hubungan, hidup sendirian dengan dunianya saja. Kris menutup dirinya, dan itu sebabnya ia tidak bisa ramah pada wanita mana pun. Jadi, momen dimana bibirnya bersentuhan dengan bibir seorang gadis, sudah seperti seks baginya.Kris menggelengkan kepalanya, berusaha berpikir jernih.

Lalu ia bangun dari sofanya kemudian berjalan mendekati Yeon Ah. Setidaknya ia ingin melihat rupa gadis itu lebih dekat, gadis yang sudah berciuman tidak langsung dengannya. Wajah Yeon Ah yang sudah bersih. Kris menggeser botol infus Yeon Ah sedikit ke samping, lalu ia menumpukan kedua telapak tangannya di lengan tempat tidur, memperhatikan Yeon Ah dengan seksama.

Manis..Wajahnya mungil dan tekstur kulitnya halus.Putih dan bersih.Hidungnya mancung dan rapi, tapi sangat tegas.Bibirnya tipis dan merah sekali, namun tidak tampak seperti memakai gincu. Merah yang alami dan segar, dan hanya tangan tuhan yang bisa membuat warna secantik itu. Bibir itu membuat garis senyum yang tidak bisa hilang, saat tidur sekalipun.Sedikit mengingatkan Kris dengan Suho.

Tanpa sadar, Kris tersenyum.Mata tajamnya tiba-tiba melembut.Munculah senyum pertama Kris, senyum pertamanya yang tulus pada seorang gadis.Kris mengangkat tangannya perlahan, diambilnya tangan Yeon Ah.Ia menggenggamnya, hanya untuk menghangatkannya. Kemudian is merasakan sensasi aneh dalam perutnya. Kris pun melepaskan lagi genggamannya.Ia terlalu gugup.

“Apaan sih.” gumam Kris kemudian dia membalikkan tubuhnya dalam hitungan detik.

“Hey kau ciuman pertamaku.Besok kau harus bangun, mengerti?”

*

Sofa yang keras mulai membuat tubuh pria besar itu tidak nyaman.Tidak lama, mata Kris terbuka.Dan rasa nyeri dan pegal di sekeliling bahunya mulai terasa.Kris mengerang. Lalu ia mengambil jam tangannya yang ada di lantai, yang ia letakkan semalam dengan tidak sadar karena terlalu mengantuk.

“Jam berap… EH?!! SETENGAH SATU SIANG?!!!! OH MATI! AKU MATI!!!!!” Kris langsung bangun dari sofanya dan mengambil jas birunya yang tersampir di bahu sofa. Lalu dengan tergesa-gesa ia memakainya lagi, mengancingkan kemejanya, dan terakhir merapikan rambutnya dengan jari. Tanpa banyak bicara lagi, Kris langsung membuka pintu untuk pergi. Hingga kepalanya seakan dipukul oleh sepeda, ia baru teringat dengan Song Yeon Ah.

“Oh right! Gadis itu! Aish..”Kris berbalik lagi dan berjalan cepat menuju tempat tidur Yeon Ah, ingin memastikan keadannya. Namun betapa terkejutnya Kris, hingga matanya hampir melompat keluar ketika ia mendapati bahwa Yeon Ah tidak ada di tempat tidurnya. Kris membuka mulutnya lebar-lebar.

“Ke-kemana dia…?!” Kris memekik kemudian dengan panik ia memanggil suster lewat tombol otomatis di dekat tempat tidur. Tidak lama, dua suster masuk ke dalam kamar.

“Ada ap-”

“PASIENNYA MENGHILANG! SONG YEON AH MENGHILANG!” jerit Kris sambil berlari histeris.

“CARI DIA CEPAT!!”

Berbondong-bondong pegawai rumah sakit langsung berpencar sesuai arahan, mencari Song Yeon Ah.Semua orang ikut panik, tidak ad yang menyadari atau pun ingat tentang Yeon Ah.

Keadaan Kris kini benar-benar kacau, terlalu banyak masalah menumpuk di pikirannya.Ia merasa pusing, jalannya mulai tidak seimbang. Sangat mengerikan melihat tubuh tingginya menjadi rapuh dan bisa rubuh kapan pun.Kris menahan pusingnya dengan meletakkan telapak tangannya di kening, matanya bahkan sudah berkunang-kunang. Semakin gelap..

grep!

Kris seakan tersengat listrik ketika seseorang menahan tangannya kuat.

Ia langsung menoleh ke arah orang itu, siap menyemprotnya hingga ia melihat siapa dia.
Gadis mungil dengan rambut hitam ikal yang lebat. Bibirnya merah, membentuk huruf ‘o’ karena bingung.Matanya… hitam dan bulat sempurna.

“kau… baik-baik saja?” ucapnya dengan lembut. Setiap kata yang keluar berdenting tajam di telinga pria itu, membuatnya tidak konsentrasi untuk menjawab. Kris merasakan ia hampir jatuh lemas ketika melihat gadis itu. Jadi ia malah mencengkram bahu gadis itu dengan dua tangannya yang besar dan kokoh. Gadis itu semakin membesarkan matanya, tidak bisa berkutik dengan tatapan Kris yang tajam.

“Kau.. Song Yeon Ah kan?”

TBC

 

62 pemikiran pada “Hello Mr.Wu! (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s