Love Sign (Chapter 5)

Tittle : Love Sign

Author : Shane

Main Cast : Park Yoojun, Kim Jongin dan Oh Sehun

Support Cast : Park Taejun dan Shin Hyesung

Genre : Romance, School Life

Length : Chaptered

Rating : PG-15

BSM : Dear Cloud – Daydream dan Standing Egg – 가슴 아픈 말 (Hearthbreaking Words) with Clover (gray ver.)

Disclaimer : Plot is mine. Pure from my imagination. Jadi, mohon maaf bila ada kesamaan cerita atau tokohnya. Oh iya, disini anggap aja Sehun dan Kai masih berumur 17 tahun ya ^^

Maaf ya kalau ada kata-kata kasar, please jangan tersinggung.

_____________________

Kai yang masih menatap Yoojun dengan wajah yang bisa dibilang gugup, kini menghela napasnya, berharap degupan dijantungnya ini berhenti atau setidaknya berkurang. Degupan jantungnya itu tiba-tiba muncul ketika melihat wajah Yoojun yang sedang menutup matanya tenang.

Pikirannya sempat melayang kemana-mana, tetapi ia dapat mengontrolnya kembali. Dan berharap begitu.

CHUP~

Ciuman itu —akhirnya— melesat pada kening Yoojun. Kai mengelus kepala gadis itu lembut, dan memeluknya. Entah ada rasa kecewa dalam diri Kai yang tidak bisa diartikan sendiri olehnya, dan ia menafsirkan bahwa itu memang tabiat lelaki.

Yoojun membuka matanya. “Eo?”

“Apa aku pernah bilang kalau aku akan menciummu ditempat tertentu?”

Ah.” Yoojun mengedarkan pandangannya —kecewa. “Majayo *itu benar.”

Kai sudah puas untuk mengerjai Yoojun kali ini. Tidak, untuk ciuman tadi sepertinya tidak ada niatan untuk mengerjai. Ia sendiri masih bingung dengan perasaan tadi —masih bertanya-tanya dan belum menerima jika itu adalah tabiat lelaki. Ia sadar bahwa bibir Yoojun kala itu memang sangat menggoda.

Kai memandangi gadis dihadapannya dengan lekat. Mengira-ngira apa lagi yang akan dilakukannya kali ini. Satu yang pasti bahwa hari semakin larut, dan Yoojun tidak bisa berlama-lama disana. “Yoojun-ah.”

NNe?!”

“Aku sebenarnya sangat ingin melakukannya disana,” ujar Kai sambil menunjuk bibir Yoojun tanpa ragu sedikitpun. Suaranya melemah kali ini.

Kai menarik Yoojun kedalam pelukannya. “Tapi kupikir, belum saatnya lagipula aku belum meresmikan hubungan kita.”

“Lalu kapan kau akan meresmikannya?”

“Kalau kau sudah membuatku mencintaiku, kubilang.”

Yoojun terkikik. “Geuraeyo?”

Yoojun mengeratkan pelukkannya. Ia tersenyum seraya mencium aroma khas dari tubuh Kai. Dan ia akan mengingat aroma itu dimanapun ia berada, berharap aroma itu akan selalu menyertainya.

“Kau tahu, memelukmu seperti ini membuat perasaanku menjadi lebih tenang.”

Kai tersenyum.

Porsche berwarna silver itu melaju menuju rumah Yoojun. Mereka pulang dan Kai-lah yang mengantarkannya pulang dan langsung pamit karena ia harus pulang saat itu juga. Yoojun tidak ambil pusing —ia tidak terlalu suka untuk bertanya hal pribadi akan seseorang.

Langkah Yoojun terhenti ketika sebuah mobil SUV berada dihalaman rumahnya. Ia mengira bahwa ada teman Taejun yang menginap disini, tetapi teman Taejun belum pernah ada yang menginap. Apalagi tatapan curiga saat Yoojun menatap mobil tersebut —mobilnya tidak berplat dan seperti masih baru.

Ia berlari menuju kedalam rumahnya. “Taejun!”

“Kau suka mobilnya?” tanya Taejun diambang pintu.

Yoojun langsung menghambur memeluk kakaknya. Ia tidak menyangka bahwa kakaknya benar-benar membeli sebuah mobil dan mobil tersebut adalah mobil SUV. Padahal kakaknya terlihat bercanda sewaktu berkata bahwa ia ingin membeli sebuah mobil. Ekspresi Taejun saat itu adalah tidak percaya, ia tidak menafsirkan bahwa membeli sebuah mobil juga mendapatkan sebuah pelukan dari Yoojun. Akhir-akhir ini adiknya sering sekali memeluknya.

Kedua kakak-beradik itu kini tengah duduk disofa. Mereka sedang menonton drama kesukaan Taejun, atau kalau Yoojun yang mengambil alih remote-nya, mereka akan menonton sesuatu bergenre fantasy. Yoojun menyukai hal-hal yang berbau fantasy, maka dari itu dikamarnya penuh dengan buku atau sekedar gambar dongeng.

Untuk kesekian kalinya, keberuntungan tidak berpihak kepada Yoojun. Kakaknya lah yang sedang menguasai remote beserta TV. Mau tidak mau Yoojun harus menonton drama percintaan ‘picisan’ kesukaan kakaknya ini.

“Yoo-gom,” panggil Taejun.

Hmm?”

“Orangtua kita akan sampai di Bandara Incheon besok.”

Yoojun terdiam. Ia sulit untuk berbicara jika membicarakan hal tentang kedua orangtuanya. Bahkan jika perlu, ia tidak akan berbicara sama sekali dan akan mendengarkan Taejun yang berbicara saja,

dan ia serius.

“Aku mengantuk, aku akan tidur duluan.”

***

“Park Yoojun!” teriak Hyesung. Melihat sahabatnya itu celingukan mencari sumber suara membuat Hyesung menghela napasnya. Aku sebesar ini, dia tidak melihatku?Runtuk Hyesung dalam hati. Ia menggelengkan kepalanya pelan.

Hyesung menepuk pundak Yoojun pelan. “Ayo ke Kantin, kau belum sarapan ‘kan?”

Yoojun menghela napasnya, “Ah.. aku semakin yakin bahwa kau seorang mind reader, Hyesung-ie.”

Dulu, ia memang selalu berpendapat bahwa sahabatnya ini seorang mind reader —kakaknya pernah bilang kalau Hyesung seorang penyihir— dan sebagainya. Namun setelah ia konfirmasikan sendiri, Hyesung bukanlah seorang mind reader dan jika ditanya begitu ia akan menjawab; “Kau gila?” atau “Apa kau sudah gila?”.

“Dan aku juga yakin kau sudah gila. Kaja!” seru Hyesung, lalu berjalan tanpa menatap kebelakang. Yoojun mengikutinya, dari belakang sembari menatapi punggung sahabatnya itu.

Kai’s point of view

Aku terdiam dimejaku. Entah mengapa aku hanya ingin menenggelamkan kepalaku diatas meja lalu menutup mataku membayangkan beberapa fantasi yang hanya kuketahui seorang diri.

Tiba-tiba aku teringat oleh Yoojun. Gadis dengan rambut lurus panjang melebihi bahunya, dengan warna hitam —Aku suka warna rambutnya jika terkena paparan sinar matahari— dan rambut hitamnya itu bisa terlihat seperti warna cokelat ke-emasaan. Lalu dengan tingginya yang kutebak-tebak adalah 173cm, dia gadis yang cukup tinggi menurutku.

Ia biasa datang atau bahkan tidak sama sekali dengan teman perempuannyanya. Aku belum tahu namanya, dan berniat untuk menanyakannya. Bahkan aku mengingat penampilan teman perempuannya itu, Gadis dengan rambut ikal berwarna cokelat gelap dan pakaiannya rapi, terlihat seperti anak pintar namun tidak memakai kacamata. Lalu sebuah Adidas wings edition yang selalu menghiasi kakinya, berbeda dengan Yoojun yang memakai Dr. Martens atau sekedar Converse.

Ah, aku bisa mengingatnya. Sangat mudah menghafalkan orang-orang didekatku. Sehun yang selalu memakai Converse dan kadang sebuah Cardigan menutupi seragamnya.

“Jong In-ssi.”

Aigoo, gadis-gadis ini lagi? mengapa selalu merusak pagiku? Aku sudah pernah melarang mereka —secara halus— untuk bertanya-tanya tentangku. Aku juga punya privasi.

“Kalian—”

“Kami hanya ingin bertanya satu hal padamu!” potong gadis dengan gelang —yang aku sendiri tidak tahu jumlahnya— menghiasi pergelangan tangannya. Empat yeoja ini mengerubungiku.

“Silahkan.” Aku menatap mereka.

“Apa kau sudah mempunyai yeojachingu?”

“Apa harus kujawab?”

Ye.”

Aku tidak bisa menjawabnya. Ini bisa mengganggu Yoojun yang berada dikelas reguler, dan tentu saja aku masih mengingat perjanjian bodoh tidak tertulis blablabla itu.

“Itu cukup sulit untuk dijawab,” jawabku. Tidak itu bukan sebuah jawaban, itu sebuah elakkan. Aku mengelak untuk memperlama semua ini —bel sebentar lagi berdering dan mereka tidak akan pernah tahu jawabannya.

“Kim Jong In sudah mempunyai yeojachingu, kalian puas? Ayo sekarang enyahlah dari sini.”

Suara khas Sehun tiba-tiba terdengar dibelakangku. Ia mengatakan itu dengan tenang seperti tidak memikirkan resiko yang terjadi. Aku akan memukulnya jika ada yang terluka untuk kali ini.

Ke-empat gadis itu sekarang menatapku dengan raut wajah seperti ingin menangis, lalu menatap Sehun seperti tatapan butuh penjelasan.

“Sehun—”

Dan bel berdering, I’m saved by the bell and Sehun.

“Ayolah kembali ke Kelas kalian masing-masing!” teriak Sehun dan ke-empat yeoja tersebut pergi. Ia lalu duduk disebelahku, menatapku sinis. “Ya, micheosseo?”

Neol! *Kau (yang gila)”

Aku berdeham. Tatapan murid-murid itu semakin aneh, aku merasa risih sekarang. Kupelankan suaraku dan mencoba mengatur emosiku untuk kesekian kalinya. Sehun memang selalu begitu, aku sudah semakin sulit untuk mencoba maklum, tetapi aku tidak pernah membencinya.

“Kalau mereka tahu orang itu Yoojun bagaimana?” tanyaku pelan.

“Bukankah itu hal bagus? Kau ini bodoh sekali sih.”

“Oh Sehun.” Aku menatapnya dengan tatapan kau-mati-kali-ini.

Ia masih saja berbicara dengan nada tenangnya dan aku masih dengan emosiku. Ke-empat gadis tadi cukup membuat emosiku naik. Ingin tahu sekali urusanku, memangnya mereka siapa.

“Kau harus mempublikasikan hubunganmu, siapa tahu dengan cara ini, hubungan kelas reguler dan kelas khusus bisa menjadi baik dan kau bisa menghapus peraturan konyol tersebut,” jelas Sehun. Ia lalu mengeluarkan buku fisikannya dan sebuah notekecil.

Aku terdiam. Berpikir sejenak dengan perkataan Sehun barusan. Semenjak aku mengenal sekolah ini, aku dan Sehun memang ingin menghapus peraturan bodoh tersebut. Apa maksudnya dengan tidak boleh bersosialisasi? Kita ‘kan sesama manusia. Aku selalu mengutuk pembuat peraturan tidak tertulis tersebut. Ia sungguh bodoh hingga membedakan derajat.

“Oh Sehun.” Sehun menoleh. “Daebak!”

Beberapa menit kemudian guru fisika tersebut datang dan membungkuk pada kami atas keterlambatannya. Pelajaran yang kubenci dimulai.

Bla-bla-bla, pelajaran fisika mudah sekali membuatku mual. Aku mengedarkan pandanganku kearah Sehun. Ia masih menatap papan tulis dengan coretan tinta spidol itu dengan saksama, seperti menemukan arti hidup sesungguhnya.

Aku menenggelamkan kepalaku.

Aku memang tidak pintar, tetapi aku tidak merasa terbebani. Tidak, sungguh! Aku memang tidak pintar dalam bidang fisika dan aku lebih menyukai olahraga. Aku tidak pernah membolos jika ada jam olahraga.

“Kai, jangan muntah disini.” Bisik Sehun sepelan mungkin padaku —aku masih menenggelamkan kepalaku.

Aku menoleh. Menatapnya sengit, “Aku baru akan berpikir untuk muntah disepatumu.”

Sehun kembali menatap papan tulis, “Menjijikkan.”

“Apa kau melihat Yoojun pagi ini?” tanyaku. Aku tidak tahan untuk menanyakannya nanti pada saat istirahat. Aku harus menanyakannya sekarang.

“Aku tidak melihatnya, aku terlambat hari ini.”

Ah, kau payah!” Tepat saat aku mengangkat kepalaku dan menatap ke-arah papan tulis. Sang guru sudah menatapku garang dan melipat kedua tangannya. Sial, aku ketahuan tidak memperhatikan pelajarannya!

“KIM JONG IN! PERHATIKAN PAPAN TULIS ATAU KAU KELUAR!”

Guru ini dan guru yang lainnya tidak membedakkan statusku ataupun status anak-anak yang status ekonominya lebih dari cukup. Aku cukup terkejut dengan hal itu, dan sekolah ini benar-benar fantastis!

Guru-guru memang tidak membedakan status, tetapi tidak dengan murid-murid kelas khusus itu. Mereka membedakan status orang-orang disekitar mereka. Apalagi aku tidak jarang mendengar beberapa orang yang menjelek-jelekkan kelas reguler.

Dan memang pada dasarnya orang-orang kaya, tidak mau membiarkan anaknya bercampur dengan orang biasa, jadi mereka mengadakan pertemuan dengan pihak sekolah. Akhirnya, kepala sekolah membuatkan kelas reguler dan kelas khusus. Beliau pernah berbicara padaku bahwa tidak salah ia membuatkan kelas reguler dan khusus, setidaknya ia bisa menghindari permusuhan antar orang kaya dan biasa.

Dan ia hampir berasil, Ia akan berhasil jika peraturan tersebut dihapuskan. Kepala sekolah belum memberikan keterangan akan hal tersebut dan aku yakini beliau tahu tentang itu —juga berpikiran sama denganku dan Sehun.

Kepala sekolah tahun ini adalah paman Sehun. Beliau baik dan tidak pernah membedakan status orang-orang disekitarnya. Aku bersyukur karena sifat itu menurun pada Sehun, walaupun ia bukan ayahnya. Aku terkejut ketika mengetahui hal itu, kedua orang ini begitu mirip. Sangat disayangkan, mereka hanya sekedar paman dan keponakan.

“Bangunkan aku setelah pelajaran ini selesai,” kataku, mulai menaruh kepalaku diatas meja. Aku tidak peduli dengan pelajaran ini, aku bisa meminta Sehun mengajariku —ia bisa membuat mualku berkurang.

“Aku tidak yakin untuk menjawab iya,” jawab Sehun.

“Terserah.”

Dan semua terasa gelap.

Yoojun’s point of view

Setelah belajar dan istirahat, akhirnya waktuku untuk pulang. Ah… aku tiba-tiba mengingat perkataan Taejun.

“Orangtua kita akan sampai di Bandara Incheon besok.”

Aku jadi tidak ingin pulang. Aku ingin disekolah saja atau dirumah Hyesung jika perlu. Bertemu orang tua adalah yang pertama kalinya dalam hidupku selama 10 tahun ini. Lagipula aku sudah lupa tentang masa kecilku, aku hanya mengingat bahwa dulu Taejun pernah sakit karena terlalu sering bekerja.

Langkahku terhenti saat melihat sosok Taejun diambang gerbang. Ia dikerumuni banyak murid perempuan dan ada seorang seongsaenim yang juga sedang menyapanya. Apa ia seterkenal itu dulu?

Aku berjalan semakin dekat dan akhirnya Taejun memanggilku, “Yoo-gom!”

Ya Ampun, haruskah aku dipanggil dengan panggilan tersebut disekolah? Itu pasti akan menjadi bahan tertawaan yang sangat bagus. Panggilan tersebut sangat memalukan bagiku dan pasti bagi seseorang yang dipanggil dengan embel-embel dibelakang namanya.

Aku tertawa getir, tidak bisa mengabaikan panggilan tersebut.

Sekarang beberapa pasang mata menatapku sinis. Ada yang berbisik-bisik tidak jelas, ada yang langsung bertanya pada Taejun tentang bahwa aku ini adik perempuannya. Taejun tidak menjawabnya dan hanya tersenyum. Orang ini sudah 28 tahun kenapa masih banyak yang menyukainya?

“Kami pergi dulu, Annyeonghaseyo!”

Annyeonghaseyo.” Aku membungkuk lalu segera menarik Taejun menuju keluar sekolah.

Kami sekarang sudah berada dalam mobil menuju bandara. Yeah, kami akan menjemput mereka atau aku lebih suka kalau Taejun saja yang menjemputnya dan aku akan duduk diam dikursi depan mobil SUV ini.

Incheon itu tidak dekat. Apalagi aku juga masih berpakaian seragam sekolah —Taejun cukup gila untuk membawaku ke Bandara.

“Kau ingin makan? Kita beli ramen saja di Supermaket,” tawar Taejun sambil menatap lurus kedepan.

“Tidak—” Aku menghela napas. “Aku ingin pulang.”

Taejun sama sekali tidak menoleh. “Tidak sebelum kita menjemput bumonim.”

Aku kesal, sungguh! Taejun benar-benar tidak asik kali ini. Aku mencoba diam dan menatap kesisi jalan. Saat lampu merah, mobil kami berhenti dan aku tepat melihat sebuah toko bunga dengan seorang anak perempuan bersama ibunya. Ibunya sedang mengelus-elus rambut anaknya dengan senyuman yang —sangat jelas bisa kulihat sendiri— tulus.

Aku bahkan sudah lupa kalau ibuku pernah melakukan itu. Apakah beliau pernah melakukan hal tersebut?

Mobil berjalan lagi. Taejun tidak mengendarainya terlalu cepat juga tidak terlalu lambat sehingga aku bisa melihat keadaan diluar mobil. Jujur saja, jika aku melihat kejadian semacam itu aku akan terus-menerus merasa iri.

“Yoo-gom,” panggil Taejun.

Aku tidak menoleh dan berpura-pura tidak mendengarnya.

“Yoo,”

Hmm?”

“Bersikap manislah pada orang tuamu. Kita masih sebagai anaknya, dan aku hanya kakakmu. Hormatilah mereka sebagai orang tuamu.” jelas Taejun.

Arraseo.” Aku mengambil tasku tanpa menoleh pada Taejun. Aku butuh iPhone-ku sekarang juga.

Hyesung selalu menanyakan kabar orang tuaku. Ia tahu keadaanku yang hidup tanpa orang tua dan hanya dengan seorang kakak. Hyesung bahkan tak segan-segan memintaku untuk menginap dirumahnya, namun selalu kutolak.

Ya, hwanasseo? *Apa (kamu) marah?” kali ini Taejun menoleh.

Aniyo, Jinjja anira.”

Taejun mengacak rambutku.

Sayup-sayup keramaian sudah terdengar cukup jelas ditelingaku. Haaaaaah… Bandara sudah didepan kami —didepan mataku. Aku dan Taejun sekarang sedang berjalan masuk kedalam Bandara Incheon yang sangat luas ini.

Ngomong-ngomong aku sudah lama datang ke Bandara. Aku juga sudah lupa kapan terakhir kalinya aku kemari, sepertinya aku datang kemari ketika umurku masih sekitar 10 tahun. Mungkin.

Taejun langsung berlari ketika melihat seorang wanita paruh baya dan seorang pria yang nampaknya lebih muda disampingnya. Taejun berlari lalu setelah sampai dimana kedua orang itu berada, ia melambaikan tangannya padaku.

Oh jadi mereka orangtuaku, kataku dalam hati.

Aku berjalan gontai. Dibelakang mereka bertiga, ada sebuah barikade orang-orang berjas hitam lengkap dengan kacamata dan sepatu hitam. Badan mereka tegap layaknya bodyguard atau mereka memang bodyguard?

Tidak ada yang kuucapkan —bahkan memeluk mereka saja tidak. Aku lebih suka untuk diam, melihat apa saja yang terjadi didepan mataku. Apa yang kulihat kadang kuartikan sebagai sesuatu yang tak harus kuingat, tak harus kurasa dan tak harus kupikirkan. Wajahku kusetting agar bisa menjadi wajah yang sedingin Hyesung. Tak peduli kesan mereka padaku tapi aku hanya berharap bisa membuat mereka sadar atas kesalahan mereka sebagai orangtua.

Dan menyadari aku sebagai anaknya, yang diabaikan.

“Kau Park Yoojun?” tanya wanita paruh baya tersebut.

Ne.”

“Aku ibumu dan pria disampingku ini, Ayahmu. Mulai sekarang tolong perlakukan kami sebagai orangtuamu.”

Ah, mungkin mereka sadar atas sikapku yang tidak sopan itu. Nada bicaranya tenang namun aku tahu, perkataannya tidak setenang nada bicaranya. Perkataan tersebut jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada sikapku. Atau mungkin pada diriku.

Aku tak menjawab.

Aheomeoni, ayo kita pulang ke Rumah!” sergah Taejun tanggap. Mungkin jika tidak ada dia, perasaanku akan menjadi lebih buruk daripada sebelumnya. Taejun selalu tahu kondisiku.

Barikade dibelakang itu langsung berpencar dan membawa barang-barang seperti; koper, tas bahkan sebuah vas bunga —Mwo? Vas bunga?

“Itu vas bunga yang didatangkan langsung dari Eropa, ini hadiah untukmu,” jelas ayah ini seakan tahu apa yang kupertanyakan.

Aku memandangnya heran. “Aku lebih suka hadiah yang bisa kumakan daripada benda mati.”

“Untuk yang itu, kau tidak perlu khawatir.”

Ne?!”

“Semua sudah dipersiapkan,” jawabnya sambil tersenyum hangat. Wajahnya nampak lebih muda dari umurnya, sepertinya, bahkan aku tidak tahu umurnya berapa. Sekilas aku melihat Taejun melirik-lirik kearahku. Lirikkannya biasa, seperti mengawasi apa saja yang kulakukan.

Aku mulai merasa aneh.

***

Kai menatap layar ponselnya gusar. Ia tidak melihat sosok yeoja yang setiap hari selalu ia lihat senyumnya walaupun dari kejauhan. Dia juga tidak melihat tawa lepasyeoja itu, tawa yang selalu membuatnya gemas.

Tak biasanya pemuda itu begini. Duduk dipagar yang membatasi balcon-nya lalu dengan raut wajah gelisah yang jarang ia tunjukkan, ia menatap layar ponselnya —bahkan dengan raut wajah itu, ia menatap langit.

Sepersekian detik kemudian, ponselnya berdering, tanda pesan masuk.

From : Sehun

Kutebak, kau pasti sedang merasakan gelisah ‘kan? Apapun itu, tolong berbalik dan jangan berteriak.

Kai hampir meloncat ketika membalikkan badannya. Ia melihat Sehun yang sedang duduk disofa dekat ranjangnya. Sehun bahkan sudah mengambil Buku Sophie’sWorld yang sangat ingin Kai lindungi itu.

“Sejak kapan kau berada disini?!” tanya Kai kesal.

Sehun melihat Jam yang melingkar kokoh dipergelangan tangannya. Ia terlihat berpikir kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sekitar limabelas menit yang lalu, sih.”

Yak!!” teriak Kai. “Neo jukgeshipeo?! *Apa kau ingin mati?!”

Ah, ternyata benar, orang yang sedang gelisah mudah naik emosinya pada hal-hal sepele.” Sehun menghela napasnya.

Sehun menutup buku tersebut lalu mengembalikannya asal —bahkan buku tersebut sempat terjatuh lalu dipungut Sehun dengan santai dan alhasil buku tersebut tergeletak tak sesuai dengan tempatnya semula. Kai yang melihat itu hanya menatap buku tersebut iba.

“Aku sudah mengatakan semuanya kepada Yoojun,” kata Sehun membuka pembicaraan.

“Tentang Jihye noo—”

Kai merenggut dan menarik kerah baju Sehun saat itu juga. Wajahnya merah dan nampak semburat-semburat amarah muncul disana. “Apa yang kau lakukan?!”

Sehun menatap Kai dingin, “Lepaskan.”

Kai melepaskan kerah baju Sehun —yang sekarang sudah nampak berantakkan. Sehun memrapikannya lalu kembali duduk disofa tersebut sambil menatap langit-langit kamar Kai. Ia menghela napasnya, lalu segera menatap Kai, datar.

“Yoojun harus tahu semua yang kau rahasiakan, itu yang pertama dan kedua kenapa aku memberitahunya tentang Jihye noona agar ia tak mengetahui dirimu yang sebenarnya,” jelas Sehun dengan nada tenang seperti biasa. Ia melirik jam dipergelangan tangannya. Tepat 30 menit ia sudah berada disana, di Kamar Kai dan harusnya ia sudah pulang atau kalaupun ia ingin berbicara dengan Kai, pastilah mereka akan keluar tidak di Rumah.

Pemuda berkulit tan itu memalingkan wajahnya. Dia sadar atas apa yang dikatakan oleh Sehun —mengakui bahwa hal yang dulu adalah kesalahan fatal dan membuat perubahan besar pada dirinya. Yoojun memang harus tahu.

“Kau pernah membentak Yoojun ‘kan?” tanya Sehun tiba-tiba. “Ah, apa kau sudah mulai menyukai Yoojun, eo?”

Y-ya! Jangan berasumsi yang bukan-bukan!” Wajah Kai tiba-tiba panik.

“Terserahlah, tapi jangan bohong pada dirimu sendiri.”

Kai terdiam.

Tanpa sadar sudut bibir Sehun terangkat. Sehun, lalu berjalan keluar kamar dan berteriak, “Aku pergi!”

Sementara dikediaman keluarga Park (re: rumah Yoojun), sang pemilik aslinya telah menapakkan kaki di Rumah tersebut. Sudah bertahun-tahun tidak menempatinya dan akhirnya kembali lagi membuat hati ibu Yoojun sedikit ter-enyuh, mengingat masa-masa mudanya. Masa-masa saat ia merawat Taejun yang masih kecil dan mengandung Yoojun, Ia ingat semua hal itu.

Rumah tersebut juga mengingatkannya akan masa lalunya yang kelam, karena penipuan investasi. Beliau dan suaminya adalah pengusaha yang sukses hingga investasi tersebut merusak semuanya. Bisnis mereka mengalami penurunan hingga akhirnya mereka gulung tikar. Namun mereka tidak menyerah, ibu Yoojun dan suaminya memilih untuk mengulang bisnis mereka dari awal lagi di Paris.

Matanya menatap takjub melihat furniture di Rumah tersebut. Semua hal yang ia tinggalkan masih sama dan masih terawat.

Wanita paruh baya itu duduk sembari menatap kedua anaknya. Ia mengambil secangkir teh yang sedari tadi berada disana lalu meminumnya perlahan. Wanita itu menghela napasnya berat.

“Kalian,  cepat bereskan barang-barang kalian. Kalian akan segera pindah ke Paris,” ucapnya tanpa ragu.

Mwo—”

“Jangan buang-buang waktu kalian,” kata ibu cepat.

Taejun yang sedari tadi diam, kini angkat bicara. “Eomeoni, tolong jelaskan secara perlahan mengapa kami harus pindah ke Paris.”

“Tidak ada yang perlu kujelaskan. Cepatlah, kalian membuang waktuku!”

Suasana di Ruang tamu tersebut hening seketika. Ditambah suara rintik hujan yang kini mulai terdengar. Hujan datang mengguyur kota tersebut —walaupun tidak lebat— disertai angin.

Eomma!” sergah Yoojun. “Jika kau datang kemari hanya untuk merenggut kebahagianku lebih baik tidak usah! Aku —apa intinya aku pindah dan menjalani kehidupan di Paris jika semua kebahagianku berada disini!

Lagipula aku yakin, eomma tidak akan peduli dengan semua yang kulakukan,” lanjutnya. Mata Yoojun berkaca-kaca, ia menahan tangisnya.

“Bahkan kau mengabaikanku dan Taejun! Kau lebih memilih pekerja—”

Belum selesai Yoojun berbicara, sebuah tamparan mendarat tepat dipipinya. Tamparan tersebut diiringi isakkan pelan dari sosok wanita paruh baya tersebut. Yah, ibunya lah yang menamparnya.

Ibunya terisak sambil sesekali menahannya, “Jangan berbicara kalau kau tidak tahu kebenarannya!”

Air mata itu turun perlahan dari sudut mata Yoojun. Ia memegangi pipinya yang terasa panas lalu berlari keluar dari ruang tamu tersebut.

“Yoojun-ah!” teriak Taejun. Ia hendak berlari, namun tangan ayah menghadangnya.

“Jangan, aku yakin ia akan baik-baik saja.”

Taejun menghela napasnya, “Kuharap begitu.”

Gadis itu terus berlari walaupun hujan membasahi tubuhnya. Ia tak peduli lagi dengan apa yang berada dirumahnya, ia lebih peduli dengan emosi dan pikirannya yang sedang berkecamuk.

Dia berlari dan tak sadar jika ia menghentikan langkahnya disebuah taman. Yah, inilah taman dimana ia dan Kai pernah berkencan, dan tempat dimana Kai mencium keningnya.

Sayang, taman tersebut sepi sekali —hujan juga tak henti-hentinya berhenti. Yoojun, lalu duduk disebuah kursi taman.

Ia menangis disana.

Suara tangisnya tak akan terdengar karena hujan. Air matanya juga ikut hanyut bersama hujan, dan ia berharap rasa sakitnya juga mengalir hilang seperti hujan. Yoojun tak menyangka, pertemuan dengan ibunya berakhir dengan sebuah tamparan —bahkan tamparan tersebut berasal dari ibunya sendiri.

“Wah, wah, lihat ini siapa yang sedang menangis,” ucap seseorang.

Yoojun mendongak, ingin melihat siapa sumber suara tersebut. Matanya membulat ketika melihat seorang yang sangat familiar, “Kau… lagi.”

Pemuda dengan tinggi 181cm itu berdecak. Dia menggelengkan kepalanya sambil menatap gadis dihadapannya itu sinis, tak suka.

“Wajahmu jelek kalau sedang menangis, kau tahu?”

Jeoriga! *pergi(lah)!”

Sehun masih dengan posisinya. Ia tak berpindah sedikitpun, malah makin memperhatikan gadis yang tengah menangis itu. Sehun bukanlah orang yang bisa mengasihani seseorang —bahkan ia tak memayungi Yoojun yang masih kehujanan, ia memayungi dirinya sendiri.

Sehun berdecak, “Ayo, aku akan mengantarmu.”

“Aku tidak mau pulang kerumahku,” sergah Yoojun.

“Siapa bilang aku ingin mengantarkanmu kerumahmu? Kau percaya diri sekali.” Sehun menatap Yoojun remeh. Namun tiba-tiba Yoojun menghela napasnya, membuat Sehun jadi menatapnya heran, “Mwo?”

“Aku juga tidak mau ke Apartemenmu.”

Sehun tertawa, “Kau benar-benar percaya diri!”

“Aku tidak mau membawamu ke Apartemenku, nanti apartemenku kotor!” lanjut Sehun sambil mengibaskan tangannya.

YaNeo!” teriak Yoojun. “Lalu kau ingin mengantarkanku kemana?”

“Tentu saja ke Rumah Kai.”

TBC

Wah nggak terasa udah part kelima! Membosankan-kah? Hehehe

Jujur, ini part yang menurut saya paling lama dibuatnya daripada part-part sebelumnya. Banyak yang harus dipikirin ulang dan ditulis ulang. Apalagi waktu buat ini saya lagi kena writer’s block, makin lama deh nge-buatnya 😀

Let’s be a friendFollow me on @shaneleeps and I will follow you back. Sering-sering mengunjungi wordpress saya juga ya originalshane.wordpress.com

Keep read, like and comment ^^ *bow

43 pemikiran pada “Love Sign (Chapter 5)

  1. Kembali dengan 12 jempol, hadeh, hadeh ini cerita makin bagus pake BANGETTTTT!!!! *apadeh , , ,apalagi diselingi humor, suka BANGETTT!!!
    Oke, ke chap 6 *teleport*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s