Only Park Chanyeol

Author : raynafishy

Title : Only Park Chanyeol

Genre : Angst

Main cast : You, Park Chanyeol, Kris, oc.

A/N: Mian ya kalo agak geje._.v Makasih yang udah mau baca dan commentJ

Aku sedang menunggu suamiku, Chanyeol, pulang dari studio foto yang sangat Ia cintai itu. Ia adalah seorang fotografer yang amat handal yang pernah aku kenal, karena mungkin fotografer yang aku ketahui hanyalah Chanyeol.

Sedangkan aku adalah seorang Interior designer. Aku tidak bisa memasak, tidak romantis, tidak feminim, tetapi tidak juga tomboy. Dan Chanyeol mencintaiku. Ia selalu mengatakan itu setiap saat kita bertatap muka, dan selama Ia masih ada di bumi ini. Dia selalu mengatakan bahwa Ia hanya mencintaiku, dan aku mengetahui itu dari perlakuannya padaku, serta dari ciuman yang Ia beri padaku untuk membangunkanku setiap pagi. Ia memang selalu menjadi yang membangunkanku dari tidur, dan dari mimpi-mimpi burukku.

 

Tapi akhir-akhir ini Chanyeol selalu menghilang. Ia menjauhiku, dan menghindariku.

 

Aku lupa kapan terakhir kali Ia memelukku. Entah kesibukan apa yang membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk menemuiku lagi. Dan aku merindukannya.

Aku tidak peduli apabila aku memergokinya sedang bercumbu dengan wanita lain. Aku tidak peduli apabila ternyata aku adalah istri simpanannya. Aku hanya ingin menemuinya, dan aku benar-benar rindu padanya.

Mungkin sebenarnya Chanyeol datang ke rumah ketika aku sedang terlelap, dan akan pergi sebelum aku terbangun. Ia terus menghindariku hingga hari ini, dimana aku masih menungguinya.

 

Teman-temanku, juga keluargaku. Mereka sepertinya tidak menyukai hubunganku dengan Chanyeol karena mereka terus menerus menyarankanku untuk berpindah pada Kris. Mereka terus menghubung-hubungkan aku dengan Kris-sahabat baik Chanyeol.

Kris selalu merawatku, Ia bahkan selalu berusaha mengisi kekosongan yang seharusnya diisi oleh Chanyeol.

Tentu saja aku tidak bisa begitu saja menerima Kris. Aku masih milik Chanyeol.

 

Aku masih duduk di sofa empuk yang biasanya menjadi tempat dimana aku menghabiskan waktuku untuk membicarakan banyak hal dengan Chanyeol. Tetapi sekarang sofa ini hanyalah sofa sebagaimana fungsinya. Hanya menjadi sofa untukku menghabiskan waktu dengan menonton tv.

 

03.09 AM

 

Chanyeol masih belum menampakkan dirinya di rumah ini. Aku pikir Ia menjadi lebih sibuk sejak setahun yang lalu Ia menerima sebuah pemotretan dan pergi ke Italia selama tiga bulan. Setelah Ia pulang kembali ke Korea, Ia selalu menghilang. Tidak menjawab pesanku, atau teleponku. Ia bahkan mematikan ponselnya setiap saat… Atau sebenarnya Ia telah mengganti nomor ponselnya? Entahlah.

Aku terus memikirkan Chanyeol sambil terus menunggunya ketika seseorang membuka pintu rumahku. Orang itu melepaskan sepatunya, kemudian menyimpannya pada rak di dekatnya.

Ia terlihat sangat lelah. Aku bisa mengetahuinya dari caranya berjalan mendekatiku kemudian memelukku. Ia mengusap pelan punggungku kemudian mencium keningku dan hendak pergi menuju kamarku tetapi aku tahan.

 

Aku pun bertanya padanya, darimana saja Ia selama ini? Apa Ia tidak rindu padaku? Apa saja yang ia lakukan akhir-akhir ini?

Ia tampak terkejut pada pertanyaanku, tetapi kemudian Ia pun tersenyum manis padaku dan menjawab bahwa Ia akan pergi membersihkan dirinya terlebih dahulu kemudian menjawab semua pertanyaanku.

Tetapi sebelum Ia dapat melangkah pergi lagi, aku menariknya ke dalam pelukanku dan mengatakan padanya untuk tidak meninggalkan aku lagi. Ia pun hanya menganggukan kepalanya dan melepas pelukanku.

 

Aku tidak sabar untuk berbicara padanya. Banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya. Terlebih setelah aku memeluknya, aku jadi ingin lebih tahu apa saja yang Ia lakukan selama ini karena aroma tubuhnya berbeda.

Apa Ia tidur dengan yeoja lain? Entahlah, aku tidak terlalu peduli dengan itu. Aku hanya ingin Ia tidak meninggalkanku, itu saja.

 

Aku pun berpindah dari sofa di ruang tv, menuju kamarku. Kamarku dan Chanyeol.

 

Chanyeol mandi tidak terlalu lama. Karena baru beberapa menit aku duduk di atas ranjangku untuk menungguinya pun Ia masuk ke dalam kamarku dengan piyamanya yang satu pasang dengan miliku.

Ia tersenyum ketika melihatku sedang menungguinya. Ia tersenyum padaku kemudian berjalan menuju ranjang yang sedang aku duduki ini dan membaringkan tubuhnya.

 

Untuk beberapa saat keheningan menemaniku dan Chanyeol, hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk memulai percakapan. Aku pun memulai dengan menanyakan kondisinya, apakah Ia baik-baik saja selama Ia menghindariku atau tidak. Dan Ia menjawab bahwa Ia baik-baik saja.

Kemudian Ia pun menanyaiku dengan pertanyaan yang sama yang kujawab dengan jawaban yang sama dengannya.

Lalu keheningan pun kembali hadir, dan kali ini aku tidak repot-repot untuk menghilangkan keheningan itu karena aku terlalu mengantuk untuk berbicara padanya.

 

 

Sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Aku pun membuka mataku hanya untuk melihat sapaannya pagi itu. Ia tersenyum padaku… lagi. Ia selalu tersenyum padaku jika Ia melihatku. Tapi entah mengapa senyum itu berbeda. Ia seperti menyembunyikan sesuatu dariku, dan juga seperti merasa bersalah padaku. Mungkin Ia telah melakukan sesuatu yang jika aku mengetahuinya, aku akan marah padanya. Apa ternyata dugaanku benar? Aku adalah yang kedua baginya?

 

Aku pun memanggilnya. Mengucapkan namanya, kemudian menatap manik mata coklat keemasan itu.

Ia memejamkan matanya ketika aku memanggil namanya lalu kembali membalas tatapanku, dan berusaha tersenyum lagi padaku.

Aku memeluknya tetapi kali ini Ia tidak membalas pelukanku. Aku bertanya padanya mengenai statusku, mengenai apa yang aku takutkan selama ini. Apakah benar ada yang lain selain diriku di hatinya? Ia menjawab dengan gelengan di dalam pelukan kami.

Kukatakan bahwa aku mencintainya. Chanyeol, aku mencintaimu dan aku tidak mau kamu meninggalkanku.

 

Dan Ia pun menangis.

 

Entah mengapa aku pun jadi ingin ikut menangis bersamanya, karena aku yakin pasti ada sesuatu yang Ia sembunyikan.

Apakah tadi Ia berbohong? Apa Ia memiliki sebuah keluarga kecil lain selain keluarga yang aku bina dengan Chanyeol? Ataukah sesuatu yang lain yang membuatnya akan meninggalkanku?

 

Chanyeol melihat kekhawatiran di wajahku, Ia pun berkata bahwa Ia juga mencintaiku dengan tulus untuk menghilangkan kegelisahanku. Aku memang lega mendengarnya, tetapi entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.

Kemudian Ia menciumku lagi dan pergi untuk bersiap-siap pergi bekerja di studio fotonya itu, sehingga aku pun pergi bersiap-siap di dapur. Aku berencana untuk membuatkannya sarapan, dan semoga masakanku kali ini tidak gosong seperti yang lalu. Aku bertekad berubah untuknya agar Ia merasa nyaman denganku.

 

Setelah satu jam aku menunggunya dan kekacauan yang aku buat di dapur telah selesai aku buat. Chanyeol pun terlihat menuruni tangga dengan tas punggungnya sambil merapihkan pakaian yang Ia pakai.

Ia tertawa ketika melihatku memakai celemek dan melihat kekacauan di dapur. Aku segera pergi meninggalkannya di dapur untuk mengganti pakaianku karena aku akan mengantarkannya bekerja setelah aku menyodorkan sepiring kekacauan yang aku sebut makanan untuk sarapannya.

 

 

Ia membiarkan aku menyetir mobilnya untuk pagi itu. Ia terlihat khawatir ketika aku berkata padanya bahwa aku yang akan membawa mobilnya ke tempat kerjanya. Tetapi aku berusaha untuk menghilangkan kekhawatirannya itu dengan berkendara sebaik mungkin.

Karena mungkin Ia takut aku dapat membawanya pada maut.

 

Aku pun memberhentikan mobilnya di depan studio foto besar miliknya yang Ia namai dengan namaku. Ia mengatakan bahwa namaku indah, dan akan membawa pada kebahagiaan.

 

Ia menengok ke luar jendela mobilnya dan melihat studio fotonya. Untuk beberapa saat Ia diam dan terlihat ragu, kemudian Ia pun mengalihkan pandangannya kepadaku dan tersenyum sebelum akhirnya Ia keluar dari mobil.

 

Aku menunggunya dari dalam mobil sampai Ia masuk ke dalam studio fotonya itu. Tetapi bukannya memasukki tempat kerjanya, Ia malah menghubungi seseorang dengan ponselnya. Dan pastinya orang itu bukan aku karena ponselku sama sekali tidak berdering.

Lalu sekitar dua puluh menit kemudian seseorang memeluk Chanyeol dari belakang. Ia terlihat sangat akrab dengan Chanyeol, dan sesekali Ia bercanda dengan Chanyeol dan melakukan hal-hal mesra yang berlebihan bagiku jika hubungan mereka sebatas teman.

 

Aku mengikutinya. Chanyeol tidak masuk ke dalam studio fotonya, melainkan pergi bersama yeoja yang wajahnya tidak cukup jelas untuk aku kenali. Mereka saling bergandengan, Chanyeol mencubit pipi yeoja itu, bercanda dengannya dan bahkan tertawa bahagia.

Chanyeol tidak pernah seperti itu padaku akhir-akhir ini. Apa ini alasannya mengapa Ia jarang bersamaku? Apa ini alasannya Ia menghindariku?

 

Yang membuat aku tercengang sebenarnya bukan hal-hal mesra yang mereka lakukan di dalam café yang mereka masuki itu. Tetapi yeoja yang sedang bersama Chanyeol. Yeoja itu adalah adik Kris yang sekaligus adalah sahabatku juga. Aku mulai bersahabat dengannya ketika aku mengenal Kris dan aku dikenalkan pada yadongsaeng-nya.

 

Aku muak.

 

Aku benci melihat Chanyeol mencium kening sahabatku itu. Baiklah, aku menarik kata-kataku lagi. Aku peduli ketika Chanyeol mencium yeoja lain selain aku. Apalagi aku sendiri yang melihat kejadian itu, aku tidak tahu bahwa itu semua akan semenyakitkan ini.

 

Kubuka pintu mobil, dan kututup lagi dengan bantingan yang keras. Aku berjalan dengan amarah yang ada dalam diriku menuju café itu, lalu kuhampiri mereka. Kuhampiri Chanyeol dan sahabatku yang masih asyik dengan obrolan mereka, hingga akhirnya kuteriakan nama Chanyeol dan mereka berdua pun tertarik perhatiannya padaku.

Mereka berdua terlihat terkejut, terlebih sahabatku itu, Ia terlihat lebih terkejut dan bingung ketika melihat kehadiranku yang tiba-tiba.

 

Pandanganku pun kabur karena air mata yang berlinang, membuat Chanyeol memelukku dan menangis. Bukankah seharusnya aku yang menangis? Bukankah Ia yang bersalah padaku?

 

Chanyeol merangkul pundakku, dan membawaku keluar café sebelum Ia berbisik pada sahabatku yang membuat aku semakin merasa hancur. Akan aku jelaskan di rumah, bisik Chanyeol padanya.

 

Rumah? Rumah Chanyeol yang lain?

Jadi aku memang benar mengenai keluarga kecil lainnya yang Chanyeol bina.

 

 

Kali ini aku biarkan Chanyeol membawa mobil. Entah mengapa aku merasa bersalah sudah membuat Chanyeol menangis, karena aku tidak pernah melihat sisi Chanyeol yang seperti itu. Tapi bagaimana pun dia yang bersalah disini bukan? Dia yang menyakitiku bukan? Lalu kenapa harus Ia yang menangis?

 

Chanyeol tidak membawaku pulang ke rumah, karena sekarang Ia membawaku ke jalan yang tidak biasa aku lalui. Tapi sepertinya aku mengenal jalan ini.

Ia pun memberhentikan mobilnya di padang rumput hijau yang luas. Ia terlihat ragu saat melihat padang rumput itu, tapi kemudian menjadi penuh keyakinan ketika melihatku. Secara tidak langsung Chanyeol menyuruhku untuk turun dari mobil dan mengikuti langkahnya. Aku pun menuruti kemauannya, dan berjalan di belakangnya sambil menunduk.

 

Ia bertanya padaku apa aku mengenali padang rumput itu, dan aku pun menjawab dengan anggukan.

 

Tentu saja aku mengenal padang rumput itu, padang rumput yang mempertemukan aku dengan Chanyeol. Tempat dimana aku menghabiskan waktu remajaku bersamanya, dan tempat dimana Ia melamarku.

 

Chanyeol pun menggenggam tanganku dan membawaku pada sebuah pohon besar. Pada satu-satunya pohon yang tumbuh disana. Ia pun berlutut dibawah pohon itu dan mengusap pelan batangnya kemudian memandangku. Aku masih mengenali pohon ini, pohon yang selalu menjadi tempatku dan Chanyeol berteduh. Tapi untuk apa Chanyeol membawaku kemari? Ia terlihat berbeda dari biasanya.

 

Kuikuti pandangannya yang terus melekat pada sebuah batu nisan yang bertuliskan namanya.

Aku pun mengalihkan pandanganku dari batu nisan tersebut pada Ch- pada Kris.

 

Disana, di sampingku sangat jelas seorang namja bernama Kris sedang berdiri sambil merangkul pundakku. Dia bukan Chanyeol, dia bukan Chanyeol yang selama ini aku rindukan.

Melihatku yang mulai menyadari kehadiran Kris selama ini, Ia pun menarikku dalam pelukannya dan mulai mengingatkan aku mengenai sebuah karangan bodoh tentang Chanyeol lagi,

 

Mengenai Chanyeol yang mengalami kecelakaan pesawat di hari sebelum Ia menikahiku dalam perjalanannya menuju Italia, dimana aku akan menikah. Ia mengatakan bahwa jasat Chanyeol tidak dapat ditemukan. Jadi saat itu Kris pun menikahiku sebagai pengganti Chanyeol karena undangan sudah terlanjur disebarkan.

Ia berkata bahwa hingga saat ini aku tidak dapat menerima kenyataan dan terus diliputi masa lalu serta khayalan yang aku buat.

 

Ia mengatakan padaku untuk tidak menunggui Chanyeol lagi, dan memohon untuk melihat pada dunia nyata termasuk melihat kepadanya, bukan Chanyeol. Meyakinkanku bahwa dia bukan Chanyeol, tapi Kris.  Meyakinkanku bahwa Ia dapat memberiku kebahagiaan yang sama dengan Park  Ch-

 

Tidak ada Chanyeol lagi. Selamanya. Itu yang Ia yakinkan padaku.

 

Dan entah apalagi yang Ia katakan selanjutnya karena aku tidak mau dapat mendengarnya lagi berbicara.

 

Di duniaku hanya ada Chanyeol. Tidak boleh ada yang lain.

Hanya Park Chanyeol.

81 pemikiran pada “Only Park Chanyeol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s