Protect My Dear (Chapter 3)

Author: chan0628 (@yeoja0628 on twitter)
Genre:  sad story, romance
Length :  Multi Chapter
Main Cast :  Park Chanyeol, Kim Miyeon, Byun Baekhyun

Summary  : “Baekhyun-ah, cepat kembali.. aku merindukanmu!”.

[NOTE] disarankan bawa tissue sebelum baca . . . hiks hiks hiks

yang lagi galau,, FF ni bisa meningkatkan kegalauan anda , , , yg lagi seneng ati-ati tiba-tiba nangis ya . . . .

 ____________________________________________________-

Aku duduk terdiam di bangku kuliahku, sebagian mahasiswa telah pergi keluar kelas untuk menghabiskan waktu istirahat. Hanya tersisa segelintir orang yang sedang sibuk sendiri di posisinya masing-masing, termasuk ah reum, yang selalu menghabiskan waktu dengan membaca novel, seperti biasanya. Kumantapkan hati menghampiri ah reum.

“ah reum-ah annyeong”. Sapaku dengan suara bergetar. Ia mendongak dan tersenyum setelah melihatku.

“annyeong”. Jawabnya kemudian. Aku duduk di kursi tepat di hadapannya. Ah reum melipat halam kertas di bagian ujungnya. Menandai bahwa sampai disanalah ia membaca. “waeyo miyeon-ah”. Tanyanya.

“emm, bagaimana dengan keluargamu di bali? Kau pergi sangat lama, juga tidak menghubungiku sama sekali”. Kataku berbasa-basi.

“ah, keluargaku baik-baik saja. Disana sangat indah, bahkan sempat terfikirkan dalam benakku untuk tidak kembali ke korea dan menetap disana”.

“begitu ya”. Ia mengangguk. “ah reum-ah.. namja kemarin malam, pacarmu ya?”.

Ia mentapku “anio, dia kakakku. Kakak sepupu. Namanya lee chan do. Dia sangat tampan ya? Tubuhnya tinggi dan wajahnya karismatik. Sangat ramah dan baik hati. Bahkan ketika aku memintanya untuk menjemputku seperti kemarin malam, ia benar-benar datang walaupun ia sendiri merasa lelah”. Aku mendengarkan dengan hati-hati setiap kata yang keluar dari mulut ah reum. “sudah 1 tahun ini dia kembali ke korea, dan kuliah di universitas kyung hee”.

“London-inggris, disanalah tempat tinggalnya selama 13 tahun terakhir. Dan aku senang sekarang dia sudah kembali ke seoul”. Ia menoleh, memandangku yang terlalu seius menatapnya. “hey!!! Wake up!!!”. Serunya pelan sambil menjentikkan jemarinya. “ah…. Jangan-jangan kau…. Menyukai kakakku ya? Kau menyukai chan do oppa??” tanyanya dengan nada suara hampir seperti histeris. Aku membungkam mulutnya cepat.

“ya!!! Ah reum-ssi. Mana mungkin,, aku sudah punya baekhyun!”. Kataku seraya melepaskan bungkamannya. Kutarik nafas panjang.

“benar juga, mana mungkin kau menyukai orang lain. Baek hyun bahkan sudah terlalu sempurna. Namja yang tampan, pintar, kaya raya dan sangat popular di kalangan para yeoja. bahkan saking populernya, mahasiswi-mahasiswi kampus lain juga mengenalnya. Dan namja sempurna itu kini jatuh kepelukan sahabatku. Ah, jujur saja aku sempat iri padamu!”. Katanya sedikit kesal. Aku menatapnya heran. “dunia benar-benar tidak adil padaku”. Gerutunya.

“apa maksudmu?”.

“kau punya baekhyun, dan aku punya chan do. Tapi kenapa namja yang hampir sempurna seperti chan do menjadi sepupuku? Kenapa bukan orang lain. Aku jadi tidak bisa mengencaninya”.

“MWOOO???”

***

Sudah beberapa hari ini aku memperhatikan gerak-gerik ah reum. Aku berharap ia kembali dijemput oleh namja itu lagi. Chan do, sepupunya. Sesekali aku mengumpat kecil dalam hati karena tidak sabar. Dan ah reum selalu pulang sendiri dengan mobilnya sejak hari itu.

Hari ini, kami mendapat tambahan jam kuliah lagi. Mr. kim, guru tampan yang selalu melumpuhkan hati ah reum bahkan ketika ia duduk terdiam. “ah reum-ah, ah reum-ah!!. Kau mendengarku tidak? Pelajaran sudah berakhir. Kau tidakpulang??”. Tanyaku pada gadis yang mematung di sampingku.

“jam berapa?”.

“8”. Kataku sambil menunjuk jam di dinding.

“sepertinya aku akan mengajak mr. kim makan malam dulu. Bye-bye miyeon!!”. Katanya langsung berlari meninggalkanku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Tersenyum kecut melihat tingkah ah reum yang tiba-tiba agresif.

Aku berjalan sendirian menuju tempat parkir tepat disamping gedung. Tempat aku memarkirkan sepeda miniku. Aku merogoh saku jaketku dan mengambil sebuah kunci kecil. Aku menunduk, memasukkan kunci ke lubang gembok yang mengunci sepedaku.

“jhogiya”.panggil seseorang dari belakang.

“ne”. kataku tanpa menoleh. Aku masih sibuk membuka gembokku yang tiba-tiba macet.

“apakah kau melihat shin ah reum? Apakah kau tahu dimana aku bisa mene…?”.

“changkamanyo. Ah, sudah terbuka”. Kataku lega sambil melepaskan rantai yang mengunci ban sepedaku. Aku meletakannya di tanah.

“waeyo? Kau mencari sia?”… mataku terbelalak. Air bening menggenangi mataku, tubuhku bergetar. “chan…. chan yeol”. Kataku terbata-bata. Secepat kilat aku memeluknya. Ada kerinduan yang memuncah di hatiku. Aku menangis tersedu di pelukannya.

“chogiya, naneun chanyeol anieo. Chan do imnida, lee chan do”. Katanya sedikit memberontak, ia berusaha melepaskan tanganku yang melingkar erat di punggungnya. Namun aku tidak peduli. Air mataku terus mengalir, membasahi bajunya.

“chan yeol-ssi… park chan yeol. Bogoshippo!! Nan bogoshipposseo”. Isakku. Nafasku mulai tidak teratur. “kemana saja kau selama ini? Aku berfikir kau sudah meninggalkanku chanyeol-ah”. Aku menangis semakin kencang dan kencang lagi.

“changkamanyo, chogiya”. Ia melepaskan pelukanku pelan. “tolong dengarkan aku, aku bukan park chan yeol, aku lee chan do, mungkin kau salah orang”. Aku menggeleng cepat. Semuanya sama, postur tubuh, mata, senyumnya, suaranya yang berat, dan caranya menggenggam lenganku. Semuanya sama. Chan yeol apa kau tidak mengenaliku?

“aku kim miyeon? Kau tidak mengenaliku? Kau lupa denganku? Bagaimana bisa kau melupakanku. Kita telah bersama selama…..”.

“lee chan do!!”. Panggil seorang namja, chan do menoleh.

“byun baekhyun”. Sapanya pada namja yang baru saja datang itu. Siapa? Siapa nama yang dia sebut tadi? Baekhyun? Byun baekhyun?. Aku mendengar suara gesekan antara sepatu nya dan tanah.

“ah…mwoya mwoya? Jagiya? Waeyo? Kau menangis lagi? Chan do ya, yeoja chinguku kenapa?”.

Chan do-baekhyunnie saling mengenal? Bagaimana bisa? Ania, dia bukan chan do, dia adalah chan yeol. Chan yeolku. Bagaimana dia hidup selama ini? Apa dia makan dengan baik? Apa dia tidur dengan hangat? Air mata terus mengucur dari kedua mataku yang mulai terasa panas.

“jagiya”. Panggil baekhyun. “bukankah kau  sudah berjanji padaku bahwa kau tidak akan menangis lagi? Uljima yo uljima”. Katanya sambil menyeka air mataku.

“chan do-ya apa yang baru saja terjadi? Kenapa yeoja chinguku menangis?”.

“mollayo, molla. Tadi aku bertanya padanya dimana aku bisa menemui ah reum. Tapi tiba-tiba dia menangis dan memelukku”.

“mwo? Memelukmu?”. Nada suara baekhyun memuncak. “jagiya, apa yang sebenarnya terjadi? Tolong katakan padaku”. Kepalaku masih tertunduk. Bibirku mengatup rapat. “jagiya!!!”

“ah, dia juga memanggilku dengan nama…… siapa tadi nama yang dia sebutkan…… chanyeol! Dia memanggilku dengan nama park chan yeol!”.

Aku merasakan tangan baekhyun bergetar. Tangan yang sedari tadi menggenggam tangaku dengan erat kini benar-benar terlepas. Aku melihat ia melangkah mundur dengan berat. Kudongakkan kepalaku. Ekspresi baekhyun, baekhyunnie.

“oppa”. Panggilku dengan suara sumbang. Ia menghela nafas dan mengalihkan pandangannya tak pasti. Sesekali ia menyilahkan poninya yang lurus.

“baekhyun-ssi waeyo?”. Tanya chan do. Aku tahu, dia pasti kebingungan melihat reaksi baekhyun sekarang. Tapi dia akan tahu semuannya sekarang. Semua akan menjadi jelas sekarang.

“siapa? Dia memanggilmu siapa? park chan yeol?”. Tanyanya kemudian, chan do mengangguk mantap. Ia tersenyum aneh. Senyum yang tak pernah kulihat selama ini.

“oppa?”. Panggilku lagi.

“kemarin,, saat chan do menjemput ah reum saat itulah juga kau berlari mencari sesuatu mengelilingi kampus hingga jatuh pingsan, kau berkata hatimu sangat sakit. Apakah lee chan do? Apakah chan do yang kau cari?”.

“oppa”. Panggilku sekali lagi.

“apakah dia park chanyeol? chanyeolmu…. sahabatku? KIM MIYEON JAWAB AKU!”. Bentaknya. Tubuhku semakin bergetar. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku, byun baekhyun membentakku.

“baekhyun-ssi. Chanyeol anieo, chan do imnida”.

“diamlah kau lee chan do! Aku tidak ingin mendengar apapun darimu sekarang”. Bentaknya lagi. Air bening meluncur dari matanya. Baekhyunnie menangis. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya menangis. Hatiku semakin tercabik-cabik. Ada rasa tak karuan dalam hatiku. Entah apa, aku tidak tahu. Semakin aku bernafas rasanya semakin perih, kedua orang yang kusayangi……… aku menatap mereka bergantian, pandanganku berhenti pada baekhyun. Wajahnya dengan jelas menunjukkan betapa besar amarahnya, seberapa ia berusaha meredamnya. Tanganya mengepal, otot-otot biru di punggung tangannya  seperti membentuk sebuah anak sungai. Warnanya terang, menunjukkan seberapa kuat ia mengepalkannya.

“bukankah kau berkata bahwa chanyeol sudah mati? Huh? Aku akan menjadi gila kim miyeon”.

Mendadak aku menyadari apa yang terjadi. Kukatupkan kedua tanganku menutupi telinga erat-erat. Suara tabrakan itu, terdengar begitu jelas. Suara rintikkan air hujan yang deras, desah suara chanyeol yang lemah memanggil namaku, isak tangisku di malam itu, isak tangis mengucapkan sebuah janji. Semuanya terdengar begitu jelas. Dan—- gelap.

***

Sudah hampir 3 bulan sejak kejadian malam itu. Dia tak pernah menghubungiku sama sekali. Setiap aku pergi ke apartemennya, aku tetap tidak menemukannya. No. ponselnya juga tidak aktif. Selama apapun aku menunggunya di gerbang kampus, aku tidak pernah menemukannya. Dia seperti menghilang, baekhyunnie, kau sedang apa?

Sesekali ah reum dan chan do datang mengunjungiku ke rumah. Meskipun hanya sekedar menanyakan kabar dan makan bersama. Sejak dia menghilang, rutinitasku berubah. Biasanya setelah aku  melakukan sesuatu aku selalu menelfonnya. Kini, ponselku bahkan hampir tak kusentuh. Aku hanya memastikan baterainya tetap penuh, supaya jika suatu saat kau menghubungiku kita bisa berkomunikasi lagi tanpa rasa gelisah.

Hari mulai gelap, namun sungai han masih ramai. Malam ini malam bulan purnama. Ya, bulan purnama pertama yang kunikmati tanpa dirimu. Tanpa menyandarkan kepalaku dibahumu seperti malam bulan purnama sebelumnya. Tanpa senandung merdu lagu yang kau nyanyikan untukku. Lagu-lagu favorite kita bersama. Tanpa kopi hangat dan tanpa kehadiranmu.

Aku menghela nafas panjang dan membaringkan tubuhku di rerumputan yang dingin. Tidak peduli rambutku yang kotor karena dedaunan kering. Kuarahkan tanganku ke langit, seperti berusaha menggapai bintang-bintang. Hal yang selalu kita lakukan bersma-sama. Berharap? Tentu saja aku selalu berharap. Berharap kau tiba-tiba datang dan memanggilku dengan sebutan ‘jagiya’ seperti biasanya. Harapan bahwa kau adalah cinta terakhirku. namja terakhir yang dikirim tuhan untuk mendampingiku. Namja yang selalu bertukar kasih denganku, baik suka maupun duka selamanya.

Sekelebat, bayangan chanyeol datang menyelinap diatara bayanganmu di otakku. Byun baek hyun-park chan yeol. disaat yang sama, aku dihadapkan pada kenyataan yang sangat menggelikan sekaligus mengerikan. Ketika aku sudah melupakannya dan memilih hidup bersamamu, dia kembali datang. Membuatmu hilang dari hidupku. Terlalu sering aku menanyakan ‘apakah aku masih mencintainya?’ orang yang membuatku hampir mati karena cinta. Orang yang mulai sedikit demi sedikit mengingat masa lalunya, masa-masa kebersamaan kami. Orang yang kembali menorehkan perhatiannya padaku, kepada orang yang teramat merindukanmu.

“baekhyun-ah, eodisseo??”. Gumamku pelan. Air mataku menetes ketika aku menutup kelopak mataku, mencoba menemukan kembali senyummu dalam kegelapan. Senyum tulus yang selalu kau berikan padaku. Senyum yang selalu dapat menenangkan kerisauan hatiku. Senyum yang senantiasa ada disaat apapun.

“Baekhyun-ah, apa kabarmu? Aku merindukanmu.

Baekhyun-ah, hari ini chanyeol menemuiku lagi seperti hari-hari sebelumnya. Dia juga memasak untukku. Dia masih sama baiknya seperti dulu, dia tidak berubah sedikitpun. Ingatannya juga semakin membaik dari waktu ke waktu, dia mulai bisa mengingat kenangan kami lebih rinci setiap harinya.

Baekhyun-ah.. kau dimana? Bagaimana keadaanmu disana? Kau makan dengan baik kan? kau juga tidak boleh terlalu sibuk lagi, kesehatanmu lebih penting. Kau harus selalu mengingat itu. Kau harus tetap sehat dan ceria seperti biasanya. Seperti byun baekhyun yang kukenal selama ini.

Baekhyun-ah.. begitu besar harapanku, kau akan datang dan berbaring disampingku, bersama-sama menatap bintang dan menggantungkan sejuta harapan manis. Memandangku lekat dan berkata ‘aku juga merindukanmu’, mungkinkah itu terjadi?

Baekhyun-ah, cepat kembali.. aku merindukanmu”.

Air mata menetes membasahi pelipis kananku, apakah dia mendengar pesanku? Pesan yang ku kirim lewat bintang-bintang di langit setiap malam, pesan yang mewakilkan semua yang kurasakan. Pesan yang hanya untuk byun baekhyun disana. Entah dimana.

***

“miyeon-ah, annyeong hasseyo”. Ujar chanyeol sesaat setelah aku membuka pintu.

“waeyo chanyeol-ssi?”. Tanyaku tak bersemangat.

“bisakah aku masuk? Aku ingin kau mengetahui beberapa fakta. Aku juga ingin meminta bantuanmu”. Aku mengangguk sekilas lalu membuka pintu lebih lebar. “masuklah”. Ia melangkah masuk, melepas sepatunya dan berjalan menuju ruang tengah.

“apa yang mau kau katakan?”. Tanyaku tanpa basa-basi.

“halmoni akhirnya menceritakan semua yang terjadi padaku. Menjawab semua keingintahuanku”. Aku mengernyitkan alis.

“begini… mereka menemukanku di sebuah bukit 1,5 tahun lalu. Mereka membawaku ke rumah sakit. Namun aku koma selama hampir 5 minggu. Saat aku sembuh, aku melupakan semuanya, termasuk jati diriku dan juga kau miyeon-ah”. Aku menatapnya lekat-lekat. Menatap namja yang kucintai sejak dulu. Terbersit bayangan di dalam otakku. Bayangan kejadian yang dia alami sejak malam yang memisahkan kami berdua.

“lee chan do, dia….. telah meninggal 3 tahun yang lalu”. Katanya lagi.

“mwo???”. Kataku sedikit tersentak. Fakta apa ini? Apakah ini benar-benar kenyataan yang selama ini terjadi?

“karena dia meninggal saat tinggal di London, tidak ada 1pun keluarga di korea dan di Indonesia yang tahu. Aku dan halmoni tinggal di busan selama hampir 6 bulan sebelum akhirnya kembali ke seoul. Sejak saat itu, aku adalah lee chan do. Halmoni memperkenalkanku kepada semua anggota keluarga sebagi lee chan do. Karena halmoni berkata aku mempunyai sifat yang sama dengannya. Cerah dan ceria. Sebelum akhirnya kau menemukanku”.

“aku senang kau bisa mengingat semuanya sekarang chanyeol-ah, lalu apa yang bisa kubantu?”.

“miyeon-ah, bukankah kau berkata kitaa telah bersama sangat lama?”. Aku mengangguk. “aku ingin lepas dari semua ini. Aku ingin menjadi chanyeol yang dulu lagi, park chan yeol tanpa bayang-bayang identitas lee chan do”.

“apa maksudmu?”.

“meskipun waktu telah memisahkan kita, tapi waktu juga yang mentakdirkan kita untuk bertemu kembali dan bisa bersama-sama seperti dulu. Ah, aku pulang sekarang. Tolong fikirkan apa yang aku katakan barusan. Annyeong”.  Aku terdiam, bersama-sama…. Seperti dulu? Lalu baekhyun? Tuhan… siapa yang harus kupilih sekarang? Chanyeol adalah cinta pertamaku, tapi baekhyun? Dia sangat tulus menemaniku. Siapa?

***

Waktupun terus berlalu, berjalan maju ke masa depan dan tidak akan pernah kembali mundur. Andaikan sebuah masalah bisa diperbaiki, itu bukan dengan kembali kemasa asalnya, tapi diperbaiki untuk masa depan. Meskipun penyesalan selalu datang terlambat, bukan berarti kita harus mengutuknya dan berkata “andai itu tidak pernah terjadi”.

Hari demi hari aku menjadi lebih baik. Chanyeol? jujur saja aku masih mencintainya. Tapi dalam hatiku  sangat berat untuk dapat bersamanya lagi. Hubungan kami jauh lebih baik sekarang, entah hanya aku yang berfikir seperti ini atau tidak.

“miyeon-ah.. apakah sudah ada kabar dari baekhyun?”. Ah reum meletakan tabung reaksi di meja kami. Aku menggeleng. “apakah tidak ada keluarganya yang bisa dihubungi?”.

“dia hanya memiliki seorang paman, pamannya seorang dokter spesialis. Aku sudah beberapa kali menemuinya, tapi hasilnya nihil. Sudahlah, aku harap dia akan kembali saat dia ingin kembali”. Mr. kim memasuki ruangan laboratorium. Beberapa kali ia berdeham, keras. Suaranya terdengar sedikit buruk.

“mr. kim pasti sedang tidak enak badan”. Kata ah reum dengan nada khawatir.

“masukkan cairan ini beberapa tetes ke sini, dan ini kesini. Harus sesuai takarannya”. Mr. kim menunjuk beberapa tabung reaksi di meja kami. Aku mengangguk. “ne, sunbaenim”. Jawab ah reum lembut. Aku memandangnya tidak nyaman. “dia adalah guru, mana mungkin kau memanggilnya sunbae”. Kataku sedikit berbisik. Mr. kim berjalan meninggalkan meja kami. Ia keluar laboratorium sebentar dan kemudian masuk lagi.

“miyeon-ssi, kemarilah sebentar”. Ah reum menoleh kepadaku. “jangan mengambil mr. charming ku ya, kau sudah mendapatkan baekhyun oppa dan chan-do oppa”. Katanya dengan wajah memelas. “tidak akan!”. Kataku kesal. Aku berjalan ke meja mr. kim di depan kelas. Ia mencondongkan badannya dan membisikkan beberapa kata ke telingaku.

“arasoo, saem. Aku akan segera pulang”. Kataku bergegas, kulepas jubah putihku dan memasukkannya ke loker diluar kelas, meraih tasku di dalamnya dan berlari pergi.

***

Author pov

“apa yang terjadi? Dimana dia?”. Kata miyeon pada seorang namja yang berdiri tegap di samping mobilnya.

“masuklah miyeon-ssi”. Miyeon bergegas membuka pintu mobil dan masuk. Ia menancap gas menuju ke rumah sakit tempatnya bertugas. Membawa ke salah 1 ruang vip di rumah sakit tersebut.

“sudah sejak 2 minggu yang lalu”. Sesosok pria muda terbaring disana. Dengan berbagai alat medis untuk membantunya tetap hidup. Miyeon menatapnya lemas ketika matanya mulai menemukan titik terang siapa namja itu. Kekasihnya, baekhyunnie.

“paman, apa yang telah terjadi. Kenapa dia bisa disini begitu lama”.

“Apa baekhyun tidak menceritakannya padamu?”. Tanyanya penasaran. miyeon menggeleng bodoh.

“anak ini benar-benar”. Gumamnya mengutuk. “baekhyun mengidap gagal ginjal sejak umur 8 tahun. Namun dia sembuh total di umurnya yang menginjak 15 tahun. Aku yakin dia benar-benar sembuh. Tapi entah bagaimana ini terjadi. Saat dia memeriksakan keadaannya beberapa waktu yang lalu, penyakit itu justru semakin parah. Dia terjatuh dr motor tepat 2 minggu yang lalu, sebelumnya dia berpesan padaku agar tidakmemberitahumu. Tapi aku berfikir kau harus tahu”.

“dia…..”.

“koma”. miyeon duduk terjatuh, air bening menggenang di kedua matanya. Beku, ya seperti itulah dirinya sekarang. Setiap hari aku membayangkan apa yang dia lakukan, tersenyum ramah dan perhatian kepada orang lain seperti biasanya, membaca buku hingga larut malam atau sedang  lembur di kampus. Tapi apa kenyataannya, baekhyunnie tertidur disini, dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya, dengan penyakit yang sewaktu-waktu bisa membunuhnya, dan aku? Aku menyerah terlalu awal, berfikir baekhyun sedang berada di tempat yang sangat jauh, ternyata.. baekhyun masih ada di seoul, di dekatku.

“bagaimana caranya agar baekhyun bisa sembuh? Bagaimana?”. Tanyanya lirih.

“kita tidak bisa melakukan apapun sekarang. Semua tergantung pada kehendak tuhan dan baekhyun sendiri. Jika dia sudah sadar dari komanya dia harus segera menjalani transplantasi ginjal, tapi masalahnya”.

Miyeon menoleh cepat, seolah tak menerima jawaban yang ia dengar barusan. Tangan kirinya mencengkeram ranjang baekhyun untuk membantunya berdiri. “apa masalahnya paman?”.

“kami belum mendapatkan pendonor ginjal. Ketika baekhyun terbangun dan tidak menjalani transplantasi ginjal secepatnya, itu akan jauh lebih berbahaya daripada keadaannya saat ini”.

“maksud paman, lebih baik baekhyun koma daripada sadar tapi tidak menjalani operasi secepatnya? Apa paman sudah gila?”. Tanya miyeon keras, bahkan nada suaranya bisa digolongkan dalam frustasi.

“ginjal kanan baekhyun sudah tidak berfungsi, dan ginjal kirinya sangat lemah. Itulah sebabnya jika dia sadar itu akan lebih membahayakan jiwanya. Seperti bom waktu, baekhyun bisa mati secara mendadak”. Miyeon menarik tangan paman kim keluar dari kamar baekhyun, berjalan melewati lorong entah kemana, hingga paman kim berusaha melepaskan diri dari genggaman miyeon, miyeon berhenti.

“miyeon-ssi eoddigayo?”.

“periksa ginjalku! jika ginjalku cocok, ketika baekhyun sadar cepat lakukan transplantasi ginjal!”.

“tunggu dulu, sekarang itu bukan masalah utamanya. Sekarang masalahnya adalah baekhyun sedang koma, dia sekarang berada diantara hidup dan mati. Aku ragu dia bisa sadar, dia tidak koma selama 1 atau 2 hari, tapi 2 minggu!!”.

“tidak, baekhyun tidak akan meninggal dengan cara sepert ini! Dia bahkan terlalu muda, dia belum menjadi sarjana, dia akan meninggal sebagai kakek-kakek tua bukan meninggal sebagai seorang mahasiswa paman! Bukan!”.

Miyeon melepaskan tangan paman kim, ia terduduk di deretan kursi di ruang tunggu. Tempat duduk yang sama dengan saat ketika ia menunggu baekhyun yang sedang diperiksa beberapa bulan yang lalu, tanpa ahjumma itu, tanpa pasien-pasien yang lain seperti sebelumnya, hanya dia dan paman kim.

Suara rintihan tangis miyeon melebur ke seluruh ruangan. Semakin ia mencoba berhenti dengan menyeka air matanya semakin ia merasa sedih. Tangannya mencengkeram erat sandaran kursi. Miyeon tidak bisa berkata apa-apa, perasaannya masih sangat kacau balau, kedua tangannya masih terasa dingin dan bergetar.

cut!!!!! hehe

TBC . . . . don’t forget to comment 😀

15 pemikiran pada “Protect My Dear (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s