365 Days With Kkamjong (Chapter 1)

365 Days with Kkamjong – chapter 1

 

Main cast: Kim Jong In, Oh Se Kyung (OC), Oh Se Hoon, Nam Sun Hee(OC), Tiffany

Genre: romance, marriage life

Author: fhutamifrida

Length: two shot

FF ini terinspirasi dari drama Full House, tapi ceritanya dibuat berbeda dan ini asli hasil mikir aku yang rada rada sarap dan gajeeeee XD kalo ada typo, mian ya readerdeul hehehe *bow bareng Thehun* so, enjoy read yaa readerdeul ^^ *bow lagi bareng Thehun* NO PLAGIARISM!

 ________________________________________________

-Jongin POV-

Suasana minggu pagi yang cerah biasanya kumanfaatkan untuk bersantai dengan temanku di apartemen, namun tidak dengan minggu ini. Kali ini aku harus pulang ke rumah karena appa menyuruhku pulang ke rumah, katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan. Namun begitu sampai di rumah, aku menyesal aku telah menuruti perkataan appa untuk pulang ke rumah. Ternyata ia berniat menjodohkanku dengan seorang yeoja materialistis yang bernama Tiffany Hwang, putri pemilik perusahaan Hwang Corporation. Tentu saja aku menolaknya dan appa marah besar padaku. Ia berkata di usiaku yang sudah bukan anak 17 tahun lagi, seharusnya aku sudah mempunyai seorang pendamping hidup yang kelak akan mendampingiku dalam memimpin perusahaan milik ayah, tapi karena di usiaku yang hampir 25 ini aku belum mempunyai seorang yeojachingu, maka ayahku berniat menjodohkanku dengan yeoja materialistis yang sebentar lagi akan datang ke rumahku.

“Sehun-ah! Bantu aku keluar dari masalah ini!” aku menghubungi Sehun, yang merupakan teman satu apartemenku.

“kau kena masalah lagi? aigoo~ setelah kemarin kasus kecelakaan, sekarang masalah apa lagi?” suaranya terdengar ketus diseberang sana. Tampaknya ia sangat frustasi karena aku selalu menumpahkan setiap masalah yang ada dipikiranku padanya.

“ayahku berniat menjodohkanku dengan seorang yeoja materialistis! Dan tentu saja aku tak mau dijodohkan seperti itu! Kau bisa membantuku keluar dari masalah ini?”

“hmmh… kalau begitu sih tentu saja kau harus mempunyai seorang yeojachingu agar ayahmu tidak jadi menjodohkanmu”

“MWO?! YEOJACHINGU?!” aku hampir saja melempar handphone ku ke tembok karena mendengar perkataan Sehun itu. “kau ini gila ya? Kau tahu kan aku tak kenal dengan perempuan manapun selain ibuku, kakakku, adikmu dan juga pacarmu! Bagaimana aku bisa mempunyai seorang yeojachingu dalam waktu setengah jam sebelum yeoja itu datang ha?”

“chamkkaman Kkamjong, aku sedang berpikir nih…”

“pinjamkan aku adikmu!” tiba tiba ide gila itu melintas di pikiranku dan aku langsung mengatakannya pada Sehun.

“MWO?! APA KAU INI GILA, KKAMJONG?! Kenapa tiba tiba kau berpikiran seperti itu?” aku berani bertaruh, pasti dia hampir jantungan karena mendengar ide gilaku ini.

“begini maksudku, kau pinjamkan dulu adikmu padaku untuk menjadi yeojachingu-ku selama beberapa bulan, tentu saja ini hanya untuk berpura pura di depan keluargaku. Jika kau setuju, segera suruh adikmu datang ke rumahku dan memperkenalkan dirinya sebagai yeojachingu-ku dalam waktu 20 menit ini! Ppali!” kesabaranku kali ini sudah habis karena sikapnya.

“arasseo. Adikku datang 20 menit lagi. ingat, jangan pernah melukai adikku, atau kau kubunuh!” kemudian ia menutup telepon tanpa mengucapkan apapun lagi. sifat jeleknya yang selalu menutup telepon secara sepihak ini kadang membuatku kesal sekali dan jika ia bukan sahabatku, mungkin aku sudah menghabisinya dengan jurus wushu yang kupelajari dari teman satu kampusku yang berasal dari China, Tao.

20 menit kemudian…

“Jong In! Sampai kapan kau akan terus berada dikamarmu yang seperti kapal pecah itu hah? Turunlah ke bawah! Kita bicarakan soal perjodohanmu ini dengan baik baik!” suara appa yang berat dan nyaring memanggilku dari ruang tamu. Kemudian aku turun ke bawah dengan malas.

“anak baik! duduklah disini nak!” kemudian appa menyuruhku duduk di hadapannya yang berarti itu aku akan menerima ceramahan gratis darinya. Tapi aku tak peduli itu, yang penting ini sudah 20 menit dan adiknya Sehun belum menampakkan dirinya di rumahku. Sialan. Apakah Sehun mengerjaiku?

TING TONG!

Suara bel rumah berbunyi dan eomma langsung membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang. Seorang yeoja dengan tubuh bagaikan model majalah fashion yang mengenakan tank top berwarna putih yang dipadu dengan cardigan berwarna krem, rok selutut dengan warna coklat dan sepatu high heels dan juga dandanan natural dan rambut hitam panjang bergelombang yang dibiarkan tergerai tersenyum menyapa eomma-ku yang terbengong melihat makhluk seperti dia.

“annyeonghaseyo ahjumma, apakah Jong In oppa ada?” ia menyapa ibuku dengan memamerkan senyuman yang mirip seperti Sehun. Senyuman manis yang aku tahu dilakukannya karena terpaksa.

“a.. ada. Kau temannya Jong In? wah aku tidak percaya anakku punya teman secantik kau” akhirnya kesadaran ibu kembali dan ia menjawab sapaan gadis itu yang tak lain adik dari seorang Oh Se Hoon yang entah aku lupa lagi namanya.

“annyeonghaseyo, joneun Oh Se Kyung imnida. Aku yeojachingu-nya Jong In oppa, ahjumma” dengan tetap memamerkan senyuman itu, ia memperkenalkan dirinya pada ibuku.

“Jong In! Aku tidak tahu kalau kau punya pacar secantik dia! Kenapa kau tidak mengatakan kalau kau sudah punya pacar hah? Pantas saja kau menolak untuk appa jodohkan dengan putri pemilik perusahaan Hwang Corporation itu” perhatian ayah kini sudah tertuju pada Sekyung yang sekarang duduk di sebelahku berhadapan dengan ayah dan ibuku.

“jadi begini, appa—”

“aku mengerti Jong In, perjodohanmu dengan putri pemilik perusahaan Hwang Corp. itu akan appa batalkan. Sebagai gantinya, appa akan mengizinkanmu untuk menikah dengan pacarmu ini”

“mwo? Menikah? Appa, itu kan terlalu cepat” aku buru buru menjawab perkataan appa dengan terkejut. Sejujurnya aku tak mengira ia akan menikahkanku secepat ini, kupikir ia akan membiarkanku berpacaran dengannya, walaupun ini hanyalah sebuah sandiwara.

“nak, 4 bulan lagi umurmu sudah 25. Dan appa sudah ingin pensiun sebagai direktur perusahaan Kim Corporation, jadi kau harus cepat menikah dan menggantikan posisi appa”

“tapi appa, aku kan masih kuliah. Dan Sekyung masih harus melanjutkan kuliahnya di Tokyo…” aku mengatakan hal ini seolah olah aku ini tahu segalanya, tapi kenyataannya aku mengetahuinya dari kakaknya, Sehun.

“tak apa apa, Jong In oppa, masalah kuliahku bisa ditunda ko” Sekyung malah menyetujui rencana appa padahal ini kan hanya sandiwara saja. Aku sepertinya terperangkap di dalam jebakan yang kubuat.

“kalau begitu, minggu depan pernikahan kalian akan dilangsungkan. Biar appa dan eomma yang mengurusnya. Kalian bersenang senanglah. Dan appa juga akan membatalkan perjodohanmu dengan putri pemilik Hwang Corp.” appa kemudian mengambil handphone-nya dan kemudian ia sudah asik mengobrol di telepon.

“kalian akan berkencan ya hari ini? Kalau begitu, selamat bersenang senang” ibu kemudian memberikan kunci mobil Porsche-ku yang disita oleh ayahku karena kecelakaan yang menimpaku 1 tahun lalu. “ayah memberikan kunci ini padamu lagi, nak. Terimalah” tanpa berpikir panjang, aku langsung menyambar kunci tersebut dan menarik Sekyung keluar rumah bersamaku.

“ingat, semua ini hanyalah sandiwara dan jika kita sudah menikah nanti, kau bisa meminta cerai padaku kapan pun setelah kau menemukan orang yang benar benar kau cintai. Arra?” aku bertanya padanya setelah kami berada di dalam mobil dan melaju menuju sebuah tempat, yaitu apartemenku.

“arasseo. Lagipula ini permintaan kakakku yang setengah mati membantu keegoisanmu itu. Aku tak mengerti kenapa kakak mau maunya membantu orang egois dan manja sepertimu ini” dasar Sekyung. Ia gadis paling cantik di kampusnya tapi kelakuannya tak secantik wajahnya.

“diamlah, kita sudah terikat kontrak. Jadi diamlah dan bersikaplah seolah olah kita ini sepasang calon suami istri beneran” aku memakirkan mobilku di tempat parkir apartemenku. apartemenku tak terlalu jauh dengan rumahku namun aku lebih memilih tinggal di apartemen dengan alasan lebih dekat dengan kampus. Kemudian kami keluar dan masuk menuju kamarku.

“bagaimana? Berhasil?” Sehun langsung menginterogasi kami begitu kami sampai di kamarku. Dasar Sehun ini, kutinggal sebentar saja dia sudah membawa pacarnya kesini untuk entah apa yang mereka lakukan.

“ya, dan kami akan menikah minggu depan” aku menjawab sambil menghempaskan diriku di sofa.

“mwo? Menikah?” Sehun membelalak tak percaya sampai sampai ia hampir menumpahkan jus yang sedang dipegangya.

“ya, tapi keluargaku tidak tahu bahwa sebenarnya aku dan dia ini hanya bersandiwara. Jadi tenang saja” aku mengambil remote TV dan menyalakannya sementara Sekyung memilih untuk bersama Sunhee, pacar Sehun, yang sedang memasak di dapur.

“mau sandiwara atau tidak tetap saja aku tak bisa tenang, babo! Sikapmu ini sellau seenaknya saja tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagaimana aku bisa menyerahkan adikku yang cantik itu untuk hidup bersama dengan orang sepertimu hah?” kali ini Sehun mulai naik darah. Aku tidak tahu apakah tensi nya tinggi atau rendah, tapi yang jelas dia ini sangat mudah naik darah terutama jika sudah membicarakan mengenai adik perempuannya itu.

“yaa! Aku ini Kim Jong In, putra Kim Jong Dae pemilik perusahaan Kim Corporation! Sebentar lagi aku akan menjadi penerus ayahku dan meninggalkan sikapku yang jelek itu ,  jadi percayakan padaku bahwa adikmu akan hidup bahagia denganku selama masa kontrak itu. Arra?” aku mematikan TV dan memilih untuk membaca majalah karena Sehun merusak mood-ku untuk menonton TV. Tapi ternyata membaca majalah tak membuat mood-ku membaik. Aku kemudian memperhatikan Sekyung yang sedang bersama Sunhee di dapur. Dan kemudian pikiranku melayang pada ingatan 6 tahun lalu, saat aku bertemu dengan Sekyung.

—flashback—

BRUKK.

“yaa! Lihat lihat dong kalau jalan! Kau punya mata kan?!” yeoja itu memarahiku yang tak sengaja menabraknya hingga membuat buku buku yang dibawanya berjatuhan.

“mianhae, aku buru buru” aku membereskan buku bukunya kemudian aku berlari menuju kampus dan meninggalkan dia yang masih terlihat kesal karena aku hampir terlambat mengikuti ujian masuk universitas.

“yaa! Seenaknya saja kau meninggalkanku begitu saja! Lihat buku yang baru kubeli menjadi rusak gara gara kau! Haish! Awas kalau kita bertemu lagi kau akan kuhabisi!” tanpa mendengarkannya yang masih berteriak mengomel padaku, aku terus berlari menuju kampus.

Ujian masuk universitas berjalan dengan lancar. Aku mampu menjawab semua soal dengan baik. setelah ujian selesai, aku menghampiri sahabatku, Sehun, yang tampaknya sedang menunggu seseorang.

“yaa!sedang apa kau disini?” aku menepuk pundaknya dan ia menoleh ke arahku.

“sedang menunggu adikku. Ia memintaku untuk mengantarnya ke Myeongdong dan kami janjian disini. Tapi sampai sekarang ia belum muncul juga” Sehun tampak mencari cari tanda tanda keberadaan adik perempuannya. “Kau mau ikut?”

“oke! Oiya, kau tahu, tadi pagi aku bertemu dengan seorang yeoja yang cantik tapi kelakuannya menyeramkan! Karena terburu buru, aku tak sengaja menubruknya dan ia langsung berteriak memarahiku walaupun aku sudah minta maaf. Bahkan ia tetap berteriak padaku walaupun aku sudah berlari menuju kampus. Parah. Menyeramkan sekali” aku bergidik saat mengingat bagaimana yeoja itu berteriak memarahiku tadi pagi.

“haaaah, dasar kau ini! Itu salahmu karena menabraknya, maka wajar saja jika ia berteriak memarahimu seperti itu” matanya tetap mencari cari sosok perempuan yang ia maksud sebagai adiknya.

“sudahlah, biarkan saja. Oiya, kenalkan aku pada adikmu dong, aku kan sudah mengenalkanmu pada Sunhee”

“shireo, adikku bukan tipemu. Nah itu dia datang juga akhirnya. Sekyung-ah! Kemari!” aku menangkap sesosok yeoja yang rasanya pernah kulihat sebelumnya. Ketika yeoja itu mendekat, aku langsung tersentak karena adiknya Sehun adalah yeoja yang kutabrak tadi pagi di depan kampus. Sial!

“yaa! Kau yang tadi menabrakku kan? saekki! Kenapa kita bertemu lagi hah?! Gara gara kau, buku yang baru kubeli menjadi rusak!” tanpa babibu, yeoja itu langsung menyerangku dengan berbagai omelan panjang lebar.

“yaa! Ini salahmu juga! Sudah tau aku sedang berlari, kenapa kau malah berjalan menuju arahku hah! Dan juga apa apaan sikapmu ini hah?! Kau ini perempuan cantik tapi sikapmu kasar sekali! Bersikaplah seperti perempuan sedikit!” aku membalas omelannya dengan panjang lebar juga.

“jadi yeoja yang kau tabrak itu adikku? Sialan kau menyebutnya menyeramkan, kau pikir adikku ini yeoja gwiksin hah?!” kali ini sang kakak, Sehun, ikut meramaikan cekcok mulutku dengan adiknya.

“oppa! Kenapa orang ini ada disini? Memangnya dia siapa?” yeoja yang bernama Sekyung itu bertanya pada kakaknya.

“ini adalah Jongin sahabatku yang dulu pernah menolongmu ketika kau tenggelam ke sungai Han ketika umurmu masih 6 tahun, Sekyung-ah. Kau ingat?” Sehun menjawab sambil menatap tajam padaku yang artinya ‘kubunuh kau Kkamjong’.

“mwo? Dia?aku tak percaya orang yang pernah menyelamatkanku dulu berubah menjadi orang yang menyebalkan seperti ini!” Sekyung menatapku dengan pandangan tak percaya.

“berterimakasihlah padaku gadis kecil” aku menatap Sekyung dengan tajam dan ia langung bersembunyi di punggung kakaknya.

“heeei sudahlah jangan bertengkar terus! Jadi tidak ke Myeongdong nya? Kalau tidak ya sudah” Sehun yang tadi ikut cekcok dengan kami akhirnya melerai kami. Kemudian aku dan Sekyung bergegas mengejar Sehun yang sudah terlebih dahulu berjalan ke arah halte busway.

—flashback end—

“Sekyung-ah! Sunhee-ya! Kesini!” Sehun memanggil pacarnya dan adiknya dengan keras yang membuatku tersadar dari lamunanku. Kemudian mereka menghampiri Sehun dan duduk di sofa.

“ada apa, oppa?” Sekyung bertanya pada Sehun. Jujur saja, melihat Sekyung itu sama dengan melihat Sehun versi wanita. Mereka sama sama memiliki kulit seputih susu, wajah yang imut, hidung yang mancung, bibir tipis berwarna pink, badan yang ramping, dagu yang lancip, senyum yang manis, dan juga sifat mereka yang hampir sama. Hanya saja Sehun lebih cerewet daripada Sekyung. Mereka gampang menangis? Tentu saja! Aku pernah menghadapi mereka yang menangis secara bersamaan hanya karena aku tidak membelikan mereka bubble tea pada saat kami sedang berjalan jalan di Hokkaido beberapa bulan lalu.

“kenapa kau malah melakukan kawin kontrak dengan si seksi ini hah?” Sehun, yang mempunyai wajah seperti bayi yang tak berdosa kini berubah menjadi seseorang yang berwajah menakutkan. Seram.

“oppa sendiri yang bilang untuk membantunya kan? aku pernah ditolong olehnya dan sekarang aku ingin membalas kebaikannya dulu, jadi aku menolongnya kali ini” Sekyung sepertinya mempunyai sisi kemanusiaan juga, tak seperti kakaknya yang terkadang berubah menjadi seorang devil.

“tunggu, kenapa tadi kau mengatakan bahwa kuliahmu bisa ditunda hah? Apa kau memang benar benar menginginkan untuk menikah denganku hah?” kali ini aku masuk dalam perdebatan kakak beradik Oh tersebut.

“payah! Itu hanya perkataan untuk membuat ayahmu yakin, babo! Masa kau tidak menyadarinya sih?” bukannya menjawab, Sekyung malah balik mendebatku.

“sampai kapan kalian akan terikat kontrak seperti ini?” Sunhee yang tadi hanya menatap kami bertiga yang sedang berdebat akhirnya ikut bicara juga.

“365 hari!” tiba tiba aku dan Sekyung menjawabnya dengan berbarengan. Jujur saja, ini tak akan pernah kusangka sebelumnya. Dan aku yakin Sekyung pun berpikir sama denganku.

Drrrt. Drrrt. Ponselku bergetar dan tertulis nama eomma di layar handphone ku.

“yeoboseoyo?” aku menjawab panggilan eomma sambil membungkam mulut Sekyung dengan tanganku karena pada saat handphone-ku belum bergetar, ia akan mendebatku lagi.

“Jong In, eodiseo?” suara eomma diseberang  sana tampak senang, namun entah kenapa perasaanku mengatakan ada sesuatu yang tak enak.

“di apartemen. Waeyo?”

“kau masih bersama dengan Sekyung-ssi? Kalau iya, cepatlah ke butik langganan eomma. Kalian harus fitting baju pernikahan kalian dulu. Ppali” sama seperti Sehun, ibuku pun selalu menutup telepon secara sepihak seperti itu. Menyebalkan.

“yaa! Sekyung-ah! Kajja!” aku menarik lengan Sekyung setelah aku melepaskan bungkamanku.

“eodiseo?” ia bertanya dengan tidak menoleh padaku.

“butik. Fitting wedding dress. Kajja” tanpa babibu lagi aku langsung menyeretnya keluar dan meninggalkan Sehun serta Sunhee yang terdiam melihat kelakuan kami.

“yaa! Tak baik memperlakukan seorang yeoja seperti ini! Kau ini tak belajar sopan santun ya?!” ia mengomel padaku ketika aku melajukan mobilku menuju butik yang ada di daerah Myeongdong.

“diamlah, kau ini cerewet sekali sih! Sudah turuti saja jika kau memang ingin membantuku! Lagipula ini keputusanmu dan kau tak bisa mengelak lagi”

“terserah deh” ia mempouting bibir tipisnya sambil memasang wajah cemberut yang semakin membuatnya mirip dengan kakaknya.

-Jongin POV end-

—–skip time—–

-Sekyung POV-

Hari ini. Hari dimana aku beserta Kkamjong akan mengucapkan janji setia satu sama lain di altar yang dipenuhi oleh bunga mawar ini. Aku memasuki altar bersama appaku dan berjalan menuju Kkamjong dan pendeta yang sedang menungguku. Setibanya di hadapan Kkamjong, kami berhadapan dan bisa kulihat wajahnya memerah saat mengucapkan janji setia. Setelah kami bertukar cincin, ia tiba tiba mendekatkan wajahnya padaku dan bebisik padaku,

“bersikaplah seperti pengantin yang sangat bahagia, Sekyung-ah. Jangan membuatku malu”

“baiklah cerewet” aku balas berbisik padanya yang membuat semua hadirin menatap kami dengan aneh. Menyadari bahwa kondisi ini akan membuat mereka merasa curiga, akhirnya Kkamjong menarik tengkuk ku dan mencium bibirku dengan lembut. Aku hanya memejamkan mata dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Kukira dia akan segera melepaskan bibirnya, namun ternyata tidak. Ia terus mencium bibirku dan melumatnya. Bisa kurasakan nafasnya yang hangat menyapu wajahku saat menciumku dan aku akhirnya terbawa oleh sensasinya. Tangan kiriku memeluk pinggangnya dan tangan kananku memegang buket bunga. Ia kemudian balas memelukku sambil tetap mencium bibirku. Apa yang kami lakukan membuat semua hadirin memberikan standing applause *macem idol ituloh* dan kami langsung sadar bahwa kami melakukannya di depan umum. Kkamjong kemudian menjauhkan wajahnya dari wajahku dan menggenggam tanganku, kemudian ia mengajakku berjalan menuju mobil. Aku melemparkan buket bunga pada Sunhee eonni dan ia menangkapnya. Aku kemudian melemparkan senyum pada Sunhee eonni yang masih terbengong sebelum Kkamjong membawaku ke dalam mobil yang akan mengantar kami ke rumah yang diberikan oleh Jong Dae appa lengkap dengan semua fasilitasnya, terkecuali pembantu karena kami tak ingin pernikahan kontrak kami ini diketahui oleh orang lain selain kakakku dan pacarnya itu.

Sesampainya di rumah, aku langsung berlari ke kamar dan menghempaskan diri ke tempat tidur. Rasanya kepalaku pusing sekali hari ini dan aku ingin beristirahat sebentar. Namun ketika aku baru memejamkan mata, seseorang membangunkanku dan itu adalah namja yang kini menjadi suami sementaraku, Jong In oppa a.k.a Kkamjong.

“yaa! Ireona Oh Se Kyung! Ah maaf, sekarang ini kau sudah menjadi Kim Se Kyung bukan Oh Se Kyung lagi. ireona! Aku lapar!” ia terus merengek sambil membangunkanku.

“yaa! Kau pikir aku ini pembantumu hah? Masak saja sendiri, aku pusing!” aku tak memperdulikan rengekannya dan menarik selimut. Namun ia menarik selimutku dan ia menggendongku ala bridal style menuju dapur.

“nah istriku yang baik! karena aku ini tak bisa memasak, maka kau harus memasak untuk suamimu tercinta ini. Ppali, aku lapar”

“kau ingin makan apa, Kkamjong-ah?”

“aku ingin makan nasi goreng. Masakkan untukku ya. secepatnya ” kemudian ia berjalan menuju ruang tengah dan meninggalkanku di dapur.

15 menit kemudian, aku berjalan menuju ruang tengah sambil membawa nasi goreng serta jus jeruk. Kkamjong sedang menonton pertandingan sepakbola dengan serius, jadi aku meletakkan makanannya di meja dan berjalan menuju kamar untuk kembali pada tujuan awalku: tidur. Tapi kali ini Kkamjong rupanya tak mengizinkanku untuk tidur karena ia menarik lenganku untuk duduk bersamanya di sofa.

“suapi aku” ia berbicara padaku dengan mengeluarkan suara seksinya itu. Tapi maaf, aku ingin muntah mendengarnya.

“makan saja sendiri”

“kalau begitu aku tak akan makan”

“kau yang bilang kau lapar kan? lalu kenapa sekarang kau bilang tak ingin makan? Dasar plin plan! Tahu begitu aku tak akan membuatkanmu makanan”

“baiklah, aku makan! Begini saja kau marah, padahal aku hanya bercanda. Bisa tidak sih kau bersikap lembut padaku? Lagipula statusmu ini sebagai istriku. Seorang istri tak boleh bersikap seperti itu pada suaminya”

“kita ini hanya pasangan suami istri yang terikat kontrak saja, bukan sepasang suami istri yang sah, tapi kenapa kau bersikap layaknya suami istri yang sah?”

“yaa~ ini kan hari pertama kita. Setidaknya kita bersikap seolah olah kita ini pasangan suami istri yang berbahagia”

“oke, terserahlah. Tunggu, karena di rumah kita tak ada pembantu, maka mau tak mau kita harus membagi bagi pekerjaan rumah tangga. Aku akan membereskan rumah dan memasak, sedangkan kau akan mencuci dan membersihkan halaman, eottae?”

“yaa~ aku ini kan harus bekerja dari pagi hingga malam, belum lagi aku kuliah juga. Jadi mau tak mau aku serahkan padamu saja, istriku”

“haish! Kenapa tidak pada saat akhir pekan saja hah?”

“akhir pekan adalah waktu untuk bersantai menghabiskan waktu dengan orang orang yang disayangi”

“kau ini, bilang saja tak mau mengerjakan pekerjaan rumah!”

“kau akan tidur dimana? Aku takut sendiri nih”

“aku juga takut tidur sendiri”

“baiklah, kita tidur di kamar itu saja” ia menunjuk sebuah kamar yang paling besar yang tadi aku masuki. Aku berpikir panjang saat ia mengatakan bahwa kami akan tidur bersama. “tenang saja, aku tak akan melakukan apapun padamu ko”

“apa boleh buat deh kalau begitu”

“Sekyung-ah.. besok aku ada rapat dengan sejumlah direktur jam 10, bisakah kau membangunkanku jam 9?”

“oke. Kkamjong, sekarang sudah hampir malam. lebih baik kau segera mandi daripada hanya berdiam di depan TV seperti orang pengangguran. Kajja” aku menarik lengannya untuk bangun dan dia langsung bangun kemudian berlari ke kamar mandi.

Setelah Kkamjong pergi, aku langsung mengelilingi rumah yang lebih pantas disebut istana ini untuk menyalakan lampu dan mengunci pintu. Kemudian aku berjalan menuju kamar untuk mengambil iPod-ku dan mendengarkan lagu sambil melihat pemandangan malam hari di balkon. Namun terkejutlah aku ketika membuka pintu kamar dan melihat sesuatu di depanku.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!” aku berteriak karena tanpa sengaja aku melihat Kkamjong yang baru beres mandi dengan hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Kkamjong topless >,< *author mimisan liat Kkamjong dengan abs nya yang seksi* *dimarahin Thehun*

“yaa! Babo! Kenapa kau berteriak seperti itu hah? Ini aku bukan setan!” ia berteriak memarahiku.

“Kkamjong! Kau porno! Kau merusak mataku yang masih suci ini! pergi!” aku membalikkan badan sambil menutup kedua mataku dengan tanganku. Kemudian langkah kaki Kkamjong terdengar mendekatiku dan sedetik kemudian ia melepaskan tanganku yang menutupi mataku dengan kedua tangannya yang dingin dan membalikkan badanku. Saat berhadapan dengannya, aku menutup mataku dan kukira ia akan mengomeliku, ternyata tidak.

“yaa! Tak apa kan jika kau melihatku dalam keadaan seperti ini? Lagipula kau ini sudah menjadi istriku, tak perlu malu lagi” ia malah menggodaku dan itu membuatku melayangkan pukulanku pada pundaknya. Ia meringis kesakitan, namun tangannya menangkap tanganku dan entah apa yang akan dilakukannya lagi kali ini.

“kenapa malah memukul pundakku? Bilang saja kau ingin menyentuh abs-ku” ia menggodaku lagi dengan menempelkan tanganku pada abs-nya yang sontak saja membuat wajahku memerah. “semua orang boleh melihat abs-ku, tapi hanya kau yang boleh menyentuhnya. kau orang pertama dan terakhir yang memegang abs-ku. Berbanggalah, Mrs. Kim” lanjutnya sambil menahan tanganku di perutnya.

“jangan goda aku Kkamjong!” akhirnya aku tersadar dan melepaskan tanganku dari perutnya. Kemudian aku berlari ke kasur dan menarik selimut untuk menutupi diriku. “jangan ganggu! Aku lelah dan aku ingin tidur! Jika kau ingin makan, panaskan saja nasi goreng di microwave. Annyeong”

“kenapa aku harus mempunyai istri yang tukang tidur seperti ini sih? Aaaaah aku benar benar tak mengerti” ia menggerutu sambil mengacak acak isi lemarinya.

“BERISIK!” aku berteriak dan akhirnya dia diam juga. Kemudian kudengar langkah kakinya berjalan menjauh dari kamar.

—–skip time—–

KRIIIIIIINGGG! KRIIIIIIINGGG! KRIIIIIIIIIIING!

“aah sialan alarm ini! Tunggu, jam berapa sekarang?” aku melihat ke arah jam. “gawat! Kkamjong! Ireona! Ini sudah jam 9. 35! Ireonaseoyo!” aku mengguncang badan Kkamjong yang tertidur pulas seperti orang mati disampingku ini. Namun ia tetap tertidur.

“yaa! Bangun pemalas! Bangun!” aku mengguncang badannya sedikit lebih keras dan ia tidak bangun juga.

“BANGUN PEMALAS!! INI SUDAH JAM 9. 35!!” akhirnya aku menggunakan jurus terakhirku untuk membangunkannya. Yaitu dengan meninju pundaknya dengan sangat keras. Dan ini berhasil. Akhirnya ia terbangun juga.

“jam berapa ini?” tanyanya sambil mengelus pundaknya. Mungkin sakit, tapi aku tak mempedulikannya.

“jam 9. 35”

“babo! Kenapa kau tidak membangunkanku daritadi hah?! Kan sudah kubilang bangunkan aku jam 9!”

“aku juga kesiangan babo! Dan kau tidur seperti orang mati, jadi aku susah untuk membangunkanmu! Sudahlah sekarang kau mandi sana! Biar aku siapkan seragammu dan sarapanmu! Ppali!” aku mendorongnya hingga ia hampir terjatuh dari kasur. Namun untungnya ia sigap, jadi ia langsung berlari menuju kamar mandi.

Aku langsung membuka lemarinya dan mengeluarkan kemeja berwarna putih, dasi + celana + jas berwarna biru dongker, kemudian aku berlari ke dapur dan mengambil 2 lembar roti dan mengolesnya dengan selai strawberry serta mengambil susu dari kulkas.

“Sekyung-ah! Kesini! Ppali!” terdengar suaranya berteriak dari kamar ketika aku sedang menuangkan susu ke dalam gelas. Kemudian dengan satu gerakan cepat, aku membawa roti + susu tersebut ke kamar.

“waeyo?” aku meletakkan nampan berisi roti + susu di meja.

“pakaikan dasiku! Aku akan makan dulu!” ia buru buru mengambil roti dan melahapnya. Aku kemudian bergegas memakaikan dasinya dan mengancingkan kancing tangan kemejanya serta memakaikan jas padanya sementara ia sibuk dengan roti dan susu.
“selesai! Kajja! 10 menit lagi menuju pukul 10!”

“oke, aku juga sudah beres makan. Terimakasih untuk roti dan susunya, walaupun rotinya terlalu banyak selai dan membuatku mual, tapi terimakasih! Aku berangkat dulu!” ia berlari menuju garasi mobil dan aku menyusulnya dan mengantar kepergiannya hingga pagar. Banyak tetangga yang memperhatikan kami, tapi aku tidak peduli. Tiba tiba Kkamjong berbalik dan berlari ke arahku.

“ada yang ketinggalan?” aku bertanya dengan kebingungan padanya.

Chu~

“aku berangkat dulu, yeobbo. Sampai berjumpa lagi makan malam” ia mencium keningku dan kemudian berlari lagi menuju mobilnya dan mengemudikannya dengan cepat. Aku hanya diam mematung untuk benar benar menyadari apa yang barusan ia lakukan padaku. Kenapa ia mencium keningku padahal kami berdua tak ada perasaan sama sekali? Terlebih aku merasakan ciumannya tadi itu penuh dengan perasaan sayang dan hangat, tidak seperti ciuman pada saat kami mengucapkan janji setia yang sebenarnya dilakukan tanpa perasaan sama sekali. Apakah ini…. DEG. Tiba tiba jantungku berdetak tak karuan. Kenapa dengan aku? ah sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan. Toh ini hanya sementara, dan aku tak boleh sampai punya perasaan padanya.

TBC

Gimana? Gaje ya? huehehe ditunggu comment nya ya 😀

59 pemikiran pada “365 Days With Kkamjong (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s