Den (Chapter 6)

Den [ Chapter 6 ]

Title                 : Den

Author             : isanyeo

Main Cast        : Kim Hyosung [OC] ; Kim Jongin/ Kai  [EXO]

Support Cast    : Kim Jongdae/Chen [EXO]; Suho [ EXO ]  find it.

Genre              : Drama, Romance, Family.

Length             : Chaptered

Rating              : PG15

 

Mianhae readersdul di 2 chapter sebelumnya memang saya akui itu pendek pakek banget. Jadi di part ini saya buat se-di-kit lebih panjang dari sebelumnya. *mian I got no inspiration T_T* Dari comment-comment readersdeul sebelumnya, banyak banget yang berharap kalau Hyosung – Kai bukan saudara kandung dan pada bertanya kenapa adik-kakak kok ‘gituan’, saya bingung gimana harus menjelaskan di part selanjutnya setelah chapter 4 itu, jadi mungkin di part ini saya njelasinnya. Oke sekian.Happy reading ^^~

__________________________________________________________

                ~Auhtor’s Point of View~

                Rahang Jongin mengeras, pancaran kilatan kemarahan dari matanya terlihat jelas, entah apa yang akan ia lakukan nanti kedepannya. Ucapan Suho yang beberapa jam lalu dilontarkan padanya kini masih diingatnya dengan jelas.

Jongdae hanya bisa melihat iba sahabatnya itu, dia tidak bisa membantu Jongin untuk kali ini. Jongdae hanya menepuk-nepuk pundak Jongin.

“Aku tidak akan menyerahkannya begitu saja, karena di samping aku mencintainya, dia adalah dongsaengku, dongsaeng yang sudah seharusnya aku lindungi, satu-satunya hal yang ditinggalkan Appa untukku, aku harus melindunginya Jongdae-ya,” ucapnya, dia mengacak-acak rambutnya.

Jongdae hanya menghela nafas panjang, menyesal karena dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk sahabatnya itu. Setidaknya yang ia lakukan sekarang hanyalah menjadi pelampiasan cerita, keluh kesah seorang Jongin.

“Apa yag harus aku lakukan? Dia benar-benar berengsek, namja itu, benar-benar berengsek, seenaknya saja mengambil dongsaengku, yeojaku.” Jongin mulai meracau, rahangnya yang adi mengeras sekarang agak lebih rileks, matanya mulai menatap tak tentu arah, sendu.

“Sebaiknya kau pulang, Jongin-ah, istirahatlah dan pikirkan lagi apa yang akan kau lakukan nanti,” saran Jongdae.

Jongin hanya melirik Jongdae dan menggambil jaketnya di depan meja, dia melirik Jongdae meminta izin untuk pulang, Jongdae menganguk kecil. Tak lama, Jongin sudah pergi dari halaman rumah Jongdae.

               Hari sudah semakin sore, Hyosung tengah bersantai di kamarnya, sedangkan Jongin termenung sendiri di kamarnya. Tiba-tiba Jongin bangun dari lamunannya dan membuka pintu kamarnya dengan cepat. Dilihatnya pintu kamar Hyosung tertutup, Jongin berjalan pelan menuju kamar Hyosung, dia mengangkat tangan kanannya untuk mengetuk pintu, namun sedetik kemudian dia turunkan lagi dan masuk ke dalam kamarnya dengan cepat dan tak sengaja membanting pintu kamarnya sendiri.

Bunyi bantingan pintu terdengar oleh Hyosung, Hyosung yang tengah membaca majalah bulanannya terlonjak kaget. Dia mengerutkan keningnya, dia tahu pasti itu Jongin, tidak ada orang lain di rumah ini selain dia dan Jongin, kalaupun pencuri, mana mungkin pencuri itu membanting pintu? Namun segera diabaikannya bunyi bantingan pintu tadi.

Jongin mondar-mandir di dalam kamarnya.Entah apa yang ada dalam pikirannya, dia terlihat begitu cemas. Jongin membuka pintu kamarnya lagi, dan dengan yakin dia mendekati pintu kamar Hyosung lagi. Dia mengangkat tangannya dan mengetuk pintu kamar Hyosung pelan. Diketuknya lagi kamar Hyosung karena tak ada jawaban dari dalam, namun sama saja. Jongin memberanikan diri masuk ke dalam kamar Hyosung, dibukanya pintu kayu itu perlahan, dilihatnya Hyosung yang tengah tidur membelakangi arah pintu sambil membaca majalah dengan earphone putih yang terpasang di telinganya.

Jongin berjalan mendekat ke arah Hyosung, ditepuknya pelan pundak Hyosung. Hyosung terlihat sedikit kaget dan melepaskan earphonenya lalu menoleh ke arah Jongin.

“Aigo, Oppa, kau mengangetkanku.” Hyosung tersenyum ke arah Jongin.

Jongin menatap Hyosung yang tersenyum manis itu, lalu kedua sudut bibir Jongin terangkat pelan membentuk sebuah senyuman tipis, namun sangat menawan. Entahlah, setiap kali Jongin melihat Hyosung, itu membuatnya bahagia, apalagi jika Hyosung tersenyum, apa yang ia pikirkan dengan berat akan langsung hilang dan dia akan semakin merasa bahagia.

“Sungie-ya, apakah kau mau jalan-jalan?” tawar Jongin sembari duduk di ujung ranjang Hyosung.

“Hmm, boleh saja, asalkan Oppa mentraktirku,” jawab Hyosung.

“Baiklah, cepat siapkan dirimu, aku tunggu di bawah 10 menit,” ujar Jongin.

Jongin melihat jamnya, masih jam 3 sore. Jongin hendak berdiri namun tangan Hyosung menarik tangannya. Jongin menatap tangannya dan Hyosung bergantian dengan tatapan bingung. Hyosung tersenyum kecil sembari bangun dari tidurnya, mendekatkan tubuhnya ke arah Jongin, Jongin hanya diam dan heran. Hyosung menyambar bibir Jongin dengan cepat, mengecupnya hanya sepersekian detik, Hyosung tersipu malu dan menatap senang Jongin. Jongin hanya diam, wajahnya datar seketika, bukannya dia tidak suka, dia hanya kaget karena Hyosung sudah berani menciumnya. Melihat ekspresi Jongin, senyuman Hyosung langsung memudar. Jongin yang menyadari perubahan ekspresi Hyosung langsung menarik tengkuk Hyosung dan mendekat ke arah wajahnya.Lagi-lagi Jongin menempelkan bibirnya yang hangat di atas bibir Hyosung. Melumatnya kecil sembari terus mengelus tengkuknya, sesekali menggigit bibir Hyosung dan membuat Hyosung mengerang pelan. Mendengar erangan Hyosung, Jongin melepaskan kontaknya dengan Hyosung, melihat Hyosung yang kini tersenyum malu akibat perbuatan Jongin yang tiba-tiba tadi.

“Sudah, cepat siapkan dirimu.” Jongin menatap Hyosung lembut, jari tangannya menyentuh bibi Hyosung yang tadi sempat ia gigit kecil.

                “Aigo, aku mau itu, Oppa! Ah, itu juga! Ani, ani, yang ini saja. Tapi yang itu uga bagus, Oppa! Ah, semuanya bagus.” Hyosung sibuk dengan sederet pakaian di salah satu toko baju di Hongdae.

“Plihlah semaumu,” ujar Jongin.

“Jinjja? Ah, gomawo, Oppa,” pekik Hyosung senang.

Jongin hanya tertawa kecil melihat tingkah dongsaengnya yang seperti anak kecil itu. Terbesit di pikirannya tentang Suho. Sudahlah, untuk hari ini lupakan saja dulu, yang terpenting sekarang adalah membuat Hyosung senang, pikirnya.

“Hmm, Oppa. Aku kita jalan lagi,” ucapnya sambil menggandeng tangan Jongin.

“Tidak jadi beli, eo?”

“Entahlah, aku suka, tapi aku tidak ingin membelinya,” ujar Hyosung.

Jongin menganguk pelan sambil keluar dari toko itu. Jalanan Hongdae begitu ramai, aroma street food bisa diciumnya. Sepanjang jalan yang bisa dilihatnya adalah orang-orang yang berjalan berlawanan arus.

“Hari ini, bersenang-senanglah, kau ingin kemanapun, kita akan kemana, kau ingin apapun, aku akan membelikannya, kau ingin pulang jam berapapun, aku akan menurutinya. Semuanya terserah padamu,” ujar Jongin.

Hyosung mengangkat kepalanya hingga dia bisa melihat Jongin. Menaikkan sebelah alisnya, pertanda dia bingung. “Oppa, neo gwenchana?”

“Ne, wae geurae?”

“Aniya, hanya saja sedikit aneh hari ini,” komentar Hyosung.

Jongin terdiam, namun berusaha tetap tersenyum. Jongin mengeratkan genggaman tangannya pada Hyosung dan mulai berjalan ikut orang-orang yang berjalan perlahan di depannya. Bagaimanapun, Hyosung tidak boleh tahu tentang ini, pikirnya.

                “Oppa, bisakah kita ke Yeoido Park? Atau Sungai Han? Atau ke mana?” tawar Hyosung.

“Terserah apa katamu, kemanapun kau mau, kita akan kesana.”

“Jam berapa sekarang?”

“Hampir jam 7 malam, wae?”

“Yak! Oppa, ayo kita ke Sungai Han,” ajak Hyosung.

Jongin hanya menganguk. Sedetik kemudian, Hyosung sudah menarik-narik tangannya untuk masuk ke mobil.

                Sudah lama mereka berdua hanya duduk terdiam di pinggiran Sungai Han, hanya terdengar beberapa orang berlalu lalang di belakang mereka, tak jarang suara sepeda juga terdengar. Meskipun malam hari, tapi Sungai Han masih tampak begitu ramai. Cahaya lampu yang hanya ada di pinggir jalan tak cukup menerangi sampai di tempat Jongin da n Hyosung duduk sekarang.

Hyosung menatap ke cahaya merah di seberang sungai Han atau tepatnya, di atasnya, atau entahlah. Jembatan yang panjang dan terlihat sangat indah jika dipandang dari tempat mereka duduk sekarang, dan terlihat jelas lampu kendaraan yang melewati jembatan itu. Sementara Jongin hanya diam menatap Hyosung dari samping, terus melukiskan senyuman menawannya.Angin berhembus membuat rambut Hyosung yang dibiarkan tergerai sedikit berantakan. Tangan Jongin dengan cepat menyibakkan rambut Hyosung di belakang telinga Hyosung.

“Sungie, apa yang kau pikirkan?” tanya Jongin tiba-tiba.

Hyosung semakin menggembangkan senyumannya.“Dulu, Appa sering sekali menggajakku kemari semenjak dia perceraiannya, kami berdua memiliki banyak kenangan indah di sini, kami melakukan hal apa saja yang membuat kami senang. Tak peduli apa, dia akan menghabiskan waktunya denganku jika aku memintanya,meskipun terkadang apa yang aku minta tidak dituruti olehnya, tapi yang Appa berikan adalah sesuatu yang aku butuhkan bukan yang aku inginkan. Seperti aku membutuhkan kasih sayang seorang Appa.”

Jongin terus menatap Hyosung. “Jadi, aku adalah apa yang kau butuhkan, Sungie.”

“Ne?”

“Appa pernah berkata, bahwa aku adalah satu-satunya yang bisa ia tinggalkan untukmu, kau membutuhkanku?” tanya Jongin.

Hyosung menghela nafasnya panjang. “Tentu saja, aku membutuhkanmu, Oppa.”

“Hyosung-ah?” panggil Jongin.

Hyosung menoleh dengan cepat, entah ia yang tidak ingat atau memang benar kalau ini pertama kalinya Jongin memanggil Hyosung dengan namanya, bukan nama kesayangan Appa untuknya. Hyosung menatap mata Jongin yang terlihat sendu.

“Boleh aku mengakui satu hal padamu?” tanya Jongin.

Melihat angukan Hyosung, Jongin menarik lengan Hyosung untuk mendekat ke arahnya. Tangan Jongin beralih ke pundak Hyosung dan mencengkramnya lembut, ditatapnya kedua mata Hyosung, pandangannya menyiratkan bahwa dia sangat takut kalau saja kehilangan Hyosung.

“Kim Hyosung, aku berharap bahwa aku bukanlah Oppamu.Saranghae, jeongmal saranghaeyo, bukan sebagai Oppa tapi sebagai namja yang mencintaimu.” Jongin menarik Hyosung dalam pelukannya.

Jongin mendekap erat tubuh Hyosung dan mencium ujung kepalanya. Hyosung hanya diam, masih kaget akan apa yang diucapkan oleh oppanya itu, di hatinya dia benar-benar senang karena Jongin merasakan hal yang ia juga rasakan, namun Hyosung juga sadar, sebesar apapun mereka berharap,mereka tetaplah adik-kakak. Sedarah.

“N-Nado saranghaeyo, Oppa,” lirih Hyosung.

                “Sungie-ya,” panggil Jongin.

“Ne?” Hyosung menghampiri Jongin yang tengah merebahkan dirinya di atas ranjang di kamar Hyosung.

“Beberapa tahun lagi kau akan semakin dewasa, apakah kau akan mencari pendamping hidup?”

Hyosung menghela nafas panjang, dia mendekati Oppanya dan ikut berbaring di samping Oppanya. Hyosung meletakkan kepalanya di atas dada bidang Jongin, dan memeluk pinggangnya. Bisa didengarnya degup jantung Jongin yang tidak berirama. Hyosung tersenyum kecil.

“Bagaimana denganmu? Apakah kau akan mencari pendamping hidup?” tanya Hyosung.

“Ya! Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Kalaupun bisa, aku akan mencarinya Oppa, namun aku tidak bisa, atau lebih tepatnya, aku tak mau, aku nyaman dengan Oppa yang seperti ini, meskipun kita saudara, tapi entahlah, aku tak ingin ada orang lain di hatiku selain Oppa,” jawab Hyosung.

“Kalau begitu aku sama denganmu,” ujar Jongin.

“Oppa, boleh aku bertanya?”

“Ne,”

“Sebenarnya apakah hal yang kita lakukan selama ini itu benar, maksudku, kita melakukan-.”

“Ciuman? Tidur bersama? Dan melakukan hal yang tidak wajar lainnya?” potong Jongin.

Hyosung hanya menganguk lemah membenarkan perkataan Jongin. Jongin hanya mendesah pelan, ia tahu dongsaengnya itu akan menanyakan ini, sebenarnya dia juga tidak tahu harus berkata apa, yang ada di pikirannya hanya keegoisannya memiliki Hyosung, mencintai Hyosung dengan cara yang salah, membuatnya semakin mencintai dongsaengnya itu.

Jongin menatap nanar Hyosung, dipikirannya masih tidak lepas dari ucapan Suho waktu itu. Dia takut kalau ancaman Suho itu benar-benar akan dilakukannya, dia tidak mau berpisah dengan Hyosung.Dia terlalu mencintai dongsaengnya itu.

“Karena aku mencintaimu, jadi aku melakukan hal itu, apakah kau mencintaiku? Katakanlah kau juga, dan kau tidak akan pergi dengan namja manapun,” ucap Jongin.

Dia tahu itu terdengar sangat egois. Namun itulah dirinya, dia tidak bisa membohongi diri sendiri jika suatu saat Hyosung pergi dengan namja lain, dan dia akan mengakakan kalau dia ikut bahagia? Tidak mungkin! Hatinya pasti sangat sakit.

“Saranghae, Oppa. Aku tidak akan dengan namja manapun selain, Oppa.” Dengan mantap Hyosung mengatakannya.

Hyosung semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Jongin. Menunjukkan bahwa dia benar-benar juga mencintai Oppanya, ingin Jongin selalu berada di sisinya. Melindunginya. Mencintainya.

                Hyosung membuka matanya. Sedikit. Matanya silau karena sinar matahari yang masuk melalui jendela kamarnya. Di sekitar dada dan pinggangnya dia merasa hangat, didongakkannya kepalanya. Jongin di sana, tengah tertidur sambil memeluknya.

Hyosung tersenyum kecil melihat Oppanya itu masih di sini menamaninya. Dikiranya, Jongin sudah pindah ketika dia terlelap kemarin malam. Dirasakannya dada Jongin yang naik turun, leher jenjang Jongin  yang jelas ia lihat. Entah keberanian dari mana Hyosung semakin merapatkan dirinya ke tubuh Jongin dan mencium leher Jongin, bisa dicium bau tubuh Jongin yang khas dan wangi. Hyosung mengecup jakun Jongin itu, dan tak lama Jongin menggeliat di pelukannya. Seolah tersadar akan sesuatu, Hyosung menjauh dari tubuh Jongin dan membalikkan tubuhnya membelakangi Jongin.

Hyosung berusaha memejamkan mata dan tidur kembali. Mengingat hari ini adalah akhir minggu jadi dia bisa bersantai. Namun matanya kembali terbuka saat dirasakannya sebuah tangan melingkat di perutnya, mengelusnya perlahan, hembusan nafas juga bisa ia rasakan di telinganya.

“Pagi-pagi sudah mau menggodaku, hum? Nae dongsaeng?” goda Jongin.

Hyosung hanya diam dan menggigit bibir bawahnya. Jongin samakin menarik tubuh Hyosung mendekat ke tubuhnya, sehingga membuat punggung Hyosung menyentuh dadanya,diciumnya puncak kepala Hyosung lembut.

“Berbaliklah,” pinta Jongin lembut.

Mendengar itu, dengan ragu Hyosung mulai membalikkan badannya, dilihatnya Jongin masih memejamkan mata tapi dengan senyumannya yang menawan itu.Hyosung hanya melihat Jongin yang tidak bereaksi.

“Kenapa tadi tidak diteruskan saja? Menciumku?” tanya Jogin santai.

“I-Igo.” Hyosung kehabisan kata-kata, dia tidak memiliki alasan untuk itu.

“Apa perlu aku yang meneruskan?” tanya Jongin.

“A-Aniyo, ani, ani,” jawab Hyosung gugup.

“Wae? Tidak boleh?”

“Amogoto aniya, hanya saja …. hanya saja … kau harus bekerja!” Hyosung tampak senang karena memiliki alasan yang masuk akal.

Mata Jongin membuka lebar seketika, diliriknya jam dinding kamar Hyosung. Tanpa berkata apapun, Jongin  langsung bangun dari tidurnya dan menyambar handuk di dekat kamar mandi, Hyosung juga bagun dari tidurnya dan duduk di ranjangnya, tatapannya sedari tadi mengekor ke Jongin. Hingga akhirnya, Jongin masuk kamar mandi dan bisa didengarnya gemercik air.

“Ini kan akhir minggu, apakah orang bekerja tidak ada hari libur?” pikir Hyosung.

                Tak lama, Jongin keluar dari kamar mandi, dan posisi Hyosung masih tetap di sana. Mata Hyosung melebar begitu melihat Jongin dari kamar mandi. Pasalnya Jongin hanya memakai handuk putih yang menutupi pinggang hingga lututnya. Tubuh Jongin yang masih basah membuat Hyosung tak berkedip, seharusnya dia sudah memalingkan pandangannya, tapi entahlah dia hanya bisa terpaku. Sesekali Jongin mengacak-acak rambutnya sambil berjalan keluar kamar Hyosung, membuat kesan seksi di mata Hyosung.

“Sudahlah, Sungie. Nanti saja terpesonanya, sekarang aku harus ke kantor, ada janji dengan seseorang,” ujar Jongin.

Jongin membuka pintu kamar dan melirik Hyosung sebelum keluar dari kamarnya. “Tenang saja, aku tidak akan lama, waktuku bersamamu masih banyak.”

                Jongin tahu dia sudah telat 30 menit untuk bertemu dengan Suho. Dia yang memintanya untuk bertemu, dia tahu sosok Suho tidak akan mungkib bercanda dan bermain-main dalam setiap kata-katanya. Untuk itulah dia meminta bertemu dengan tujuan mengubah keinginan Suho, apapun akan ia lakukan, meski dengan harga dirinya, membuatnya menahan marah karena mendengar Suho menyebut Hyosung sebagai ‘yeoja pajangan’kala itu.

Setelah mempersiapkan kata-kata yan cukup meyakinkan. Jongin hendak membuka pintu mobilnya ketika didengarnya suara Suho. Jongin menghentikan tangannya, ditolehnya ke belakang, dilihatnya Suho bersama orang-orang berpakaian serba hitam lengkap dengan kaca matanya.

“Kalian ikut denganku!” perintah Suho kepada sebagian orang-orang itu,

“Dan sisanya, ingat perintahku, kalian harus ke sana diam-diam setelah namja itu datang, lalu cepat ambil yeoja itu dan laporkan padaku, setelah itu aku akan membunuh sendiri Kim Jongin,” ujarnya mantap.

Jongin hanya bisa diam dan mencerna apa yang diucapkan Suho. Jongin menelan ludahnya, bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. Apakah dia akan menemui Suho sehingga menyebabkan Hyosung tertangkap atau kabur? Terngiang ucapannya kepada Hyosung bahwa waktu mereka bersama masih banyak, nampaknya itu hanya ucapan tak bermakna kini.

Jongin menghidupkan mesin mobilnya dan dengan cepat menancap gas meninggalkan tempat parkir kantornya. Dilihatnya dari spion, Suho dan anak buahnya kaget melihat mobil Jongin melesat pergi. Jongin semakin menambah kecepatannya. Dia harus segera pulang.

-TBC-

                Nah, mian banget kalau ternyata masih sedikit T_T Dan mian kalau part ini tidak menjelaskan yang penting, de el el. Ok, saya nggak nuntut comment sih, tapi kalau ada lebih baik ! ^^~ Gomawo!

 

49 pemikiran pada “Den (Chapter 6)

  1. thoorrrr……. daebakk bet! feelnya kerasa bgt.deg-degan pas bacanya trs hyosung ama KAI cocok bgt suhonya keren bgt, trs rs trs….. *heboh sendiri*-_-
    tapi gk kebayang suho yg punya wajah angel bisa kya gitu! author hebat,jjang…. ditunggu chap 8-nya yo….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s