Metronome (Chapter 3)

Metronome [Part 3]

Author: monggu

Genre: Angst. Yaoi

Rating: PG-15

Length: Multi Chapter; 3630w

Main Cast: Park Chanyeol. Byun Baekhyun

Summary: Dia tidak menyahut ketika aku memanggil namanya.

 

Hi I’m back. Masih pada inget cerita ini kan? Maaf authornya hiatus sebulan gara-gara ujian -_-

Ceritanya selesai di part ini, makasih buat yang udah baca (apalagi komen) dari awal yah 😀 I love you~ yang belum baca part 1 sama 2, silakan dibaca dulu, cari aja sendiri /eh/ –well happy reading!

*

 

Malam itu hujan deras mengguyur kota Seoul. Butir-butir air menghantam kaca jendela kamar, membuatnya mengeluarkan suara gerutuk kecil. Aku terbalut nyaman di dalam selimutku, masih setengah sadar. Suara rintik air jatuh biasanya dapar menghipnotisku untuk tidur, tapi sekarang tidak.

 

Soalnya ada yang mengusikku.

 

Aku memicingkan telingaku, mencoba mencuri dengar suara lain diantara gemuruh hujan. Aku yakin aku mendengarnya—suara nafas yang berat. Pasti Baekhyun.

 

Sudah berkali-kali aku terbangun karena Baekhyun. Dia mengigau dalam tidurnya, tersengal, dan bahkan mengerang kesakitan. Tapi aku hanya diam pada posisi tidurku, seolah pura-pura tidak dengar. Ini bukan pertama kalinya dia seperti itu, kupikir pasti akan berhenti sendiri.

 

Tadinya aku berniat mengabaikannya sampai pagi dan mencoba tidur, tapi gagal. Aku merasa seperti di hantam palu besar tiap kali Baekhyun mengeluarkan suara rintihan. Dia kesakitan. Aku tahu dia kesakitan, dan yang bisa kulakukan hanya menyaksikannya tanpa melakukan apa-apa.

 

Pada akhirnya aku memaksakan tubuhku bangkit dari ranjang ketika erangan Baekhyun makin keras. Aku mengambil langkah tanpa suara menuju ke tempatnya, dan menemukan ia terbaring dalam posisi terlentang.

 

Baekhyun tampak seperti malaikat kecil. Malaikat yang kesakitan. Rambut dan dahinya basah oleh keringat, padahal kupikir suhu malam ini cukup dingin. Kedua matanya tertutup rapat, sementara nafasnya pendek-pendek. Kalau bisa, aku ingin merangkulnya sepanjang malam agar dia dapat tidur tenang.

 

Aku meraih selimut dari ujung ranjang dan menutupi tubuh Baekhyun hingga pangkal dagunya. Dia bergerak sedikit, lalu terlelap lagi.

 

“Tidur yang lelap, Baekki..” ujarku pelan, sembari tersenyum mengusap rambutnya.

 

*

 

Pagi itu, aku masih belum sadar dari tidurku ketika kutemukan sosok seseorang tengah membereskan ranjang sebelah. Aku menyipitkan mataku, dia bukan Baekhyun.

 

“Oh. Sudah bangun, Channie?” Orang itu tiba-tiba membalikkan badannya sambil tersenyum manis. Senyum yang bisa membuat ribuan gadis bertekuk lutut di hadapannya.

 

Suho-hyung.

 

“Nggh—Hyung sedang apa disini? Ada apa dengan kasur Baekhyun-hyung?” Suaraku terdengar serak dan tidak karuan. Efek bangun tidur.

 

Suho tidak menjawab, dia hanya mengulum senyum pendek kearahku lalu kembali membereskan ranjang. Aku terduduk di tepi kasur dan coba menerka jawabannya sendiri. Aku mengerutkan alisku, bingung.

 

Ini aneh. Semuanya terlalu aneh.

 

Pertama, Baekhyun tidak pernah meninggalkan tempat tidurnya dalam keadaan berantakan. Kedua, Suho-hyung tidak akan mau melakukan pekerjaan rumah macam begini. Ketiga, perasaanku tidak enak. Kemungkinan ada sesuatu yang terjadi pada Baekhyun atau—

 

“Baekhyun pulang ke rumahnya. Dia tidak akan kembali untuk sementara,” sahut Suho pelan.

 

Aku menelan ludah.  Mataku yang tadinya berat langsung melonjak terbuka. Hatiku melengos. Aku baru meninggalkannya tidur sebentar dan sekarang Baekhyun sudah lepas dari genggamanku? Kenapa?

 

“Kapan?” gigi-gigiku saling beradu. Aku menahan diri agar tidak ada nada kesal dalam kalimatku. Tidak ada yang memberitahuku kepulangan Baekhyun. Jadi selama ini aku dianggap apa?

 

“Tidak usah marah begitu, Chanyeol-ah,” jawab Suho—seolah dia bisa membaca isi hatiku—“ibunya datang menjemput tadi subuh. Beliau sudah minta izin agensi untuk membawa Baekhyun pulang.”

 

Oh. Aku tidak menjawab.

 

“Mungkin untuk sementara ini kita akan beraktivitas tanpa dia.” Lanjutnya.

 

Aku berjalan keluar kamar tanpa menggubris sang leader sama sekali. Pandanganku gelap, langkahku kasar, yang bisa kurasakan sekarang hanya gemuruh kesal hatiku.

 

*

 

Hari itu aku menjalani aktivitasku seperti biasa bersama EXO—minus Baekhyun. Kami tampil untuk pre-recording pada pagi hari, lalu disusul dengan rentetan jadwal interview siang harinya. Banyak staff yang penasaran dengan ketidakhadiran Baekhyun, dan manager-hyung hanya bisa mengumbar alasan bohong.

 

“Kerabatnya ada yang meninggal, jadi dia tidak bisa datang hari ini.” Ucap sang manager. Aku memasang senyum cemooh ketika mendengarnya. Pembohong. Kenapa tidak katakan yang sebenarnya saja bahwa Baekhyun sakit?

 

“Chanyeol-ssi, kau pasti kesepian tidak ada Baekhyun ya?” Salah seorang staff laki-laki menghampiriku, berusaha terlihat akrab. Aku menolehkan kepala, menatapnya dari atas kepala sampai ujung kaki. Ingin rasanya aku menghantam wajahnya dengan palu.

 

“Oh—haha, iya.” Jawabku singkat sambil memamerkan gigi. Sebagai tuntutan pekerjaan, aku harus selalu tersenyum kapanpun, walau bukan didepan kamera. Padahal aku tidak mau melakukannya. Aku tidak mau menyanyi. Aku tidak mau berdiri diatas panggung. Aku tidak mau di wawancarai. Yang aku mau sekarang hanya Baekhyun.

 

Baekhyun.

 

*

 

“Hyung, bisakah kita mampir dulu ke rumah Baekhyun-hyung?” Pintaku pada malam ketiga setelah kepulangan Baekhyun, ketika kami semua berada di mobil dalam perjalanan balik. Aku duduk di sebelah jok kemudi paling depan, tempat Baekhyun biasa duduk.

 

Manager-hyung tidak menjawab, beliau tetap fokus mengemudi. Aku harus memanggilnya sekali lagi sampai akhirnya mendapat respon.

 

“Sekarang sudah terlalu malam. Lihat member yang lain, Chanyeol-ah. Mereka semua kelelahan.” Jawabnya.

 

Aku menolehkan kepalaku ke jok belakang, tampak semuanya tengah tertidur pulas—kecuali Suho-hyung, yang sekarang balas menatapku dengan wajah manisnya.

 

“Kalau cuma mampir tidak apa-apa, kan?” Suho akhirnya buka mulut, ikut menimpali. “Biarkan saja yang lain tidur di mobil, aku juga ingin lihat keadaan Baekhyun.”

 

Manager-hyung tampaknya tidak bisa membantah permintaan Suho. Dia akhirnya memutar balik mobilnya kearah lain, menuju rumah Baekhyun.

 

*

 

Sesuai perkataan Suho sebelumnya, member yang lain masih belum terbangun ketika kami tiba di depan kediaman Baekhyun. Pada akhirnya hanya aku dan Suho yang turun dari mobil. Manager-hyung tetap tinggal di dalam dengan alasan mau menjagai mereka yang sedang terlelap.

 

Suho berada beberapa langkah di depanku, dia mengetuk pintu depan rumah dengan perlahan. Nyaris tidak sampai lima detik, pintu mengayun terbuka, menampakkan sosok seorang wanita paruh baya. Bagai robot, Suho refleks membungkukkan tubuhnya. Sedangkan aku berusaha mencuri pandang ke dalam rumah, siapa tahu ada Baekhyun.

 

“Ah, ahjumma, kami—“

 

“Joonmyun dan Chanyeol bukan? Masuklah kedalam!” Potong beliau dengan antusias, yang langsung dibalas Suho dengan senyum terbaiknya.

 

Kami berdua dibawa masuk ke ruang tamu. Aku tidak bisa berhenti menolehkan kepalaku kesana-kemari, mengamati tiap ruangan yang aku lewati. Suho menyikutku pelan, tapi aku tidak mempedulikannya. Aku tidak mau banyak basa-basi, dimana Baekhyun?

 

“Baekhyun sudah tidur di kamarnya, kalian mau lihat?” Tanya  sang nyonya pemilik rumah, seolah bisa menerka pikiranku.

 

Aku tidak menyia-nyiakan waktuku untuk mengangguk cepat dan bergegas mengikuti langkah beliau menuju salah satu ruangan.

 

Lampu ruangan itu menyala terang, aku bisa dengan jelas melihat sosok Baekhyun terbalut selimut tipis di atas ranjang. Dia sedang tertidur.

 

Saat ini saja aku ingin dia bangun dan tersenyum untukku. Tapi aku tidak tega mengusik tidurnya, dia tampak lelah. Ada lebam samar berwarna gelap di bawah matanya, mungkin dia sering terbangun malam-malam dan tidak bisa tidur lagi.

 

Akhirnya aku mengurungkan semua niatku. Aku membalikkan badanku, memberitahu ahjumma bahwa aku hanya ingin melihat kondisi Baekhyun saja. Beliau tersenyum, lalu mengantar kami menuju pintu depan.

 

“Tolong katakan pada Baekhyun untuk menghubungiku kapan-kapan.” Aku membungkuk pada beliau, lalu menggiring Suho kembali ke van kami.

 

*

 

Aku dibangunkan oleh dering ponsel subuh itu. Dengan enggan, aku menekan asal layar ponselku, berharap akan bisa meredam suaranya. Nyaris saja aku berniat melemparnya ke lantai sebelum aku membaca nama yang tertera disana—Baekhyun.

 

Aku paksakan mataku untuk terbuka, mencerna apa-apa yang tertulis di layar. Empat pesan singkat sekaligus—

 

‘Chanyeol, kau sudah bangun?’

 

‘Aish. Pasti belum.. dasar kerbau’

 

‘Kau ke rumahku kemarin ya?’

 

‘Hari ini ada jadwal apa?’

 

Bibirku tersenyum konyol tanpa kusadari. Aku memang berharap menerima pesan darinya, tapi tidak sepagi ini dan tidak beberapa pesan sekaligus dalam durasi satu menit. Kalau saja itu bukan Baekhyun, mungkin si pengirim sudah habis karena berani mengganggu waktu tidurku.

 

Aku mengetik balasannya, kukatakan hari ini ada jadwal pemotretan sampul majalah sampai jam 6 malam. Hanya pertanyaan terakhirnya yang kujawab.

 

Tidak lebih dari semenit, ponselku berrdering lagi. Aku bisa membayangkan Baekhyun sedang bermalas-malasan diatas ranjangnya, diam memandangi ponselnya sambil menunggu balasan.

 

‘Aku akan meneleponmu, nanti malam ya.’

 

Aku mengirim balasannya dengan singkat sebelum menjatuhkan kepalaku di atas bantal dan kembali memejamkan mata. Aku sempat mendengar ponselku berdering sekali lagi, tapi aku memutuskan untuk tidak menggubrisnya.  Aku tahu Baekhyun hanya ingin memperpanjang pembicaraan ini, sayangnya aku tidak punya waktu menemaninya.

 

*

 

“Hyung, bagaimana keadaan Baekhyun-hyung kemarin?” Jongin membuka percakapan siang itu, di sela-sela waktu istirahat kami.

 

Aku berada di sebuah studio untuk pemotretan sampul majalah. Aku tidak habis pikir, kenapa manager-hyung mau menyetujui tawaran pekerjaan ini tanpa Baekhyun. Bagaimana bisa kau menyebutnya EXO jika salah satu anggotanya tidak hadir? Bukankah kita punya motto ‘we’re one, we’re EXO’?

 

Pandanganku teralih pada Jongin yang tadi bertanya. Matanya berkilat penasaran seperti biasa. Oh—rupanya sekarang yang lain sudah tahu tentang Baekhyun.

 

“Entahlah kemarin dia sudah tidur, tapi sepertinya baik-baik saja.”

 

“Kapan kita ada waktu menjenguknya lagi?” Kyungsoo tiba-tiba menyela, postur kecilnya menyembul muncul dari belakang Jongin.

 

Aku menggelengkan kepalaku, tidak tahu. Mau punya waktu luang saja susah, apalagi keluar rumah. Lagipula aku tidak yakin manager-hyung mau mengantarku sepulang kegiatan seperti kemarin malam. Beliau benar, member yang lain butuh istirahat.

 

“Ahh kapan dia kembali, ya? Aku kangen Baekhyun-hyung.” ucap Jongin, yang langsung disusul dengan anggukan setuju dari Kyungsoo. Sementara aku hanya mengiyakannya dengan suara pelan.

 

Apalagi aku, rutukku dalam hati.

 

*

 

Pada malam harinya di dorm, aku dikagetkan oleh terror pesan singkat dari Baekhyun. Aku baru menyalakan ponselku sekarang, dan ada 30 pesan belum terbaca, hampir seluruhnya dari Baekhyun. Rata-rata pertanyaannya sama, dia mengecek apakah aku sudah pulang atau belum.

 

Sembari naik keatas ranjang dan berbaring disana, aku mengirim balasannya. Sesuai dengan dugaanku, pada kurun waktu kurang dari semenit, datang sebuah telepon masuk.

 

“Ya, halo?”

 

“Chanyeol?” terdengar suara serak Baekhyun dari ujung telepon. Rasanya lega. Entah sudah berapa tahun aku tidak mendengarnya.

 

Ne. Ada apa, Baekki?”

“Tidak, hanya ingin menelpon. Boleh kan?”

 

“Iya, tadinya aku berniat mau menelpon juga, tapi keduluan,” jawabku pelan.

 

“……….”

 

Hening beberapa detik. Baekhyun diam, tidak menjawab. Entah ini hanya perasaanku atau bukan, tapi aku bisa mendengar suara nafas Baekhyun samar-samar di telepon.

 

Chanyeol..” Dia bicara lagi.

 

“Hmm?”

 

Aku kangen,”

 

Sekarang giliran aku yang diam. Ujung bibirku tiba-tiba saja terangkat keatas, aku tersenyum bodoh. Baekhyun menelponku hanya untuk mengatakan itu?

 

Aku butuh waktu lama untuk merangkai kata-kata balasannya, dan akhirnya yang keluar hanya sebuah kalimat; “Aku juga kangen.”

 

Baekhyun bergumam pelan. Entah mengapa aku bisa membayangkannya tengah tersipu malu saat ini.

 

“Kau sedang apa?”

 

“Sedang mendengarkan suaramu.” Kataku jujur.

 

“Ahh apa maksudmu?” dia tertawa kecil.

 

“Serius kok, sudah lama aku tidak dengar suaramu.”

 

“Hnn,” dia mendengus, lalu diam lagi. Kali ini lebih lama dari yang sebelumnya. “Chanyeol…”

 

“Iya?”

 

“Bagaimana keadaan disana?”

 

“Begitulah, rasanya sepi tidak ada kau. Banyak yang menanyakan keadaanmu, mereka—“ perkataanku terpotong oleh munculnya suara dehaman kecil dari balik telepon. Aku butuh waktu beberapa detik untuk akhirnya menyadari bahwa itu suara batuk. “—Baekhyun?”

 

“—ah iya maaf, kau bilang apa tadi?”

 

“Kau kenapa?” Aku tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir dalam suaraku.

 

“Tidak apa-apa. Kau ngomong apa barusan?”

 

“Jangan mengalihkan pembicaraan, tadi kau kenapa? Baik-baik saja?” ulangku.

 

“Sudahlah jangan bahas itu.. Ah, Chanyeol~! Kapan kau ada waktu luang? Ayo kita jalan-jalan, ajak member lain juga,”

 

Baekhyun benar-benar mengalihkan pembicaraanku, kentara sekali menghindari topik soal penyakitnya. Aku takut dia akan marah jika aku bertanya lagi, maka aku putuskan untuk mengabaikan yang barusan.

 

“Umm.. 3 minggu lagi sudah goodbye stage, jadi kurasa akan ada banyak waktu kosong diluar jadwal latihan. Baekhyunnie mau jalan-jalan kemana?”

 

“Terserah mau kemana, yang penting bersama kalian. Tapi aku mau coba ke Namsan, kita naik gunung!”

 

Aku menghabiskan satu jam penuh duduk di atas ranjang, mendengarkan segala macam cerita yang Baekhyun tuturkan. Mulai dari hal penting soal perubahan kontrak masa kerjanya dengan agensi, sampai dengan yang sepele seperti acara TV apa yang dia tonton tadi pagi.

 

Aku sudah kenal dengan sifat alaminya yang cerewet. Begitu dia bicara, tidak ada satupun orang yang bisa membungkam mulutnya. Tapi sekarang aku menikmatinya—bagaimana tiap kata yang ia lafalkan menembus masuk telingaku—hingga akhirnya pembicaraan usai dan telepon di tutup.

 

Baru saja aku berniat mematikan lampu kamar dan beranjak tidur ketika tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku sempat mengira itu panggilan dari manager-hyung untuk menyuruhku cepat tidur, tapi ternyata—

 

Byun Baekhyun. Lagi.

 

“Halo, Baek—“

 

“Selamat malam ya Chanyeol,”

 

“Bukannya tadi sudah bilang?”

 

“Iya. Aku sayang Chanyeol. Selamat tidur.”

 

“Oh—“

 

Telepon diputus.

 

Jangankan mengatakan selamat tidur, membalas ucapan sayangnya saja aku tak sempat. Mukaku panas, entah karena hawa malam ini atau gara-gara perkataan Baekhyun barusan. Ini pertama kalinya dia mengutarakan hal tersebut padaku—apa katanya tadi? Dia sayang aku? Aku?

 

‘Aku sayang Chanyeol’

 

Aku tersenyum lebar—sangat lebar—sambil membalasnya dalam hati.

 

Aku juga sayang Baekhyun.

 

*

 

Aku berharap dengan menjalani jadwal yang padat, aku dapat mengalihkan perhatianku dari Baekhyun sejenak.  Aku tak bisa terus memikirkannya, bagaimanapun juga masalah yang ia derita bukan sesuatu yang berada dalam jangkauanku. Pada kenyataannya aku memang tidak bisa melakukan apa-apa untuknya, kan?

 

Untunglah EXO memasuki masa puncak kesibukannya. Kami berada di minggu-minggu akhir menuju goodbye stage, makin banyak pekerjaan yang ditawarkan pada kami. Saking sibuknya, aku nyaris melupakan Baekhyun. Kadang panggilan telepon darinya di malam hari tidak kujawab karena aku sudah terlalu lelah. Yang bisa kupikirkan sekarang hanya bagaimana caranya beristirahat.

 

Hingga datanglah hari itu, hari ketiga setelah penampilan terakhir kami di Inkigayo.

 

*

 

Hari itu Baekhyun mengirimiku sebuah pesan singkat. Dia bertanya tentang rencana jalan-jalan kami ke Namsan.

 

‘Chanyeol, kau sudah bilang pada yang lain kan? Kapan kita bisa berangkat?’

 

Aku berbohong dengan mengatakan bahwa aku sudah memberitahu semuanya, tapi banyak yang tidak bisa ikut karena punya kesibukan lain.  Sebenarnya aku belum bicara pada siapapun perihal Namsan ini. Kupikir mereka pasti tidak mau jika waktu istirahat mereka dipakai liburan melelahkan.

 

Walaupun tidak melihat langsung, aku bisa membayangkan raut kecewa terukir di wajah Baekhyun saat ini.

 

‘Baiklah, lain kali saja… kau bisa ke rumahku sekarang, tidak?’

 

Aku tidak perlu berpikir dua kali untuk langsung meng-iyakan ajakannya. Tanpa membuang waktu, aku menyeret kakiku keluar dorm dan menaiki apapun yang bisa membawaku ke rumah Baekhyun.

 

Aku tidak ingat apa saja yang aku lewati selama perjalanan. Yang aku tahu tiba-tiba saja aku sudah berada di depan rumahnya, sebelah tanganku terangkat untuk mengetuk pintu.

 

Ketukan pertama. Tidak ada jawaban.

 

Ketukan kedua. Masih tidak ada jawaban.

 

Ketukan ketiga. Engsel mengayun terbuka, disusul dengan munculnya sebuah kepala yang mengintip dari balik pintu.

 

“Chanyeol?”

 

Itu suara Baekhyun. Dia membuka pintu lebar-lebar, menampilkan sosok dirinya. Aku mengerjapkan mataku—nyaris tidak mengenalinya, padahal jarak kami cukup dekat. Baekhyun terlihat kurus, tulang pipinya seperti mau menonjol keluar dari wajahnya.

 

Dan tiba-tiba rasa sesak itu datang lagi. Hatiku serasa dihujam jutaan panah.

 

“Baekhyunnie.” Aku menatapnya, memaksa bibirku untuk mengulum senyum. Aku tidak bisa bohong kalau aku kasihan melihat kondisinya saat ini. Aku tidak tega penyakit memakan tubuhnya, membuatnya kering dan tandus.

 

Baekhyun balas tersenyum lemah. Bukan senyum riang yang biasa membingkai wajahnya selama ini. Bukan senyum polos yang membuatnya terlihat seperti anak kecil. Bukan senyum manis yang bisa membuat jantungku berpacu cepat. Bukan.

 

Kemudian tanpa aba-aba, Baekhyun datang mendekat, memelukku.  Dia melingkarkan kedua tangannya di leherku, dan aku sempat terkejut ketika hendak balas merangkul pinggulnya—kecil dan rapuh.

 

“Chanyeol tambah tinggi ya.” gumam Baekhyun pelan, sambil membenamkan kepalanya di bahuku. Aku tersenyum—kali ini tulus—dan mengelus surai hitamnya dengan jemariku.

 

“Rasa kangenku masih lebih tinggi, kok.” Aku berbisik di telinganya. Cheesy. Baekhyun paling tidak suka bila aku menggodanya begini, biasanya dia akan marah-marah panjang lebar sambil tersipu malu. Tapi sekarang dia diam saja. Samar aku bisa mendengar Baekhyun terkekeh kecil, suaranya teredam oleh pundakku.

 

Baekhyun melepaskan pelukannya dan menarik lenganku masuk ke dalam rumah, disana sudah ada ahjumma, beliau menyapaku dengan ramah dan memberiku jalan.

 

“Aku tidak bawa oleh-oleh.” Ujarku ketika aku tiba di kamar Baekhyun. Tadi aku pergi kesini tanpa persiapan apapun, padahal tadinya aku berniat membawakan makanan yang banyak—pemberian fans—jika aku menjenguk Baekhyun lagi.

 

“Oh, tidak apa-apa,” balas Baekhyun sembari terduduk  di ujung tempat tidurnya. “kau mau datang saja sudah bagus.”

 

Aku bergumam mengiyakan. Mataku berkeliaran ke seisi ruangan, berusaha menyapu tiap objek yang ada di situ. Kamar Baekhyun, pikirku. Kapan lagi aku punya kesempatan berada di dalam sini?

 

Aku menangkap sebuah bingkai foto kecil yang berdiri di atas meja. Di dalam foto itu ada sejumlah pemuda—di antaranya pasti Baekhyun—tengah berpose dengan latar belakang Namsan Tower.

 

Namsan.

 

“Baek, soal Namsan—“

 

“Member lain tidak bisa kan? Tidak apa-apa kok,” potong Baekhyun cepat. Aku jadi tiba-tiba merasa bersalah telah berbohong padanya. Sepertinya dia benar-benar ingin mengajak semua anggota bandnya ke sana.

 

“Nanti saja kita pergi berdua ya? Aku dan Yeolli.” Lanjutnya.

 

“Berdua saja? Kau mau apa, kencan?” balasku sambil menyeringai padanya. Baekhyun mendecak, tapi tidak mengelak dari pertanyaanku sama sekali. Aku mengangguk, tersenyum pada diriku sendiri, dan melanjutkan kegiatanku yang sebelumnya.

 

Sang nyonya pemilik rumah tiba-tiba muncul ketika aku tidak sengaja melempar pandang ke arah pintu. Beliau memanggilku mendekat, sepertinya menyuruhku untuk membawakan nampan minum.

 

“Chanyeol-ah, sepertinya dia senang sekali kau datang. Kondisinya sedang baik hari ini, padahal biasanya dia sering terbatuk,” sahut beliau sembari menepuk lenganku pelan, dan menyerahkan nampan berisi dua gelas minuman kepadaku.

 

Aku membalikkan badanku, menemukan Baekhyun yang entah kenapa sudah dalam posisi berbaring diatas ranjang, kedua tangannya terangkat menutupi muka.

 

Baru saja aku meletakkan nampannya diatas meja ketika Baekhyun tiba-tiba menyahut dengan suara lirih—

 

“—yeol“

 

“Ah?” Aku menghampirinya, tanpa rasa curiga sama sekali.

 

“Chanyeol, aku… ingin ke dokter,” ucapnya datar, “sakit.

 

Aku mengerutkan dahiku, masih belum bisa menangkap maksud omongannya. “Sakit sebelah mana? Sebentar. aku akan panggil eomma-mu.”

 

“Jangan,” Baekhyun menyambar lengan bajuku dengan cepat sebelum aku sempat menggerakkan kakiku. “—jangan. Kau diam disini saja. Jebal.

 

Aku menurut. Aku diam disana, menatapnya dengan penuh tanya. “Baek—“

 

“Chanyeol, cium aku.”

 

Ah?

 

Semua rasa bingungku perlahan berubah menjadi rasa takut. Baekhyun bersikap aneh—aneh sekali. Aku bisa melihat sudut matanya mulai di genangi air ketika dia menatapku dalam-dalam, menunggu jawaban dariku.

 

“Cium aku.” ulang Baekhyun, suaranya serak. Kali ini dia memberikan sorot mata putus asa, seolah aku adalah orang terakhir yang bisa menyelamatkan hidupnya di dunia.

 

Aku bingung. Aku tidak mengerti—apapun. Aku tidak tahu aku tengah terjebak dalam kondisi bagaimana dan harus melakukan apa. Perasaanku tidak bisa bohong, aku panik dan ketakutan.

 

Aku menahan nafas dan mulai bergerak mendekat. Kedua tanganku bertumpu di sebelah kepala Baekhyun, menopang tubuhku yang sekarang nyaris menaunginya. Baekhyun mencengkram baju depanku, mendesakku untuk segera melakukan apa yang ia minta.

 

Tidak butuh waktu lebih dari tiga detik sampai bibir kami akhirnya bersentuhan. Hanya sekedar ciuman biasa, tidak ada satupun dari kami yang bergerak. Hingga ketika mulai merasa sesak, aku mengangkat wajahku beberapa senti untuk mengambil udara dan menatap matanya.

 

“Ada apa?” aku berbisik di hadapan wajahnya. Baekhyun tidak menjawab. Dia hanya tersenyum memamerkan giginya, sementara tangannya masih mengait erat di bajuku.

 

“Aku benar-benar ingin bertemu kalian semua,”

 

“Iya, Baekhyun, semua orang juga merindukanmu. Jadi—jadi cepat sembuh ya? Kita bersama-sama lagi,”

 

“Iya, aku baru menghabiskan waktuku..sebentar bersama kalian, bersama Yeolli juga,”

 

“Kalau kau kembali nanti aku janji akan membuatmu senang tiap hari. Ne? Janji.”

 

“Yeol—“ Dia memanggilku. Suaranya bergetar, kecil seperti cicitan. Tiba-tiba matanya membelalak menatapku, seperti ketakutan. Aku nyaris berpikir bola matanya akan terbalik, tapi tidak kuhiraukan hal itu karena saat ini aku panik setengah mati.

 

“Baekhyun?”

 

“Chan—Chanyeol” Dia memanggilku lagi, seolah matanya sudah tidak bisa menangkap sosokku di depannya. Kalimat Baekhyun selanjutnya hanya berupa bisikan lemah, hampir tidak terdengar sama sekali. “Kakikku…. kaku..”

 

Baekhyun tiba-tiba tersedak kecil, seperti cegukan. Cengkraman jarinya di bajuku perlahan melemah.

 

Aku baru saja akan menggenggam tangannya ketika aku menyadari sesuatu.

 

Badannya tidak bergerak. Ekspresi mukanya pucat dan kaku. Dia tidak menyahut ketika aku memanggil namanya.

 

“Baekhyun—“

 

Tidak ada jawaban. Aku menggigit bibir bawahku, menahan nafas. Jantungku serasa mau keluar dari rusuknya.

 

“Baekhyunnie?”

 

Aku menempelkan telingaku diatas dadanya. Tidak ada suara. Aku menyentuh pipinya. Dingin. Dia seperti boneka manekin yang tidak bernyawa.

 

“B—Baekhyun kenapa?”

 

Tanganku yang berkeringat mengguncang pelan tubuhnya. Tapi dia masih tidak bergerak, ekspresinya masih sama dari beberapa detik yang lalu.

 

“Hei—“ suaraku tercekat. Aku mulai kesulitan membuka mulutku untuk berbicara. “K-katanya mau mengajakku ke Namsan..”

 

“Baekhyunnie…. kenapa tidak jawab? Kau tidur?”

 

Aku mati-matian menahan air mataku untuk tidak jatuh. Tubuhku berdiri mematung menatap sosok yang terbaring kaku di depan mataku. Pucat. Mati.

 

Baekhyun sudah tidak ada—Baekhyun milikku. Dia tertidur, dan tidak akan bangun lagi.

 

Aku mengambil nafas panjang untuk menenangkan pikiranku, tapi percuma. Sekujur tubuhku lemas, dan tahu-tahu saja tangisku pecah. Air mata keluar begitu saja tanpa bisa kuhentikan. Semua yang kupertahankan selama ini jatuh. Duniaku hancur.

 

Baekhyunku yang manis tidak akan lagi tersenyum untukku. Tidak akan ada lagi dengkuran pulas di sebelah ranjangku ketika aku tertidur. Tidak akan ada lagi sosok cerewet yang mengomentari tiap perbuatanku. Tidak akan ada lagi sang mood maker yang bisa membuat semua orang tertawa. Tidak ada.

 

Kenapa doa Chanyeol tidak didengar? Tuhan?

 

Aku memaksakan tubuhku untuk bergerak, berjalan gontai menuju pintu kamar. Pandanganku tertutup oleh butir air—aku tidak peduli apakah air mataku masih mengalir turun atau tidak. Akan kuanggap semua ini hanya mimpi, jadi biarlah cepat berlalu supaya aku bisa segera bangun.

 

A—ahjumma. Baekhyun…” ucapku lemah ketika aku akhirnya menemukan sosok wanita tua itu di ruang tengah. Sang nyonya awalnya tampak bingung melihat kondisiku yang berantakan,  tapi semuanya terjawab ketika beliau tiba di kamar Baekhyun, menemukan putra kecilnya sudah tergeletak bisu.

….

Aku tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya.

 

Tiba-tiba saja banyak orang berdatangan, mereka menyapaku tapi aku tidak menyahut. Aku bisa melihat anggota band-ku bermunculan, sejak kapan mereka datang? Aku bisa tahu Suho menatapku dengan tatapan iba. Aku bisa lihat Luhan dan Tao menangis.  Aku bisa dengar Kris memberitahuku untuk menenangkan diri. Semuanya berjalan sangat cepat, kepalaku pusing.

 

Bahkan aku masih merasa segalanya fana ketika menghadiri pemakaman. Pipiku masih basah, mataku sembap dan merah.

 

“Chanyeol,” Kris tiba-tiba meremas pundakku dengan keras dari belakang, membuatku terlonjak kaget.

 

“Ada apa?” Aku memiringkan kepalaku sedikit.

 

“Kau tidak apa-apa?”

 

Aku butuh waktu lama untuk menjawab pertanyaannya.  “Tidak tahu.”

 

Kris menghela nafas panjang, masih menatapku. Jawabanku salah, ya? Aku benar-benar tidak tahu apa yang tengah kurasakan sekarang. Kehilangan? Takut? Sedih?

 

Let him go, Chanyeol. Kau tahu ini pilihan yang terbaik untuknya.” Balas Kris.

 

Aku tidak menjawabnya lagi, kualihkan pandanganku pada peti kotak yang perlahan terkubur tanah. Di dalam sana ada Baekhyun, sekarang aku tidak bisa menyentuhnya lagi. Tidak bisa melihatnya lagi. Mendengarnya lagi. Merasakannya lagi.

 

Kris benar, ini pilihan yang terbaik untuknya. Aku ingat Baekhyun pernah bilang padaku bahwa ia lelah—nah, dengan begini dia sudah tidak akan merasakan apa-apa lagi, kan? Tidak perlu lagi pergi berobat tiap minggu. Dia sudah bebas dari penyakitnya, dan mungkin tempatnya sekarang jauh lebih baik daripada disini.

 

Haruskah kuucapkan kata perpisahan?

 

Chanyeol juga sayang Baekhyun.

 

Goodbye, sweetheart.

 

*–end–*

 

 

117 pemikiran pada “Metronome (Chapter 3)

  1. Aku nangis, Eonnie… ToT Aku nggak bisa ngebayangin Baekhyun dengan muka tirus dan pucat… Pasti bikin miris… Eonnie jago deh, bikin angst-nya… Kalo pairnya ChanBaek, entah kenapa feel-nya lebih kerasa 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s