Hello Goodbye

Hello Goodbye

 

Title                   : Hello, Goodbye

Author                : Byun Baek-Hee

Main Cast          : Kim Jongin (EXO-K Kai), Park Jiyeon (T-ARA Jiyeon)

Support Cast      : Huang Zi Tao (EXO-M Tao), Kim Myungsoo (INFINITE L)

Genre                 : Hurt, Little bit Action

Rated                 : T

Length                : Ficlet (+ 2.200 words)

Disclaimer         : cast yang terlibat semuanya ciptaan tuhan yang maha esa, kalo ff ini murni buatan author (liat aja tuh kata-katanya yang gak beraturan). Sebelumnya author kasih tau, ff ini terinspirasi dari MV nya MYNAME – Hello & Goodbye. Jadi agak mirip ceritanya-_-v Sebenarnya setelah nonton mvnya, pengen dijadiin songfic aja, tapi setelah dicari translation dari liriknya, ternyata agak gak match sama cerita yang author tangkap(?) dari mvnya.

~O_O~

 

“Tuhan, kuharap ini tidak benar-benar terjadi.. ini.. hanya mimpi bukan?” aku berusaha menenangkan batinku yang terguncang. Aku benar-benar berharap kalau ini hanyalah sebuah mimpi. Tidak, hal ini bahkan terlalu menyakitkan. Bahkan untuk menjadi sebuah mimpi buruk.

 

 [FLASHBACK]

30 menit sudah aku menunggu. Tapi orang yang kutunggu tidak kunjung datang. Hal ini benar-benar menyita waktuku yang berharga. Kulirik sejenak benda kecil yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Kalau lima menit lagi dia tidak datang, aku akan segera pergi.

 

Ku keluarkan ponsel yang sedari tadi berada di saku jaketku. Kemudian kutuliskan beberapa kata.

Myungsoo hyung, kalau kau tidak tiba dalam 5 menit, aku akan pulang.’ Lalu kukirim pesan itu. Sungguh, aku benci menunggu.

 

Tidak lama kemudian, kulirik pintu cafe yang sedikit terbuka.

“Mianhae, Jongin-ah. Aku terlambat.”

 

Aku menghela nafas kesal. Kalau bukan karena ‘hal penting’ yang hendak disampaikannya padaku, mungkin aku sudah meninggalkan tempat ini sejak tadi.

 

“Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan padaku? Cepat katakan. Aku tidak punya banyak waktu.”

 

Dia kemudian duduk di kursi yang ada didepanku. “Setidaknya biarkan aku duduk dulu.” Ia menghela nafas.

“Kau ingat klien yang sempat kuceritakan waktu itu?” dia mulai bicara. “Kali ini dia butuh bantuanmu.”

 

Aku berpikir sejenak. Mencoba mengingat orang yang dimaksud. “Oh, maksudmu orang itu?”

 

Ia mengangguk. “Ada sesuatu yang dia ingin kau lakukan.”

 

“Apa itu?”

 

“Aku pun tidak tau hal apa yang dimaksud, dia hanya bilang kalau dia butuh bantuanmu.”

 

“Bagaimana bisa aku membantunya kalau aku tidak tau apa yang harus kulakukan?” tanyaku sedikit kesal. Apa sih maksudnya orang ini?

 

“Ini..” dia menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat padaku. “Datanglah kesitu dan carilah dia.”

 

“Kalau dia butuh bantuanku, kenapa aku yang harus repot-repot mencarinya? Shireo!” jawabku ketus.

 

“Sudahlah, apa salahnya sih kalau kau yang mencarinya? Lagian, kau juga sedang tidak ada pekerjaan lain kan?”

Aku mendelik. “Jangan bicara seolah-olah aku ini seorang pengangguran, hyung.” Kataku sembari mendengus kesal.

 

“Aku tau kau punya pekerjaan, yang kumaksud adalah pekerjaan yang satunya.” Ujarnya.

 

Ya, aku Kim Jongin, pemuda tampan berusia 19 tahun ini punya 2 buah pekerjaan yang berbeda. Dan kau pasti terkejut jika ku beritahu apa pekerjaanku sebenarnya.

 

“Sudahlah, kau tidak akan menyesal kalau bekerja sama dengannyaDia selalu memberikan bayaran yang pantas.” Katanya, lalu beranjak dari tempat duduknya.

~O_O~

Aku melangkahkan kaki memasuki sebuah bar. Alamat yang diberikan oleh Myungsoo hyung ternyata adalah sebuah bar. Mirip dengan sebuah sarang mafia yang diceritakan dalam film. Beberapa orang bodyguard berbadan kekar sudah bersiaga di depan pintu masuk. Jelas orang ini bukanlah orang sembarangan.

 

Sebenarnya tempat-tempat semacam ini sudah tidak asing lagi untukku. Mengingat pekerjaanku yang mau tidak mau mengharuskanku untuk bertemu dengan klienku di tempat seperti ini.

 

Salah satu bodyguard yang kutemui di pintu masuk tadi mengantarku ke lantai dua. Dari tempatku berdiri, kulihat seorang laki-laki yang duduk santai di sebuah sofa sembari memegang segelas wine. Dari penampilannya, kurasa dialah orang yang dimaksud Myungsoo hyung. Klienku.

 

Salah seorang diantara sekelompok orang berbaju hitam yang berdiri di dekatnya membisikkan sesuatu kepada laki-laki itu.

 

“Jadi, kau Kim Jongin yang diceritakan oleh Myungsoo?” tanyanya.

 

Aku membungkuk sedikit. Tanda mengiyakan.

 

“Kau memang terlihat seperti yang diceritakan Myungsoo. Gagah, tampan, dan sepertinya tidak takut apapun.”

Aku hanya tersenyum sedikit. Biasanya, jika ada yeoja yang memujiku seperti itu, aku akan tersenyum malu-malu dan pipiku akan sedikit merona. Tapi mengingat kalau yang memujiku ini adalah seorang bos mafia, sepertinya aku tidak akan terlalu senang.

 

“Namaku Huang Zi Tao.” Dia memperkenalkan diri. “Duduklah dulu, aku selalu ingin menyambut tamuku dengan baik.”

 

“Jadi.. ada sesuatu yang aku ingin kau lakukan untukku.” Ujarnya.

 

Aku masih diam, menunggu ia melanjutkan kalimatnya.

 

“Aku ingin kau membereskan seseorang.” Lanjutnya serius. Ekspresi wajahnya, semacam tersenyum, tetapi mengerikan.  “Seorang saingan bisnisku dari China. Kau bisa?”

 

Jangan terkejut, kan sudah kubilang kalau kau takkan percaya apa pekerjaanku. Ini dia. Kini kau sudah tau kan? Tunggu. Aku bukan seorang pembunuh bayaran. Pekerjaanku tidak sekejam itu. Pekerjaanku.. yah,bisa dibilang aku seperti seorang.. agen rahasia. Hanya sedikit lebih kejam.

 

Aku menyanggupi permintaannya, kemudian dia tersenyum puas.

 

“Berikan fotonya.” Perintahnya pada seorang ajudannya. Yang diperintah kemudian menyerahkan sebuah amplop padaku. Di dalamnya ada sebuah foto. Foto seorang pengusaha. Dibalik fotonya tertera sebuah nama, yang tak diragukan lagi pastilah nama orang itu.

 

‘Presdir perusahaan ******* (nama perusahaan disamarkan) Wu Fan’ aku membaca dalam hati.

 

“Aku tidak memintamu untuk melakukannya sekarang-sekarang ini. Karena kami sedang dalam persaingan ketat, akan terlalu mencurigakan kalau dia terbunuh sekarang.” ujarnya. Aku hanya menganggukkan kepalaku.

 

Ku dengar ponsel milik seseorang berdering. Salah seorang berpakaian hitam mendekat lalu menyerahkan ponsel itu pada bosnya.

 

Sejenak kemudian mataku sudah tak terfokus kepada foto yang sedari tadi kupegang. Melainkan pada seorang yeoja yang berada di seberang lantai dansa. Yeoja tercantik yang pernah kutemui. Sorot matanya sedikit cuek dan misterius, namun tampak menawan. Rambutnya yang hitam kecoklatan dibiarkan tergerai dengan indah. Matanya yang agak besar jadi sedikit sipit ketika dia tersenyum. Dan senyumnya manis sekali. Melihatnya tersenyum, aku juga sedikit tersenyum. Benarkah dia seorang manusia?

 

“Kau menyukainya?” pertanyaan tuan Huang tadi membuyarkanku.

 

“A..ah tidak. Tentu saja tidak.” Jawabku.

 

“Dia memang sangat cantik, sampai-sampai semua lelaki tidak dapat berkedip ketika melihatnya.”

 

Benar saja, ketika kulihat laki-laki yang berada di sekitarnya, semua memandangnya dengan takjub. Berarti bukan hanya aku yang silau akan peseonanya.

 

Napasku tertahan ketika kulihat dia berjalan kearahku. Mataku bahkan tak bisa berkedip seiring langkah kakinya yang melewati tempat dudukku. Lalu gadis itu duduk di samping tuan Huang.

 

“Jiyeon-ah, kenalkan. Ini rekan kerjaku, Jongin.” Tuan Huang memperkenalkanku pada gadis itu. Yang dipanggil Jiyeon kemudian menoleh kearahku, seakan-akan dia baru menyadari kalau ada aku disini.

 

Jiyeon. Ternyata nama gadis itu Jiyeon. Nama yang bagus.

 

“Jongin, ini Jiyeon.” Dia bicara lagi. Aku hanya mengangguk malu-malu. Dia tidak mengatakan apa-apa, namun memandang kearahku agak lama.Walau aku tidak berani menatap langsung kearahnya, lewat ekor mataku kulihat dia memalingkan wajahnya. Lalu dia.. tersenyum. Dia tersenyum?

~O_O~

Esok harinya aku datang lagi ke tempat ini. Tuan Huang yang memintaku untuk datang. Entah apa yang ingin dibicarakannya denganku. Aku juga tidak keberatan untuk datang. Karena.. gadis yang bernama Jiyeon itu. Sepertinya dia punya aura penghipnotis atau semacamnya, sampai-sampai aku tidak bisa berhenti memikirkannya.

 

Aku menuruni tangga perlahan sambil tertunduk. Lewat ekor mataku, aku tau ada seseorang yang berdiri di ujung tangga, bersandar pada pegangan. Pada awalnya, aku berniat untuk tidak menghiraukan orang itu. Namun sesaat kemudian aku mendongak. Bukan hanya mempersempit jalan, dia juga mengulurkan kakinya untuk menghalangi jalanku. Aku sudah hampir membuka mulut untuk mengocehi orang itu, tapi yang kulihat selanjutnya, membuat aku tak bisa berkata-kata.

 

Orang itu Jiyeon. Orang yang menghalangi jalanku. Aku tertunduk lagi, tak bisa menatap matanya. Dia lalu menaiki satu anak tangga. Kini kami berdiri pada anak tangga yang sama. Lalu dia membisikkan sesuatu padaku.

~O_O~

Aku sedang berbincang dengan tuan Huang ketika Jiyeon datang dan menyapa kami berdua. Aku yang tadinya sedang berbicara langsung diam dan menatap kearahnya.

 

“Adakah yang mau menemaniku berdansa?” tanyanya. “Bolehkah aku mengajaknya?” kini ia bertanya pada tuan Huang.

 

“Pergilah. Jongin, temani dia.” Perintah tuan Huang.

 

Tanpa ba-bi-bu lagi dia langsung menarik tanganku menuju lantai dansa. Tunggu, kenapa tuan Huang mengizinkan Jiyeon berdansa denganku? Bukankah Jiyeon ini ‘gadisnya’? Benar, kan? Tapi kulihat Tuan Huang tampak tidak keberatan melihat kedekatan kami berdua.

 

Sesampainya di sana, aku hanya berdiri diam sambil menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal. Dan hanya tersenyum malu sesekali melihat Jiyeon yang sedang menari dihadapanku. Ia menyentuh pundakku, bermaksud untuk mengajakku ikut menggerakkan badan, tapi aku tetap bergeming.

 

Kau tau, aku tidak terlalu pandai mengekspresikan perasaanku. Mungkin aku terlalu senang, atau gugup berada di jarak sedekat ini dengannya? Apa yang harus kulakukan? Aku mengedarkan pandangan kesekelilingku. Hanya ada orang-orang yang asyik berjoget ria dengan pasangan masing-masing. Tuan Huang juga sudah tak terlihat lagi di tempat duduknya. Mungkin dia sudah pergi karena urusan lain. Yah, kau tidak akan pernah tau apa yang harus dilakukan oleh seorang ketua geng mafia.

 

Setelah beberapa menit menemaninya –berdiri tanpa melakukan apapun-, tiba-tiba dia menarik tanganku menuju ke tempat duduk yang berada di dekat tempat kami berada.  Jiyeon lalu duduk, tapi aku masih tetap berdiri, kemudian aku segera duduk setelah ia mengisyaratkanku untuk duduk disampingnya.

 

Cukup lama aku terdiam tanpa melakukan apapun. Tapi kemudian Jiyeon menyentuh tanganku dengan satu jarinya. Membuatku mau tak mau melirik kearahnya. Dia terlihat semakin cantik jika dipandang dari jarak sedekat ini.

 

“Hei, apa aku terlihat begitu menakutkan sampai-sampai kau tidak mengatakan sepatah katapun?” ucapnya.

 

Lagi-lagi aku hanya bisa tersipu. “Ti..tidak. Aku hanya.. tidak mudah akrab dengan orang yang baru ku kenal.” Jawabku.

 

“Wah pipimu memerah! Kau manis sekali!” dia tertawa kecil mencubit pelan pipi kiriku. Yang kurasa semakin merah saja.

 

“Mungkin benar, kita kan belum pernah berkenalan secara resmi,” dia mengulurkan tangan. “Joneun Jiyeon. Park Jiyeon imnida.”

 

Aku menyambut uluran tangan itu. “Kim Jongin imnida. Senang berkenalan denganmu, noona.”

 

“Tidak, jangan panggil aku noona. Ku kira umur kita tidak terlalu jauh, bukan? Panggil aku Jiyeon saja.”

 

Aku hanya tersenyum simpul.

 

“Ya! Kenapa kau cuma senyum begitu? Kau masih gugupkah berada didekatku?” ujarnya yang tiba-tiba saja sudah menggenggam tanganku. “Kalau begini, sudah tidak gugup kan?” Lalu dia tersenyum.

~O_O~

“Baiklah, sampai ketemu nanti, Jongin-ah.” Dia menutup teleponnya.

 

Tiba-tiba saja aku sudah dekat dengannya. Kami bertukar nomor telepon dan kini kami sudah sangat akrab. Tadi pagi tiba-tiba Jiyeon menelepon dan memintaku datang kemari. Ke sebuah bangunan tua yang terletak dipinggir kota. Sebuah tempat yang kebanyakan dihindari oleh orang-orang.

 

Teman-temanku pernah berkata bahwa aku mempunyai insting yang kuat. Ketika ada yang mengincarku atau semacamnya, biasanya aku sudah dapat merasakannya. Begitupun kali ini. Aku benci mengatakannya, tapi perasaanku benar-benar tidak enak. Jadi tadi aku sengaja memakai rompi anti peluru -yang biasa kupakai ketika menjalankan misi- didalam kemeja yang ku kenakan. Kurasa tidak ada salahnya kalau aku berjaga-jaga.

 

Aku mematikan mesin mobil dan mengedarkan pandangan kearah gedung tua ini. Tidak salah kalau tempat-tempat seperti ini yang dijadikan markas oleh orang-prang jahat di dalam film. Baiklah, sepertinya aku terlalu banyak nonton film.

 

Tunggu, bukankah Jiyeon yang memintaku datang? Dia tidak mungkin berniat mencelakaiku, kan? Tidak, tentu saja tidak. Jiyeon tidak seperti itu.

 

Membawa seikat bunga mawar berwarna merah muda, pelan-pelan aku membuka pintu masuk gedung yang sedikit terbuka. Ya, Jiyeon pernah bilang kalau dia menyukai bunga mawar. Jadi kupikir, dia akan menyukainya.

 

Berjalan sedikit dari tempatku berada tadi, aku merasa seperti ada yang mengawasiku. Aku melihat sekeliling. Tidak ada seorangpun. Tapi aku tetap merasa ada sesuatu yang ganjil.

 

Sial! Aku meninggalkan senjataku di dalam mobil! Tapi aku tidak mungkin kembali kesana. Perasaanku semakin tidak nyaman, jadi aku harus segera menemui Jiyeon dan membawanya pergi.

 

Samar-samar kudengar suara jeritan. Kupercepat langkahku menuju ruangan yang pintunya sedikit terbuka itu. Dan benar saja, itu Jiyeon! Ternyata tuan Huang dan antek-anteknya yang setia telah menungguku.

 

Kulihat Jiyeon sedikit meronta ketika salah seorang bawahan tuan Huang mencengekram lengannya dengan kuat. Anak buah tuan Huang yang lain lalu mendekat kepadaku secara bersamaan.

 

Cih! Beraninya keroyokan.

 

Salah seorang yang berada di sisi kananku mulai melayangkan tinjunya. Aku berhasil mengelak dan menghadiahinya sebuah tendangan di perut. Kemudian yang lainnya mendekat. Aku tidak segan-segan melumpuhkannya dengan sekali pukul. Dalam sekejap, semua anak buahnya sudah mengaduh kesakitan di lantai.

 

Namun ada satu yang bangkit. Kemudian menodongkan pistolnya kearahku. Kuambil beberapa langkah mundur. Mencoba mengulur waktu sambil menyusun strategi. Aku benar-benar merasa bodoh karena tidak membawa senjata sama sekali.

 

Kulirik tuan Huang yang masih duduk anteng di kursinya sambil tersenyum puas. Lihat saja, sebentar lagi akan kubunuh kau!

 

Sepertinya orang yang menodongkan pistolnya itu masih amatiran, karena dia tidak juga menembakkan pelurunya. Segera ku manfaatkan kesempatan yang ada. Dengan mudahnya kurebut pistol itu, lalu dor! Kini ia sudah terjatuh bersimbah darah.

 

Aku segera membereskan yang tersisa. Tidak sulit, aku hanya tinggal menembak mereka saja, dan mereka sudah terbaring tak bernyawa.

 

Jiyeon. Aku harus segera menyelamatkannya.

 

Kuacungkan pistolku kearah orang yang memegangi Jiyeon. Ketika tuan Huang mulai bergerak, pistolku segera mengarah kepadanya.

 

Sialan. Dia membidikkan pistol yang dibawanya kearah jiyeon lalu tersenyum puas. Senyum yang memuakkan.

 

Tiba-tiba saja Jiyeon menyikut orang yang sedari tadi menahannya, lalu orang itu jatuh kearahku yang segera kulumpuhkan dengan satu temakan. Tapi begitu kutembak orang itu, kudengar ledakan pistol lain hampir disaat yang bersamaan. Tidak, itu bukan milikku.

 

Aku segera menghampiri Jiyeon yang gaun putihnya telah bersimbah darah, dan menangkapnya sebelum dia terjatuh dan membentur tanah.

 

Kutatap wajahnya yang sedang kesakitan. Dia tersenyum lalu membelai pipiku.

 

“Gwenchana,Jiyeon-ah.. Gwenchana.” Ucapku lirih, berusaha menenangkannya. Namun ia menggeleng. Tidak. Kumohon bertahanlah!

 

“Mianhae.. Jongin-ah. Jeongmal mianhae.. aku.. tidak berniat.. menjebakmu disini..” perkataannya tersendat-sendat menandakan nafasnya yang sudah tidak teratur.

 

Kurasakan sakit di bagian kanan punggungku bersamaan dengan bunyi ledakan pistol. Jiyeon terlihat ketakutan dan meneteskan air mata. Tangannya menggenggam erat lengan bajuku.

 

Matanya yang sayu perlahan menutup. Aku menggeleng. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Kumohon. Bertahanlah!

 

Seketika kedua mata itu pun menutup dan kehilangan cahayanya. Kueratkan pelukanku kepadanya, lalu mencium puncak kepalanya.

 

Dia pergi.

 

Kenapa kau tidak bertahan sedikit lebih lama? Kenapa kau tidak membiarkan aku mengatakan perasaanku yang sesungguhnya?

~O_O~

Aku berjalan gontai menuju mobilku. Sembari membopong sesosok tubuh yang sudah tidak bernyawa. Aku membuka pintu mobil dan membaringkannya di samping pengemudi.

 

[FLASHBACK END]

 

Sampai detik ini aku  masih merasa bahwa ini adalah mimpi. Aku telah mencoba untuk bangun, namun usahaku sia-sia. Ini bukanlah mimpi. Inilah kenyataan hidup yang harus kuterima.

 

Ku kemudikan mobilku dengan tatapan kosong. Kini aku hanya tinggal menunggu waktuku. Kugenggam tangan kirinya yang sudah mulai dingin. Dan mulai melepas peganganku pada kemudi. Kinilah saatku untuk mengakhiri semuanya. Tenggelam dalam mimpi yang tak akan berakhir. Bersamanya.

 

END

 

*nengok ke atas* yaampun ini fict gak jelas banget ya? mian, soalnya aku ga terlalu paham caranya ngedeskripsiin biar feel tegangnya dapet._.v

 

RnR yaa semuanya! Ini ff debut aku, jadi kritik sekecil apapun akan sangat berarti. Gamsahamnida ^^

Iklan

23 pemikiran pada “Hello Goodbye

  1. Wahhh kasian….deh…tpi ini kpendekan kak author…lain kali panjangin dikit ea…di tunggu kisah slanjutnya…keep writing kak author😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s