Open Mermaid (Chapter 1)

Open Mermaid (Chapter 1)

Author : @TiaGupek

Main Cast:

– Choi  Yeon Sung

– Suho (Kim Joon Myun)

– Oh Sehun

 

Other Cast:

– Kim Jong In (Kai)

– Byun Baek Hyun

– Im Hyoni

– Park Minha

 

Genre : Comedy, romance..

Rating : >15

Bgm :     –  C-Real “Sorry, But I”

–          C-Real “No No No”

–          Apink “Step”

–          Apink “Like Dream”

–          Lagu yang reader suka juga gapapa, yang penting lagunya easy listening aja..

 

A.N. >> FF kedua aku, Cerita, plot, karakter semua punya author kecuali Suho, Sehun, Kai ama Baekhyun, mereka punya Tuhan sama orang tua masing-masing. Dan bukan punya SM Ent juga. DON’T TAKE MY ORIGINAL STORY WITHOUT ANY PERMISSION FROM ME. Hope you all like it and don’t forget to comment. Kamsahamnida. Thank you all *bow*.

HAPPY READING ALL….

 

 _______________________________________________

 

“Saranghae, nae yeojachingu…” pria itu mendekatkan wajah tampannya pada seorang yeoja di depannya. Lebih dekat, dan …

“Aaaaaghh, apa yang aku lihat ini. Drama sekarang tidak ada yang menarik. Aku kan masih dibawah umur. Aku ternoda dengan melihat hal-hal seperti tadi” teriak Yeon Sung, dan lekas-lekas ia mematikan televisi yang ditontonnya tadi. Yeon Sung merasa dirinya seperti orang bodoh karena sekarang halmoni-nya melihatnya dengan bingung.

“Apa yang kau lakukan hah? Bukannya sudah saatnya kau pergi. Cepat, jangan sampai terlambat!!” seru Halmoni Yeon Sung. Cepat-cepat Yeon Sung menyambar tasnya lalu berlari menuju garasi mengambil sepedanya.

“Halmoni, aku pergi dulu. Anyeong.. “ teriak Yeon Sung yang sudah mengayuh sepedanya dari pagar rumah.

Yeon Sung Pov

Dalam perjalanan menuju sekolah aku melihat sepasang murid sekolah lain, dengan mesranya bergandengan tangan. Ah.. aku ingat adegan di drama tadi, mungkin akan sangat menyenangkan memiliki seorang namjachingu .Aku.. aku mana punya seorang kekasih, tapi hidupku juga indah karena ada halmoni dan sepeda kesayanganku ini.hehehe..

Kalian tau, aku pergi ke sekolah untuk berlatih drama bersama teman-teman dari club drama, kami akan tampil di acara perpisahan sunbae kami bulan depan. Baru satu tahun aku menjadi siswi Hanyang Senior High School dan menjadi anggota club drama pastinya. Mungkin kalian pikir aku berperan sebagai putri *Yeon Sung ke GR an … plakk/author di gampar Yeon Sung* tapi nyatanya, aku berperan sebagai ….. sebagai .. jeng.. jeng.. jeng.. *cepet napa thor* sebagai nenek sihir yang akan mencoba meracuni sang putri salju.

Aku merasakan angin musim semi semakin mendekat menggantikan salju musim dingin. Ahh.. aku jadi tak ingin pergi berlatih, sekali-kali bolos boleh dong.. kuurungkan niatku untuk berjalan lurus. Kumembelok ke arah sungai, aku suka dengan tempat ini karena di tepi sungai ada seperti pelabuhan kecil dari kayu yang biasa menjadi tempatku bermain, belajar, ataupun menangis. Kadang aku juga bisa melihat orang-orang  dengan kapal boat mereka, berkeliling sungai besar itu. Pelabuahan kayu yang sangat indah, tidak akan ada kapal yang berlabuh di sana karena pelabuah itu kecil dan sudah tua jadi aku akan merasa tenang jika berada disana. Pemandangannya juga sangat indah , banyak pohon-pohon besar dan juga bunga-bunga yang mekar karena memang sudah saatnya. Ah.. sebentar lagi aku kelas dua, aku ingan cepat-cepat bekerja jadi tidak merepotkan halmoni lagi.

Daerah tempatku tinggal adalah sebuah desa yang jauh dari Seoul, butuh waktu 4 jam perjalanan. Seperti biasa aku hanya melamun, bepikir tentang masa depanku nanti, atau tentang masa laluku. Aku hidup bersama halmoni sejak kecil, aku tak punya orang tua. Kupikir mungkin orang tuaku membuangku ke panti asuhan, tapi aku beruntung diadopsi oleh halmoni yang sekarang menjadi halmoniku. Halmoni berterus terang tentang masa laluku dulu, halmoni menceritakan semuanya.

Setelah kakek meninggal, halmoni tidak mempunyai teman hidup, keluarganya juga tinggal jauh darinya jadi dia mengadopsiku dan merawatku dari balita umur 3 tahun sampai menjadi gadis 16 tahun. Sedikit cerita tentangku, mungkin agak membosankan ya..

Author Pov

“Aaaaaaaaaaaaagh..” teriak namja yang tengah berdiri di perahu kayunya sambil mencoba menyeimbangkan dirinya agar perahu itu tidak terbalik.

Byurrrr..

“Aa.. eottoke?? “ Yeon Sung yang melihat kejadian tepat di depannya itu bingung, dengan segera tanpa pikir panjang ia menceburkan dirinya ke sungai. Yeon Sung berenang ke tengah dan mencoba meraih lengan namja itu. Namja itu sepertinya tidak bisa berenang, namja itu akan tenggelam. Dengan cepat Yeon Sung meraih lengan namja itu lalu berenang ke tepi tepatnya ke pelabuhan. Dengan suhah payah, berhasil juga Yeon Sung membaringkan namja itu di pelabuhan.

“Aa.. Eottoke, dia pingsan. Yaa, kau bertahanlah..” Yeon Sung menepuk-nepuk ringan pipi namja itu. Bingung karena namja itu tidak sadar, akhirnya Yeon Sung mendekat ke wajah namja itu. Lalu bibir mereka saling bertemu dan Yeon Sung meniupkan angin ke mulut namja itu mencoba memberikan nafas buatan. Yeon Sung menekan dada namja itu lalu, memberikan nfas buatan lagi dan menekan dadanya lagi.

“uhuk..uhuk.” namja itu sadar tapi masih terbaring, lalu dia pingsan lagi.

“Ehh,, aaa.. kenapa kau pingsan lagi.. “ teriak mendekat ke wajah namja itu. Lalu bibir mereka saling bertemu dan Yeon Sung meniupkan angin ke muluit namja itu mencoba memberikan nafas buatan. Yeon Sung menekan dada namja itu lalu, memberikan nfas buatan lagi dan menekan dadanya lagi.

“uhuk..uhuk.” namja itu sadar tapi masih terbaring, lalu dia pingsan lagi.

“Ehh,, aaa.. kenapa kau pingsan lagi.. “ teriak Yeon Sung histeris karena takut terjadi apa-apa dengan namja yang baru saja ia selamatkan.

“Hei,, tuan, apa kau sakit, mana yang sakit?” “tuan, bangunlah” Yeon Sung mengguncang-guncangakan bahu namja itu. Tapi tetap ia tak sadarkan diri.

 

Yeon Sung Pov

Hah.. hahhh.. aku lelah, tapi untung saja dia selamat. Aku tidak memperhatikan dia sebelumnya, dia tampan, hidungnya mancung, wajahnya terlihat bijaksana tapi kenapa ia tidak sadar-sadar.

Aku menyentuh hidungnya merabanya, bulu matanya juga. Aku menyukainya.

“Ttuuut.Tuut*ketara banget HP nya jadul,, wkwk/plakk* ” ah, suara ponselku membuyarkan lamunanku, aku berlari ke arah sepeda yang aku parkirkan di bawah pohon, kubuka ranselku, lalu membuka sebuah pesan.

Ya.. Yeonnie kenapa kau lama sekali, cepat kemari. Kalau tidak aku akan mengutukmu,, palli.

From: Hyo Ni

Hyyaa. . eottoke, aku harus latihan. Tapi bagaimana dengan pangeran ini, aku tidak bisa meninggalkannya. “Srek,, Srek..” aha.. sepertinya ada seseorang yang datang, kalau begitu aku akan pergi.

“Nae Hwangja,, Anyeong…” aku langsung berlari,  menyambar sepedaku sambil memberikan selamat tinggal kepada pangeranku. Aku akan bertemu lagi kan dengan mu?

“AAAAAAAAAAA.. Tolong ada seseorang pingsan disini” aku berteriak kencang agar orang yang datang tadi dapat membawa pangeranku dan merawatnya. Dengan cepat aku mengayuh sepeda.

 

At Hanyang Senior High School

“hahh,, Haahh.. Jeosonghamida,, saya terlambat” aku membungkukkan diriku meminta maaf pada semuanya.

“Kenapa minta maaf, kau tidak datang juga tak apa. Yang sedang latihan ini hanya peran putri salju dan kurcaci. Dan ada apa? Bajumu basah” Kata Ga Young Seonsengnim.

“Tapi, kata Hyoni aku akan dapat masalah kalu terlambat.. aku terpleset dan jatuh ke sungai Seonsengnim” aku menatap Hyoni dengan sinis.

“Hheheheh… kau kan harus menemaniku. Kenapa bisa terjatuh.. Pabo.” dia merangkul lenganku dan menoyor ubun-ubunku.

“kalau Yeon Sung sakit ke ruang kesehatan saja” Ga Youngseonsengnim menawarkan.

“ne, kamsahamnida..”

“Kasihan sekali Yeon Sung sayangku ini.. Aigoo .. mandi saja, aku membawa pakaian lebih” tawar Hyoni.

Akhirnya aku mandi di sekolah, berganti baju dan melihat sahabatku latihan dari kursi penonton, dia peran utamanya loh.. putri salju. Itu cocok untuknya, dia cantik dan pintar, idola di sekolah, anak orang kaya pula. Dia sempurna,, tiba-tiba aku teringat tentang namja itu.

“Yaa Tuhan.. Oh My God.. APA YANG AKU LAKUKAN.. OH TIDAK..” aku berteriak keras tanpa sadar

aku sedang ada di aula sekolah dan mungkin bisa mengganggu semuanya. Dan benar saja semua mata tertuju padaku.

“Yeonni,, waeyo? Kau aneh.. apa saat jatuh kau terbentur batu?”

“aaa heheheh, mianhae.. jeosonghamnida.. “ aku membungkuk minta maaf pada semua teman dan

seonsengonim. Aku hanya nyengir kuda..

Tunggu, aku lupa kenapa aku berteriak.. Oh My God. Ciuman pertamaku dengan pangeran tampan tadi.  Ahh,, aku agak geli mengingatnya,  tapi kenapa aku senang ya… heheh.

 

Hyo Ni Pov

Kenapa anak itu, aneh senyum-senyum sendiri. Dasar Yeon Sung aneh.. dia lucu tadi. Seperti biasa

agak ceroboh, konyol, dan bodoh. Tapi dia tetap manis, aku suka di yang sedang tersenyum tadi.

Heheheh..

Aku melihat ke arahnya lalu kembali dalam latihanku, .

 

Author Pov

“Kyyaaa… Tolong ada orang pingsan disini…” gadis itu berteriak .

 

Yeon Sung’s House

“Halmoni, aku pulang…”

“Cepat kau makan malam, aku sudah makan diluar”

“Nde.. halmoni makan dengan siapa?”

“anakku,..”

“Hah? Kalian bertemu? Wahh.. senangnya”

“Aku tau, kau.. heh, kenapa bajumu ganti?”

“Aku terjatuh di sungai nek,,, hehehe.. “ aku berjalan meninggalkan halmoni yang ada di ruang tengah.

“yaa. Kau ini sudah besar tetap saja seperti anak-anak,” halmoni marah dan mengejarku, dan berhasil memukul bokongku,. Aku terjatuh .

“ Halmoni .. Appo,, Hua,,” “Cepat .. makan, anak nakal.” Halmoni berjalan ke kamarnya di lantai bawah.

“oh iya,, ngomong-ngomong tentang sungai, halmoni ingat sesuatu,,,” “ Apa itu?” Yeon Sung berdiri sembari mengelus-elus bokongnya.

“ehemm.. kata tetangga sebelah ada seorang namja yang pingsan di sungai, untung saja di selamat,” halmoni kembali berjalan ke kamarnya.

Glekk,, suara ludah Yeon Sung yang mematung memikirkan tentang namja tampan tadi a.k.a pangerannya. Yeon Sung berjalan dengan lemas ke arah dapur untuk makan. Saat makan, dia meraba-raba dadanya, jantungnya berdebar tak karuan,.

“AAAAAAAAAhhhhhhhg,,, kemana, kalungku hilang… “ ..

 

Esoknya..

Hanyang Senior High School

“Hah.. malang sekali nasib kalungku.. kalungku hilang… huaaaaa..” ratapku saat waktu istirahat

sekolah. Hyoni menemaniku yang sedang galau ini, dia sedang sibuk dengan naskah dramanya.

Padahal dia kan pintar, tak perlu menghapal lain denganku yang hanya mempunyai otak sebesar biji

jagung. Aku anak yang bodoh,, ah.. tidak salah.. anak yang agak bodoh. Hyoni tetap berkutat dengan naskahnya, dia tak memperhatikanku walaupun tadi aku sudah merajuk.

“Yeonni, Yeon-ah,, sepertinya aku menyukainya..”

“Mwoya..? Nugu? Apakah dia tampan?” .” Sepertinya aku tergila-gila dengannya..”

“Nuguya?? Kai? Jongin? Atau Kim Jong In?” .”Bodoh … itu satu orang,,” Hyoni terlihat kesal. “Aku serius Yeon-ah..”.”Nugu?”.” Seperti yang kau tebak tadi, cantik..” ucap Hyoni agak kesal, mungkin dia sedang menutupi rasa malunya.

“Baguslah, kau menyukai namja yang tepat,, Chukkae!!, “

“Chukkae.. aku kan belum jadian dengannya..” aku hanya terdiam,mana mungkin Kai menolakmu,

kau kan yeoja paling diincar di sekolah pikirku dalam hati. Tunggu aku akan menceritakan tentang Kai, namja yang disukai Hyoni. Kai atau Kim Jong In, namja yang berperan sebagai pangeran dan juga ketua club drama kami. Dia tampan, jenius, orang tuanya juga kaya, pujaan banyak wanita apalagi saat bermain basket. Saat ia menjentikkan jari saja para yeoja akan mimisan paling parah sampai pingsan. Hehehe… tapi tidak denganku, dia bukan tipeku, meneurutku Kai memiliki aura playboy. Tapi mungkin perasaan Hyoni akan terbalas, aku yakin.

Aku terus memikirkan pangeran yang aku tolong kemarin, bagaimana keadaannya ya…

 

Suho Pov

“Kamsahamida.. jeongmal kamsahae..” aku membungkuk hormat pada orang yang menolongku kemarin. Seorang yeoja yang akan menjadi teman satu sekolahku.

“Ceonma.. Suho-ssi, tidak ada barangmu yang tertinggal kan..” ucapnya lembut.

“aniyo, Minha-ssi… apakah ada barangmu yang hilang? Aku menemukan sebuah kalung” kataku

sambil mengeluarkan kalung berbentuk tetesan air dengan ukiran dari saku celanaku *bayangin aja kalungnya kayak kalung simbol air punya suho di MV MAMA*. Aku yakin orang yang telah menyelamatkankulah pemiliknya. Mungkin dia orangnya, aku sangat berhutang budi padanya.

“Wahh.. kau menemukannya…. gomawoyo..” dia mengambilnya, tapi kenapa aku agak ragu untuk

mengembalikannya ya.. kau ini berpikir apa tampan, pasti kalung ini miliknya tidak mungkin punya orang lain, rutuk Suho pada dirinya.

“Yasudah, aku pergi,, kalke.. Gomawo sudah diizinkan untuk menginap disini,,”

“Anyeong Minha-ssi..”. “Anyeong” dia tersenyum, aku pergi.

Aku bingung akan kemana, aku tidak suka desa ini. Tapi aku suka Minha, dia malaikaiku.. ah tidak dia

mermaid-ku… Aku tidak ingat apa yang terjadi kemarin, aku hanya ingat seorang gadis dengan kucir kudanya telah menyelamatkanku,dia sangat cantik tapi aku tidak ingat wajahnya. Aku hanya ingat wajah Minha, saat aku terbangun aku hanya melihat wajah Minha, mungkin dia juga yang menyelamatkanku di air. Tapi aku agak ragu..

 

Park Minha Pov

Kalung apa ini, tanyaku dalam hati. Aku menerimanya karena mungkin aku akan bertemu dengan

Suho lagi, mungkin juga dia merasa berhutang budi dan aku bisa lebih dekat dengannya. Aku berbohong padanya, tapi tak apalah. Kemarin aku sedang berjalan di dekat tepi sungai untuk sekedar berjalan-jalan saja tapi aku mendengar teriakan seorang yeoja, aku terkejut dan langsung menghampiri asal suara. Tapi aku tidak menemukan siapa-siapa, hanya ada Suho yang tergeletak di ujung pelabuhan itu. Itulah kenapa Suho bisa berada di rumahku.

Dan mungkin kalung ini milik yeoja yang berteriak itu, kalungnya sangat indah. Maaf, tapi Suho milikku sekarang..

“Brukk..” aku merebahkan diri di kasur kamar khusus untuk tamu di rumahku, semalam Suho tidur disini. Ahh.. aku tidak sabar bertemu dengan dia lagi, baunya masih tersisa.. aku sangat senang di sampingnya. Lama-lama aku memejamkan mata dan tertidur.

 

Hanyang Senior High School, 1 month letter

“Aku mencintaimu putriku, maukah kau menjadi permaisuriku??” tanya sang pangeran sambil memegang lembut tangan sang putri. Sang putri salju tersenyum manis tanda menerimanya

“Aku bersedia pangeranku..” . Putri Salju dan Pangeran berpelukkan dan Pangeran melepaskan pelukannya lalu mencium kening sang pujaan hatinya.

“Prookkk, Prokk, Prokk..” suara tepuk tangan penonton membahana seraya tirai panggung tertutup, ada juga yang menangis terharu. Pertunjukkannya sangat sukses, Gayoung seonsengnim juga sangat puas akan penampilan anak didiknya tersebut.

 

Yeonsung Pov

“Wahh, apa-apaan ini, mereka berdua sangat menikmatinya,” rutukku karena melihat Hyoni dan Kai masih setia berpelukan, padahal tirai panggung sudah ditutup tanda pertunjukan drama sudah berakhir.

“Omona.. Nae Hwangja..” aku melotot tidak percaya karena aku melihat pangeranku, pangeran yang aku selamatkan kemarin. Dia berjalan ke arahku dan aku pun menghampirinya.

“Yaa, dasar penyihir jelek, apa yang kau lihat.. menghalangi pandanganku saja. Apa yang kau lakukan minggir sana aku ingin lewat!!” dia berteriak dihadapanku dan menarik pinggir lengan jubahku agar aku menyingkir dari hadapannya.

“Nae hwangja.. “ suaraku parau, aku terisak ingin menangis rasanya diperlakukan seperti itu.

“Apa katamu,, dasar penyihir jelek. Dia adalah pangeranku, dan aku adalah putrinya. Kau tidak pantas menyebutnya seperti itu..” seorang gadis yng cantik tapi bermulut pedas ini mendorongku hingga jatuh..

“ Nae hwangja..” aku tak tau harus berkata apa hanya itu yang dapat aku ucapkan, bibir ini tak mau dikontrol untuk sebentar saja. Tangisku pecah.

“Biarkan saja putri, dia  hanyalah debu tak berharga.. Mari kita pergi dari sini” Pangeran merangkul gadis itu lalu pergi begitu saja, di ruangan ini hanya aku sendiri tak ada yang mendekatiku hanya sekedar tuk menolong. Semua orang pergi, aku masih terduduk di lantai dan menangis.. aku sadar aku tidak pantas untuk pangeran, aku sedih dengan hal itu. Apa tak ada yang seorang peri atau kurcaci yang menolongku? Ahh.. aku lupa aku seorang penyihir jahat yang tak berguna.

“ahh,, apa-apaan ini, kenapa aku jadi teringat mimpiku kemarin” aku berbicara sendiri sambil berganti baju karena sekarang mereka sudah jadian, em.. maksudku Hyoni dan Kai, aku seperti tidak diperdulikan lagi oleh Hyoni. Dunia ini hanya milik dua orang itu, sedangkan orang lainnya serasa ngontrak.

“Sedihnya hidup ini..” aku bernyanyi tidak bernada dan tidak jelas juga untuk sekedar penghibur lara. Untung mimpi itu hanya mimpi *apaan sih Yeon, lagi galau lo?*, aku akan sedih sekali juga itu benar terjadi.. huft..

Aku keluar dari ruang ganti aula, aku juga sudah membersihkan make up penyihirku. Aku sudah cantik lagi… *ueeekk, cantik dari mana Yeon?/Plakk, author di gampar T,T*

“Yeonni, tunggu sebentar.. “ Hyoni menghampiriku, aku menoleh.

“Apa kau tak mau melihat penerimaan siswa baru, ayo kita ke sana. Aku ingin melihatnya”

“Kau kan bisa bersama jagi-mu itu.. huh”

“Aiss, apa-apaan kau ini, kau cemburu.. hahahaha..”

“Jangan tertawa, tidak lucu.. weekk” merhong..

“Habisnya kau itu…, ah, sudahlah Kai sedang ada kerjaan . ayo temani aku..” dia mulai manja-manja denganku, aegyo-nya itu. Aku bergidik ngeri.

“Masa kalau ada dia aku tidak diperdulikan, saat dia tidak ada kau buru-buru bersamaku lagi. Kau jahat!! Kau anggap apa aku.. hiks hiks” aku pura-pura menangis untuk mengerjainya.

“Itu urusanku, Mian.. Yeon, aku tak ada waktu main untukmu. Mianhae..” aegyo-nya muncul lagi.

“ahh… gwenchana.. tak usah dipikirkan, aku bercanda.. kajja” aku menarik tangannya, ck dari pada melihat aegyo-nya itu terus-terusan.

 

Kami melewati lorong kelas satu di lantai bawah, banyak siswa-siswi calon murid di sini. Banyak sekali sepertinya tak seperti tahun pertamaku masuk dulu. Aku melirik Hyoni yang terlihat tertarik dengan sesuatu, sepertinya dia sedang mencari seseorang.

“Aaa.. Yeonni, lihat.. lihat itu di sana lihat Yeon..” teriaknya exited dengan menujuk-nunjuk seseorang, aku melayangkan mata dan mememukan orang yang dimaksud.

“Waeyo?”

“Lihat baik-baik bodoh.. “

“Mwo??”

“Ck, Ck, pantas kau belum dapat namjachingu… hah. Aku kasihan padamu yang tidak tertarik melihat namja tampan..” kata Hyoni, aku terus melihat namja yang dimaksud itu. Tanpa diduga tatapanku diterima olehnya, kami saling bertatapan. Aku melihat lurus ke matanya, matanya tidak terlalu sipit, hidung yang mancung, bibirnya tipis merah seperti boneka, kulitnya putih susu. Dia juga menatapku lama.

“Hyaa. Apa yang kau lakukan Yeon, kau mulai tertarik dengan pria?” perkataan  Hyoni menyadarkanku, aku cemberut lalu mengembangkan pipiku meniru kebiasan Hyoni juga sedang kesal.

“Diam kau putri, aku akan mengutukmu nanti.”

“Huh, Coba saja . ada pangeran yang akan membebaskanku” aku tau pasti Kai, Haahh,, indahnya kasih mereka.

“aaahh,, aku tak berani dengan Kai..”

“Eh,, sepertinya dia menyukaimu. Lihat, dia menatapmu terus. Yeon,, lihat”

Aku melihat ke arah namja itu lagi, “Hah,, perasaanmu saja, kajja ke kantin saja aku lapar,” aku menarik tangan Hyoni.

“Ck, kau membuang jackpot-mu.. payah.. uuuuu, merhong”

 

Author Pov

Sejak tadi dia tetap menatap kepergian yeoja yang sempat membuat jantungnya berkontraksi lebih cepat, yeoja yang menyita perhatiannya.

“Apa aku baru saja melihat seorang malaikat?” dia bergumam sendiri.

“YAA,, Oh Sehun, sedang apa kau melamun di situ. Cepat kemari..” seorang namja yang berrambut agak coklat membuyarkan lamunan namja yang bernama Oh Sehun itu.

“Apa aku bermimpi? Pukul aku Baek..” namja yang dipanggil Baek itu binggung dan berpikir sebentar lalu menampar Sehun dengan keras.

“Plakk..”

“Auuu.. Apa yang kau lakukan…” teriak Sehun meringis kesakitan mengelus pipinya yang kini berubah merah dengan cap tangan.

“Kau sendiri yang minta, dasar aneh. Kajja, Palliwa,”

“Tak perlu sekeras ini,” tapi tak apa aku sekarang sadar dengan apa yang aku lihat tadi, ini bukan mimpi. Yeoja itu mungkin akan menjadi sunbae-ku, aku menyukainya. Pikir Sehun.

“Hei,, Oh Sehun bergeraklah, semua siswa baru di panggil untuk berkumpul. Dasar orang kota aneh,”

“Nde..”

 

Another place, in Seoul

“Suho, eottoke .. apa kau menyukainya?” tanya seorang adjussi berperawakan besar tapi mempunyai wajah yang bijaksana seperti anaknya, Kim Joon Myun. Dia berjalan mendekati Suho dan duduk di sofa berhadapan dengan Suho.

“Aniya, Kim sajangnim…. aku benci berlama-lama di sana,” aku benar-benar membenci kampung itu, aboji memaksaku tinggal untuk belajar mandiri katanya. Mungkin jika bukan karena Minha aku akan kabur saja, karena Minha mungkin aku bisa beradaptasi, pikir Suho.

“Kau akan tinggal dengan halmoni, uang jajanmu akan aboji kurangi. Uang sekolah akan langsung Aboji bayar tiap bulannya. Jika kau kekurangan uang, kau harus bekerja. Aboji tidak mengizinkan kau untuk meminta uang dari halmoni, arraseo?” kini Kim Sajangnim mulai serius.

“Ck, bisa kah aku hidup sendiri..”

“Seseorang tidak dapat hidup sendiri, lagi pula kau akan mendapat seorang teman. Dan mungkin dia bisa menjadi anakku juga. Aboji berharap seperti itu…”

“Mwo? Kim Sajangnim, anda berusaha menjodohkanku?”

“Itu ide Halmoni-mu, dan aboji setuju saja..”

“Yeoja seperti apa yang Kim sajangnim harapkan untuk bersanding di sampingku? “

“Sesuai dengan pilihan halmoni.. Jangan harap kau kabur, Halmoni akan mendidikmu menjadi anak yang baik untuk melanjutkan perusahaan aboji..”

“Hah,, terserah saja..”

“Ingat kau tak bisa membawa mobilmu, hanya motor saja.. Kau dengar,” Suho berlalu meninggalkan kantor pribadi aboji-nya, keluar dari gedung mewah berlantai 50 dengan mobil mewah tentunya.

“Dasar, anak manja.. Sepertinya ia masih dendam denganku. Sebenarnya aku kasihan padanya,aku tak pernah ada waktu untuknya. Mianhae..”

 

On the Way

Suho Pov

“Selesai liburan aku akan berada di neraka.. Ck,, Ide macam apa itu halmoni,” rutukku, pandanganku masih tertuju pada jalan itu. Rasanya aku ingin bertemu Minha lagi..

Minha seorang yang cantik, tubuhnya langsing, rambutnya panjang  sepunggung dan bergelombang, mungkin sering berdandan, bicaranya juga manis, dan tidak sabar aku bertemu dengannya. Sekarang hanya dia yang dapat menghiburku, mungkin..

 

Yeon Sung’s House

Author Pov

“Hah,, Mwoya halmoni?” Yeonsung terkejut, tangannya yang memegang sumpit kini melepaskan sumpitnya.

“Jangan berteriak-teriak Yeon-ah, jangan kampungan.. “

“Jeosonghamida.. apa benar itu halmoni? Lalu dia akan tidur dimana? Dia umur berapa? Dia akan sekolah dimana? Apa dia tampan? Siapa dia Halmoni?” tanya Yeonsung tanpa spasi dengan mulut penuh nasi.

“Ck, apa yang katakan. Halmoni tak mengerti…Yang pasti dia tampan karena dia cucuku.”

“O” Yeonsung ber”o”ria tanda mengerti. “Dia akan tidur dimana?” mengingat hanya ada dua kamar di rumah mereka, Yeonsung was-was, masa dia harus sekamar dengan seorang namja yang mungkin sudah dewasa. Maksudnya sudah mengerti hal-hal seperti itu. *apaan tu Yeon?, yah itu deh Thor..*. rumah mereka kan kecil kamar halmoni di lantai bawah dekat dapur, ruang makan, ruang tamu agak depan dan ruang keluarga di sebelah ruang makan. Sedangkan kamar Yeonsung di lantai dua dengan kamar mandi dan sebelah ada ruang seperti perpustakaan kecil, biasanya sih buat Yeonsung baca-baca bukunya. Prinsip Yeon Sung “Walau IQ nggak tinggi tapi, membaca itu penting”. Rumah mereka kecil tapi halamannya luas, karena luas maka dibuat taman yang indah oleh halmoni yang pecinta tamanan.

“Mungkin denganmu..”

“What..*sok Inggris* halmoni,, halmoni bercanda..”

“Diam aku ingin makan, kau ini kebiasaan seperti anak kecil. Sadar, kau sudah besar..”

“Tapi.. tapi.. tapi..” Yeonsung hampir menangis hanya terisak dengan menggigit sendok supnya.

“Besok bantu aku bekerja di kebun Yeon-ah,”

“Hah?? Oo.. Nde..” halmoni mempunyai kebun apel yang sangat luas, ia sederhana tapi punya uangnya berlimpah. Anaknya punya banyak perusahaan, hanya anak tunggal.

 

Esoknya, di kebun apel

Yeon Sung Pov

“Haaahh, Haaahh,” napasku terengah-engah karena baru saja berlari jarak jauh untuk mengambil dompet halmoni yang tertinggal. Aku berlari lagi menuju kebun apelnya, sebentar lagi sampai. Buah apel akan dipanen saat musim panas setiap tahunnya, dan aku pasti ada di sini untuk memanen juga. Kebun apel ini sangat indah, tumbuh rapi berderet dengan pohon yang lumayan. Butuh tangga untuk dapat memanennya. Aku tak sabar lagi.

Ah, itu dia halmoni bersama dengan para adjussi dan ahjuma yang bekerja tetap di sini.

“Annyeonghaseyo.. annyeonghaseyo adjussi, ahjuma..” memberi salam seperti biasa, mereka orang-orang yang sangat baik.

“Wahh, kau sedang liburan Yeon-ah?” salah satu adjussi bertanya dengan ramah padaku.

“Nde…, Halmoni, dompetnya,” aku memberikan dompet pada halmoni dengan napas terputus-putus. Tunggu,, tunggu kenapa ada dua orang yang asing bagiku. Aku melihat binggung dua namja itu sambil memiringkan kepalaku. Yang kulihat hanya nyengir.

“Nuguya?..”

“Annyeonghaseo, mohon bantuannya. Baekhyun imnida.. Byun Baekhyun..” namja yang berwajah imut itu menyapaku, wahh.. dia lucu seperti anak kecil saja..

“Annyeonghaseyo, Oh Sehun imnida.. bangapsumida,” satu lagi,, aku sepertinya familiar dengan wajahnya, tapi siapa aku lupa.

“Mereka akan bekerja disini Yeon-ah, ajari mereka dengan benar. Mereka bekerja hanya untuk sambilan saja selama liburan. Arraseo,, anak nakal..” Halmoni mengacak rambutku lagi pergi ke kantor di depan kebun bersama dengan pekerja lain, aku ditinggal dengan dua orang baru ini.

“Nde.. algesseumida,,” aku menoloh ke arah dua namja kece ini dan tersenyum.

“Annyeonghaseyo, Choi Yeonsung imnida.. kalian harus menurut padaku, aku sunbae kalian..di sini,”

“Di sekolah juga” sehun berkata.

“Hahh, kalian siswa baru ya.. wahh, aku kira aku adalah maknae di sini. Posisiku diambil.”

“Kau tak ingat padaku,” sehun menatapku lekat-lekat.

“Kalian pernah bertemu? Aku di dahului dong..”

Aku berpikir sebentar, oh iya, dia yang waktu itu.. si boneka cantik itu. Hahaha.. dia cantik sekali.

“Kau Si boneka cantik itu, wahh.. dunia ini sempit sekali. Ternyata kita bertemu lagi, aku gemas dengamu. Kau cantik sekali..” Aku mencubit pipinya dan dia tidak berontak juga. “Omo, anak manis..”

“Apa yang barusan kau lakukan YeonSung-ah.. “ waahh, agak kurang ajar dia, aku kan lebih tua.

“Ck, Oh Sehun dan Byun,, Ehh, Byun nugu,,”

“Byun Baekhyun,, sunbae. Kenapa tak ingat namaku.. uaa, sedih”

“Mian, , Oh Sehun dan Byun Baekhyun, aku lebih tua jadi sebaiknya kalian memanggilku sunbae atau noona, arraseo? Jangan kurang ajar kau.. huh,” melirik tajam ke arah Sehun, hanya sekedar bercanda. Dia tersenyum.

“Kajja,, kita mulai bekerja..”

 

Oh Sehun Pov

Aku melihatnya lagi, beruntung sekali aku. Yeoja dengan rambut hitam panjang yang diikat satu, badan yang kurus dan mungil, senyumnya.. aku tak pernah melupakan itu. Ternyata dia jauh lebih mungil dari Baekhyun yang menurutku juga mungil. Heheh,, dia lucu sekali.

“Kau Si boneka cantik itu, wahh.. dunia ini sempit sekali. Ternyata kita bertemu lagi, aku gemas dengamu. Kau cantik sekali..” dia mencubit pipiku, aku bersyukur karena ia tidak lupa, meskipun agak lambat mengingatku. “Omo, anak manis..” bisa mimisan aku jika ia tak menghentikannya.

Aku masih terpaku dengannya. Dia menyuruh kami memanggilnya sunbae, aku tak mau sebenarnya karena yang akan ku panggil sunbae wajah dan sikapnya mirip anak umur 13 tahun. Sama dengan teman sebelahku ini..

Aku tertarik dengan pekerjaan ini karena aku suka apel, sangat suka. Ngomong-ngomong aku bisa tinggal di sini karena orang tuaku menitipkan aku di rumah temannya, yaitu ayah Baekhyun ini. Aku tak bisa protes, ini demi masa depanku juga. Mereka akan pergi ke Amerika karena urusan pekerjaan, sangat sibuk,, mereka sangat sibuk.

Hah.. panas sekali.. kami mulai bekerja. Yeonsung mengajari kami memetik buah yang matang, memilih buah yang berkualitas baik, dan caranya mengemas apel dalam box. Dia anak yang rajin menurutku, sabar sekali mengajari kami.

“Yahh,, Arraseo? Kalian belajar dengan cepat, aku saja harus belajar dua hari. Hebat sekali, kalian hanya satu hari.. “ bukannya kami yang belajar cepat, mungkin karena kau yang bodoh. Hahaha, yeoja ini..

“Ah,, sunbae memuji saja. Ini bukan apa-apa.. iya kan Hun-ah?”

“Molla..” aku langsung mendapat tatapan pembunuh dari Baekki.

“Ehm, bagaimana kalau kita ke pondok untuk mengemas apel-apel ini?”

“Baik.” Seru kami berdua bersamaan.

Aku dan Baekki mengangkat dua keranjang apel secara bersama-sama, dan dia mengangkat satu keranjang sendiri. Kuat juga dia.. kami lalu menuju pondok. Lalu  membereskan peralatan kerja kami seperti topi dan sepatu boots, kecuali sarung tangan.

“Wahh, kita dapat banyak..” Baekhyun sedang menatap kagum apel-apel itu seperti menatap kertas ulangan jika mendapat nilai sempurna.

“Ehm, kalian dapat membawa sebagian. Tapi sedikit saja, nanti halmoni marah padaku.. hehehe. Jangan beri tau sapa-sapa ya..”

“Jeongmalyo?” kata kami kompak.

“Nde..”

 

Apel Garden

“Hei, Apel sunbae… apa kau tak capek?”

“Hah.. Apel sunbae, nugu?” dia terlihat mencari-cari orang. Kami hanya berdua saja, Baek sedang memetik apel di sebelah deret pohon kami.

“Kau bodoh..”

“Hah.. aku? Tunggu.. apa maksudmu dengan bodoh dan apel sunbae itu..”

“Tak apa, hanya memberi nama kesayangan saja..”

“Haahh,, kenapa semua orang menganggapku bodoh. Aku kan lumayan pintar, ck..”

“Nde, kau pintar..”

“Jeongmal?.. “ dia terlonjak senang sambil melompat-lompat gaje.

“Kau pintar kalau tak bodoh saja..”

“Ck, kau sama saja..” dia tersenyum simpul tapi matanya jadi sendu.

“Tapi aku suka Apel sunbae.. itu bagus juga, kau pintar.” Dia tersenyum lagi.

“Nde, aku pintar .. tak sepertimu, merhong”. Dia memuluk punggungku pelan dan kami tertawa berdua.

“AAAAaaa,, TOLONG, IGE MWOYA? AAA” teriakan Baekki merusak suasana aja. Cepat-cepat kami berlari ke tempat Baekki. Aku melihat tubuhnya yang seperti ketakutan dan..

“Ahh,, kau takut itu..” Apel sunbae memegang mahkluk yang dimaksud lalu memberikannya pada Baekhyun, dan jelas Baekhyun langsung berlari ke balik badanku bersembunyi.

“Hahahah, kau takut kepik… hahaha,” dia tertawa dengan masih memeganga kepik yang aneh itu.

“Apel sunbae, lepaskan itu. Temanku hampir mati.. “

“AAAAaaa.. Baekhyun-ah, apa ini!!” dia malah mengejutkanku dan Baekhyun dengan mendekatkan kepik itu dengan wajahnya, sontak aku dan Baekhyun berlari-lari dan berteriak-teriak. Tak lupa diikuti oleh Apel sunbae yang berlari mengejar kami. Maaf, aku juga takut dengan itu.

“Hyaaa, Sunbae.. hentikan.. “ Kami berteriak bersama, sedangkan yang dimaksud masih mengejar kami.

 

Suho Pov

“Annyeonghaseyo Minha-ssi,” aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal ini untuk menutupi rasa tegangku. Agak sedikit tegang memang, mengingat sekarang aku mulai menyukainya.

“Annyeonghaseyo Suho-ssi, kau ke sini lagi ternyata” dia berkata sambil tersenyum manis.

“Emmh, bisakah kita tidak terlalu kaku dan formal. Lagi pula kita seumuran, panggil saja Minha. Arraci?” dia keluar dari pintu rumahnya.

“Arra, Minha-ya…” senang sekali rasanya bisa lebih akrab dengannya.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan, kumohon..” dia menangkupkan kedua tangannya sambil ber-aegyo ria. Omona, kyeopta. Yah, apa boleh buat kuanggukkan kepalaku.

“Kenapa kau datang ke sini lagi? Kau suka tempat ini?” tanyanya lembut.

“ah, kau tak suka rupanya aku datang lagi. Baiklah aku tau sekarang, kau mengusirku ya.. week,” pura-pura aku seperti itu, menggodanya sedikit tak apa kan.. tapi tak bisa dipungkiri aku benci di sini, mengingat kejadian dengan aboji.

“Ah jeongmal? Huh? Suho-ssi,” dia seperti agak marah tadi, ruam mukanya berubah drastis. Ternyata dia agak mengeramkan, apa dia tak tau artinya bercanda.

“Apa kau marah?”

“Ani..” dia mempercepat langkah kakinya, aku mencoba mengimbanginya. Benar-benar marah rupanya. Lucu sekali.

“hey, nona. Aku kan hanya bercanda,”

“…”

“Ehh.. ehhh kucing, kucing..” “awas awas..” suara namja dari sebelah kanan.

Tiba-tiba aku melihat ada sepeda dari arah kanan, dan akan menabrak Minha karena sepeda itu sedikit agak oleng.

“Akkkhh…” dia berteriak, aku dengan segera memegang pundaknya lalu manariknya agar tak terkena sepeda itu. Alhasil sepeda yang tadi akan menabrak oleng karena kaget juga dan mungkin orang tak tau aturan itu akan jatuh, dan benar saja dia jatuh. Rasakan itu. Orang yang dimaksud berteriak kesakitan juga yeoja yang dibonceng.

“Awas,gwenchanayo?” aku meneliti tubuhnya memastikan tidak ada yang lecet.

“hiks,hikss… emm,” dia menganguk dan langsung memelukku erat, serasa tidak  ingin ia ditinggalkan. Aku menurut saja.

“Aaaakk, appo.. Sehun-ah hati-hati, ini kan bukan jalan leluhurmu.” Sang yeoja yang dibonceng memukul pundak namja tadi, namun tak begitu keras.

“Ah, mianhae.. tadi ada kucing..” “Gwencanayo sunbae?” namja tadi memapah yeoja berkuncir kuda itu dengan hati-hati.

“Ahhh,, kucing kurang ajar..”

“Hey, apa yang kau lakukan? Kau membahayakan kami bocah” kataku keras agar namja itu mendengar. Tiba-tiba ia menoleh, dia melirikku tajam. Ternyata ia bukan bocah kurasa, seram sekali.

“Ah, sunbae kau berdarah…” dia memegang lengan yeojanya itu.

“Suho Oppa aku takut” Minha malah memeluk lenganku tambah erat dari yang tadi. *segitu amat neng…/langsung dapet tatapan tajam terpercaya dari Suho, cewe gw tu thor.. awas lu/ampun leader*.

“Emm, jinjja? Emm,  ini tak sakit kok..” yeoja itu berjalan ke mari dengan memegang lengan berdarahnya itu.

“Jeosonghamnida, jeosonghamnida..” dia membungkuk dan meminta maaf sedangkan namja tadi menghampirinya dan berdiri di sampingnya.

“Apel sunbae, obati dulu lukamu.. palliwa,” namja itu menarik yeoja itu. Sedangkan Minha tetap setia dengan pose seperti tadi.

“Aiissh, kau bocah.” Dia memaksa namja tadi membungguk dengan menarik lengan bajunya agar dia meminta maaf juga.

“Jeosonghamnida.. jeosonghamnida.” “Jeo song ham nida” namja itu mengatakannya pelan.

“Cepat nanti infeksi,” perhatian sekali dia, namja itu menarik-narik ujung baju yeoja tadi, sedangkan yang bajunya ditarik malah bengong melamun melihat ke satu arah, ke lihat arah matanya dan tertuju pada kalung tetesan air milik Minha. Dia terdiam lama dan seperti mengingat sesuatu. Tidak, dia seperti akan menangis, matanya agak berkaca-kaca, dan bibir mungilnya ia gigiti. Aku melihatnya, rambutnya terkucir tapi agak acak-acakan, dipipinya ada bekas tanah, tangan dan kaos kuningnya kotor, tangannya meremas celana jeans selututnya. Yeoja yang polos sekali, beda dengan yeoja yang masih terisak dengan memeluk lenganku. Minha yang anggun dan feminin dengan mini dress putih dan high heels, sedangkan yang satu hanya beralas sendal. Beda seperti langit dan bumi.

Dan sekarang tatapannya beralih kepadaku, matanya agak membesar seraya berkedip sekali. Dia menatapku seakan seperti anak kecil yang ingin permennya kembali.

“Sunbae.. palli, lihat banyak darah keluar. Kau ini bodoh atau apa? Hey noona?” namja itu menyadarkanku, dia khawatir sekali. Pantas saja, lukanya agak dalam sepertinya.

“Gwenchanayo Minha Sunbae? Kau terluka?” tanya yeoja itu dengan suara agak bergetar, matanya tulus sekali. Tunggu, mereka saling kenal?

“Sunbae…” dia balik menatapku. “Jangan menatapnya.. dasar petani kotor sana pergi,” tunggu, Minha yang lembut ini mendorong yeoja itu. Dan entah mengapa tanganku ini ingin menolongnya tapi terlambat karena Sehun, namja itu melewatiku. Dasar yeoja, apa-apaan ini. Ada juga sisi buruk Minha.

“Hey aggashi, apa maksudmu? Kau kan baik-baik saja, kenapa kasar sekali. Kami kan sudah minta maaf,”

“Hey tuan, jaga yeoja-mu ini. Tidak sopan,” Hey, apa yang baru ia katakan.

“Apa kau bilang, anak ingusan kurang ajar,” ck, dimana harga diriku dikatai seperti itu. Bocah sial. Kuremas kerah bajunya dan ia berusaha melepasnya dengan kasar.

“Hun-ah, hentikan.” Yeoja itu merelai kami, mendorong tubuh kami berjauhan. Sedangkan Minha meremas ujung lengan bajuku dan ia menangis lagi. Oh God…

“Jeosonghamnida sunbae…” cepat-cepat ia menarik sehun pergi.

“Cepat pergi…” Minha galak sekali, dia lalu menatapku, “Suho Oppa.. menakutkan sekali yeoja tadi, iya kan?” ck, yang menakutkan itu kau.

 

Yeon Sung Pov

Aku menarik Sehun dari tempat itu, tenggorokanku sakit, aku juga tidak bisa bernapas dengan baik. Tepatnya aku ingin menangis, rasa sakit di tanganku sama sekali tidak terasa, yang ada hanya rasa sakit di dalam sini. Di hatiku, pikiranku melayang kemana-mana tak bisa ku kendalikan. Aku menurut saja ditarik oleh Sehun. Seperti tau isi hatiku, Sehun berhenti berjalan menatapku, menatap mataku. Ada secerca kekhawatiran di dalamnya, dia tersenyum sesaat lalu merangkulku dan membimbingku lembut menuju sepedaku. Tadinya Sehun memaksa mengantarku pulang karena ada barang yang tertinggal di rumah, tapi tak disangka malah bertemu dengannya. Dengan keadaan seperti ini, mungkin Sehun hanya tau jika aku ingin menangis karena tanganku dan mungkin karena yeoja tadi, tapi sepertinya tak tau isi hatiku ini.

“Sehun-ah, jangan ke rumah. Pergi ke sekolah saja. Boleh?”suaraku akhirnya keluar dengan usaha kerasku. Aku duduk dibonceng olehnya, aku baru sadar Sehun juga seorang namja, punggungnya besar sekali. Tanpa sadar aku bersandar ke punggungnya, aku menangis tanpa suara. Aku malu jika ada seorang yang melihatku menangis, dari dulu. Sehun juga tidak menolak, tapi agaknya dia sedikit terkejut.

“Kenapa ke sekolah,”

“…” aku tak  bisa menjawabnya, nanti ketahuan aku menangis. Lama kami terdiam, kunikmati saja perjalanan kami. Angin berhembus pelan, matahari tidak terik hari ini, pohon-pohon besar melindungi perjalanan kami. Sehun tidak mempertanyakan hal itu lagi. Sedih sekali, benda keramatku dikenakan oleh Minha sunbae dan pangeranku juga bersamanya. Aku bingung sekali kenapa ia mengenakannya, kalung itu dibuat khusus karena halmoni memesannya sendiri dan itu merupakan desain miliknya. Pangeranku juga, ahh.. aku menangis lagi. Setelah sekian lama akhirnya bertemu lagi, senangnya ia terlihat sehat. Aku tau namanya, dia Suho.

 

TBC..

 

Gimana, nanti ada lanjutannya. Tungguin ya, maaf kalau ceritanya rada angong dan aneh, maklum aja belum pro. Hehehe,, semoga suka deh.. thanks all. Follow author yaw, @TiaGupek. Maaf promote bentar.. wkwkwk,. Maaf juga karena masih ada typo-typo bertebaran*pungutin typo bareng Sehun*. Thanks for you all, kamsahamnida, mathur nuwun, …….

Iklan

6 pemikiran pada “Open Mermaid (Chapter 1)

  1. author memang mau ngajak kelai ya?
    Lagi tegang2nya baca,eh-eh kena penyakit tulang..TBC kalimat yang dibenci reader waktu seru2nya baca.

  2. waaa lanjut….!!!
    si minha judes banget sih, ak setuju sama suho ‘yg nyeremin it minha bukan Yeonsung’-.-
    nama panggilannya si yeonsung lucu ‘apel sunbae’^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s