Is It A Battle? (Chapter 1)

Is it a battle?

Author :

 @kim_mus2

A big thanks to: @revina_shiro (nae yeodongsaeng)

Main Casts : Sehun & Ji Eun

Other Casts:

Kris, Chanyeol, Luhan, Baekhyun,

Sunhi, Jihyun

Length            : Twoshots

Genre  : Romance, Comedy, Action, Family

Rating : PG-17

Warning:

FF ini mengandung beberapa adegan kekerasan fisik dan bahasa yang agak keras. Jeongmal mianhae kalau ratingnya salah ya chingudeul.

Disclaimer:

Ide cerita FF ini murni 100% hasil imajinasi author abis nonton film mafia sama baca manga tentang Yakuza hehehe 😀

Author’s Talk:

Omaigosh! Ini FF bergenre Action pertamaku, mudah-mudahan gak gagal ya readers. Seperti biasa, FF ini aku campur sama komedi juga. Tapi kalo komedinya jadi garing tolong dimaklumi ya… soalnya udah biasanya garing kekekek 😀

Enjoy your reading… (^o^)

                                                                            ***

Chanyeol’s Side

Seperti biasa, pagi ini gadis muda itu pergi ke sekolah seperti siswa-siswa pada umumnya. Tapi, ada satu hal yang membuatnya unik dan istimewa. Dia puteriku dan dia cantik just the way she is.

“Yaa! Ji Eun-aah, pakai rokmu nak!” teriakku sambil berlari keluar dari rumah. Tapi sayangnya orang yang kutuju sama sekali tidak mengindahkan panggilanku.

“Sudahlah appa, anak itu memang kodratnya begitu… kita tunggu saja sampai dia jatuh cinta, pasti berubah.” Ujar Baekhyun santai sambil mengeluarkan motor sport putihnya dari garasi.

“Masalahnya, kapan Ji Eun akan jatuh cinta? Mana mungkin ada yang suka dengannya kalau penampilannya seperti itu.” Keluhku sedih.

“Tenanglah appa, adikku itu sebenarnya cantik ko. Aku pergi kuliah dulu ya, annyeong!”

Bruuuummm…..

Anak-anak kita sudah besar yeobo… mereka berdua sangat cantik dan tampan. Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya. Tapi, apa yang harus aku lakukan sekarang? Anak gadis kita terlalu istimewa. Seandainya kau ada disini, tentu dia tak akan seperti sekarang ini. Maafkan aku tak bisa menjaganya dengan baik.

Kris’ Side

“Pengawal! Panggil Luhan dan Sehun.”

“Baik, tuan.”

Tok… tok… tok…

“Masuklah!”

“Selamat pagi appa.” Sapa kedua namja muda dihadapanku sambil membungkuk 90 derajat.

“Aku harap kalian sudah selesai makan dan latihan pagi.“

“Ne appa, kami sudah melaksanakannya” jawab Luhan. Dia anaku yang paling tua.

“Bagus, duduklah! kita minum teh bersama.”

“Appa, aku harus pergi ke sekolah sekarang. Jeosonghamnida.”

“Pergilah, lakukan yang terbaik.”

“Tentu appa. Kalau begitu aku pergi dulu.” Ujar Sehun, anaku yang paling muda.

“Bagaimana latihan pedang dan Kungfumu Luhan? Aku ingin hasilnya lebih baik dari keahlian menembakmu.”

“Hampir sempurna, appa. Tao suhu akan mengajarkan teknik terakhir hari ini.”

“Good job!”

Aku akan menjadikan anak-anaku, orang yang paling hebat dan kuat. Tak akan kubiarkan mereka menjadi sepertiku yang rapuh karena kehilanganmu, Sunhi.

Author’s Side

Saat Ji Eun memasuki gerbang sekolah, semua siswa sudah gaduh membahas beraneka ragam gossip tentang yeoja ini. Ada yang mengira Ji Eun adalah preman pasar, pengedar narkoba, penyuka sesama jenis dan bahkan kini ia digosipkan sudah berganti kelamin menjadi laki-laki.

Penampilan Ji Eun memang selalu membuat semua orang berfikiran negative terhadapnya. Tapi tak seorang pun dapat merubah Ji Eun, bahkan kepala sekolah sekali pun seringkali menitikan air mata karena gagal meminta Ji Eun untuk mengganti seragam celananya dengan rok dan merapikan kemejanya yang selalu ia biarkan keluar.

Suasana sekolah pagi ini semakin ricuh lagi saat seorang namja melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah. Tubuhnya yang tinggi dan tegap dengan kulit yang putih seputih susu tampak serasi dibalut dengan kemeja putih lengan pendek dan dasi hitam yang menjulur dari leher ke dadanya yang bidang. Rambut hitam kecokelatan setengkuk dan berponi yang menutupi dahinya ditambah dengan kacamata berbingkai hitam yang ia kenakan, memperkuat aura sang namja yang terlihat manis dan berkarisma. Dia adalah ketua OSIS sekolah ini. Ketua yang dikagumi seluruh warga sekolah ini. Wu Sehun.

Semua mata semakin terbelalak dengan sang Ketua OSIS saat dia melakukan sesuatu yang sangat tak lazim pagi ini.

“Selamat pagi nona Park Ji Eun…” sapa Sehun sambil merangkul pundak gadis bercelana panjang bernama Ji Eun itu.

“Lepaskan tanganmu dari pundakku!” Jawab Ji Eun dengan tatapan tak suka ke arah Sehun.

“Ah mianhae… kau tampak manis sekali pagi ini.” Ujar Sehun sambil menyunggingkan senyuman terbaiknya.

Ji Eun sangat dongkol dengan kelakuan namja yang tidak dikenalnya ini. Apalagi sekarang namja itu malah sibuk merapikan ikatan rambut Ji Eun yang memang sangat asal. Setelah merapikan rambut, Sehun berpindah pada kemeja yang Ji Eun kenakan dan mulai memasukan beberapa sisi ujung kemeja itu ke dalam celana Ji Eun.

Kelakuan Sehun ini sukses membuat perasaan Ji Eun bercampur aduk antara malu dan kesal. Terlebih lagi, dia merasakan frekuensi debaran jantung yang lain dari biasanya. Saat ini perasaan Ji Eun benar – benar jauh dari rasa nyaman. Baru kali ini dirinya merasa terancam oleh kehadiran seseorang.

“Yaa! Jangan coba-coba menyentuhku!” Teriak Ji Eun sambil menepis tangan Sehun dengan kasar.

“Kau memang tampak sangat manis kalau sudah marah begini, Ji Eun-aah” ucap Sehun sambil mengelus pipi kanan Ji Eun dengan lembut.

Ji Eun yang semakin takut dengan perlakuan namja di hadapannya itu langsung berlari sekencang mungkin menuju kelasnya. Pasca kejadian itu, semua siswa memandang Sehun dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Tapi, Sehun hanya membalas tatapan itu dengan senyuman mautnya yang lembut bagaikan senyum malaikat.

Ji Eun’s Side

Siapa namja itu? Benar-benar menyebalkan! Jangan sampai aku bertemu dengannya lagi. Dasar namja aneh!

“Anak-anak, bapak membawa hasil ujian matematika kalian. Bagi yang namanya dipanggil silahkan maju dan ambil kertas ujiannya di meja saya.”

Kim sonsaengnim sudah datang rupanya. Hari – hari membosankan akan segera dimulai.

“Park Ji Eun! Silahkan ambil hasil ujianmu.”

“Ne…” jawabku sekenanya sambil berjalan malas menuju bangku sonsaengnim.

“Ini hasil ujianmu, silahkan menghadap kepala sekolah sekarang. Beliau sudah menunggumu.”

Aku harus bertemu dengan nenek tua itu lagi? Kenapa dia senang sekali bertemu denganku sih? Ya sudahlah, paling-paling hari ini dia akan menceramahiku lagi. Aku tak peduli.

“Ne… sonsaengnim.”

(Depan Kantor Kepsek)

Baiklah. Lagi-lagi aku harus masuk ke ruangan ini. Kita lihat, apa yang akan nenek itu lakukan padaku.

Tok… tok… tok…

“Silahkan masuk!” Terdengar suara si nenek dari dalam. Saatnya aku masuk.

Itu namja aneh yang tadi pagi. Ada urusan apa si nenek dengan namja itu? Mencurigakan.

“Ibu ada perlu apa ya denganku?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Boleh ibu lihat kertas ulangan di tanganmu itu?”

“Ne” jawabku singkat.

“Aish, jeongmal daebakk Park Ji Eun! Kau dapat nilai 100 lagi nak. Ibu bangga padamu.”

Terserah kau sajalah nenek.

“Ji Eun-aah… aku ingin sekali kau berubah. Kau itu sebenarnya adalah gadis yang cantik dan pintar. Celanamu itu…”

Haah… aku tahu apa yang akan dikatakannya. Lagu lama.

“Jeongmal mianhaee sonsaengnim. Kalau aku harus merubah penampilanku ini, lebih baik aku keluar dari sekolah ini saja. Terima kasih atas perhatianmu. Saya pergi dulu.”

“Chankanman!”

“Wae? Kau namja yang tadi pagi kan?”

“Ne… Joneun Sehun imnida. Aku ketua OSIS tahun ini.”

“Ada urusan apa denganku?”

“Aku ingin bertaruh denganmu. Kalau aku bisa mengalahkan nilai matematikamu di ujian akhir semester minggu depan, kau harus merubah penampilanmu dan menuruti semua perintahku.”

“Kalau aku yang menang, apa keuntungan yang aku dapat?”

“Aku bersedia melakukan apapun yang kau minta, Park Ji Eun.”

“Baiklah! Aku pegang janjimu.”

Tantangan konyol macam apa ini? Namja itu pasti sudah berkomplot dengan si nenek tua. Akan kutunjukkan, kalau mereka sudah salah besar mencampuri urusan hidupku.

Author’s Side

Dalam perjalan pulang dari sekolah, Ji Eun kembali melihat pemandangan yang membuat tinjunya gatal. Seorang namja dengan brutalnya hendak melakukan tindak asusila pada seorang siswi SMA di balik semak-semak.

Jalan di daerah ini memang selalu sepi dan sering digunakan tempat balapan liar oleh banyak gang motor. Tapi herannya banyak siswi yang selalu saja melewati jalur ini. Sepertinya mereka sudah tertipu dengan paras tampan para anggota gang motor itu. Dengan keadaan seperti itu, terpaksa Ji Eun harus membereskan ulah gila para namjahidung belang di daerah ini hampir setiap hari.

“Yaa! Lepaskan yeoja itu!” bentak Ji Eun sambil menjambak rambut bagian belakang seorang namja hidung belang di hadapannya.

Bugh! Bugh! Bugh!

Hanya dengan tiga pukulan, namja itu langsung terkapar di tanah. Kemampuan bela diri Ji Eun semakin meningkat akhir-akhir ini. Semua ini berkat guru karate dan taekwondo pribadinya, Xiu Min, yang khusus didatangkan dari Cina.

“Kau tidak apa-apa nona?” tanya Ji Eun sambil membantu yeoja yang tadi diserang untuk berdiri.

Karena trauma yang dialaminya, yeoja itu langsung memeluk Ji Eun dengan erat dan menangis sejadi-jadinya.

“Tenanglah nona, semuanya sudah berakhir. Dia belum melakukan apa-apa kan padamu?”

Yeoja itu menggeleng kuat dalam pelukan Ji Eun dan melanjutkan tangisannya.

“Hey! Rupanya kau yeoja kesatria ya, Park Ji Eun.” Seorang namja berdiri di depan Ji Eun sambil melipat kedua tangannya di dada dan tersenyum manis ke arahnya.

“Sehun? Untuk apa kau mengikutiku huh? Pergi dari sini!”

“Shireoyoo! Tunggu, tangan kanamu lecet Ji Eun. Biar aku obati.”

Sehun langsung mengeluarkan salep penyembuh luka yang selalu ia bawa dalam tasnya. Namja ini benar-benar peduli dengan tubuhnya. Meskipun seringkali dia terluka saat latihan, tak ada seorang pun yang dapat melihat bekasnya, karena dia merawat lukanya dengan baik.

“Appo! Sudahlah hentikan, lecet seperti ini pasti akan sembuh dengan sendirinya.” Protes Ji Eun pada Sehun yang sedang serius mengoleskan salep di tangan kanannya. Tapi, Sehun tak menggubris perkataan Ji Eun dan terus melanjutkan aktivitasnya.

Mendengar dialog Ji Eun dan Sehun yang mempermasalahkan luka di tangan Ji Eun, yeoja yang ada dalam pelukan Ji Eun langsung melepaskan pelukannya dan meminta maaf pada Ji Eun.

“Eonnie… jeongmal mianhae eonnie, aku sudah membuatmu terluka.”

“Aku tidak apa-apa ko, tenanglah. Orang ini terlalu membesar-besarkan masalah.” Jawab Ji Eun sambil menunjuk Sehun yang masih saja asik dengan kegiatannya.

“Sudah selesai! Dengan ini, lukamu tak akan berbekas.” Ujar Sehun riang.

“Terserah kau saja lah! Ayo kuantar kau pulang nona.” Ajak Ji Eun pada yeoja yang ditolongnya dan meninggalkan Sehun yang masih membereskan salep miliknya ke dalam tas.

Keesokan harinya

“Ji Eun-aah… ayo makan siang bersama. Aku bawa bekal dari rumah, aku sendiri yang memasaknya loh.”

“Shireo! Makan saja sendiri!” Tolak Ji Eun sambil terus berjalan meninggalkan Sehun. Tapi Sehun tidak kehabisan akal dan terus mengejar Ji Eun.

“Ayo coba dulu ya… aahh… buka mulutmu, ayo… aah…” Sehun terus memaksa dengan menyodorkan sesendok bibimbap buatannya.

Karena sudah terlalu malu diperhatikan oleh semua orang di sekelilingnya, Ji Eun pun menerima suapan dari Sehun.

“Otte? Mashinne?”

“Ne….” Jawab Ji Eun singkat.

Keesokan harinya lagi

“Ji Eun-aah, apa kau sakit? Badanmu panas sekali. Aku beli plester pengompres demam dulu ya. Biasanya kau akan sembuh kalau sudah memakai itu.” Sehun benar-benar panik.

“Darimana kau tahu? Itu kan kebiasaanku waktu kecil”

“Ah… itu… kebanyakan orang kan bisa sembuh dengan plester itu. Kau harus segera sembuh, minggu depan kita akan UAS kan?”

Sehun langsung pergi keluar dari kelas Ji Eun menuju mini market sekolah mereka.

“Namja aneh.” Gumam Ji Eun sambil tersenyum.

Hari pengumuman nilai UAS

Akhirnya pengumuman nilai UAS pun tiba. Berbeda dari biasanya, untuk UAS kali ini Ji Eun belajar dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan nilai terbaik. Motivasi utama Ji Eun adalah agar Sehun menyerah untuk mengubah penampilannya sekarang ini.

“Ji Eun-aah… bagaimana nilai-nilaimu? Terutama nilai matematika… hehe” tanya Sehun dengan semangat.

“Percaya diri sekali kau ini. Nilaiku 100 ko, lihat saja sendiri!”

“Oh benarkah? Punyaku 150”

“Mwo? Bagaimana bisa? Tak ada nilai 150, jangan mengada-ngada. Pasti sebenarnya nilai aslimu 50 kan? Terus kamu tambah angka satu di depannya kan?” Ji Eun sewot, tak menerima kenyataan yang ada.

“Ani… Kim sonsaengnim memberiku 50 poin tambahan karena aku menyelesaikan semua soal dengan benar dalam waktu 15 menit.” (Part yang ini sama kayak adegan di manga Special A, ada yang tahu? Hehe, author lagi keingetan sama manga ntu)

“Aish!  Sonsaengnim benar-benar tidak adil!” Racau Ji Eun kesal.

“Jadi… apa kau siap merubah penampilanmu?” Tanya Sehun sambil tersenyum puas.

Ji Eun hanya bisa mengangguk lemas mendengar perkataan Sehun.

“Aku punya hadiah untukmu, tadaaaa…..” Sehun menunjukkan sebuah rok rempel berwana cream, seragam sekolah mereka.

“Aku tak mau! Shireo! Shireo! Shireo!” Ji Eun menyilangkan tangannya membentuk huruf X di depan wajah Sehun. Dia menolak keras rok pemberian Sehun itu.

“Kau sudah janji kan? Pokonya besok kau harus memakainya. Kalau tidak, aku sendiri yang akan mengganti celanamu dengan rok ini. Pilih yang mana?” tantang Sehun.

“Iiihh… menyebalkan!”

***

Di perjalanan pulang, Ji Eun kembali bertemu dengan namja yang ia pukuli tempo hari. Namja itu berdiri dengan tegap di tengah jalan dengan wajah menantang.

“Yaa! Kau Park Ji Eun kan? Apa kau masih ingat denganku?”

“Ciih! Kau namja mesum tempo hari itu kan? Mau apa kau?”

“Aku mau kau mati!” tegasnya.

Tiba-tiba segerombolan namja dengan motor sport hitam datang ke tempat itu dan berputar mengelilingi Ji Eun sambil mengayun-ayunkan tongkat kayu di tangan mereka masing-masing.

Bugh!

Ji Eun mendapat pukulan tepat di punggungnya dan berhasil membuatnya tersungkur. Saat Ji Eun mencoba bangkit, tongkat kayu lagi-lagi berhasil meruntuhkannya. Kali ini pukulan itu mendarat di pipi kanan Ji Eun dan darah segar pun akhirnya keluar dari ujung bibirnya. Ji Eun tak kenal menyerah, dia kembali bangkit sambil mengeluarkan rantai besi yang ia bawa dalam tasnya. Dengan lihainya Ji Eun mengibaskan rantai itu pada semua pengendara motor dan semuanya berhasil terjungkal dari motornya.

Melihat anak buahnya yang sudah terkapar di jalanan, namja yang ingin membalas dendam pada Ji Eun itu menjadi kalang kabut. Tapi akhirnya dia tersenyum puas saat menemukan sebuah pedang samurai yang dibawa salah satu anak buahnya tadi.

Nafas Ji Eun sudah terengah-engah. Sisa tenaga dalam tubuhnya semakin berkurang. Rantai besi yang tadi dapat dia ayunkan dengan mudah terasa sangat berat, tak dapat ia angkat sedikitpun.

“Kau tak bisa bergerak lagi kan nona Park Ji Eun? Sekarang aku ingin memberikan penawaran padamu. Kau serahkan tubuhmu atau kau mati oleh tebasan pedangku ini.” Namja itu terkekeh puas menertawakan penderitaan Ji Eun.

“Aku tak sudi melayanimu, dasar bajingan!”

Bugh! Praang…

Namja gila itu langsung terjatuh bersama pedangnya setelah mendapat hantaman hebat dan cepat dari seseorang. Tidak hanya sampai disitu, namja gila itu mendapat pukulan bertubi-tubi di seluruh tubuhnya menimbulkan luka lebam dimana-mana. Terutama bagian wajah, semuanya sudah tak berbentuk. Darah segar dari hidung dan mulut namja gila itu tak hentinya mengalir, bahkan nafasnya sudah hampir tak terdengar.

“Sehun… apa itu kau?” tanya Ji Eun dengan suaranya yang semakin melemah.

Namja itu berbalik ke arah Ji Eun dan benar saja, itu memang Sehun. Tatapan matanya yang kini tak tertutup bingkai kacamata itu kini terlihat begitu buas. Raut wajahnya yang selalu lembut kini terlihat menegang penuh amarah.

“Hentikan Sehun! Jebal…” pinta Ji Eun sambil merintih karena menahan rasa sakit di tubuhnya.

Seketika setelah mendengar suara Ji Eun, Sehun pun kembali dapat mengontrol emosinya. Ia bangkit dan berjalan mendekati Ji Eun yang terduduk lemas.

“Awas Sehun!” teriak Ji Eun.

Sreeettt…

Kibasan pedang berhasil merobek lengan kanan kemeja Sehun dan darah pun perlahan merembes pada kemeja putih yang dikenakannya itu. Robekan lengan kemeja Sehun membuat Ji Eun dan namja gila itu langsung terdiam.

“Kau… tato itu… Maafkan aku! Jangan bunuh aku!” Namja gila itu berlari terbirit-birit menjauhi Sehun.

“Sehun-aah… siapa kau sebenarnya? Tato naga itu, apa kau salah satu dari gang naga?” tanya Ji Eun terbata-bata.

“Benar.“ Jawab Sehun sambil tertunduk lesu.

“Jadi… kau adalah…” ucapan Ji Eun terputus dan kini badannya terkulai lemas dalam pelukan Sehun.

TBC

Iklan

78 pemikiran pada “Is It A Battle? (Chapter 1)

  1. huwaaaa special A class ya? aku nntn tuh anime sumpah seru bgt huehehehe. aaa aku suka sama ff genre kayak gini action2 romantis gmn gitu kekeke #apadah. haha pokoknya DAEBAK lah thor XD

  2. Jieun bener2 kayak cowok! Nggak bisa bayangin klo dia pake celana ._.
    Sehun anggota geng naga? Emang geng naga itu apa sih?
    Penasaran ama nextnya! Keep writing!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s