Lacrimoso (Chapter 4)

Author                           : Keybummie

Cast                             : Kim Jong In  (Kai)

Kris  ( Wu Yi Fan)

Han Seung-Hee

Genre                           :  Romance  / Angst / Action

 

LACRIMOSO

Part 4

Mendiang ibuku dulu bekerja sebagai desainer interior rumah, sehingga seluruh sudut di rumahku adalah hasil sentuhan tangannya. Hobi baruku jika kembali dari Tokyo adalah memandangi seluruh bagian dari rumah ini, mengenang sosok ibuku lewat interior interior mewah bergaya eropa yang memang merupakan design favoritenya. Dengan begitu, hatiku akan merasa tenang karena Ibu pasti akan menjagaku dirumah ini. Namun kini berbeda, aku duduk mematung di ruang tamu bernuansa merah-emas dengan jantung yang berdegup kencang . Tuan Lee berjalan mondar-mandir di depanku, dengan kening yang bertaut dan nafas yang memburu.

“Percobaan pembunuhan ?”

Aku mengulang perkataan Tuan Lee dengan nada tidak percaya . Shock mendera batinku ketika Tuan Lee memberitahuku tentang hasil investigasi kejadian kemarin, kejadian yang membuat Tuan Lee meningkatkan sistem keamanan rumahku menjadi 2 kali lipat. Bahkan kini ada 4 orang security guard yang berjaga tepat dibawah balkon kamarku .

“Bukan percobaan Nona, lebih tepatnya pembunuhan yang direncanakan” Tuan Lee kini berhenti mondar-mandir dan meralat pertanyaanku.

Aku meringis menahan sakit di lututku, sebuah luka hasil tersungkur di aspal tempo hari belum mengering, sehingga harus memaksaku untuk memakai dress putih tulang ini—aku benci memakai dress .

“ada yang menginginkan aku mati ?” Pertanyaan polos meluncur dari mulutku.

Tuan Lee mengangguk sambil memberiku sebuah stofmap berwarna cokelat. Refleks, mataku beralih menatap stofmap itu. Kubuka sampulnya dan kulihat berbagai foto sudut sudut sebuah gedung yang tampaknya diambil dari kamera CCTV .

“Peluru yang ditembakkan ke arah anda, berasal dari arah selatan. Staff saya sudah menelusuri semua gedung, dan menangkap sosok seorang pria di lantai 6 sebuah bangunan kantor yang belum sepenuhnya jadi. Padahal menurut GM kantor tersebut, lantai 6 masih terlarang untuk dikunjungi karena masih dalam tahap rekonstruksi .”

Tuan Lee mengakhiri penjelasannya dengan menghirup nafas banyak banyak.

Aku membolak-balik dokumen itu dan menjumpai gambar seorang pria yang membelakangi kamera .

“Kenapa hanya tubuh bagian belakang saja yang ada fotonya ?” Aku mendongakkan kepalaku dan menjumpai wajah Tuan Lee yang kembali mengeras .

“Dia menembak semua CCTV tepat ketika dia menyadari bahwa CCTV itu menangkap gambarnya.Foto yang anda pegang adalah foto terakhir sebelum semua CCTV di lantai 6 dihancurkan olehnya”

Aku memijit kepalaku mendengar jawaban Tuan Lee . Jadi ada orang yang berniat membunuhku? ada yang menginginkan aku mati ? siapa orangnya ? apa maksudnya untuk mencoba membunuhku ? Aku menggelengkan kepalaku, berusaha menghalau rasa pusing yang menyergap.

“Kita bicarakan ini nanti, sekarang aku mau ke rumah sakit”

Aku bangkit berdiri, dan sontak membuat Bibi Jung yang sedari td berdiri di belakang kursi berjalan mendekatiku sambil menyerahkan mantel merah jambu dan syal dengan warna senada .

“Nona, bodyguard akan mengawal anda dalam perjalanan” Tuan Lee berkata sambil mengekspresikan wajah yang tidak mengijinkanku untuk pergi .

Aku mengangguk. Tidak ada alasan lain bagiku selain menyetujui segala rencana keamanan Tuan Lee . Bibi Jung menyodoriku sebuah tas besar berisi berbagai macam buah, kotak makanan berisi bubur, serta 4 karton susu.

“Berikan ini padanya Nona, sebagai rasa terimakasih saya karena sudah menyelamatkan Nona Han tempo hari “

Hatiku terenyuh mendengar perkataan Bibi Jung . Kuraih pegangan tas itu, lalu kuberikan senyum terbaikku untuknya . Hatiku mendadak bergetar menyadari bahwa aku akan bertemu dengan pria itu lagi—hari ini. Sebenarnya jantungku sudah berdegup kencang sejak tadi malam, mengingat ini adalah pertemuan pertama kami sejak aku melepaskan tangannya di UGD Seoul International Hospital. Saat itu dia sudah pingsan , sehingga membuatku semakin histeris tentang keadaanya. Aku menggigit bibir untuk menenangkan diriku sendiri sembari melangkahkan kakiku memasuki mobil . Melambai singkat pada Bibi Jung, lalu menatap lurus kedepan sambil menautkan kedua tanganku erat erat . aku akan bertemu dengannya lagi .

 

L.A.C.R.I.M.O.S.O

 

Kamar 1024 .

Kakiku yang terbungkus stiletto hijau gelap mematung didepan pintu kamar VIP nomor 1024. 2 bodyguard yang sedari tadi berdiri dibelakangku berdeham agak keras, mempertanyakan mengapa aku perlu menghabiskan 3 menit penuh untuk hanya berdiri didepan pintu. Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu kudorong pintu itu perlahan .

Hatiku mencelos mendapati dirinya yang ternyata tidak sedang tertidur—meleset dari yang kuharapkan. Laki-laki itu kini sedang terduduk sambil menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur, sebuah majalah terbuka di pangkuannya. Kedua mata obsidian miliknya yang mungkin sedari tadi sedang terpaku pada majalah kini beralih menatapku .

“Anyeong-haseyo ..” Aku berkata lirih sambil melangkah maju .

Laki-laki itu tidak segera menjawab pertanyaanku, melainkan menutup majalahnya dan menatapku dalam dalam . Dalam hati aku merutuki kenapa membiarkan rambutku tergerai alih alih mengikatnya. Aku merasa tidak percaya diri ketika rambutku tergerai, itu mengurangi penampilanku.

“Ne , anyeong-haseyo “

Akhirnya dia mengatakan sesuatu . Darahku berdesir hebat mendengar suara beratnya . Aku memutuskan untuk duduk di sofa terdekat—menghindari salah tingkah.

“Cho-neun .. “

“Bagaimana keadaanmu ?”

Aku tersentak karena mendadak dia memotong perkataanku . keadaanku ? harusnya aku yang bertanya tentang keadaan nya …

“Aku .. aku baik baik saja . Justru aku kemari ingin mempertanyakan keadaanmu . Apakah masih terasa sakit ? ” Aku lega karena suaraku tidak bergetar ketika berbicara dengannya .

“ Lututmu sudah sembuh ?”

Refleks, aku meraba luka di lututku dan menatapnya dengan mata membulat . bagaimana dia bisa tahu ada luka di lututku ? bahkan sedari tadi aku berani bersumpah matanya tidak pernah lepas dari wajahku ..

“Ne ..”

Aku mengangguk singkat sambil berusaha mengatasi keterkejutanku . 5 menit selanjutnya berlangsung dalam diam , membuatku merasa canggung untuk menatapnya dan memulai suatu percakapan hingga pintu kamar kembali terdorong dan 3 orang berpakaian putih putih berjalan masuk . Aku berdiri lalu membungkuk ke arah dokter dan 2 susternya yang juga balas membungkuk kearahku .

“Kim Jong In-ssi ,, waktunya untuk mengecek lukamu”

Dokter itu berkata ramah disusul kedua suster yang langsung mengecek infus, menyiapkan perban dan alat alat lainnya, lalu bersiap membuka baju laki laki itu .

Aku geragapan dan membuat suara nafas tercekat hingga dokter itu mengalihkan tatapannya padaku .

“Apakah saya harus keluar ?” Dengan canggung kuarahkan jempol tanganku kearah pintu .

Dokter itu tertawa dan hatiku mencelos saat kulihat baju laki laki itu kini benar benar telah terlepas dari tubuhnya.

“Tidak usah Nona, kau boleh tetap disini, bukankah dukungan moril dari kekasih amat sangat membantu proses penyembuhanmu, Jong In-ssi ?”

Mataku membulat mendengar perkataan sang dokter . Kekasih ? kakiku nyaris melangkah keluar kalau saja pemandangan didepanku tidak mencegahku untuk pergi dari sini. Pundak sebelah kanan laki laki yang bernama Jong-In itu terbalut perban yang menyambung ke perut sebelah kirinya, hingga tampak seperti mengenakan selempang yang menempel di kulit . Ketika dokter itu berhasil melepaskan semua balutan perban, hatiku seperti diiris melihat luka jahitan sepanjang 6 cm yang melintang di bahu Jong-In .

Kakiku melangkah maju, mengabaikan tatapan Jong-In yang menatapku seolah bertanya apa yang akan kau lakukan ?

“Seberapa parah lukanya ?” Nada suaraku terdengar tajam dan menuntut ketika aku bertanya pada sang dokter .

“Peluru tidak bersarang di tubuhnya, hanya merobek kulit dan daging bahunya. Kemarin dia sempat kekurangan darah, namun semuanya sekarang sudah baik-baik saja Nona. Kau tidak perlu khawatir ” Dokter itu berkata riang padaku .

“Dia, bisa segera sembuh kan ?” Aku kembali bertanya .

“tentu saja, kini Kim Jong In-ssi sedang dalam tahap pemulihan . Tapi .. tetap saja luka jahitan ini harus dirawat hingga mengering . Untuk sementara waktu dia tidak boleh bergerak banyak .” Dokter itu mengakhiri penjelasannya lalu kembali memasang perbang selempang membalut bahu Jong-In .

Kini kualihkan pandangan ke arah Jong-In . wajahnya nampak mengeras menahan sakit akibat bahunya yang sedikit terguncang ketika dipasangi perban . Hatiku sedikit perih membayangkan rasa sakit yang dirasakannya .

5 menit kemudian dokter itu pamit pergi disusul oleh kedua suster asistennya . Sebelum pergi, salah satu dari mereka meletakkan kemeja rumah sakit Jong-In di tanganku, mebuatku mataku melebar yang dibalas oleh senyuman geli dari suster itu .

Apa maksudnya ?!?!

“Bisa membantuku memakai baju ?”

Suara beratnya tiba tiba menyadarkan keterkejutanku, membuatku sedikit terlonjak dan mengangguk kelewat antusias .

Dengan berhati hati aku melangkah lebih dekat padanya, kuputuskan untuk duduk ditempat tidur sambil beringsut lebih maju mendekati tubuhnya untuk membantunya memakai baju ini . Wangi tubuhnya menyapu lembut hidungku, membuat tangan tanganku sedikit terhenti . Dia mengerang pelan ketika aku sedikit mengangkat lengannya dan itu membuat raut wajahku menjadi panik .

“Aku baik baik saja” Dia berkata tenang ketika melihat raut wajahku . Jarak wajah kami yang tidak begitu jauh membuat nafasnya yang hangat menyentuh wajahku ketika dia berbicara .

Tanganku menyentuh tulang selangkanya ketika jari jariku bermaksud mengancingkan kancing teratas baju rumah sakit itu, mebuat jantungku berdegup kencang dan aku yakin wajahku pasti sudah memerah .

Hatiku sedikit merasa sedih ketika kancing terakhir sudah kukancingkan. Anehnya, aku tidak langsung berdiri dari tempat tidurnya .

Mianhaeyeo, na ttaemun-e dangshin-neun doengeo gat-ta . ( maaf, karena aku kau jadi seperti ini ) ” Aku menunduk dan berucap lirih . Kudengar suara decit tempat tidur ketika laki laki itu mengubah posisinya untuk bersandar di kepala tempat tidur .

“Kim Jong In-imnida .”

Sontak kuangkat kepalaku keatas dan kujumpai dia sedang mengulurkan tangannya kearahku. Sungguh, aku tidak mengerti jalan pikirannya .

“ Eh ? “ Aku mengeluarkan suara tanda tidak mengerti. Bukannya aku sedang berbicara serius padanya beberapa detik yang lalu ?

Na-neun, Kim Jong In-imnida . Ireumi mwo-jyo ? “ Dia mengulangi perkataanya sambil merubah raut wajahnya menjadi lembut .. dan .. tersenyum .. manis ..

“Han Seung Hee-imnida” Aku bersyukur kesadaranku cepat kembali dan kini tanganku menyambut tangannya . Tangan hangat milik seorang namja yang sudah menyelamatkan nyawaku. Namja yang entah bagaimana caranya kini mengubah raut wajahnya yang dingin dan angkuh, menjadi hangat dan menyenangkan.

muleup-eun, mianhae. Naega sisuhaji. ( soal lututmu, maaf aku tidak sengaja )” Jong In berkata sambil melihat perban yang menutupi lukaku.

Namun aku tidak mengikuti pandangannya melainkan terkejut mendengar perkataanya . Tidak sengaja ? apa maksudnya ?

Sago ? (Tidak sengaja ?) “ Aku mengulangi perkataanya. Dan kini sepasang mata hitam itu kembali menatapku.

“Ne . Aku sedang berlari menuju mobilku yang terparkir tak jauh dari tempatmu berdiri, namun aku hilang keseimbangan dan jatuh menubrukmu. Sekali lagi, aku minta maaf.”

Kini aku memandang wajah Jong In dengan ekspresi wajah tidak percaya .

“Jong In-ssi , luka dibahumu adalah luka tembak yang berasal dari seseorang yang akan membunuhku. Tujuanku kesini selain menengokmu , adalah untuk bertanya padamu mengenai detail kejadian kemarin. Kau .. kau .. neo ilbuleo nal bohoha-neun geos-eul mogpyolohaji anh-eun? (kau tidak ada tujuan untuk sengaja melindungiku ?) ” Kusadari, ada sedikit nada intervensi di suaraku .

Jong-In menggeleng sambil meluruskan tubuhnya .

“ Aku hanya tidak sengaja menubrukmu waktu itu. Dan aku tidak tahu bagaimana bisa peluru itu melukai bahuku tepat pada saat aku menubrukmu. “ Kai mengucapkan 2 baris kalimat dengan menatap mataku dalam dalam, seolah aku harus mempercayai kata katanya. Raut wajahnya yang hangat berangsur angsur kembali terlihat, walau aku belum bisa melupakan suara beratnya yang berusaha meyakinkanku.

Kini aku mematung sambil menatap kedua bola matanya yang juga sedang menatap mataku. Mencerna perkataan Kim Jong-In ,, membuatku menyadari satu hal .

“Sebuah kebetulan ?” Suaraku mengalun pelan, dan disambut oleh anggukan Jong-In.

“Kebetulan yang bagus bukan? Nyawamu selamat.” Jong-In kini kembali menyandarkan tubuhnya sambil meringis kecil karena bahunya sedikit tertarik.

Sontak, aku bangkit berdiri dan memegang bahunya, membantu Jong-In untuk kembali bersandar tanpa merasa sakit sedikitpun. Detik berikutnya aku merasa menyesal telah menyentuh tubuh Jong-In, karena kini kami terjebak dalam suasana tidak menyenangkan.

Kuputuskan untuk berjalan kembali ke sofa, mengambil tasku dan menatap wajah Jong-In yang memang sedang menatapku.

“walaupun hanya kebetulan, geulado gamsha-haeya (aku harus tetap berterima kasih).” Aku membungkuk selama sepersekian detik dan tersenyum kearah Jong-In walaupun dia tidak membalas senyumanku.

Dahiku mengerut melihat raut wajah Jong-In yang mengeras, seolah ingin mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan isi kepalanya . Dia menatapku dalam diam, bahkan tidak membalas ucapan terimakasihku. Kuputuskan untuk berjalan ke pintu, menarik gagangnya dan bersiap keluar ruangan ketika sebuah suara berat yang terdengar pelan mampu membuatku berhenti berjalan.

“walaupun hanya kebetulan, aku senang bisa menyelamatkan nyawamu”

L.A.C.R.I.MO.S.O

 

Pintu kamar rumah sakit tempat dimana aku dirawat perlahan mengayun tertutup, menyembunyikan sosok indah berbalut gaun putih tulang dibaliknya. 2 menit penuh kuhabiskan untuk menatap pintu itu, berharap akan terbuka kembali dan Seung-Hee akan berkata “anyeonghaseyo” dengan suaranya yang agak serak.  Ponselku mendadak berdering, mengagetkanku hingga bahuku sedikit terguncang. Sambil meringis kecil, kuambil ponselku.

“Yeoboseyo ?”

watashi wa. ( ini aku )” Mendadak, Kim Jong-In yang dulu hadir kembali setelah sempat berubah menjadi Kim Jong In yang lain ketika Han Seung-Hee berada disini . Kim Jong-In yang dingin, angkuh, kejam .. bengis .. kini sedang berbicara di telefon.

yoi senryaku, Kai . ( strategi yang bagus, Kai )”

Arigatou, Hosuto Kagiwara ( terimakasih, Tuan Kagiwara ) “

“ waktumu tidak begitu banyak, tinggal 5 bulan 2 minggu lagi. Gunakan waktu sebaik-baiknya untuk memulihkan keadaanmu. “ Suara berat Tuan Takeshi Kagiwara mampu membetot seluruh organ-organ tubuhku, dan kusadari bahwa aku sudah buang buang waktu selama 2 hari terakhir ini.

Masuta, watashi wa jibun no keikaku o shiyo shite mimashou ( Tuan, kali ini biarkanlah saya menggunakan rencana saya sendiri )”

Aku memejamkan mataku ketika mengatakan hal ini pada Tuan Kagiwara. Hening, tidak ada jawaban. Aku tahu dia marah, terkejut, dan tersinggung. Karena ini kali pertama aku mendebat perintahnya.

watashi wa shinrai ( aku mempercayaimu )”

KLIK !

Sambungan telfon terputus begitu saja. Meninggalkanku dengan sejuta pikiran yang berkecamuk. Sebuah fakta datang menyerang diriku—aku merindukan Han Seung-Hee.

L.A.C.R.I.M.O.S.O

 

Jari telunjukku mengetuk ngetuk stir mobil volvo silver yang terparkir persis didepan sebuah rumah mewah berarsitektur Eropa klasik, lengkap dengan pagar tinggi bercorak emas dan deretan mobil mewah yang terparkir di halamannya. 2 orang bodyguard bertuxedo hitam lengkap dengan earphone di telinganya berjaga diluar pintu gerbang . Kuberanikan diriku untuk keluar dari mobil, lalu bersandar di pintu mobilku. Seorang dari mereka menatapku dengan tatapan curiga, dan kubalas dengan tatapan tak kalah tajamnya.

“Hari ini nona ingin memakai Cherokee merah kesukaannya. Mobil yang lain tolong simpan di garasi. ”

Seseorang yang aku tahu sebagai pembantu dari seragam yang dikenakannya, memberitahu 2 orang bodyguard itu. Sontak, mereka berdua berlari kehalaman rumah setelah membuka pintu gerbang lebar lebar. 2 menit kemudian, sebuah cherokee saloon merah keluar dan berhenti tepat didepan gerbang, disusul dengan sesosok gadis berbalut gaun selutut berwarna oranye terang berjalan keluar ditemani oleh seorang pria bertuxedo abu abu.

“Hey !” Aku berteriak sambil berjalan mendekat kearah mobil Cherokee merah itu.

Gadis itu berbalik, membuat rambut cokelat bergelombangnya terkibas lembut, menambah kecantikan alami yang memang sudah terpahat di wajahnya.

“You ! “ Tangannya yang beberapa detik lalu sudah membuka pintu mobil, kini mengayun menutup pintu itu kembali.

What are you doing, here ? “ Dia berjalan kearahku, membuat langkahku terhenti. Aku tersenyum menang, karena sepertinya dialah yang akan berjalan menghampiriku, bukan aku yang menghampirinya .

Long time no see, right ? how ar .. Aww ! “

BUUKKK !!

Perkataanku terhenti karena tiba tiba saja tas yang menggantung di tangannya menghantam perutku. Beberapa orang yang berada di belakangnya sedikit terkejut dengan tingkahnya, lalu bersiap menghampiri kami ketika gadis itu berteriak pada mereka.

“DIAM DISITU ! INI URUSANKU !”

Gadis itu kembali menghadapiku . Aku menatap wajahnya yang luar biasa galak, sambil sedikit meringis menahan sakit.

“Berani-beraninya kau muncul lagi didepanku !!” Dia kembali berteriak . membuatku sedikit terlonjak . Harus kuakui, dia masih saja galak dan tangguh seperti saat terakhir kali kami bertemu.

Kugeleng-gelengkan kepalaku, berusaha untuk mengembalikan kesadaranku yang hilang entah kemana. Ayolah Yi Fan .. dia hanya gadis biasa .

“Aku tidak mau tahu ! pokoknya sebagai permintaan maaf, kau harus mentraktirku makan es cream hari ini ! “ Kini dia berjalan melewatiku, menuju mobilku yang terparkir tak jauh dari tempat kami berdiri .

Aku melongo dibuatnya. Apa-apaan gadis ini?? Kutatap bodyguard-bodyguard dan pembantu-pembantunya yang berdiri tak jauh didepanku, dan detik selanjutnya aku tersadar bahwa tidak ada satupun dari mereka yang berani mencegah gadis itu.

Aku berbalik, setengah berlari menyusulnya yang kini sudah duduk di jok depan. Berlari untuk menyusul Han Seung-Hee . Gadis yang entah bagaimana bisa menjadi orang yang amat sangat kurindukan .

Ya .. aku sudah gila .

“Permintaan maafmu diterima” Seung-Hee berkata sambil mengacung acungkan sendok eskrimnya didepan wajahku.

I never plan to say sorry to you ! “ Aku sedikit berteriak membalas perkataanya, membuat beberapa pengunjung restaurant es cream lainnya memandang kearah kami.

“ Hey, it’s all your fault. Aku harus cuti 1 bulan dari universitasku. See ? kau memang seharusnya meminta maaf padaku .” Seung-Hee kembali berkutat dengan es cream orange didepannya.

Aku menghela nafas panjang. Kehabisan kata kata untuk membalasnya. Lagipula, sampai detik ini dia memang belum menyadari bahwa aku sudah menyelamatkannya. Well, menyelamatkannya lalu berusaha untuk membunuhnya. Raut wajahku kembali suram menyadari fakta itu.

“Kau, kenapa mendadak menemuiku ?”

Seung-Hee menaikkan wajahnya dan menatapku. DEG ! darahku berdesir melihat mata cokelatnya yang terlihat begitu hangat, dibingkai oleh rambut cokelat lebat yang kebetulan hari ini dibiarkan terurai indah—favoriteku.

“Syalmu tertinggal di mobilku.” Aku menyerahkan tas karton yang memang sedari tadi berada disampingku padanya .

Seung-Hee menerima tas itu lalu merogoh isinya. Matanya menatapku heran menyadari ada 2 buah syal yang berada di tangannya.

“Kalau yang cokelat, ini memang punyaku. Tapi yang orange ?” Seung-Hee mengangkat syal orange terang bermotif macan tutul ketika bertanya padaku.

“Sengaja kubelikan untukmu. I think, it will be nice with your hair .” Aku kembali melahap es cream ku , alih alih menatap Seung-Hee kutundukkan kepalaku. Sebuah perasaan aneh yang kuketahui bernama malu menyusup kedadaku.

Aku tahu ini konyol, tapi syal itu sudah terlanjur kubeli dan akan sia sia jika tidak kuberikan pada Seung-Hee .

is it good ?”

Wajahku terangkat keatas mendengar pertanyaan Seung-Hee, dan kini hatiku serasa jatuh kebawah melihat syal orange menyala sudah terlilit cantik di lehernya.

Like what I’ve said. It’s match with your hair .” Aku kembali menundukkan wajahku, takut Seung-hee akan melihat perubahan ekspresi wajahku yang mendadak terasa panas.

My name’s Han Seung-Hee bytheway “ Seung-Hee mengulurkan tangannya padaku, dan kusambut uluran tangannya. Ini memang tidak adil, kami berkenalan padahal aku sudah tau namanya sejak dulu.

I’m Yi Fan .” Aku mengucapkan namaku pelan .

Seung-Hee melepaskan tanganku, meraih sendok dan kembali berkutat dengan sendoknya. Sementara aku? Apa yang aku lakukan ? memandanginya ? memandangi wajahnya ? jari jemarinya ? matanya ? aku bersyukur karena kami terdiam selama beberapa saat, memberikanku waktu yang leluasa untuk memandanginya .

“Hari ini, kau tidak ada acara lain kan ?”

Seung-Hee tiba tiba bertanya , membuatku sedikit terlonjak kaget dan membuyarkan keasyikanku memandangi wajahnya.

No .” Aku menjawab singkat .

Tiba tiba Seung-Hee bangkit dari tempat duduknya dan tampak bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Matanya menemukan mataku yang bertanya padanya.

“Temani aku kerumah sakit, ada orang yang ingin aku temui .”

L.A.C.R.I.M.O.S.O

Aku menekan tombol 4 di operator lift yang sekarang sedang kugunakan. Kulirik tubuh Yi Fan yang berdiri mematung di sebelahku dengan raut wajah tegang dan panik. Makin kuamati wajahnya, dan kusadari sebulir keringat jatuh dari pelipisnya.

Are you okay ?

Yi Fan sedikit terkesiap mendengar pertanyaanku, dan sedetik kemudian ekspresi wajahnya yang santai dan cool seperti biasa kembali terhias.

I’m fine “ Yi Fan menjawab pertanyaanku, lalu merapikan rambutnya yang kali ini tidak diangkat keatas, membuat dahinya tertutup oleh poni panjang dan sukses menyembunyikan ketegasan yang selama ini terukir jelas di wajahnya.

Lift berdenting lalu terbuka membiarkan aku dan Yi Fan keluar dan menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar nomor 1024. Kulirik Yi Fan yang kini berjalan di sampingku, wajahnya nampak tenang namun matanya seperti menahan sesuatu. Apa yang terjadi padanya ?

Ponselku mendadak berbunyi. Refleks, kuhentikan langkahku dan kurogoh ponsel didalam tasku. Yi Fan pun berhenti 2 langkah didepanku.

“Ada apa Tuan Lee ?’’

“Nona ! kami sudah menemukan identitas orang yang mencoba membunuh anda !”

Gelombang keterkejutan melandaku. Yi Fan mengernyitkan dahinya, penasaran mengapa mendadak raut wajahku berubah shock.

nugu-inga ? (siapa dia ?)” Bibirku sedikit bergetar ketika menanyakan siapa orang yang menginginkan aku mati .

“Dia hanya pembunuh bayaran Nona. Kami menemukan rekaman percakapan via telephone antara pria itu dengan seseorang yang kami simpulkan adalah orang yang telah merekrutnya untuk membunuh anda. Sejauh ini, penyadapan kami menghasilkan info bahwa pembunuh bayaran itu bernama Kris.”

Tuan Lee, berbicara cepat dan tergesa gesa. Mataku membulat dan darah berdesir kencang mendengar nama dari seseorang yang telah membuatku harus dijaga ketat 24 jam.

“ Kris ? ” Aku mengulang ‘nama’ yang diberikan Tuan Lee padaku .

Mataku bertemu dengan mata Yi Fan yang kini entah mengapa, terlihat begitu panik. Mungkin dia mengkhawatirkanku, atau mungkin sudah jengah menungguku. Namun entah mengapa peluh juga menetes dari dahinya, seolah sedang ketakutan.

“Tuan Lee, ada sesuatu yang belum kuceritakan padamu tentang mengapa aku tidak jadi berangkat ke Tokyo pada hari itu. “

Aku sedikit memiringkan tubuhku menjauh dari Yi Fan, karena entah mengapa hal yang akan kukatakan pada Tuan Lee kali ini kurasa agak sedikit pribadi.

“Apa maksud Nona ? “

“Hari itu, seseorang menarikku pergi dari bandara dengan alasan menyelamatkan nyawaku. Aku tidak mengerti apa maksudnya tapi apakah ada hubungan nya dengan Kris ? apakah ini artinya Kris sudah mencoba untuk membunuhku dua kali ?”

Hening. Aku tahu Tuan Lee pasti sedang shock diseberang sana. Nafasku memburu menanti jawaban dari Tuan Lee.

“Apakah anda tahu dimana lokasi orang yang telah menyelamatkan anda di bandara ?”

Aku menoleh kearah Yi Fan yang kini memutuskan untuk duduk di kursi sambil menautkan kedua tangannya. Dia meoleh kearahku, tersenyum singkat dan kubalas dengan senyumanku.

“Dia sedang bersamaku sekarang.”

Aku mendengar nafas tercekat Tuan Lee, dan kutingkatkan pendengaranku karena kini Tuan Lee berbicara cepat sekali.

“Nona, tanyakan hal ini perlahan padanya . “

KLIK !

Sambungan telefon diputus secara sepihak oleh Tuan Lee. Meninggalkanku dengan perasaan shock luar biasa kala nama sang pembunuh terputar di memori otakku. KRIS .

Sebuah tangan sedang mengaitkan kelima jarinya di jari jari tanganku, membuatku sedikit menghadapkan tubuhku dan menjumpai wajah Yi Fan. Perutku sedikit bergejolak menyadari fakta bahwa dia sedang menggenggam erat tanganku.

museun, munjega iss-nayo ? (ada masalah ?) “ Yi Fan bertanya dengan bahasa Korea khas dirinya. Aku teringat perintah Tuan Lee untuk menanyakan peristiwa bandara  kepadanya, namun entah mengapa sisi hatiku yang lain berkata jangan. Jangan bertanya, karena mungkin itu akan mengubah keadaan kami saat ini ..

“Apakah ada yang kau sembunyikan dariku ? “ sebaris pertanyaan meluncur dari bibirku. Pertanyaan yang bertentangan dengan akal sehatku sendiri .

Yi Fan membulatkan matanya, menatapku terkejut. Tangannya kini terlepas dari tanganku.

“Sesuatu yang sebenarnya ingin kau ceritakan padaku, tapi sampai sekarang kau masih menutupinya. “ Aku melanjutkan pertanyaanku melihat tidak ada jawaban darinya.

what are you talking about ? “ Kini raut wajah Yi Fan secara drastis berubah sedikit tertawa, menertawakan sikapku yang seolah menuduhnya, menertawakan wajahku yang mungkin berubah sinis, padahal kami baru saja tertawa tawa beberapa menit yang lalu.

Kesadaran seolah dilemparkan ke wajahku, membuatku menggeleng gelengkan kepalaku sejenak lalu tertawa kecil. Bullshit .. Yi Fan mana mungkin terlibat dalam semua ini ..

Sorry, my fault .” Aku kembali berjalan menuju kamar 1024 yang hanya tinggal beberapa jengkal dari tempatku berdiri sambil masih tertawa bersama Yi Fan . Tidak sekarang . Ya, ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan peristiwa bandara padanya.

Berbagai macam alasan bermunculan di kepalaku mengapa tidak menanyakan masalah itu kepada Yi Fan saat ini, namun ketika tubuhku berdiri persis didepan kamar 1024, aku tahu alasan utamanya adalah karena sebentar lagi aku akan bertemu dengan Jong-In . Senyumku secara otomatis mengembang menyadari fakta aku akan bertemu lagi dengannya. Jong-In .. Kim Jong-In ,, bahkan perih di lututku bisa hilang dengan sendirinya kala aku menyebut namanya.

“Kau mau menemui siapa ?” Kudengar suara Yi Fan mengalun lembut di telingaku. Tawaku kembali meledak seiring kebahagiaan yang membuncah didadaku.

“Bertemu orang yang kusukai . “ Aku berkata singkat padanya, lalu kudorong pintu itu dengan sekuat tenaga. Tidak menyadari bahwa, wajah Yi Fan berubah seolah sesuatu telah direnggut paksa darinya .

L.A.C.R.I.M.O.S.O

Readers .. mianhae author lama banget updatenyaaa T,T .. tapi tenang tenang !! fanfic ini bakal dibikin HOT dan SERU banget !! *promosi*

Akhir kata, ditunggu commentnya yaaaaa

 

Iklan

42 pemikiran pada “Lacrimoso (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s