Tell Me About Your Heart (Chapter 1)

title : Tell Me About Your Heart

author : chan0628 (@yeoja0628 on twitter)

main cast : park chanyeol, byun baekhyun, D.O kyung soo, Lay, oh sehun.

genre : romance, school life

leght : multi capter

summary : “apa aku telah dicampakkan?”

 

[NOTE] annyeong hasseyo all  . . . ini adalah FF ke… *author lupa* kesekian lah yang di post disini . . . genre tetep ya, dari FF pertama sampe yang ini tetep bawaannya sedih-sedihan mulu . . hehe . . . tapi jangan bosen-bosen yah baca FF author . . gomawo all and happy reading ok? 😀

________________________________________________

FLASHBACK baekhyunPOV

 

“annyeong hasseyo yeoreubeun park chanyeol imnida, japan saram imnida, bangapseumnida”. Kata namja jangkung itu mengenalkan dirinya di depan kelas. Jadi dia yang bernama park chanyeol? aku mendengar desas-desus tentangnya beberapa hari terakhir. Dia memang tampan seperti yang dikatakan rumor itu.

Aku memperhatikan gerak-geriknya usai ia memperkenalkan diri. Sesekali ia tersenyum dan mengangguk membenarkan pernyataan yang diajukan para siswi. Dia berjalan lurus, kemana ia pergi? Dimana ia memilih untuk duduk? Aku sedikit terkesiap ketika langkahnya terhenti.

“bolehkah aku duduk disini?”. Tanyanya. Aku sedikit terkejut, kenapa dia memilih tempat duduk kosong di sebelahku? Ada beberapa bangku kosong lainnya di kelas ini. Aku akhirnya mengangguk. Dia tersenyum, dan kemudian meletakkan tasnya di meja.

 

***

“hei, namamu baekhyun kan?”. Tanya seorang namja yang baru saja duduk di sampingku. Aku menoleh dan mendapati chanyeol ada disana dengan buku tebal yang masih tertutup di hadapannya. Aku mengangguk tanpa bersuara. “aku park chanyeol, senang bisa duduk di sampingmu lagi”. Katanya sambil mengulurkan tangan kanannya. Aku baru ingat, tadi kami belum sempat berkenalan karena  aku terlalu serius memperhatikan pelajaran yang di berikan. “baekhyun imnida”. Ujarku kemudian seraya menjabat tangannya.

“ah.. jadi sekarang kita teman ya? Kau adalah teman pertamaku di seoul”. Aku tersenyum kecil.

 

Flashback END

***

 Baekhyun POV

 

Aku kembali menatap langit malam ditemani hujan salju yang tak terlalu lebat. menatap ke sekeliling asrama yang tak seramai biasanya, pepohonan yang gersang dengan tumpukan salju dibawahnya, pemandangan musim dingin yang cukup familiar di mataku. Kesekian kalinya aku melewatkan hariku tanpanya. Entah seharusnya aku sedih atau kesal, aku sendiri masih tidak mengerti tentang apa yang aku rasakan.

“ya! Kau mencoba mengerjaiku lagi ya!”. Teriak seseorang dari kejauhan. Aku melipat kedua tanganku di depan perut, sambil sesekali meniup  salju yang jatuh melewati wajahku. Aku menoleh. “park chanyeol!!”. teriaknya lagi diiringi dengan sebuah bola salju yang melayang ke arah chanyeol. dia adalah D.O teman 1 kamarku bersama chanyeol sejak 2 minggu yang lalu. Ya, awalnya hanya aku dan chanyeol yang tinggal di kamar no. 33 lantai 4 itu, namun sejak D.O datang aku terpaksa harus berbagi ruang lagi.

Kubuang mukaku ke arah lain, “mereka lagi”. Gerutuku lebih pada diri sendiri. Aku berjalan pelan ke arah yang berlawanan dengan mereka, berjalan pergi ke tempat yang lebih tenang dari tempat ini. “eung!!”. Teriak salah seorang dari mereka, aku menoleh cepat. Sekejab wajahku menjadi dingin layakna ice cream ketika bola salju sebesar kepalan tangan itu hancur ketika membentur wajahku. Aku menghembuskan nafas sambil menutup mataku. Sungguh, ini benar-benar dingin dan sakit.

“baekhyun.. gwaenchannayo?”. aku membuka mataku ketika merasakan sentuhan lembut di pundakku, aku mendongak, park chanyeol. “gwaenchannayo”. katanya lagi. Aku terdiam dan melihat D.O berjalan santai ke arahku. “mian, aku tidak sengaja, tadi aku berniat untuk melemparnya ke D.O tapi D.O menghindar, jadi…. Baekhyun mianhaeyo”. Kata chanyeol dengan senyum yang tak bisa lepas dari wajahnya. Aku terkesiap, bermain dengan D.O? dia juga memanggil D.O dengan nama eung? Nama yang dia berikan untukku sejak kami resmi menjadi roommate tahun lalu. Aku menggeleng kecil dan memutar balik tubuhku kemudian berlari pergi, menghiraukan chanyeol yang terus memanggil namaku.

Hatiku hancur menjadi serpihan-serpihan kecil ketika mengingat kejadian tadi, hal sepele yang mampu melukis sebuah luka yang besar di hatiku. Sepertinya chanyeol memang sudah tidak peduli padaku. Sepertinya dia memang sudah benar-benar melupakanku.

“hei.. awas!!!”. Aku merasa tubuhku tertarik ke belakang. Sepasang tangan dengan erat mendekap tubuhku. Aku berputar dan menabrak sesuatu. “kau baik-baik saja?”. Aku tidak menyahut bahkan untuk sekedar mengangguk. Ia melepaskan pelukannya dan meletakkan kedua tangannya di pundakku. “kau terkejut? Apa perlu kubelikan minuman?”. Tanyanya lagi. Aku akhirnya menggeleng sebelum pria itu benar-benar pergi. “tidak terima kasih…. Lay?”.

“baekhyun? Kau kenapa? Berjalan sambil melamun, hampir saja kau tertabrak mobil. Kau ada masalah?”. Tanyanya lagi. Aku menggeleng. “aku hanya sedikit … emmh… bad mood”. Tangan kirinya menyibak poniku yang jatuh menutupi dahiku sedangkan tangan kanannya memegang dahiku. “tubuhmu dingin tapi dahimu panas. Jangan-jangan ini gejala demam? Ayo ke rumahku sebentar, aku punya sup rumput laut yang masih hangat di rumah”. Tangan kanannya beralih menyusup di sela-sela jemariku yang panjang. “sirreoyo lay-ah, aku hanya….”.

“sudahlah.. sepedaku ada di sebelah sana. Ayo, “. Lay menarik tanganku, aku tidak bisa menolak dan berjalan di sampingnya. “ayo naik”. Kata lay yang sudah stand by di atas sepeda mininya. Lay mengangguk seperti memberi isyarat untuk aku segera naik, perlahan kulangkahkan kakiku maju dan duduk di belakangnya.

 

Lay adalah teman 1 kelasku dulu, sebelum aku dipindah ke kelas khusus bagi murid beasiswa. Temanku sejak SMP. Lay tinggal tak jauh dari sekolah kami, karena sebenarnya ia tinggal di busan, ia menyewa sebuah apartemen kecil di dekat sekolah jung-sang. Aku pernah beberapa kali menginap di rumahnya, seperti biasanya rumahnya sangat sepi ketika aku datang.

 

***

“gomawo lay”. Kataku pada lay yang sedari tadi menemaniku. Kami sudah sampai di depan pintu kamarku. Suasana sedikit canggung. Apakah aku perlu menawari lay untuk mampir sebentar?

“ne, karena besok masih libur, aku akan mengunjungimu”. Kata lay sebelum tubuhnya berbalik dan siap pergi meninggalkanku. “ania lay-ah, tidak perlu. Aku baik-baik saja kok”. Kataku meyakinkannya, lay mengangguk pelan. “baiklah… kalau begitu aku pergi”. Aku mengangguk dan membuka pintu kamar berukuran 6mX 6m itu.

Aku melihat ke seluruh kamar, masih sepi, sepertinya mereka berdua belum kembali padahal hari sudah malam. Perlahan kulangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci mukaku, kutatap dalam-dalam pantulan diriku di kaca besar di atas westafel, apa aku telah dicampakkan? Segera aku menepis fikiran burukku dan berjalan keluar. Aku melempar sarung tangan merahku ke tepi ranjang dan duduk menatap lantai-lantai kamar. Sesekali air menetes dari ujung rambutku yang masih sedikit basah. Aku menghembuskan nafas panjang ketika bayangan chanyeol muncul di permukaan ubin.

“sepertinya aku perlu tidur sekarang”. Ku rebahkan tubuhku yang terasa sedikit lemas dan lelah bercampur menjadi 1 di atas ranjangku.

“selamat tidur eung”. Kata itu adalah kata terakhir yang kudengar sebelum tidur setiap harinya, kata yang diucapkan dengan sangat lembut oleh chanyeol hanya untukku. Aku memiringkan tubuhku menhadap ranjang susun kosong milik chanyeol dan D.O, biasanya saat aku terbangun dari tidurku aku akan nyaman di posisi seperti ini memandangi wajah polos chanyeol yang masih tertidur pulas. Dengan keputus asaan aku membalikkan tubuhku memunggungi ranjang kosong itu berganti menatap dinding putih.

“ah, lelah sekali D.o-ya”. Aku tersentak, hampir saja aku berputar lalu melihat ekspresinya. Suaranya yang ceria justru memberikan pukulan bagi gendang telingaku, aku tetap terdiam berpura-pura untuk tidur. “ah.. cuci kakimu yeol-ah, ayo cepat tidur sudah malam”. Kata D.O, aku menggigit bibir bawahku.

Beberapa saat kemudian, entah berapa lama, namun aku yakin itu tidak lama. Mungkin mereka benar-benar berfikir aku sudah tidur. Suara candaan kecil masih mampu ditangkap gendang telingaku, decitan ranjang sesekali terdengar diiringi desah suara chanyeol yang berat. Ya, chanyeol berada di ranjang bawah dan D.O di ranjang atas. Dan tak jarang juga chanyeol membangunkan D.O dengan menendang ranjang D.O dari bawah.

Aku masih mencoba untuk tidur dan tidak menyadari air mata menetes melalui pelipisku. Sungguh, rasanya benar-benar sakit mendengar tawa dan guraun chanyeol malam ini.

 

***

Kubuka perlahan kedua kelopak mataku ketika mendengar kegaduhan di kamar ini. Aku membalikkan tubuhku dengan segenap kesadaran yang ku miliki sekarang,samar-samar kulihat D.O berjalan keluar dan entah apa yang dilakukan chanyeol, dia memunggungiku menghadap pintu yang hampir tertutup sambil menundukkan kepalanya. “chan….”. belum sempat namanya kupanggil chanyeol mengikuti D.O, berjalan keluar kamar dan kemudian menutup pintu. Seketika aku dihujani rasa kecewa yang teramat sangat.

Aku meringkuk di balik selimut tebalku. Aku merasakan hangatnya terik matari yang menerobos cela-cela jendela kamar. Aku masih berusaha tenang, meskipn tubuhku terasa lemas. Mungkin benar apa yang dikatakan lay kemarin, aku demam. Tapi tunggu, apa yang sekarang dilakukan chanyeol? apa dia sudah makan? Sudah minum vitamin? Ah.. dia sedang bersama D.O pasti D.O sudah mengingatkannya sejak tadi. Sekali lagi, aku menyerah, menyerah pada waktu dan juga menyerah padamu park chanyeol.

“annyeong hasseyo… baekhyun-ah?”. Panggil seseorang. Aku menurunkan sedikit selimut yang menutupi tubuhku hingga sebatas leher.. “lay-ah, kau benar-benar datang?”. Lay menutup pintu pelan, aku melihat senyum manis di wajahnya. Tidak, disaat seperti ini aku tidak ingin melihat senyum lay, aku ingin melihat senyum manis itu dari chanyeol, untukku. “aku khawatir padamu, jadi aku datang berkunjung”. Aku tersenyum.

“sepertinya kau benar lay, aku demam”. Dengan cepat punggung tangan lay menyentuh dahiku untuk sekedar memeriksa suhu tubuhku.”benar, panas. Kau sudah sarapan?”. Aku menggeleng kecil. “ini sudah jam 11 siang kenapa kau belum sarapan? Apa chanyeol dan D.O tidak membelikanmu makanan?”. Aku menggeleng lagi. “sepertinya mereka sedang sibuk dan tidak menyadari kalau teman 1 kamarnya sedang sakit”. Aku melihat dahi lay berkerut diiringi dengan decakkan lidahnya yang terdengar sedikit samar. “mana mungkin bisa begitu. Yasudah, aku akan membelikanmu makanan dan obat. Kau tunggu sebentar ya”. kata lay sambil menepuk pelan tangan kan. Aku mengangguk. “ahh,, lay-ah . . . gomawo”. Kataku sebelum lay meninggalkanku di kamar. Aku menoleh ke arah ranjang kosong itu lagi, namun kali ini tempat itu terlihat lebih berantakan dari biasanya. aku mencoba bangkit seraya mencengkeram erat kain sprei. Berjalan pelan sambil berpegangan pada dinding menuju ke ranjang chanyeol. perlahan tanganku mulai merapikan benda-benda yang berserakan disana. Selimut yang tidak dilipat, IPAD yang masih menyala, blazer di sudut ranjang dan sarung bantal yang terlepas.

“kenapa chanyeol jadi jorok se…”. Belum sempat kuselesaikan kata-kataku, bola mataku menangkap selembar foto set yang terjatuh ke lantai. Foto chanyeol bersama D.O. sepertinya foto itu baru diambil kemarin malam, aku masih mengingat baju yang dikenakan chanyeol di foto itu adalah baju yang ia kenakan kemarin sore. Aku menghembuskan nafas berat dan tubuhku jatuh terduduk di lantai.

“baekhyun”. Suara ketukan pintu sedikit mengejutkanku, aku terkesiap mencoba untuk cepat berdiri dari posisiku dan kembali merebahkan tubuhku sebelum lay masuk. Namun terlambat, “baekhyun, kau kenapa?”. Kata lay ketika mendapatiku sedang mencengkeram erat sprei ranjang chanyeol untuk membantuku berdiri. “ania, tadi aku mau…. Minum, tapi.. terpeleset”. Kataku sedikit gagap. Lay meletakan barang yang ia bawa dan membantuku untuk berdiri dan kemudian menopang tubuhku untuk duduk bersandar di ranjangku.

“aku membelikanmu sup daging, apa perlu aku suapi?”. Aku menggeleng, “ania, aku bisa makan sendiri”. Lay menyodorkan semangkuk sup penuh daging ke arahku. Aku menatapnya heran ketika menyadari tumpukan daging yang terlihat lebih banyak dari biasanya. “aku meminta untuk menambah dagingnya, sekarang makanlah. Tapi tiup dulu, masih panas”. Aku mengangguk. “gomawoyo lay-ah, kau sangat baik padaku”.

 

***

“ah lelah sekali,”. Ujar seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamarku. “chanyeol, kau sudah kembali?”. Tanya lay pada orang itu, aku membuka mataku. “mm, jadi kau benar-benar datang kesini ya? Aku fikir kau hanya bercanda. Kenapa kau kesini lay?”. Aku melihat tangan kanan lay menunjuk ke arahku. “baekhyun sakit, dia demam”. Chanyeol meletakkan tas yang dia pakai ke atas meja belajarnya. “baekhyun sakit? Benarkah?”. Katanya lalu berjalan ke arahku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain berusaha menghindari kontak mata dengannya. “jangan-jangan kau kedinginan karena aku menyalakan pendingin ruangan sepanjang malam ya?”. Tanyanya pelan lalu duduk di sudut ranjangku.

“kau benar-benar tidak tahu kalau baekhyun sakit? Dia bahkan baru saja sarapan”. Chanyeol menggeleng dengan menunjukkan wajah polosnya. “ini kan musim dingin, kenapa kau menyalakan pendingin ruangan?”.

“karena D.O tidak bisa tidur jika tidak dingin, jadi aku menyalakannya”. Lay mengangguk-angguk faham. “itulah sebabnya baekhyun jadi benar-benar demam, dia tidak bisa tidur di tempat yang dingin”.

“mwo?? Benarkah? Tapi selama ini kami selalu tidur dengan menyalakan pendingin ruangan, dan baekhyun tidak mengatakan apapun padaku”.

“karena aku tidak mau kau kepanasan ketika tidur”. Selaku. “kenapa kau tidak mengatakan padaku baekhyun-ah, aku bisa mematikan…..”. alunan lagu mama terdengar, chanyeol merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponsel putih. “ah ye…. Maaf, aku lama ya? Iya aku akan segera kesana”.

“nugu?”. Tanya lay. “D.O, aku buru-buru maaf ya. Aku pergi dulu. Baekhyun cepat sembuh”. Chanyeol memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, dan mengambil sebuah benda dari dalam almarinya. “kau mau kemana lagi chanyeol?”. Tanya lay. “ke rumah D.O”.

Beginikah? Beginikah reaksinya ketika tahu aku sedang sakit? Apa perlu aku mati dulu agar dia bisa kembali seperti chanyeolku yang dulu? Apa perlu seperti itu? Sepertinya aku memang tidak punya arti apapun baginya sekarang. “lay-ah, bisakah kau tinggalkan aku sendirian, aku mau istirahat”. Lay menoleh. “ya, aku akan pulang. Tapi jangan lupa telefon aku kalau ada sesuatu. Aku pasti akan datang”. Aku mengangguk. “yasudah, aku pulang dulu”. Aku mengangguk lagi.

 

***
Libur musim dingin telah berakhir ,kini saatnya semua siwa dan siswi jung sang high school melakukan aktifitas belajarnya lagi. Aku menapakkan kaki masuk ke dalam kelas, sebagian siswa telah mengisi tempatnya masing-masing. Aku disuguhkan suasana yang berbeda, jujur saja aku hampir mati bosan berlama-lama libur dan harus melihat D.O dan chanyeol sepanjang hari. Sekarang aku bebas, setidaknya untuk beberapa jam ke depan. Karena siswa kelas khusus dibagi menjadi 2, yaitu yang mendapatkan beasiswa dari luar negeri dan dalam negeri. Sedangkan chanyeol mendapat beasiswa dari jepang, itulah mengapa aku merasa lega sekarang.
“baekhyun-ah . .”. panggil seorang namjaketika aku baru sampai di bangkuku. Aku menoleh dan mendapati chanyeol ada di ambang pintu sambil melambaikan tangan padaku.aku hampir melompat kegirangan, aku langsung berjalan sedikit berlari menghampirinya. “waeyo chanyeol-ah?”. Tanyaku riang. “kau tau dimana D.O?”. senyum di wajahku seketika memudar dengan begitu cepatnya sampai aku tidak menyadari tanganku mengepal seperti ingin meninju sesuatu. Raut wajahku berubah menjadi tidak senang, kesedihan, kemarahan, kekesalan, kekecewaan, semua bercampur menjadi satu. “baekhyun? Kau tahu tidak? Aku tidak menemukannya dimana-mana”.
“kau cari saja sendiri!!”. Jawabku ketus lalu berjalan keluar melewatinya. Entah kemana kakiku akan membawaku pergi.
“baekhyun-ah,, kau marah padaku ya?”.tanya chanyeol yang sedari tadi mengekor di belakangku. Aku tidak menyahut, kalau dia tahu aku sedang marah, kenapa tidak meminta maaf lalu menghiburku seperti biasanya. “mianhae, oh ya apakah kau sudah sembuh?”.
“kenapa memangnya?”. Aku berbalik arah dan berhenti hingga sekarang kami berhadapan. Chanyeol yang kufikir tak akan terkejut justru melompat ke belakang. Aku memanyunkan bibirku.
“aku…. Ah, ternyata baekhyunnie benar-benar marah”. Katanya lesu. “kau baru sadar? Kenapa sekarang sadarnya? Kenapa tidak jika aku sudah mati saja? Huh?”. Chanyeol membentuk huruf X dengan kedua tangannya. “tidak, kenapa bicara seperti itu sih?”.
“karena aku kesal padamu chanyeol”. kataku frustasi. “kalau kesal pukul saja aku”. Katanya. Aku menarik nafas panjang. “aaahhhh….”. teriakku frustasi sambil memukul penuh tenaga lengan kanannya. Chanyeol membungkukkan tubuhnya sambil memegangi lengan kanannya. “kau yang menyuruhku ya!! Jangan menyesal”.aku membalikkan tubuhku dan berjalan cepat meninggalkannya. Baru beberapa langkah aku meninggalkannya aku menoleh. Dia tidak mengejarku lagi rupanya, dasar chanyeol, kau benar-benar menyebalkan sekarang. Aku berjalan lagi.
“dasar chanyeol”. kataku tak kuasa, aku membalikkan tubuhku lagi, namun aku terkejut melihat chanyeol tetap di tempatnya namun kini ia terduduk. Aku dapat memastikan lewat lekuk-lekuk bajunya kalau ia mencengkeram kuat lengan kanan yang kupukul tadi. Apa ia cidera?
“chanyeol..”. panggilku, aku berlari menghampirinya dan langsung berjongkok di hadapannya, memastikan keadaan namja menyebalkan itu. “sakit ya?”. Chanyeol mengangguk dengan kepala masih menunduk. “maafkan aku, aku…. Ayo ke UKS”. Aku membantunya berdiri, tangan kirinya masih tidak bisa lepas dari lengan kanannya.
“lenganmu memar, pasti karena aku memukul terlalu keras tadi”. Kataku menyesal padanya. Chanyeol kini berbaring di ranjang di sudut ruang UKS. “ini memar karena aku terjatuh kemarin, bukan karenamu”.katanya pelan. “kau terjatuh?”. Chanyeol memangguk. “aku terjatuh dengan D.O dari sepeda, tadi pagi aku tidak melihatnya di kamar jadi aku mencarinya”. Aku mengerutkan dahiku kesal.
“jangan bicarakan dia lagi, aku bosan!”. ujarku dengan nada sinis. “wae? Dia kan roommate kita”. Aku melempar perekat yang kupegang ke arahnya. “tunggu… baekhyunnie,, cemburu ya?”.
“siapa? aku?….. ti..dak”. kataku sambil mengalihkan pandanganku. “benar tidak cemburu?”.
“mana mungkin aku . . . jangan bercanda lagi, tutup mulutmu ini, jangan bicara lagi”. kataku langsung membungkam mulutnya dengan erat. aku harap dia tidak akan menggigit telapak tanganku dengan giginya yang cantik itu.aku melihat matanya melengkung seperti sedang mentertawakan sikapku dalam hatinya. ah, benar-benar menyebalkan!
TBC –
gimana gimana? bagus enggak ceritanya? dapet feelnya ga? abisnya kalo author baca FF yang author bikin sendiri ga ngerasa apapun, jadi kasih komennya yah, biar author tau gimana FF author . . . hehe jangan lupa tinggalkan jejak kalau udah baca 🙂 tunggu capter selanjutnya ya . . thank kyu-hyun 😀 XD

6 pemikiran pada “Tell Me About Your Heart (Chapter 1)

  1. . wkwkwk yg ada dipikiran yeol cuma kyungsoo kyungsoo kyungsoo dan kyungsoo #poorbaekki
    . tenang aj baekki, km g ush khawatir, chanyeol bukan milik D.O kok, dia tetap milik KU #eh #poorbaekkiagain(?)
    . lanjut thor daebak

  2. Asli thor, nyesek nih ..
    Ini pairnya tetep baekyeol kan? Iya kan?
    Ah, kasian banget Baekkie disini.
    Yeollie Oppa, kenapa kau ngga peka sih? ah, pokoknya lanjut ya, thor!
    Jangan lama-lama hehe 😀

  3. Dapet feel nya thor, waktu Baekhyun sedih, seneng, watir, tapi knp cuma segini???
    Lanjutan nya jangan lama2 ya thor, nti kburu lupa dengan jalan crita nya …
    Btw, ini happy ending kan?
    Jangan bikin yg angst/sad/hurt ya thor, dongkol baca nya, hahaha

Tinggalkan Balasan ke dearylla Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s