The Exotics Life of Immortal (Chapter 3)

Title: The Exotics Life of Immortal

Genre : Romance, AU, Adventure, Fantasy Suspense, Friendship

Author : @Rimahyunki

Length : Chaptered, Series

Rating : T, PG13

Main Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Shin Heerin

Kwon Richan

 

Other cast:

All Member of EXO

Suho

Xi Luhan

Siwon

Victoria, and others.

 

 

p.s: Cerita terinspirasi dari series Twilight, mbah Google, dan sebagian lagi imajinasi gila author (?)

 

Kembangkan imajinasimu setinggi mungkin!

Happy Reading ~^^

ФФФ

Chapt.1 | Chapt.2

 

Previous Chapter

 

“Appa sebenarnya ada apa ini?” tanyaku bingung kenapa appa dan ummaku itu bersikap biasa saja, seolah sudah mengerti apa yang ada di sekitar mereka.

Suho appa berjalan mendekatiku, “Kurasa kau memang sudah harus tau tentang hal ini sayang”

Tau? Hal ini? Apa?

Richan melihatiku sambil menyunggingkan senyumannya, “Tentang maksud kedatangan kami kemari, kenapa aku dan Baekhyun sangat melindungimu, kenapa Baekhyun meng-imprint-mu, tentang kenapa kau sama sekali tidak bisa mengingat masa kecilmu, tentang siapa kami dan kau sebenarnya..”

ФФФ ФФФ

 

Heerin poV_

Brakk. Kubanting pintu kamarku, menguncinya kemudian melompat ke atas tempat tidur. Kubenamkan kepalaku dibawah bantal sambil memejamkan kedua mataku. Kuharap ini semua adalah mimpi. Sebuah mimpi buruk yang akan segera berakhir saat aku bangun nanti.

(flashback)

“Ada apa ini sebenarnya? Umma? Appa?” Mataku memandang ke arah Suho appa, meminta penjelasan padanya. Ia balas melihatku serius. Tatapannya saat memandangku sekarang benar-benar tidak bisa ditebak.

Suho appa dan Victor umma hanya saling melempar pandangan. Wajah mereka tampak menyiratkan kecemasan dan keraguan, hal itu membuatku semakin cemas juga.

Kualihkan wajahku melihat Richan yang juga sedang memandangiku dengan dua mata tajamnya yang dihiasi eyeliner. Yeoja itu menaikkan sebelah alis, seperti sedang membaca apa yang kupikirkan. Ah mungkin memang begitu.

“Bisakah seseorang mulai bicara dan menjelaskan sesuatu padaku?” tanyaku memecah keheningan yang tercipta setelah kami semua hanya diam di tempat kami.

Siwon ahjussi menganggukkan kepalanya ke arah Richan, seperti memberikan isyarat agar ia-lah yang berbicara.

“Kau tau ini?”

Aku agak terkesiap begitu yeoja berambut panjang itu sudah berada di dekatku dalam hitungan sepersekian detik. Mungkin aku harus membiasakan diriku agar tidak terkejut dengan kecepatan mereka yang setara dengan kecepatan cahaya.

Richan menunjukkan sebuah benda yang terlihat familiar untukku. Sebuah kalung?

Aku melihatnya kemudian mengambil kalung yang mirip sekali dengan milikku. Hanya saja batu yang menjadi bandulnya itu bewarna brink pink, sedangkan milikku peach oranye.

“Ini mirip sekali dengan kalung milikku yang Suho appa berikan,” ujarku pada Richan dan semua orang yang berdiri di dekatku.

“Kalung itu memang milikmu, milik orang tuamu..”

Perkataan Suho appa membuatku menatapnya bingung. Milik orang tuaku? Tapi Suho appa dan Victor umma.. Mereka kan orang tuaku?

“Mereka bukan orang tuamu.. bukan orang tua kandungmu.” ucap Richan. Deg! Apa maksudnya?

Victor umma yang hanya berdiri akhirnya berjalan mendekatiku, ia memelukku erat.

“Katakan umma, katakan apa yang sebenarnya?” tukasku padanya begitu ia melepaskan pelukannya.

Victor umma membelai rambutku, kedua matanya berkaca-kaca memandangiku.

“Kami diberi amanat oleh kedua orang tuamu untuk menjagamu.. Appa dan umma kandungmu tidak ingin kekuatan hitam yang sangat kuat akan membunuhmu. Saat itu mereka berdua menceritakan pada kami jika ada sebuah perang yang amat besar. Kami tidak tau apa dan bagaimana perang besar itu…”

“Siapa atau mungkin makhluk apa orang tua kandungku itu?” tanyaku menyela ucapan Victor umma. Aku sudah tidak bisa lagi membendung air mataku, marah, kecewa, semuanya bercampur aduk. Orang-orang yang sampai saat ini kuanggap sebagai keluargaku, orang yang sudah kuanggap sebagai appa dan ummaku ternyata selama ini….

“Appamu adalah drakula dan ummamu adalah a half immortal human, makhluk setengah manusia dan makhluk setengah immortal…”

Badanku melemas begitu mendengar penjelasan Suho  appa tentang siapa sebenarnya orang tua kandungku. Lalu siapa aku? Sebenarnya apa aku ini? Apa aku masih bisa disebut sebagai seorang manusia?

“Kau memang manusia, setidaknya sampai saat ini.” Aku melihat ke arah Richan yang hanya menunjukkan ekspresi datarnya. Apa maksud ucapannya barusan? Aku benar-benar tidak mengerti. Semua ini terlalu mendadak untukku, kepalaku yang berdenyut rasanya akan meledak sekarang juga. Pada awalnya mungkin aku masih bisa menerima jika diluar sana memang ada makhluk-makhluk aneh itu. Penghisap darah, indera keenam, dimensi lain, tanpa kematian, dan hal-hal tidak masuk akal lainnya. Namun aku tidak pernah membayangkan jika aku sendiri merupakan bagian dari mereka. Tidak. Aku hanya ingin menjadi manusia normal dengan kehidupan yang normal.

“Sayang…”

Kuacungkan telapak tanganku ke arah Suho appa dan Victor umma. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Tidak tentang siapa aku dan asal-usulku, tidak juga mengenai alasan dibalik datangnya mereka kemari.

Kututup kedua telingaku kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Ini semua pasti hanya mimpi. Dan saat aku terbangun nanti, semuanya akan kembali normal.

. . .

 

Author poV_

“Heerin.ah! Sayang…” Suho terus mengetuk pintu kamar Heerin sambil memanggil-manggil nama yeoja itu. Namun tidak ada satupun tanda-tanda Heerin akan membukakan pintu. Jangankan untuk membuka pintu, yeoja itu bahkan sama sekali tidak memberikan sahutan apapun terhadap suara Suho maupun Victoria.

Victoria menggenggamkan kedua telapaknya cemas, “Seharusnya kita tidak memberitaunya sekarang. Aigoo Heerin.ah”

“Biar aku dobrak saja” usul Suho yang langsung dicegah oleh Siwon.

Siwon menggelengkan kepalanya keras, memberikan isyarat agar Suho tidak bertindak terburu-buru.

“Ia hanya butuh waktu untuk menerimanya,” ujar Siwon dengan suara bijak.

“Lagipula tidak mungkin melanjutkannya lagi, ia sudah tidur..” ucap Richan menambahkan. Yeoja itu sedari tadi hanya diam sambil memandang ke kamar Heerin, berusaha membaca sekaligus mendengar apa yang ada dalam pikirannya. Tetapi, ia justru masuk ke dalam mimpi yeoja itu.

“Aish apa yang kalian berdua lakukan tadi sore?” tanya Richan pada Baekhyun. Ia melihat namja itu dengan tatapan agak jijik dan setengah heran.

Baekhyun mengangkat alisnya, “Hmm? Apa maksudmu?”

“Dia sedang bermimpi tentangmu– tentang apa yang kalian lakukan tadi di hutan”

Begitu mendengar perkataan Richan, Baekhyun malah tersenyum setengah terkekeh.

Ternyata Heerin masih memikirkannya, bahkan dalam mimpi sekalipun.

“Jangan senang dulu, sekarang ia sedang berusaha untuk melupakanmu..” tambah Richan sambil memutar bola matanya.

Baekhyun hendak bertanya apa maksud ucapan Richan sebelum yeoja itu terlebih dulu membalikkan badannya hingga beberapa detik kemudian sudah menghilang dibalik pintu.

“Aku harap ia tidak membutuhkan waktu lama untuk menerima ini, karena kita tidak punya banyak waktu…”

Suho dan Victoria mengalihkan wajah mereka ke arah Siwon yang terlihat begitu serius. Yah, waktu adalah uang.  Semakin banyak waktu yang dimanfaatkan, semakin banyak juga hal yang dapat dilakukan.

“Aku akan berusaha membuatnya menerima ini, aku akan meyakinkannya…” ujar Baekhyun lirih, kedua matanya menunjukkan keyakinan yang mantap, apapun akan dilakukannya demi gadis itu. Gadis yang telah terikat dengannya.

. . . .

 

Richan menghentikan langkah kakinya hingga ia sampai di sebuah bukit yang hanya disinari oleh cahaya bulan. Ia menghirup napas panjang, memasukkan seluruh oksigen ke aliran darahnya, memberikan nafas pada sebagian sel manusia yang terdapat dalam tubuhnya. Yeoja setengah vampir dan manusia itu memandang ke atas, ke arah langit yang semakin gelap kemudian menundukkan kepalanya lagi.

Digenggamnya kalung bewarna keemasan dengan bandul batu zamrud bewarna merah muda itu, ia memejamkan matanya. Mencoba mengingat kenangan masa kecil yang tidak banyak tersimpan di otaknya.

Oppa aku merindukanmu. Apakah aku tidak akan punya kesempatan untuk bertemu denganmu? Aku ingin bertemu denganmu. Dengan begitu, setidaknya aku bisa melihat bayangan appa dan umma di pikiranmu.

Luhan oppa.. Dimana kau sekarang?

. . . .

 

Luhan poV_

Oppa.. Aku merindukanmu.

Kubuka kedua mataku yang semula terpejam.  Suara itu?

Aku bangkit dari posisiku yang terbaring di atas tempat tidur. Aku sangat yakin dengan apa yang kudengar barusan. Suara itu suara adikku.

Kutundukkan kepala sejenak kemudian menarik napas panjang. Mataku mengarah ke cincin yang kukenakan sekarang. Cincin milik Jonghyun appa yang diberikan padaku saat ia meninggal. Cincin ini berpasangan dengan kalung milik umma yang sekarang berada di tangan adik perempuanku.

Tidak salah lagi. Aku pasti sudah dekat dengannya. Sebentar lagi aku pasti akan dapat memeluk yeoja yang selama ini terpisah dariku itu. Sebentar lagi.

. . .

 

Keesokan harinya.

@ School, 07.00 KST, Heerin poV_

Suho appa masih fokus dengan jalanan di depannya sementara aku terus sibuk memainkan handphone. Hanya untuk mengusir kebosanan karena sedari tadi appaku itu tidak mau mengajakku bicara. Tidak biasanya.

Citt. Suho appa menghentikan mobil begitu kami sampai di depan sekolahku.

“Heerin.ah~” ujarnya hendak memulai pembicaraan serius yang sepertinya tidak ingin kudengar.

Aku pura-pura melirik jam tanganku. Kupeluk tubuh appa sebentar kemudian membuka pintu mobil.

“Annyeongg!”

Kulambaikan tanganku ke arahnya kemudian berlari masuk ke dalam gedung sekolah.

. . .

Klek. Kubuka pintu kelas pelan, mataku sedikit mengintip ke arah tempat dudukku dan Hyerim.

Fiuh! Aku menghembuskan napas lega begitu melihat yeoja itu sedang duduk manis di tempatnya. Baguslah. Hyerim masih menjadi chairmate-ku seperti biasanya.Bukk. Kuletakkan tasku di atas bangku kemudian duduk manis di sebelah Hyerim.

“Waeyo?” tanyanya heran melihatku yang tiba-tiba menyunggingkan senyuman lebar.

Aku menggelengkan kepala sembari mengedarkan mataku ke sekeliling kelas.  Dengan seksama aku memperhatikan wajah satu-persatu murid yang ada disini.

“Hey sebenarnya ada apa denganmu? Kau mencari siapa huh?”

Setelah memastikan jika dua orang yang kucari itu tidak terlihat batang hidungnya, aku semakin yakin jika semua itu memang hanya mimpi. Fiuh!

“Aniyo, aku hanya sedang menikmati hidup normalku sebagai seorang man…” ujarku seraya membalikkan badan yang semula menoleh ke belakang.

“Man..manusia..”

Tepat saat menolehkan kepalaku, dua orang berjalan melewati mejaku. Seorang namja tampan bermata sipit dan yeoja berambut panjang dengan wajah dingin. Aaah!! Kulipat kedua tanganku di atas meja kemudian merebahkan kepalaku lemas. Ternyata semua ini bukan mimpi. Byun Baekhyun, Kwon Richan dan semua makhluk-makhluk immortal itu. Aissh!

. . .

 

Kringg Kringg!

Bel istirahat berbunyi. Amber Songsaenim langsung mengakhiri pelajaran bahasa inggris dan meninggalkan kelas kami.

Semua murid sibuk membereskan buku mereka termasuk aku.

“Ayo antar aku ke kelas Xiumin!” ajak Hyerim yang sudah terlebih dulu beranjak dari kursi.

Aku menganggukkan kepala setuju, tidak ingin berlama-lama dalam kelas ini dan bertemu…

Deg!

Kuelus dadaku melihat Baekhyun yang sudah berdiri di hadapanku.

“Aku ingin bicara…”

“Tapi aku tidak,” balasku menyela ucapannya.

“Tapi Shin Heerin..”

Kuacungkan telapak tanganku menolak permintaannya, “Maaf aku sedang ada urusan.”

Aku langsung berlari ke arah Hyerim yang sudah menungguku. Mianhae Baekhyun. Aku bukannya tidak ingin bicara denganmu, hanya saja aku.. aku menginginkan hidup normal.

. . .

Aish. Kenapa ia harus mengawasiku?

Namja itu terus saja menatapku dari bawah. Ia belum melepaskan pandangannya sejak limabelas menit aku dan Hyerim berdiri disini.

Byun Baekhyun.. berhentilah mengawasiku, pergilah menjauh. Aku tidak ingin terus mengingatmu.

“Gomawo Xiumin.ah!” ucap Hyerim pada namja berwajah imut itu. Kami membungkukkan kepala kecil, memberikan isyarat pada Xiumin jika akan kembali ke lantai bawah.

“Kau pinjam apa?” tanyaku pada Hyerim yang terlihat sedang membawa bungkusan.

“Rahasia!” balasnya membuatku mengerutkan dahi.

Kami berjalan menuruni anak tangga. Rencananya setelah ini, aku dan Hyerim akan pergi ke perpustakaan untuk tugas biologi minggu depan.

“Heerin.ah tali sepatumu,” seru Hyerim yang masih berjalan beberapa anak tangga di atasku.

Reflek aku langsung menunduk ke bawah, melihat tali sepatuku yang ternyata belum terikat.

Aku baru akan menghentikan kakiku sebelum aku sendiri menginjak tali sepatunya. Woah! Tubuhku hampir saja melayang sebelum seseorang memegangi tanganku.

Baekhyun? Bagaimana kau? Bukankah tadi masih ada disana?

Kulepaskan tanganku dari tangannya yang masih menggenggamku.

“Gomawo,” ujarku tak ingin banyak melakukan kontak mata dengannya.

Baekhyun tidak banyak bicara, ia hanya tersenyum kemudian berjalan pergi.

“Heerin.ah gwenchana-yo?”

Aku menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Hyerim.

“Kau liat tidak ekspresi wajah Baekhyun saat menolongmu tadi?”

Dahiku berkerut. Kugelengkan  kepalaku tidak mengerti dengan ucapannya.

“Ia seperti heroes, matanya seolah berkata jika ia ingin selalu melindungimu”

Aku terkekeh mendengar ucapan Hyerim, “Sudahlah.. Ayo kita ke perpustakaan”

. . . .

 

Author poV_

Richan berjalan melewati koridor sekolah. Dahinya kian berkerut setiap kali ia berpapasan dengan murid yeoja yang melewatinya.

‘Aigoo Chanyeol oppa tampan sekali’

‘Tinggi, tampan, ketua osis, ketua taekwondo pula. Sempurna!’

‘Apa yang kakak kelas tampan itu lakukan disini?’

‘Omoo senyum namja itu manis sekali!’

Richan menautkan kedua alisnya mendengarkan pikiran setiap yeoja yang ia lewati. Kenapa terus-terusan? tanyanya dalam hati hingga akhirnya ia mulai mengerti.

Richan mempercepat langkahnya, sedikit berlari. Kemudian ia berbelok ke kanan dan wuz!

Yeoja itu hilang begitu saja.

“Kemana dia?” tanya Chanyeol sambil menggaruk kepalanya bingung.

“Kau mengikutiku?”

Chanyeol terkesiap kaget begitu yeoja yang dicarinya muncul dibalik tembok.

Richan menaikkan sebelah alisnya melihat namja tinggi itu, meminta sebuah jawaban.

Chanyeol memaksakan sebuah senyuman, sambil masih menggaruk bagian belakang kepalanya.

“Aku.. Aku hanya ingin bertanya kenapa kau kemarin tiba-tiba pergi dari kantin?” tanya namja itu tanpa basa-basi.

 

(flashback)

“Kau tau siapa yang ada di pikiranku dua hari ini?”

Richan tidak menjawab pertanyaan Chanyeol. Yeoja itu hanya melipat kedua tangannya, memandangi Chanyeol dingin.

Lagi-lagi sebuah senyuman terukir di wajah tampannya, ia  membuka mulutnya kemudian berkata, “Kau”

Richan mengukir sebuah smirk mendengar ucapan Chanyeol yang seperti sedang mengungkapkan sesuatu padanya.

“Sebenarnya apa maksudmu berkata itu padaku?”

Chanyeol memutar bola matanya, “Kau ingin aku berkata jujur atau bohong?”

Richan menggelengkan kepalanya. Namja itu bukannya menjawab pertannyaannya tapi malah bertanya balik padanya.

“Baiklah aku akan jujur.. Aku menyukaimu, kau membuatku benar-benar penasaraan.”

Begitu Chanyeol menyelesaikan perkataannya, Richan langsung beranjak dari meja mereka. Tanpa berkata apapun, ia meninggalkan Chanyeol yang hanya bisa menatap punggung yeoja itu.

(end of flashback)

 

“Mianhae jika ucapanku tidak berkenan waktu itu. Apa kau marah padaku?” tanya namja itu yang dijawab gelengan kepala dari Richan.

Chanyeol menghembuskan napas lega mengetahui yeoja itu tidak marah padanya.

“Apa kau membenciku? Apa kau tidak menyukaiku?”

Kali ini pertanyaan Chanyeol membuat yeoja itu hanya diam tanpa ada anggukan maupun gelengan kepala. Richan langsung membalikkan badannya, berjalan menjauhi Chanyeol.

“Hey knapa kau tidak menjawabnya! Itu berarti kau tidak membenciku bukan?”

Tanpa Chanyeol ketahui, Richan mengukir sebuah senyuman. Senyuman yang yeoja itu sendiri tidak dapat mengartikannya.

“Hey Richan.ah!”

Baekhyun yang tiba-tiba sudah berada di sebelah Richan tidak membuat yeoja itu kaget.

Richan melihat Baekhyun sebentar kemudian berkata, “Menurutmu aneh tidak, kau tau namja tinggi itu? Aku tidak bisa membaca pikirannya”

Baekhyun menaikkan sebelah alisnya heran, “Bagaimana bisa?”

“Tidak sulit untukku mendengar pikiran-pikiran manusia, bahkan disaat aku tidak fokus sekalipun. Tapi namja itu… aku sama sekali tidak bisa membaca dan mendengar apapun, bahkan saat aku memfokuskan konsentrasiku padanya”

“Aneh sekali..” balas namja itu singkat.

Richan menautkan kedua alisnya berpikir. Ia akan berkata sesuatu sebelum ia mengurungkan niatnya itu.

“Ah sudahlah, bagaimana dengan Heerin?” tanya Richan mengalihkan topik pembicaraan. Sebenarnya tanpa yeoja itu bertanya sekalipun, ia sudah tau apa yang terjadi dari pikiran namja tampan itu.

“Kau benar, ia menjauhiku..”

Richan menepuk pundak Baekhyun memberikan semangat, “Sebaiknya kau menyusulnya saja,” tutur yeoja itu yang dibalas sebuah anggukan.

. . .

 

Heerin poV_

“Aku kesana dulu ya?”

Kuanggukkan kepalaku mengiyakan ucapan Hyerim yang hendak mencari referensi di rak K-O, sedangkan aku memilih untuk mencari di rak A-E.

Suara berisik terdengar ketika aku berjalan menuju rak buku. Ternyata Jaesuk songsaenim sedang merapikan buku-buku yang berada di rak atas dengan menaiki tangga.

Woah! Buku-buku yang dibawa pria berkacamata itu terlihat cukup tua dan tebal-tebal. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Jaesuk songsaenim bisa tahan membawanya. Selain penuh debu, buku-buku seperti ensiklopedi itu pastilah sangat berat.

Brakk Brukk

“Awas!!”

Kudongakkan kepalaku ke atas, buku-buku yang tadi kupikirkan itu melayang jatuh dari tangan Jaesuk. Reflek aku menutupi kepalaku dan mencoba untuk menghindar namun entahlah apa aku cukup cepat.

Brakk! Bukk! Brakk!

Suara buku-buku berjatuhan seperti habis menumbuk benda yang keras. Setelah tidak lagi mendengar suara gaduh, kuberanikan diri membuka mataku. Seseorang sedang memelukku, tidak, ia melindungi tubuhku dari buku-buku yang berjatuhan itu.

“Baekhyun?”

Ia melepaskan pelukannya, tangannya membersihkan debu yang menempel di seragamnya. Ia tersenyum padaku kemudian pergi menghilang.

Aigoo rasanya aku ingin menangis sekarang. Bagaimana mungkin aku bersikap jahat pada seseorang yang selalu melindungiku?

“Kau baik-baik saja? Tidak terluka parah kan?”

“Gwenchana, aku baik-baik saja songsaenim”

Mataku masih mengarah pada tumpukan buku-buku itu. Aku tidak bisa membayangkan jika semua benda itu tadi menimpa tubuhku langsung.

“Tunggu dulu! Buku itu…”

. . .

 

Buku ini tiba-tiba muncul seolah berusaha untuk memberi penjelasan padaku. Dan mungkin memang inilah yang kubutuhkan.

Kuarahkan jari-jariku, membuka satu demi satu halaman buku kuno itu hingga aku sampai di sebuah tulisan.

 

Kalung ini? Bukankah ini gambar kalungku? dan kalung Richan juga.

Kelima kalung itu memiliki lima warna  berbeda yang masing-masing terdapat kekuatan cakra berbeda. Kekuatan yang sangat luar biasa. Kekuatan yang jika disatukan bahkan mungkin untuk menguasai dunia.

Sang penguasa kegelapan — meskipun telah tewas, kekuatan jahat itu belum berakhir selama kelima pasang kalung dan cincin itu belum dihancurkan.

 

Alisku terangkat sebelah, cincin ?

 

Kubuka halaman selanjutnya, dimana terdapat gambar lima buah cincin yang desainnya cukup antik. Jadi cincin dan kalung itu masing-masing berpasangan?

 

Kepemilikan cincin dan kalung itu akan secara otomatis   diwariskan ke keturunan sang pemilik jika pemilik aslinya telah meninggal.

 

Appa, Umma kandungku ? Kubalik lagi lembaran buku itu, ingin mencari tau tentang keberadaan semua kalung dan cincin itu selain milikku dan Richan. Namun sayangnya aku tak menemukan apapun selain halaman-halaman yang kosong dan beberapa diantaranya yang robek.

Mungkin itulah tujuan mereka datang kemari, pasti ada hubungannya dengan kalung cakra itu.

Kuacak rambutku sendiri, buku ini hendak kututup sebelum sebuah judul yang besar cukup menarik perhatianku.

.IMPRINT.

 

“Dia benar-benar imprintmu? Sempurna”

 

Aku masih ingat betul ucapan Richan pada Baekhyun kemarin malam.

.IMPRINT.

adalah sesuatu yang dimiliki setiap drakula untuk menentukan pendamping hidupnya. Seseorang yang ditunjuk oleh lingkaran takdirnya untuk menjadi miliknya-milik drakula.

Ketentuan yang tidak akan bisa dihindari ataupun dicegah oleh siapapun.

Yang-di-imprint tidak akan pernah bisa lari ataupun menolak si-drakula yang meng-imprint-nya.

Keduanya (Drakula dan yang-di-imprint-nya) saling memiliki satu sama lain, terikat dalam sebuah lingkaran takdir yang tak bisa diubah.

Keduanya dipertemukan oleh kesengajaan, bukan kebetulan, karena mereka sudah dihubungkan oleh benang merah. Sang drakula akan selalu melindungi, mengawasi, dan menjaga imprint-nya dengan segenap hatinya. Tidak akan membiarkan siapapun dan apapun menyakitinya.

 

“Ia seperti heroes, matanya seolah berkata jika ia ingin selalu melindungimu”

Aku jadi teringat akan ucapan Hyerim padaku tadi. Jadi seperti inikah hubungan kami? Lingkaran yang mengingat kami berdua?

. . .

 

16.00 KST

“Heerin.ah kau sudah mencari gaun untuk malam kesenian besok belum?”

Hah? Aku langsung menghentikan aktivitasku merapihkan semua peralatan tulis.

“OMOO! Aku lupa!” seruku sambil menepuk keningku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa lupa jika besok adalah malam kesenian? Dan aku belum menyiapkan apapun untuk itu.

Hyerim melihatku heran, “Baiklah, aku akan menemanimu membeli gaun sekarang”

Aku memeluk sahabatku itu senang, “Gomawoo”

. . .

 

Baekhyun poV_

Menjaganya dari jauh, diam-diam mengawasinya. Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang.

Jika mengingat bagaimana tatapan Heerin saat menginginkanku pergi darinya, hal itu membuatku tidak bisa berada di dekatnya.

“Kau pulang duluan saja, aku masih ada ekstra taekwondo,” ucap Richan membuatku mengerutkan dahi. Taekwondo? Untuk apa?

“Sudah kau jangan bertanya untuk apa.”

Aku hanya memutar bola mataku mengiyakan ucapan yeoja itu.

“Bacon.ah..” panggil Richan membuatku membalikkan badan. Tepat saat itu, Heerin dan temannya berjalan melewatiku. Kedua mataku tidak bisa untuk tidak mengikuti kemana ia pergi. Aku terus memerhatikan yeoja itu sampai punggungnya hilang dibalik dinding.

“Lebih baik kau mengikutinya saja”

Aku baru akan bertanya apa maksud ucapan Richan. Namun yeoja berambut panjang itu sudah menghilang begitu saja. Aish tidak berubah tsk.

. . .

 

@ School Gymnasium

17.00 KST, Author poV_

Richan mengusap keringat  yang mengucur di wajahnya dengan handuk kecil. Ia duduk di pinggir lapangan, memperhatikan dua orang yang sedang bertarung di atas matras. Saling membanting dan menjatuhkan sama lain.

Park Chanyeol. Tidak heran jika namja itu menjadi juara internasional taekwondo. Kecepatan, ketangkasan, serta kekuatannya bukan main-main.

“Woaa!!” semua anggota yeoja klub taekwondo itu berteriak kagum begitu Chanyeol berhasil membanting lawan mainnya.

“Ada yang mau menjadi relawan selanjutnya?” tanya namja tinggi itu tanpa ada satupun yang berani mengacungkan tangan. Tidak kecuali satu orang.

Richan bangkit dari duduknya, ia memakai lagi helm yang sempat dilepasnya. Yeoja itu berjalan ke arah Chanyeol dengan smirk di wajahnya.

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya melihat Richan. Keduanya kemudian saling membungkukkan badan sebelum memulai untuk saling menyerang.

“Aku tidak akan mengalah padamu soal hal ini” ujar Chanyeol setengah berbisik  saat keduanya saling melayangkan sebuah pukulan.

‘Genit sekali yeoja itu pada Chan oppa’

Mendengar suara teriakan (dalam pikiran) salah satu yeoja itu, membuat Richan sedikit kehilangan konsentrasi. Chanyeol yang dapat membaca keadaan lawan mainnya langsung mengambil kesempatan.

Ia menjegal kaki Richan yang kuda-kudanya sedikit goyah.

Richan yang menyadari jika kaki kirinya telah dikunci tidak mau kalah, kaki kanannya balas menjegal kaki Chanyeol.

BUKK. Keduanya jatuh bersamaan diatas matras dengan Richan yang posisinya berada dibawah Chanyeol.

Mata mereka bertemu selama beberapa sekon sampai Richan mulai bangkit dan mendorong namja diatasnya itu.

Richan membuka penutup kepalanya kemudian duduk diatas matras, ia mengukir sebuah smirk dan tatapan kesal setelah melihat ke arah sekelompok yeoja yang duduk di sudut lapangan.

“Kali ini apa yang mereka pikirkan?” tanya Chanyeol ikut duduk di sebelah Richan. Sebenarnya namja itu hanya asal bertanya tanpa tau apa yang sedang dibicarakannya.

“Mereka sedang memikirkan kutukan yang tepat untukku jika tadi wajah kita saling bersentuhan..” balas yeoja itu tanpa mengubah ekspresi datarnya.

Ia mengalihkan wajahnya ke arah Chanyeol, membuat mereka lagi-lagi terlibat dalam kontak mata. Namun kali ini lebih intens.

Chanyeol menggeser badannya mendekati Richan, namja itupun kian mendekatkan wajahnya ke wajah yeoja di hadapannya itu. Pada awalnya, Richan hanya diam di tempat duduknya. Yeoja bertatapan dingin itu membiarkan wajah Chanyeol yang kian mendekati wajahnya.

Namun ia langsung berdiri begitu menyadari ada yang salah sekarang.

“Aku harus pergi” ujar yeoja itu  kemudian berjalan keluar gedung olahraga.

Chanyeol mengacak-acak rambutnya. Argh! Sedikit lagi!

Takk. Aku merasakan sesuatu mengganjal di tanganku. Sebuah kalung?

Aish kalung ini lagi? Yeoja itu hobi sekali meninggalkan kalungnya.

Chanyeol mengambil kalung berbandul merah muda itu kemudian berlari mengejar Richan.

. . .

Baekhyun poV_

Kusandarkan punggungku ke jok mobil sementara kedua mataku terus melihat ke arah spion mobil.  Jam di tanganku menunjukkan jika sudah hampir dua jam aku menunggu disini. Namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda jika Heerin dan temannya itu akan keluar dari distro yang berada di belakangku.

Kujulurkan tanganku ke arah music player, hendak memainkan lagu klasik koleksiku.

Klik.

Aku mematikan lagi music player yang baru beberapa detik kuputar begitu  melirik kaca spion. Heerin dan temannya akhirnya keluar dari toko pakaian itu. Ia tampak membawa beberapa kantung besar.

Dua yeoja itu tampak sedang mengobrol kemudian tidak beberapa lama Heerin melambaikan tangannya hingga mereka akhirnya berpisah.

Kunaikkan kaca jendela mobilku begitu Heerin berjalan menuju motornya. Seusai menempatkan barang-barangnya, yeoja itu langsung memacu motor matic-nya melewati mobilku.

Entahlah kenapa, rasanya aku tidak akan tenang jika tidak memastikan sendiri ia sampai di rumah dengan selamat.

Kuputar kunci mobilku dan menyalakan mesin mobilnya. Begitu merasa sudah menjaga jarak cukup jauh dengan Heerin, aku langsung menginjak gas, menjalankan mobil sport hitamku itu perlahan.

Sebenarnya hari belum terlalu larut, namun warna langit sore yang sudah gelap membuatnya nampak  seperti malam hari.

Jalan ke rumah Heerin cukup lengang, tidak banyak kendaraan maupun manusia yang berlalu lalang. Hal itu membuatku teringat saat Richan dan aku menemukannya dengan Chen beberapa hari lalu. Hhh.

Wengg Wengg Wengg.

Suara motor-motor yang berjalan melewatiku membuatku kaget. Beberapa orang berbadan besar dengan motornya yang juga besar melaju kencang. Geng motor ? Mungkin saja.

Deg! Seketika setelah mereka melajukan motornya berbelok ke arah gang dimana Heerin belok, aku langsung memacu mobilku lebih kencang.

Aku sedikit cemas– sangat cemas begitu Heerin dan geng motor itu tidak dapat terlihat lagi olehku setelah berbelok ke sebuah gang.

Shit. Aku membanting setir hingga mobilku berputar 360 derajat. Gang kecil ini ternyata tidak cukup untuk dilalui mobilku. Langsung saja aku mematikan mesinnya dan melompat keluar setelah menutup pintunya.

Wuzh wuzh. Motor Heerin? Kenapa bisa terjatuh? Aku langsung memfokuskan indera pendengaranku, mencari dimana keberadaan yeoja itu.

Kakiku langsung bergerak menuju ke sumber suara yang membuatku langsung mengepalkan tangan.

BRAKK BUKK.

Kulayangkan pukulan keras ke arah seorang pria berbadan besar yang dengan beraninya menyentuh wajah yeojaku. Ia membentur dinding cukup keras hingga tak sadarkan diri.

Aku bisa merasakan ketakutan yang besar dari wajah Heerin. Matanya yang sudah berkaca-kaca membuatku langsung marah.

Kualihkan wajahku ke arah dua pria yang sepertinya sudah siap menyerangku. Aku menyeringai ke arah mereka, menunjukkan jajaran gigi serta taringku yang siap menancap di leher mereka.

Namun entah kenapa setelah melihatku dua pria besar itu justru lari terbirit-birit. Pengecut! Aku baru akan berlari mengejar mereka sebelum seseorang tiba-tiba memelukku dari belakang.

Aku melepaskan tangan Heerin melingkar di perutku, kubalikkan   tubuhku menghadapnya. Ia kembali memelukku.

Dengan ragu, aku balas melingkarkan tanganku di tubuhnya, “Kau boleh menjauhiku, menjauhi kami, kau boleh tidak menerima keberadaan kami.. Tapi berhentilah membahayakan dirimu sendiri”

“Aku.. Aku tidak akan menjauhimu lagi”

. . .

 

Night of Art, Author poV_

“Woah kau cantik sekali Heerin.ah~” puji Hyerim begitu melihat temannya mengenakan gaun putih yang baru mereka beli kemarin. Rambut panjangnya yang ia buat kerinting gantung, serta make up casual yang dipakainya membuat yeoja itu terlihat sempurna ditambah lagi gaun putih panjangnya yang tampak simple namun anggun.

Heerin tersenyum membalas pujian Hyerim.

“Mau berdansa denganku?”

Entah sejak kapan Xiumin sudah berdiri di belakang Hyerim. Namja itu mengulurkan tangannya yang disambut hangat oleh sahabat Heerin itu.

Heerin mengerucutkan bibirnya ketika sahabatnya meninggalkan yeoja itu sendirian.

Heerin menjinjitkan kakinya, menoleh ke kanan dan kiri, kedua matanya mencari keberadaan seseorang yang belum memperlihatkan batang hidungnya. Apa ia tidak datang?

“Mencariku?”

Heerin sedikit terkejap begitu mendengar suara yang tepat di telinganya. Baekhyun entah sejak kapan sudah berdiri di samping yeoja itu menyunggingkan sebuah senyuman.

“Neomu yeppo,” ujarnya membuat Heerin langsung tersipu.

Heerin menatap namja di depannya dari ujung kaki hingga kepala. Baekhyun terlihat sangat tampan dengan outfit serba hitam. Perpaduan jaz hitam dan merah yang menutupi kemeja putihnya, serta eyeliner tebal yang melapisi mata sipitnya membuat namja itu terlihat sangat tampan– seperti seorang pangeran drakula.

“Kau juga sangaaat tampan,” balas Heerin membuat Baekhyun tersenyum manis.

Keduanya baru akan terlibat dalam percakapan sebelum seorang namja berjalan mendekati mereka.

“Eh Heerin.ah, teman sekelasmu yang anak baru itu mana?” tanya Chanyeol langsung bergabung dengan mereka berdua.

Heerin mengangkat alisnya, “Richan maksudmu?”

Namja yang memakai jaz putih itu menganggukkan kepalanya membuat Heerin langsung melirik ke arah Baekhyun yang pasti lebih bisa menjawab pertanyaan Chanyeol.

“Mungkin datang sebentar lagi..” ucap Baekhyun membuat Chanyeol langsung meliriknya sinis.

“Dia saudaranya,” tambah Heerin mencoba menjelaskan.

“Ah..” Chanyeol menganggukkan kepalanya mengerti. Ah kukira, batinnya dalam hati.

Heerin tersenyum melihat namja tinggi itu, ia dapat melihat ketertarikan Chanyeol pada Richan.

“Yang kau tunggu baru saja datang,” ujar Heerin mengarahkan kedua matanya ke arah pintu.

Seorang yeoja masuk ke dalam aula, membuat hampir seluruh namja mengarahkan perhatian mereka ke arahnya.

Richan berjalan masuk  tetap dengan wajah dinginnya, rambut panjangnya ia biarkan terurai begitu saja, Make up natural yang dipakainya serta gaun merah muda selutut yang ia kenakan membuat yeoja itu terlihat begitu menawan namun tetap gothic dengan eyeliner hitam.

“Sebaiknya kau cepat sebelum keduluan” tambah yeoja itu sembari menepuk pundak Chanyeol saat melihat beberapa namja   berjalan mendekati yeoja bermarga Kwon itu.

Tidak perlu banyak bicara, Chanyeol langsung berlari ke arah Richan.

Baekhyun menaikkan sebelah alisnya seraya menyunggingkan senyuman.

“Waeyo?” tanya Heerin pada Baekhyun yang tersenyum sendiri.

“Ani.. Ani.. Mau berdansa tuan puteri?”

Baekhyun menyodorkan telapak tangannya sambil membungkuk ke arah yeoja di depannya.

Heerin tersenyum manis, ia meraih tangan Baekhyun malu.

Mereka berduapun turun ke lantai dansa, ikut bergabung bersama murid-murid lainnya.

Heerin menggenggam  tangan Baekhyun yang melingkar di pinggangnya. Yeoja itu memandang namja tampan di depannya malu-malu.

Ia terus menundukkan kepalanya tidak sanggup berlama-lama melakukan kontak mata. Kedua matanya menangkap sesuatu yang melingkar di jari manis Baekhyun. Sebuah cincin dengan batu bewarna hijau. Cincin itu?

“Cincin itu.. milikmu?”

“Ne, ini milik appaku”

Jadi Baekhyun merupakan keturunan kerajaan juga sepertiku, batin yeoja itu menganggukkan kepalanya mengerti.

“Cincin ini hanya tinggal empat dari lima, lalu kalung seperti yang kau miliki hanya tinggal dua saja”

Dahi Heerin berkerut mendengar ucapan Baekhyun, lalu kemana empat sisanya?

“Mereka akan terus berusaha hingga kesepuluhnya hancur. Itulah sebabnya kami datang mencarimu untuk bergabung menggagalkan rencana antek-antek penguasa kegelapan itu”

Begitu mendengar penjelasan namja sipit itu, Heerin langsung melepaskan tangannya. Ia menghentikan kakinya yang semula berayun mengikuti alunan musik.

Baekhyun yang menangkap kecemasan di wajah Heerin langsung memegangi tangan Heerin, menyuruh yeoja itu untuk kembali berdansa dengannya.

“Kau tidak perlu memikirkannya, setidaknya untuk malam ini..” ujar Baekhyun membuat hati yeoja itu lebih tenang.

. . .

 

Richan hanya menyunggingkan smirk atau sekedar menggelengkan kepalanya membalas tawaran setiap namja yang mengajaknya turun ke lantai dansa.

Yeoja itu sekarang hanya berdiri dengan minuman di tangannya. Ia melihat sekeliling aula dan hanya tersenyum. Sebenarnya tak ada sedikitpun niat untuknya berada di tempat ini.

“Woah ini benar-benar kau?”

Richan memutar bola matanya melihat namja yang sekarang berada di depannya. Ia melihat Chanyeol sebentar kemudian membalikkan badan.

“Kau cantik sekali..”

“Kau orang kelima belas yang berpikiran seperti itu,” balas Richan membuat Chanyeol membulatkan matanya.

“Tapi aku akan menjadi orang pertama yang bisa berdansa denganmu..” tukas namja tinggi itu mengulurkan tangannya. Richan hanya tersenyum mendengar ucapan Chanyeol. Benar-benar

keras kepala.

“Kau tidak akan membiarkanku terus dalam posisi ini kan?”

‘Baiklah. Aku hanya ingin membalas budinya yang telah mengembalikan kalungku untuk yang kedua kalinya.’

Richan menerima uluran tangan Chanyeol yang langsung menyunggingkan senyuman lebar.

“Gomawo Richan.ah..” ujar Chanyeol membuat Richan mendongakkan  kepalanya.

“Aku tidak merasa telah menolongmu…”

“Thanks for this night, you make me the luckiest guy in the world”

ucap Chanyeol setengah    mengerapp. Entah kenapa, setelah mendengar rapp Chanyeol, Richan berubah menjadi diam. Ia bahkan tidak berusaha menjauhkan dirinya saat Chanyeol menarik pinggangnya lebih dekat.

Wuzh wuzh.

Tiba-tiba saja Richan melepaskan tangannya. Ia berhenti menari, kedua matanya seperti sedang mencari seseorang.

“Waeyo? Hey Richan.ah!”

Yeoja itu meninggalkan Chanyeol tanpa berkata apapun. Ia terus berjalan menerobos keramaian hingga akhirnya menemukan Baekhyun.

“Ada apa?” tanya Heerin cemas melihat Richan yang tiba-tiba datang menemui mereka dengan wajah yang seolah mengatakan jika ada bahaya di sekitar mereka.

Richan menatap Baekhyun kemudian berkata, “Ada yang datang”

 

ᴥᴥᴥ To Be Continue ᴥᴥᴥ

 

Gimana? Makin geje ya ceritanya?

Maklum author lagi stress haha /plak/

Sorry for typo dan segala kekurangan di cerita ini ~

Thanks for reading ~

Really appreciate your comment ^^

Mau tau kelanjutannya? Mau tau?

See you at next chapter kkk

 

 

 

Iklan

20 pemikiran pada “The Exotics Life of Immortal (Chapter 3)

  1. kak rimaaaaa ~(^o^)~
    ini keren! dan gantung dan penasaran huft
    jadi heerin sodaraan sama luhan?
    richanyeol!!!! aku gatau kenapa suka aja sama mereka.
    bacon so sweet bgt sama heerin huhehe
    jadi hyerim sama xiumin nih? :3

    next capt tetep ditunggu kak semangat!

  2. kyyya Author si pemilik otak doraemon.. hhe peace ^_^v awesome 😀 tolong dilanjutyaa pleaseee. imajinasi yg hebatttt b(^.^)d aku mendukungmu.. fighting ppali dan cepat untuk chapter4 😀

  3. eonni,naneun neomu neomu joayo!…hwaiting!
    aaaaa sok fasih nih heheh…eonni akudah baca part 4 tapi lagi nunggu yang ke5,palliwayo!rima eonni fighting!eonni aku suka banget momennya Richanyeol kayanya lebih ngebuat penasaran gitu u,u Eonni mian aku sok akrab:’)

  4. aduh udah mulai seru tp tbc benar2 bikin penasaran. ternyata baekhyun serius ama heeein aku kirain cuma pengen godain heerin. kalo cincin dan kalung nya berpasangan berarti heerin jg punya saudara dong? jd nggak sabarn pengen segera baca lanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s