Wedding Dress (Chapter 1)

Wedding Dress (Chapter 1)

NOTE             : Sequel of ‘Fall for You’ (Half of My Heart Chanyeol version)

Author             : Inhi_Park

Main casts       : Park Chanyeol&Song Yejin

Support casts   : Yoon Eunhye, Kang ahjussi, Yejin’s parents

Length             : Multichapter

Genre              : Romance, Drama, Marriage life

Rating             : PG-15

A.N.                : Hallo readers… setelah sebelumnya author dateng dengan menggandeng Kai, sekarang giliran HMH versi-nya Chanyeol nih yang author bikinin sequelnya… Semoga readers ga pada kecewa… hehehe

Okee… Happy reading yaa… n_n

Summary         : I’ll do anything for you…

(Author’s side)

“Aku mau semuanya bernuansa putih.”

Seorang gadis berambut panjang tengah sibuk mengobrak-abrik isi lemarinya, mencari sesuatu yang akan terlihat pantas dengan dress biru langit selutut yang telah ia kenakan.

“Putih? Bagus.”

Namja bermata bulat itu merespon perkataan kekasihnya sambil terus berkonsentrasi pada berkas-berkas yang sedang di bacanya. Tangannya masih sibuk membolak-balikkan kertas putih yang berisi deretan huruf yang membentuk rangkaian kalimat berisi perjanjian bisnis.

“Kenapa kau tidak menyebutkan yang seperti apa yang kau mau, oppa”

Yejin, gadis itu tidak berhasil menemukan blazer yang ia cari, yang akan ia padu padankan dengan dress birunya sehingga ia terpaksa menggantinya dengan rok satin merah muda dan atasan berbahan sama dengan warna yang lebih soft.

“Aku akan menyukai apapun yang kau suka.”

Chanyeol masih menancapkan pandangan matanya pada lembaran kertas yang berisi perjanjian bisnis yang harus ia tanda tangani sambil sesekali melirik setumpuk map warna-warni yang isinya sama dengan yang sedang ada di tangannya saat ini.

“Baiklah. Aku sudah mau berangkat.” Kata Yejin sambil beranjak dari kursi kecil di depan meja riasnya.

“Kenapa perginya tidak besok saja supaya aku bisa menemanimu.” Untuk sesaat Chanyeol menghentikan aktivitasnya dan fokus pada lawan bicaranya.

“Tidak perlu, oppa. Eunhye sudah menghubungiku dan katanya gaunnya sudah jadi. Aku tidak sabar ingin segera melihatnya. Lagipula aku bisa kok pergi sendiri.” Bantah gadis yang untuk kesekian kali menatap pantulan bayangan dirinya di cermin.

“Maaf aku tidak bisa menemanimu kali ini.” Sahut Chanyeol yang masih terduduk di meja kerjanya.

“Gwenchana… Jangan sampai lupa makan ya…” Yejin menyambar tas kecilnya, menyampirkannya di bahu kanan lalu pergi meninggalkan kamarnya.

“Ne… Kau hati-hati ya. Kalau ada apa-apa pastikan langsung menghubungiku.” Kata Chanyeol balik memperingatkan yeojanya itu.

“Emh… Bye…”

“Bye…”

~bip~

Sambungan telpon terputus. Yejin berjalan keluar rumah dan menghampiri seseorang bersetelan hitam yang segera membukakan pintu mobil saat ia menangkap bayangan gadis berambut panjang itu menghampinya. Sementara itu, di ruangan yang di dominasi warna putih, Chanyeol kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya membaca dan memahami isi surat-surat yang menumpuk diatas meja kerjanya.

<><><>

(Yejin’s side)

“Kita ke daerah DongDaeMun ya ahjussi…” Kataku sambil membenarkan posisi dudukku di kursi belakang mobil hitam yang dikemudikan oleh Kang ahjussi, supir keluarga yang sudah kami anggap seperti keluarga sendiri.

“Ne, agassi…” Jawabnya.

Tanpa banyak basa-basi lagi, kami melaju menuju tempat tujuanku, kantor wedding organizer. Tanganku merogoh salah satu kantong kecil dalam tas putihku dan mengeluarkan Iphone yang juga berwarna putih.

‘Gaun pengantinmu sudah selesai Yejin-ah. Ini cantik sekali. Kapan kau akan melihatnya?’

Begitu isi pesan singkat yang di kirimkan Yoon Eunhye, kekasih dari salah satu teman Chanyeol, Chen, yang juga merupakan perwakilan dari Wedding organizer yang akan mengurusi pesta pernikahanku. Senyum tipis terukir di bibirku saat kembali teringat kalau aku akan menikah minggu depan.

‘Menikah’

Apa yang ada dipikiranmu saat mendengar kata itu?

Cinta?

Romantis?

Atau bahagia?

Ya, semua itulah yang sedang kurasakan saat ini. Mulai minggu depan, setelah upacara pengucapan janji, namaku akan berganti menjadi nyonya Park karena aku akan menjadi istri seorang Park Chanyeol. Haahh… baru membayangkannya saja aku sudah sangat senang seperti ini.

Ingatanku kembali ke hampir 4 tahun yang lalu. Saat itu, saat aku masih sibuk dengan tumpukan tugas sekolah yang harus ku kerjakan, eomma dan appa menghampiriku ke kamar. Melihat ekspresi wajah mereka, tidak mungkin jika tidak ada hal serius yang akan di bicarakan.

“Kau sedang belajar ya?” Appa berbasa-basi sambil mengelus puncak kepalaku yang masih tertunduk dan terfokus pada buku tulis di hadapanku.

Ku putar posisi dudukku, dan kini aku melihat eomma dan appa sedang duduk di tepian tempat tidurku yang di dominasi warna pink. “Ada apa eomma, appa?” Tanyaku.

“Emh… Yejin-ah, kau masih ingat Park Jungso ahjussi, teman lama appa?” Appa bertanya pelan-pelan sambil mengamati reaksiku.

“Eung… Ne. Sepertinya aku masih ingat.” Jawabku pelan.

“Kau tahu kan kalau kami berteman sangat baik?” Lanjut pria paruh baya yang kini menatapku intens.

Aku tidak bisa menjawab. Otakku terlalu sibuk menerka-nerka akan kemana arah pembicaraan ini.

“Dan kami berencana untuk menjadikan ikatan pertemanan itu menjadi ikatan kekeluargaan.”

Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar tidak karuan. Sesuatu terberesit di benakku. Sesuatu yang kurasa tidak begitu baik buatku… Oh Tuhan… Akan ada apa ini?

“Appa dan eomma setuju untuk menjodohkanmu dengan putranya.”

Akhirnya… firasat burukku menjadi nyata. Lidahku kelu. Tak satu pun kata keluar dari mulutku meski sebenarnya ada banyak hal yang ingin ku katakan.

“Yejin-ah?” Tanya eomma saat melihatku hanya membeku.

“Ah, Ne…”Aku terkesiap saat merasakan lengan halus eomma mengelus punggung tanganku yang terlipat rapi di pahaku.

“Bagaimana?” Eomma menatapku dengan tatapan menuntut. Menunggu kepastian dariku.

Bukannya menjawab, aku malah menundukkan kepalaku dalam-dalam. Entah aku sendiri tidak tahu maksud tingkahku saat ini. Yang jelas aku hanya merasa benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

“Kau boleh mempertimbangkannya dulu. Appa tidak akan memaksamu.” Kata appa pada akhirnya.

Dua orang yang paling berharga dalam kehidupanku itu melenggang keluar kamar. Tapi belum sempat pintu itu tertutup rapat, akhirnya pita suaraku mulai berfungsi lagi

“Eomma…” Suaraku memanggil wanita paruh baya yang langsung tersenyum lalu menghampiriku yang masih terduduk diam.

“Ne, chagi…” Ia mengelus puncak kepalaku lembut.

Aku menatapnya yang kini berjongkok di hadapanku. Tangannya menggenggam kedua tanganku, dan matanya menatap jauh ke dalam mataku.

“Appa kan sudah bilang, kami tidak akan memaksamu.” Katanya pelan. Seolah mengerti perasaanku, ia berusaha untuk menenangkanku.

“Emh… Seberapa penting perjodohan ini untuk appa?” Tanyaku.

“Seperti yang kau tahu, appa tidak akan menyembunyikan apapun dari kita. Kalau dia bilang alasannya adalah demi ikatan kekeluargaan yang ingin terjalin, maka alasannya memang untuk itu. Menurutmu, sepenting apa hubungan persahabatan appamu dengan Jungso ahjussi itu?” Tanya eomma yang menurutku terlalu berbelit-belit.

Lagi-lagi aku tidak menjawab. Aku memang tidak tahu persis seperti apa persahabatan yang di jalin oleh dua orang itu, tapi berdasarkan semua cerita yang pasti diceritakan dengan penuh antusias oleh appa, aku yakin kalau mereka benar-benar sahabat yang sangat kental. Dan sepertinya…

“Namanya siapa?” Tanyaku kemudian.

Eomma memandangku lagi seolah ingin meyakinkan pertanyaanku barusan.

“Aku ingin mengenalnya dulu sebelum memberikan keputusan.” Kataku.

Dan mungkin ini adalah satu-satunya keputusan yang tidak akan pernah aku sesali seumur hidupku. Setelah menggali informasi mengenai namja yang akan di jodohkan denganku dari Kris oppa, kakak sepupuku yang kebetulan satu sekolah dan lumayan mengenalnya, aku yakin kalau dia memang yang terbaik untukku. Park Chanyeol. Namja yang membuatku merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia.

<><><>

Mobil hitam yang membawaku mulai memperlambat lajunya saat kami sudah semakin dekat ke sebuah gedung yang cukup megah. Tak lupa aku berterimakasih pada Kang ahjussi yang selalu dengan senyum tulusnya membukakan pintu mobil untukku.

“Ahjussi, sebaiknya kau pulang saja dulu. Aku akan sangat lama disini, kalau sudah selesai akan ku telpon. Ya?” Kataku pada pria yang rambutnya mulai memutih itu.

“Apa tidak apa-apa agassi?” Tanyanya dengan sangat sopan.

“Tidak apa-apa. Nanti ku telpon kalau aku sudah mau pulang.” Kataku meyakinkan.

“Baiklah kalau begitu aku permisi.” Setelah berhasil ku yakinkan, pria itu berjalan memasuki kursi kemudi setelah sebelumnya membungkukkan badan kearahku.

Dengan penuh percaya diri aku melangkah masuk, tujuanku satu, yaitu lift karena kantor wedding organizer itu terletah di lantai 6 gedung ini. Saat lift terbuka, pemandangan yang belakangan ini cukup sering kulihat terpampang jelas di hadapanku.

Aku melangkah masuk ke sebuah ruangan dengan tulisan ‘Yoon Eunhye’ di depan pintunya. “Anyeonghaseo…” Sapaku.

“Ah, anyeonghaseo Yejin-ah.” Ia berhambur kearahku lalu menyalamiku. “Sendirian?” Tanyanya saat tidak melihat sosok namja jangkung yang biasanya membuntutiku.

“Ne. Chanyeol sedang banyak pekerjaan, jadi kali ini aku datang sendiri.” Jawabku.

Ia memanduku untuk duduk di sofa yang terletak di salah satu sudut ruangan. “Gaunmu sudah selesai.” Katanya. “Ku ambilkan ya…” Tambahnya.

Yoon Eunhye adalah seorang perancang gaun pengantin yang membuatkan gaun untuk pernikahanku. Dia juga yang membantuku membuat perencanaan pesta pernikahanku, dari mulai pemilihan gedung, tema sampai lokasi bulan madu untukku nanti. Kekeke~ dasar gadis itu…

Eunhye menghampiriku dengan sebuah gaun berwarna putih di pangkuannya. Panjang gaun yang melebihi kapasitas rangkulan tangannya memaksanya mengangkat kedua lengannya tinggi-tinggi agar tak seujung kain pun menyentuh lantai.

“Kurasa kau punya bakat mendesign.” Katanya sambil menyerahkan gaun itu ketanganku. “Aku benar-benar menikmati saat-saat menjahitkan gaun yang kau rancang sendiri itu Yejin-ah.”

Aku tersipu. “Kau bisa saja…” Kataku.

Mataku berbinar menatap gaun panjang di pangkuanku. Tanganku menyapu kain yang sangat halus ini. Gaun putih nan elegan yang akan ku kenakan di pesta pernikahanku nanti ini memang hasil rancanganku sendiri. Hasil imajinasiku saat SMA dulu.

Diam-diam aku memang senang menggambar. Dan setelah menerima pertunangan dengan Chanyeol, iseng-iseng aku menggambar gaun impian yang ingin ku kenakan saat hari penting itu. Tanpa di duga, ternyata Chanyeol menemukan hasil karyaku dan memintaku untuk mewujudkan imajinasiku itu. Dan inilah hasilnya. Atas bantuan Eunhye, impianku akan menjadi nyata. Berdiri di pelaminan dengan gaun rancanganku sendiri.

“Cobalah… aku harus memastikan kalau itu pas di badanmu sebelum ku berikan sentuhan terakhir.” Saran Eunhye padaku.

Aku tersenyum lalu mengangguk pelan. Aku berjalan menuju fitting room yang terletak di seberang susunan sofa yang kutempati. Eunhye mengikutiku dan membantuku menutup tirai fitting room ini.

Setelah dengan susah payah mengenakan gaun yang ternyata cukup berat ini, masih di dalam fitting room, aku mematung di depan sebuah cermin super lebar. Eunhye menyerahkan buket bunga lily tiruan dan menyematkan tiara sederhana namun elegan di rambutku yang sebelumnya ia gelung asal.

“Yejin-ah, neo jeongmal yeppeoda…” Komentar Eunhye yang membuahkan senyum tipis di bibirku.

Ternyata ada untungnya juga Chanyeol tidak ikut hari ini. Dia akan melihatku seperti ini hanya di hari pernikahan kami nanti.

<><><>

Jam berwarna putih yang melingkari pergelangan tangan kiriku menunjukan pukul 7 malam saat aku melangkah keluar dari ruangan Eunhye. Begitulah kami, setiap kali bertemu pasti lupa waktu seperti ini.

Aku merutukki diriku yang meninggalkan rumah sendirian dengan ponsel tanpa baterai. Aku lupa men-charge-nya semalam, alhasil aku tidak bisa menghubungi Kang ahjussi sekarang. Malam ini suasana kota memang sangat ramai. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum memanggil taksi dan pulang.

Tanganku menggenggam sebuah sosis besar yang di goreng dengan tepung dan fried fries, aku menyebutnya ‘ugly hotdog’. Ini jajanan yang sering ku santap saat masih sekolah dulu. Sejak lulus sekolah dan mulai sibuk kuliah sampai saat ini aku sudah akan memulai hidup baru, aku sudah sangat jarang memiliki waktu bersenang-senang sebebas ini.

Sejak menginjak dewasa, appa mulai melarangku melakukan hal yang aneh-aneh di pandangannya. Hal itu semata-mata karena aku adalah anak tunggal di keluargaku dan Appaku adalah seorang pengusaha yang cukup terkenal di negeri ini. Sehingga aku punya kewajiban untuk menjaga nama baik keluarga. Sejak kecil aku memang di besarkan layaknya seorang puteri. Kedua orang tuaku selalu ada untukku sehingga aku tidak pernah kekurangan sesuatu apapun. Itu sebabnya saat-saat bebas seperti ini sangat jarang ku dapatkan.

<><><>

Aku melangkahkan kaki mendekati sebuah pemberhentian bis setelah sadar ternyata sudah cukup lama aku berjalan-jalan sendirian. Aku harus segera pulang kalau tidak ingin Appa mengerahkan anak buahnya untuk mengobrak-abrik kota demi mencariku.

Sudah lebih dari 20 menit, tapi tak satu pun taksi yang melintas. Aku sudah semakin cemas karena semakin lama orang-orang yang tadi begitu banyak berlalu-lalang di sekitar sini sekarang terlihat semakin sepi.

“Hai, cantik…”

Sontak aku berbalik saat terdengar suara berat dan serak dari arah belakang.

“Emh… maaf, andasiapa?” Kataku sambil perlahan melangkah mundur.

Pria yang kurasa berusia tidak terlalu jauh berbeda dariku itu terlihat amat sangat berantakan. Kemeja kerjanya sudah tak terpasang rapi di tubuhnya. Dasi yang seharusnya terkalung di leher kini sudah berpindah tempat ke lengan kanannya sementara lengan kirinya mencekik sebotol bir. Hah? Bir???

“Sedang apa sendirian disini? Lebih baik kau ikut aku… kita bersenang-senang…”

Pria itu semakin dekat dan membuat bau alkohol seketika menyeruak sehingga membuatku terpaksa menahan nafas.

“Tolong berhenti disitu. Ku mohon jangan mendekat…” Aku mengangkat tangan kehadapannya berharap pria itu berhenti melangkah.

Namun ternyata tindakanku salah. Pria itu malah mengambil lenganku dan menarik tubuhku mendekat.

“Ayolah cantik…” Racaunya.

“Andwe… Kumohon jangan… Aaaarrrgghh…”

<>끝<>

 

Author’s talk:

Bagaimana readers???

Kali ini author ga mau banyak basa-basi ah, jadi to the point aja yaa… hehe

Di tunggu banget RCL-nya…

Makasih… n_n

Iklan

35 pemikiran pada “Wedding Dress (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s