New Life (Chapter 3)

TITTLE: NEW LIFE PART 3

CAST: Kim Jongin

Sehun

Kyungsoo

Baekhyun

Chanyeol

Junmyeon

Eun So (OC)

Bibi Nam (OC)

Genre: Family, Romance, Comedy.

Author: AAL. (@adlnayu / @y00nkai

Length: Chapter

Notes: pernah di post di Hazelwine.wordpress.com (blog pribadiku.)

Tak terasa sudah genap dua bulan aku tinggal di rumah ini. Aku merasa sangat beruntung karena satu penghuni rumah memperlakukanku dengan baik layaknya keluarga. Itu berarti kedatanganku untuk menjadi bagian dari mereka, diterima.

Kyungsoo sudah mendaftarkanku di universitas yang sama dengannnya, dan bulan depan aku sudah bisa mulai kuliah. Kadang aku heran mengapa Kyungsoo lah yang mengurus semua yang berjalan di rumah ini. Mengapa bukan Baekhyun saja yang notabenase adalah kakak tertua disini?

Namun belakangan aku tahu. Sifat Baekhyun ternyata sangat kekanak-kanakan. Ia bisa dibilang terlalu cerewet untuk ukuran seorang lelaki. Chanyeol juga sama. Tapi bukan berarti aku menganggap mereka berdua tidak bertanggung jawab. Walau begitu ,mereka berdua sangat menyayangi adik-adiknya, termasuk aku. Dan aku tidak bisa merasakan apapun selain bersyukur akan hal itu.

Kabar baiknya, aku dan Sehun sekarang sudah mulai akrab. Kami jadi sering bermain bersama. Walau kadang aku sedikit sebal jika sikap manja Sehun sudah muncul.

Sekarang aku juga sudah mengetahui kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan oleh Sehun.

Ia tidak suka pinggiran roti. Bila Bibi Nam lupa membuangnya, ia akan menaruh roti itu ke dalam vas bunga yang ada di ruang tamu. Gak jelas maksudnya apa. Lalu ia sering sekali memeletkan lidahnya. Menurutku itu tidak sopan, tapi belakangan aku baru tahu kalau lidah Sehun memang lebih panjang daripada ukuran normal. Itu juga yang membuatnya susah mengucapkan huruf ‘S’.

Dan anehnya, hampir setiap setengah jam sekali Sehun suka membuka-buka bajunya. Saat aku menyakan hal itu kepada Bibi Nam, perempuan setengah baya itu hanya bisa berkata, “Ia hanya memastikan. Takut pusarnya hilang.”

Sedetik kemudian aku hanya bisa menyemburkan tawaku yang membahana ke seantaro rumah.

Terkadang Sehun juga suka melakukan sesuatu yang tidak dimengerti oleh orang normal. Contohnya,Ia suka mengumpulkan tutup botol. Kyungsoo bilang koleksi tutup botolnya sudah mencapai seribu dan sebelum tidur ia akan menghitungnya kembali, memastikan apakah ada yang hilang. Sehun juga suka mengecek kolong tempat tidur di setiap kamar, menurunkan jam dinding, dan menaruh batu-batu kecil ke dalam air mancur.

Bukannya tidak mungkin untuk bicara dengannya. Hanya saja dibutuhkan kesabaran yang cukup besar. walau mampu menghafal angka dan berkata-kata, Sehun tidak mampu bicara tentang makna. Ia tidak mengerti mengapa bumi berputar mengelilingi matahari, dan mengapa pelangi terbit setelah hujan.

Sehun juga bisa tiba-tiba mengamuk bila sesuatu terjadi tidak sesuai dengan eksistensinya. Ia akan menggerataki barang, ataupun melempari sesuatu yang berada di dekatnya. Bila beruntung, ia akan capek sendiri dan akhirnya tertidur di sofa. Jika tidak, Bibi Nam terpaksa menutup harinya dengan obat penenang.

Padahal menurutku, obat penenang hanya akan membuat otaknya menjadi semakin rapuh. Namun tidak ada cara lain selain melakukannya.

Semua penghuni rumah ini-kecuali Bibi Nam, selalu memanggil Sehun dengan ‘Adek’. Kyungsoo juga menyuruhku memanggilnya demikian namun karena umur kami sama, aku merasa tidak wajib untuk memanggilnya seperti itu. Bagaimana pun aku ingin memposisikan diriku sebagai temannya.

Namun aku tidak pernah menganggap kebiasaan yang sering Sehun lakukan sebagai sesuatu yang aneh, melainkan unik.

Dan, penelitian yang mengatakan bahwa anak autis mempunyai kelebihan memang benar adanya. Sehun memang sangat susah diajarkan melalui omongan. Ia akan lebih mudah mengerti jika diajari menggunakan gambar. Karena itu di perpustakaan rumah ini banyak sekali gambar-gambar animasi anak.

Kemampuan berhitung Sehun sangat hebat. Dalam waktu seperkian detik ia bisa mengerjakan soal aljabar dan trigonometri yang aku saja masih harus gigit jari dalam mengerjakannya. Selain itu, ia sangat pintar dalam memainkan piano. Sehun bisa memainkan lagu-lagu klasik yang sering diputar di radio, bahkan lebih indah.

Semenjak kejadian aku yang menyelamatkannya di taman, anak itu jadi lebih ramah kepadaku. Terkadang, ia suka mengajakku untuk menemaninya menyusun puzzle. Dengan catatan aku tidak menghilangkan salah satu kepingnya. Bibi Nam bilang itu salah satu kemajuan yang bagus untuk dekat dengannya.

Puzzle-puzzle milik Sehun ternyata besar sekali. Ada yang ukurannya mencapai enam puluh centimeter. Dan, puzzle itu berwarna putih polos. Sama sekali tidak bergambar. Karena itu butuh usaha lebih untuk menyusunnya. Dan anak itu bisa menyelesaikannya dalam waktu kurang dari lima belas menit. Itulah yang membuatku berdecak kagum padanya.

“Dek, mandi dulu yuk.” Kata Eun So sambil melilitkan tubuh Sehun dengan handuk putih.

Aku yang sedang menonton televisi di ruang keluarga sontak berdiri, “tunggu!” cegatku, “Eun So-ya, sekali saja. Biarkan Sehun mandi sendiri.”

“Saya bisa kena marah Tuan Kyungsoo.” Jawabnya halus, “Lagipula kebiasaan ini sudah berjalan sejak kecil, jadi saya sudah terbiasa.”

“Ta-tapi Sehun sudah besar Eun So-ya. Apa kau…tidak malu melihatnya?”

Eun So memiringkan kepalanya untuk berfikir. Lalu menggeleng polos, “Tidak tuh. Lagi pula dia tidak akan macam-macam. Jadi, tenang saja.”

Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Gadis ini. dia itu terlalu baik atau bagaimana sih? Gadis-gadis lain pasti akan kabur duluan jika disuruh dekat dengan Sehun. Namun gadis berkepang dua ini malah senang.

Melihatku yang sedang berfikir keras, gadis itu tiba-tiba nyeletuk., “Kalau begitu…bagaimana kalau Tuan saja yang memandikannya?”

“APA? AKU?”

“iya.” Eun So mengangguk semangat. Senyum jenaka terlukis di wajahnya, “Anggap saja ini sebagai  salah satu proses pengenalan. Tenang saja, air hangat dan sabunnya sudah saya siapkan. jadi tinggal siram lalu gosok saja.”

Apa maksudnya itu siram lalu gosok? Aku gak habis pikir.

“Nih.” Eun So menyerahkan handuk yang ia pegang, “Ingat, air nya harus hangat. jangan terlalu panas ataupun dingin. Pakai sabun cair yang warna hijau, Shampoo nya yang warna ungu. Sikat gigi nya harus yang elektrik, karena kalau tidak ,Tuan muda Sehun akan menelan pasta giginya.”

“Ta-tapi aku…”

“Oiya, gosok badannya dari punggung. Ingat, busa nya jangan sampai mengenai mata!” Ia menepuk pundakku seraya berlalu, “Selamat berjuang ya, Tuan Jongin.”

~NEW LIFE~

 

“Sehun-ah, jangan bergerak terus dong, aku jadi susah nih.” Aku menahan lengan Sehun agar anak ini berhenti meronta.

Ia mengambil bebek-bebekan yang ada di samping bath-up lalu melempar-lemparkannya ke udara. Namun karena terlalu bersemangat, bebek-bebekan itu malah membentur tembok kamar mandi dan akhirnya memantul lalu dengan naasnya jatuh ke  dalam lubang kloset.

Hyung.” Sehun menarik-narik ujung kaosku, “ Shin jatuh.” Shin adalah nama bebek-bebekkan itu.

“Iya,aku tahu. Sekarang kamu diam dulu ya, adikku sayang.” Kataku frustasi. Aku berjalan kearah tempat sabun sambil mengingat-ingat, mana yang sabun cair, mana yang shampoo.

Hyung.

“Yaaa?”

“Selamatkan Shin.”

“Ap-“ Aku menoleh ke arah Sehun yang sedang menatapku dengan tatapan polos. Jarinya yang panjang menunjuk-nunjuk kloset. “Kau menyuruhku untuk mengambil mainan bebek itu?”

Ia mengangguk polos.

“Tidak. Kau harus mengambilnya sendiri.” Aku menolak tegas. Lagipula, siapa yang mau memasukan tangannya ke dalam lubang kloset.

“Kenapa?” Tanya nya polos.

“Kenapa kau bilang?” aku menggelengkan kepalaku frustasi, “Kan kamu yang membuat Shin jatuh kesana. Berani berbuat, berani bertanggung jawab!”

Sehun mengedipkan kedua matanya, lalu memeletkan lidahnya seperti sedang mengejekku. Ia menatap lubang kloset itu dan aku bergantian lalu berkata, “Aku tidak mau. Lubang kloset itu kotor. Sama seperti Hyung yang belum mandi dari pagi.”

“APA?!” aku berteriak keras. Sialan. Ko Bocah ini bisa tau kalau dari pagi aku memang belum mandi? Aku kan sedang liburan, wajar dong kalau mandinya sekali saja. Lagipula aku tadi sudah ganti baju jadi tidak akan bau, “E-Enak saja! Berani kotor itu baik tahu!”

“Shin bisa kedinginan, Hyung.” Katanya lagi, “Cepat ambilkan.”

Siapa yang peduli bebek-bebekan itu kedinginan atau tidak. Namun ini kesempatan emas bagiku untuk memberikan  anak ini pelajaran.

Aku menarik tangan Sehun untuk berdiri. Membawanya kearah kloset itu lalu memaksa tangannya untuk masuk ke dalam lubangnya, “A-Ayo.Selamatkan Shin mu itu.”

Sehun menggeleng keras, “tidak mau! Jorok!”

ia mulai meronta untuk melepaskan tangannya namun kukuatkan genggamanku. Aku terus menarik tangannya agar masuk ke dalam lubang kloset, “Se-sedikit lagi. Ayo ambil bebeknya!”

Jemari Sehun mulai bergetar. Wajahnya kelihatan ketakutan dan menahan jijik. Tapi ini harus dilakukan. Bagaimana pun juga anak ini harus belajar apa itu tanggung jawab walaupun hanya dari hal kecil.

“Ya! Dapat! Kau hebat Sehun-ah!” aku bertepuk tangan. Senang karena Sehun akhirnya mau mengambil bebek itu dan sebagian lagi bangga akan hasil kerja kerasku untuk mengajarinya.

Namun yang aku tidak tahu adalah, Sehun mengambil bebek-bebekan itu dengan cepat lalu melemparkannya ke sembarang tempat. Mengakibatkan air yang ada di dalam lubang kloset itu muncrat keluar dan….mengenai wajahku.

“Wah, wah.” Sehun menggelengkan kepalanya, “Hyung dari si manusia jorok, sekarang menjelma menjadi manusia jorok dan bau.”

Oke. tidak ada kata sabar dalam menghadapi anak ini.

Aku langsung memaksanya kembali duduk. Mengambil seember air lalu langsung menyiramnya tanpa belas kasihan.

Hyung! Air ini terlalu dingin, aku tidak mau!”

“Biarin! Segar kan?” kataku jahil sambil membuka baju yang kukenakan. Sudah terlanjur kotor, lebih baik aku ikut mandi sekalian.

“Aku tidak mau mandi dengan orang jorok seperti Hyung!”

“Enak saja! Biar kulitku hitam begini, aku ini bersih tahu! ” aku langsung berlari kearah rak sabun sambil mengingat-ngingat. Shampoo itu yang warna ungu atau hijau ya? Ah, apa saja lah.

Aku langsung mengambil botol bening berisi cairan berwarna hijau, mengeluarkan isinya di tanganku lalu mulai menggosokannya keatas rambut Sehun dengan semangat. Aku menggerakan tanganku secara memutar agar menghasilkan busa yang melimpah.

Hyung! Kenapa rambutku jadi bau melon?”

“Loh memang seharusnya apa?” tanyaku lagi sambil menaruh cairan hijau itu keatas rambutku.

“Anggur!” jawabnya kesal. Sehun menunjuk-nunjuk rak sabun dengan jemarinya. Sepertinya memberi isyarat agar aku mengambil sabun yang lain.

“Ah, sudah lah! Yang penting bersih!” aku mengambil gayung yang ada samping bath-up lalu mulai membilas tubuh Sehun.

Setelah selesai aku kembali berjalan menuju rak sabuh dan mengambil botol bening berisi cairan berwarna ungu. Menuangkannya pada telapak tanganku lalu mulai menggosok punggung Sehun, “Enak kan Sehun-ah?”

“Sama sekali Tidak.”

Cih. Sombong sekali, “Sehun-ah, lainkali belajar mandi sendiri ya? Kasian loh kalau Eun So harus mengurusmu terus.”

Melihatnya yang hanya diam tidak merespon apa-apa. Aku menyimulkan ia sedang meresapi kalimatku. Namun ternyata aku salah. Kedua pundaknya tiba-tiba bergetar, diiringi dengan suara isakan yang seketika terdengar.

“Se-Sehun-ah, mengapa menangis? Apa aku mengatakan sesuatu yang membuatmu tersinggung? Maaf ya.” Kataku panik sambil menepuk-nepuk pundaknya.

“Bu-Busa….”

“Busa? Kenapa Busa?”

“Busa nya masuk mata!!!” Sehun langsung memutar tubuhnya. Menghadapku lalu menatap manik mataku dengan kedua matanya yang berubah merah.

“Huaaa, Sehun-ah! Kau terlihat seperti setan!”

“Se-Setan?”  wajahnya seketika terlihat pucat. Bibirnya bergetar. Secepat kilat ia langsung membuka kunci kamar mandi lalu berlari secepat kilat, “Ada Setaaaan! Eun So, Bibi Nam, tolong akuuu!!!”

“He-Hey  Sehun-ah, kau masih telanjang! Jangan lari keluar!” dengan gerak cepat aku langsung membasuh tubuhku dengan air. Menyambar handuk dan melilitkannya pada tubuhku. Lalu berlari keluar.

“Sehun-ah!!! Jangan lari-lari dengan tubuh telanjang begitu!!!” teriakku.

Aku langsung berlari menuju ruang keluarga, tapi Sehun tidak ada disana. Ruang tamu, Kolam renang, kamar nya, bahkan aku sampai mengecek gudang yang ada di loteng tapi ia tetap tidak ada. Membuatku menduga bahwa Sehun lari ke jalan raya dengan tubuh telanjang begitu. Ini gawat.

Tanpa pikir panjang lagi aku langsung berlari keluar rumah. Aku bahkan sampai lupa mengenakan sandal. Ada yang lebih penting daripada sekedar menggunakan alas kaki. Adikku pasti ada di luar sana, dan aku harus memastikan ia tidak apa-apa.

“Ih, ada orang gila!”

Aku menoleh ke sumber suara dan menemukan seorang anak kecil menatapku dari ujung rambut hingga kaki. “Siapa yang kau sebut orang gila huh?”

“Ada orang gilaaaa!” anak itu malah lari sambil berteriak lebih keras.

Aku menggeleng tidak mengerti. namun sedetik kemudian aku baru menyadari bahwa orang-orang disekitar mulai berkumpul untuk melihatku. Aku menundukan wajahku, dan baru menyadari bahwa sedari tadi aku keluar hanya dengan menggunakan handuk. Pantas saja anak tadi mengira bahwa aku ini orang gila.

Secepat kilat aku langsung berlari  masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu. Aku langsung jatuh merosot saat kusandarkan tubuhku pada tembok.

Sebenarnya yang autis disini aku atau Sehun sih?!

 

~NEW LIFE~

 

Memang dasar dewi fortuna selalu berpihak kepada Sehun. Ternyata anak itu tadi berlari masuk ke dalam kamar Bibi Nam yang ada di samping dapur bersih. Bibi Nam langsung membasuh tubuh dan rambut Sehun, dibantu oleh Eun So.

Dan malamnya aku dimarahi habis-habisan oleh Kyungsoo di ruang keluarga. Rasanya seperti sedang di Sidang. Ia memarahiku karena sudah mempermalukan diri di depan seluruh warga perumahan ini, dan hampir membuat Sehun terkena penyakit kulit.

“Kau menggunakan Shampoo untuk membersihkan kulitnya Jongin-ah.” Ia menggelengkan kepalanya sambil berkacak pinggang, “Bagaimana mungkin kau tidak bisa membedakan antara shampoo dan sabun cair. Huh?!”

“Maaf Hyung.” Aku menundukan kepalaku. Tak berani menatap sepasang matanya yang bulat.

Karena kesalahanku itu, punggung Sehun menjadi merah-merah. Aku baru tahu bahwa kulitnya sangat tipis seperti bayi. Karena itu ia mudah terkena iritasi. Dan usahaku untuk membuatnya mandiri malah berdampak sebaliknya. Anak itu malah menjadi makin manja pada Eun So. Menyebalkan.

“Sudahlah, Kyungsoo-ah. Biarkan ini menjadi pelajaran untuknya.” Kata Baekhyun bermaksud menenangkan. “Kau berjanji tidak akan melakukan hal ceroboh seperti itu lagi kan Jongin-ah?”

“Janji, Hyung!” jawabku lantang sambil menunjukan tanda peace dengan jari tengah dan telunjukku.

Walau sepertinya Kyungsoo belum puas untuk memarahiku, ia mengangguk juga. Menghela nafas lalu masuk ke dalam kamarnya.

“Maafkan sikap Kyungsoo ya.” Chanyeol tiba-tiba duduk disampingku, “Ia memang sensitif kalau sudah berhubungan dengan Sehun.”

“Memangnya kenapa?” aku tahu semua orang di rumah ini sangat sayang pada Sehun. Aku bisa memahaminya. Namun kurasa Kyungsoo berbeda. Aku merasa ia benar-benar melindungi Sehun sehingga tidak memberikan anak itu sedikit ruang. Rasa sayang Kyungsoo padanya malah mengekang Sehun secara perlahan.

Baekhyun menyodorkan segelas air untukku, “Karena…Kyungsoo pernah membuat Sehun hampir mati Jongin-ah.”

“A-Apa?” aku menyemburkan air yang tadi hendak kutenggak, “Bagaimana bisa itu terjadi?”

Chanyeol dan Baekhyun berpandangan seperti sedang berdebat siapa yang akan menceritakannya padaku. Namun akhirnya Baekhyun mengalah dan mulai bercerita, “Saat itu umur Kyungsoo masih sepuluh tahun. Ia sangat suka bermain bola tendang bersamaku, ataupun Chanyeol”

“Tapi karena kami berdua sedang sibuk menyiapkan diri untuk tes masuk SMP, kami tidak bisa bermain dengannya. Dengan terpaksa akhirnya ia mengajak Sehun untuk menemaninya bermain di taman.” Baekhyun menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa, “Padahal saat itu Sehun sedang demam tinggi. Tapi ia tidak bilang. Anak itu tetap ingin menemani kakaknya bermain.”

“Saat sudah sampai di taman, Kyungsoo menendang bola begitu keras sampai mengenai kaki Sehun. Karena fisiknya yang saat itu sedang lemah, Sehun hanya bisa membalas tendangan itu pelan.” Baekhyun terlihat berat untuk melanjutkan ceritanya, namun melihatku yang menatapnya dengan pandangan beri-tahu-aku-semuanya, terpaksa ia harus melanjutkan, “Saat itu Kyungsoo langsung mengatai Sehun, ‘Dasar anak bodoh’, dan berjalan meninggalkan anak itu. Saat ia berbalik pergi tiba-tiba terdengar suara dentuman yang cukup besar.”

“Sehun…pingsan?” tanyaku ragu-ragu.

Baekhyun mengangguk, “Bukan hanya pingsan. Kepala Sehun membentur batu dan mengakibatkan luka yang cukup besar. Kyungsoo tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Akhirnya ia menelpon ayah yang sedang berada di kantor. Beliau langsung menjemput mereka dengan mobil dan membawa Sehun ke rumah sakit.”

“Karena itu, Sehun harus dirawat di ICU selama beberapa hari. Ibu sangat marah dan menampar Kyungsoo, tapi ayah tidak.” Baekhyun menatapku nanar, “Ia malah memarahi Bibi Nam karena tidak menjaga Sehun dengan baik.  Ia marah pada semua orang, kecuali Kyungsoo.”

“Lalu Saat Sehun keluar dari rumah sakit, ia memberanikan diri untuk menemui Kyungsoo.” Chanyeol untuk kesekian kalinya ikutan nyeletuk, “Dengan polosnya anak itu berkata, ‘Hyung, maaf karena aku bodoh. Kau jadi dimarahi oleh ibu’”

“Kyungsoo merasa bahwa Sehun lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Sejak itu, ia berjanji akan terus menjaga Sehun, dan tidak akan membiarkan kejadian seperti itu terulang lagi.” Baekhyun mengakhiri ceritanya dengan meneguk Teh Twinings yang baru di seduh oleh bibi Nam.

Aku mengangguk mengerti mendengar ceritanya. Kalau benar begitu, wajar saja Kyungsoo bersikap agak berlebihan jika menyangkut tentang Sehun. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika menjadi dirinya.

Namun, ada yang mengusik pikiranku. Benarkan orang bernama Junmyeon, adalah orang yang sangat baik? Kalau iya, kenapa ia tidak berusaha untuk mencari ibuku? Mengapa ia tega menelantarkannya? Mengapa baru sekarang aku dipanggil untuk masuk ke dalam lingkaran keluarganya?

Ataukah…..orang itu menyembunyikan sesuatu dariku?

~NEW LIFE~

 

Aku menceburkan kedua kakiku ke dalam kolam renang. Kepalaku mendongak menatap hamparan bintang yang tersebar di langit malam.

Rumah ini ternyata lebih besar daripada yang aku kira. Terdapat ruang Gym yang terletak di samping bilik untuk membilas tubuh sehabis berenang, perpustakaan keluarga, studio lukis yang notabenase adalah ruang kerja istri sah Junmyeon, ruang untuk berdoa dan tempat bermain yang dibuat khusus untuk Sehun.

Aku jadi bertanya-tanya apa sebenarnya pekerjaan seorang Kim Junmyeon. Direktur kah? Arsitek? Insinyur? Atau pelukis juga seperti istrinya? Lalu bagaimana caranya kakak-kakak tiriku mengatur pengeluaran yang pastinya sangat besar setelah Junmyeon meninggal? Apakah harta warisannya begitu besar?

“Boleh aku duduk disebelahmu?”

“Wuah!” hampir saja aku tercebur ke dalam kolam renang, saat melihat Eun So tiba-tiba saja menundukan dirinya disebelahku, “Oh. B-boleh ko.”

“terima kasih.” Ia tersenyum manis. “Sepertinya belakangan ini banyak yang Tuan pikirkan.”

“Jangan Tuan. Jongin saja.” Kataku, “Aku risih mendengarnya.”

“Ah, maaf kalau begitu.” Ia menutup mulutnya. Reflek yang sangat lucu dimataku. “Baik. Jongin.”

Aku tersenyum puas sambil mengangguk. Gadis itu ikut mencelupkan kakinya ke dalam kolam renang lalu mencibak-cibak airnya seperti anak kecil. “Eun So-ya, kau sudah berapa lama bekerja pada keluarga ini?”

“Em…..” ia hadapkan wajahnya pada langit seperti hendak mencari jawaban, “Mungkin…sejak Tuan Sehun berumur lima tahun. Itu berarti sudah empat belas tahun.”

“Umurmu…. Sembilan belas tahun?’

“Ya.”

“Wah. Haruskah aku memanggilmu noona?”

“Jangan! Itu membuatku terdengar tua.”

Aku hanya mengangguk untuk menanggapi. Mungkin karena hari sudah malam, gadis itu jadi menggerai rambut panjangnya yang biasa di kepang dua. Kaus lengan panjang yang ia pakai terlibat kebesaran ditubuhnya yang kurus. Mau tidak mau gadis ini jadi mengingatkanku pada Sehun. Apa karena mereka begitu dekat sampai-sampai sering bertukar kebiasaan dalam berpakaian seperti ini?

Gadis itu juga melepas kacamata bulat yang biasa bertengger diatas hidungnya. Membuatku dapat melihat warna bola matanya yang begitu jernih.

“Daridulu, saya selalu penasaran dengan anak Tuan Junmyeon yang hilang.” Ia mulai membuka pembicaraan, “Tidak menyangka bahwa suatu hari nanti bisa bertemu dengannya. Bahkan duduk di sebelahnya.”

“kau berkata seakan aku ini artis saja.” Kataku setengah bergurau.

Gadis itu tertawa, “Selama ini…sebelum sampai ke rumah ini… anda ada dimana?”

“Panti asuhan.” Jawabku cepat, “Ta-tapi jangan menganggap itu adalah tempat yang menyedihkan. Aku mendapatkan banyak teman disana. Para ibu asuh dan sukarelawan pun sangat baik dalam mengurusku. Jadi, aku cukup betah tinggal disana.”

“Apa tidak ada orang tua yang mengangkatmu sebagai anak mereka?” merasa pertanyaan yang ia ajukan agak tabu, Eun So langsung menutup mulutnya, “Ma-maaf. Jika tidak ingin dijawab juga tidak apa-apa.”

“tak apa.” Aku tersenyum menenangkan, “Yah…aku juga tidak tahu. Yang jelas bila ada orangtua yang datang ke Panti, lalu mereka tidak memilihku sebagai anak, entah mengapa aku malah merasa lega.” Jawabku jujur.

Teman-temanku datang silih berganti. Bahkan kadang aku hanya sempat berkenalan dengan mereka selama tiga bulan sebelum mereka diangkat menjadi anak oleh orang tua asuh. Aku tidak merasa iri apalagi dengki dengan mereka yang akhirnya mendapatkan kasih sayang orang tua. Karena di dalam lubuk hati, aku selalu percaya. Bahwa suatu hari nanti pasti ada yang akan menjemputku, dan membawaku ke dalam satu lingkaran bernama keluarga.

Dan itu terbukti. Sekarang aku ada disini. Bersama keluarga baruku. Adik dan kakakku. Bibi Nam, juga Eun So.

“Kau tidak menyesal datang kemari?”

“Tentu tidak. Mengapa aku harus menyesal Eun So-ya?”

“Bagus kalau begitu.” Ia tersenyum lagi, “Karena, percaya atau tidak, kakak-kakak dan adikmu, telah menunggu kehadiranmu sejak lama.”

Melihatku yang terdiam tidak mengerti, ia melanjutkan “Mereka sebenarnya sangat rindu dengan sosok Tuan Junmyeon. Dan sekarang, kau hadir disini. Memberikan hangat dan kasih sayang yang sama seperti apa yang selama ini Tuan Junmyeon berikan.”

“Apa segitu miripnya aku dengan beliau?”

Ia mengangguk semangat, “Percayalah padaku.”

Setelah itu, pembicaraan kami mengalir lancar. Gadis itu tidak terus menerus berbicara tentang sejarah keluarga ini saja, tapi juga menceritakan kejadian-kejadian lucu yang pernah terjadi. Seperti Sehun yang kabur dari ulang tahunnya sendiri karena takut akan badut, Baekhyun yang hampir di keluarkan dari sekolah karena mengendarai mobil milik tukang kebun dan hampir menabrak sang kepala sekolah, Chanyeol yang hampir tiap minggu memecahkan kaca jendela, dan Kyungsoo yang mengaku pada semua orang bahwa ia mirip Koala.

Ia juga berbagi cerita tentang pengalamannya mengecap pendidikan di kota Seoul ini, dan aku gantian menceritakan bagaimana asyiknya hidup ala anak Panti Asuhan. Sesekali gadis itu tertawa lepas sambil memukuli lenganku lembut. Rambutnya yang panjang di terpa angin malam malah membuat dirinya kelihatan semakin cantik. Sisa malam ini berlalu tanpa terasa.

Malamnya aku tidak bisa tidur. Pikiranku terpecah antara kejadian yang telah terjadi denganku belakangan ini, dan senyum manis milik Eun So yang muncul tiap kali kedua mata ini terpejam.

~TBC~

 

 

46 pemikiran pada “New Life (Chapter 3)

  1. kocak bgt kejadian lucunya haha 😀 . Bang d.o ngapain blg mrip koala?haha 😀 . Sehunie kmu hebt bsa ngitung ttp btol ampe rbuan. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s