Stand By Me (Chapter 1)

STAND BY ME

TITLE: STAND BY ME

AUTHOR: VENUS_228

MAIN CAST

  1. WU YI FAN ( KRIS EXO M)
  2. HAN SOO MI
  3. CHOI SEUNG HYUN ( TOP BIG BANG)

GANRE: ROMANCE

______________________________________________________

HAN SOO MI POV

Aku berdiri dalam diam sambil menatap wajah seorang namja yang sedang tertidur pulas hingga tak menyadari keberadaan ku. Wajahnya terlihat begitu tenang dan damai. Seolah tak memiliki beban sama sekali.

Aku tersenyum. Ini sudah yang kesekian kalinya aku menatap wajahnya yang sedang tertidur. Tapi perasaan ku tak pernah berubah. Perasaan tenang dan hangat yang terasa asing selalu memenuhi hati ku saat menatapnya. Anehnya perasaan ini hanya datang saat aku menatap wajahnya yang tertidur pulas seperti saat ini.

Saat dia terjaga wajahnya selalu datar dan dingin. Sepasang matanya yang sebenarnya indah selalu menatap dengan tajam. Termasuk pada ku, teman dekatnya dari kecil. Dia juga jarang sekali tersenyum. Saat menatap wajahnya yang sedang terjaga perasaan kesal selalu memenuhi hati ku. Membuatku lebih banyak bertengkar dengannya daripada akur satu sama lain.

Aneh memang. Kami teman dekat yang lebih cocok disebut musuh daripada teman. Padahal kami tumbuh besar bersama. Tapi dia tetap temanku. Selain itu dia sebenarnya baik dan pengertian. Hanya saja sifat baik dan pengertiannya itu tersembunyi cukup dalam dibalik wajah dingin dan sifat tenangnya.

“ Oh, Soon mee pagi sekali kau datang.”

Aku menoleh dan menatap pintu kamar yang terbuka lebar. Lalu tersenyum pada wanita cantik paruh baya yang berdiri tepat di luar kamar. “ Annyeong haseo, ahjuma.” Aku menyapa wanita itu sambil membungkuk sopan. “ Aku datang lebih pagi karena nanti ada ulangan pada jam pertama dan aku tak ingin dia sampai melewatkan ulangannya lagi.”

Wanita itu yang tak lain adalah eomma dari namja yang masih tertidur pulas di kasurnya ini tersenyum lembut. “ Kalau begitu bangunkan saja dia. Tapi lebih baik kau pakai cara paksa karena dia cukup sulit untuk di bangunkan. Semalam dia pulang sangat larut karena harus latihan seperti biasanya.”

“ Ne, agasshumita, ahjuma.”

Wanita itu kembali tersenyum lembut. “ Kalau gitu ku tinggal tak apa, kan. Soalnya aku ingin menyiapkan sarapan. Kau juga pasti belum sarapan.”

Aku tersenyum malu. Wanita itu sudah mengenal aku dan keluarga ku dengan sangat baik. Jadi dia tau kalau appa dan eomma ku terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing hingga tak ingat kalau memiliki seorang anak dan harus membuat sarapan untuk anak mereka. “Ne, ahjuma. Gomawoyo.”

Wanita itu mengangguk sambil lagi-lagi tersenyum lembut. Lalu dia berbalik dan melangkah pergi menuju dapur yang terletak di lantai satu. Aku mendesah lalu kembali menatap wajah namja yang masih tetap tertidur pulas itu.

Sebaiknya pakai cara apa membangunkannya? Cara kasar atau cara halus? Atau mungkin aku bisa langsung menyiramnya dengan air sebaskom seperti yang terakhir kali. Aku menggeleng dan menghapus ideku yang terakhir itu. Aku tak ingin membuat ahjuma repot karena tingkah isengku itu. Tapi bagaimana lagi caranya membangunkan namja yang satu ini? Lalu sebuah ide terlintas dalam pikiranku.

Aku tersenyum jail sambil merenggangkan otot jari-jari tanganku. Lalu aku menggelitik tubuhnya dengan sekuat tenaga dan penuh perasaan. Membuat namja itu langsung terbangun sambil tertawa dengan keras.

WU YI FAN POV

Aku sedang tidur pulas di kamar ku. Merasa begitu lelah karena semalam harus berlatih dengan yang lain hingga sangat larut. Ku pikir begitu pulang aku dapat istirahat dengan tenang tanpa ada yang menggangguku sama sekali. Tapi aku lupa pada seseorang yang selalu membangunkan ku setiap pagi dengan cara yang betul-betul tidak berperikemanusian.

Dan akhirnya pagi ini aku kembali diingatkan pada orang itu. Aku masih dalam keadaan tidur tapi samar-samar aku mendengar suara dua orang sedang berbicara. Aku ingin membuka kedua mataku tapi rasanya sangat berat dan akhirnya aku memutuskan untuk tak mempedulikan kedua orang itu.

Lalu aku terbangun sambil tertawa saat merasakan sepasang tangan menggelitik tubuh ku dengan sekuat tenaga. “ YA!!! Hentikan!!!” bentakku sambil tertawa.

“ Andwe. Aku tak akan berhenti sebelum kau benar-benar bangun.” Yoeja yang sedang menggelitik ku itu menjawab dengan enteng. Sepertinya pemandangan aku yang sedang kesal sambil tertawa terbahak-bahak itu menarik untuknya.

Dengan sekuat tenaga sambil terus tertawa akhirnya aku berhasil menangkap kedua tangannya dan membelenggunya dalam genggamanku. Aku menghela napas lega karena akhirnya siksaan tak berperikemanusian itu berakhir. Sementara yoeja itu terdiam sambil menatap kedua tangannya yang berada dalam belenggu genggamanku.

Aku tersenyum singkat. Sepertinya aku menemukan cara untuk membalasnya. Dan cara itu lebih lembut daripada caranya membangunkan ku. Yoeja itu berusaha menarik tangannya dari genggamanku. Aku balas menariknya dan dia kembali menarik tangannya. Aku lupa kalau yoeja ini lebih kuat dari yoejadeul lain yang pernah ku kenal.

“ YA!! Pabo!! Lepaskan tanganku.”                                                                                                   “ Aku tidak mau.” Lalu dengan sekali sentakan aku membuatnya terjatuh tepat di atasku. Aku tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajahnya memerah saat menyadari wajahnya dan wajahku begitu dekat. Dia langsung mengalihkan tatapannya sambil berusaha bangkit tapi aku menahannya.

“ Soon mee-ah.” Aku memanggilnya lembut. Dia kembali menatap wajahku tapi berusaha untuk tidak langsung menatap kedua mataku. “ Apa yang membuatmu datang sepagi ini?” tanyaku menahan tawa melihat wajahnya yang memerah dan tampak gugup itu.

“ Mmm…..” dia kesulitan untuk menjawab pertanyaanku dalam keadaan seperti ini. Dan hal itu membuatku kembali terhibur. “ Kau pasti tau jam pertama nanti ada ulangan. Karena itu aku lebih pagi kali ini.”

“ Kenapa kau begitu yakin aku akan mengikuti ulangan pagi ini? Aku sedang malas untuk pergi sekolah.”

“ YA!!! Kau ingin tidak lulus??!!” dia menatapku kesal lalu kembali mengalihkan tatapannya saat tanpa sengaja tatapan kami bertemu.

Aku kembali tersenyum singkat. “ Memangnya kau tak ada cara lain untuk membangunkan ku?”                                                                                                                                      “ Seharusnya tadi aku menyiram mu dengan air.” Dengusnya sambil menatap laci kecil yang berada tepat di samping kasurku. “ Cepat lepaskan aku!!!”                                                                        “ Kau bicara pada siapa? Laci? Memang apa salah laci itu padamu?” tanyaku polos. Membuatnya semakin kesal dan langsung menatap tepat ke manic mataku.

“ Lepaskan aku!!” katanya dingin.                                                                                                     Aku menggeleng. “ Aku tidak mau.” Jawabku santai. “ Kau duluan yang mencari masalah.”                                                                                                                                                      “ Mencari masalah? Kapan aku mencari masalah?”                                                                                  “ Masuk ke kamar seorang namja seorang diri dan tanpa izin itu namanya cari masalah.”                       “ Oh, ayolah. Aku sudah sering masuk ke kamar mu dari kecil. Memang masalah apa yang bisa terjadi?”                                                                                                                                              “ Mungkin kau lupa kalau aku dan kau bukan anak kecil lagi. Aku juga masih normal yang artinya aku hanya tertarik pada yoeja. Dan kau pasti dapat menebak masalah apa yang dapat terjadi jika seorang namja dan yoeja berada dalam satu kamar.”                                                      “ KAU!!!!!!” dia menatapku panik saat mendengar perkataanku itu. “ Lepaskan aku!!!”

Melihatnya yang mulai panik membuatku tak sanggup menahan tawa dan akhirnya melepaskannya. Dia bangkit dengan wajah kesal saat menyadari aku sedang mempermainkannya. “ Itu sama sekali tak lucu.”

“ Bagiku itu sangat lucu. Seharusnya kau lihat sendiri ekspresi panik mu saat mendengar ucapanku. Kau betul-betul percaya aku akan melakukan hal yang tidak-tidak padamu? Pabo. Kau ini benar-benar pabo.” Aku masih tertawa terbahak-bahak.

“ KRIS!!!! ITU SAMA SEKALI TIDAK LUCU!!!” Aku langsung terdiam mendengar bentakannya. Sementara Soon mee langsung berjalan keluar kamar. “ Setengah jam lagi kau masih belum siap, aku berangkat duluan.”

HAN SOO MI POV

Sialan!!! Dia berhasil mempermainkanku dengan sangat sempurna. Membuatku betul-betul malu pada diriku sendiri. Rasanya aku ingin menghilang saja dari hadapannya karena kejadian tadi. Kejadian yang membuat berbagai perasaan bercampur aduk dalam hatiku.

Selama perjalanan menuju sekolah dengan mobilnya, kami terdiam. Aku masih sangat kesal hingga memilih untuk menatap keluar jendela daripada harus memulai pembicaraan. Sementara dia focus menyetir dengan tenang sambil menatap lurus ke depan. Sifat tenangnya itu membuatku semakin kesal. Seolah tak ada yang baru saja terjadi diantara kami.

Lalu mobil berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Setelah memarkirkan mobilnya di tempat yang benar, Kris keluar dan berjalan mengitari mobil dan membukakan pintu untukku. Kebiasaannya yang selalu berhasil membuatku terkesan. Tindakannya itu membuatku merasa seperti orang yang sangat istimewa.

Biasanya aku akan tersenyum manis saat dia membukakan pintu untukku. Tapi kali ini aku sedang dalam keadaan kesal sehingga aku tak berniat untuk tersenyum. Terlebih lagi sabuk pengamanku tiba-tiba saja macet dan sulit untuk di lepas. Membuatku semakin kesal sambil berusaha melepaskan sabuk pengaman sialan ini.

Lalu ku dengar Kris berdecak kesal. “ Kau ini benar-benar merepotkan.” Aku terkejut saat tiba-tiba dia membungkuk dan menyentuh kedua tanganku yang sedang berkutat dengan sabuk pengaman macet itu.

Aku langsung menarik kedua tanganku dan menyandarkan rapat-rapat punggungku pada sandaran jok mobil. Berusaha memberikan jarak antara tubuh ku dan tubuhnya yang begitu dekat sambil menahan napas.

Jantungku berdetak dua kali lebih cepat saat melihat wajah tampannya yang tanpa ekspresi dari jarak sedekat ini. Membuat tanganku tiba-tiba saja ingin menyentuh dan menyusuri setiap inchi dari wajahnya. Wangi tubuhnya yang sudah sangat fameliar bagiku tiba-tiba saja membiusku dan membuat jantungku seolah berhenti berdetak. Pabo. Ada apa dengan diriku? Kenapa aku jadi seperti ini?

KLIK

Sabuk pengaman sialan itu akhirnya terbuka. Membuatku menghela napas lega sementara Kris kembali menegakkan tubuhnya dan tersenyum singkat padaku. Sangat singkat hingga aku tak yakin dia baru saja tersenyum.

Aku kembali menahan napas saat dia meraih kedua tanganku dan berlutut dengan satu kaki tepat di depan pintu mobil yang terbuka lebar. Membuatku merubah posisi duduk ku dan menghadapnya. Sebenarnya aku ingin langsung kabur begitu dia berhasil melepaskan sabuk pengaman ini. Tapi jalanku satu-satunya untuk kabur dihalangi olehnya. Sementara di sekitar kami mulai banyak mata yang menatap dengan penasaran.

“ Mianhe. Joengmal mianhe.” Katanya lembut sambil meremas pelan kedua tanganku yang berada dalam genggamannya.                                                                                                                       Kenapa tiba-tiba aku sulit bernapas? “ Untuk apa kau meminta maaf?”                                      “ Tindakanku di rumah tadi sangat tidak pantas. Mianhe.”                                                                     Aku tersenyum lembut. Merasa terkesan dengan caranya meminta maaf ini. “Gwenchana. Tak usah dipikirkan.”

“ Kau memaafkan ku?”                                                                                                                       Aku mengangguk. “ Kau temanku dan aku tipe orang yang tidak bisa mendendam pada temannya sendiri. Jadi kau ku maafkan.”                                                                                                        Dia tersenyum lalu bangkit dan menarikku pelan. Membantuku berdiri lalu menutup dengan rapat pintu mobil. “ Kajja. Kita hampir telat.”

Aku mendengus lalu tertawa kecil. “ Gara-gara siapa kita hampir telat ya.”                                      Dia tertawa sambil menggenggam erat tanganku tanpa mengatakan apa-apa. Sementara di sekitar kami banyak mata yang menatap dengan iri.

~TBC~

Iklan

37 pemikiran pada “Stand By Me (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s