Be My Girl? (Chapter 1)

Author           : awanderingwonder

 

Judul             : Be My Girl? [Part 1/?]

 

Genre            : Romantic

 

Main Cast      : Sehun (EXO-K), Kim Aeyoung (OC/You), Jung Daehyun (B.A.P.)

 

Disclaimer    : I don’t own the characters (eventhough i wish lol). Only own the plot.

 

Note              : Halo :D Akhirnya part 1 dipost juga kekeke. Maaf ya lama ._.v aku ngerubah seluruh isi cerita soalnya. Dan ini part pendek u,u as always. Di part ini masih belum ada Sehun. Dia muncul di part selanjutnya ;) Hope you like it!

Happy reading~! ^^

***

 
“Jadi, apa Daehyun sunbaenim mau menerimaku?”

 

Daehyun menguap lebar-lebar. Kemudian ia menatap perempuan didepannya ini dengan malas. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya. “Tidak. Aku tidak tertarik.”

 

Gadis didepannya ini mungkin sudah gadis kelima yang menyatakan perasaannya kepada Daehyun, hari ini. Tapi begitulah, selalu ditolak mentah-mentah olehnya. Daehyun memang murid yang cukup populer atau boleh dibilang ia murid laki-laki paling populer di sekolah. Wajah tampan, hidung mancung dan pembawaannya yang sangat cool menjadikannya sebagai anak populer di sekolah. Sudah tak terhitung lagi berapa jumlah murid perempuan yang sudah menyatakan perasaannya, tapi selalu ditolak oleh Daehyun.

 

Kenapa? Rata-rata murid perempuan disini, di Seoul of Performing Arts High School menurut Daehyun adalah gadis manja yang suka memamerkan jumlah rekening orangtua mereka. Berbuat seenaknya terhadap junior, banyak mulut, dan lain-lainnya. Ya, itulah pendapat Daehyun tentang para murid perempuan di sekolah ini.

 

Gadis itu menatap Daehyun dengan raut muka gelisah. “A-apa.. sunbaenim sudah punya kekasih?” tanyanya takut-takut.

 

Daehyun mengangkat alis. Jujur saja, dia masih belum punya. Tentu karena faktor ‘gadis manja’ yang ada di sekolah ini. Lagipula, ia masih belum tertarik dengan apa-itu-pacaran. Yang ia fokuskan sekarang ini adalah kegiatan trainingnya.

 

Daehyun masih diam dan berpikir mencari alasan yang cocok. Tepat pada saat itu seorang gadis yang mampu-mengalihkan-pandangan-Daehyun lewat didepannya. Gadis itu sedang berjalan di koridor bersama teman-temannya. Tanpa pikir panjang, Daehyun menunjuk gadis itu.

 

“Nah itu dia! Dia adalah pacarku,” ujarnya mantap. Kemudian merutuki perbuatan bodohnya yang sembarangan menunjuk orang. Kalau saja gadis itu menoleh, tak tahu apa lagi yang harus ia lakukan.

 

“Siapa namanya, sunbaenim?” tanya gadis didepan Daehyun itu lagi.

 

“Err..” Ia harus menjawab apa?

 

“Kalau kukatakan padamu, ia akan marah. Ia tidak suka hubungannya diketahui publik,” ucap Daehyun asal. Sudah pasti ia takkan memberi tahu nama gadis itu, kenal saja tidak.

 

“Ah, baiklah kalau begitu. Terima kasih sunbaenim mau meluangkan waktumu,” kata gadis didepan Daehyun itu. Gadis itu melewati Daehyun dengan kepala tertunduk. Memang mau bagaimana lagi kalau sehabis ditolak?

 

~

 

“Ya, ini hanya perasaanku saja atau Jung Daehyun barusan menunjukmu?” Lee Ri-Ah berhasil menghentikan langkah kedua sahabatnya, Kim Aeyoung dan Kwan Hyojo. Keduanya langsung berhenti berjalan dan memutar kepalanya cepat. Dan dengan bersamaan keduanya bertanya, “Apa?”

 

“Bukan kau Hyojo, tapi Aeyoung. Ya, barusan aku melihat Jung Daehyun menunjukmu,” jelas Ri-Ah kemudian mereka kembali melangkah.

 

“Jung Daehyun?” ulang Hyojo dengan kening berkerut. “Anak populer itu? Menunjuk Aeyoung?”

 

“Eung~ aku tidak buta guys. Aku barusan melihatnya dan itu benar-benar terjadi!” ucap Ri-Ah gemas yang melihat reaksi kedua sahabatnya ini sangat lamban untuk mencerna kata-katanya.

 

“Dia mengenalku? Siapa itu Jung Daehyun?” tanya Aeyoung polos. “Anak baru?”

 

Ri-Ah dan Hyojo sama-sama menepuk dahi mereka. “Astaga Kim Aeyoung! Sudah berapa lama sih kau bersekolah disini dan sama sekali tidak tahu kalau Jung Daehyun itu sebenarnya anak populer?” seru Ri-Ah.

Aigoo, kau betul-betul ketinggalan jaman,” sambung Hyojo sambil terus berjalan.

 

Aeyoung menatap kedua sahabatnya kemudian mengangkat bahu. “Aku tidak memikirkan hal-hal yang menurutku tidak penting.”

 

Hyojo memutar bola matanya jengkel. “Oh, Si Profesor mulai lagi.”

 

Ri-Ah berhenti dan memegang bahu Aeyoung erat-erat. “Dengar ya, Aeyoung. Aku kan sudah bilang padamu bahwa kau perlu mengawasi hal-hal yang ada di sekitarmu meskipun menurutmu itu tidak penting sekalipun. Jangan jadi anak ku-per,” cibir Ri-Ah.

 

Mwoya? Ku-per?” protes Aeyoung. “Sekali itu tidak penting, selamanya itu tidak akan penting buatku!”

 

“Ahhh terserah,” kata Hyojo dan Ri-Ah bersamaan. “Tidak lama lagi kau pasti akan menjadi anak yang kuper!”

 

Aeyoung berdecak. “Kalian ini. Bahagia sekali aku akan menjadi anak kuper.”

 

“Jadi, siapa itu Jung Daehyun?” tanya Aeyoung. “Kalau kau tak jelaskan siapa dia, selamanya aku juga takkan tahu siapa dia.”

 

“Hm dia anak populer. Anak kelas sebelah. Kalau tidak salah dia itu seorang trainee, tapi aku tidak tahu trainee agensi apa. Kabarnya, sudah banyak perempuan yang berkali-kali menyatakan perasaan mereka kepada Jung Daehyun. Tapi tetap saja, berkali-kali pula Jung Daehyun menolaknya,” jelas Ri-Ah sebelum mereka sampai di kelas.

 

“Dia gay?” Kata-kata itu meluncur dengan lancar dari mulut seorang Kim Aeyoung. Kedua sahabatnya langsung menoleh kearahnya dan mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

 

Aeyoung mengangkat bahu. “Kau bilang dia tidak menerima salah satu dari gadis-gadis yang berlomba-lomba menyatakan perasaan mereka. Apa diagay?”

 

Hyojo dan Ri-Ah saling bertatapan kemudian tertawa terbahak-bahak. “Ya ampun kau ini! Dia tidak separah itu!” sahut Hyojo di sela-sela tawanya.

 

“Haish, memang itu lucu,” decak Aeyoung sambil meletakkan tasnya di bangku kemudian duduk. “Apa ada yang salah?”

 

“Otakmu!” seru Ri-Ah masih tertawa. “Kau ini aneh sekali ya. Pertama, tidak tahu siapa itu Jung Daehyun, yang kedua, kau bilang dia seorang gay. Astaga, kau kebanyakan nonton film ya?”

 

Ani. Hanya menebak,” ujar Aeyoung seadanya. Jung Daehyun, sekarang nama itu terus-menerus terngiang dikepalanya.

 

~

 

Aeyoung bersenandung kecil sambil menikmati chocolate bubble tea yang baru saja ia beli. Gadis itu memang suka sekali minum bubble tea, setiap pulang sekolah ia tidak pernah absen untuk membeli minuman itu. Sampai suatu hari Ri-Ah dan Hyojo mengira bahwa nantinya Aeyoung akan collapsekarena kebanyakan minum bubble tea.

 

Aeyoung baru akan menyeruput bubble tea-nya lagi ketika tiba-tiba muncul lima anak perempuan yang wajahnya sudah bisa dibilang buas sambil berkacak pinggang berdiri di hadapan gadis itu. Aeyoung mengangkat alis, heran? tentu saja. Selama di sekolah ia hampir tidak punya musuh dan berharap memang tidak punya musuh. Ia melirik nametag di almamater mereka masing masing. Kelas satu, batinnya.

 

“Kau yang bernama Kim Aeyoung?” tanya salah satu perempuan di depan Aeyoung. Mungkin dia bosnya, pikir Aeyoung.

 

“Ya, kenapa? Ada urusan?” balas Aeyoung santai. Tak menyadari tatapan kilat dari para gadis-gadis didepannya.

Gadis yang barusan menanyai Aeyoung, gadis yang berdiri di tengah itu kemudian maju kedepan menyebabkan Aeyoung mundur sampai badannya tertahan oleh tembok. Gadis itu menatapnya dengan pandangan marah. Mana ada junior yang bersikap seperti ini ke seniornya?

 

“Jadi kau, pacar Daehyun sunbaenim?”

 

Aeyoung mengernyit heran. Mendengar nama itu ia lalu mengingat-ingat kejadian tadi siang bersama Riah dan Hyojo. Lalu terbesit di otaknya, Si Anak Populer, batin Aeyoung.

 

Kembali pada kata-kata anak itu tadi. Pacarnya? Kenal saja tidak, bicara apa anak ini?

 

Ani. Aku tidak mengenalnya. Kau membicarakan Jung Daehyun?” tanya Aeyoung dengan kerutan samar di dahinya.

Gadis didepan Aeyoung itu tiba-tiba langsung menghempaskan bubble tea dan buku-buku  yang tengah dipegang Aeyoung. Ia bertambah marah. Matanya berkilat-kilat. Lalu ia menarik kerah Aeyoung dan bertanya sekali lagi, “Jangan main-main denganku. Tadi siang Daehyun sunbaenim sendiri yang mengatakan padaku bahwa kau adalah pacarnya.”

 

Aeyoung hanya menanggapi gertakan itu santai. Malah, ia tidak berekspresi dan sesekali menguap lebar karena mengantuk. Ia memutar bola matanya kesal. “Sudah kubilang aku tidak mengenalnya. Bagaimana bisa aku jadi pacarnya?”

 

“Dan kau, kau masih junior kan? Berani sekali kau berbuat seperti ini pada seniormu. Aku anak kelas 3. Jangan macam-macam,” ucap Aeyoung, nada bicaranya makin meninggi.

 

Ingin sekali ia berkata kepada lima bocah tengik didepannya itu, ‘Atau kau akan kulaporkan kepada ayahku, yang notabene adalah kepala sekolah dan menyuruh beliau mengeluarkan kalian dari sekolah. Puas?’ Ya, ingin sekali ia berkata itu. Tapi itu adalah cara kampungan gadis-manja-yang-orangtuanya-menjabat-sebagai-perangkat-sekolah. Jadi, ia langsung mengurungkan niatnya itu. Suram.

 

Hening.

 

Lima gadis itu langsung menoleh cepat melihat nametag Aeyoung, benar saja mereka langsung terkejut dan pegangan gadis-gila di kerah Aeyoung mengendor. Mereka langsung bergerak-gerak gelisah. Kemudian salah satu dari kelima gadis itu berbisik kepada yang lainnya, Aeyoung memang tidak bisa menangkap jelas apa yang dikatakan gadis itu. Tapi ia masih bisa mendengar, kira-kira seperti ini. ‘Apa kau tidak tahu? Dia itu Kim Aeyoung yang kabarnya adalah anak Kepala Sekolah. Aku baru ingat tadi.’

 

Kelima gadis itu menatap Aeyoung tidak percaya. Kemudian mereka menatap Aeyoung dengan wajah gugup. “Kau.. jangan dekat-dekat dengan Daehyun sunbaenim. Dia milik kami.”

 

Aeyoung ingin sekali tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata ‘dia milik kami’ yang barusan diucapkan gadis gila didepannya itu. “Milikmu? Memang dia mau?” celetuk Aeyoung sambil menahan tawa.

 

Wajah gadis-gila didepan Aeyoung itu langsung memerah dan teman-temannya saling berkata, ‘jangan dengarkan dia’ atau ‘dia gila, jangan dengar dia’.Siapa suruh mendengarnya, batin Aeyoung masih saja menahan tawanya.

“Sedang apa kalian disini? Mengganggu pacarku?”

 

Aeyoung beserta kelima gadis itu langsung menoleh cepat dan berbalik. Mereka mendapati seorang pria dengan tangan yang dimasukkan ke saku sedang menatap mereka dengan tatapan curiga dan.. marah?

 

Aeyoung mengangkat alis. Ia tidak tahu siapa namja didepannya itu. Tapi kelima gadis ini langsung membungkuk dan buru-buru pergi begitu saja. Aeyoung melihat gerak-gerik namja didepannya itu dengan kening berkerut samar. Ia sepertinya kenal, tapi.. dimana?

 

“Kau.. namamu Kim Aeyoung?” Namja itu menghampiri Aeyoung dan membantunya mengambil buku-buku yang jatuh tadi.

 

Aeyoung mendongak dan menatap namja didepannya. Ia segera bangkit dan memasukkan buku-buku itu kedalam tas. “Ya, kenapa? Kau siapa?”

 

Sejenak namja itu terkekeh mendengar ucapan Aeyoung. Kemudian ia menunjuk dirinya sendiri dan bertanya, “Kau tidak kenal aku?”

 

Aeyoung masih saja memasang raut wajah datar lalu ia mengangkat bahu. “Tidak. Tidak penting buatku juga.”

“Oh baiklah. Aku Jung Daehyun, yang baru saja dibicarakan oleh gadis-gadis tadi,” ucap Daehyun. “Apa kau terluka?”

 

Aeyoung mengerutkan kening. Kenapa namja ini bertanya seolah-olah dia itu sangat akrab dengannya?

“Tidak,” ucap Aeyoung singkat dan bergegas menuju pintu gerbang. Sedetik kemudian langkahnya terhenti. Ia berbalik dan menatap Daehyun. “Tadi mereka bilang, kau bilang pada salah satu gadis gila itu bahwa aku pacarmu. Bisa kau jelaskan?”

 

“Oh, ya benar. Tadi aku berkata seperti itu,” ucap Daehyun santai. “Tadi, salah satu dari mereka menyatakan perasaannya padaku. Dan tentu saja aku tidak berniat menerimanya. Dan waktu itu, kau lewat di koridor. Aku langsung menunjukmu dan berkata bahwa kau adalah pacarku,” jelas Daehyun.

 

Ho, jadi ini sebabnya ia menunjuk-nunjuk tadi siang? Batin Aeyoung. Aeyoung mendengus. “Kenapa harus aku? Kalau aku dilabrak seperti tadi lagi bagaimana?” ujarnya kesal.

 

Daehyun hanya diam kemudian mendekat kearah Aeyoung. Namja itu membisikkan sesuatu ke telinga Aeyoung. “Kalau begitu, apa kau mau menjadi pacarku?”

 

Spontan Aeyoung langsung mundur ke belakang dan mengernyitkan keningnya. Apa-apaan dia?

 

Shireo. Aku tidak tertarik. Maaf saja,” ucap Aeyoung cepat dan berlalu meninggalkan Daehyun. Tapi Daehyun lebih cepat, namja itu menarik pergelangan tangan Aeyoung dan menyebabkan mata gadis itu menatapnya lagi. “Pacar bohongan. Bantu aku menghindari gadis-gadis itu.”

 

Aeyoung menggeleng sekali lagi. “Tidak. Cukup sudah aku direpotkan dengan kejadian tadi. Aku tidak mau menambah masalah. Lagipula, banyak kan gadis-gadis yang mau bersujud kepadamu. Kenapa tidak minta mereka saja?”

 

Daehyun menghela napas, ia tidak melepas genggamannya. “Kau berbeda dari mereka. Kau memperlakukanku 180 derajat berbeda. Kau tidak suka padaku, tidak kenal padaku dan mungkin sekarang kau membenciku. Itulah kenapa aku memintamu menjadi pacarku. Kau tidak heboh dan suka berteriak-teriak ketika aku lewat seperti gadis-gadis itu.”

 

Aeyoung mengerutkan keningnya. Ia menghembuskan napas kemudian mengangkat bahu. “Baiklah. Aku akan membantumu. Syaratnya, aku menjadi pacar-bohonganmu ini hanya dalam jangka waktu.. 2 bulan. Aku baru bersedia membantumu,” balas Aeyoung sambil melepaskan tangan Daehyun.

 

Daehyun mengangkat alis. Kemudian tersenyum kecil. “Baiklah. Aku terima. Oh ya, sebelumnya.. terima kasih.”

Aeyoung mengangguk dan berbalik menuju pintu gerbang. Ia melihat mobil Alphard milik ayahnya kemudian masuk kedalam mobil.

 

-t o  b e  c o n t i n u e d-

[A/N] Gimana? Pasti part ini jelek T^T dan soal poster sekali lagi maaf ya.

18 pemikiran pada “Be My Girl? (Chapter 1)

  1. sehun mana ?? mana ?? *ngobrak ngabrik laptop* mana thor mana gk ada dia kan main cast masa di chap 1 gk ada sih *nyiapin pedang* haduh penasaran thor buruan lanjutin yayaya jgn lama2 ya nanti pedangku melayang lho *Digeplak ama Author* hehe
    next

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s