Tell Me About Your Heart (Chapter 2)

title : Tell Me About Your Heart
author : chan0628 (@yeoja0628 on twitter)
main cast : park chanyeol, byun baekhyun, D.O kyung soo, Lay, oh sehun.
genre : romance, school life
leght : multi capter
summary : “kau hanya melihat dengan sebelah mata namja yang menolongku, kau tidak tahu dia menolongku karena perbuatanmu”

[NO NOTE] hahaha 😀

_________________________________________

“baekhyunnie,, cemburu ya?”.

“siapa? aku?….. ti..dak”. kataku sambil mengalihkan pandanganku. “benar tidak cemburu?”.

“mana mungkin aku . . . jangan bercanda lagi, tutup mulutmu ini, jangan bicara lagi”. kataku langsung membungkam mulutnya dengan erat. aku harap dia tidak akan menggigit telapak tanganku dengan giginya yang cantik itu. Aku melihat matanya melengkung seperti sedang mentertawakan sikapku dalam hatinya. ah, benar-benar menyebalkan!
“ah, aku hanya bercanda . . mana mungkin kau menyukaiku, kita kan teman?”. Katanya sambil tertawa puas. Aku terdiam sejenak, lalu memukul tanpa arti pinggiran ranjang seperti orang bodoh. “ya, kita kan teman. Kau ini”. kataku dengan ekspresi wajah dipaksa. Chanyeol mengangguk-angguk faham, sesekali ia berdeham karena tidak bisa berhenti tertawa, ia memegangi perutnya yang mulai merasa sakit.

“tapi ekspresimu tadi benar-benar lucu baekhyun”. Selanya diantara suara tertawa kami yang menggema, aku tertawa sumbang. Aku berfikir kau sudah sadar, ternyata kau sama saja!

***

“byun baekhyun,”. Panggil kim songsaengnim diiringi dengan sebuah benda melayang ke arahku. “akh”. Ucapku spontan sambil memegangi dahiku. “kalau tidak suka dengan pelajaranku, kau bisa  keluar sekarang!”.katanya tegas sambil menunjuk ke arah pintu kelas yang tertutup. Semua murid menatapku aneh, baru kali ini dalam hidupku mendapat teguran dari guru karena melamun. Jujur saja, aku kecewa pada diriku sendiri.

“maafkan saya saem, saya akan keluar”. Aku bangkit dan membungkuk 90o di sela ruang bangkuku. Aku menutup bukuku dan membawanya di depan dada, mencoba untuk tetap bersifat biasa saja ketika melewati tatapan-tatapan mata yang kurasa cukup menghina untuk kutatap kembali.

Kudorong gagang pintu dengan perlahan lalu menyusup keluar dan menutupnya kembali. “ah… hari ini aku sial sekali”. Umpatku dalam hati, aku berjalan gontai ke depan dan duduk di bangku panjang yang kosong. Saat ini koridor sangat sepi, bahkan hampir tak terdengar celotehan para murid. “ini semua karena chanyeol! dia ingin membuatku gila ya? Menyebalkan”. Ujarku mengutuk pelan. “aaahhhh!!! Aku bisa gila”. Teriakku spontan sambil mengacak-acak rambutku sendiri, aku menselonjorkan kakiku sambil mendengus keras beberapa kali.

“byun baekhyun!”. Teriak seorang di hadapanku, aku mendongak, dan langsung berdiri ketika mengetahui siapa yang menyerukan namaku dengan keras. Aku terseyum kecut. “kalau kau ramai lagi, aku akan membawamu ke ruang kesiswaan!”. Bentaknya.aku menggeleng. “aku akan pergi saem, maafkan aku sekali lagi”. Kataku gugup. “cepat sana!!!”. Kim songsaengnim mengangkat tangannya, aku melihat ia menggenggam penghapus papan yang sama seperti yang tadi ia lemparkan padaku. Aku langsung berlari sekuat tenaga pergi dari tempat itu.

“ah,, baekhyun… kau benar-benar sudah gila!!”. Ujarku sambil memperlambat langkah kakiku. Aku mengerucutkan bibirku. “sebaiknya aku menunggu di kantin saja”. Aku berbelok dan menaiki anak tangga berjumlah sekitar 20an itu. Sambil sesekali menelan ludahku yang mulai terasa kering karena berlari tadi.

“1 gelas jus mangga”. Ujarku pada seseorang dengan pagaian seragam koki sekolah jung sang. Ia mengangguk lalu kembali ke dalam. aku berjalan menuju kasir di sebelahnya, berniat untuk membayar pesananku. Aku merogoh saku celanaku, kosong. Tanganku beralih pada saku jasku, kosong juga. Apa uangku tertinggal di kelas? Bodoh!! Lalu bagaimana aku membayar jusnya? Raut wajahku berubah menjadi khawatir.

“berapa?”. Tanya seseorang di sampingku, aku menoleh.

“lay?”. Lay mengangguk, lalu menyodorkan uangnya pada petugas kasir itu. “kenapa kau disini?”. Tanyaku heran.

“tadi aku duduk disana, aku memanggilmu tapi sepertinya kau tidak mendengarnya”. Kata lay menjelaskan sembari tangan kanannya menunjuk meja dengan tumpukan buku di atasnya.

“khamsahamnida”. Lay membawa nampan berisi segelas jus jeruk milikku dan sepiring pajun (sejenis martabak ala korea). Aku menatapnya bingung, apa itu pesanan lay? “kajja”.

“aku akan mengganti uangmu nanti ya, aku tidak membawa uang sekarang”. Kataku sungkan sambil mengambil jus manggaku dari atas nampan. Lay menggeleng, “tidak apa-apa, tidak perlu sesungkan itu padaku”. Lay menyodorkan sepasang sumpit ke arahku.”makanlah, minum saja sepertinya membuat perutmu tidak nyaman”.

Bagaimana namja ini bisa tahu aku sedang lapar? Aku memang belum makan sejak tadi pagi karena belum sempat pergi ke kantin. Alarm di kamarku mati, chanyeol sedang sibuk dengan dirinya sendiri, jadi lupa untuk membangunkanku.

“kau sendiri tidak makan?”. Lay menggeleng, “aku baru saja selesai makan”.

Aku menjepit sepotong pajun dengan sumpit lalu memasukkannya ke dalam mulutku yang kosong. “baekhyun”. Aku menatapnya, rahangku masih bergerak naik-turun mengunyah makanan. “kenapa kau di kantin? Bukannya kelasmu belum selesai ya?”.

“aku membuat ulah di kelas, jadi aku tidak boleh ikut pelajaran”. Jawabku santai sambil memasukkan sepotong lagi ke dalam mulutku. “membuat ulah? Memangnya apa yang kau lakukan?”. Aku menambah ritme mengunyahku dan segera menelannya. “aku melamun, dan sepertinya mr.kim tidak suka hal itu. Jadi dia menyuruhku keluar”.

“kau melamun? Di pelajaran mr. kim?”. Aku mengangguk polos.

“wae? Ada yang salah?”.

“tentu saja ada, bukannya kau sangat mencintai matematika, mana mungkin kau melamun?”. Aku mengangkat bahuku. “aku tidak tahu, tapi aku tiba-tiba malas”.

“apa kau masih tidak enak badan?”.

“ah . . anio lay , , aku baik-baik saja”. Lay mengangguk lalu menutup salah satu buku di hadapannya yang sedari tadi terbuka. “lalu kau, kenapa kau disini lay?”.

Lay menunjuk buku-buku tebal di hadapannya. “aku juga dihukum”. Katanya pasrah.

“kau dihukum? Bagaimana bisa?”.

“aku lupa mengerjakan tugas, park songsangnim memintaku untuk merangkum ini semua”. Aku terhenyak melihat buku-buku itu. Bukan karena jumlahnya lebih dari 1, tapi lihatlah, mereka semua cukup tebal. Mana mungkin merangkum sebanyak ini? “ah tidak, bukan semuanya kok, hanya beberapa BAB di setiap buku”. Aku bernafas lega. Meskipun bukan aku yang mendapat hukuman itu, rasanya melihat buku-buku itu membuatku sedikit sesak.

Aku suka belajar, membaca, tapi merangkum. Ah, itu adalah hal yang membosankan.

“kapan semua itu harus dikumpulkan?”.

“5 hari lagi”.

“hanya diberi waktu 5 hari untuk mengerjakannya? Sebanyak ini? Hampir tidak mungkin”.

“gwaenchannayo, aku akan mengerjakannya dengan giat”. Aku menggeleng, “aku boleh membantumu kan? kau sering membantuku, tapi sepertinya aku tidak”.kataku sedikit menyesal.

“bukannya kau pernah bilang kau tidak suka merangkum baekhyun? Tidak apa-apa aku bisa mengejakannya sendiri kok”.

“memang benar sih, tapi aku bisa mengetik dengan cepat, jadi tugas itu bisa cepat selesai. Bagaimana?”.

Lay mengangguk-anggukan kepalanya. “baiklah kalau kau memaksa, sepertinya tidak salah juga kau membantuku. Nanti pulang sekolah kau bisa ke rumahku”.

“oke boss!!”.

***

“Aku menunggumu di dekat gerbang. –lay- “


aku memasukkan buku-bukuku ke dalam tas dan bergegas keluar kelas ketika bel dibunyikan, menandakan berakhirnya proses belajar-mengajar hari ini. Aku melihat jam yang melingkar di tanganku. Jarum pendeknya menunjuk angka 4 dan satunya lagi menunjuk tepat ke angka 12.

“lay!!”. Aku menyerukan namanya ketika mendapati namja itu tengah bersandar di tiang penyangga sambil menundukkan kepalanya. Ia lalu mendongak dan melihatku yang masih ada di lantai 3. Ia melambai, aku membalas lambaiannya sambil tersenyum lalu bergegas pergi menuruni anak tangga untuk menghampirinya.

“kau baru sampai ya? Kenapa masih pakai tas?”. Tanyaku sambil menunjuk tas yang dipakai lay. Bajunya juga tidak berganti, masih mengenakan seragam sekolah lengkap dengan jas dan dasi. “kau tidak menungguku selama 3 jam disini kan?”. lay tertawa kecil.

“sayangnya aku menunggumu”. Aku mendaratkan pukulan ringan ke lengan tangan kanannya. “kau itu, kelas khusus kan mendapatkan 3 jam pelajaran tambahan. Kau bisa mati bosan menungguku tahu!!”.

“coba lihat aku. Aku masih hidup kan?”.  godanya sambil berputar di hadapanku. Aku tersenyum kecut.

“ah iya, kau masih hidup. Sudah, ayo ke kamarku dulu, aku mau mandi sebentar, lalu kita ke rumahmu”. Aku berjalan meninggalkannya, lay berlari, mensejajarkan langkah kami.

***

Aku menekan tombol on pada laptop lay sembari membuka buku pertama yang akan kurangkum. Aku melihat garis-garis dari pensil di bawah deretan kata yang dibuat lay. Aku mengangguk-angguk paham, lalu mengklik icon Ms.Word di taskbar.

Aku mulai mengetik, kata demi kata, kalimat demi kalimat, huruf demi huruf, hingga beberapa lembar tak terasa sudah bersalin ke dokumenku.

“aku sudah menggarisi bagian-bagian yang penting di buku itu. Hanya 4 BAB, tapi cukup banyak”. Ujar lay dari arah tempat tidurnya. Ia duduk menghadapku masih dengan buku-buku tebal di depannya. Sibuk mencari bagian-bagian penting yang akan kuketik nanti. Sedangkan aku, mata dan tanganku masih terlalu aktif berurusan dengan laptop. Lay menyalakan lagu dari ponselnya, memecah keheningan yang tak sengaja kami ciptakan.

“baekhyun, kau tidak lapar?”. Aku menggeleng. “ atau haus?”. Tanyanya lagi.

“tidak lay”. Aku mulai bersuara.

Lay beranjak dari tempatnya, mendaratkan sentuhan lembut di bahuku, aku begidik. “kau tidak lelah? Kau sudah mengetik lebih dari 2 jam”. Aku menggeleng. “aku kan sudah bilang, aku ingin membantumu”.

“jangan terlalu serius, berhentilah sebentar. Menatap layar laptop terlalu lama tidak baik untuk matamu”.

“tapi aku hampir dapat 2 BAB. Sedikit lagi ya? Sepertinya aku bisa menyelesaikan 1 buku ini sebelum malam hari”. Kataku percaya diri.

Lay tersenyum. “sebelum malam hari apa? Lihat di luar, langit mulai menghitam!”. Aku mendengus, “ya ya, aku tahu. Mianhae”.

“maaf untuk apa? Kau mengetik sangat cepat, kalau aku mungkin belum dapat setengah BAB. Berhentilah, ayo makan sebentar. Aku punya beberapa ramen di dapur. Kajja”.

***

“lay-ah, aku pulang dulu, sampai jumpa besok”. Kataku lemas sambil memakai kembali sepatuku. Lay mengangguk. “maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang, hati-hati di jalan”. Aku mengangguk, lalu memutar arah tubuhku dan mulai berjalan pergi.

Aku melipat kedua tanganku di dada sambil membenamkan mulutku ke syall yang kupinjam dari lay, meskipun musim dingin hampir berakhir, tapi hawa dinginnya masih menusuk tulang ketika malam datang.

Aku menatap layar ponselku sekali lagi lalu membenamkan kedua tanganku dibalik saku jaket. Sesekali aku terbatuk. Yang ada dalam fikiranku sekarang adalah cepat pulang dan tidur di balik selimutku yang tebal. Aku sudah hampir sampai gedung asrama. Sudah sepi, mungkin aku pulang terlalu larut. Atau mungkin ada faktor lain, aku tidak yakin, karena sekarang baru jam 9 malam. Biasanya masih ada beberapa siswa di cafe atau mungkin sekedar berlalu lalang.

Aku menaiki tangga menuju ke kamarku. Aku memasukkan password kamarku. Gagal. Tunggu, apa aku salah ketik? Aku mencobanya sekali lagi. Gagal juga. “Bagaimana ini? Apa aku salah kamar?”. Aku menatap dengan hati-hati angka yang tertera di pintu kamar. “Aku rasa tidak”.

Aku berusaha mengetuk pintu kamar. “chanyeol,, apa kau di dalam? tolong buka pintunya. Park chanyeol??”. kataku. Aku mengeluarkan ponselku dan mendial no. 2 yang langsung terhubung ke ponselnya. Gagal.

Chanyeol, buka pintunya, aku di luar.

“semoga kau membaca pesanku”. Aku meniup kedua tanganku lalu menggeseknya beberapa kali. “chanyeol!! aku kedinginan, tolong buka pintunya”. Kataku sekali lagi.

Aku duduk berjongkok di samping kiri pintu. Hampir putus asa memanggil chanyeol sejak 1 jam yang lalu, tak ada jawaban sekalipun. Aku menyandarkan kepalaku ke tembok lalu merosot duduk sambil memeluk kakiku sendiri.

“chanyeol, disini dingin sekali”. Ujarku pelan sambil memukul-mukul pintu dengan sebelah tanganku. “park chanyeol!! aku mohon keluarlah”. Kataku lagi. Aku menoleh, menatap gagang pintu yang tak bergerak itu lalu menenggelamkan hampir sebagian wajahku ke lilitan syal di leher.

“chanyeol, aku sudah tidak tahan!”. Ujarku lagi. “aku kedinginan disini, tolong buka pintunya. Aku bisa sakit lagi”.

Aku merasakan handphoneku bergetar, apa itu dari chanyeol? aku sedikit kecewa ketika membaca nama yang terpampang di layar, lay.

Baekhyun, apa kau sudah tidur? Kau pasti lelah sekali ya? Aku Cuma ingin bilang terima kasih sudah membantuku hari ini J

Apakah aku harus mengatakannya pada lay, kalau aku terkunci di luar karena alat pengaman di pintu kamarku tiba-tiba tidak berfungsi.tidak, tidak, dia bisa khawatir padaku. Lebih baik jangan. Aku sudah terlalu banyak merepotkan lay.

Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku, dan sengaja tidak membalas pesannya agar dia berfikir aku sudah tertidur pulas dan tidak mendengar ponselku bordering karena pesan darinya.

“baekhyun!! Baekhyun!!”. Aku mendengar seseorang menyerukan namaku dengan samar, aku membuka kelopak mataku yang berat. “chan…yeol”. ia menarik tangan kananku dan melingkarkan di lehernya. “ayo bangun”. Katanya mencoba menopang tubuhku masuk ke dalam kamar. Ia menidurkanku pelan ke atas kasur lalu menempelkan tangannya ke pipiku.

“ya tuhan kau dingin sekali”. Ujarnya, aku masih belum bisa melihat dengan jelas ekspresi wajahnya karena mengantuk. “berapa lama kau di luar?”. Aku hanya diam. Chanyeol bangkit dari kasurku lalu berjalan entah kemana, beberapa detik kemudian ia kembali dengan selimut tebal miliknya. “pakai ini juga”. Chanyeol merebahkan selimutnya ke atas tubuhku.

“maafkan aku, tadi handphone masih ku silent, jadi tidak tahu kalau kau menelfonku baekhyun. Tidurlah, kau sudah hangat sekarang”. Chanyeol berjalan ke kasurnya, aku sedikit menolehkan kepalaku yang lemas.

“lalu kau akan tidur disana tanpa selimut? Kemarilah! Atau aku tidak mau memakai selimutmu!”. Ujarku pelan, masih dengan nada suara kesal. Chanyeol berjalan menghampiriku. Aku berusaha menggeser tubuhku ke arah tembok, perlahan ia mengangkat 2 selimut yang menutupi tubuhku lalu menerobos ke dalam.

“kau tadi darimana baekhyun? kenapa kau pulang malam?”. Aku hanya menggeleng. “yasudah, sekarang tidurlah, tapi maafkan aku ya”. Aku mengangguk pelan lalu mulai memejamkan kembali mataku.

***

“hassyyuuu!!!”. aku mengeluarkan sapu tanganku dan langsung menutup hidupnya. Benar saja, ini sudah ke empat kalinya aku bersin di pagi hari buta seperti ini. Hanya karena aku terkunci di luar aku jadi flu sekarang.

“minum obatmu baekhyun, aku sudah membelikannya tadi pagi-pagi sekali”. Aku memakai jasku dan berkaca di depan cermin. “aku tahu”. Jawabku singkat.

“oh ya, itu nomor password kita yang baru, aku menggantinya kemarin sore”.

“kenapa kau tiba-tiba menggantinya?”.

“aku berfikir password kamar kita telah bocor, beberapa barangku hilang. Jadi aku segera menggantinya”. Aku menoleh. ”hilang? apa?”.

“ipad dan mp3 playerku hilang, aku tidak tahu, aku tidak mungkin lupa meletakannya, mereka selalu ada di meja belajarku, tapi saat aku datang, 2 benda itu sudah menghilang”.

“bagaimana bisa , pasti ada yang mencurinya”. Kataku berpendapat. “aku juga berfikir begitu. Apa kau melihat ada yang masuk ke kamar kita?”. Aku menggeleng.

“ah, hanya aku dan lay kemarin saat pulang sekolah. Tapi kami hanya sebentar”.

“apa yang kalian lakukan?”.

“lay hanya menunggu mandi sebentar, lalu kami pergi ke rumahnya. Aku rasa hanya itu”. Sebelah bibirnya terangkat, seperti tersenyum. “tidak salah lagi,”.

“apa maksudmu? Kau tidak sedang berfikir kalau lay yang mencurinya kan?”. chanyeol menatapku heran. “lalu siapa lagi? Kau?”. Aku mendengus, “apa kau fikir aku sudah gila, mana mungkin aku mencuri barangmu?”.

“kalau begitu jawabannya pasti lay!”.

“tidak, lay bukan orang seperti itu. Dia tidak mungkin mencuri! Kemarin dia menungguku di atas kasurku karena dia lelah. Jangan sembarangan menuduh orang!”. Aku meninggikan suaraku, tatapannya berubah sinis.

“lalu siapa? yang masuk ke dalam kamar ini hanya kalian berdua kan?”. chanyeol membalas dengan nada yang lebih tinggi. “aku sedang malas berdebat denganmu sekarang!”. Aku menyambar tasku dan berjalan melewatinya menuju pintu kamar yang sudah terbuka. “aku belum selesai bicara!”. Chanyeol meraih pergelangan tanganku dan mencengkeramnya kuat-kuat hingga langkahku terhenti.

“aku tidak ingin mendengarkan ucapanmu lagi!”. Aku menhempaskan tangannya dan berjalan pergi. Mana mungkin dia menuduh lay yang tidak-tidak, bagaimana dengan D.O, dia tidak pulang 2 hari ini, bisa saja dia yang…. Astaga, aku baru sadar, D.O tidak pulang, kemarin dia juga tidak masuk. Apa mungkin dia yang…. Ania, aiiish.. apa yang kufikirkan? Tapi jika difikir-fikir lagi, bisa saja dia yang mengambilnya.

“aiish, molla” ucapku frustasi lalu melanjutkan perjalananku yang terhenti sejenak.

***

“hey, kau kenapa? Ada masalah?”. Suara jentikan jemari lay membuyarkan lamunanku. Aku menggeleng. “aku tidak apa-apa, hanya sedikit ada fikiran”. Aku tidak tersenyum ketika mengikuti arah pandangan lay. 2 namja yang baru saja memesan makanannya itu kini duduk di meja tak jauh dari meja kami. lay menatapku aneh, seperti ingin bertanya tapi mulutnya tak bergerak sama sekali. Aku sedikit banyak mengerti, mungkin dia mulai tahu apa penyebab dari bad moodku hari ini.

“kau bertengkar dengannya ya?”. Lay mengalihkan pandangannya sekilas pada namja yang duduk menghadap kami, meskipun ia tak sedang melihat kami itu. aku menoleh sebentar. “aku fikir begitu”. Lay mengangguk-angguk faham.

“kenapa lagi? Aku rasa akhir-akhir ini kalian tidak akur”. Aku mendengus lalu meletakkan kembali botol minuman yang hendak kuminum. “jangan bicarakan hal itu, aku sedang tidak ingin”.

“arasoo… mianhae”. Aku mengangguk sambil mengerucutkan bibirku.

Aku tidak tahu bagaimana caranya berfikir, lay sangat baik, mana mungkin dia mencuri ipad dan mp3nya? Sekilas hentakan suaranya tadi pagi menggertak gendang telingaku. Pertama kalinya dia marah padaku, aku tidak yakin apa aku sanggup tinggal 1 kamar lagi dengannya. Dia terlalu naïf dan hanya berfikir tentang kesenangannya sendiri.

“nanti sore apa kau akan datang ke rumahku lagi?”. Tanya lay tiba-tiba. “tentu saja! Tapi jangan menungguku lagi ya, aku akan pergi ke sebuah tempat terlebih dahulu”.

“ah.. ok”. Lay tersenyum sambil membentuk lingkaran dengan ibu jari dan jari telunjuknya.

***

Aku berjalan menyusuri koridor menuju kamarku, tak begitu banyak siswa yang berlalu lalang saat ini. Aku menekan password pintu kamar, dan terbuka. Baiklah, hanya mandi dengan cepat lalu segera pergi lagi. Aku benar-benar masih tidak ingin bertatap muka dengannya setelah kejadian tadi pagi.

Aku meletakkan tasku dan berjalan menuju almari. Aku mengaduk-aduk isi almariku lalu mengeluarkan t-shirt biru laut dan celana jeans hitam. Aku duduk di tepi ranjang dan melepas sepatuku, lalu mendorongnya sedikit masuk ke dalam kolong. Aku berjalan lelah masuk ke dalam kamar mandi.

“baekhyun, kau di dalam?”. ujar seseorang dari luar, aku menyalakan kembali shower yang baru saja kumatikan karena memang saat ini aku sudah selesai mandi. Aku terdiam. “aku tahu kau di dalam”. aku masih terdiam, memberi jeda beberapa menit lalu mematikan shower dan berjalan keluar.

“aku rasa kita perlu bicara”. Ujarnya saat aku sampai di depan kamar mandi, hendak meletakkan handukku yang basah. “dan aku rasa tidak”. Jawabku dingin lalu meraih jaketku dan memakainnya.

D.O berjalan santai menuju ke pintu lalu bersandar disana. Aku menatap chanyeol dingin. “apa yang ingin kau katakan?”.

“minta kembali ipad dan mp3ku yang diambil lay kemarin, itu barangku yang sangat berharga”. Aku mendengus. “kau masih berfikir kalau lay yang mencurinya, gila”. Aku berjalan meninggalkannya menuju ke arah pintu. D.O mengangkat sebelah alisnya dengan wajah menghina. “minggir kau!!”. Ia memiringkan kepalanya. “minggir atau kupukul kepalamu!”. Ancamku lagi.

“karena memang lay itu pencurinya, kenapa kau membela seorang pencuri? Atau kau memang bersekongkol dengannya? Menjualnya lalu mendapatkan”. Tangan kananku melayang dengan mulus dan mendarat di pipi kanan D.O, tangannya dengan spontan memegangi pipinya yang mulai memerah.

“apa yang kau lakukan?”. Chanyeol menarik pundak kananku dengan kasar hingga aku berbalik menghadapnya. “Kenapa kau menamparnya baekhyun?”. Bentaknya, aku menelan ludah geli. Apa dia fikir ini adalah salah satu adegan di drama?

“karena dia tidak bisa menjaga mulutnya”.

“apa yang dikatakan D.O itu benar, atau jangan-jangan kau memang bersekongkol dengan lay? Ipadku pasti tidaklah murah harganya”.

“kau!!!”. Aku hampir melayangkan tanganku untuk kedua kalinya. “dengarkan aku! Aku tidak peduli semahal apa ipad dan mp3mu, lebih baik aku kelaparan daripada harus mencuri. Dan sekali lagi kau menghina lay, kau akan benar-benar berurusan denganku”. Aku mendorong tubuh D.O menjauh dari pintu dengan kasar hingga ia hampir jatuh tersungkur ke lantai.

“aku pastikan kau akan menyesal karena membela orang yang salah”. Aku menoleh lalu berbalik, berjalan beberapa langkah mendekat ke arahnya. “kenapa? Kau ingin mengunciku diluar lagi seperti kemarin malam? Atau kau ingin menyalakan ac semalaman dan membuatku mati membeku?”. Chanyeol hanya diam, sama sekali tak bergeming.

“ciih, pabo”. Umpatku lalu berjalan pergi.

TBC-

Iklan

10 pemikiran pada “Tell Me About Your Heart (Chapter 2)

  1. Kq jadi panas gini ya crita nya, main cast nya baekyeol ato gimana sih thor? Masih belum bisa nebak couple nya, hahaha, tapi kq D.O jadi jahat sih? Apa Lay juga jahat? Molla …
    Crita nya makin seru thor, LANJUTKANNNN !!!
    Hehehehe

    • tetep ko,, baekyeol yg jadi peran utamanya 😀
      udh baca yg chapter 1,, udh agak bisa ketebak kok.. dari awal disini yg dijelasin juga baekyeol couple chingu 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s