Wedding Dress (Chapter 2)

Wedding Dress (Chapter 2)

NOTE             : Sequel of ‘Fall for You’ (Half of My Heart Chanyeol version)

Author             : Inhi_Park (@Inhi_Park)

Main casts       : Park Chanyeol&Song Yejin

Support casts   : Park family, Song family,

Length             : Multichapter

Genre              : Romance, Drama, Marriage life

Rating             : PG-15

Summary         : I’ll do anything for you…

(Chanyeol’s side)

Segera setelah mobil BMW hitam yang ku tumpangi berhenti tepat di depan pintu masuk rumah sakit dengan gedung yang teramat besar ini, aku berlari melewati orang-orang yang beberapa dari mereka menatap sinis ke arahku karena tidak sengaja tersenggol bahkan tertabrak. Aku tidak peduli. Yang ada di pikiranku saat ini adalah aku harus segera melihat Yejin dan memastikan keadaannya.

20 menit yang lalu, dengan suara serak dan di selingi isak tangis, eomma menelponku dan memintaku untuk segera datang ke rumah sakit ini karena sesuatu terjadi pada Yejin.

“Abeoji…” Kataku sambil mengatur nafas yang tersengal-sengal.

Empat pasang mata seketika menatapku. Keempat orang itu adalah orang tuaku dan orang tua Yejin. Mereka sedang berdiri di depan sebuah ruangan yang kuyakini adalah tempat Yejin saat ini. Eomma menghampiriku dengan mata yang sembab.

“Eomma… Yejin…” Ujarku sambil melangkah mendekat.

“Dokter sedang memeriksanya di dalam.” Sahut appa sambil menepuk pundakku pelan, seolah ia ingin menyalurkan sedikit kekuatan dan ketabahan padaku.

“Sebenarnya… Apa yang terjadi?” Tanyaku lagi.

Aku berjalan menghampiri eommonim yang kini terduduk di samping eommaku dengan raut wajah jelas tak lebih baik dari wanita yang ku sapa terlebih dahulu tadi. “Seorang polisi patroli melihatnya sedang di ganggu oleh seorang pria yang sedang mabuk. Saat polisi itu tiba, Yejin sudah pingsan.Pria itu mencoba untuk…”

Aku menelan ludah yang terasa sangat pahit saat mendengar penjelasan yang tiba-tiba terpotong karena beliau tidak bisa menahan lagi tangisnya. Aku menyumpahi diriku sendiri yang nyatanya tidak bisa menjaga yeojaku sendiri itu. Karena aku Yejin mengalami kejadian buruk itu. Karena aku.

<><><>

“Chagiya…” Aku mengelus-elus punggung tangan kanan yeojaku yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Mataku tak henti-hentinya menatapi wajahnya, berharap ada keajaiban yang membuatnya segera sadarkan diri.

“Chanyeol-ah…” Suara berat seorang pria memanggil namaku dari arah pintu. Saat aku menoleh, nampak dua pasang suami istri yang sedang berjalan mendekat kearahku.

“Abeomin, Eommonim… Appa, Eomma…” Kataku dengan suara pelan. “Aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa menjaga Yejin. Karena aku sekarang dia…” Ku tundukkan kepalaku dalam-dalam saat mengungkapkan penyesalanku.

“Sudahlah… Ini benar-benar bukan salahmu. Lagipula dokter kan sudah bilang kalau dia baik-baik saja. Tidak ada hal buruk yang terjadi padanya. Dia hanya sedikit shock hingga tak sadarkan diri seperti ini.” Kata abeoji berusaha menenangkanku.

“Sekarang kau pulang saja Chanyeol-ah, istirahatlah…” Tambah eommonim.

Aku bergeming dan lalu menggeleng pelan sambil kembali menatap wajah Yejin. “Aku akan disini menjaganya. Aku tidak akan membiarkannya sendirian lagi.” Kataku

“Tapi…”

“Lebih baik kalian saja yang beristirahat. Kalian pasti sangat lelah.” Tambahku sebelum eomma sempat menyelesaikan kalimatnya yang pasti akan menyuruhku untuk pulang.

“Ya sudah. Kalau begitu kami akan ke cafetaria saja. Kau jaga dia ya…” Ujar appa setelah sejenak berpikir.

Keempatnya kemudian pergi meninggalkanku berdua lagi dengan Yejin yang masih tertidur nyenyak. Kuhela nafas dalam. Bagaimana pun orang-orang mencoba meyakinkanku kalau ini bukan salahku, dalam hatiku aku masih saja merutukki diriku sendiri yang tak sanggup menjaganya.

Mataku melebar saat kulihat mata gadis yang terlelap di hadapanku bergerak perlahan. Aku beranjak dari dudukku saat perlahan-lahan kelopak matanya mulai terbuka. “Chagiya… Kau sudah bangun?” Tanyaku. Sungguh, aku sangat bahagia bisa melihat mata indah gadis ini lagi.

Yejin mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba membiasakan lagi matanya dengan cahaya yang menghantam retinanya. Gadis itu menandang berkeliling sampai akhirnya matanya tertuju padaku yang sedang berdiri di sampingnya.

Dengan senyum yang mengembang lebar, aku bergerak mendekatinya. Ingin rasanya aku memeluk gadisku itu. “Chagiya…” Bisikku.

“Aaaarrgghhh…”

Belum sempat aku mendekapnya, Yejin tiba-tiba berteriak histeris. “Andweee… Lepaskan aku… Jebal… Aaargh…” Ku jauhkan diriku darinya yang terlihat sangat ketakutan.

“Yejin-ah… Ini aku Chanyeol… Yejin, lihat… Ini aku…” Kataku sambil memegang kedua pundaknya.

“Andwe… hiks… Lepaskan… hiks… Jebal… Pergi!!!” Yejin mulai menitikkan air mata. Ia beringsut duduk lalu menarik selimut dan mencoba menutupi dirinya.

“Yejin-ah, ini aku…” Kataku lagi.

Aku berusaha mendekatinya, tapi Yejin terus berteriak. Bahkan teriakan dan tangisannya semakin keras saat aku semakin dekat padanya.

“Andweee… Pergi!!!”

“Yejin-ah… Lihat aku… Ini aku Chanyeol…” Suaraku terdengar bagaikan orang yang putus asa. Tapi memang benar, aku putus asa dan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Yejin.

“Tolong… hiks… Aku takut…” Ia terus terisak.

“Yejin-ah…!” Aku pun tak sanggup membendung tangisku. Melihatnya seperti ini benar-benar menyakitkan.

“Lepaskan… hiks… Kumohon jangan sakiti aku… Jebal…” Suaranya semakin pelan. Ia merapatkan kelopak matanya sedangkan cairan bening itu mengalir semakin deras.

“Yejin-ah… hhh… Aku Chanyeol… hhh… Aku tidak akan menyakitimu…”

Beberapa orang berseragam putih menerobos memasuki ruangan. Mungkin mereka menyadari ada yang tidak beres disini karena mendengar teriakan dan tangisan Yejin yang sampe saat ini pun tak juga mereda.

<><><>

“Song agassi menderita trauma yang cukup dalam akibat kejadian yang menimpanya. Saya rasa saat ini agassi merasakan ketakutan saat berada di dekatlaki-laki, hal itu terbukti dari reaksi yang di tunjukkan saat ia melihat tuan Park. Begitupun saat Dokter Kim akan memeriksanya, ia berteriak dan menangis ketakutan.”

Kepalaku tertunduk dalam. Rasanya seperti tersambat petir, atau mungkin lebih parah dari itu, saat Dokter Han menjelaskan kondisi Yejin saat ini.

“Apakah dia akan sembuh?” Tanyaku dengan suara yang dengan susah payah ku buat agar terdengar setegar mungkin.

“Kemungkinan untuk sembuh selalu ada. Hanya membutuhkan kesabaran untuk membuatnya perlahan-lahan melupakan rasa takutnya.”

Dapat kurasakan sentuhan hangat lengan appa mendarat di pundakku. Ternyata ia sedang menatapku saat aku mengarahkan pandanganku padanya. Ia seolah berbicara bahwa aku harus kuat dan sabar melewati semua ini.

Aku melangkah pelan keluar dari ruangan Dokter Han menuju kamar rawat Yejin. Dari jendela, aku bisa melihat gadis itu sedang duduk menyandar di ranjangnya dengan di temani eomma yang duduk di kursi di samping tempat tidur dan juga eommonim yang menempati tepian tempat tidur. Perlahan ku putar knop pintu berwarna putih itu setelah sebelumnya ku hela nafas dalam sambil tak henti-hentinya berdo’a, berharap Yejin tidak lagi menunjukkan reaksi yang seperti tadi.

Tapi ternyata tidak. Bahkan pintu ini pun baru memberi sedikit celah bagiku untuk melihatnya secara langsung, Yejin sudah langsung menunjukkan reaksi penolakkan terhadapku. Ia menarik selimut yang awalnya hanya menutupi kakinya. Tubuhnya bergetar, dan tak lama setelah itu air matanya pun kembali mengalir. Ia sungguh terlihat sangat ketakutan.

<><><>

“Pernikahan ini tidak bisa di teruskan.”

Saat ini aku, eomma dan appa sedang duduk mengelilingi sebuah meja yang diatasnya telah terhidang berbagai macam makanan.

“Apa maksudmu?” Tanya appa datar. Entah ia benar-benar tidak mengerti maksud kata-kataku, atau hanya menanyakan kesungguhan dibalik pernyataanku tadi.

“Appa tidak lihat kondisi Yejin saat ini. Bahkan melihatku saja dia sudah sangat ketakutan.” Tuturku dengan nada suara yang sedikit naik karena respon appa yang menurutku sangat tidak peka.

“Tidak bisa. Pernikahan ini akan berlangsung seperti seharusnya.”

Namja paruh baya itu berkata dengan tegas lalu mendorong kursinya pelan kemudian meninggalkan aku dan eomma yang masih terdiam.

<><><>

(Yejin’s side)

“Yejin-ah…”

Aku sedang terbaring di tempat tidur saat suara ketukan pelan di daun pitu kamarku terdengar yang lalu di susul oleh panggilan dari suara seorang yeoja.

“Eomma…”

Sosok itu berjalan kearahku sambil menunjukkan senyum hangatnya.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?”Wanita itu duduk tepat di sampingku sambil mengusap-usap kepalaku pelan. “Chanyeol dan kedua orang tuanya sedang menunggu kita di bawah.” Tambahnya.

Aku terdiam. Mataku menerawang ke langit-langit kamar yang berwarna putih. Entah aku sedang memikirkan apa, hanya saja aku kehilangan kata-kata yang harus ku gunakan untuk merespon perkataan eomma barusan.

“Chagi… Katakan pada eomma apa yang sedang kau rasakan sekarang…”

Ku mohon eomma… tolong jangan tanyakan itu karena aku sendiri tidak tahu.

“Kalau kau tidak mau meneruskan rencana pernikahan ini, tidak apa-apa. Eomma yakin appa dan keluarga Chanyeol akan mengerti.”

Aku masih belum merespon kata-katanya.

“Benar itu yang kau inginkan?” Tanyanya.

Aku menggelengkan kepalaku pelan. Lalu duduk menegakkan badanku.

“Animida. Aku… Aku hanya merasa takut berdekatan dengan namja. Termasuk…”

Ya, mungkin itu satu-satunya kata yang bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Aku takut. Meski jauh di dalam lubuk hatiku aku tahu persis kalau ketakutanku ini berlebihan, tapi entah kenapa setelah malam itu aku sungguh merasa takut saat harus berdekatan dengan namja, terkecuali Appa. Aku takut mereka menyakitiku.

“Chagi… Kau sudah mengenal Chanyeol hampir 4 tahun bukan?” Kata eomma yang ku jawab dengan anggukkan pelan.

“Apa pernah dalam 4 tahun itu ia melakukan sesuatu yang menyakitimu?” Tanyanya lagi.

Kali ini aku benar-benar tidak bisa membohongi perasaanku. Chanyeol oppa, namja yang kukenal cukup lama. Selama itulah kami saling mencintai. Dan selama itu pula lah dia membuatku semakin hari semakin mencintainya.

Eomma tersenyum saat sekali lagi aku menggelengkan kepalaku. “Tentu saja tidak karena dia mencintaimu, nak.” Katanya. “Eomma yakin dia tidak akan pernah melakukan hal yang bisa menyakitimu.”

<><><>

Tak henti-hentinya aku memainkan jemari tanganku demi meredam rasa cemas dalam hatiku. Bagaimana tidak, kurang dari setengah jam lagi, prosesi suci pernikahanku dengan Chanyeol oppa akan di mulai.

“Sudah selesai agassi.” Kata seorang wanita cantik yang sedari tadi menyibukkan diri membubuhkan riasan di wajahku, juga memberikan sentuhan-sentuhan pada rambut panjangku.

“Sekarang waktunya berganti pakaian.” Kata wanita yang satunya.

Mereka berdua menuntunku ke ruang ganti di kamarku. Ya, keluargaku memutuskan untuk menggelar pesta pernikahan di rumah saja. Mengingat rumah kami yang cukup besar, atau bisa di bilang sangat besar, sehingga cukup untuk menampung tamu-tamu yang mereka undang.

Kedua wanita itu membantuku mengenakan gaun pengantin berwarna putih panjang. Gaun pengantin impianku. Setelah selesai, kami kembali ke depan cermin untuk merapikan penampilanku, sekaligus memasangkan tiara dan kain tipis penghias kepala (author ga yang kayak gitu namanya apa.. kkk~)

Seulas senyum menghiasi wajahku saat ku tatap pantulan diriku di cermin. Dengan gaun hasil rancanganku sendiri, aku menatap wajahku yang tak ku sangka bisa secantik ini. Namun seketika senyum itu segera menghilang saat aku kembali teringat apa yang akan aku hadapi sesaat lagi.

“Chagiya…” Appa menampakkan sosoknya yang terlihat sangat gagah dengan setelan jas hitam formal. “Kau sudah siap, nak?” Tanyanya.

Sesaat aku tak bersuara. Hanya mampu menatap ke dalam matanya yang terlapisi lensa kacamata. Melihat pancaran kasih sayang dari matanya membuatku bisa merasakan keyakinan dalam diriku sendiri.

“Ne appa. Aku siap.”

Pria paruh baya itu mengapit lengan kananku sambil tak melepaskan sentuhannya di punggung tanganku yang bertengger manis di siku kirinya. Kami bersiap untuk menuruni tangga. Dan dari posisiku saat ini, aku bisa melihat seorang namja dengan tuxedo putih berdiri tegap sambil menancapkan pandangannya kearahku.

Saat aku yang digandeng oleh appa menuruni satu persatu tangga, dapat kurasakan jutaan pasang mata tertuju pada kami. Kini jarak antara aku dan pria bertuxedo putih itu semakin menipis. Appa membawaku ke satu titik ruangan ini yang di sulap menjadi altar yang sangat indah.Disana, Chanyeol oppa menunjukkan senyum tulusnya padaku.

Perlahan Appa melepaskan lenganku darinya. Ia lalu mengangkat lengan kiriku, menyodorkannya pada Chanyeol oppa yang langsung disambut oleh namja itu. Dan seketika lengan kami bersentuhan, rasa itu datang lagi.

Aku gemetar. Mulutku terkatup rapat menahan suara deruan nafasku yang memburu. Tapi melihat tatapan matanya yang lembut, akhirnya aku bisa merasa sedikit tenang meski harus dengan tiba-tiba menarik tanganku dari genggamannya.

<><><>

(Chanyeol’s side)

“Cium… cium… cium…”

Entah mendapat aba-aba darimana, semua undangan yang menghadiri pesata pernikahanku ini sekarang sedang menyuarakan hal yang sama. Mereka menyuruhku untuk mencium yeoja yang sudah resmi menjadi istriku ini.

Aku berbalik menghadap Yejin, begitupun sebaliknya. Kini kami berdiri saling berhadapan meski Yejin masih terus saja menundukkan pandangannya.

Gadis itu tersentak saat tiba-tiba aku menggenggam lengannya. Dan perlahan ia mengangkat kepala hingga kini mata kami bertemu. Yejin, gadis di hadapanku ini terlihat sungguh sangat cantik dengan gaun putih yang memabalut tubuh mungilnya. Aku tidak bercanda, dia benar-benar terlihat amat sangat cantik…

Aku sedikit membungkuk demi mensejajarkan wajah kami. Dan saat itulah aku bisa melihat ekspresi ketakutan tergambar jelas di wajahnya. Aku mengerti. Ternyata traumanya belum benar-benar terobati. Padahal aku sempat mengira kalau dia sekarang sudah jauh lebih baik saat waktu itu ia setuju untuk melanjutkan rencana pernikahan kami ini.

Aku tersenyum singkat. Ku raih wajahnya dengan menangkupkan kedua tanganku di pipinya. Ibu jariku bergerak menghapus air mata yang perlahan turun sementara aku menyentuhkan bibirku di bibir tipisnya. Hanya sekedar menyentuh dan sangat sebentar. Karena aku tahu dia sedang merasa sangat ketakutan saat ini.

<><><>

(Yejin’s side)

“Ini kunci apartemen yang akan kalian tempati.” Kata eommonim. Ia memelukku erat sebelum menyerahkan satu set kunci ke tanganku.

“Berhati-hatilah. Dan tolong jaga putri kami ini.” Appa merangkul namja jangkung di sampingku. Namja yang beberapa saat yang lalu resmi menjadi pendamping hidupku.

Setelah berpamitan pada keluarga, kami –aku dan Chanyeol oppa- segera menuju mobil dan melaju ke suatu tempat. Apartemen baru kami.

Selama perjalanan, kami benar-benar saling diam. Tidak ada yang bersuara selain alunan lagu-lagu romantis yang mengalun merdu dari pemutar CD di mobil hitam milik Chanyeol ini.

Sesekali ku lirik namja yang tengah berkonsentrasi dengan kemudinya. Ia terlihat sangat tampan. Sungguh. Tuxedo putih yang ia kenakan membuatnya terlihat gagah. Oppa… aku tahu kau tidak akan mungkin menyakitiku, tapi kenapa rasa takut ini tidak mau pergi.

Tidak sampai 30 menit kami tiba di sebuah gedung yang dilihat sekilas saja pasti bisa di tebak kalau yang tinggal disini hanya orang-orang dengan belasan angka yang berderet panjang di depositonya (?).

“Yejin-ah…”

Kami baru saja memasuki apartemen saat Chanyeol oppa tiba-tiba memanggilku. “Emh…?” Gumamku. Namja itu mematung di ambang pintu.

“Disini… hanya ada satu kamar tidur.” Katanya pelan.

Aku memandangnya sebentar. “Lalu?” Sahutku dengan suara yang kubuat setenang mungkin. Aku paham bentuk maksud perkataannya.

“Ah, ani…” Ia menggaruk belakang kepalanya lalu menyusulku yang sedang dengan susah payah menyeret gaun pengantin panjang yang ku pakai ke kamar.

Aku tahu dia pasti mengkhawatirkanku. Tapi aku juga tidak mungkin tidur di ruang tamu atau menyuruhnya melakukan itu. Biar ku tekan rasa takut ini, karena bagaimanapun juga dia adalah suamiku sekarang.

<><><>

(Chanyeol’s side)

Sekali lagi aku memandang gadis itu yang sedang terduduk di depan meja rias. Dia benar-benar sangat cantik.

Kami sedang berada dikamar. Kamar kami berdua. Karena lelah, aku memutuskan untuk berbaring sebentar di tempat tidur sebelum mandi. Dan Yejin, gadis itu masih terpaku di depan cermin. Sepertinya ia sangat canggung dengan status baru kami.

Melihatnya seperti itu, rasanya aku ingin berlari menghampirinya lalu mendekapnya seerat mungkin. Meyakinkan dia kalau aku sungguh mencintainya dan tidak akan pernah sekalipun menyakitinya. Namun aku tahu kalau aku tidak boleh melakukannya. Aku harus bersabar dan mendekatinya pelan-pelan.

“Yejin-ah… Cepat mandi lalu istirahat. Aku yakin kau pasti sangat lelah.” Kataku sambil berjalan keluar. “Aku akan mandi di kamar mandi luar.”

“Ne,oppa…” Jawabnya.

20 menit kemudian aku berjalan menuju kamar dengan kondisi tubuh yang jauh lebih segar. Dan saat aku membuka pintu kamar, aku melihat Yejin sudah tertelap di salah satu sisi tempat tidur king size ini.

Aku menyibakkan selimut lalu menempatkan diriku di sisi tempat tidur yang lainnya. Ku pandangi tubuh Yejin yang sepertinya sudah tertidur sambil membelakangiku. Aku tahu ini pasti tidak mudah baginya. Menghadapi sesuatu yang kini menjadi sumber ketakutannya.

Yejin-ah… percaya padaku. Aku tidak akan pernah menyakitimu. Dan aku bersumpah akan terus berada di sampingmu sampai kau bisa kembali menerima kehadiranku.

<>끝<>

 

Author’s talk:

2nd chapter is done… Gimana nih? Tambah seru ngga? Heuheu
Maaf banget yaa chapter 2 ini undate-nya lamaaaa banget… Mian… #bow

Makasih buat yang udah bersedia mampir dan baca karya author ini…

Ditunggu RCL-nya yaa…

Makasih… n_n

Iklan

25 pemikiran pada “Wedding Dress (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s