Dark Life Bright Love (Chapter 1)

Author: tashradr

Main Cast:

·      Kim Hyejin

·      Kris EXO

Genre: Romance (iya kali, author gatau-_-), gatau lagi zzz

Rate: PG-13

Length: Multi Chapter

Disclaimer: semua pemeran disini hanyalah fiktif belaka. yang nyata hanyalah para member EXO. semua pemeran disini milik author. terutama kris.

 

Message from author: aih maaf bgt ini ff gaje, ceweknya ringsek, ancur, dan rusak bgt. hehe abis pengen aja gitu kali-kali bikin ff yg pemeran utama ceweknya yg rusak. dan maaf ini gaje astaga ini ff suka-suka-author bgt-_- kritik saran di tunggu dan segala typo, maaf bgt. dan butuh pertolongan untuk membenahi cara penulisan author ya? hehe terima kasih selamat membaca~ ^^

Hyejin’s POV

 

Aku menyalakan rokokku yang sudah kesekian kalinya malam ini. Sial, pintu kamar dikunci oleh ayahku yang menyebalkan sekali itu dari tadi siang. Aku hanya ditinggali obat, beberapa botol air putih dan makanan. Aku enggan memakan makanan itu. Tak sudi. Apalagi obatnya. Yang aku butuhkan saat ini adalah minuman beralkohol. Aku nyaris mati tidak meminum soju atau wine seharian ini.

Intinya, kemarin malam aku baru saja pulang dari club pada pukul 3 pagi. Kemudian aku tertidur dan baru bangun pada pukul 3 siang. Saat ingin mengambil wine yang seingatku masih tersisa 5 botol di keranjang, pintu tak bisa terbuka. Sudah jelas jawabannya: ayah mengurungku.

“Hyejin-ah, kau sudah makan makananmu?” kata suara dari luar. Ibuku.

“Belum.” Teriakku dengan suara serak.

“Kau pasti juga tidak meminum air putih dan obatnya, kan?” tanyanya lagi dengan suara khawatir.

“Ya. Itu kau tahu, eomma.” Balasku lagi dengan suara malas.

“Makanlah walau pun hanya sedikit. Eomma yang membuatkannya untukmu. Eomma menunggu appamu pulang untuk memberikan kunci kamarmu supaya nanti kau bisa keluar. Makan ya?” katanya.

Aku hanya terdiam sambil menghembuskan napas, mengeluarkan asap rokok. Appa pulang? Cih, yang benar saja. Ia pasti saat ini sedang bersama wanita jalang itu. Paling-paling ia akan pulang jika mendengar kabar rumah ini kebakaran, eomma tewas atau aku yang menghabisi uangnya.

“Eomma tenang saja, aku akan baik-baik saja. Tidurlah, eomma, sekarang sudah pukul 12 malam. Malam, eomma.” Teriakku, ingin mengusirnya dari depan pintu kamarku agar ia bisa cepat tertidur.

Terdengar langkah kaki menjauh. Aku kembali mengepulkan asap rokok kemudian mematikan rokokku yang baru setengah jalan itu. Aku menyeret tubuhku mengambil sebotol air putih kemudian meminumnya.

Duduk di lantai sambil merokok di dekat jendela kamarku adalah hal yang paling menenangkan jiwa. Tapi tentu saja dengan tidak adanya appa dan wanita jalang itu di rumah ini.

Aku memejamkan mata dan menangis. Tidak pernah ada yang tahu aku menangis, hampir setiap hari. Di perjalanan pulang dari club, di kamar, saat aku mandi atau saat-saat seperti ini. Yang kutahu hanya satu: ibuku juga sering menangis sendiri. Bedanya, aku selalu tahu setiap kali ia menangis, sedangkan ia tidak pernah tahu aku menangis.

 

*****

8 pagi? Aku mengerutkan keningku. Kapan terakhir kali aku bisa bangun sepagi ini?

Kudengar suara seorang wanita tertawa. Ah, sial, tidak lagi. Bahkan suaranya bisa membuatku terbangun sepagi ini.

Aku mencoba membuka pintu kamarku. Sudah tidak terkunci. Aku turun ke bawah dan mendapati seorang wanita dengan dandanan berlebihan membawa beberapa temannya ke ruang keluarga rumahku. Di ruang makan terlihat seorang laki-laki duduk tertidur sambil mendengarkan lagu dari iPod hitamnya.

“Bisakah kau kecilkan tawa menyebalkanmu?” kataku lantang kepada wanita menor itu. Ia mendelik sinis kemudian tertawa menyebalkan. Jalang.

“Kukira kau sudah tewas tertabrak truk karena menyetir dalam keadaan mabuk dua hari yang lalu.” Katanya tidak kalah lantang. Berani sekali.

“Aku professional. Mabuk pun tetap bisa menyetir dan memarkir dengan sempurna. Tidak seperti dirimu yang manja menggunakan supir ibuku. Orang miskin seperti dirimu jelas tidak punya mobil untuk berlatih menyetir, kan?” ejekku.

Ia terlihat kesal. Tentu saja. Selama ini tidak ada yang pernah bisa menang dari adu mulut melawanku. Tidak ada, termasuk si jalang ini.

“Yoonhee, coba kemari dan lihat anak perempuanmu. Tidak terurus seperti ini. Tidak malu kah kau?” teriaknya. Kurang ajar. Berani sekali membawa-bawa ibuku. Ia sepertinya tahu, membawa ibuku ke dalam lingkar permasalahan kami berdua akan membuatku bungkam dan tidak melemparkan kata-kata sadis kepadanya.

“Maaf eonni.” Kata eommaku dari arah dapur sambil membawa banyak gelas yang berisi sirup ke arah ruang keluarga.

“Apa ini, eomma?” aku berkata dengan suara sangat kecil pada ibuku sambil menghadang jalannya. “Untuk mereka?” tunjukku kepada wanita menor dan beberapa temannya. Ibuku terus menunduk dan memaksa berjalan. “kemarikan.” Aku mengambil nampan itu dari tangan eommaku dan membawanya ke ruang keluarga. Dengan kedua tanganku.

Aku menyiram empat gelas sirup yang kubawa ke wajah wanita-wanita menor itu, termasuk musuh bebuyutanku. Ia kaget, tentu saja. Kalau ia tidak kaget itu hebat namanya. Akan kuberikan ratusan juta won kepadanya.

“Berani sekali kau?!” katanya sambil bangkit berdiri.

“Tentu saja. Ini rumahku. Kau yang berani sekali menyuruh ibuku membuatkan sirup untukmu dan teman-temanmu yang berotak udang ini. Kutanya padamu, kau siapa, hah? Wanita jalang pengincar harta ayahku? Parasit? Manusia tanpa otak? Apalagi?” bentakku.

Teman-temannya berkasak-kusuk sambil dengan kesalnya membersihkan sirup yang menempel pada wajah mereka.

“Jangan dibersihkan disini. Lebih baik di rumah kalian masing-masing saja. Aku tidak akan kuat melihat wajah kalian tanpa lapisan make up 5 centi kalian. Pulanglah sebelum aku muntah.” Kataku dengan volume suara dikecilkan.

“Yoonhee!” seru si jalang kurang ajar kepada ibuku. “Kau urus dengan baik anakmu ini! Ibu dan anak sama-sama seperti sampah!” katanya geram. “Jonginnie, ayo pulang!” serunya kemudian berjalan keluar.

Ibuku menggoyangkan bahu anak dari si jalang itu, Kim Jongin atau Kai. Aku tidak tahu datang darimana nama Kai itu. Intinya orang-orang mengenalnya dengan nama itu.

Kai terbangun kemudian berdiri dari kursi. Membungkuk kepada ibuku dan berjalan menyusul ibunya. Ia melirikku kemudian membungkuk. Aku menatapnya angkuh, tidak bergeming. Kemudian ia keluar dari rumahku.

Selagi kau memiliki hubungan dengan si jalang itu, aku pastikan kau tidak akan mendapatkan sepersen pun respek dariku. Bahkan jika kau hanyalah teman TK dari si jalang itu. Tidak akan. Kuulangi sekali lagi, tidak akan.

 

*****

“Jadi, Hyejin, eomma dengar kau tidak bisa berhenti merokok ya?” tanya ibuku. Aku mengangguk tak acuh sambil meneguk soju dan menatap layar TV. “Kau tidak ingin berhenti merokok?” tanyanya lagi.

“Ingin, tapi tak ada niat. Mustahil memisahkan diriku dari kata rokok dan alkohol eomma.” Jawabku. Perlu dicatat ya, aku tidak pernah merokok di depan eomma. Aku tahu ia benci asap rokok. Aku biasanya merokok jauh-jauh darinya.

“Eomma punya kenalan yang bisa membuat orang berhenti merokok dan minum alkohol loh. Kau mau tidak? Demi eomma.” Katanya. Aish… ‘demi eomma’ adalah kata-kata yang tidak bisa kutolak. Ia tahu sekali aku akan melakukan apapun demi dirinya.

“Karena demi eomma aku setuju. Jika ia tidak berhasil membuatku berhenti, jangan cari orang lain. Sekali tidak berhasil, tidak akan berhasil.” Jawabku sekaligus memberi perjanjian.

“Kurasa ia akan berhasil. Dia sudah terkenal dalam urusan membuat orang-orang berhenti merokok, minum-minuman dan segala macam yang buruk-buruk itu. Eomma akan mencoba menghubunginya. Biasanya ia sibuk. Eomma permisi dulu, ya?” Kata eomma panjang lebar. Aku hanya mengangguk. Terserah ia saja.

Jika kalian tidak mengerti keadaan keluargaku saat ini, tidak apa-apa karena aku memang belum menjelaskannya kepada kalian semua. Intinya, dulu keluargaku adalah keluarga yang sempurna. Ayahku pengusaha kaya, ibuku direktur perusahaan majalah remaja terkenal di Korea Selatan. Ayahku masih aktif dengan pekerjaannya sementara ibuku memindahkan pekerjaannya ke rumah. Tapi sudah setahun ini ibuku tidak bekerja. Jabatannya ia berikan kepada sepupuku.

Berbicara tentang keluargaku, dulu kami benar-benar sempurna. Harmonis, kaya raya, dan memiliki wajah idaman dan bakat. Tapi itu dulu, sebelum ayahku menikah lagi dengan si jalang Kim Hwayun.

Hwayun dulunya istri dari orang kaya yang jatuh miskin. Suaminya meninggal karena memang memiliki penyakit. Kemudian ia menikah dengan ayahku. Seperti biasa, mengincar harta. Mantan suami Hyawun bermarga Kim juga, seperti aku. Jadi Hwayun dan anaknya, Jongin, tidak berganti marga.

Tepatnya lima tahun lalu, saat aku berumur 15 tahun. Baru-barunya memasuki SMA. Harusnya kehidupan SMA ku indah, justru malah hancur. Ayahku membeli rumah lain untuknya, Hwayun dan Jongin. Tidak terlalu jauh dari rumahku, hanya 30 menit perjalanan. Kemudian ayahku tinggal disana, meninggalkan aku dan ibuku berdua saja bersama para pembantu.

Ah, sudah ya? Tidak usah dilanjutkan lagi. Diam-diam aku selalu sedih mengingatnya. Aku bangkit berdiri membawa botol soju kemudian berjalan ke kamarku.

Aku mengunci pintu kamar, seperti biasa jika aku tidak mabuk. Tiap malam memang begini. Kumatikan lampu kamarku dan menyalakan lampu tidurku yang remang-remang. Aku duduk di lantai, bersandar di kasur, menaruh tangan kiriku di jendela yang terbuka sementara tangan kananku memegang rokok.

Aku memejamkan mata. Sakit sekali rasanya mengingat hidupku yang sekarang dengan yang dulu. Mengapa begini?

 

*****

“Hyejin-ah, mengapa mengunci pintu lagi?” tanya eomma dari luar sambil mengetuk pintu.

Aku segera tersadar. Badanku mengapa sakit semua? Astaga, aku tidur dalam posisi terduduk di lantai. Botol soju yang sudah kosong sudah dalam posisi tertidur sementara asbak rokokku sudah terbalik, membuat abu dari rokok semalam tumpah ke lantai.

“Hyejin-ah?” tanya eomma lagi.

“Ya, ya eomma, ada apa? Aku baru bangun.” Kataku tergesa-gesa sambil membersihkan lantai yang kotor. Ah sudahlah, membersihkannya seadanya saja.

“Orang yang eomma katakan tadi malam akan datang malam ini. Sekarang sudah pukul tiga sore, bersiaplah. Mandi dan pakai baju yang rapi. Jangan membuat malu eomma ya, walaupun eomma tahu kau tidak pernah mempermalukan eomma. Mengerti?” Atur eomma.

“Ya, ya, aku mengerti.” Kataku. Manis sekali kata-kata eomma. Tidak pernah gagal membuatku terharu.

 

*****

Bel berbunyi. Orang itu sudah datang?

Eomma berlari-lari kecil menuju pintu sedangkan aku mengekor di belakangnya malas-malasan. Pembantuku sudah membukakan gerbang untuknya, kemudian ia melangkahkan kakinya ke arah pintu rumahku.

Aku terdiam. Pria itu?

Tingginya kurang lebih 6’2 kaki, rambutnya pirang, kulitnya putih. Ia kurus, ia mancung, ia tampan. Aku terkesima. Eomma salah mengundang orang atau orang ini salah alamat? Ia terlalu tampan, seperti model.

“Selamat malam.” Ia membungkuk. Eommaku juga, maka aku pun harus melakukannya juga.

“Ayo silahkan masuk.” Kata eomma girang. Eomma pun tidak bisa membohongi dirinya bahwa pria ini terlalu tampan.

Kami bertiga sudah duduk di ruang tamu. Aku bersebelahan dengan eomma sedangkan pria itu di seberang kami berdua.

“Saya Wu Yi Fan. Kalian bisa memanggil saya Kris.” Kata pria itu. Perasaanku saja atau pria-pria jaman sekarang senang membuat nickname?

“Aku Kim Yoonhee sedangkan ini anakku, Kim Hyejin.” Kata eomma memperkenalkan kami berdua. Aku membungkuk padanya. “Seperti permohonanku, putriku ini senang sekali merokok dan minum-minuman. Kudengar kau bisa membuat orang-orang berhenti melakukannya kan? Aku mohon bantuanmu.” Kata eommaku lagi.

“Tentu saja. Aku selalu berhasil membuat orang-orang berhenti melakukan itu semua. Boleh aku bicara dengan Hyejin sebentar?” tanya Kris.

“Tentu, tentu saja! Bicaralah di taman belakang. Kalau disini sering ada pembantu kami berkeliaran. Di taman belakang aja.” Kata eomma kemudian bangkit berdiri. “Hyejin-ah, ayo antarkan Kris ke taman belakang.” Suruh eomma padaku sambil menarik-narik tanganku.

Aku bangkit dengan gusar. Aku berjalan mendahului Kris kemudian ia mengekor di belakangku. Aku berjalan ke tempat duduk kayu yang berada di bawah pohon momiji yang diberi lampu kuning indah yang berada di tengah-tengah taman belakang rumahku.

Aku duduk di salah satu bangkunya. Kemudian diikuti Kris duduk di depanku. Kami duduk berhadapan. Aku menopang daguku dengan tangan kiri sedangkan ia hanya memperhatikanku dalam diam.

“Dalam sehari, kau merokok berapa batang?” tanyanya. Tangannya ia lipat di atas meja seperti anak SD.

Aku berpikir sejenak. Tidak terhitung. Eh, tidak juga. “Sebungkus, kadang dua.” Jawabku tak acuh, masih tidak meliriknya.

“Banyak sekali.” Katanya dengan suara datar. “Kalau minuman beralkohol, berapa botol sehari?” tanyanya lagi.

“tiga sampai lima.” Jawabku lagi. Ia terkesima.

“Untuk ukuran wanita, kau itu sudah sangat parah, Hyejin.” Katanya.

“Lalu?” kali ini aku menatapnya, menantangnya. Ia diam saja. Ekspresi diamnya cukup menyeramkan. Alisnya membuatnya menang dalam ajang tatap menatap. “Asal kau tahu saja ya, aku tidak memiliki niat untuk berhenti merokok atau pun minum-minuman. Anggaplah kita bertemu setiap hari, kita berbicara seakan-akan kau memberiku terapi, aku tidak membeli rokok dan soju, aku tidak merokok dan minum-minuman di depan eommaku. Aku hanya ingin ini pura-pura. Aku tidak mau berhenti merokok dan minum-minum.” Kataku telak.

Ia terdiam. Kemudian berkata pelan, “Tidak kukabulkan.”

Apa? Menyebalkan.

“Berani sekali? Aku tidak akan berhenti merokok, tidak akan berhenti minum-minum. Titik. Kau boleh pulang sekarang.” Aku bangkit berdiri.

“Pulang? Pulang kemana?” katanya setengah tertawa. “Mulai saat ini sampai pada saatnya kau sudah benar-benar berhenti merokok, aku tinggal disini. Sekarang tugasmu adalah, menunjukkan dimana kamarku.” Katanya, kemudian bangkit berdiri.

DIA TINGGAL DISINI? DI RUMAHKU? DI TEMPAT DIMANA AKU TINGGAL?

Aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagetku di depan wajahnya. Tidak mungkin. Tidak. Tidak. Tidak.

 

*****

Kris’s POV

 

Tentu saja ibunya yang menunjukkan dimana kamarku. Hyejin mana mungkin mau bersusah payah dan berbaik hati padaku. Sekarang disinilah aku, di kamar putih bersih yang sangat rapi. Tepat di depan kamarku adalah kamar Hyejin.

22.30? aku penasaran ia sudah tidur atau belum. Akhirnya aku keluar kamar, melangkahkan kaki tiga kali dan sampailah di depan kamarnya.

Terkunci.

Entah mengapa setiap kali seseorang mengunci kamarnya membuatku khawatir. Aku trauma jika mengingat hal ini. Jujur saja, aku tidak pernah mengunci kamarku, kecuali kamar mandi.

Aku turun ke lantai bawah untuk mencari salah seorang pembantunya. Tentu saja untuk meminta kunci cadangan kamar Hyejin. Aku tidak tenang, tidak pernah tenang.

“Permisi, apa kau punya kunci cadangan kamar Hyejin?” tanyaku pada seorang perempuan paruh baya.

Ia mengangguk kemudian berjalan ke sebuah meja, membuka lacinya dan mengambil sebuah kunci. Ia kembali lagi lalu memberikan kuncinya padaku.

“Terima kasih.” Aku membungkuk sedikit kemudian kembali ke atas.

Aku memasukkan kuncinya kemudian membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Benar-benar perlahan sampai-sampai tidak mengeluarkan suara. Kemudian aku mendapati Hyejin sedang bersandar pada kasurnya, menyandarkan kepalanya di tembok, duduk di lantai, rokoknya masih menyala dan beberapa botol soju yang kosong tergeletak di lantai. Ia sudah tertidur dengan keadaan jendela terbuka. Benar-benar…

Aku berjalan ke arah asbak rokok yang berada di dekatnya kemudian mematikan rokoknya. Membuang abu rokoknya dan botol-botol soju di tempat sampah yang berada di kamarnya. Aku mendekatinya dan melihat air mata yang mengering di kedua pipinya.

Ia menangis? Yang benar saja.

Aku berjalan ke kamar mandinya kemudian membasahi sapu tanganku dengan air hangat. Aku kembali lagi kemudian mengelap wajahnya perlahan. Matanya cekung sekali dengan kantung mata hitam di sekitarnya. Pipinya tirus sekali seperti orang tidak pernah makan. Kulitnya kering dan pucat. Ia terlalu kurus, terlihat seperti orang penyakitan. Rambut panjang sepinggangnya bergelombang berantakan.

Aku menaruh sapu tanganku di mejanya. Menggendongnya kemudian menaruhnya di atas kasur. Menyelimutinya kemudian menutup jendela kamarnya.

Bahkan dalam keadaan tertidur pun, ia terlihat kesakitan.

 

*****

Hyejin’s POV

 

Aku terbangun dengan keadaan di atas kasurku. Jendelanya bahkan tertutup. Botol soju dan asbak rokok sudah hilang. Kamarku menjadi benar-benar bersih dan tercium wangi stroberi, bukan bau asap rokok.

10.30. Cepat sekali aku sudah terbangun. Belakangan ini aku sering bangun lebih cepat dari pada biasanya. Aku heran penyebabnya apa. Tapi yang pasti aku bersyukur penyebabku terbangun kali ini bukan karena mendengar tawa Hwayun yang menjijikan itu.

Aku berjalan ke kamar mandiku. Jarang sekali aku mandi pagi-pagi begini. Tapi intinya penyebab mengapa aku mandi jelas karena ada sesuatu: Kris. Sehancur-hancurnya diriku setidaknya aku tidak mau di cap bau olehnya.

Aku turun ke bawah hendak mengambil wine, coklat dan ingin memakan kentang goreng. Aku melihat Kris terduduk di salah satu kursi di meja makan sedang membaca buku. Aku membiarkannya kemudian membuka lemari tempat biasa aku menaruh wine dan soju. Aku tercengang. Benar-benar tercengang.

Kosong. Tidak ada wine ataupun soju.

Aku membanting pintu lemari itu kemudian berjalan dengan gusar ke arah Kris. Sudah pasti ia pelakunya.

Aku merebut bukunya kemudian melemparnya ke lantai dengan keras. “KAU TARUH DIMANA MINUMANKU?!” teriakku geram. Aaaarghhh!

Ia melirikku tak acuh dengan wajah tidak berdosa. Ia berkata dengan polosnya yang membuatku ingin sekali merobek bajunya, “aku buang.”

“KEMBALIKAAAAN!!!” kali ini aku menjambak rambutnya, menarik bajunya dan mencakarnya. Ia mendorong kursinya kemudian bangkit berdiri dan menahan tanganku. Ia mencengkeram kedua tanganku kemudian menarikku mendekat padanya. Membuatku berhenti berontak karena ditatap olehnya.

“Ikuti peraturanku jika kau ingin mendapatkannya kembali.” Katanya dengan suara yang sangat kecil dan berat. Peraturan apa lagi? “Duduk.” Katanya.

Aku ikuti saja perintahnya. Aku duduk di salah satu bangku yang ada, menunggunya angkat bicara.

“Pertama, kau harus bangun pukul enam pagi kemudian berolahraga.” Katanya.

“Apa?! Kau ini sebetulnya guru olahraga atau apa?!” aku menggebrak meja. Ia tidak peduli dengan kata-kataku dan terus melanjutkan kata-katanya.

“Kedua, kau harus tidur dengan jam yang normal dan makan makanan yang sehat, menjaga kulitmu.” DIA SEMAKIN GILA!! Aku benar-benar panas mendengar peraturannya. “Ketiga…” ia diam dulu. Menatapku lekat-lekat kemudian berkata, “Jumlah pemakaian rokok dan minuman alkoholmu, aku kurangi.”

Seperti kereta menabrakku. Tidak bisa. Tidak boleh. Tidak mungkin.

NOOOOOOOO.

 

*****

Aku mengerang kesakitan. Kepalaku pusing sekali hari ini tidak merokok. Ini sudah malam, jadwalku merokok. Kris sialan menyembunyikan rokokku!

“Kris… argh… berikan aku lima batang rokok… lima batang saja, kumohon…” rintihku sambil memegang kepalaku erat-erat. Aku terduduk di lantai sedangkan ia di sofa. Sudah beberapa jam ini aku terus begini, memohon padanya.

Ia tidak bergeming dan tetap membaca bukunya. Terapis tidak berguna.

“Dengan catatan tidak menangis malam ini, tidak merokok di kamar dan tidak lupa menutup jendela.” Katanya dengan mata terus menatap buku.

Aku tercengang. Ia tahu aku menangis tadi malam? Astaga, bagaimana bisa? Bukankah aku mengunci kamarku?

“Kau tahu dari mana aku menangis?! Jadi kau yang tadi malam membereskan kamarku dan memindahkanku ke kasur?” tanyaku penasaran.

Ia menutup bukunya kemudian menatapku. “Aku mengecek kamarmu. Kau memang menangis. Tapi kalau membereskan kamar dan memindahkanmu ke kasur, itu pembantumu yang melakukannya.” Katanya datar.

Aku bungkam. Yah, kukira ia sudah sedikit menjadi manusia normal yang memiliki hati, ternyata tidak.

Ia melemparkan satu kotak rokok dari kantung bajunya ke arahku. Aku menangkapnya dengan senang hati dan membuka isinya. “Yah, hanya tujuh batang?” kataku kecewa.

“Hanya tujuh batang? Aku sudah berbaik hati memberimu tambahan dua batang dari yang kau minta tadi.” Katanya dingin. Ya, ya, ya sudahlah. “Mau merokok dimana?” tanyanya.

“Di taman belakang, mungkin.” Aku bangkit berdiri. Aku melihat ia juga ikut berdiri. “mau kemana?” tanyaku.

“Menemanimu merokok.” Katanya. Aku mengangkat bahuku tak acuh padanya dan berjalan duluan ke taman belakang. Aku duduk di bangku yang berada di bawah pohon momiji. Beberapa menit kemudian, ia datang dan meletakkan sebuah botol wine dan gelas bening di atas meja.

“Untukmu atau untukku?” tanyaku. Ia menggeser botol wine itu ke arahku. Berarti sudah jelas kan itu untuk siapa? “Terima kasih.” Aku meraih wine itu dan menuangnya ke gelas. “Kau tidak minum?” tawarku. Ia menggeleng. Tentu saja.

Kami terdiam cukup lama sampai akhirnya ia bertanya, “Mengapa kau merokok dan minum-minuman?”

Aku tidak menanggapinya. Pura-pura sibuk meminum wine-ku. Tetapi ia menunggu. Kulihat ia terus menatapku dari ekor mataku. Aku menyerah. Tidak mungkin bisa berpura-pura sibuk meminum wine karena kenyataannya wine di gelasku sudah habis.

Aku menghembuskan nafasku berat. “Bukan urusanmu.” Itulah jawaban yang kuberikan.

“Aku harus tahu apa masalahmu. Setiap pasienku selalu memberitahu penyebab mereka merokok dan minum-minuman. Jawablah.” Paksanya.

“Itu karena mereka niat berhenti merokok sedangkan aku tidak.” Aku mengepulkan asap rokokku yang pertama untuk hari ini. “Kau tidak perlu tahu.” Lanjutku.

“Kau harus memberitahuku. Demi eommamu.” Katanya. Aih, bisa saja ia menjebakku.

Aku menggeleng. “Eommaku tidak pernah memintaku seperti itu.” Balasku.

“Tapi eommamu memintaku untuk membuatmu berhenti merokok. Dan memberitahu masalah dan alasan mengapa kau merokok juga termasuk tugasku dan kewajibanmu. Jadi ini sama saja demi eommamu.” Katanya membela diri. Terserah lah.

Aku terdiam cukup lama untuk menahan supaya air mata tidak jatuh saat aku mengatakannya. “Masalah keluarga.” Kataku santai. Ralat, mencoba santai.

“Lalu? Apa hubungannya?” tanyanya bodoh. Ralat, aku tahu ia pura-pura bodoh.

“Aku broken home. Sudah jelas kan itu? Bahkan appaku sudah tidak pernah tinggal disini lagi.” Aku melanjutkan merokokku. Jangan menangis, jangan menangis.

“Memangnya appamu tinggal dimana? Lebih detail lagi ceritanya.” Katanya memaksa. Berisik sekali.

“Dengan istri keduanya. Aku dan eommaku ia tinggalkan disini. Istri keduanya itu senang sekali pamer harta dan sering ke rumah ini. Menyuruh-nyuruh eommaku dan membuatku kesal. Ia lebih tua lima tahun dari eommaku. Makanya ia berani berbuat seenaknya disini.” Aku menjelaskan dengan segala kekuatanku. Kulihat Kris hanya mengangguk beberapa kali, meminta kelanjutan dari drama kisah nyataku.

“Aku stress dengan kehidupanku. Eommaku menderita penyakit pernafasan beberapa tahun lalu, membuatku semakin drop. Aku tidak punya teman. Dari dulu aku hanya berteman dengan laki-laki. Sahabatku Chanyeol dan Baekhyun. Kami sama-sama kelahiran 92 dan selalu bersekolah di sekolah yang sama. Sampai akhirnya Chanyeol pindah ke Jepang dan Baekhyun pindah sekolah, aku sudah tidak punya tempat untuk bercerita. Sedangkan anak-anak perempuan sekolahku semuanya sama saja, murahan.”

“Aku lupa siapa yang mengajakku merokok. Intinya ia berkata bahwa merokok bisa membuat pikiran tenang. Aku percaya saja, karena pada kenyataannya itu memang benar. Sedangkan minuman beralkohol, aku diajak oleh teman-temanku yang memang bukan orang Korea. Intinya, aku nyaman setiap hari merokok dan minum-minuman.”

Aku mematikan rokokku. Menunduk dalam-dalam sambil memejamkan mata. Kris adalah orang pertama yang mengetahui ini semua. Aku tidak pernah bercerita kepada siapa pun tentang ini.

Aku kalah. Aku tidak sekuat yang kukira. Air mataku jatuh. Tubuhku mulai bergetar. Aku menutup wajahku. Tiada hari tanpa menangis sampai-sampai air mataku bisa membuat lautan.

Kurasakan seseorang merangkulku. Kemudian ia memelukku. Ia Kris, aku tahu itu. Aku tidak membalas pelukannya, tetap menutupi wajahku.

“Kau kuat.” Katanya dengan suara yang sangat kecil. Pelukannya memberikanku kehangatan. “Kau hanya perlu berlatih bagaimana menjadi lebih kuat lagi.” Lanjutnya.

Aku mencengkeram baju Kris. Seakan-akan dengan begitu aku bisa lebih kuat lagi. Kami terdiam selama beberapa menit dengan posisi berpelukan seperti ini.

“Biasanya setelah menangis, seseorang akan langsung mengantuk. Cepat ke kamarmu dan tidur di kasur.” Ia memegang pundakku, mengelus rambutku, kemudian bangkit berdiri. “Kuantar kau ke kamar.” Ia meraih tanganku.

Aku berjalan mengikutinya ke kamarku. Aku berbaring di kasur kemudian ia menyelimutiku. Ia mengelus rambutku dengan lembut. Aku merasa seperti anak umur 5 tahun. Ia mematikan lampu kamarku dan mengucapkan selamat malam sebelum akhirnya menutup pintu.

Aku memejamkan mata dan menangis lagi. Kapan terakhir kali appa melakukan ini padaku?

Sudahlah. Intinya, Kris baik sekali walau pun ia menyebalkan.

 

*****

 

gimana readers? gaje kan au dah ini gimana ceritanya. maaf kalo update lama. SMA keras! *bakar obor*
authornya 97line nih jadi kalo ada yg lebih tua dari author bilang ya ntar author malah nyebutnya “dongsaeng” lagi. dan yang lebih muda dari author, bilang juga!
udah ah gitu dulu. intinya author lagi mau belajar cara penulisan yang bener nih biar ff gaje ini lebih enak diliat.
semua comment bakal author bales kok. ditunggu commentnya!~~^^

80 pemikiran pada “Dark Life Bright Love (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s