Gentle Rain

Gentle Rain

Author: Laetitia Caeli

First – The Sweet Red Lips

                Pada awalnya, hari berjalan dengan sangat cerah. Lambat laun awan-awan tebal berkumpul dan mulai berkondensasi menghasilkan titik-titik hujan yang jatuh ke permukaan bumi dengan sangat lembut  kemudian menjadi sangat deras.

Di depan sebuah kedai kopi kecil, seorang gadis muda duduk dengan gelisah menunggu hujan reda. Sudah 20 menit dia menunggu di sini. Sambil memangku ranselnya,  Jaein mengernyutkan bibirnya. Kesal –tak ada yang bisa menjemputnya pulang. Yah, ini terjadi berulang kali semenjak orangtuanya memutuskan untuk tetap tinggal di Indonesia dan membiarkan anak-anaknya tinggal di Seoul.

                Coba saja aku dibolehin nyetir mobil, aku nggak akan ngalamin hal ini berkali-kali, keluhnya.

Hujan masih turun dengan deras. Untung saja kedai kopi ini menyediakan tempat duduk yang menurutnya seperti kursi taman dan masih dilindungi kanopi kedai itu. Kalau tidak, mungkin saja Jaein sudah basah kuyup sambil berjalan seperti gelandangan di pinggir jalan.

Udara dingin menusuk kulit luar Jaein . Dia bahkan tidak menyadari bahwa tubuhnya sudah menggigil. Jaein memeluk ranselnya dengan harapan dapat menghangatkan tubuhnya.

Tidak menyadari seorang pria muda menghampirinya sambil membawa segelas kertas cappuchino hangat. Jaein masih tetap memeluk ransel coklatnya dengan erat. Hingga pria muda itu memanggilnya.

“ Minumlah ini, hangatkan dirimu. “, sahut pria itu.

Jaein melihat tangan pria itu bergetar saat memberikan minuman itu kepadanya. Apakah minuman itu sangat panas? batinnya.  Aroma harum dan hangat itu menggoda dahaga dan rasa dingin yang dirasakannya sekarang.

“ Ka-kamsahamnida.. “

Jaein mengambil gelas kertas yang masih panas itu tanpa melihat wajah pria yang memberikannya. Segera saja Jaein mencicipi minuman yang ada di tangannya.

“ Cappuchino? “

Tanya gadis bernama Kim Jae-in setelah merasakan kehangatan pada tenggorokannya yang lalu menyebar ke seluruh tubuhnya. Pria itu hanya tersenyum kepada Jaein. Bibir merah dan senyuman yang manis itu dapat dengan mudahnya melupakan rasa cappuchino tadi. Rasanya lebih manis dari pada minuman yang ada di gelas ini.

“ Aku pergi dulu.. “, pria itu berjalan untuk kembali memasuki kedai.

“ Tunggu! “

“ Iya? “ pria itu membalikkan badannya.

“ Aku mau bayar minuman ini. “

“ Ah, tidak perlu. Itu gratis kok. Sampai jumpa! “ , ucap pria itu sambil melambaikan tangannya.

Pria itu masuk ke dalam kedai. Sekarang hanya ada Jaein dan segelas cappuchino panas. Jaein menatap gelas yang ada di tangannya sekarang. Bayangan senyuman pria tadi itu terus berputar di pikirannya.

                Siapa dia?

                Kenapa baik sekali memberikan ku minuman hangat?

                Apakah aku mengenalnya?                                           

Dengan sikap Jaein yang berdiam diri dan fokus terhadap apapun didepannya, berarti ada yang mengusik di pikirannya. Pikirannya terus berputar. Mencari sosok pria itu dengan teliti di setiap lembar memori nya.

 

Sambil mengantarkan pesanan pelanggan, Suho melihat keluar jendelanya.

                Ah, hujan!

Dengan perasaannya yang sudah dipendamnya sejak lama dia berharap agar hujan ini membawa keberuntungan baginya.

Belum sedetik berlalu, harapannya sudah terkabul. Seorang gadis manis dan masih muda duduk di depan kedai kopi ini untuk berteduh dari hujan. Tersirat senyuman di wajah Suho. Dia segera mengantarkan segala pesanan ke meja sebelum hujan reda dan gadis itu pergi lagi.

#####

Suho segera kembali ke dapur. Sekilas ia melihat gadis itu masih duduk di depan kedai sambil memeluk ranselnya. Dengan semangat Suho membuatkan segelas cappuchino hangat.

“ Ada yang memesan cappuchino, Junmyun-ah? “, tanya seorang pria padanya.

“ Tidak. Aku hanya.. “

“ Jangan bilang kamu mau memberikan minuman itu ke gadis yang sedang duduk di depan kedai kita. “

“ Kau pintar sekali, Kyungsoo-ah. “

“ Kalau begitu cepat sebelum dia pergi lagi. “

Suho membawa segelas cappuchino dengan gelas kertas keluar kedai. Dia memperhatikan gadis itu dengan seksama. Dia benar-benar sudah jatuh hati. Dengan perasaan yang gugup Suho menghampiri gadis yang dari saat awal dia liat masih memeluk ranselnya.

“ Minumlah ini, hangatkan dirimu. “

Suho menyodorkan segelas cappuchino panas dengan tangannya yang bergetar karena gugup. Gadis itu melihat segelas cappuchino sambil mengernyutkan keningnya.

“ Ka-kamsahamnida.. “

Gadis itu menerima minuman pemberian Suho. Dalam hati Suho tersirat perasaan yang mungkin tidak akan dia lupakan.

“ Cappuchino? “, tanya gadis itu. Suho terlihat bingung dan gugup. Dia hanya bisa tersenyum kecil.

Dilihatnya wajah gadis itu. Bola matanya yang berwarna coklat itu menatapnya dalam-dalam.

                Kenapa gadis ini menatapku?

                Apakah ada yang salah?

Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan, Suho segera pergi meninggalkan gadis itu.

“ Aku pergi dulu.. “, Suho berjalan dengan perasaan yang mungkin tidak akan dia alami lagi menuju kedai.

“ Tunggu! “

“ Iya? “, sahutnya sambil membalikkan badan.

“ Aku mau bayar minuman ini. “

“ Ah, tidak perlu. Itu gratis kok. Sampai jumpa! “, tanpa sadar Suho melambaikan tangannya. Aneh, gadis ini benar-benar menghipnotis dirinya.

“ Jaein-ssi! “

“ Kim Jaein!!! “

“ Apaaa? Nggak usah teriak-teriak bisa kan? “, omel Jaein lalu kembali memasukkan kimchi yang diambilnya dengan sumpit logam.

“ Habis aku lihat kamu melamun aja. Ada apa? “

“ Baekhyun-ssi.. “, panggil Jaein.

“ Apa? “

“ Apa kau kenal.. “

“ Kenal apa? “

“ Ah, nggak penting. Nggak jadi deh. “

“ Kok gitu sih? “, protes Baekhyun, teman kecilnya sejak sekolah dasar sampai sekarang.

“ Kenapa emangnya? Orang nggak jadi nanya kok. “

“ Aku penasaran aja, apa sih yang ada dipikiranmu ini? “, tanyanya sambil menjitak jidat Jaein.

“ Ya! Sakit tau! “, erang Jaein. “ Aku sudah selesai makan. Aku balik ke kelas dulu sebelum dosen datang. “

Jaein berdiri dari tempat duduknya.

“ Oke. Nanti aku main ke rumahmu ya. “, ucap Baekhyun sebelum Jaein beranjak pergi ke kelasnya.

Bayangan wajah itu masih berputar di pikiran Jaein walaupun semalaman tadi dia tidak dapat tidur dengan nyenyak karena wajah itu.

Tanpa sadar kepala Jaein membentur sesuatu –sesuatu yang kuat namun tidak begitu keras.

Pria itu membalikan badannya, sadar ada seseorang menabraknya dari belakang. Pria itu tersenyum setelah melihat pelaku yang menabraknya tadi. Bibir merah yang manis.

“ Ka-kau kan yang kemarin! “, seru Jaein saat menyadari senyuman itu. Wajah itu.

Belum sempat Suho berkata, Jaein sudah membungkukan badannya.

“ Jeongmal kamsahamnida! Cappuchino sangat enak! “ , ucap Jaein sambil membungkungkan badannya berulang kali.

“ Sama-sama, Jaein-ssi.. “

                Jaein-ssi? Bagaimana dia bisa mengetahui namaku?

“ Kita satu jurusan bukan? Jurusan musik semester tiga. “, tanya pria itu.

Dia sangat tinggi. Sampai-sampai Jaein harus mendongakan kepala untuk berbicara dengannya.

“ Benarkah? A-aku tidak menyadari itu. “

Suho terkekeh kecil. “ Bagaimana kamu tidak mengenaliku orang setiap masuk kelas kamu langsung membuka buku dan membacanya. Bahkan jarang kamu berbicara dengan anak-anak yang ada di bagian belakang. “

“ Jadi, kamu duduk di belakang kelas? “

“ Iya. “

“ Baiklah, nanti aku akan berbicara dengan semua anak-anak di kelas! “

“ Kenapa harus nanti? Sekarang kamu lagi berbicara kok. “

“ Iya ya. Hahaha.. “, tawa Jaein.

Oke, sekarang jawaban Jaein terjawab sudah, kenapa wajah pria itu begitu familiar. Tapi itu saja masih belum cukup. Masih ada sesuatu yang lain.

“ Masuk ke kelas bareng yuk! “, ajak Suho sambil menarik tangan Jaein yang mungil. Hangat walaupun tangannya sangat mungil, batin Suho.

“ Kamu kerja di kedai kopi depan kampus? “, tanya Jaein.

“ Bukan kerja sih. Aku hanya membantu temanku. Dia lagi kekurangan pegawai. “, jelasnya.

“ Hmm, ngomong-ngomong kamu tahu namaku siapa? “, tanya Suho lagi.

Tentu saja Jaein belum tahu namanya. Sejak pertemuan mereka di depan kedai kopi itu saja Jaein hanya menyebutnya bibir merah yang manis.

Jaein terdiam sesaat. “ Ah, kamu belum tahu rupanya.”

Tersirat ekspresi murung di wajah Suho.

“ Kalau begitu kita mulai dari awal saja bagaimana? Namaku, Kim Jaein. Panggil saja Jaein. Aku paling suka berbicara tapi aku tidak suka kebisingan. “, ucap Jaein sambil membungkukkan kepalanya.

Suho tertawa melihat tingkah laku gadis yang mengalihkan perhatiannya dari segalanya itu.

“ Bagaimana bisa suka berbicara tapi nggak suka kebisingan, Jaein-ssi? “, Suho tidak bisa menahan tawanya.

“ Ayolah, sekarang giliranmu!”, rengek Jaein.

“Ehem. Namaku Kim Junmyun. Biasa dipanggil Junmyun oleh teman-temanku di kampus. Senang berkenalan denganmu, Kim Jaein..”

“ Haha, semoga kita bisa menjadi teman baik! “

“ Teman baik? Bisa lebih dari teman baik? “, goda Suho.

“ A-apa maksudmu, Junmyun-ssi? “, tanya Jaein sedikit gugup atas pernyataan Suho tadi.

“ Ah, tidak apa-apa. Oh iya, Jaein-ssi.. “

“ Kenapa? “

“ Jangan panggil aku Junmyun-ssi. Panggil aku Suho. “

“ Iya, Suho-ssi.. “

Second – Shoes

                “ KYUNGSOO-AH!! “ , teriak Suho dengan riang sambil masuk ke dalam kedai.

“ Jangan teriak-teriak di sini!! Kita bicarain di ruanganku saja!!! “  , Kyungsoo mendorong Suho menuju ruangannya.

“ Sekarang ada apa? “, tanya Kyungsoo.

“ Kyungsoo-ah..”

“ Apa? “

“ Akhirnya aku bisa berbicara dengan Jaein-ssi! Aku bahagia sekali! “

Saking bahagianya, Suho memeluk Kyungsoo dengan sangat erat sehingga membuat Kyungsoo sesak nafas. Bagaimanapun Kyungsoo memahami tingkah laku Suho yang seperti ini karena hal ini memang impiannya sejak pertama kali bertemu dengan Jaein. Suho adalah seorang yang pemalu jika sudah berhadapan langsung dengan wanita yang dia sukai. Hal ini sudah disadari Kyungsoo sejak mereka berada di masa sekolah dasar.

Air hujan itu membuat seluruh pakaian dan buku-bukunya basah kuyup. Dia terduduk dan termenung sambil berayun-ayun di ayunan taman. Rambut yang dikepang dua, poni depan yang dipotong rata, dan pipi yang merah merona. Dia memandang kedua kakinya yang ikut berayun-ayun.

“ Pakai sepatuku dulu. Ini… “, Suho kecil melepaskan sepatu sekolahnya. Dia melepaskan sepatunya walaupun dia harus menginjak tanah becek beralaskan kaus kaki saja.

Gadis kecil itu terlihat tidak mau menerima pemberiannya walaupun dia merasakan hawa dingin yang seperti es menusuk telapak kaki kirinya yang mungil. Dia mungkin tidak tega orang lain juga merasakan apa yang sekarang sedang dia rasakan. Sebelumnya sepatu gadis itu baik-baik saja. Namun setelah dia tersandung oleh batu, membuat lubang yang besar membekas pada sepatu sebelah kirinya.

“ Aku baik-baik aja kok. Pakailah.. “, Suho berlutut di depan gadis kecil itu, berniat akan memakaikan sepatu miliknya. Namun dengan segera gadis itu mengambil sepatu dan kembali memakaikannya ke kaki Suho kecil. Perbuatan gadis itu seolah membuat guratan manis dan lembut di hati Suho. Dia menyukai gadis yang tidak dikenalnya ini. Gadis ini begitu baik sekali.

“ Aku gendong sampai rumahmu saja ya.. “

Gadis kecil itu menganggukan kepalanya lalu naik ke bahu Suho.

“ Rumahmu sebelah mana? “

Gadis kecil itu hanya menunjukkan arah rumahnya dengan jari telujuknya yang mungil. Suho mengikuti apa yang ditunjuk gadis itu. Sampai di depan sebuah gerbang dari kayu, dia membunyikan lonceng kecil yang menggelantung di dekat nya. Selang beberapa menit keluarlah seorang wanita paruh baya yang sedang menggendong seorang bayi dengan wajah yang cemas.

“ Jane! Kamu kemana saja? “, ucap wanita paruh baya itu setelah melihat gadis kecil yang sedang digendong di bahu seorang anak laki-laki.

“ Ayo kalian masuk ke dalam. Hangatkan diri kalian dahulu. “, ajak wanita itu. Namun Suho menolaknya. Dia hanya ingin gadis kecil yang sedang ia gendong itu merasa lebih baik dari pada dia. Dia ingin terlihat seperti pahlawan bertopeng yang sering dibacanya di komik perpusatakaan.

Akhirnya Suho pergi setelah membiarkan gadis itu masuk kerumahnya tanpa berkenalan dengan gadis kecil itu. Jane –kata yang disebut wanita itu saat melihat gadis kecil yang dia gendong tadi. Mungkin sebuah kata dan pengalaman ini akan selalu membekas di memori Suho.

“ Jadi, apa kamu sudah mendapat nomor handphone-nya? “, tanya Kyungsoo.

“ Oh iya, aku lupa… “

“ Lha? Percuma saja kalau kamu sudah berbicara dengannya tapi belum mendapatkan nomor handphone-nya. Itu namanya bukan PDKT! “

“ Kalau begitu besok aku pasti akan mendapatkan nomor handphone dia!”, ucap Suho dengan rasa percaya dirinya. Dia begitu semangat sekali. Kyungsoo yang melihat semangat Suho terlihat tidak dapat menahan tawanya.

“ Kenapa kau tertawa? “, Suho mengernyitkan keningnya.

“ Kau semakin berubah saja. Aku tebak, pasti semua ini karena Hyunmi bukan? “, ucap Kyungsoo sambil meminum secangkir vanilla latte yang dari tadi ada di meja depannya.

“ Kau masih mengingatnya? “

“ Tentu saja! Walaupun aku bukan kakaknya, tapi aku lebih mengingatnya dari pada kakaknya sendiri! “

“ Apa karena kau menyukainya? “

“ Me-menyukai ap-apa? A-aku hanya menyayanginya sebagai seorang adik. “, jelas Kyungsoo dengan kalimat yang terbata-bata.

“ Aku yakin kau menyukainya lebih dari seorang adik. “

Mendengar pernyataan Suho, Kyungsoo terdiam sejenak.

“ Kau menyukainyakan? “

“ Iya. Tapi itu sudah berlalu bukan. Dia sudah mempunyai seorang kekasih. Bahkan sekarang dia pergi begitu saja. Sepertinya aku tidak ada gunanya sama sekali. “

Kyungsoo menundukkan kepalanya. Pikirannya seolah secara otomatis memutar kenangan-kenangannya dulu bersama Hyunmi.

“ Coba saja bukan karena anak brengsek itu. Adikku tidak akan mengalami hal pahit seperti ini! “, Suho tiba-tiba saja memukul meja kayu yang ada didepannya membuat dua buah cangkir menumpahkan sedikit vanilla latte di atas permukaan meja.

“ Sabar, Suho-ah. Kau harus merelakannya. Kau tahu, sehari sebelum dia pergi. Dia mengatakan suatu hal kepadaku. Jangan sakiti Kai walapun dia tiba-tiba saja pergi atau mengalami hal buruk. Kau mengerti maksudnya itu? “, jelas Kyungsoo dengan harapan meredakan emosi Suho.

“ Aku tahu perasaanmu sekarang. Aku juga merasakan rasa sedih kau rasakan. Tapi kau harus paham kemauannya. Kau harus mengerti keinginanya. Cobalah Suho… Kenapa kau dari dulu menentang hubungan mereka? Itu membuat Hyunmi merasa sedih… “, Suho mengela nafasnya.

“ Sekarang, apa kau merasa senang saat Hyunmi bersama Kai? Jelas tidak bukan? Kau merasa cemburu kan? Apa? Sekarang apa yang ingin kau katakan?? “

Suasana menjadi hening dalam beberapa saat sampai akhirnya handphone Suho berdering.

Itu ringtone pesan masuk.

                +xxxxxx0806

                Ini Suho bukan?

                 Aku Jaein.

                Apa boleh aku pinjam kertas yang diberikan profesor tadi siang?

 

“ Aku pergi dulu. “, ucap Suho lalu berdiri dari kursi.

“ Mau kemana? “, tanya Kyungsoo yang juga ikut berdiri.

“ A-aku ada urusan penting. “

“ Jaein? “

“ Tepat. Dia mengirimkanku sebuah pesan. Aku pergi. “

Suho segera berlalu dari hadapan Kyungsoo, meninggalkannya yang masih meratapi kenangan berharganya waktu dahulu. Kurang lebih setahun yang lalu.

Third – Murderer!

                “ Jaein-ssi! “, panggil seseorang dari kejauhan.

“ Oh, Suho-ssi. ”

“ Ini kertas yang kamu minta. “, Suho menyerahkan dua lembar kertas.

“ Maaf, aku tidak bermaksud menyusahkanmu. Sebenarnya aku sudah meminta temanku untuk meminjamkannya. Tapi kertasnya malah hilang. Maafkan aku.”, pinta Jaein sambil membungkukkan badannya berkali-kali. Entah mengapa, Suho sangat menyukai rambutnya yang tersibak saat dia membungkukkan badannya. Dia masih bisa membayangkan jika Jaein masih menguncir rambutnya kepang dua. Dia tidak banyak berubah.

“ Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan kok. Feel free aja kalau sama aku. “, sahut Suho.

“ Terima kasih. Hmm.. ngomong-ngomong bagaimana kamu bisa tahu letak rumahku? Padahal aku belum memberimu alamatku. Tapi kau langsung saja menutup telponmu. “, heran Jaein. Sebelumnya Suho memang menelpon-nya.

“Ah itu… aku tanya temanku. “

“ Temanmu siapa? “

“ Ah, itu tidak penting. A-aku…”

“ Noona! Kau kemanakan foto itu?!! “

Tiba-tiba saja terdengar teriakan seorang laki-laki dari dalam rumah Jaein. Membuat Suho ingin segera mengeceknya. Namun itu tidak jadi.

“ M-maaf Suho-ssi, sepertinya aku harus segera masuk rumah. Terima kasih telah mengantarkan dan meminjamkan kertas ini kepadaku. Tapi bagaimana denganmu? Padahal besok deadline tugasnya. “

“ Aku punya duplikat-nya di komputer. Jadi tenang saja. Aku pulang dulu ya! “, Suho segera berjalan menjauhi rumah Jaein. Tak lupa ia melambaikan tanganya. Jaein pun membalas lambaiannya.

“ Noona! Kembalikan foto itu! “, teriak seorang laki-laki diambang pintu utama rumah.

“ Lupakan dia, Jongin-ah. Kau hanya membuatku pusing saja! “

“ Noona tidak tahu apa-apa tentang dia! Cepat kembalikan! “, laki-laki itu menghampiri Jaein dengan raut wajah yang kesal. Sangat kesal.

“ Sudah ku buang. “, sahut Jaein. Membuat adik laki-lakinya itu semakin kesal dan geram.

“ Apa? Noon-a kau.. “ , geram Jongin yang hendak ingin menampar kakaknya.

“ Kau ingin menamparku? “, tangannya Kai hampir ingin mengenai pipi Jaein.

“ Kenapa berhenti? “, tangan Kai tetap melayang namun tidak bergerak sama sekali.

“ Cepat tampar! “

“ Apa kau tidak dengar? Tampar aku kalau kau sudah tidak waras! “

“ Kau yang menyebabkan semua itu! Kau penyebab kematian Hyunmi! Sadar Jongin-ah! “, Jaein menggoyang-goyangkan badan Kai.

“ Aku penyebab kematian Hyunmi? Benarkah itu noona? “, Jaein merasa kelakuan Kai semakin aneh.

“ Jadi Hyunmi mati karena aku? “, Jongin tertawa terbahak-bahak setelah mendengar pernyataan dari kakaknya. Jaein menjadi bingung. Kenapa Kai tertawa? Bukankah dia seharusnya merasa sedih dan menyesal atas perbuatannya?

“ Kau kenapa Jongin-ah? Badanmu panas. Ayo masuk ke kamar. Nanti malam kau tidak usah pulang ke apartemenmu. “, ucap Jaein yang mungkin tidak di dengar oleh Kai karena Kai masih terus saja tertawa seperti orang sedang mengalami gangguan jiwa. Apa maksudmu? Gangguan jiwa? Lebih baik jangan.

                Jaein. Kenapa kau membuat hatiku semakin berdebar-debar..

                Apakah kau menyadari bahwa hatiku tulus untukmu?

                Rasa sayangku terus mengalir seperti air mengali di sungai yang jernih..

                Hatiku masih sama seperti dulu, hanya kau yang ada di pikiranku saat ini..

                Apakah kau lupa waktu itu?

                Aku yang mengendongmu, apakah kau masih ingat?

 

Kalimat-kalimat itu terus saja mengusik pikirannya. Dia terus saja mengatakan kalimat-kalimat itu dalam hatinya. Namun semua itu susah sekali untuk dia keluarkan. Mulutnya seakan terkunci saat sedang berada di hadapannya.

                To: Kim Jaein

                Jaein-ssi, kau sedang apa?

 

Tanpa sadar Suho menyentuh layar LED handphonenya. Send.

                Pip pip pip

                From: Kim Jaein

                Sedang mengerjakan tugas. Ada apa?

 

Suho tidak percaya Jaein akan membalas pesannya. Suho pun membalasnya.

                To: Kim Jaein

                Tidak apa-apa. Besok kita berangkat ke kampus bareng yuk!

 

Send.

                Pip pip pip

 

                From: Kim Jaein

                Boleh. Aku tunggu di depan rumah ya..

                Hmm, kamu mengirimkanku pesan hanya untuk menanyakan hal ini?

Mereka saling berbagi cerita dari mereka waktu kecil hingga sekarang. Bahkan Jaein menceritakan bahwa orangtuanya tinggal di Indonesia sehingga Jaein hanya tinggal bersama adiknya di Korea. Namun karena dia dan adiknya sering bertengkar membuat adiknya harus tinggal di apartemen sedangkan Jaein di rumah orangtuanya yang berada di Seoul. Suho pun menceritakan bahwa dia juga mempunyai seorang adik namun sudah pergi untuk selamanya kurang lebih setahun yang lalu. Orangtuanya pun sudah pergi meninggalkannya lama sebelum adiknya pergi. Namun Suho belum memberitahukan nama adik perempuannya.

Lambat laun mereka semakin dekat. Lebih terbuka dari pada saat mereka pertama kali bertemu. Jaein yang terpesona sejak kejadian cappuchino panas itu mulai menyukai Suho lebih dalam. Sekarang Jaein sering mengunjungi kedai kopi milik temannya. Dia juga sudah akrab dengan temannya. Bahkan belum lama setelah Jaein mengakrabkan diri dengan temannya Suho, dia juga sudah mengakrabkan diri dengan kekasihnya teman adiknya Suho.

“ Kenapa kalian berdua tidak bersama saja? Aku bosan melihat kalian selama ini berjalan kesana kemari tanpa bergandengan tangan. “

“ Apa maksud berkataanmu, Oh Hanni? “, tanya Jaein sambil mengaduk kopi yang sebelumnya sudah dituangkan cream susu. Lalu berlahan mencicipi kopi cream susu tersebut.

“ Maksudku, kalian jadian saja! “

Pernyataan tersebut membuat Jaein tersedak minuman yang baru saja dia cicipi. Jaein berusaha memulihkan keadaan.

“ Aku dan dia hanya teman. Itu juga tidak lebih. “, Jaein kembali meyakinkan sosok manusia muda yang sekarang sedang duduk dihadapannya.

“ Apa kau tidak iri dengan kami berdua? Kalian lebih lama saling mengenal dari pada kami lho.. Ayolah buat kemajuan dari hubungan kalian.. “, godanya.

“ Akan ku pertimbangkan. Nanti. “, sahut Jaein yang kembali mencicipi secangkir kopi itu.

“ Nanti?“

“ Suho-ssi..”, panggil Jaein di sela-sela menuju ke kampus mereka. Berangkat dan pulang bersama menjadi hal kebiasaan mereka sekarang.

“ Apa kau tidak merasakan sesuatu saat berjalan denganku?”, tanya Jaein. Mukanya menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya.

“ Apa yang aku rasakan? “

“ Iya, apa yang kamu rasakan? “, Jaein ingin sekali terucap kata-kata yang diharapkannya melalui mulut Suho itu.
“ Senang, gembira. Apa lagi? “, jawab Suho lalu memalingkan perhatiannya ke Jaein yang sekarang sedang memperhatikannya.

“K-kau kenapa melihatku seperti itu?”, Suho terlihat gugup saat kedua mata mereka saling menatap satu sama lain. Sepertinya Jaein ingin membaca sesuatu yang ada di pikiran Suho.

“ Apa kau menyukaiku? “

Serentak denyut jantung Suho bertambah. Suho terlihat seperti membatu saat mendengar pertanyaan itu. Langkah jalannya terhenti. Badannya yang terus menghadap kearah Jaein. Matanya yang tetap terpaku pada kedua bola mata coklat yang indah itu. Apakah ini tanda Suho menyukai Jaein? Jelas sekali iya. Bahkan kau sudah mengetahuinya sejak awal. Sekarang, apakah Jaein juga mempunyai perasaan yang sama terhadap Suho?

“ Kalau aku menjawab iya, kenapa? “, Suho memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan itu walaupun dirinya sudah membeku-ku.

“ Jadi? “

“ Jadi kenapa?”

“ Jadi apa kau menyukaiku? “

“ Iya. “

“ Aku menyukaimu, bahkan mencintaimu. Lebih sebelum pertemuan kita di kedai waktu itu. “, lanjut Suho.

                Oh, bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan selanjutnya? , batin Jaein.

“ Apa kau mencintaiku apa adanya? “, tanya Jaein berhati-hati sekali.

“ Iya, aku mencintaimu. Aku ingin tahu apa kamu juga mencintaiku? “

“ Suho-ssi, apa benar kau sungguh mencintaiku apa adanya? Semuanya kau terima? Baik buruk yang ada dalam hidupku. Apa kau terima? “, Jaein tak tahan menahan air matanya. Air mata itu terus mengalir tanpa henti. Seolah hanya usapan jari Suho lah yang dapat menghentikannya.

“ Kau sebenarnya ada apa? Mengapa menanyakan hal itu tiba-tiba? “

“ Tidak apa-apa. Terima kasih karena kau telah mencintaiku. Aku pergi duluan. “

“ Jaein-ssi.. Ya! Jaein-ssi! “

Entah apa yang sedang membuat perasaan Jaein bimbang. Sepertinya ada satu hal yang Jaein ketahui dari kehidupan Suho yang membuat Jaein tak bisa menjawab pertanyaan Suho dan berlari menghindarinya.

“ Jaein-ssi, kau ada apa? “, tanya Suho saat mereka sudah tiba di kelas.

“ Aku tidak ada apa-apa. Bisa tolong pergi? Aku butuh konsentrasi penuh. “, ucapnya guna menghindari Suho.

“ Baiklah kalau maumu seperti ini. Nanti aku akan ke rumahmu. “

“ Tidak perlu. “

“ Aku akan tetap ke rumahmu!”

Hujan gerimis di sore hari. Membuat kemeja Suho sedikit basah terkena air hujan. Dia berjalan kaki menghampiri rumah Jaein. Terlihat dari luar sebuah mobil sedan hitam terparkir di halaman rumah. Sama seperti saat waktu pertama kali dia datang kerumah Jaein.

Suho mencoba untuk mengintip melalui sela-sela yang memungkinkannya untuk melihat dengan jelas ke dalam rumah. Suho melihat seorang laki-laki berkaos putih berjalan memeluk Jaein yang sedang menangis. Pikiran Suho sekarang mulai labil. Siapakan laki-laki itu? Kenapa dia memeluk Jaein seperti itu? Dan kenapa Jaein menangis? Tanpa sadar Suho membuka gerbang rumah Jaein dan mengetuk pintu rumahnya.

Terdengar suara ketukan pintu rumah Jaein. Jaein yang masih dalam pelukkan adiknya segera melepaskan pelukan itu dan mengusap air matanya. Ia berjalan menuju ruang tamu dan membuka pintu rumahnya.

Terlihatlah wajah yang sering dia lihat. Wajah itu pun juga dia lihat di kampus tadi. Tersadar bahwa orang itu adalah Suho, Jaein segera menutup pintunya kembali sebelum adiknya datang mengetahui siapa yang datang. Namun Suho kali ini berhasil menahan pintu rumah Jaein dan bersamaan dengan itu Suho melihat sosok laki-laki yang menjadi pertanyaan nya tadi. Kai.

“ Ka-kau itu pembunuh adikku!! Apa yang kau lakukan disini?!”, Suho berteriak dan segera menghampiri Kai dengan wajah yang shock.

“ Kau.. Gara-gara kau adikku satu-satunya pergi untuk selamanya!! Sekarang apa yang bisa kau perbuat dengan semua itu?? Sekarang kau ingin apa kan Jaein-ssi?? “, tangan Suho terasa geram. Ingin sekali dia menghujani laki-laki yang sedang berada di hadapannya ini hantaman yang sangat keras.

“ Suho-ssi , tenang dulu. Dia adikku. Adikku yang biasa aku ceritakan padamu… “, Jaein berusaha untuk memisahkan mereka agar tidak terjadi baku hantam yang seperti ada di drama-drama Korea yang biasa Jaein tonton waktu di Indonesia dulu.

“ Apa? Adikmu? Jadi anak brengsek ini adikmu?”, wajah Suho memucat setelah mendengar bahwa Kai, kekasih adiknya sekaligus orang yang menurutnya adalah penyebab dari kematian adiknya, adalah adik Kim Jaein, gadis kecil yang pernah dia gendong semasa mereka sekolah dasar.

“ Aku tahu dia memang brengsek. Tapi dia adikku! Aku menyayangi dia walaupun perilakunya memang sangat buruk!”

“ Jaein-ssi, aku mengerti sekarang. Kenapa kau menanyakan hal itu tadi pagi dan kau tidak mau menjawab pertanyaanku.. Jadi semua itu gara-gara anak brengsek ini lagi?” , emosi Suho benar-benar memuncak.

“ Suho-ssi, Kim Junmyun-ssi! Aku baru tahu kalau Kim Hyunmi adalah adikmu. Tapi kau sudah mengatakan kalau kau mencintaiku apa adanya. Aku hanya takut kalau kau akan berbuat sesuatu kepada adikku.. Dia juga adikku satu-satunya. Dan aku tidak mau kehilangannya. Kau sudah tahukan rasanya kehilangan anggota keluarga yang kau cintai? Sekarang cobalah untuk memaafkan kesalahan adikku dan cintailah aku apa adanya..”, isak Jaein.

Air matanya terus menerus mengalir di pipi-pipinya. Nafasnya pun yang tak teratur membuat Suho tak tahan untuk melihatnya. Dia memeluk Jaein dalam dekapannya. Menenangkan perasaan Jaein yang sedang terombang-ambing walaupun diri sendiri belum pulih sepenuhnya. Kai yang mendengar perkataan kakaknya barusan pun menundukan kepalanya. Air matanya pun yang mengalir tak terbendung. Dia tak tahan dan benar-benar menyesal atas perbuatan jahatnya selama Hyunmi masih hidup. Apa daya dia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya meratapi apa yang telah ia perbuat.

Air hujan diluar rumah masih terus berjatuhan membasahi permukaan tanah. Memberi kesegaran, kesejukkan di musim panas ini. Air mata yang terus menerus mengalir membasahi pipi-pipinya, walaupun penuh dengan kepedihan, namun dengan air mata dapat memberi pengampunan yang sangat berarti bagi beberapa orang yang masih menghargai pentingnya setetes air yang keluar dari mata seseorang yang mereka kasihi, cintai dan sayangi.

_____ END

Iklan

9 pemikiran pada “Gentle Rain

  1. Wahh seru, tapi masih bingung deh, emang Kai apain adik nya Suho? Dibunuh beneran?
    Ga diceritain flashback nya Kai, jadi masih ngegantung rasanya, hehehe

Tinggalkan Balasan ke @ditaseptianings Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s