New Life (Chapter 4)

TITTLE: NEW LIFE PART 4

CAST: Kim Jongin

Sehun

Kyungsoo

Baekhyun

Chanyeol

Junmyeon

Eun So (OC)

Bibi Nam (OC)

Genre: Family, Romance, Comedy.

Author: AAL. (@adlnayu / @y00nkai

Length: Chapter

Notes: pernah di post di Hazelwine.wordpress.com (blog pribadiku.)

Minggu lalu adalah ulang tahun ke dua puluh satu bagi Baekhyun. Ia mentraktir satu penghuni rumah di restoran yang berada tak jauh dari letak perumahan kami. Tujuannya, jika di restoran nanti Sehun melakukan ‘sesuatu’ yang aneh-aneh, kami bisa langsung pulang dengan cepat.

Awalnya, kami sama sekali tidak ingat bahwa hari itu adalah ulang tahunnya. Aku bahkan sama sekali tidak tahu. Chanyeol dan Kyungsoo hanya bisa saling melempar pandangan bingung saat Baekhyun menyuruh mereka menebak hari apakah ini. Namun, Sehun yang sedang bermain catur denganku tiba-tiba nyeletuk dengan santainya, “Hari sabtu tanggal 6 Mei 2012. Ulang tahu Baekhyun Hyung yang ke 21.”

Saat itu, serta merta Baekhyun langsung berlari dan memeluk Sehun erat. Pemuda itu langsung mengatakan pada semua orang bahwa ia hanya akan mentraktir Sehun saja karena hanya anak itu yang mengingat bahwa hari ini adalah ulang tahunnya.

Sehun memang sangat pintar dalam menghafal angka. Namun aku baru tahu juga bahwa ia mampu menghafal tanggal, jam, bahkan detik dari tiap kejadian. Ia bahkan mengingat saat pertama kali aku menginjakkan kaki di rumah ini. “17 Mei 2012. Hari Rabu, Jam 14.02. KST” saat mendengarnya berkata begitu dengan nada datarnya yang khas, aku hanya bisa mengerjapkan mataku antara kagum dan bingung.

Chanyeol dan Kyungsoo langsung kaget. Mereka berdua lalu dengan kompaknya berkata, “Ah, kami kan hanya pura-pura lupa untuk mengerjaimu Hyung. Yakan Jongin-ah?”

Aku hanya bisa mengangkat bahu karena memang tidak tahu apa-apa soal hari ini.

Saat sampai di restoran, Sehun langsung minta untuk di belikan bubble tea. Kyungsoo lalu melarangnya. Ia bilang Sehun hanya boleh minum air putih, orange juice, dan susu saja.

Aku yang mendengarnya entah kenapa merasa terusik. Apa salahnya kalau ia ingin minum bubble tea? Gak akan mati juga kan. Karena itu aku langsung membuat kesepakatan dengannya.

Bila Sehun bisa menyebutkan semua pesanan kami tanpa kesalahan, itu berarti ia berhak mendapatkan segelas bubble tea rasa cokelat yang ia idam-idamkan itu.

Awalnya Sehun bisa menyebutkan semua pesanan kami tanpa kesalahan. Ia bahkan mengingat harga, komposisi makanan, dan menyebutkannya sesuai urutan yang ada di buku menu. Namun, semuanya berubah saat ia menyebutkan minuman pesenannya bibi Nam.

Dengan lantang, anak itu langsung berteriak, “ES JERUK PANAS!”

Lantas saja satu meja langsung tertawa terbahak-bahak. Mana ada es jeruk yang panas? Anak ini ada-ada saja.

Hyung, apa kau punya buku yang berhubungan tentang teknik menggambar?” Tanyaku pada Kyungsoo yang sedang membuat kopi di dapur.

Sepertinya belakangan ini wajah Kyungsoo terlihat sangat letih. Lingkaran hitam terlihat di bawah kedua matanya yang bulat. Mungkin tugas kuliahnya yang seabrek banyaknya memaksa ia untuk terjaga semalaman. Wajahnya jadi terlihat setahun lebih tua daripada umurnya.

Kyungsoo mengangkat wajahnya dari cangkir yang mengepul, “Coba kau cari saja di perpustakaan. Mungkin ibu punya.”

“Oke. Terimakasih Hyung.”

***

Sejak seminggu yang lalu, aku sudah menjadi salah satu mahasiswa di universitas yang sama dengan Kyungsoo. Namun kami tidak bisa sering bertemu seperti apa yang aku perkirakan, karena Kyungsoo mengambil jurusan bisnis sedangkan aku arsitektur.

Dosen menyuruhku untuk memperdalam pengetahuanku tentang teknik menggambar. Walaupun aku bisa, beliau bilang masih banyak kesalahan-kesalahan yang kerap aku lakukan, jadi tidak ada salahnya untuk belajar dari dasarnya lagi.

Aku melangkahkan kedua kakiku untuk memasuki perpustakaan mungil dengan ratusan buku yang menyesaki rak-rak kayu ini. walaupun tidak begitu besar kalian dapat menemukan buku dengan berbagai genre di perpustakaan ini. hukum, ekonomi, agama, pengetahuan dasar, bahkan komik-komik lama seperti dragon ball dari seri satu sampai tamatpun ada. Entah siapa yang membacanya.

“Buku arsitektur… Buku arsitektur…..” Aku menulusuri setiap rak sambil menyentuh pinggiran buku-buku bersampul tebal ini dengan jemariku. “Ini dia! O, apa itu?”

Aku sedikit kaget saat menarik salah satu buku arsitektur bersampul cokelat yang super tebal namun buku disampingnya pun ikut terjatuh.

Sepertinya buku yang terjatuh itu adalah sebuah file folder. Dan saat terjatuh, kertas-kertas yang ada di dalamnya pun ikut berserakan.

Aku menaruh buku arsitektur itu diatas meja baca lalu mulai memunguti kertas-kertas itu. Kelihatannya kertas ini sudah berumur. Terlihat dari warnanya yang sudah menguning dan pinggirannya yang terlipat-lipat. Tulisan yang tertera disini ditulis dengan tinta biru yang sudah mulai berubah warna menjadi keunguan.

“Apa ini? Foto Embrio?” Aku menarik salah satu kertas berwarna hitam yang terselip di halaman terakhir folder, “Embrio siapa ini? Sehun? Atau Kyungsoo H-Hyung…. A-Astaga.”

Hampir saja aku menjatuhkan folder itu saat membaca tulisan yang berada di pojok foto , “Kim…. Jongin?”

~NEW LIFE~

Aku meninggalkan buku teknik menggambar itu di meja perpustakaan. Sekarang bukan waktunya untuk belajar menggambar. Folder itu benar-benar mengusik pikiranku seutuhnya. Bagaimana bisa ada foto embrioku disana?

Aku langsung menumpahkan kertas-kertas yang ada di dalam folder itu diatas kasur setelah sebelumnya mengecek apakah pintu kamarku sudah terkunci. Aku tidak mau jika seseorang masuk lalu memergokiku sedang mengacak-acak salah satu barang di rumah ini. Walaupun aku ini keluarga, tetap saja aku masih menyandang gelar ‘orang baru yang tidak tahu apa-apa’.

Jantungku berdegup lebih cepat saat kutemukan foto masa kecilku yang masih bayi. Disusul oleh foto-foto ku saat umur satu tahun, dua tahun, dan selanjutnya. Namun foto itu berhenti saat umur lima tahun.

Dibelakang foto masa kecilku yang berusia lima tahun, terdapat tulisan ‘Junmyeon-ah, mungkin aku sudah tidak kuat lagi menjaganya. Tubuhku semakin hari semakin rapuh. Bisakah kau menjemputnya sekarang?

I-ini… Tulisan ibu!

Aku mengerjapkan kedua mataku. Mengapa ibu mengirimkan fotoku ke rumah ini? Junmyeon? Jadi selama ini, ibu masih berhubungan dengan pria itu?

Otakku mulai menyambungkan dengan apa yang kutemukan di folder ini. Ibu mengirimkan surat-surat bersama fotoku di dalamnya. Itu berarti selama lima tahun pertama kami tinggal di Seoul, ia selalu memberikan kabar pertumbuhanku kepada Junmyeon. Itu berarti pria itu tau ibu ada dimana. Tapi…kenapa Junmyeon tidak pernah mengunjunginya? Apa Junmyeon membalas semua surat yang dikirim oleh ibu?

Aku kembali mengacak-acak kertas di dalam folder itu, dan kembali menemukan kertas dengan tulisan ibu di dalamnya,

Junmyeon-ah, terimakasih banyak karena kau selalu mengirimkan kami uang. Tapi, tolong hentikan. Aku bisa mencari uang sendiri. Uang yang kau kirimkan malah membuat hatiku sakit. Aku tahu kau tidak bisa datang menjenguk, tapi sekali saja. Biarkan Jongin menatap wajah ayahnya.’

Hatiku rasanya seperti disulut api saat membaca surat terakhir dari ibu. Tanganku yang menggenggam kertas ini bergetar. Kurasakan gigi ku bergemeletuk dan jantungku berdebar keras menahan amarah.

Sebenarnya, apa yang ada dipikiran Junmyeon? Apa ia berfikir kalau dengan memberikan uang maka masalah sudah selesai? Apa ia tidak pernah memikirkan perasaan ibuku? Lalu aku? Ia anggap aku ini apa? Hanya anak haram? Kalau begitu, untuk apa aku dilahirkan?

Aku mengepalkan tanganku. Seenaknya saja ia meninggalkan ibu, lalu dengan tanpa rasa bersalah ia menyuruh anaknya untuk menjemputku, dan membuatku tinggal disini. Ia pikir itu bisa menyelesaikan masalah? Sekarang semua sudah terlambat. Ibu sudah tidak ada. Ia sudah meninggal. Tidak ada yang perlu diperbaikti. Tidak ada gunanya aku ada disini.

Aku langsung melompat turun dari kasur. Berjalan keluar kamar lalu meniti tangga dengan cepat untuk turun.

Hyung, mau kemana?”

Aku yang sedang mengenakan sepatu sama sekali tidak menoleh saat Sehun menepuk pundakku. Kutepis tangannya kasar. Lalu menatapnya dengan pandangan paling tajam yang pernah kuberikan, “Bukan urusanmu. Dan jangan pernah lagi panggil aku Hyung.”

Aku membuka pintu utama. Berlari keluar dan tidak menoleh lagi.

~NEW LIFE~

Kim Jongin kau benar-benar bodoh.

Seharusnya kalau mau kabur dari rumah itu harus membawa persiapan. Sedangkan kau malah lupa membawa dompet. Uang yang kau punya hanya dua lembar sepuluh ribu won yang terselip di kantung celana jins yang kau pakai.

Aku mendudukan diriku pada bangku taman yang terdapat di samping perpustakaan kota. Menatap anak-anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran dengan teman sebayanya. Melihat pemandangan seperti ini aku jadi rindu dengan teman-temanku di Panti. Apa lebih baik aku kembali kesana? Namun mana bisa aku membeli tiket pesawat dengan uang dua puluh ribu won?

Aku mengacak-acak rambutku frustasi, “Masa iya aku harus kembali ke rumah itu? Mau taruh dimana muka ku?”

“Taruh saja di bokongmu itu.”

Aku menoleh kebelakang, dan menemukan Eun So sedang berdiri dibelakangku dengan seulas senyum. “K…Kau?”

Gadis itu langsung mendudukan diri disebelahku. Ia mengenakan sweater warna broken white yang kebesaran di tubuh kurusnya. Rambutnya yang terkepang dua membuatku dapat melihat wajahnya dengan lebih jelas. Butiran keringat jatuh dari pelipisnya. Apakah ia berlari kesini untuk mengejarku?, “Apa yang kau lakukan disini?”

“Bagaimana kau tahu aku disini?” Aku membalas pertanyaannya dengan pertanyaan.

“Selain kampus dan taman ini, tidak ada lagi tempat yang kau tahu di Seoul kan?” Ia mengangkat bahu dengan gaya santainya yang khas, “Lalu, sedang apa kau disini?”

Entah kenapa aku merasa malu. Kutundukan wajahku agar tidak beradu dengan matanya. “Bukan urusanmu.”

Gadis itu tertawa kecil. “Tuan muda Sehun mengkhawatirkanmu loh.”

“Sehun? Dia? Kenapa?”

Eun So mengangguk, “Kau tidak pernah sekalipun melihatnya khawatir akan seseorang kan?”

Aku menggeleng polos. Selama ini Sehun hanya khawatir akan mainannya dan koleksi tutup-tutup botol yang entah sudah berapa jumlahnya. Melihat anak itu yang menghawatirkan orang lain sama saja dengan mengharapkan salju turun di Jakarta. Sesuatu yang sangat tidak mungkin.

“Ia menggambar wajahmu hampir di setiap sudut tembok. Di bawahnya ia tulis, ‘Hyung hilang. Terakhir kulihat ia berjalan ke arah utara'”

“Be-benarkah?” Aku mengerjap kaget.

“Tentu. Ayo, coba saja kau lihat jika tidak percaya.”

“Aku tidak mau.” Kataku cepat, “Aku tidak mau kembali ke rumah itu.”

“Kenapa?”

“Sudah kubilang bukan urusanmu.”

Sepertinya gadis ini sadar dengan moodku yang sedang jelek. Jadi ia lebih memilih tidak menanggapi dan diam saja. Merasakan angin sore menerpa wajahnya sambil sesekali menghembuskan nafas pelan.

“Tuan Junmyeon…..”

“Aku tidak mau mendengar apapun tentangnya.” Potongku cepat. Mendengar nama pria itu disebut membuatku kembali mengepalkan tangan kesal.

“Siapa bilang ini tentang beliau?” Eun So menatapku jenaka, “Ini tentangku. Aku hanya ingin bercerita tentang kejadian menarik yang pernah kualami. Kau tidak mau dengar?”

Sejujurnya aku mau. Aku ingin lebih banyak mengetahui sesuatu tentang gadis yang menurutku misterius ini. Bahkan hal-hal ringan seperti Makanan kesukaannya, Hobi, kebiasaannya. Aku ingin tahu semua. Tapi selama ini yang keluar dari bibirnya hanya tentang Bibi Nam, keluarga Kim, Jurusan musik yang ia ambil, Sehun begini dan Sehun begitu.

“Kau mau dengar?” Tanya nya lagi.

Aku meneguk salivaku. Masih belum berani untuk menatapnya, “Bo-boleh jika itu tentangmu.”

Gadis itu tertawa lagi. Mungkin geli melihat ekspresi wajahku yang kelewat bodoh. “Sebenarnya aku ini bukan keponakan Bibi Nam. Aku hanya-”

“H-Hahh?!” Kini aku benar-benar menoleh padanya, “Jadi selama ini kau bohong?!”

Ia menepuk pundakku kesal, “Aku belum selesai bicara tahu! Dan, aku bukan pembohong.”

Aku langsung mengatupkan bibirku lagi. Sepertinya perkataanku tadi telah menyinggungnya. Terlihat dari wajah gadis itu yang tiba-tiba tertunduk dan tangannya yang terkepal tiba-tiba bergetar.

“Aku bukan pembohong…. Bukan.”

“E-Eun So-ya?”

“Aku tidak seperti ayahku. Aku bukan pembohong.”

“E-Eun So…..” Gadis itu mulai mengeluarkan sebutir air mata. Kontan, aku langsung disergap rasa panik dan mengelus-ngelus pundaknya, “M-Maaf… Aku salah bicara. Lupakan saja apa yang kukatakan tadi.”

Eun So menggelengkan kepala. Ia menghirup udara sebanyak mungkin lalu menghembuskannya keras-keras. Setelah dirasa sudah agak lega, ia mulai bicara. “Ayahku….. ia membuangku.”

“Apa?! Bagaimana bisa?” aku tidak pernah mendengar ada orang tua yang tega membuang anaknya sendiri. Kecuali dalam kasus seorang Junmyeon. Kalau orang itu sih, sudah jelas-jelas ia membuangku.

“Saat itu…aku berumur lima tahun. Ayah membawaku ke sebuah stasiun. Ia bilang akan pergi sebentar dan menyuruhku untuk menunggunya di tempat penitipan anak. Tapi….setelah itu ia tidak pernah muncul dihadapanku lagi.”

“tapi itu kan bukan berarti ia membuangmu. Bisa saja terjadi sebuah kejadian yang membuat dia….”

“Lupa?” Eun So memotong kalimatku, “Apa ada orang tua yang meninggalkan anaknya sendiri hanya karena lupa?”

Merasa tidak menemukan jawaban yang pas, akhirnya aku hanya bisa menggeleng.

“Saat itu aku tidak tahu harus melakukan apa selain menangis keras. Sampai seorang pria tiba-tiba datang menghampiriku.” Eun So mendongakan kepalanya menatap langit yang berubah jingga, “Pria itu bertanya mengapa aku menangis, dan saat mendengar jawabanku, ia berkata ‘semua akan baik-baik saja, jadi jangan menangis’”

“Apakah saat itu kau tidak berfikir kalau pria itu adalah orang jahat? Bisa saja dia penculik.” Aku berkata sangsi.

“Jika kau melihat matanya, kau tidak akan berfikir seperti itu Jongin-ah.” Daripada merasa tersinggung gadis ini malah berkata lembut, “pria itu memiliki mata paling indah yang pernah kulihat. Misterius dan menenangkan dalam waktu yang bersamaan.”

Rasanya aku bisa menebak siapakah sebenarnya pria itu. Namun kedua telinga ini seakan tertutup dan mulutku terkatup. Organ tubuhku seperti tidak ingin mengakuinya.

“Sepertinya pria itu kasihan padaku. Jadi, ia memutuskan untuk membawaku pulang ke rumahnya.”

“Dan pria itu adalah…..?”

“Tuan Junmyeon.” Katanya tanpa menatapku, “Semenjak itu ia mengambilku untuk menjadi bagian dari keluarganya.” Eun So tersenyum sambil terus mengamati anak-anak yang sedang bermain ayunan, “Dia tidak bertanya tentang asal-asalku. Baginya, yang penting aku sudah bahagia menjadi anggota keluarganya, itu sudah cukup.”

Aku tersenyum kecut. Junmyeon bisa mengangkat Eun So yang bukan siapa-siapa menjadi anggota keluarganya. Tapi mengapa aku yang sebagai anak biologisnya ini tidak? Mengapa ia tidak memperjuangkan aku? Mengapa aku menjadi pilihan yang ditinggalkannya?

“Tuan Junmyeon… pasti punya rencana dibalik semua ini Jongin-ah.” Eun So menoleh padaku, lalu menepuk pundakku lembut, “Mengapa ia tidak mengangkatmu sejak awal…. Itu pasti ada alasannya.”

“itu sudah tidak ada gunanya Eun So-ya.” Jawabku cepat, “Ia sudah tiada. Tidak ada lagi yang bisa dijelaskan. Dan Ibu ku pasti juga sangat sedih atas perlakuannya yang sama sekali tidak menganggapku. Lagipula…”

“Apa menurutmu sekarang, ibumu dan Tuan Junmyeon sedang berbahagia?”

“Eh?”

Eun So menatapku dengan matanya yang terbingkai oleh kaca mata, “Aku yakin. Ibumu dan Tuan Junmyeon sedang berbahagia disana.” Gadis itu mendongak menghadap langit sore, “Kalau mereka bisa bahagia, mengapa kamu tidak?

Berhenti menyalahkan orang lain. Percayalah padaku, beliau pasti punya alasan dibalik semua ini. Yang harus kau lakukan sekarang adalah…. Memaafkannya.”

Maaf?

“Buat apa kamu hidup dengan menumpuk rasa dendam kepada orang yang sudah tiada? Itu tidak akan membuat dirimu bahagia Jongin-ah.” Eun So menyelipkan rambutku yang acak-acakan karena frustasi kebelakang telinga, “Maafkan lah dia. Maafkan masa lalumu. Lihatlah ke depan. Ikhlaskan semua yang telah terjadi, dan syukuri apa yang kamu punya sekarang.”

“Yang aku….punya sekarang?”

Eun So mengangguk mantap sambil tersenyum manis. Ia menunjuk dadaku dengan telunjuknya, “Keluarga mu.”

Kata-kata yang diucapkan oleh Eun So seperti suara dentingan bel gereja di telingaku. Jemariku yang terkepal langsung bergetar hebat. Entah kenapa aku merasa kedua mataku memanas dan akhirnya air mata turun satu-satu dari bola mataku. Eun So yang melihat itu langsung menarikku dan memelukku ke dalam dekapannya. Ia menepuk pundakku. Satu dua kali tepuk. Lalu berkata, “Kamu… tidak sendirian di dunia ini Jongin-ah. Kamu punya aku. Kamu punya kami. Kita keluarga. Tidak akan ada yang meninggalkanmu sendiri. Aku janji.”

“Mulai hari ini kami tidak akan membiarkanmu merasa kesepian. Kamu berhak bahagia. Dan kami disini tidak akan pernah membiarkan dirimu merasa sedih. Karena aku-kami, sangat menyayangimu.”

Tangisanku pun semakin pecah. Aku menggigit bibir bawahku sendiri dengan keras. Perlahan, kedua tanganku mulai mendaki lalu merengkuh pundaknya. Aku membalas pelukannya erat. Suara sesenggukan mulai terdengar dari bibirku namun aku tak peduli itu. ada perasaan yang menyusup dan membuat rongga dadaku hangat. pundak ini seperti ringan dan tidak menanggung beban yang berat lagi. Aku merasa….bebas. lega. Dan bersyukur.

Mungkin ini yang dinamakan kenikmatan dari memaafkan. Aku tidak mungkin bisa melupakan masa laluku. Tetapi walaupun begitu, masa lalu ada bukan untuk diingat. Gadis ini telah mengajarkan padaku arti dari keikhlasan. Dan ternyata, itu jauh lebih indah dari pada yang kukira.

Hidup terlalu singkat bila dihabiskan untuk sebuah rasa benci yang tak berujung. Mulai detik ini aku berjanji untuk berhenti menuntut pada Junmyeon. Tidak ada orang tua yang tega membuang anaknya sendiri, begitu juga ia. Junmyeon pasti punya alasan. Dan ia pasti berharap yang terbaik untukku. Anaknya.

Perlahan Eun So melonggarkan pelukannya lalu mengaca-acak rambutku layaknya seorang kakak, “Apa kau sudah sadar bahwa perbuatanmu yang kabur dari rumah ini sungguh kekanak-kanakan?”

Dapat kurasakan kedua pipiku memanas karena malu. Namun aku tidak bisa menahan diriku untuk tergelak, “yup! Terimakasih karena telah menyadarkanku, Eun So noona.”

Eun So menggembungkan pipinya sebal lalu memukul lenganku “Ya! Sudah kukatakan sebutan itu hanya akan membuatku terlihat tua!”

Aku tergelak lagi. Seakan membuat tangis dan sengguk tadi tak pernah terjadi, “hahahaha. Mianhae.”

Walaupun kesal Eun So tetap tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Gadis itu bangkit berdiri dan merentangkan lengannya. Ia menatapku dengan kedua matanya yang berbingkai kacamata lalu mengulurkan tangannya, “Jadi… kita pulang sekarang?”

Aku tersenyum manis lalu menyambut uluran tangannya namun sebelum sempat aku menyentuh telapak tangannya tiba-tiba gadis itu malah berlari kencang seraya berteriak, “Yang terlambat sampai rumah, harus mencuci semua piring di dapur!”

Aku terdiam untuk sepersekian detik sambil mengerjapkan mata bingung. Setelah sadar aku pun langsung berlari untuk menyusulnya sambil tergelak.

Anak-anak kecil yang sedang bermain di taman pun menatap kami dengan aneh seperti sepasang manusia yang memiliki masa kecil yang kurang bahagia. Namun kami tidak peduli. Angin sore yang hangat meniup rambutku, ditambah dengan berlari seperti ini aku merasakan perasaan lega yang sesungguhnya. Aku merasa bebas.

Eun So berada lima meter di depanku sambil terus berlari. Sesekali ia menoleh ke belakang lalu menertawaiku yang tidak bisa menyusulnya. Namun tiba-tiba….

“EUN SO-YA!”

Eun So yang terlalu sering menengok kebelakang tidak sadar bahwa sekarang ia sedang berlari di tengah jalan. Mobil sedan putih berada sepuluh meter dari jarak ia sedang berdiri dan bisa saja menghantam tubuhnya jika ia tidak meninggalkan tempatnya berdiri sekarang.

Lalu aku tidak begitu ingat dengan apa yang terjadi selanjutnya. Yang kutahu, tubuhku bergerak lebih cepat sebelum otakku sempat memberi perintah. Secepat kilat aku berlari kearah Eun So lalu mendorong tubuhnya kuat-kuat agar menyingkir dari tengah jalan. Namun aku lupa bahwa sedan itu masih melaju dengan kecepatan tinggi, dan…..

Terdengar suara decitan yang memekakkan telinga. Lalu, segalanya menjadi gelap

-TBC-

Iklan

50 pemikiran pada “New Life (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s