Protect My Dear (Chapter 5)

Author: chan0628 (@yeoja0628)
Genre:  sad story, romance
Length :  Multi Chapter
Main Cast :  Park Chanyeol, Kim Miyeon, Byun Baekhyun
Summary : “apakah kau kembali untukku?”

 _______________________________________________

Baekhyun POV (at miyeon house)

Aku duduk di pinggiran tempat tidur. Mataku terasa panas dan tubuhku terasa lemas. Ada kesedihan di lubuk hatiku yang tak mampu ku ungkapkan, sebuah penyesalan besar akan kelakuanku padanya beberapa waktu terakhir ini. Aku masih tidak bisa  percaya, orang yang teramat sangat aku cintai pergi dengan cara seperti ini. Aku bahkan masih Kuraih kotak yang diberikan miyeon kemarin malam. Malam terakhir aku melihatnya, mendengar suaranya, juga senyumnya yang manis. Aku meraih sebuah syal merah di dalamnya.

‘Aku suka oppa memakai syall merah. Oppa terlihat sangat tampan’ aku masih dapat mengingat dengan jelas kata-katanya saat itu. Saat kami berjalan ditengah hujan salju dan kedinginan. Menghabiskan semangkuk besar ramen panas bersama-sama.

AKu memeluk syall itu. Syall yang dia buat sendiri. Ya, aku tahu itu. Meskipun ia terus menghindariku ketika merajut syall ini. Diam-diam aku telah mengetahuinya. Aku selalu menunggu kapan dia akan memberikannya padaku, namun ketika chanyeol datang aku ragu jika syall itu benar-benar dibuatnya untukku. Dan sekarang syall merah hati itu sudah ada ditanganku… sebagai hadiah perpisahan.

Aku melangkah keluar kamarnya, menuju ruang tengah. Sekelebat bayangannya terlihat oleh mataku  sedang berdiri menatap keluar jendela, biasanya aku akan memeluknya dari belakang, namun sepertinya sekarang aku tidak dapat melakukannya lagi. Aku menangis, sedih, tidak terima, kecewa, kenapa aku harus kehilangan dia? Kenapa? Seharusnya dia membiarkanku mati saja. Aku yang lebih pantas mati kan?

Kringkring….

Suara lonceng kecil berdenting ketika pintu rumah terbuka. Aku menoleh, siapa yang datang? Apakah itu chanyeol? aku menoleh ke arah jendela itu lagi, membiarkan bayangannya menghempas ke otakku lalu berjalan pelan menuju ke ruang tamu.

“ah…”. Ujar seseorang sambil meletakkan sesuatu di lantai. Aku mengambil paying di belakang pintu rumah. Mengangkatnya dan mengambil ancang-ancang. Orang itu berjalan menuju dapur dan mungkin tidak mengetahui keberadaanku karena ia sama sekali tidak menoleh. Jas panjang selutut dengan topi hitam. Aku mulai geram melihatnya kini membuka almari es dan mengeluarkan soft drink lalu meneguknya.

Orang itu bahkan sangat lancang  merobek kotak sereal dan menuangkan isinya ke dalam mangkuk. Ia menarik kursi lalu mendudukinya. Aku hanya bisa bersembunyi dibalik dinding dengan mengenggam erat paying besar di tanganku, menunggu saatnya tiba. Aku akan memukulnya lalu menendangnya keluar rumah miyeon. tidak ada yang boleh memasuki rumah ini seenak jidat (?) mereka sendiri!

“kau!!!! Siapa kau?”. Namja itu menegakkan tubuhnya ketika aku melabraknya dari belakang. Ia mengangkat kedua tangannya lalu bangkit dari kursinya masih dalam posisi membelakangiku.  Aku melangkah dengan hati-hati, berjaga-jaga jika ada gerakkan berarti darinya.

“katakan siapa kau? Kenapa kau masuk rumah ini? Dasar lancang!!!”. Teriakku lagi.

“mian… mianhae”. Katanya pelan. Kenapa sepertinya aku mengenali suara ini? Aku perlahan mendekatinya masih dengan tangan menjunjung sebahu payung yang kupegang, “balik badanmu!!!”. Ia membalik badannya perlahan.

Aku melompat ke belakang tanpa sadar payung yang kupegangi tadi sudah terjatuh ke lantai. “mi….yeon”. aku menyerukan namanya. Ia Nampak sedikit bingung lalu sebuah senyum terukir di wajahnya. “aku pasti berhalusinasi”. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, tidak percaya dengan apa yang ditangkap oleh mataku.

“oppa…kau ada disini?”.

“kenapa kau memanggilku oppa? Apa benar kau.. kim miyeon?”. miyeon mengangguk.  Aku melompat maju lalu menariknya ke dalam pelukanku. “miyeon-ah…. miyeon-ah,,, Jangan pernah meninggalkanku lagi”. Isakku masih memeluknya.

“aku ada disini… aku tidak mati”. Aku melepaskan pelukanku lalu mengatupkan kedua tanganku ke pipinya. “kau benar-benar miyeon.. aku tidak ingin terbangun lagi, ini mimpi yang sangat indah bisa bertemu denganmu lagi”. Miyeon menunjukkan ekspresi bingung. “mimpi?”. Aku mengangguk. Tentu saja, miyeon sudah meninggal. Mana mungkin ini adalah kenyataan?

“oppa, cakkamaneo..”. miyeon mendorong pelan tubuhku ke belakang lalu mengeryitkan alisnya. “mimpi apa? Ini dunia nyata, kau tidak sedang bermimpi.. aku….kim…mi…yeon.. kau ingat aku kan?”.

Aku melotot, lalu jemariku mencubit lengan kananku,… sakit… benarkah aku tidak bermimpi, lalu dia… miyeon benar-benar masih hidup?

 

***

“aku hampir gila hari ini”. Ujarku frustasi. Entah aku sedang berbicara dengan siapa, aku sedikit tidak percaya bahwa dia benar-benar miyeon, atau mungkin aku sudah mulai gila karena tidak bisa merelakan dia pergi.

“nan… kim.. mi.. yeon”. Ujarnya lagi, entah sudah keberapa kali. Aku hanya menatapnya aneh, jelas-jelas tadi aku melihat namanya masuk dalam daftar korban dan dipastikan tidak ada yang selamat. Tapi sekarang aku melihatnya disini, duduk dihadapanku.

“tidak ada yang tahu password rumah ini kecuali kau, aku dan chanyeol”. Ujarku pelan, aku masih menatapnya. Wajahnya mulus, tak ada luka sedikitpun. Ia tampak sehat dan bersikap seperti biasanya.

“lalu kenapa oppa masih bersikap seperti ini padaku? Aku ini masih kekasihmu”. Ujarnya dengan wajah kesal. Aku mendengus diiringi dengan sebuah senyum. “aku hanya bingung”.

“bingung kenapa?”.

“aku bingung, harus percaya pada siapa, jelas-jelas namamu tertera di daftar korban kecelakaan pesawat di haneda, tapi kau disini benar-benar terlihat baik”.

Miyeon mengangkat bahu, “aku memang ke jepang, tapi sekarang aku sudah disini kan?”. ia menyuguhkan senyumnya lagi. Aku mendengus frustasi. Aku mengeluarkan ponselku lalu memencet beberapa tombol.

“chan”.

“mmm”.

“bisakah kau ke rumah miyeon sekarang, ini masalah miyeon, cepat”.

Aku menekan tombol bericon warna merah di sudut kanan bawah ponselku. Aku memalingkan wajahku kembali menatapnya.

Beberapa saat kemudian dentingan lonceng itu kembali terdengar, tapak kaki terburu-buru melanjutkan bunyi itu.

“apa yang kau ketahui hyung? apakah mereka telah menemukan jasad miyeon? apa sudah ketemu? Dia masih bisa dikenali kan?”. chanyeol menyerbuku dengan berbagai pertanyaan ketika ia kini sudah berdiri di sampingku sementara aku hanya bisa duduk diam mendongak menatap wajahnya yang terlihat jauh di atas.

“duduklah”. Chanyeol menurut lalu duduk di sampingku. Aku menujuk ke arah depan. “miyeon…”. kataku pelan lalu menatapnya dengan tersenyum. Miyeon membalas dengan senyum yang tak kalah manis.

“iya hyung.. miyeon…apa ada info baru??”. Chanyeol mengelak, aku mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya keras, membuat tubuhku lebih merendah.

“miyeon… dia pulang…jadi kita tidak perlu mencari info apa-apa lagi”.

“miyeon? mana?”. Chanyeol mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat di ruangan ini. “mana hyung? dimana dia??”.  Chanyeol mengguncang-guncang tubuhku seperti tidak sabar mendengar jawabanku. Aku menoleh cepat menatapnya. “dihadapanku,,, miyeon!!”. chanyeol langsung mengikuti tangan kananku yang sedari tadi menunjuk ke depan.

“kau sudah gila”.

“gila apa? Miyeon katakan sesuatu padanya. Chanyeol mungkin masih sedikit shock”.

Chanyeol menampar wajahku hingga aku tersungkur ke sisi kiri. Spontan tanganku langsung memegang pipiku yang terasa sakit.

“kau menyuruhku datang kesini hanya untuk mendengarmu membual? Huh? Kau tidak berharga!!!!”. Chanyeol bangkit lalu berjalan pergi. Jelas-jelas aku mendengar miyeon memanggil nama chanyeol sesaat setelah aku memintanya, namun chanyeol mengabaikannya begitu saja. Apa dia lupa wajah miyeon seperti apa?

“oppa… kau baik-baik saja?”. Aku mengangguk saat tangan miyeon membantuku untuk kembali duduk. Fikiranku masih berputa-putar.

“kenapa chanyeol mengabaikanmu?”.

“aku tidak tahu, aku menyapanya kok, kau dengar kan oppa tadi”. Aku sedikit mengerutkan keningku tak percaya. Aku kembali menatap miyeon, ada kebingungan juga di raut wajahnya.

“ada apa sebenarnya?”.

 

***

“apa kau lelah?”. Miyeon menggeleng, “aku tidak lelah kok”.

“ini sudah malam, istirahtalah”. Kataku sedikit memaksa. Miyeon mengangguk. Aku menaikkan selimutnya hingga sebatas dada, lalu mendaratkan kecupan manis di dahinya.

“oppa”. Panggilnya manja. “kau menginap disini kan? jangan pulang ya”.

Aku mengangguk sambil menyuguhkan senyumku. “oppa juga harus istirahat ya, oppa melewati banyak kesulitan hari ini”.

Aku mengangguk lagi lalu berjalan meninggalkannya, mematikan lampu dan menutup pintu.

Aku duduk termenung di sofa panjang di depan televisi,  duduk bersandar tanda pandangan yang fokus. Fikiranku melayang pada berbagai insiden hari ini. Mulai dari ketika aku dan chanyeol bertengkar tadi pagi, kejadian di bandara, namanya di daftar nama korban, sampai chanyeol yang mengabaikan miyeon. entah sengaja atau tidak yang ia lakukan tadi, tapi itu cukup membuatku sedikit takut.

Aku mendengar dengan jelas miyeon menyapanya, tapi chanyeol mengabaikannya begitu saja. Sedangkan dia justru bertanya tentang jasad miyeon. apa dia tidak sedang tidak sadar? Bahkan kata-katanya bisa menyakiti perasaan miyeon.

Aku menghembuskan nafas panjang lalu menyandarkan kepalaku, dan menatap langit-langit ruangan.

 

***

Proses evakuasi berjalan lancar…. Satu persatu korban ditemukan….

“oppa”. Miyeon menepuk kedua bahuku, aku yang terkejut spontan menjatuhkan remote yang kupegang dan menoleh ke arahnya. Miyeon hanya tersenyum puas melihatku. Ia berjalan dan kemudian duduk di sampingku.

“melihat apa?”. Tanyanya manja. Aku membungkuk mengambil remote lalu menoleh ke arahnya setelah itu.

“hanya siaran berita”.

“ooohhh…”. Miyeon menunjuk televisi di hadapan kami, matanya sedikit terbelalak namun ekspresinya tidak menunjukkan sebuah kekhawatiran atau sebagainya. Dia justru memperlihatkan ekspresi cute yang kurasa sangat lama aku tidak melihat itu.

Aku mengikuti arah tangannya, video tentang kebakaran pesawat di haneda airport kemarin pagi. “itu kan pesawat yang aku tumpangi kemarin”. Aku menoleh cepat ketika telingaku mendengar sebuah kalimat yang aneh yang baru saja ia ucapkan.

“pesawat itu? Kau yakin?”. Miyeon menganguk-angguk santai sambil menurunkan tangannya. “aku yakin”.

Fikiranku semakin berputar, jika miyeon menaiki pesawat itu dan pesawat itu meledak saat mendarat di haneda, mana mungkin ada waktu baginya untuk keluar menyelamatkan diri. Bahkan meskipun ia melompat keluar seharusnya ada bekas luka di tubuhnya.

Aku buru-buru mematikan televisi itu setelah menangkap sebuah tulisan di sudut bawah kanan televisi. Miyeon sedikit terkejut karena saat ini ia tengah serius mendengar dan melihat rekaman kejadian itu.

“sebaiknya kita makan, aku lapar”. Kataku berusaha mencairkan suasana, miyeon mengangguk lalu berdiri. Tangan kanannya menggandeng tanganku. Sedikit dingin.

 

Iklan

14 pemikiran pada “Protect My Dear (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s