The Last Target (Chapter 4)

Title : The Last Target

Nama author : milkchocholate

Genre : Romance

Length : 4 of 4 (ending)

Main cast : Oh Sehun, Shin Hyera

Other cast : Exo members, Shin Hyera’s friends

 

Author note :

Annyeong~~ 😀

Ia tau.. lama updatenya.. hehe.. mian yorobun~~ huhu

Jadi inilah last chapter, maaf kalo ga memuaskan endingnya, TTATT

Admin-nim, gomawo lagi udah publish ya… ^^

Dan kalo aku keliatan jarang bales komen, mian bgt, aku selalu semua baca komennya dan itu bikin aku terharu dan semangat buat nerusin ff ini.. beneran lho aku baca satu2.. hehe.. gomawo ya… 😀 😀

Jadi kita akhiri aja ff sinetron ini disini ya.. sebelum tambah ngalor ngidul, ngaco, geje, dll~~ TTATT

 

Enjoy!!! ^^

Mungkin aku memang bersalah, menodai begitu banyak cinta yang datang padaku

Mungkin aku memang bodoh, menyakiti mereka yang tulus menyayangiku

Tapi setelah semua kesalahan dan kebodohan itu, aku tau kau akan datang, dan menjadi yang terakhir untukku

The Last Target

 

“Sehun-ah..”

 

“hmm..”

 

“Sehun-ah..”

 

“Ini bukan hari latihan dan aku tidak ada kuliah hari ini, jadi biarkan aku tidur lebih-”

 

“Tapi kau ada janji denganku..”

 

Sehun seketika membuka matanya dan langsung terkaget melihat wajah Hyera sudah terpampang jelas di hadapannya. Hyera yang tengah duduk bersila tepat di samping tubuh Sehun hanya tersenyum manis.

 

“Selamat pagi..” Hyera mendekatkan wajahnya ke hadapan wajah Sehun, merapikan rambut Sehun yang berantakan sambil tak henti-hentinya tertawa melihat wajah Sehun yang masih saja terlihat shock.

 

“Bagaimana kau-“

 

“Cepat bangun..” Hyera menarik-narik selimut yang menutup tubuh Sehun membuat Sehun mau tak mau bangkit dari posisi tidurnya. Hyera pun mendorong Sehun menuju kamar mandi agar pria itu segera membersihkan diri. “Sehun-ah ppali..”

 

“Aku bahkan baru membuka mataku dan kau langsung menyuruhku mandi?”

 

“Anak pintar tidak boleh malas-malasan..”

 

“Memangnya siapa yang mengajariku malas-malasan?”

 

Hyera hanya tertawa mendengar perkataan Sehun itu. Siapa lagi? Sudah pasti dirinyalah yang membuat Sehun seperti itu. Hyera yang bosan lalu mulai mencari kesibukan, menggeledah beberapa laci di kamar itu dan menemukan kamera digital berwarna putih yang kebanyakan isinya adalah foto Sehun dan beberapa teman-temannya. Ada Sehun bersama seorang pria yang lebih pendek darinya, wajah pria itu kecil dan tatapan matanya benar-benar menggambarkan kepolosan, membuat siapapun yang melihatnya akan merasa ingin melindunginya. Ada juga Sehun bersama teman-temannya yang lain yang ia yakin kesemuanya adalah para dancer street itu.

 

“Kau sedang apa?” tiba-tiba Sehun keluar, lengkap dengan pakaian kasual-sederhana-nyaman khasnya.

 

“Ayo kita foto!” Hyera tiba-tiba menarik Sehun dan mengarahkan kamera di tangannya itu untuk mengambil gambar mereka berdua.

 

“Aish..  kenapa ekspresimu datar begini? Kau bahkan tak melihat kamera.. Ayo kita ulang!!” Hyera mengarahkan lagi kamera ke arah mereka berdua dan menarik nafas pasrah setelah melihat hasilnya.

 

“Bagaimana kau bisa tersenyum saat berfoto dengan teman-temanmu tapi malah seperti patung begini saat bersamaku???”

 

“Itu-“

 

“Kita ulang sampai kau membuat ekpresi yang bagus, eo?”

 

Flashback end

 

***

 

Pernyataan cinta spontan Hyera waktu itu masih saja terekam jelas di ingatan Sehun. Bersatu bersama semua kenangannya tentang gadis itu. Kenangan? Ya.. semua sudah berakhir kan? Jadi gadis itu hanya berakhir sebagai kenangan manis saja untuknya. Tidak lebih. Tapi ia tidak pernah menganggap Hyera sebagai gadis yang sudah menyakitinya atau apapun yang dikatakan teman-temannya tentang gadis itu. Karena sejak awal ia sudah tau apa yang akan terjadi kalau ia berani masuk ke dalam lingkaran yang dibuat gadis itu untuk mereka berdua. Lingkaran yang kini masih saja mengikatnya. Membuatnya tak pernah bisa beranjak sedikit pun dari sisi gadis itu. Bagaimanapun, ia sudah berjanji akan terus menjaga gadis itu. Apapun yang terjadi.

 

Pernyataan cinta itu, menjadi sebuah tanda tanya besar untuknya sekarang. Apa sebenarnya yang sedang gadis itu lakukan? Membuatnya semakin terikat pada gadis itu? Untuk apa? Ia sudah mendapatkan pria yang setara dengannya. Ia bahkan tak membutuhkannya lagi sekarang. Jadi kenapa Shin Hyera malah berbicara seperti itu??

 

***

 

Jadi seperti ini? Rasa sesak saat sosok itu benar-benar menghilang dari jangkauan mata dan menghiraukan perkataan yang akhirnya terucapkan setelah mati-matian menahannya selama ini? Jadi hanya seperti ini saja akhir dari kisah Shin Hyera yang benar-benar jatuh cinta untuk pertama kalinya? Hanya berakhir dengan terduduk di atas ranjang dan menatap kosong pintu yang tertutup itu? Tapi bukannya menyerah, aku lebih ingin melihat senyuman pria itu lagi untukku. Untuk terakhir kalinya? Tak apa. Aku hanya ingin pria itu tau, bahwa ia benar-benar berharga untukku. Juga, kalau mesin waktu di film-film fantasi itu benar-benar ada, aku akan menjadi yang pertama memakainya untuk kembali padanya.

 

***

 

“Kalian bodoh atau apa? Hanya untuk menjaganya saja kalian gagal?”

 

“Maafkan kami..”

 

“Aku sudah membayar mahal untuk pekerjaan mudah seperti itu..”

 

“Gadis itu sudah hampir pingsan kelelahan, jadi kami pikir ia tak akan bisa kabur..”

 

“Tentu saja ia tak bisa kabur sendiri, pasti ada seseorang yang menolongnya..”

 

“Tapi tuan-“

 

“Cari tau siapa orang yang menolongnya itu..”

 

“Baik tuan..”

 

“Dapatkan lagi gadis itu, kalau perlu singkirkan saja penolongnya itu kalau menganggu..”

 

***

 

President University, 3.00 pm

 

Kelas sudah berakhir. Seorang pria tengah berjalan di koridor sepi saat tiba-tiba dua orang gadis keluar dari kelas sambil mengobrol. Mau tak mau pria itu harus mendengarkan pembicaraan kedua gadis itu karena suara mereka yang tidak bisa dibilang pelan. Ia lalu tersenyum samar saat mengetahui topik pembicaraan dua gadis tersebut.

 

“Kau tau saat Hyera diculik yang menolongnya siapa?”

 

“Memangnya kau tau?”

 

“Tentu saja, beritanya kan sudah menyebar ke seluruh kampus, kau saja yang tidak up-to-date..”

 

“Arra arra.. cepat katakan siapa..”

 

“Siapa lagi? Sudah pasti Oh Sehun..”

 

“Bukannya Hyera sudah meninggalkannya?”

 

“Tapi Sehun kan masih terus mengejarnya..”

 

“Kasian sekali Sehun, masih saja belum sadar kalau ia hanya jadi salah satu korban Hyera saja..”

 

“Aku juga kasian padanya, padahal ia kan pintar dan sangat pendiam..”

 

Pria itu berbelok dan masuk ke dalam lift, ia lalu merogoh ponselnya dan menelpon seseorang.

 

***

 

Yonsang-gu, 5.00 pm

 

“Lepaskan!! Aku tak mengenal kalian!! Kubilang lepas!!”

 

“Kau benar-benar tak mengenal kami? Baru saja beberapa hari yang lalu kita bertemu kau sudah lupa pada kami nona??”

 

“Kalian-“

 

“Kau benar, ternyata kau masih mengenali kami nona cantik..”

 

Para penculik itu masih saja tertawa senang sementara Hyera sudah ketakutan dan panik. Ia bahkan hampir saja pingsan saat para penculik itu membekap mulutnya dan menyeretnya keluar dari mobil saat ia baru saja tiba di tempat spa langganannya dan teman-temannya di daerah yonsang-gu. Kini ia berada di dalam mobil para penculik itu, dengan seluruh tubuh terikat, mulut tertutup, serta para penculik lengkap dengan senjata di balik pakaian-pakaian hitam mereka yang duduk di sisi kiri dan kanannya, membuatnya hanya bisa menelan teriakannya untuk meminta tolong.

 

***

 

Sinsa-dong, Gangnam, Seoul, 10.00 pm

 

Dua belas pria itu beraksi lagi. Kini di kawasan Gangnam, daerah yang dipenuhi berbagai macam restoran. Orang-orang sudah mulai berkumpul bahkan saat para pria itu belum terlihat, baru musiknya saja yang terdengar dari van putih yang terparkir di depan restoran Gae Hwa Oak, pihak yang menghubungi mereka beberapa minggu lalu untuk tampil di depan restoran mereka bertepatan dengan hari jadi restoran mereka yang ke tiga tahun. Lama-kelamaan musik bertambah kencang, bersamaan dengan berkumpulnya para pria itu di tengah kerumunan orang, tepat di depan restoran Gae Hwa Oak itu. Orang-orang bersorak riuh saat mereka memulainya dengan menari berputar mengelilingi lingkaran yang tak sengaja dibuat orang-orang itu. Dan saat lagu berganti, mereka siap untuk aksinya.

 

***

 

“Aku pergi dulu..” Sehun buru-buru berlari menuju kerumunan orang-orang yang akan menyebrang, hanya dalam sekejap sosoknya sudah tak terlihat, tenggelam dalam lautan manusia disana. Para pria itu, yang kebanyakan masih mengatur nafasnya setelah tampil dengan sangat mengagumkan barusan, hanya terbengong melihat Sehun yang masih bisa berlari sekencang itu padahal mereka saja kelelahan luar biasa.

 

“Oh Sehun… sebenarnya mau kemana anak itu?” Suho terlihat sangat khawatir, hal seperti ini memang sangat jarang dilakukan Sehun. Yang lain hanya menggelengkan kepala, sama sekali tidak mempunyai petunjuk apapun mengenai kepergian Sehun yang sangat mendadak.

 

“Apa ini ada hubungannya dengan gadis itu?” Luhan tiba-tiba bersuara, membuat semua tatapan mengarah padanya dengan tatapan benar-juga-aku-bahkan-tak-berfikir-kesana.

 

“Anak itu, sepertinya benar-benar jatuh cinta..”

 

***

 

Sehun masih saja berlari, menghiraukan rasa lelahnya setelah tadi tampil bersama sebelas hyungnya. Bahkan tenggorokannya perih karena tidak adanya cairan yang masuk ke tubuhnya selama berjam-jam. Tapi Sehun, masih saja tak berhenti berlari, terus memacu kaki lelahnya menuju tempat yang ditunjuk seseorang untuk ia datangi. Ia melirik sekilas ponselnya dan tak menemukan apapun disana. Hanya sebuah pesan singkat yang masih terpampang jelas disana. Ia menyesal kenapa tak membuka pesan itu dari beberapa jam lalu, saat pesan itu datang. Ia sudah terlambat.

 

***

 

Gangnam, 11.40 pm

 

“Apa kau tidak lelah, terus-terusan membantahku? Kau bahkan tak memakan makan malammu, nona..”

 

“Kenapa kalian melakukan ini padaku?”

 

Pria itu menatap Hyera dingin, jenis tatapan yang akan membuat siapapun langsung mundur untuk berhadapan dengannya. Pria itu, Kang Jaesu, menaruh gelas wine di tangannya lalu bangkit dari duduknya, berjalan santai menuju Hyera yang terduduk lemah di single sofa merah tua dengan tangan terikat di belakang tubuhnya. Ia berjongkok di hadapan Hyera, berbeda dengan tadi, kini ia menatap Hyera dengan tatapan hangat dan penuh senyum.

 

“Kau tidak tau apa kesalahanmu?”

 

Kang Jaesu tiba-tiba tertawa, lalu dengan gerakan cepat menarik kasar rambut Hyera sampai kepalanya tertarik ke belakang. Hyera hanya bisa menahan jeritannya karena ketakutan.

 

“Kau benar-benar tidak tau apa kesalahanmu?”

 

“Aku bahkan tidak tau siapa kalian..”

 

Salah satu dari tiga pria berpakaian hitam itu mendekat, menyerahkan tab milik Jaesu.

 

“Kau memang tidak mengenal kami..” Jaesu tersenyum sinis lalu memperlihatkan sebuah gambar dari tabnya pada Hyera. “Tapi orang ini, kau pasti-”

 

“Kang Jaesang?”

 

***

 

Flashback

 

President University, 3.00 pm

 

“Ini minumannya..” seorang gadis menyerahkan empat cup ice coffe kepada Hyera, Jin ah, Yoomi, dan Hani yang tengah bersantai di taman kampus yang sejuk. Ia lalu duduk di samping Hani. Tapi baru saja Jaesang mendaratkan tubuhnya di atas kursi, seorang gadis yang sejak tadi hanya diam ikut bersuara.

 

“Keripik kentangku mana?” Hyera menatap Jaesang dengan kening berkerut.

 

“Bukannya tadi hanya pesan minuman?” heran Jaesang, seingatnya tadi, Hyera dan yang lainnya hanya memesan minuman, tanpa keripik kentang yang tadi Hyera sebutkan. Hyera semakin menunjukan wajah herannya pada Jaesang, membuat Jaesang merasa bersalah dan buru-buru pergi lagi ke kantin untuk membeli pesanan Hyera barusan.

 

“Memangnya kapan kau memesan keripik kentang padanya??” tanya Yoomi di balik kaca riasnya. Hyera tersenyum kecil sebelum menjawab.

 

“Baru saja. Gadis itu saja yang bodoh, mau-maunya kukerjai..”

 

Keempat gadis pun itu hanya tertawa mendengar perkataan Hyera.

 

***

 

“Apa aku sudah bisa menjadi bagian dari kalian?”

 

Hyera, Yoomi, Jin ah, dan Hani tengah bersantai di ruangan spa yang terdapat di rumah Yoomi. Mereka melirik Jaesang yang tengah duduk di ujung ruangan. Hanya duduk diam tanpa melakukan hal yang sama seperti keempat gadis itu.

 

“Apa maksudmu?” Yoomi bersuara.

 

“Selama ini aku sudah menuruti semua perintah kalian, mengikuti kalian kemanapun, bahkan menjadi pesuruh kalian..”

 

“Lalu apa? Kau mau imbalan? Mau bayaran?”

 

“Aniyo.. maksudku-“

 

“Kang Jaesang, kau pikir kau siapa bicara seperti itu pada kami hah? Menjadi pesuruh kami pun kau masih kurang layak..”

 

Flashback end

 

***

 

Shin Hyera masih terduduk lemah di lantai. Kepalanya tertunduk dalam, air matanya tak terhentikan, isakannya bahkan semakin kencang. Tangannya sudah tak terikat tapi ia seperti tak punya tenaga lagi untuk kabur. Hanya diam dengan air mata yang mengucur deras.

 

“Aku benar-benar minta maaf..”

 

“Terlambat.”

 

“Aku tidak tau kalau-“

 

“Kau memang tidak pernah tau.” bentak Jaesu dari kursinya ke arah Hyera. “Kau. Dan teman-temanmu. Hanya sekumpulan gadis yang hanya tau bagaimana bermain dan menghabiskan uang orang tua kalian. Kalian tidak tau bagaimana adikku berjuang mati-matian untuk bisa kuliah disana agar bisa bersama kalian. Kalian mengikatnya, menjadikannya budak kalian tapi tak pernah meliriknya sama sekali. Setelah menghancurkannya kalian membuangnya begitu saja. Ia terlalu terobsesi untuk bisa setara denganmu tapi kau-“

 

“Aku minta maaf..”

 

Kang Jaesu mendengus geli mendengar perkataan Hyera. Ia tersenyum sinis menanggapi perkataan Hyera barusan.

 

“Kalau gadis bodoh itu ada disini ia pasti akan langsung memaafkanmu tanpa perlu penjelasan apapun.”

 

***

 

Kang Jaesang. Gadis yang terobsesi untuk bisa seperti Hyera dan teman-temannya yang ia selalu ia puja karena penampilan mereka. Jaesang berubah dari gadis biasa yang bahkan tak pernah memakai make up menjadi gadis yang selalu memperhatikan penampilannya. Membeli berbagai macam alat make up, vitamin kecantikan, bahkan obat diet. Baju-baju dalam lemarinya ia ganti dengan baju bermerek yang mahal khas Hyera dan teman-temannya. Orangtua dan keluarganya sudah tak bisa memperingatkannya. Gadis itu sudah terlalu jauh dengan obsesinya. Ia bahkan rela dijadikan budak yang selalu disuruh-suruh Hyera dan teman-temannya. Setelah perjuangan yang cukup lama. Berfikir apakah pertanyaan itu sudah pantas ia tanyakan pada calon teman-temannya itu. Tapi yang ia dapat malah cacian, hinaan, dan berbagai perkataan pedas lain untuknya. Jaesang cepat meralat perkataannya dengan mengatakan ia akan terus bersama Hyera dan teman-temannya dengan status apapun. Tapi terlambat, Hyera mengusirnya dan mengatakan mereka sudah tak membutuhkannya lagi. Jaesang tak punya pilihan. Ia keluar dari ruangan itu dengan tatapan terluka, kecewa, dan air mata yang sudah mengucur deras.

 

***

 

Gangnam, 01.30 am

 

“Kau tau bagaimana siang itu ia menghabisi nyawanya sendiri setelah kalian membuangnya seperti sampah tak berguna?”

 

Hyera semakin tertunduk, mencoba menghentikan tangisannya sendiri tapi tetap gagal. Rasa bersalah dalam hatinya seakan menggerogoti seluruh tubuhnya secara perlahan. Ia tak berani menatap pria itu. Kakak laki-laki Jaesang, orang pertama yang menemukan Jaesang terbaring di lantai kamarnya dengan botol racun disampingnya.

 

“Hari ini, adalah seratus hari sejak gadis bodoh itu bunuh diri. Sejak aku menemukannya dengan mulut berbusa di lantai. Ia bahkan sudah tak bernafas lagi tapi aku seperti orang gila membawanya ke rumah sakit. Mencoba segala hal yang bisa menyelamatkannya tapi terlambat. Aku terlambat.” Jaesu mendekati Hyera, berjongkok dihadapannya yang terduduk lemah di lantai. Hyera memejamkan matanya saat tiba-tiba Jaesu menempelkan sebuah pistol ke lehernya.

 

“Harusnya saat ini kau sudah tidak ada karena peluru di dalam pistol ini,” Jaesu semakin menekankan pistolnya ke arah leher Hyera. “Tapi karena waktu itu malaikat penyelamatmu datang tepat waktu, kau bisa selamat. Tapi sekarang…”

 

Jaesu menarik pelatuknya perlahan, Hyera menahan nafas. Sudah tak tau apa yang harus dilakukannya sekarang. Mencoba mengelak dan kabur tentu bukan keputusan yang baik untuk saat ini.

 

“Shin Hyera!!”

 

Bunyi tembakan terdengar jelas di telinga Hyera tapi ia tak merasakan apa-apa. Tak ada sakit atau rasa apapun saat tubuh kita tertembak. Hyera membuka matanya dan menemukan sofa dibelakangnya sudah hancur. Ia lalu menemukan sosok Sehun di depan pintu. Tengah menatapnya dengan wajah panik dan khawatir. Ia tidak ingin berharap tapi ia seakan melihat ekspresi melindungi dari mata pria itu, tatapan yang sudah lama tak ia dapat lagi dari pria itu. Sejenak ia lupa bahwa saat ini di depannya tengah ada sebuah pistol yang kapan saja bisa menembaknya. Jaesu menyeringai lalu berbalik menghadap Sehun.

 

“Kau lama sekali, jam berapa aku mengirimu pesan hah? Hampir saja kau membiarkannya mati sendirian..”

 

Hyera masih mencerna situasi dengan mata yang terbelalak kaget saat secara tiba-tiba ketiga pria yang menculik Hyera tadi memukuli Sehun dan mendorongnya hingga tersungkur di lantai tepat di samping Hyera. Sehun bahkan tak punya waktu untuk bereaksi dan melawan. Ia hanya sempat menghindar sebelum akhirnya harus pasrah dipukuli oleh tiga orang bersenjata itu. Jaesu menatap Hyera yang masih menatapnya dengan pandangan tak terima. Ia sudah pasrah akan dibunuh, tapi tidak dengan Sehun. Pria itu bahkan tak atau apa yang terjadi.

 

“Apa? Kau pikir aku akan membiarkannya hidup setelah ia menyelamatkanmu waktu itu? Pria ini pintar, ia bisa saja melaporkan ketiga anak buahku dan berakhir dengan menangkapku. Jadi aku harus menyingkirkannya juga. Kau mengerti?”

 

***

 

“Kalian manis sekali.” Komentar Jaesu saat melihat Hyera dan Sehun yang saling memeriksa keadaan masing-masing. Ia kembali berjongkok dihadapan Hyera dan Sehun, lagi-lagi menempelkan pistol di tangannya ke leher Hyera. Tapi anehnya wajah Sehun masih terlihat tenang. Ia membalas genggaman tangan Hyera yang bergetar ketakutan. “Tapi bagaimanapun, aku harus melakukan ini, karena gadis sepertimu hanya akan menyulitkan orang-orang disekitarmu saja..” Hampir saja Jaesu menembakkan pistolnya saat ada bunyi pistol lain dari luar ruangan itu. Ketiga anak buah Jaesu itu langsung mengunci pintu dan menyiapkan pistol mereka masing-masing. Jaesu menatap Sehun dengan seringaian.

 

“Sudah kuduga kau memang pintar..” pistol yang berada di leher Hyera secara tiba-tiba sudah mengeluarkan isinya tepat ke arah perut Sehun tanpa sempat pria itu menghindar. Membuat Hyera menjerit ketakutan dan seketika menangis.

 

Pintu itu berhasil didobrak dan polisi langsung memenuhi ruangan itu. Jaesu bergerak menjauh dengan menyeret Hyera bersamanya. Ketiga anak buah Jaesu sudah tertangkap, hal yang mudah dilakukan karena personil polisi disana yang sangat banyak. Jaesu kembali menatap Sehun yang masih sadar namun tak dapat melakukan apapun karena keadaannya yang sudah menghawatirkan. Jaketnya sudah lengket oleh darahnya sendiri sementara nafasnya sudah tak beraturan. Ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak pingsan untuk tau bagaimana keadaan Hyera. Hanya itu yang dapat dilakukannya untuk saat ini.

 

“Kalian menembakku, dan aku akan menembak gadis ini. Bagaimana??” Jaesu kini mengarahkan pistolnya tepat ke arah kepala Hyera. Para polisi itu tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tak mungkin membiarkan Hyera tertembak. “Biarkan aku dan gadis ini menyelesaikan urusan kami berdua. Kalau ada yang bergerak lagi, aku tak bisa menjamin keselamatan mereka berdua..”

 

Sementara Jaesu dan para polisi itu tengah berdebat, Sehun secara perlahan mengambil pistol milik salah satu anak buah Jaesu yang tergeletak tak jauh dari tempatnya. Tubuhnya sudah tak bisa merasakan apa-apa tapi ia terus berusaha menggapai pistol itu.

 

“Kau benar-benar mengganggu..” Jaesu meringis saat kakinya ditembak oleh Sehun. Ia mengerang kesakitan, membuat pegangannya pada Hyera merenggang dan saat itu Hyera bergerak, dengan gerakan cepat melepaskan diri dari Jaesu dan mengambil pistol milik Jaesu dari tangannya. Dengan tangan gemetar Hyera mengarahkan pistol di tangannya ke arah Jaesu.

 

“Turunkan pistol kalian. Aku hanya berurusan dengan gadis ini sekarang..”

 

***

 

“Sisa peluru dalam pistol itu hanya satu. Jadi pikirkan baik-baik sebelum kau menembak nona..” bukannya menjadi ragu, Hyera justru semakin memantapkan diri untuk menembak Jaesu.

 

“Kau benar-benar akan menembakku nona?”

 

“Setelah semua yang kau lakukan pada adikku, sekarang kau melakukan ini padaku?”

 

Raut wajah Hyera berubah, ia menurunkan pistolnya. Perasaan bersalah itu datang lagi, bahkan kini Hyera seakan tak sanggup lagi memegang pistol di tangannya itu.

 

“Tembak ia Hyera tembak!!” Sehun berteriak pada Hyera. Ia heran kenapa Hyera berubah lemah lagi padahal tadi ia hampir saja menembakkan pistolnya itu pada Jaesu. Hyera menatap Sehun dengan wajah sendu. Ia menggeleng pelan.

 

“Aku tidak tau apa masalahmu dengan pria itu, tapi kumohon tembak ia sekarang..”

 

“Aku tidak bisa..”

 

“Kenapa? Kau bisa melakukannya. Tembak ia dan semua ini akan selesai.” Sehun terlihat frustasi di tempatnya. Ia menembakkan lagi pistolnya tapi tak ada yang keluar. Jaesu menyeringai melihatnya.

 

“Kau sudah tidak punya senjata lagi tuan, jadi diam dan liat saja, eo?”

 

Hyera menatap Sehun, lagi-lagi menggeleng dengan wajah pasrah dan penuh rasa bersalah.

 

“Gadis cantik sepertimu tidak cocok dengan benda seperti itu, jadi turunkan pistol itu sekarang..”

 

Hyera, yang kini sudah kalut akan rasa bersalah menuruti semua perintah Jaesu dengan mudahnya. Ia meletakkan pistol itu di lantai. Jaesu menyeringai melihatnya.

 

“Anak pintar.. Ayo lihat kemari sekarang.”

 

Semua terjadi begitu cepat. Saat Hyera menatap Jaesu, pria itu tengah mengeluarkan pistolnya yang lain dari balik bajunya. Dengan cepat mengarahkannya ke arah Hyera dan menarik pelatuknya tanpa basa-basi lagi. Matanya sempat melihat sekilas bagaimana peluru itu keluar dari benda di tangan Jaesu saat tubuhnya terdorong sesuatu lalu terjatuh ke lantai bersamaan dengan seseorang menimpa tubuhnya. Lalu berbagai bunyi tembakan pun terdengar.

 

***

 

Asan Medical Center, Songpa, Seoul, 8.00 am

 

Seorang gadis dengan baju pasien berwarna biru masuk ke dalam sebuah ruang rawat inap VVIP di samping ruangannya. Ia duduk di kursi di samping ranjang lalu termenung menatap objek di hadapannya. Seorang pria berperawakan tinggi, kulit seputih susu dengan garis wajah sempurna. Pria itu masih tidur, mungkin terlalu lelah setelah semalam mendapat kunjungan dari teman-teman dancer streetnya itu.

 

Hyera masih asyik dengan lamunannya tentang pria itu saat tiba-tiba objek di lamunannya itu bergerak. Perlahan membuka matanya dan sedikit terkesiap kaget melihat seorang gadis tengah berjalan keluar dari kamar rawatnya itu.

 

“Mengendap-endap masuk ke ruang rawat orang lain tanpa izin itu dilarang Hyera-ya..”

 

Langkah Hyera berhenti tepat beberapa langkah sebelum pintu. Ia tak berani berbalik dan menatap Sehun. Sejak kejadian itu sampai sekarang mereka belum saling bicara karena keadaan Sehun yang kritis. Sekarang setelah semua membaik, Hyera tak tau harus bersikap bagaimana di hadapan Sehun.

 

“Kalau ingin menjenguk lakukan dengan benar nona..” tepat setelah kata-kata Sehun barusan Hyera berbalik, berjalan perlahan mendekati ranjang Sehun dengan kepala tertunduk. Sehun sendiri tengah berusaha mengangkat tubuhnya sendiri agar bisa duduk dan bersender ke kepala ranjang.

 

“Gomawo.. lagi-lagi kau menyelamatkanku..”

 

“Lalu? Ada lagi yang ingin kau katakan?” Hyera mengangkat kepalanya, ingin melihat dengan wajah seperti apa pria itu berbicara sedingin itu lagi padanya. Raut wajahnya tenang, bahkan terkesan datar. Seakan penyelematan Hyera waktu itu tak berarti apa-apa untuk pria itu.

 

“Kau masih belum memaafkanku?”

 

Sehun tak menjawab. Ia malah menuangkan air putih dalam botol di meja samping ranjangnya ke dalam sebuah gelas. Sedikit menyeruputnya lalu kembali menatap Hyera.

 

“Aish.. kau benar-benar Oh Sehun.. apa aku benar-benar harus mengemis untuk mendapatkan maafmu, begitu?”

 

“Kau masih sakit?” tiba-tiba Sehun bertanya pada Hyera. Membuat Hyera heran sendiri.

 

“Aku hanya memar-memar dan cidera, dokter bilang lusa sudah boleh pulang..” Sehun menganggukkan kepalanya dengan ekspresi -aahh-aku-mengerti. Persis seperti anak kecil.

 

Tak ada lagi percakapan disana. Keduanya sibuk tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sampai Hyera membuka suara.

 

“Aku akan ke kamarku. Kau harus banyak istirahat..” Hyera sudah setengah jalan saat suara Sehun menahan langkahnya lagi.

 

“Kau mau menemaniku disini?”

 

***

 

Hyera tidak tau apa yang tengah dilakukannya sekarang. Ia hanya menuruti perkataan Sehun yang menyuruhnya untuk duduk di samping Sehun di atas ranjangnya. Tapi anehnya Sehun menyuruhnya untuk memunggunginya, bukannya menatapnya agar mereka bisa saling bicara.

 

“Aku sudah hampir menyerah untuk mendapatkanmu lagi. Mungkin kesalahanku terlalu besar dan kau sama sekali tak bisa memaafkanku. Jadi sekarang kalau tidak-“

 

Ucapan Hyera terputus saat tiba-tiba sepasang tangan melilit tubuhnya. Memeluknya dari belakang. Hyera tak mengatakan apa-apa. Terlalu kaget dengan perlakuan Sehun yang mendadak.

 

“Kau ingin tau bagaimana perasaanku sekarang?” Hyera hanya bisa mengangguk untuk menjawabnya.

 

Jeda cukup lama sebelum tanpa diduga Sehun mengecup pipi kanan Hyera dari belakang.

 

“Shin Hyera, kau sudah tau kan sekarang?”

 

Dan keduanya pun tersenyum. Menyadari kisah melelahkan itu sudah berakhir dengan manis. Mungkin kecupan Sehun di pipinya tadi hanya sebentar. Yang mungkin hanya akan dianggap angin lalu kalau ia ceritakan pada teman-temannya. Tapi kecupan singkat itu, sudah lebih dari cukup mewakili seluruh perasaan mereka.

 

***

 

End

 

Hiyaaaaaa~~~ akhirnya ending!!! ^^ *lap keringet*

Gomawo yg udah ngikutin sampe akhir ya.. 😀 walo masih banyak salahnya, tapi ayo kita berkarya lebih baik lagi.. 😀

Buat yg minta sekuel, insyaAllah ya, ntar kalo ada ide pasti dibikin, ya ya ya… hehehe..

Oia, mau tau nih, reader paling suka chapter berapa sih?? Ditulis di komen ya, chapter berapa sama alesannya, oke2?? 😀 hehe..

Akhir kata, gomawo buat semuanya, author bakal kembali bawa judul baru dengan cast baru.. tunggu ya… 😀

Annyeong~~~ 😀 😀

 

 

42 pemikiran pada “The Last Target (Chapter 4)

  1. hyaaaaakk~ 😢 udah end eoh? gak rela gue.. aduh itu endingnya bagus lagi kalo pas itu ada yg ngintipin misal luha ato sapa kkkk~ 😂 nice nice like this yo like this ~

  2. Keren thoor, ceritanya pas, ga banyak yg bisa aku komen dsini yg jelas end nya memuaskan thoor (y)
    Aku suka semua chapternya thor, seru semua. Mian thor cuma ngomen d awal dan akhir, aku raoel aja komennya semua 😀
    Thank u thoor

Tinggalkan Balasan ke Liu Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s