Dear Diary (Chapter 1)

Dear Diary part 1

Author: Nur RyeoRi0694

Title: Dear Diary

Main cast:       Heo Woori (It’s me wkwkwkakka >_<)

EXO K’s Byun Baekhyun

Support cast: F(x)’s Sulli

F(x)’s Krystal

dll

Genre: Romance, Fantasy

Rating: PG-15

Length: two shoots

Disclaimer: FF murni karya saya sendiri, jika ada kesamaan cerita dengan FF lain,, wah saya tidak tahu sama sekali. 100% ide dari kepala saya 😀

Annyeong haseyo readers EXOfanfiction. Heo Woori imnida, bangapta.

Ini adalah FF pertama saya yang berhasil diselesaikan. Yyyeeyy !! #nari hula-hula bareng Baekhyun, Kai, & Luhan. XD 😀

Jadi harap maklum kalau bahasanya, ceritanya, kata-katanya masih sangat sederhana dan biasa, karena saya masih dalam tahap belajar membuat FF hhehehe J

Selamat membaca dan jangan lupa coment ya. Sedikit kata-kata yang dituliskan dalam comentpun sangat berharga bagi saya agar bersemangat dalam menulis. Happy reading 😉

*****

 

*****

Author POV

“ada yang bisa menjawab ?” Tanya Lee Songsaengnim sambil mengedarkan pandangan keseluruh penjuru kelas.

“ya Woori-ah silahkan menjawab.” Lee songsaengnim mempersilahkan Woori, yeoja yang mengangkat tangan tanda ingin menjawab.

Woori pun berdiri dan mulai menjawab. Yeoja cantik itu menjawab pertanyaan dengan sangat detail agar tidak ada jawaban melenceng.

Saat semua penghuni kelas menyimak baik-baik setiap kata yang keluar dari bibir tipis Woori, Krystal –yeoja yang duduk dibangku belakang Woori– malah sibuk menjalankan otak jahatnya. Ditariknya kebelakang dengan seperlahan mungkin kursi yang akan diduduki Woori agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan.

Melihat aksi jahat teman sebangkunya itu, Amber hanya ikut tersenyum jahat.

Dan sesuai rencana Krystal, ‘bugh’ saat hendak kembali duduk kekursinya, Woori malah terjungkal kebelakang karena posisi kursinya tidak berada didekat pantatnya.

“hahahahahah” tawa teman-teman sekelasnya pecah begitu melihat adegan memalukan –bagi Woori– itu. Krystal dan komplotannya tertawa puas, penuh kemenangan.

Sementara Woori kembali menarik kursinya dan duduk, dengan wajah merah padam karena malu besar dan segunung emosi yang siap meledak bagai gunung berapi.

“sabar.” Teman sebangku Woori, Sulli berusaha menenangkan sahabatnya itu.

“sudah sudah !! harap semua tenang, tidak ada yang perlu ditertawakan !!” bentak Lee songsaengnim menenangkan kelas yang gaduh.

‘Krystal Jung, liat saja pembalasanku nanti’ kutuk Woori dalam hati sambil menatap sinis kearah Krystal, yang ditatap hanya membalas dengan tatapan mengejek, merendahkan.

*****

Woori POV

*jam pulang sekolah*

“aarrggghhh !!! Krystal sudah benar-benar membuatku malu didepan semua teman dikelas.” Benar-benar membuatku frustasi mengingat hal sangat memalukan yang ku alami hari ini.

Krystal Jung, yeoja yang sangat meyebalkan, yang selalu mencari masalah denganku.

Aku juga tidak mengerti sejak kapan dia mulai membenciku, yang kutahu saat dia memulai perang denganku, aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan.

“sudahlah, Krystal memang begitukan ? selalu mencari masalah.” Sahabatku, Sulli, masih berusaha menenangkanku.

“setahuku ada toko didekat simpangan yang baru dibuka. Mereka menjual aksesoris yang lucu dan imut. Banyak uri chingu yang sudah kesana. Kkaja !” Sulli sibuk menarik-narik tanganku.

Sebenarnya aku sangat tidak mood untuk pergi, karena rasa kesalku ini masih menggunung. Tapi karena tidak enak pada sahabatku itu, akhirnya kulangkahkan kakiku mengikutinya.

*****

Woori POV

‘kkrriiinncciiinngggg kkriiinncciinngg’ suara bel berbunyi nyaring saat Sulli mendorong pintu toko aksesoris itu.

Ku edarkan pandanganku keseluruh penjuru toko ini. Dan apa yang Sulli katakan memang benar, barang-barang lucu dan imut bagai menari-nari dimata kami. Benar-benar menggoda iman, karena semuanya sangat memaksa untuk dimiliki.

Kulangkahkan kakiku menuju deretan diary yang tersusun rapi nan cantik dibarisan depan dekat jendela. Sedangkan Sulli menuju barisan cincin didekat meja kasir.

Terfikir untukku membeli salah satu diary itu, setidaknya ketika aku benar-benar kesal seperti hari ini aku dapat menuliskannya dalam diary daripada berteriak-teriak atau mencaci maki tidak jelas yang ujung-ujungnya hanya akan mendapat siraman rohani –omelan– dari eommaku.

“pilihan yang tepat nona.” Ucap seorang yeoja cantik, tinggi, berkulit putih yang mungkin merupakan pegawai toko aksesoris ini saat aku hendak mengambil salah satu diary dari tempatnya.

‘Mengagetkanku saja.’

“diary ini tinggal tersisa satu karena sangat popular dikalangan remaja sekarang nona.” Pegawai itu lanjut menjelaskan sambil mengangkat diary berwarna merah darah dengan cover bergambar hati yang terbelah dua ditangan yeoja yang seperti menghilang terbawa angin –mungkin– itu.

“saat nona merasa sangat sesak didada, nona bisa mencurahkan semua isi hati nona di diary ini. Dan saya jamin semuanya akan menghilang. Ya menghilang.”

Aku hanya mengangguk-angguk mendengarkan apa yang dikatakan pegawai itu.

“karena diary ini sangat special, saya akan memberikan kepada nona yang special ini dengan gratis.”

“gratis?!” alisku terangkat sebelah.

Memang dizaman sekarang ini, sesuatu yang namanya gratisan sangat dicari dan diinginkan setiap orang. Tapi untuk toko yang baru memulai bisnisnya, memberikan barang gratis pada pelanggan yang datang bukankah hal yang merugikan ?! dan mencurigakan menurutku.

“ne gratis. Jangan sungkan nona.” Pegawai toko itu menyerahkan diary ‘gratisan’ tadi ketanganku, dengan sedikit memaksa menurutku.

Sempat terfikir diotakku untuk menolaknya, tapi melihat senyum tulus pegawai cantik itu membuat hatiku tidak enak jika harus mengecewakannya.

“jeongmal kamsa hamnida.” Aku membungkuk 90̊  berkali-kali padanya.

“semoga diary itu benar-benar bermanfaat bagi nona.”

*****

Author POV

Setelah merasa benar-benar cukup berterima kasih atas barang yang didapatnya dengan gratis, Woori berjalan mendekati Sulli yang sedari tadi sibuk memilih cincin dan kalung nan imut biuetz. (author lebay)

“belum dapat juga ?” Tanya Woori

“ne. aku bingung harus memilih yang mana. Semua imut, tapi aku tidak mungkin membeli semuanyakan.”

Sambil menunggu Sulli mendapatkan pilihan yang tepat, Woori kembali melihat-lihat barang-barang yang dijual ditoko aksesoris baru ini, hingga retina matanya menangkap sosok pegawai cantik yang memberikan diary gratisan padanya. Masih berdiri ditempat yang sama, didekat barisan diary dekat jendela. Dengan masih senyum yang sama juga.

‘pegawai itu membuatku takut. Sepertinya dia terus memperhatikanku. Dengan senyum manisnya itu semakin membuatku takut saja.”

Dan benar apa yang dipikirkan Woori, bahkan saat keluar tokopun pagawai itu masih memperhatikannya hingga sosok Woori dan Sulli menghilang dibalik persimpangan jalan.

*****

Woori POV

“apa aku mulai menulis sekarang saja ya ?” tanyaku pada diri sendiri.

Lembar halaman ketiga diary ‘gratisan’ tadi tengah terbuka lebar didepan mataku. Putih,bersih, polos belum ternoda tinta sedikitpun.

‘huft’

Sedikit demi sedikit namun pasti, semua curahan hatiku tertulis diatas kertas yang tadinya polos itu. Semua kekesalan, emosi tentang kelakuan Krystal disekolah hari ini membuatku bersemangat menulis pada diary baruku ini.

Dear Diary,,

Hari ini menjadi hari yang sangat memalukan bagiku. Itu semua karena ulah jahil Krystal, yeoja jahat yang selalu mencari masalah denganku.

Kejadian hari ini hanyalah salah satu contoh tindakan jahatnya padaku. Selama ini, aku dan teman lainnya sudah sering diperlakukan tidak menyenangkan olehnya. Ingin membalas ? tentu suatu saat aku akan membalasnya.

Terfikir olehku, kenapa didunia ini harus ada yeoja itu ? dunia ini – terutama duniaku- akan sangat aman, tentram, damai, sentosa jika yeoja bernama Krystal Jung itu tidak ada. Pergi jauh. Lenyap. Menghilang ditelan bumi.

Ya, pasti sangat menyenangkan jika yeoja jahat itu tidak ada.

Tapi mau bagaiman lagi, Krystal sudah terlanjur terlahir didunia ini dan tidak mungkin dimasukkan kedalam rahim eommanya lagikan. –“

‘hoooaaam’ rasa ngantuk mulai menyusup dalam diriku. Kututup diary yang baru selesai kutulis. Kulangkahkan kakiku malas menuju kamar mandi, gosok gigi, mencuci tangan dan kaki, dan ranjang nyamanku sudah siap mununggu.

Good night

*****

Woori POV

Hari baru, semangat baru !!

“Byun Baekhyun.”

“Hadir.”

“Choi Sulli”

“Hadir.”

Luhan songsaengnim, guru bahasa China sekolah kami mulai mengabsen siswa dikelas.

“Heo Woori.”

“Hadir.”

Kegiatan absen telah diselesaikan Luhan songsaengnim.

Sebenarnya aku malas untuk melakukan kebaikan ini. Tapi tidak ada salahnya berbuat baik pada orang yang berbuat jahat padaku.

“songsaengnim, ada siswa yang belum anda sebutkan.” Aku mengangkat tangan agar Luhan songsaengnim memperhatikan ke arahku.

“Nugu, Woori-ah ?”

“Krystal Jung.” Aku terlalu baikkan padanya –yang jahat pdaku– yang belum diabsen Luhan songsaengnim.

Tapi mengapa Luhan songsaengnim hanya menatap bingung ke arahku ?

“Krystal Jung, songsaengnim.” Kuulagi sekali lagi, seolah menjawab ekspresi Luhan songsaengnim yang berkata ‘nugu’.

Kubalik badanku kebelakang, untuk menghadap kearah Krystal dan bermaksud menjelaskan ‘ini lho Krystal’.

Tapi tidak kutemukan sosok Krystal dikursi belakang tempatku duduk, hanya ada sosok Luna disana. Sejak kapan Luna duduk dengan Amber ?

Aku menatap Luna bingung, begitu juga Luna menatapku dengan lebih bingung. Aku yakin Luhan songsaengnim tambah bingung. O_o’

*****

Author POV

Sekarang jam istirahat. Tapi tidak ada niat sedikitpun Woori untuk pergi kekantin sekolah. Seribu pertanyaan masih menghinggap diotaknya.

“Krystal, eoddiga ?”

“Krystal, nuguya ?” Sulli hanya balik bertanya pada Woori.

“Itu, yeoja yang duduk sebangku dengan Amber. Yeoja jahat yang kemarin membuatku malu didepan teman-teman dikelas.”

Sulli hanya bingung mendengar pernyataan Woori.

“bukankah dari semester awal memang Luna yang duduk sebangku dengan Amber. Lagipula dikelas kita tidak ada yang bernama Krystal. Dan memang apa yang terjadi padamu kemaren ?”

Woori semakin heran saja mendengar jawaban Sulli.

“Sulli-ah, kau bercandakan ? ini tidak lucu.”

“bukankah daritadi kamu yang bercanda Woori-ah.”

-_-??

*****

Woori POV

Aku berguling kekanan kekiri diatas ranjang. Pikiranku tidak tenang, ragaku tidak tenang.

Bagaimana bisa disekolah tidak ada seorangpun yang mengingat Krystal ? setiap guru dari pelajaran pertama hingga akhir tidak ada yang mengabsenya. Sulli tidak mengenal Krystal,begitu juga chingudeul yang lain. Luna yang duduk sebangku dengan Amber. Bukankah Luna sebelumnya duduk dengan Suzy ?

Semakin dipirkan, semakin membuat jantungku berdetak tidak karuan, membuat kringat dingin turun deras. Karena ketakutan yang terus menjalar.

“Ini semua sangat aneh. Apa yang sebenarnya terjadi ? tidak mungkin semua orang mengerjaiku dengan sepakat bersama berpura-pura tidak mengenal Krystal.”

Aneh. Memang sangat aneh.

Tiba-tiba terlintas dibenakku tentang diary gratisan yang kemaren ku dapatkan. Segera kuberanjak dari ranjang menuju meja belajarku., mengambilnya.

Aku juga tidak mengerti mengapa saat hendak membukanya saja membuatku takut. Seakan-akan ada hal buruk yang akan terjadi.

‘sret’ lembar pertama kubuka. ‘sret’ lembar kedua. ‘sret’ lembar ketiga, lembar dimana semalam kutulis segala curahan hatiku.

“….” Speechless

Semua tulisanku semalam menghilang, lenyap, ditelan bumi. Didepan mataku hanya ada lembaran kosong, putih, bersih. Seperti tidak tersentuh sedikitpun.

Krysatal menghilang. Tulisan di diaryku juga menghilang. Apa dua kejadian ini saling berkaitan ? terlalu mustahil. Bagaimana bisa hanya melalui tulisan-tulisan bisa melenyapkan seseorang dari muka bumi ini ?!

“saat nona merasa sangat sesak didada, nona bisa mencurahkan semua isi hati nona di dairy ini. Dan saya jamin semuanya akan menghilang. Ya menghilang.”

Kata-kata pegawai toko itu benar.

MENGHILANG. Aku menghilangakn seseorang dari muka bumi ini.

*****

Woori POV

Hari ini aku berangkat kesekolah lebih cepat dari biasanya.

Banyak yang harus kuperjelas dan kucari tahu hari ini. Banyak.

Begitu aku sampai kesekolah, aku tidak langsung menuju kelasku. Melainkan kekelas 3 –aku masih kelas1–.

Suasana kelas 3 IPA 1 –kelas yang kudatangi– masih cukup sepi, hanya beberapa sunbaenim yang ada. Dan sunbae yang kucari belum terlihat batang hidungnya.

Selama 5 menit  kuterus menunggu, hingga sunbae yang kucari akhirnya datang juga.

“annyeong haseyo Jessica sunbaenim.” Aku membungkuk hormat.

“ow annyeong haseyo.” Jessica sunbae tersenyum kearahku.  Jessica sunbaenim merupakan eonni dari Krystal, seseorang yang telah kuhilangkan.  T_T

Aku diam beberapa saat, aku bingung harus memulai kata-kataku darimana. Walau aku tahu Jessica sunbae sudah menunggu dan penasaran kira-kira apa yang membawaku menemuinya sekarang ini, karena memang aku tidak pernah berurusan dengannya sebelum ini.

“itu… anu…”

“ne ?”

“apa sunbae akhir-akhir ini merasa kehilangan sesuatu ? atau seseorang misalnya.” huft. Akhirnya aku dapat mengeluarkan kata-kata. Entah kata-kata yang tepat atau tidak.

“ehm… aku tidak mengerti maksud pertanyaan mu.”

“apa sunbae merasa kehilangan dongsaeng atau kerabat dekat begitu.” To the point.

“aku rasa tidak. Akukan tidak memiliki dongsaeng, aku anak tunggal.”

‘jlep’ bahkan eonni nya sendiri yang memiliki hubungan darah denganya melupakannya.

Air mataku sudah siap tumpah, aku berusah menahanya sebisaku.

Kenapa aku hendak menangis ? Pertama,sekarang aku seperti pembunuh, menghilagkan nyawa orang lain. Bahkan lebih kejam dari pembunuh. Dalam kasus pembunuhan keluarga korban masih ingat akan kehadiran korban. Sedangkan dikasusku ini, bahkan keluarga korban –Krystal– tidak mengingatnya sama sekali.

Kedua, aku membayangkan bagaimana jika eonniku seperti Jessica sunbae, tidak mengingat tentang dongsaengnya. Semua kenangan yang pernah dilakukan hilang begitu saja. Aku tidak mau, karena aku sangat menyayangi eonniku. T_T

Misi pertama –menemui Jessica sunbaenim– sudah kulakukan, sekarang aku siap kemisi kedua. Menuju ruang guru.

Sama halnya dengan suasana kelas-kelas, ruang guru saat ini juga masih sama sepinya. Belum banyak guru yang datang. Dan ini memudahkan langkahku menjalankan misi kedua.

Setelah celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitar meja Kim songsaengnim, wali kelasku, dan yakin aman tidak ada kiranya guru yang akan curiga padaku. Aku mulai melihat-lihat berkas-berkas kelasku.

Ku cek raport, dan hasilnya SAMA. Tidak ada raport Krystal disitu. Ku cek juga kumpulan buku tugas yang beberapa hari kami kumpulkan, dan tidak ada juga buku tugasnya disitu. Bahkan dikumpulan buku tugas guru lainnya juga begitu, tidak ada buku tugas Krystal.

‘eomma otthoke ? aku sudah benar-benar melakukan keslahan. Kesalahan yang sangat fatal.’ Air mata yang dari tadi kutahan, akhirnya jatuh juga. Kutundukkan kepalaku agar beberapa guru yang ada ruangan ini tidak melihat aku menangis.

“Perlu bantuan ?” sebuah suara menanyaiku. Ku angkat kepalaku.

“kau menangis ?” Byun Baekhyun, sipemilik suara tadi sangatlah bingung melihat aku yang berlinangan air mata ini.

Sangat memalukan membiarkan dia melihat air mataku.

Byun Baekhyun , merupakan salah seorang chingu ku dikelas. Aku tidak begitu akrab dengannya, karena memang dia tidak akrab pada yeoja-yeoja dikelas. Dengan tatapan mata ber-eyeliner-nya yang tajam itu membuat yeoja yang ingin mendekatinya perlu berfikir keras dulu, dan sikap dinginnya tambah membuat yeoja takut walau hanya sekedar menyapanya. Tapi anehnya banyak yeoja yang naksir dia. Banyak yang bilang sikap dinginnya itu yang membuatnya terlihat cool. Aku lebih berfikir sikap dinginnya itu membuatku takut, cool darimana ? -__-‘

“aku tidak menyangka, hanya karena tidak menemukan sesuatu kamu sampai menangis. Kkaja, aku akan membantumu mencari apa yang kamu cari, kebetulan aku juga ingin mencari buku tugasku.”

Oh God, manja ini salah paham. Mana mungkin aku menangis hanya karena tidak menemukan sesuatu Byun Baekhyun.

“huft. Aku mencari sesuatu yang sepertinya tidak akan kutemukan selamanya.”

“maksudmu ??”

*****

Author POV

Sebenarnya Woori tidak ingin menceritakan masalah yang sedang dihadapinya ini pada pada Baekhyun. Karena mungkin Baekhyun akan berfikir Woori yeoja yang aneh, menghilangkan sesorang dari muka bumi ini hanya melalui tulisan di diary bukankah hal yang sangat aneh dan musatahil. Tapi berhubung Baekhyun cukup memaksa –karena penasaran–, Woori akhirnya mau menceritakannya.

Jam masuk sekolah masih 30 menit lagi, masih banyak waktu untuk menceritakannya.

“Huft.. ceritaku ini akan terdengar sangat aneh dan mustahil, tapi percayalah, ini memang benar-benar terjadi dan kualami.” Baekhyun hanya mengangguk tanda percaya.

Dan Wooripun mulai menceritakan masalahnya, dari kejadian memalukan dikelas saat Krystal membuatnya terjungkal saat hendak duduk, tentang diary gratis dari penjaga toko cantik itu, dan bagaimana tulisannya di diary yang menghilang diikuti menghilangnya juga sosok yeoja yang bernama Krystal itu.

“Aku yakin kamu bukan tipe orang yang mudah mengarang cerita seperti ini, terutama jika kuingat saat pelajaran Luhan songsaengnim, kamu benar-benar seperti menyakinkan bahwa Luhan songsaengnim belum mengabsen Krystal. Dan aku yakin kamu tidak mungkin ingin mempermalukan diri sendiri saat itu.”

“gereumyeon. Terlalu bodoh jika aku mempermalukan diri sendiri didepan chingudeul dikelas.”

“arasseo. Yang sekarang aku perlukan adalah bukti.”

“bukti ? jadi aku harus mengilangkan satu orang lagi agar kau percaya tentang Krystal yang ku hilangkan ?”

Baekhyun hanya mengangguk.

Bukti nyata dari sebuah cerita memang sangat diperlukan, tapi untuk menghilangkan satu orang lagi dari muka bumi ini membuat Woori berfikir setengah mati. Menghilangkan Krystal saja sudah membuatnya dihantui rasa bersalah, padahal Krystal adalah yeoja yang selalu bersikap jahat padanya. Apalagi mengilangkan orang lain lagi yang sepertinya tidak ada salah padanya, karena memang hanya Krystal musuh bebuyutannya.

‘apa yang harus kulakukan sekarang ?’ T_T??

*****

Woori POV

Kutatap langit-langit kamar, ditanganku berputar-putar diary gratisan penyebab semua masalahku sekarang ini.

“Woori-ah !!” kepala Gayoon eonni muncul dibalik pintu.

“Wae, eonni ??”

“namjachingu mu datang kerumah.” Suara riang gembira keluar dari bibir merah mudanya.

“M-mwo ?!”

“ppali !! dia sudah menunggumu diruang tamu.”

Segera ku bangkit dan keluar kamar menuju ruang tamu.

Kulihat sosok yang kata eonni ‘namjachingu’ku itu, Byun Baekhyun tengah duduk di sofa sambil melihat-lihat keadaan rumahku.

Sebenarnya tidak seperti sedang melihat-lihat, lebih tepatnya mengawasi isi rumahku, karena tatapan matanya yang dingin itu.

“Ow Baekhyun-ah, waeyo ?” ngapain Baekhyun kerumahku malam-malam begini, dan tahu darimana dia rumahku ?

“bukankah aku bilang aku perlu bukti, dan aku ingin segera melihat bukti yang kau janjikan.”

Ah,, setelah mengerti maksud kedatangannya ini aku memintanya untuk menungguku dibangku dihalaman rumah. Bukan karena apa-apa, hanya untuk membahas soal diary penghilang sesorang itu, kami perlu bicara empat mata saja. Jika membicarakannya didalam, eomma, appa, dan eonni bisa menguping pembicaraan kami.

Baekhyun mengangguk dan melangkah menuju halaman, aku kembali kekamar mengambil diary.

*****

Author POV

Woori berjalan kerah Baekhyun sambil membawa nampan berisi dua buah gelas teh hangat dan diary.

Setelah Woori duduk dan menyajikan segelas teh  pada Baekhyun, tidak ada seorangpun diantara mereka yang memulai pembicaraan.

Woori menunggu Baekhyun yang memulai, sedangkan Baekhyun menikmati segelas tehnya. Hingga. . . . .

“ehem. Aku memilih satu orang uri chingu dikelas sebagai orang yang akan dihilangkan agar aku percaya pada kata-katamu.” Baekhyun memulai percakapan dengan nada santai.

“nuguya ?”

“Kim Jong In alias Kai.” Jawab Baekhyun masih dengan nada santai.

Woori terlihat berfikir sejenak. Seingatnya namja yang bernama Kai itu namja baik-baik, tidak pernah bermasalah dikelas. Jadi cukup sulit untuk memutuskan apakah harus Kai yang dilenyapkan dari muka bumi ini.

“entah mengapa aku kurang menyukai Kai. Karena dia pintar dance, dia selalu memamerkan dance ‘ulat keket’ nya itu didepan kelas. Membuat mataku sakit saja melihatnya.”

Woori sedikit terkekeh mendengar  alasan  Baekhyun barusan. Dance ‘ulat keket’ ? Woori akui, Kai memang terkadang terihat berlebihan saat dance didepan kelas, yah mungkin benar apa kata Baekhyun, Kai terlihat seperti ulat keket. Tapi apa alasan itu cukup untuk membuat Kai lenyap ?!

Melihat keraguan diwajah cantik Woori, Baekhyun berinisiatif sendiri untuk menjalakan misi ‘pembuktian’ ini.

Ditariknya diary merah darah dari tangan Woori dan ia mulai menuliskan kata-kata didalamnya. Woori hanya membaca setiap tulisan Baekhyun.

Dear Diary,,

Aku ingin namja bernama Kim Jongin alias Kai lenyap dari muka bumi ini. Karena aku sudah bosan melihat dance-nya itu.

Singkat, padat, dan jelas memang apa yang ditulis Baekhyun tapi tepat langsung menuju permasalahan.

“selesai. Kita tinggal lihat bagaimana besok. Apa Kai akan benar-benar lenyap seperti yeoja yang kau ceritakan itu.”

Woori menelan ludah pahit.

‘Aku mewakili Baekhyun meminta maaf pada Kai karena menjadikannya bahan percobaan pelenyapan ini. Tak lupa juga seribu maaf pada orang tua, sanak saudara, dan chingudul Kai. Mianhae, semua kenangan kalian bersama Kai selama ini akan menghilang, lenyap malam ini.”

TBC

*****

♥jeongmal kamsa hamnida untuk readers yang telah membaca ff saya ini sampai akhir, sekali lagi jangan lupa coment ya 😀

#author  bawel ya T_T

♥untuk fans Krystal dimana saja, mianhae disini Krystal jadi tokoh antagonis, hal itu bukan karena saya tidak suka Krystal, saya cukup suka Krystal koq J

♥special maaf untuk salah satu bias saya, Kai. Karena disini Kai menjadi kelinci percobaan. Mianhae yeobo 😉 ;(

*****

21 pemikiran pada “Dear Diary (Chapter 1)

  1. hahaa, sempet cekikikan sendiri sih bacanya.. tapi kerenn kok thor
    malang juga nasib kai jadi bahan percobaan 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s