Fallen (Chapter 1B)

Tittle    : FALLEN | PART 1B: ORANG ASING YANG SEMPURNA

Author : Park Ji Eun

Main Cast :   •    Xi Lu Han a.k.a EXO-M Lu Han
•    Wu Yi Fan a.k.a EXO-M Kris
•    Park Gi Eun (OC)
•    Amber Josephine Liu a.k.a f(x) Amber
•    Kim Hyun Jin —Miss Kim (OC)

•    Lee Sun Kyu a.k.a SNSD Sunny

Support Cast :       •    Choi Jin Hee (OC)
•    Park Chan Yeol a.k.a EXO-K Chanyeol
•    Lee Hyori (OC)
•    Kim Joon-myun a.k.a EXO-K SuHo

•    Jun Ji Hyun (OC)

Genre  : Paranormal Romance, Supernatural Romance, Young Adult Fiction, Fantasy, Western-Life

Ps  : FF ini aku nge remake novel karya Lauren Kate dan hanya mengganti nama cast nya. Dan maaf kalo ada pergantian nama, entah itu main cast atau support cast ^^

  _________________________

 

Tapi surga telah dikunci dan disegel…

Kita harus melakukan perjalanan keliling dunia

untuk melihat apakah mungkin ada pintu yang

dibiarkan terbuka.

—HEINRICH VON KLEIST, On The Puppet Theater

 

 

 

CHAPTER 1B:

ORANG ASING YANG SEMPURNA

                Ia menghabiskan banyak waktu memutar ulang kejadian malam itu dalam benaknya, mendengar suara tawa Trevor, merasakan kedua tangan Trevor merengkuh pinggangnya, dan berusaha meyakinkan diri bahwa ia tidak bersalah.

Tapi sekarang, setiap peraturan dan tata cara di Sword & Cross sepertinya tidak sejalan dengan pikirannya, seakan menyatakan dirinya memang berbahaya dan perlu dikontrol.

Gi Eun merasakan cengkeraman erat pada bahunya.

“Dengar,” ujar si petugas. “Jika ini bisa membuatmu lebih tenang, kau jau lebih baik daripada kasus terburuk disini,”

Itu perlakuan manusiawi pertama yang didapatkan Gi Eun dari petugas tersebut, dan ia yakin si petuga memang bermaksud membuatnya merasa lebih baik. Tapi ia dikirim ke sini karena kematian mencurigakan cowok yang amat dicintainya, namun ia tetap “jauh lebih baik daripada kasus terburuk disini”? Gi Eun mengira-ngira masalah apalagi yang mereka tangani di Sword & Cross.

“Oke, masa pengenalan selesai,” kata si petugas. “Kau harus berjalan sendiri sekarang. Ini ada peta jika kau perlu menemukan lokasi lain.” Petugas itu menyerahkan photocopy peta tulisan tangan  yang kasar, lalu melirik jam tangan. “Kau punya waktu satu jam sebelum kelas pertama, tapi opera sabun kesukaanku dimulai lima menit lagi, jadi”—ia melambaikan tangan kea rah Gi Eun—“pergilah. Dan jangan lupa,” ia berkata lagi, sekali lagi menunjuk kamera-kamera. “Merah selalu memperhatikanmu.”

Sebelum Gi Eun bisa menjawab, gadis kurus berambut gelap muncul di hadapannya, menggerak-gerakkan jemarinya yang panjang di hadapan wajah Gi Eun.

“Oooooh,” gadis itu menggoda dengan nada menakut-nakuti, menari mengelilingi Gi Eun. “Merah selalu mengawasimuuuuu.”

“Pergi, Amber, sebelum kuloboti kau,” petugas itu berkata, walau jelas terlihat dari senyuman sekilas tapi sungguh-sungguh pertamanya bahwa ia sayang pada gadis tidak waras itu.

Juga jelas terlihat bahwa Amber tidak membalas perasan sayangnya. Gadis itu berpura-pura kejang pada si petugas, lalu memandangi Gi Eun, menantangnya agar tersinggung.

“Dan untuk kelakuan itu saja,” petugas itu berkata dengan nada gusar, “kau bertugas mengajak Little Miss Sunshine ini berkeliling.”

Petugas itu menunjukkan Gi Eun, yang sama sekali tidak terlihat bercahaya dalam balutan celana jeans hitam, sepatu bot hitam, dan atasan hitam. Di bagian peraturan “Tata Cara Berpakaian”, situs Sword & Cross menyebutkan dengan ceria bahwa selama murid-murid bisa berkelakuan baik, mereka boleh mengenakan pakaian sesuka hati, dengan hanya dua syarat kecil: modelnya harus sederhana dan warnanya harus hitam. Kebebasan macam apa itu?

Kaus turnleneck kebesaran yang dipaksakan ibu Gi Eun pada dirinya pagi ini tidak menunjukkan lekuk tubuhnya sama sekali, bahkan bagian terbaik dirinya lenyap: rambut hitam tebalnya, yang biasanya tergerai hingga pinggang, nyaris gundul. Kebakaran di pondok menyebabkan kulit kepalanya terbakar, jadi setelah perjalanan pulang yang lama dan sunyi dari Dover, Mom memasukkan Gi Eun ke bathub, mengambil alat cukur listrik Dad, dan menggunduli kepala Gi Eun tanpa sepatah kata pun. Selama musim panas, rambutnya tumbuh lagi, cukup panjang sehingga rambut ikalnya yang membuat iri orang-orang kini bergelung kikuk tepat di atas telinganya.

Amber memandangi Gi Eun, menepuk-nepukkan sati jari di bibirnya yang pucat. “Sempurna,” Amber berkata, melangkah maju untuk menggandeng lengan Gi Eun. “Aku baru saja berpikir aku membutuhkan budak baru.”

Pintu ke lobi terayun membuka dan si pemuda jangkung masuk. Ia menggeleng dan berkata pada Gi Eun, “Tempat ini takkan ragu menelanjangi untuk memeriksamu. Jadi kalau kau membawa barang-barang berbahaya lain,”—ia mengangkat alis dan melemparkan segenggam benda yang tak bisa dikenali ke dalam kardus—“jangan cari masalah.”

Di belakang Gi Eun, Amber tertawa pelan. Cowok itu mendongak cepat, dan ketika tatapan matanya bertemu dengan mata Amber, ia membuka mulut, lalu menutupnya, seakan tidak yakin haris berkata apa.

“Amber,” ia berkata datar.

“Kris,” Amber membalas.

“Kau kenal dia?” Gi Eun berbisik, bertanya-tanya apakah juga ada kelompok-kelompok di sekolah anak nakal seperti di sekolah swasta semacam Dover.

“Jangan ingatkan aku,” kata Amber, menyeret Gi Eun ke luar pintu menuju udara pagi kelabu yang lembap.

Bagian belakang bangunan utama mengarah ke jalan setapak kecil yang membatasi lapangan berantakan. Rumputnya sudah begitu tinggi sehingga tempat itu kelihatan lebih seperti lahan yang kosong daripada lapangan sekolah, tapi papan angka yang sudah pudar dan beberapa deret bangku kayu penonton mengatakan sebaliknya.

Di seberang lapangan berdiri empat bangunan yang terlihat mengerikan: asrama, kelabu berbentuk kubus di bagian kiri terjauh, gereja tua besar yang jelek di bagian kanan terjauh, dan dua bangunan panjang diantaranya yang ditebak Gi Eun merupakan ruang-ruang kelas.

Itu saja. Seluruh dunia diperkecil menjadi pemandangan menyedihkan di hadapannya.

Amber segera berbelok ke kanan, keluar jalan setapak, dan membaw Gi Eun ke lapangan, mendudukkannya di salah satu bangku kayu banjang lembap.

Tempat yang sama di Dover menguarkan suasana olahraga yang pekat, jadi Gi Eun selalu menghindari lapangan. Tapi di lapangan yang kosong ini, dengan gawang-gawangnya yang melengkung dan berkarat, menceritakan hal yang sangat berbeda. Cerita yang tidak mudah dibayangkan Gi Eun. Tiga burung nasar melesat ke atas, dan angin yang sendu bertiup di antara cabang-cabang pohon ek gundul. Gi Eun menyusupkan dagu ke leher kausnya.

“Naaaaah,” kata Amber. “Kau sudah bertemu SuHo.”

“Kukira namanya Kris.”

“Kita tidak membicarakan pemuda itu,” sahut Amber cepat. “Maksudku, si wanita setengah pria di dalam sana.” Amber menyentakkan kepala kea rah kantor, tempat mereka meninggalkan petugas tadi di depan televise. Bagaimana menurutmu—cowok atau cewek?”

“Uh, cewek?” Gi Eun berkata ragu. “Apa ini tes?”

Amber tersenyum. “Yang pertama dari banyak tes. Dan kau lulus. Setidaknya, kurasa kau lulus. Jenis kelamin kebanyakan orang di sekolah ini masih diperbincangkan, diperdebatkan secara luas. Jangan khawatir, kau akan terbiasa.”

Gi Eun mengira Amber hanya bergurau—boleh juga. Tapi ini semua perubahan besar dibanding Dover. Di sekolahnya yang dulu, para pemakai dasi hijau, para calon anggota Senat yang berambut licin sibuk berkeliaran di lorong dalam keheningan yang sepertinya diselimutkan uang diatas segalanya.

Sering murid-murid Dover lain melirik Gi Eun dengan ekspresi meremehkan. Ia mencoba membayangkan Amber berada di sana: bermalas-malasan dibangku panjang, meneriakkan lelucon kasar dengan nada yang pedas. Gi Eun mencoba membayangkan pendapat Ji Hyun tentang Amber. Tidak pernah ada murid seperti Amber di Dover.

“Oke, ceritakan,” Amber memerintah. Sambil menjatuhkan diri ke bangku panjang di deretan paling atas dan mengisyaratkan pada Gi Eun untuk mengikutinya. Ia berkata, “Apa yang kau lakukan sehingga dimasukkan ke sini?”

Nada bicara Amber seperti bergurau, tapi seketika Gi Eun merasa harus duduk. Konyol, ia tadi sempat berharap menjalani hari pertama di sekolah tanpa masa lalu yang muncul ke permukaan dan merobek tabir tipis ketenangannya. Tentu saja orang-orang disini akan ingin tahu.

Ia bisa merasakan aliran darah berdentam di kedua pelipisnya. Selalu terjadi jika ia berusaha mengingat-ingat kembali—benar-benar mengingat—malam itu. Ia tidak pernah berhenti merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Trevor, tapi ia juga berusaha sangat keras untuk tidak tejerumus ke dalam baying-bayang, yang saat ini satu-satunya yang bisa ia ingat dari kecelakaan itu. Sesuatu yang gelap dan tak dapat dijelaskan dengan logika dan kata-kata, tak bisa diceritakan pada siapa pun.

Coret yang tadi—ia mulai bercerita pada Trevor tentang kehadiran ganjil yang ia rasakan malam itu, tentang berbagai bentuk bergelung-gelung yang melayang di atas kepala mereka, mengancam merusak sore mereka yang sempurna. Tentu saja, saat itu semua telah terlambta. Trevor sudah tiada, tubuhnya terbakar hingga tak dapat dikenali lagi, dan Gi Eun… apakah ia… bersalah?

Tak seorang pun tahu tentang bentuk-bentuk suram yang kadang ia lihat dalam kegelapan. Bentuk-bentuk itu selalu mendatanginya. Bentuk-bentuk tersebut sudah lama sekali dating dan pergi sehingga Gi Eun bahkan tidak bisa mengingat kapan pertama kali melihatnya. Tapi ia bisa mengingat saat pertama kali ia menyadari bahwa tidak semua orang didatangi bayang-bayangan itu—atau lebih tepatnya, hanya dirinya yang didatangi. Ketika ia berusia tujuh tahun, keluarganya berlibur ke Hilton Head dan kedua orangtuanya membawanya naik perahu. Saat itu matahari akan terbenam, ketika bayangan-bayangan tersebut mulai bergulung dating di atas air, dan ia berpaling pada ayahnya lalu berkata, “Apa yang akan Dad lakukan ketika mereka dating? Kenapa Dad tidak takut pada monster?”

Tidak ada monster, kedua orangtuanya meyakinkannya, tapi pertanyaan Gi Eun yang berulang-ulang tentang kehadiran sesuatu yang bergelinjang dan gelap membuatnya bebrapa kali harus menemui dokter mata keluarga, lalu kacamata-kacamata, lalu berbagai pertemuan dengan dokter telinga setelah ia membuat kesalahan dengan menjelaskan suara berdesing parau yang kadang-kadang ditimbulkan bayangan-bayangan itu—lalu terapi, dan lebih banyak lagi terapi, kemudian akhirnya resep untuk obat antipsikotis.

Tapi tidak ada yang berhasil membuat bayangan-bayangan itu pergi.

Saat berusia empat belas tahun, Gi Eun menolak meminum obatnya. Saat itulah mereka menemukan dr. Sanford, dan sekolah Dover yang di dekat situ. Mereka terbang ke New Hampshire, dan ayahnya mengendarai mobil sewaan menanjak sepanjang jalan raya yang panjang dan berliku ke rumah besar di puncak bukit yang disebut Shady Hollows. Mereka membawa Gi Eun ke hadapan lelaki berbalut jas laboratorium dan menanyakan pada Gi Eun apakah ia masih melihat “penampakan”. Telapak tangan kedua orangtuanya berkeringat ketika mereka mencengkeram kedua tangan Gi Eun, alis-alis berkerut karena rasa takut bahwa ada yang sangat salah dengan anak perempuan mereka.

Tidak ada yang memberitahunya bahwa jika tidak mengatakan yang ingin mereka dengar kepada dr. Sanford, ia akan lebih sering melihat Shady Hollows. Ketika berbohong dan bertingkah normal, Gi Eun diperbolehkan mendaftar ke Dover, dan hanya perlu mengunjungi dr. Sanford dua kali sebulan.

Gi Eun diizinkan berhenti mengonsumsi obat-obat mengerikan itu begitu mulai berpura-pura sudah tidak melihat bayangan-bayangan lagi. Tapi ia tetap tidak punya kendali mengenai kapan bayangan-bayangan tersebut akan muncul. Yang ia tahu hanyalah bahwa berbagai lokasi bayangan-bayangan itu mendatanginya pada masa lalu—hutan lebat, air keruh—menjadi tempat-tempat yang ia hindari sebisa mungkin. Yang ia tahu adalah bayangan-bayangan tersebut muncul biasanya dibarengi rasa dingin menggigil dibawah kulitnya, rasa mual yang tidak bisa dijabarkan.

Gi Eun duduk mengangkangi (?) salah satu bangku panjang dan mencubit pelipisnya dengan ibu jari dan jari tengah. Jika ingin melewati hari ini dengan sukses, ia harus menyimpan masa lalu ke ceruk benaknya yang paling dalam. Ia tidak kuasa mengeluarkan ingatan akan malam itu sendiri, jadi sanbat tak mingkin ia menjabarkan kejadian mengerikan tersebut pada orang asing aneh yang sinting ini.

Bukannya menjawab, ia memperhatikan Amber, yang telentang di bangku panjang, mengenakan kacamat hitam super lebar yang menutupi sebagian besar wajahnya. Sulit dipastian, tapi Amber pasti sedang memandangi Gi Eun juga, karena sedetik kemudian ia melesat bangun dari bangku panjang dan nyengir.

“Potong rambutku seperti kau,” kata Amber.

“Apa?” Gi Eun tersentak. “Rambutmu bagus.”

Memang benar, Amber memiliki rambut tebal panjang yang amat diinginkan Gi Eun. Rambut hitam ikal Amber yang digerai berkilau dibawah sinar matahari, menampakkan sedikit kilau merah. Gi Eun menyelipkan rambut ke balik telinga, walau rambutnya masih kurang panjang sehingga langsung terlepas lagi ke depan telinga.

“Bagus apanya,” balas Amber. “Rambutmu yang seksi, keren. Dan aku mau itu.”

“Oh, ehm, oke,” kata Gi Eun. Apa tadi itu pujian? Ia tidak tahu apakah harus merasa tersanjung atau terguncang melihat Amber menganggap ia bisa mendapatkan apapun yang diinginkannya, walaupun itu milik orang lain. “Dimana kita bisa mendapatkan—“

ta-da!” Amber merogoh tas dan mengeluarkan pisau lipat Swiss Armymmerah muda yang dilemparkan Hyori ke dalam Kotak Barang-Barang Berbahaya. “Apa?” ia bertanya, melihat reaksi Gi Eun. “Aku selalu menggunakan jemariku yang terampil pada hari kedatangan murid baru. Gagasan itu sendiri membuatku sanggup melalui hari-hari payah di kamp… eh perkemahan musim panas Sword & Cross.”

“Kau menghabiskan seluruh musim panas… disini?” Gi Eun meringis.

“Ha! Bicaramu seperti orang baru sungguhan. Kau mungkin mengharapkan liburan musim semi.” Amber melemparkan pisau lipat Swiss Army kepada Gi Eun. “Kita tidak pernah meninggalkan lubang neraka ini. Takkan pernah. Sekarang potong.”

“Bagaimana dengan merah?” Tanya Gi Eun, menoleh ke sekitarnya dengan pisau lipat di tangan. Pasti ada kamera entah dimana diluar sini.

Amber menggeleng. “Aku menolak berhubungan dengan penakut. Kau bisa melakukannya atau tidak?”

Gi Eun mengangguk.

“Dan jangan katakan padaku kau belum pernah memotong rambut.” Amber menyambar pisau lipat Swiss Army dari tangan Gi Eun, mengeluarkan alat guntingnya, dan menyerahkannya kembali. “Tak ada sepatah katapun lagi sampai kau bisa mengatakan betapa menakjubkannya penampilanku.”

Di “salon” kamar mandi orangtuanya, ibu Gi Eun menyatukan sisa-sisa rambut panjang Gi Eun hingga menjadi ekor kuda yang berantakan lalu memangkasnya habis. Gi Eun yakin ada cara yang lebih baik untuk memotong rambut, tapi sebagai orang yang seumur hidup menghindari pemotongan rambut, potong kuncir adalah satu-satunya cara yang ia tahu. Ia menyatukan rambut Amber dengan tangan, mengikatkan karet gelang dari pergelangan tangannya, memegang gunting kecil dengan erat, dan mulai menggunting.

Ekor kuda itu jatuh di dekat kakinya. Amber terkesiap dan berbalik. Ia memungut dan mengangkatnya ke cahaya matahari. Gi Eun tercekat melihat pemandangan itu. Ia masih sedih karena kehilangan rambutnya sendiri, dan masih kehilangan lain yang dilambangkannya. Tapi Min-Young hanya tersenyum tipis. Ia menyisirkan jemari di sela-sela ekor kuda itu, lalu memasukkannya k etas.

“Luar biasa,” kata Amber. “Lanjutkan.”

“Amber,” Gi Eun berbisik sebelum bisa menghentikan diri. “Lehermu. Kulitnya—“

“Penuh parut luka?” Amber menukas. “Kau boleh kok mengatakannya.”

Kulit leher Amber, dari belakang telinga kiri terus hingga ke tulang bahu, bergelombang, licin, dan mengilap. Benak Gi Eun kembali ke Trevor—ke foto-foto mengerikan itu. Bahkan kedua orangtua Gi Eun sendiri tak sanggup memandang dirinya setelah mereka melihat foto-foto itu. Ia merasa sesak memandang Amber saat ini.

Amber menyambar dan menekankan tangan Gi Eun ke kulit lehernya. Rasanya panas sekaligus dingin. Kulit itu mulus tapi juga kasar.

“Aku tidak takut dengan bekas luka ini,” kata Amber. “Apa kau takut?”

“Tidak,” sahut Gi Eun, walau ia berharap Amber mau melepaskan tangannya sehingga Gi Eun bisa menarik tangannya juga. Perutnya bergejolak saat ia bertanya-tanya apakah seperti ini rasanya kulit Trevor.

“Apa kau takut pada siapa dirimu sebenarnya, Gi Eun?”

“Tidak,” Gi Eun menyahut lagi dengan cepat. Pasti sangat kelihatan bahwa ia berbohong. Ia memejamkan mata. Yang ia inginkan dari Sword & Cross hanyalah permulaan baru, tempat orang-orang tidak memandangnya seperti Amber memandanginya saat ini. Di gerbang sekolah pagi tadi, ketika ayahnya membisikkan semboyan keluarga Park ditelinganya—“Keluarga Park tidak pernah kalah”—rasanya itu sangat mungkin, tapi kini Gi Eun belum-belum sudah merasa tertindas dan ditelanjangi. Ia menyentakkan tangannya. “Jadi bagaimana kejadiannya?” ia bertanya, menunduk.

“Ingat ketika aku tidak menekanmu ketika kau tutup mulut tentang kenapa kau bisa masuk ke sini?” Amber bertanya, mengangkat alis.

Gi Eun mengangguk.

Amber memberi isyarat kea rah gunting. “Rapikan belakangnya, oke? Buat aku tampil cantik. Buat aku seperti kau.”

Bahkan dengan potongan rambut yang sama, Amber akan tetap terlihat seperti Gi Eun kurang gizi. Sementara Gi Eun mencoba merapikan potongan rambut pertama yang pernah dilakukannya, Amber membahas rumitnya kehidupan di Sword & Cross.

“Blok sel yang di sebelah sana namanya Augustine. Di sanalah kami melakukan sesuatu yang disebut Acara Sosial tiap Rabu malam. Dan seluruh kelas kami,” Amber berkata, menunjuk bangunan dengan warna seperti gigi yang kuning, dua bangunan di sebelah kanan asrama. Bangunan itu kelihatannya dibangun orang sadis yang juga membangun Pauline. Bentuknya kotak suram, seperti benteng muram, diperkokoh kawat berduri dan jendela-jendela berterali besi yang sama. Kabut kelabu yang aneh menyelimuti dindingnya seperti lumut, sehingga mustahil mengetahui apakah ada orang di sana.

“Peringatan sebelumnya,” Amber melanjutkan. “Kau akan membenci kelas-kelas disini. Jika tidak, kau bukanlah manusia.”

“Kenapa? Apa yang tidak menyenangkan dengan kelas-kelasnya?” Tanya Gi Eun. Mungkin Amber memang tidak suka semua sekolah. Dengan cat kuku hitam, eyeliner hitam, dan tas hitam yang kelihatannya hanya cukup besar untuk menampung pisau Swiss Army-nya yang baru, Amber bisa dibilang bukan kutu buku.

“Kelas-kelas disini tidak punya jiwa,” jawab Amber. “Lebih parah, pelajarannya akan merenggut jiwamu. Dari delapan puluh murid yang ada ditempat ini, kurasa hanya tinggal tiga murid yang masih punya jiwa,” Amber mendongak. “Tapi tidak pernah dibicarakan…”

Kedengarannya tidak terlalu menjijikan, tapi Gi Eun terpaku pada bagian lain jawaban Amber. “Tunggu, hanya ada delapan puluh murid di sekolah ini?” Pada musim panas sebelum masuk Dover, Gi Eun membaca dengan teliti Buku Pedoman Murid baru yang tebal, menghafalkan seluruh data yang ada. Tapi segala yang dipelajarinya tentang Sword & Cross sejauh ini cukup mengejutkan, menyadarkannya bahwa ia memasuki sekolah anak nakal ini benar-benar tanpa persiapan.

 

To Be Continue

Buat yang udah baca part ini jangan lupa tinggalin comment ya…

Don’t be a silent readers

Gomawo^^

6 pemikiran pada “Fallen (Chapter 1B)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s