EXO Experience: First Time I Saw You

Title                             : EXO Experience: First Time I Saw You

Author                         : Lulu

Main Casts                  : EXO member

Support Casts             : A girl

Genre                          : Romance (?)

Length                         : One shot

Rating                          : Teenager

Disclaimer                   : I do not own the casts, ini murni ide author sendiri. Jadi kakau nanti ada kesamaan cerita dengan yang lain, cuma kebetulan semata

Synopsis                     : Masing-masing member sedang bercerita ketika pertama kali mereka bertemu dengan seorang gadis yang penuh kejutan

Note                            : Ini fanfic romance pertama author setelah series playgroup life EXO Playgroup dan EXO Cinderella Drama. Ada yang masih ingat? ^O^ Semoga banyak yang respon seperti dulu. Happy reading!

~SUHO~

 

Aku merapatkan earphone, memperbesar volume iPod untuk menutupi bunyi bising mesin kapal pesiar tempatku berada sekarang. Hamparan laut luas, angin laut segar yang menyibak kencang rambutku, dan kicauan burung laut. Hal menakjubkan ini menjadi tidak ada apa-apanya bagiku setelah mendengar kabar bahwa statusku sebagai seorang trainee di SM Entertainment diperpanjang satu tahun lagi. Habis sudah kesabaranku.

            Terdengar bunyi langkah kaki yang keras, lebih keras dari dentuman lagu di telingaku. Gadis itu berlari ke pembatas kapal, tertawa terbahak-bahak, dan melepas topinya yang lebar sehingga angin laut dan cahaya matahari menerpa wajah dan rambut panjangnya. Ia menutup mata, seakan tenggelam dalam suasananya sendiri. Semua perpaduan itu bagiku sangat cantik dan luar biasa. Aku terdiam sejenak dan menatapnya lama. Tiba-tiba kapal berguncang. Gadis itu seperti akan melewati pembatas kapal dan terlempar ke laut biru. Aku tidak menemukan suaraku untuk berteriak memberinya peringatan, namun badanku yang langsung berlari menangkapnya.

            “Neon gwaenchanayo?”

Gadis itu tidak menggubris pertanyaanku. Ia hanya tersenyum dan menatapku lembut.

            “Kau harus terus berusaha. Jangan menyerah! Hwaiting!”

Pikiranku masih belum dapat mencerna kata-katanya. Gadis itu lalu menyadari kehadiran seseorang dari jauh yang datang mencarinya. Langkah kaki orang itu terdengar mendekat. Gadis itu kembali menyunggingkan senyum manis, meletakkan jari telunjuknya di bibirnya untuk memintaku bungkam, mengedipkan manis sebelah matanya, dan berlari masuk ke dalam kapal melalui pintu yang lainnya, seperti bersembunyi dari orang itu.

            Namun, kata-katanya terngiang kembali. Mengapa ia berkata seperti itu? Jangan menyerah? Itu berarti, aku harus melalui training satu tahun lagi. Aku tertawa kecil. Sepertinya gadis itu bisa membaca pikiranku. Sungguh gadis yang menarik!

 

~KRIS~

 

            Lantai es licin ini seakan tidak mampu membuat perasaanku menjadi lebih baik. Acara skating liburan ini benar-benar membuatku bosan setengah mati. Meski teman-teman yang lain begitu menikmatinya, penuh canda tawa, namun di antara mereka, aku tetap merasa seorang diri. Aku bahkan tidak tahu penyebabnya.

            Akan tetapi semua perasaan tidak menyenangkan tersebut sirna ketika gadis itu memasuki arena skate. Dengan lincahnya ia meluncur di atas lantai yang membeku itu, menembus kerumunan orang-orang. Rambutnya yang terurai melambai lembut, berirama dengan laju skate-nya. Kelihatannya ia sangat bersemangat. Ia mulai membuat gerakan-gerakan berputar indah dan menakjubkan, tidak mampu dilakukan oleh orang biasa sehingga membuat pengunjung yang lain membelalak lebar dengan mulut terbuka. Seperempat arena itu bisa dikatakan daerah kekuasaannya. Tanpa sadar aku tersenyum. Baik, gadis itu sukses mencuri perhatianku.

            Tiba-tiba aku tersigap. Dengan cepat aku menyadari bahwa gerak laju gadis itu tak terkendali. Ia tidak mampu mengontrol dirinya dan sepertinya kehilangan keseimbangan tubuh. Gadis itu akan jatuh!

            Tanpa pikir panjang aku menghampirinya secepat yang aku bisa. Sebelum tubuh gadis itu menghantam lantai, aku berhasil menahannya dengan kedua tanganku sambil terus meluncur. Tiba-tiba terdengar tepuk tangan panjang dan jeritan-jeritan menggoda dari para pengunjung arena. Gadis itu berkali-kali membungkuk meminta maaf. Ia lalu meluncur mundur, tersenyum malu, menjauh dariku.

            “Jeongmal kamsahamnida!”

Ucapan terima kasihnya itu tidak membuat mataku terlepas darinya. Sepanjang waktu itu, semua yang ada di sekitarnya tampak tidak jelas, kecuali dirinya.

 

~BAEKHYUN~

 

            Saat itu, aku baru saja menjenguk temanku yang sedang dalam perawatan sehabis kecelakaan. Ketika aku berjalan keluar di taman tengah rumah sakit, aku bertemu dengannya. Gadis berambut panjang yang mengenakan pakaian pasien itu tengah memerhatikan bunga mawar di tepi kolam air mancur. Ia berusaha menggerakkan kursi rodanya untuk lebih dekat dengan tanaman itu. Begitu ia membelai lembut mahkota tanaman berduri tersebut, tatapannya terlihat sayu dan matanya berkaca-kaca. Aku mengerutkan kening. Gadis itu, ada apa dengannya?

            Ia terlihat hendak bangkit dari kursi rodanya. Aku sudah bisa membaca itu dari gerak-geriknya dan hendak menghampirinya. Namun, kakiku berhenti bergerak. Mengapa aku harus datang padanya? Tetapi pikiran tentang itu pun buyar saat gadis itu tidak mampu menopang tubuhnya untuk berdiri dan jatuh terkulai. Secepat mungkin aku berlari membantunya. Dalam sekejap ia ada dalam dekapanku. Gadis itu mengangkat wajahnya yang pucat pasi dan membuatku bergeming. ‘Ia sangat cantik’ adalah kalimat pertama yang tersirat di otakku saat itu. Gadis itu menatapku dengan matanya yang basah. Bodohnya aku hanya diam dalam posisiku sekarang ini.

            Tanpa kusadari dua orang suster datang berlari ke arah kami, membantu gadis itu kembali ke kursi rodanya, dan langsung mendorongnya kembali ke dalam rumah sakit. Di tepi kolam air mancur itu, aku masih mematung. Sejenak gadis itu menoleh ke arahku. Ia tersenyum samar. Benarkah? Apakah aku tidak salah lihat?

            Sampai ia tidak terlihat di balik gedung itu, hatiku bergejolak. Aku sangat ingin tahu tentangnya. Aku sangat ingin melindunginya…

 

~XIUMIN~

 

Napasku terengah-engah diiringi dengan langkah berat. Keringatku tidak berhenti bercucuran berapa kali pun kuseka. Sore ini, seperti biasanya, usai latihan sepak bola di klub olahraga sekolah, aku menyusuri tepi jalan yang rimbun oleh pepohonan seorang diri. Suasana sore itu sudah semakin sepi karena langit makin memerah.

Baru aku akan meneguk botol airku, perhatianku tertuju pada gadis itu, gadis yang sedang sibuk latihan sendiri memasukkan bola basket ke dalam ring di lapangan basket depan. Lewat celah jaring pembatas lapangan yang tinggi, aku bisa melihat ekspresi kesalnya yang sedari tadi tidak berhasil membuat one shoot. Ia menggigit bibir, mengerutkan kening, melipat tangannya di dada, dan menghentakkan sebelah kakinya. Tanpa sadar, bibirku membentuk senyuman kecil. Aku menyukai ekspresi itu. Untuk ke sekian kali, ia men-shoot bola, namun sayangnya bola itu memantul di papan ring dan dengan keras menghantam kepalanya sehingga ia terjatuh. Sontak aku terkejut, mencoba berlari untuk menolongnya, namun langkahku tertahan. Gadis itu bangkit duduk, mengelus pelan kepalanya, dan mengomel tidak jelas. Aku tertawa kecil oleh tingkahnya itu.

Kali ini dengan wajah serius, ia mengambil bola basket di dekatnya. Bibirnya seperti melantunkan doa kecil. Begitu ia melemparkan bola ke ring dan ONE SHOOT! Ia melompat-lompat kegirangan, tertawa senang, seperti memenangkan sebuah undian besar. Hatiku ikut senang untuknya dan seakan lelah yang menyelubungiku menguap dengan sendirinya. Ya, gadis itu…

 

~CHANYEOL~

 

            Skateboard yang kunaiki melaju kencang. Setelah memperbaiki letak topiku, kurentangkan kedua tangan agar keseimbangan tubuhku tetap terjaga. Inilah yang biasa kulakukan tiap Minggu pagi di taman kota bersama teman-temanku. Dari belakang, mereka memanggil namaku untuk menunggunya karena aku begitu bersemangat melaju di barisan depan. Tetapi, bukan Park Chanyeol namanya kalau tidak menggebu-gebu. Hehehe…

            Roda skateboard masih berputar saat penglihatanku mengarah padanya. Gadis bergaya feminin yang tengah melukis sebuah objek yang tidak kuketahui mengalihkan pandanganku dan brukkkk!!! Skateboardku melewati track dan aku pun tersungkur ke rumput. Untung saja aku tidak terluka. Teman-teman yang lain menghampiriku dan membantuku berdiri. Tatapanku tetap tertuju padanya dari kejauhan. Gadis itu menyipitkan pandangan pada objek lukisnya dan sibuk menggoreskan apa yang dilihatnya pada papan gambar di pangkuannya. Teman-temanku menyadari apa yang terjadi. Mereka mulai tertawa jahil, menyenggol badanku dengan lengan mereka, mendorong ramai-ramai tubuhku ke arah gadis itu untuk mengajaknya berkenalan.

            Sempat beberapa lama tubuhku enggan menghampirinya namun karena bujukan, eh, salah, melainkan paksaan teman-temanku yang membawaku padanya. Tiba-tiba aku sudah berdiri di hadapannya dengan kikuk. Sumpah! Anehnya, keringat dinginku mengalir karena tegang. Ingin rasanya kabur, tapi gadis itu sudah terlanjur melihatku. Ia memberi tatapan aneh sejenak padaku dan tertawa kecil.

            “Annyeonghaseyo!”

Ia menyapa duluan. Suara siulan dan teriakan godaan dari teman-temanku makin membuat diriku berdebar di hadapannya. Sebisa mungkin kukontrol emosiku dan tersenyum kaku sambil menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal. Sebuah pertanyaan muncul di otakku. Apakah ia bersedia berkenalan denganku?

 

~LUHAN~

Tidak ada seorang pun yang nampak. Tiap kali aku memutar kepala ke segala penjuru, memfokuskan pandangan untuk mencari mereka, namun yang terlihat hanya hamparan luas kebun strawberry ini. Ya, di sinilah aku. Tersesat seperti orang bodoh.

            Tiba-tiba dibalik jajaran strawberry itu ia berdiri. Gadis itu terlihat sibuk mencari-cari strawberry yang menarik perhatiannya. Sesekali ia bersenandung kecil. Keranjang yang dijinjingnya sudah hampir penuh. Kelihatannya berat sekali. Terlihat dari caranya hanya menggeser keranjang tersebut di tanah setiap kali ia akan berpindah tempat. Senyum manis mengembang di bibir gadis itu saat menemukan sebuah strawberry berukuran agak besar. Ia mencuci buah itu dengan air botol dan langsung memakannya. Dari reaksinya, nampaknya buah itu sangat manis. Aku begitu serius memerhatikannya sehingga tidak sadar bahwa gadis itu sedang menghampiriku. Ia menyapaku.

            “Gege, kau baik-baik saja? Sedang apa kau di sini?”

Butuh waktu beberapa lama untukku menjawab pertanyaannya. Bola mata kecoklatan yang ingin tahu di depanku membuatku begitu terpaku. Mata yang sangat indah. Tatapan yang sangat lembut.

            “Oh! Nggg… a.. aku tersesat! Kau melihat dua orang yang berseragam sekolah sama denganku?”

Gadis itu tersenyum ramah dan mengarahkan tangannya ke suatu jalan yang menurutnya akan membawaku kepada kedua orang temanku. Aku membalas senyum hangatnya dan membungkuk mengucapkan terima kasih. Gadis itu melambaikan tangannya kepadaku dan berbalik. Ia berjalan menjauh membelakangiku. Entah apa yang terjadi sehingga tatapanku tidak berpaling padanya sampai ia menghilang di ujung sana.

 

~SEHUN~

 

            Perjalanan dari bandara Incheon ke Narita memang tidak membutuhkan waktu yang lama, tetapi kedua telingaku masih saja berdengung. Di departure kedatangan, kuperhatikan satu-satu name tag yang diacung-acungkan oleh para penjemput. Oh Sehun, Oh Sehun…. huufff!! Tidak ada satupun. Cukup membuat frustrasi.

            Kuaktifkan ponselku dan langsung menyentuh angka 1 di layarnya. Dialing… Sia-sia saja. Eomma tidak mengangkat teleponnya. Liburan ini sungguh tidak menyenangkan. Karena aku masih ada ujian di sekolah, eomma berangkat liburan lebih dulu dan aku baru menyusulnya sekarang. Eomma bilang dia akan mengirim anak temannya untuk menjemputku dan mungkin ia tidak datang. Setelah berjalan cukup jauh, terdengar suara yang memanggilku dari belakang.

            “Annyeonghaseyo Sehun ssi!”

            Gadis itu menyapaku dengan bahasa Korea. Ia tersenyum dan meminta maaf. Apakah ia yang menjemputku? Sedikitpun aku tidak menunjukkan ekspresi kesal karena telah menunggunya lama, tetapi ada sesuatu yang aneh.

            “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

            Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku. Ia terlihat kebingungan lalu tertawa kecil, menepis kata-kataku barusan. Namun, aku yakin pernah menemuinya di suatu tempat karena begitu melihatnya, hatiku serasa berkecamuk. Ya, ia seperti orang yang kurindukan. Orang yang sudah kukenal sejak lama.

 

~LAY~

 

            Bahuku terasa berat. Seluruh persendianku mulai sakit. Kelas dance training selama 4 jam ini sungguh membuatku lelah. Biasanya tidak seperti ini. Mungkin akhir-akhir ini aku hanya kurang istirahat. Berjalan kaki pulang ke rumah pun terasa berjam-jam. Aku melirik jam tanganku. Pukul 03.30 KTS. Masih ada waktu untuk tidur siang.

            Langkahku terhenti oleh bunyi gesekan biola dari gadis itu. Di tepi sungai kota tidak jauh dari tempatku berdiri, ia memainkan biolanya dengan terampil. Lagu itu, Eine Kleine Nachtmusik, aku langsung mengenalinya. Namun, kali ini musik ceria Mozart itu terdengar sangat spesial bagiku. Gadis itu memainkannya dengan sangat berbeda dibanding ketika aku mendengarkannya di tempat lain.

            Angin sepoi sore bertiup membawa alunan lagu tersebut. Dibawah cahaya matahari sore, ia tampak sangat menawan. Aku memutuskan untuk tinggal sebentar, setidaknya sampai gadis itu selesai memainkan musik klasiknya.

            Namun, belum sempat memasuki bait terakhir lagu, gadis itu menyadari kehadiranku. Ia membalikkan kepala. Bunyi biola itu kini berganti bunyi arus air sungai yang mengalir tenang. Matanya langsung tertuju kepadaku. Kupikir ia akan marah karena mungkin mengira aku membuntutinya, namun aku salah. Ia tersenyum manis.

            Melihatnya seperti itu membuat jantungku berdesir cepat, menahan napas karena tidak percaya. Gadis itu, mengapa bisa membuatku seperti ini?

 

~KAI~

 

            Kubiarkan ombak menghempaskan kakiku. Kedua tanganku kumasukkan ke dalam saku celana. Keningku berkerut. Pikiranku melayang. Desiran angin yang berhembus kencang serta bunyi ombak yang menderu tetap membuat hatiku tidak tenteram. Kusapukan seluruh pandanganku ke laut. Entah apa yang mengganggu pikiranku saat itu.

            Dari sudut mata mata kiriku, sosoknya muncul. Gadis itu berlari-lari sambil menjinjing ember kecil. Ia kemudian berjongkok agak jauh dari desiran ombak dan mengeluarkan beberapa isi embernya. Sekop kecil dan beberapa kerang warna-warni. Sesekali ia merapikan rambut panjangnya yang tertiup angin pantai. Senyumnya mengembang. Dengan semangat ia mencetak pasir putih ke dalam ember. Jangan-jangan ia ingin membuat istana pasir. Beberapa menit waktu berlalu dan tebakanku benar. Aku tersenyum puas.

            Gadis itu menyadari kehadiranku yang berdiri beberapa meter darinya. Ia seperti memintaku untuk menghampirinya dengan lambaian tangannya. Sejenak aku ragu, namun kuikuti keinginannya. Kini, aku berjongkok persis di depannya. Ia tersenyum ramah kepadaku dan menatapku dalam. Tatapan lembutnya itu membuat tak bergerak. Aku seperti jatuh ke dalamnya. Dari sorot matanya, satu hal terlintas di pikiranku. Gadis itu terlihat sangat kesepian.

 

~TAO~

 

            Malam itu, satu tendangan memutar mendarat mulus di pipi kanan preman di belakangku. Tiba-tiba dari arah depan preman yang lain mencoba menghantam kepalaku dengan sebuah balok kayu. Namun aksinya berhasil kutangkis dengan lengan kiriku dan menendangnya keras tepat di perut. Kulayangkan tinju di pelipisnya. Dua preman itu tersungkur, merintih kesakitan, bangkit dengan perlahan, dan berlari pelan menjauh. Saat keduanya berbelok di persimpangan ujung lorong, aku mencari-cari gadis itu. Ternyata ia bersembunyi di balik mesin minuman kaleng.

            “Gwaenchanayo?”

Aku membantunya berdiri. Ia nampak sangat ketakutan. Badannya masih bergetar, air matanya tumpah, dan napasnya sesak. Ia masih syok dengan kejadian tadi. Seandainya aku tidak mengambil jalan pintas pulang melewati lorong ini, entah apa yang akan terjadi pada gadis di hadapanku itu. Kurapatkan jaketku ke tubuhnya. Begitu ia memberi tahu alamat rumahnya yang sudah tidak terlalu jauh dari tempatnya sekarang, aku pun mengantarnya pulang. Dalam perjalanan yang singkat itu, kami hanya diam. Tidak seorang pun yang memulai pembicaraan. Kulihat ia tertunduk dalam. Butiran air pasti masih menggenangi matanya.

            Aku pun sampai di depan rumahnya yang bagaikan mansion megah. Ia berjalan pelan ke arah gerbang dan perlahan membalikkan badan. Dengan bermodalkan cahaya bulan, aku melihatnya tersenyum tulus.

            “Mianhamnida! Kamsahamnida!”

Melihatnya seperti itu sudah membuatku tenang dan merasa apa yang kulakukan sudah tepat. Senyumanku mengembang dan kulambaikan tangan kepadanya.

 

~D.O~

 

            Ballroom hotel sudah dipenuhi tamu undangan pernikahan kakak sahabatku. Sebenarnya saat itu suasana hatiku sedang kacau, tidak sedikit pun menikmati pesta pernikahan mewah dan elegan itu. Sebisa mungkin aku tersenyum menyapa orang-orang yang kukenal dan sedikit berbincang-bincang.

            Saat speaker di ujung ruangan berbunyi, mataku tertuju pada panggung kecil di sudut ruangan. Seorang gadis dengan dress putih selutut, rambut berombak, dan make-up natural memegang standing mic lalu menyanyikan satu lagu cinta berirama lembut diiringi band yang ada di belakangnya. Sempat aku meremehkan kemampuannya dan ternyata aku salah. Suara lembut yang memenuhi ruangan saat itu juga tidak mampu melepaskan pandanganku padanya. Teknik bernyanyinya sempurna “bagiku” dan mengalir apa adanya serta penuh emosi di dalamnya. Aku pun ikut bernyanyi-nyanyi kecil. Sesaat aku sadar bahwa para tamu undangan ini tidak satupun yang memerdulikannya. Teringat kata seonsaengmin-ku bahwa penyanyi yang baik adalah penyanyi yang dapat menarik perhatian semua orang lewat suaranya. Aku berusaha membelanya. Mungkin ia sengaja melakukannya karena satu-satunya pusat perhatian yang sesungguhnya adalah pasangan suami istri yang tengah berbahagia, ya, kakak sahabatku dan suaminya. Rupanya aku sudah berpikir terlalu jauh. Kugelengkan kepala agar pikiran tersebut sirna.

            Chorus terakhir lagu pun berakhir. Musik perlahan-lahan berhenti mengalun. Tidak ada suara tepuk tangan. Begitu ia membuka mata, pandangan kami beradu. Aku tidak yakin apakah ia menatap lurus ke arahku. Namun, saat ia tersenyum dan aku membalasnya, suasana hatiku membaik. Aku yakin senyuman itu ditujukan untukku.

 

~CHEN~

 

            Di festival tahun baru warga Seoul berkumpul bersama. Aku bisa melihat mereka saling bercanda tawa bersama keluarga, teman-teman, bahkan pasangan mereka masing-masing. Di sinilah aku, bersama member yang lainnya, di tepi danau kota menggelar tikar, menunggu pukul 12 tengah malam, pergantian tahun 2012. Sekitar 10 menit lagi, kehidupan baru dimulai. Suasananya danau sudah sangat ramai.

            Di stan kembang api di ujung sana aku melihat gadis itu. Beberapa anak kecil yang ikut di belakangnya melompat-lompat kegirangan, meminta gadis itu agar cepat membeli kembang api dengan tidak sabar. Gadis berhanbok dengan dandanan sederhana yang manis itu tersenyum lembut dan memenuhi keinginan anak-anak kecil itu. Begitu gadis itu menerima bungkusan kembang api, ia berlari menjauh dari anak-anak itu sambil tertawa senang. Para anak kecil itu ikut mengejarnya sambil cekikikan. Mereka terus saling mengejar. Aku menyukai pemandangan manis itu. Mataku terus tertuju kemanapun langkah kakinya. Gadis itu, ia pasti sangat disayangi oleh orang-orang di sekitarnya. Semua orang yang mengenalnya pasti sangat mencintainya karena sifatnya yang lembut. Tanpa sadar aku tersenyum.

            Perhatianku teralihkan oleh suara serentak warga kota Seoul yang mulai menghitung mundur, begitu juga para member yang lain. SET! DUL! HANA! Dan suara teriakan serta tepuk tangan yang riuh menghangatkan malam pergantian tahun yang dingin. Kembang api yang spektakuler mewarnai langit hitam secara bergantian. Namun, begitu aku memutar kepala ke arahnya, ia lebih bersinar dibanding moment malam ini. Gadis itu menengadah terpaku akan keindahan langit malam yang bahkan ia tidak sadar bahwa ialah yang lebih indah melebihi apapun. Wajah berserinya yang diterangi sinar kembang api menyadarkanku bahwa awal tahun ini adalah yang terbaik yang pernah ada.

 

 

Iklan

24 pemikiran pada “EXO Experience: First Time I Saw You

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s