Fallen (Chapter 1C)

Tittle    : FALLEN | PART 1C: ORANG ASING YANG SEMPURNA

Author : Park Ji Eun

Main Cast :     •    Xi Lu Han a.k.a EXO-M Lu Han
•    Wu Yi Fan a.k.a EXO-M Kris
•    Park Gi Eun (OC)
•    Amber Josephine Liu a.k.a f(x) Amber
•    Kim Hyun Jin —Miss Kim (OC)

•    Lee Sun Kyu a.k.a SNSD Sunny

Support Cast :       •    Choi Jin Hee (OC)
•    Park Chan Yeol a.k.a EXO-K Chanyeol
•    Lee Hyori (OC)
•    Kim Joon-myun a.k.a EXO-K SuHo

•    Jun Ji Hyun (OC)

Genre  : Paranormal Romance, Supernatural Romance, Young Adult Fiction, Fantasy, Western-Life

Ps  : FF ini aku nge remake novel karya Lauren Kate dan hanya mengganti nama cast nya. Dan maaf kalo ada pergantian nama, entah itu main cast atau support cast ^^

 

Tapi surga telah dikunci dan disegel…

Kita harus melakukan perjalanan keliling dunia

untuk melihat apakah mungkin ada pintu yang

dibiarkan terbuka.

—HEINRICH VON KLEIST, On The Puppet Theater

 

 

 

CHAPTER 1C:

ORANG ASING YANG SEMPURNA

                Amber mengangguk sehingga membuat Gi Eun tanpa sengaja menggunting sejumput rambut Amber yang sebenarnya ingin dibiarkan. Oops. Mudah-mudahan Amber tidak menyadarinya—atau mungkin ia malah akan menganggapnya keren.

“Delapan kelas, masing-masing berisi sepuluh murid. Kau akan cukup cepat mengetahui kejelekan semua orang,” Lanjut Amber. “Dan sebaliknya.”

“Kurasa begitu,” Gi Eun menyetujui, menggigit bibir. Amber hanya bergurau, tapi Gi Eun membayangkan apakah Amber akan tetap duduk di sana dengan mata biru mudanya yang nyengir jail jika tahu latar belakang Gi Eun. Semakin lama Gi Eun bisa menutup masa lalunya rapat-rapat, semakin bagus.

“Dan sebaiknya kau menjauh dari kasus-kasus berat.”

“Kasus-kasus berat?”

“Murid-murid yang mengenakan gelang pelacak,” jawab Amber. “sekitar sepertiga dari seluruh murid.”

“Dan mereka murid yang—“

“Sebaiknya kau tidak berurusan dengan mereka percayalah.”

“Yah, apa yang telah mereka perbuat?”

Walaupun ingin menyimpan kisahnya sendiri, Gi Eun tidak suka dengan cara Amber  memperlakukannya seperti gadis lugu. Apapun yang dilakukan murid-murid itu tak mungkin lebih buruk daripada yang menurut semua orang diperbuatnya. Ataukah mungkin? Ia kan tidak tahu apapun tentang orang-orang dan tempat ini. Kemungkinan ini menyebabkan rasa takut bergejolak dalam perutnya.

“Oh, kau tahulah,” Amber menjawab malas. “Membantu dan bersekongkol melakukan kegiatan teroris. Mencincang orangtua mereka dan memanggangnya di perapian.” Amber memutar tubuh untuk mengedipkan mata pada Gi Eun.

“Br***sek,” kata Gi Eun.

“Aku serius. Orang-orang sinting itu dibawah pengawasan yang lebih ketat daripada para pengacau lain. Kami menyebut mereka borgol.”

Gi Eun tertawa mendengar nada bicara Amber yang dramatis.

“Rambutmu sudah selesai,” Gi Eun berkata, menyisirkan jemari ke rambut Amber agar sedikit mengembang. Ternyata kelihatan keren juga.

“Bagus,” sahut Amber. Ia berputar menghadap Gi Eun. Ketika ia menyisir rambut dengan jemari, lengan baju hangat hitamnya merosot dari pergelangan tangan dan Gi Eun meiihat sekilas gelang berwarna hitam, dengan kancing-kancing perak berderet, dan pada pergelangan yang lain, gelang yang kelihatannya lebih… mekanis. Amber melihat Gi Eun memperhatikannya dan mengangkat alis dengan gaya jahat.

“Sudah kubilang,” ia berkata. “Benar-benar orang gila.” Ia nyengir. “Ayo, kita lanjutkan tournya.”

Gi Eun tidak punya banyak pilihan. Ia tergesa-tergesa melangkahi bangku-bangku panjang mengejar Amber, menunduk ketika salah satu burung nasar menukik rendah dengan berbahaya. Amber, yang tampak tidak menyadarinya, menunjuk gereja yang diselubungi lumut dibagian kanan terjauh bangunan sekolah.

“Di sana kau akan menemukan ruang olahraga kami yang mutakhir,” Amber berkata dengan gaya pemandu wisata bersuara sengau. “Ya, ya, bagi mata yang belum terlatih, kelihatannya itu gereja. Tadinya bangunan itu memang gereja. Gaya arsitektur di Sword & Cross ini serba hibahan. Beberapa tahun lalu, seorang ahli penyakit jiwa yang gila olahraga muncul dan mengoceh tentang remaja-remaja yang terlalu dijejali obat bisa merusak masyarakat. Ia menyumbangkan uang yang sangat banyak agar mereka mengubahnya jadi ruang olahraga. Kini mereka pikir kami bisa melampiaskan rasa ‘frustasi’ kami dengan cara yang ‘lebih norman dan produktif’.”

Gi Eun mengerang. Ia selalu benci pelajaran olahraga.

“Aku ikut sedih,” Amber bersimpati. “Pelatih Diante sangat sadis.”

Saat berlari mengikuti, Gi Eun memandang seluruh lapangan. Lapangan Dover dulu sangat terawat, ditata rapi, dan ditanami pada jarak yang sama dengan pohon-pohon yang dipangkas sempurna. Sword & Cross ini terlihat seperti dilemparkan ke bawah dan ditinggalkan di tengah rawa. Daun pohon-pohon dedalu tergantung hingga ke tanah, tanaman merambat menutupi dinding-dinding seperti kain, dan pada setiap langkah ketiga, kaki mereka terbenam.

Dan bukan hanya masalah tampilan tempat ini. Setiap tarikan udara lembap yang dihirup Gi Eun tersangkut di paru-paru. Sekedar bernapas di Sword & Cross membuat Gi Eun merasa terbenam dalam lumpur isap.

“Tampaknya para arsitek mengalami kebuntuan saat berusaha membangun kembali gaya akademi militer kuno. Hasilnya, bangunan kami menjadi separuh penjara, separuh zona penyiksaan abad pertengahan. Dan tidak ada tukang kebun,” kata Amber, menendang lumpur dari sepatu bot tentaranya. “Hiii. Oh, dan di sana pemakaman.”

Gi Eun mengikuti arah jari Amber yang menunjuk bagian terjauh lapangan disebelah kiri, tepat disebelah asrama. Kabut yang lebih tebal menyelubungi bagian lahan yang tidak dipagari dinding itu. Ketiga sisinya dibatasi hutan ek lebat. Ia tak bisa melihat ke pemakaman, yang tampak nyaris terbenam ke bawah permukaan tanah, tapi ia bisa mencium aroma busuk dan mendengar suara-suara jangkrik yang berderik dipepohonan. Sesaat ia mengira melihat bayangan-bayangan gelap berkelebat—tapi saat ia mengerjapkan mata, semua itu lenyap.

“Itu pemakaman?”

“Yap. Tempat ini dulu akademi militer, pada masa Perang Saudara dulu. Jadi disanalah mereka menguburkan para tentara yang mati. Mengerikan seperti layaknya pemakaman. Dan berisik,” kata Amber, menirukan logat orang selatan, “baunya sampai ke langit ketujuh.” Lalu ia mengedipkan seblah mata pada Gi Eun. “Kami sering main ke sana.”

Gi Eun menatap Amber untuk melihat pakah gadis itu bergurau. Amber hanya mengangkat bahu.

“Oke, hanya satu kali. Dan saat itu setelah pesta obat besar-besaran.”

Nah, ini baru kata yang dikenali Gi Eun.

“Aha!” Amber tergelak. “Aku baru saja melihat lampu menyala di atas sana. Jadi ada orang di rumah. Yah, Gi Eun, sayangku, kau mungkin sering pergi ke pesta sekolah berasrama, tapi kau belum pernah melihat pesta yang dilakukan di sekolah anak-anak nakal.”

“Apa bedanya?” Tanya Gi Eun, mencoba mengelak dari fakta bahwa ia belum pernah menghadiri pesta besar di Dover.

“Kau akan lihat sendiri.” Amber terdiam dan berpaling pada Gi Eun. “Kau dating dan ikut berkumpul nanti malam, oke?” Amber mengejutkan Gi Eun dengan meraih tangannya. “Janji?”

“Tapi kupikir kau bilang aku harus menjauh dari masalah besar,” goda Gi Eun.

“Peraturan nomor dua—jangan dengarkan aku!” Amber tertawa, menggeleng. “Aku benar-benar tidak waras!”

Amber mulai berlari kecil lagi dan Gi Eun mengikutinya.

“Tunggu, apa peraturan nomor satu?”

“Jangan ketinggalan!”

 

***

 

Ketika mereka tiba dibelokan bangunan kelas dari kayu cinder, Amber berhenti tiba-tiba. “Pura-pura tenang,” ia berkata.

“Tenang,” Gi Eun membeo.

Seluruh murid yang lain tampak berkumpul di sekitar rumpun pohon yang dililiti tanaman merambat kudzu di luar Augustine. Tak seorang pun kelihatan senang berkeliaran di luar, tapi tidak ada yang tampak siap untuk masuk juga.

Di Dover tidak pernah ada peraturan soal pakaian, jadi Gi Eun tidak terbiasa melihat keseragaman para murid. Tetapi memang walaupun setiap anak sama-sama mengenakan celana jins hitam, kaus berleher panjang hitam, dan baju hangat hitam yang diikatkan dibahu atau pinggang, tetap ada perbedaan yang jelas pada cara mengenakannya.

Sekelompok gadis bertato bergerombol membentuk lingkaran sambil melipat tangan yang mengenakan gelang-gelang besi hingga siku. Bandana hitam di rambut mereka mengingatkan Gi Eun pada film yang pernah ditontonnya tentang geng motor wanita. Ia menyewanya karena berpikir: Apa lagi yang lebih keren dari pada geng motor wanita? Kini pandangan Gi Eun terpaku pada salah satu dari wanita-wanita itu di seberang lapangan. Lirikan tajam mata si gadis yang dibentuk seperti mata kucing membuat Gi Eun segera mengalihkan pandangan.

Pasangan wanita dan pria yang berpegangan tangan menjahitkan manik-manik berbentuk tengkorak dan tulang yang bersilangan di belakang baju hangat hitam mereka. Tiap beberapa saat, salah satu dari mereka menarik yang lain untuk kecupan di pelipis, telinga, dan mata. Ketika mereka melingkarkan lengan ke tubuh pasangannya, Gi Eun bisa melihat mereka mengenakan gelak pelacak yang berkelip-kelip. Mereka tampak agar kasar, tapi cukup jelas terlihat betapa mereka saling mencintai. Setiap melihat anting lidah mereka bersinar, Gi Eun merasakan perihnya kesendirian di dada.

Di belakang pasangan kekasih itu, sekelompok pria berambut pirang berdiri bersandar ke dinding. Semua mengenakan baju hangat, walaupun cuaca panas. Dan mereka semua mekai kemeja putih di balik baju hangat, kerahnya kaku ke atas. Celana hitam mereka cocok dengan sepatu mereka yang mengilap sempurna. Dari seluruh murid yang ada di lapangan, para pria itu pemandangan yang paling mirip dengan Dover bagi Gi Eun. Tapi jika diperhatikan lebih seksama, seketika terlihat perbedaan mereka dengan para pria yang biasa Gi Eun kenal. Pria seperti Trevor.

Hanya berdiri berkelompok, para pria itu memancarkan aura macho khusus. Terlihat jelas dari tatapan mereka. Sulit dijelaskan, tapi dalam sekejap terpikir terpikir oleh Gi Eun bahwa seperti dirinya, setiap orang disekolah ini punya masa lalu. Setiap orang disini mungkin punya rahasia-rahasi yang tak ingin mereka ceritakan. Tapi Gi Eun tidak bisa menentukan apakah menyadari ini membuatnya merasa semakin terasing atau tidak.

Amber menyadari pandangan mata Gi Eun yang menyapu murid-murid lain.

“Kami berusaha sebisa mungkin untuk dapat melewati hari,” Amber berkata, mengangkat bahu. “Tapi jika kau belum menyadari burung-burung nasar yang terbang rendah, tempat ini cukup berbau kematian.” Amber duduk dibangku panjang di bawah pohon dedalu besar dan menepuk tempat disebelahnya untuk Gi Eun.

Gi Eun menepiskan seonggok daun busuk yang basah, tapi tepat sebelum duduk, ia melihat satu lagi pelanggaran aturan berpakaian.

Pelanggaran aturan pakaian yang sangat menarik.

Pria itu mengenakan syal merah menyala di leher. Di luar sini hawanya jauh dari dingin, tapi si pria juga mengenakan jaket kulit hitam untuk pengendara motor diatas baju hangat hitamnya. Mungkin karena pria itu satu-satunya yang berwarna di lapangan, tapi hanya dialah yang terlihat oleh Gi Eun. Sebenarnya, semua tampak begitu pucat dibandingkan dirinya sehingga, cukup lama, Gi Eun lupa ia berada dimana.

Gi Eun memandangi rambut keemasan dan kulit putih pria itu. Kacamata hitam gelap yang menutupi kedua mata, bentuk bibirnya yang lembut. Dalam semua film yang pernah ditonton Gi Eun, dan dalam semua buku yang pernah dibacanya, yang menarik hati adalah orang yang menawan sempurna—tapi punya satu kekurangan kecil. Gi Eun tahu kenapa—jika tokoh utamanya terlalu sempurna, ia akan sulit dijangkau. Tapi bisa dijangkau atau tidak, Gi Eun bisa memiliki kelemahan menghadapi keindahan yang amat sangat. Seperti pria itu.

Pria tersebut bersandar di dinding bangunan dengan kedua lengan dilipat didada. Sekejap, Gi Eun seperti melihat dirinya direngku kedua lengan itu. Gi Eun menggeleng, tapi bayangan itu begitu jelas sehingga ia nyaris menghampiri pemuda itu.

Tidak. Ini gila. Ya, kan? Bahkan di sekolah yang penuh murid tidak waras ini, Gi Eun cukup sadar bahwa perasaan itu gila. Ia bahkan tidak kenal pria itu.

Pemuda itu mengobrol dengan pemuda lain yang lebih pendek serta berambut gimbal dan tersenyum lebar. Kedua pria itu tertawa keras dan lepas—dengan cara yang anehnya membuat Gi Eun iri. Gi Eun mencoba membayangkan dan mengingat kembali kapan ia tertawa, benar-benar tertawa, seperti itu.

“Itu Xi Lu Han,” Amber, mencondongkan tubuh dan membaca pikiran Gi Eun. “Aku bisa melihat cowok itu ternyata menarik perhatian seseorang.”

“Benar sekali,” Gi Eun mengiakan, malu ketika menyadari seperti apa dirinya di mata Amber.

“Yah, kalau kau suka yang seperti itu.”

“Apa yang bisa tidak kusukai?” Gi Eun bertanya, tak kuasa menghentikan kata-katanya.

“Temannya itu Roland,” kata Amber, mengangguk kea rah si pria berambut gimbal. “Ia cukup asyik. Pria yang bisa membawakanmu sesuatu, kau tahu?”

Tidak juga, pikir Gi Eun, menggigit bibir. “Sesuatu seperti apa?”

Amber mengangkat bahu, menggunakan pisau Swiss Army curian untuk memotong benang yang terurai dari robekan di celan jins hitamnya. “Pokoknya sesuatu. Benda-benda yang tinggal kau minta.”

“Bagaimana dengan Lu Han?” Gi Eun bertanya. “Apa masalahnya?”

“Oh, ia tidak menyerah, ternyata.” Amber tertawa, lalu berdeham. “Tidak ada yang benar-benar tahu,” ia berkata. “Lu Han mati-matian mempertahankan aura misteriusnya. Bisa jadi tipikal anak brengsek sekolah asrama.”

“Aku tidak asing kok dengan anak brengsek,” kata Gi Eun, walau begitu kata-katanya keluar, ia berharap bisa menariknya kembali. Setelah apa yang terjadi pada Trevor—apapun yang terjadi padanya—Gi Eun jelaslah bukan orang yang bisa menilai karakter seseorang. Tapi lebih daripada itu, saat ia sesekali teringat malam itu meski hanya sedikit, naungan bayangan-bayangan hitam yang bergerak-gerak itu muncul lagi dalam ingatannya, nyaris seolah ia kembali ke danau itu.

Gi Eun melirik Lu Han lagi. Pria itu melepaskan kacamata hitam dan menyelipkannya ke balik jaket, lalu berpaling untuk menatap Gi Eun.

Tatapannya bertemu dengan tatapan Gi Eun, dan Gi Eun menyadari ketika mata Lu Han membesar kemudian langsung menyipit, seakan terkejut. Tapi tidak—lebih daripada itu. Saat tatapan Lu Han bertemu dengan tatapan Gi Eun, napas Gi Eun tercekat di tenggorokan. Gi Eun mengenali Lu Han, entah dimana.

Tapi Gi Eun pasti ingat jika pernah bertemu orang seperti Lu Han. Gi Eun pasti akan ingat jika pernah merasa benar-benar tercekat seperti saat ini.

Gi Eun menyadari mereka masih saling memandangi ketika Lu Han menyunggingkan seulas senyum padanya. Perasaan hangat seketika menjalar ke sekujur tubuh Gi Eun dan ia harus berpegangan erat pada bangku untuk menahan tubuh. Ia merasakan bibirnya terangkat untuk membentuk senyum balasan pada Lu Han, tapi kemudian Lu Han mengangkat tangan ke udara.

Dan mengacungkan jari tengah pada Gi Eun.

Gi Eun tersentak dan menundukkan pandangan.

“Apa?” Tanya Amber, tidak menyadari yang baru saja terjadi. “Sudahlah,” ia berkata. “Kita tidak punya waktu. Aku merasakan bunyi bel.”

Bel bordering seakan mengikuti aba-aba Amber, dan seluruh murid mulai bergerak pelan ke dalam bangunan. Amber menarik tangan Gi Eun dan menyemburkan berbagai petunjuk tentang dimana bisa menemuinya kemudian dan kapan. Tapi Gi Eun masih shock karena baru saja dihina orang yang sama seklai tidak dikenalnya. Perasaan tergila-gila sesaatnya terhadap Lu Han lenyap, dan kini satu-satunya hal yang ingin diketahui Gi Eun adalah: Kenapa sih pria itu?

Tepat sebelum mengikuti pelajaran pertama, ia memberanikan diri menoleh kembali. Raut wajah Lu Han tak berekspresi, tapi tidak ada keraguan—Lu Han memperhatikannya pergi.

 

To Be Continue

Buat yang udah baca part ini jangan lupa tinggalin comment ya…

Don’t be a silent readers

Gomawo^^

7 pemikiran pada “Fallen (Chapter 1C)

  1. Thor, bahasa nya ribet, jadi kaya harus diulang2 baca nya u/ ngerti

    Btw, Luhan kasar amat ya dsini, hah, bener2 sulit dipercaya, hahaha

    Ga sabar lanjutan nya thor
    Ada anak yg waras ga sih diantara anak2 ga waras itu???

  2. Ada apa ada apa? Kya >< luhan dia kenapa? Aku dag dig dug haha. . .

    Luhan? Orang di masa lalu gi eun kah? Dan gi eun tidak ingat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s