My Best “Friend” (Chapter 1)

My Best “Friend” Chapter 1 (Prolog)

Author: parkhyejin94

Title: My Best “Friend”

Genre: Romance, Hurt, Comfort

Category: PG-15

Cast:

– Oh Sehun

– Park Hyejin

– Cho Jino (SM The Ballad)

– Other Casts

Length: Chaptered (1/5)

WARNING! Miss typo(s), gaje, abal, alur maju mundur. Reader, yang sabar ya bacanya…

Annyeong readerdeul~ parkhyejin94 is turnback (?)

Hyaa… bukannya lanjutin ff sebelumnya malah bikin ff baru #plakk. Buat yang request sekuel Red-letter Day, nanti deh. Belum selesai soalnya. Tapi tetap dikerjain kok. Hehe ^.^v

Maaf, author baru kirim ff ini sekarang. Mau dibikin sampai selesai dulu semua part-nya baru dipublish. Makanya lama. Selain itu, secara keseluruhan ff ini masuk kategori NC, takut menggangu yang lagi menjalankan ibadah puasa. Jadi, kita saling menghargai aja ya…

Ya sudahlah, baca dulu sanah. Happy reading chingudeul^^

□□□

“Rasakan ini!”

“Kyaa… curang! Jangan lempari aku terus!”

“Kau yang curang! Bweee…”

“Oh Sehun! Jangan lari kau!”

“Hahahahaha…”

Dua remaja itu saling berkejaran. Bernafsu melempari kerikil satu sama lain. Tujuan utama mereka bukan untuk saling menyakiti, tapi hanya untuk bersenang-senang. Saling membagi keceriaan yang memang sudah terjalin sejak kecil.

 

□□□

 

“Hiks hiks,” Sehun terjengkit saat mendengar suara asing dari samping kirinya. Namja kecil itu sedang dalam perjalanan pulang ketika tiba-tiba ia mendengar tangis dari anak kecil yang ia perkirakan seorang yeoja. Sehun berjalan sangat pelan mendekati pohon besar tempat suara itu bersembunyi. Mengendap-endap seolah takut sesuatu di balik pohon itu akan lari ketika melihat sosoknya.

“Hiks hiks..” Benar saja, sesosok tubuh yeoja kecil kini tertampang di hadapan Sehun, sedang menangis terisak.

“Hai, kenapa kau menangis?” yeoja itu menghentikan tangisnya, tersentak karena seseorang datang menghampiri.

Dengan masih terisak, ia merespon pertanyaan Sehun. “Hiks hiks, buku gambarku diambil laki-laki besar yang jahat itu,” ujar yeoja itu sambil menunjuk ke sembarang arah. Sehun lantas mendekatinya, berjongkok lalu mengusap kepala sang yeoja, berusaha menenangkannya.

“Padahal itu buku gambar kesayanganku. Halmoni-ku yang memberikannya. Aku sudah menggambar sampai buku itu hampir penuh. Supaya saat buku itu sudah penuh, aku bisa memberikannya lagi pada halmoni. Tapi laki-laki itu mengambilnya. Huaaa…” yeoja itu mengadu pada Sehun.

“Ssstt… sudah. Jangan menangis lagi ya.” Sehun terus saja mengusap kepala sang yeoja, menunggu sampai ia tenang. Entah mengapa, Sehun ingin terus menyentuh kepala yeoja itu. Ingin menenangkannya. Ingin membuat yeoja itu merasa aman di dekatnya.

“Nih, aku sudah selesai menangis,” dengan masih sedikit terisak, yeoja itu menunjuk ke bawah matanya. Memberi tahu jika sudah tidak ada lagi genangan air yang mengalir di sana.

□□□

 

Hyejin memandang bosan ke luar jendela kelas. Melihat-lihat lapangan olahraga dengan tatapan kosong. Seperti menunggu sesuatu.

Sesosok namja dengan name tag Oh Sehun yang tersemat di seragamnya menghampiri Hyejin. Duduk di atas meja sambil mengikuti arah pandang ekor mata Hyejin.

“Serius sekali. Kau sedang melihat apa? Kau… menunggunya?” desahan dalam ke luar dari mulut Hyejin. Meskipun bel istirahat sudah sejak tadi berbunyi, ia tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya. Kepalanya terasa berat.

“Sudahlah. Lupakan saja. Ayo ikut denganku.” Ajak Sehun sembari mencoba menarik pergelangan Hyejin.

Tapi, Hyejin menarik kembali pergelangan tangannya. “Shireo.”

“Baiklah, kalau kau mau di sini saja. Aku akan menemanimu.” Hyejin meneruskan kegiatannya seperti sebelumnya.

 

It hurts since I can’t forget that

Looks like here is not the place where you’re supposed to be

You don’t have to hold back for me

It all will end someday too anyway

I’m a fool, you know me

 

Mungkin, karena terlalu lama melamun tanpa disadari genangan air mata terbentuk di kedua bulan sabit Hyejin. Air mata tulus.

□□□

Namja itu bernama Cho Jino. Seniornya di School of Performing Arts. Sejak menginjakkan kaki di SOFA, Hyejin mulai jatuh cinta padanya. Pada namja yang… menurut Hyejin sendiri tidak benar-benar mengerti perasaan orang lain.

Selama satu tahun Hyejin memendam perasaan pada Jino. Hingga suatu hari, saat pengumuman kelulusan, Hyejin memberanikan diri menemui Jino. Ingin menyampaikan perasaannya pada Sunbae yang selama 365 hari menempati tempat spesial di hatinya.

Jino sudah ke luar dari gedung, Hyejin yang melihat hal itu langsung menghampirinya. Mengajaknya berbicara empat mata. Jino menyetujuinya. Mereka menuju taman di belakang sekolah. Jantung Hyejin terus berdebam cepat dan keras. Selama berjalan, dia hanya diam mengekor di belakang Sunbaenya tersayang.

Jino menghentikan langkahnya. Karena terus melamun, Hyejin akhirnya menabrak punggung Jino. Ia tersentak dan reflek membungkuk sembilan puluh derajat.

“Maaf Sunbae, a-aku t-tidak sengaja.” Ia terus membungkuk beberapa kali. Hingga tangan Jino mencengkram pundaknya.

“Sudah sudah, nanti kamu bungkuk. Panggil aku Oppa saja. Panggilan Sunbae itu agak sedikit mengganggu,” Hyejin hanya bisa bengong. Merasakan tangan Jino menyentuh lengannya membuat ia lupa daratan.

“Tadi kau bilang ingin bicara padaku. Ada apa?” pertanyaan itu sukses membuat Hyejin kembali mendarat di bumi.

“Emmhh… a-nu. OOppa, i-ini,” sepucuk surat berwarna baby blue sampai di tangan Jino. Jino lantas membuka lalu membacanya.

Sambil menunggu, Hyejin memainkan tangannya gelisah. Jino berhenti dan memasukkan kertas itu kembali. Ia hanya tertawa simpul sambil kekehan kecil terdengar dari mulutnya. Jino mengembalikan surat itu ke tangan Hyejin. Bukannya menjawab isi surat Hyejin, Jino berlalu begitu saja bersama senyum yang terus terukir di wajahnya.

Hati Hyejin mencelos. Pikirannya memerintahkan ia untuk tidak menganggap ini nyata. Jino mengembalikan surat yang ia buat dengan susah payah. Seratus kali ia mencoba agar kata-kata yang dibaca Jino sempurna. Tapi apa yang Sunbae tersayangnya itu lakukan? Tanpa mengatakan apapun, mengembalikannya begitu saja, berlalu seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Hyejin terjatuh. Kakinya melemas, seakan tidak mampu menahan beban sakit di hatinya.

Hyejin menangis. Ia merasa terhina. Terhina diperlakukan seperti ini olah namja yang ia cintai. Pada kenyataannya, namja itu tidak memedulikan perasaanya.

“Hyejin…” seseorang datang padanya. Tapi bukan Jino, bukan seperti yang ia harapkan sebelumnya.

“Sehun-ah… Huaaa hiks hiks,” Hyejin menangis keras di pelukan Sehun. Memukul-mukul dada namja itu sebagai pelampiasan. Pukulan Hyejin tidaklah lembut, cukup keras. Namun itu tidak sama sekali menyakiti Sehun. Hatinya. Hatinya jauh lebih sakit. Melihat yeoja yang ia sayangi tersakiti karena orang lain. Hatinya teriris. Pilu mendengar setiap isakan Hyejin.

Bukannya memberontak, Sehun malah mengeratkan pelukannya. Membenamkan erat tubuh lemah Hyejin di dadanya.

Saat tiba pesta kelulusan, Hyejin yang awalnya tidak sama sekali berniat datang ke sekolah terpaksa hadir di sana. Teman-teman perempuan Hyejin yang tidak tahu apa-apa tentang kejadian tiga hari lalu menjemputnya ke rumah. Menarik dan mendorongnya hingga sampai di tempat ini. Mereka hanya tahu Hyejin menyukai Jino, bagi mereka ini kesempatan terakhir Hyejin untuk bertemu atau sekedar berfoto sebagai kenang-kenangan terakhirnya bersama Jino.

Salah seorang siswa mendapat peringkat terbaik dari serangkaian ujian yang telah dijalani. Dialah Cho Jino, siswa terbaik dari kelas A. Karena prestasinya, ia mendapat kesempatan melanjutkan kuliah di Eropa.

‘Oh, jadi dia menerima beasiswa ke luar negeri. Tapi bukankah itu harusnya tidak menjadi alasan untuk mengambangkan perasaan seseorang. Kau memang terlihat lembut dari luar. Tapi kau jahat, Sunbae. Kau jahat!’ wajah Hyejin mengeras. Mengingat peristiwa tiga hari lalu memerparah luka di hatinya.

Hyejin memegang dadanya. Mencengkram luka dalam hatinya. Jantungnya berdetak cepat, menunggu alasan untuk hidup kembali. 365 hari. Hyejin mengerang perih. 365 hari dia menunggu. Mencintai namja itu dari jauh. Harapan 365 hari hanya untuk Jino. Seringai getir terbit di wajah yang penuh air mata. Semua bergerak terlalu cepat di sekelilingnya. ‘Apa hanya aku yang membeku?’

Jino yang dipanggil oleh MC melangkahkan kakinya ke panggung.

‘Tapi… Jino tidak pernah salah! Aku tidak punya alasan untuk membencinya. Dia belum mengatakan apapun. Dia memang tidak menerimaku, tapi dia juga tidak menolakku. Jika dia tidak mencintaiku, itu adalah haknya.’

‘ Ah… apa-apaan aku ini? Lebih baik aku pergi dari sini.’

Semua teman Hyejin terperangah melihat ia beranjak dari tempatnya. Tapi tidak seorangpun berhasil menghalau kepergiannya. Hyejin berlari cepat. Meninggalkan teman-temannya dan juga Jino. Ia ingin melupakan semua kenangannya bersama Sunbae-nya itu. Menguburnya dalam-dalam. Menjadikannya hanya sebagai kenangan masa remaja.

□□□

Dua tahun berlalu sejak kejadian menyakitkan itu. Hyejin berusaha melupakannya. Memulai kembali hidupnya. Dan selama dua tahun itu pula, Sehun tidak pernah jauh dari Hyejin. Dengan setia menghibur Hyejin setiap waktu, sebisanya. Sebagai sahabat, membantu Hyejin menyembuhkan luka hatinya. Ya, hanya sahabat.

Kemudian, fanfic ini terjangkit virus TBC.

Komennya ya… Berikan pendapat apa fanfic ini pantas dilanjutin atau nggak.

Kalo iya, author bakal lanjutin dengan genre yang sama. Terus Part 2 bakal mulai dikasih NC.

Lanjutin nggak ya?

Reader yang menentukan.

Iklan

28 pemikiran pada “My Best “Friend” (Chapter 1)

  1. Aishhh, kirain kemudian bla bla bla (lanjutan cerita nya), ga tau nya TBC

    Lanjutlah poko nya thor,
    Pengen tau alesan Jino ga kasih jawaban, hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s