My Sunflower

My Sunflower

Note: Sequel of HMH: Lay: Golden Melody

Author: @kim_mus2

Main Casts: Lay a.k.a Zhang Yi Xing & Kim Hyeri

Length: Oneshot

Genre: Romance

Rating: PG-15

~***~

Satu minggu sudah berlalu sejak operasi transplantasi jantung yang dijalani Hyeri. Kini gadis itu kembali membuka lembaran baru hidupnya bersama namja yang sangat dicintainya.

“Lay! Ireona! Kau mau kita datang kesiangan lagi ke sekolah, huh?” Omel Hyeri kesal pada namja yang masih berkutat dengan selimut tebal di kasur empuknya pagi ini.

“Memangnya ini jam berapa? Lima menit lagi aku bangun, jangan khawatir.” Jawab Lay dengan malas.

“Mwoya? Lima menit lagi dengkulmu! Kita cuma punya waktu 10 menit lagi sebelum bel sekolah berbunyi tuan keripik! (eh maksudnya Lay hehe ^^).  Jarak rumah kita ke sekolah kan lumayan jauh.”

“Jinjja? Kenapa tidak bilang dari tadi?”

Lay langsung keluar dari selimut hangatnya dan pergi ke kamar mandi untuk hanya sekedar mencuci muka dan gosok gigi.

“Keluar dulu Hyeri, aku mau ganti baju. Ppalli!”

“Heu… ne… ne… ne… setiap hari pasti seperti ini. Dasar!” ujar Hyeri kesal sambil memutar kedua bola matanya dan keluar dari kamar Lay.

Klek…

“Hyeri, kajja! Kita naik motorku saja hari ini. Ppalli!”

“Kajja! Ahjumma… kami pergi dulu!” teriak Hyeri pada eomma Lay.

“Ne… hati – hati di jalan! Lay, jaga Hyeri baik-baik!” sahut eomma Lay dari dapur.

“Ne… eomma!” teriak Lay.

Dengan segera Lay menaiki motor sport birunya dan menyuruh Hyeri untuk segera naik di belakangnya.

“Hyeri, kau sudah siap? Pegangan yang kuat ya, soalnya aku mau ngebut.”

“Eo! Arasseo!” jawab Hyeri sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lay.

“Chankanman! Pakai jaketku! kalau kau masuk angin aku bisa repot nanti.”

“Aish! Ne… ne… ne… kajja!”

Bruuummm….

~**~

Meskipun bangun kesiangan, rupanya Lay masih diberi keberuntungan oleh Tuhan. Hari ini sekolah mereka sedang mengadakan acara perpisahan siswa kelas 3. Itu berarti, siswa kelas 2 seperti mereka berdua, sebenarnya bisa dengan bebas meliburkan diri. Tapi, Lay tetap ingin masuk karena dia ingin menemui para sunbaenya yang lulus hari ini.

Suasana sekolah terlihat sangat ramai dengan hiruk pikuk siswa dan orang tuanya yang berbondong-bondong menuju aula utama sekolah untuk menghadiri upacara pelepasan siswa kelas 3 secara resmi bersama pihak sekolah. Di antara sekian banyak orang yang datang, akhirnya Lay menemukan salah satu sunbaenya.

“Kris hyung! Disini! Disini!” Lay berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya dengan antusias pada seorang namja jangkung yang sedang menggandeng seorang yeoja yang tentu adalah yeojachingunya.

“Hey, Lay! Kau datang rupanya? Aku kira kau masih ada di ranjangmu.”

“Oh itu haha, aku bisa ada disini berkat seseorang hyung!” Lay melirik Hyeri sambil tersenyum kucing. Sementara yang dilirik hanya bisa mengerucutkan bibirnya yang berwarna merah muda itu.

“Chen hyung dan Xiumin hyung dimana ya? Aku tak melihat mereka,” lanjut Lay.

“Entahlah, sepertinya mereka berdua sudah masuk ke aula.”

“Oiya, Lay! Malam ini pesta perpisahannya diadakan di cafeku. Jangan sampai tidak datang ya, aku ingin kau menyanyikan lagu disana. Otte?”

“Ne  hyung, aku pasti datang!”

“Bawa juga yeojachingumu ini ne…” goda Kris pada Lay.

“Ah ne… kau mau datang kan chagiya?” kini giliran Lay yang menggoda Hyeri.

“Iiih… jangan mengucapkan kata itu! Aku geli!” protes Hyeri sambil mencubit lengan kiri Lay.

“Aww appo!” ringis Lay sambil mengusap bekas cubitan di lengannya.

“Rasakan itu! Tenang saja Kris oppa, aku pasti akan datang. Akan kupastikan, si keripik kentang Lay menyanyikan lagu yang paling indah di pesta malam ini.”

“Hahaha… ne… baguslah kalau begitu. Aku serahkan padamu Hyeri.”

“Emmm!” jawab Hyeri sambil mengangguk mantap dengan senyum simpul di bibirnya.

~**~

Hyeri’s Side

Malam ini namja itu benar – benar tampan. Senyum dan lesung pipinya membuatnya semakin manis. Apalagi suara merdunya yang diiringi petikan gitar yang apik mengalun begitu indah. Semua tentangnya selalu berhasil membuatku menghiasi wajah ini dengan senyuman.

“Hyeri, ayo kita pulang. Hari sudah semakin malam.”

“Hah?” aku benar-benar kaget, ternyata Lay sudah turun dari panggung. Aish! Rupanya dari tadi aku malah asyik melamun tentang namja ini.

“Apa maksudmu dengan ‘hah’ ? Kau ini ada-ada saja. Ayo kita pulang Hyeri-aah”

“Ah ne…” jawabku lemas. Entah kenapa, sepertinya ada yang tidak beres denganku hari ini.

“Kajja!” ajak Lay sambil menggenggam lembut jemari tanganku dengan tangan besarnya yang hangat. Sentuhan Lay selalu saja membuat jantungku bekerja terlalu keras. Detak jantungku semakin tak beraturan. Sementara itu, nampaknya Lay biasa-biasa saja. Kenapa harus aku saja yang berdebar seperti ini? menyebalkan sekali!

~**~

Lay’s Side

Gadisku cantik sekali malam ini. Ingin sekali rasanya aku memeluknya, dia sangat menggemaskan.

“Lay, kenapa mobilnya kau hentikan? Tadi katamu kita harus cepat pulang.” Tanya Hyeri kebingungan dengan namja yang duduk di sebelahnya.

“Aku ingin memelukmu, bolehkah? Hehe” pintaku dengan nada bicara yang canggung.

“Hahaha, permintaan macam apa itu? Kau ini lucu sekali Lay.”

Bugh! Prang!

“Ada Kecelakaan! Cepat hubungi polisi! Panggil ambulance!” semua orang di luar sana tampak ribut akibat tabrakan hebat yang terjadi antara sebuah motor dan truk. Sepertinya orang yang mengendarai motor terluka parah.  Sebaiknya aku cepat pulang, jalanan sangat berbahaya.

“Hye…”

“Hyeri! Kau kenapa Hyeri? Sadarlah! Jawab aku!”

Apa yang terjadi dengan Hyeri? Apa ada masalah lagi dengan jantungnya? Andwaeyo! Ya Tuhan kumohon lindungi Hyeri, jangan biarkan terjadi sesuatu padanya. Aku mohon…

~**~

Author’s Side

Di Rumah Sakit

“Dokter, apa yang terjadi dengan  Hyeri? Apa dia baik-baik saja?” tanya Lay panik.

“Tenanglah tuan! Hyeri sudah menjadi pasien saya sejak dia masih bayi. Dia hanya mengalami shock ringan, jantung barunya masih perlu melakukan penyesuaian.”

“Baiklah,  kamsahamnida sonsaengnim.”

Karena ayah dan ibu Hyeri terlihat sangat lelah, Lay pun meminta mereka untuk beristirahat di rumahnya dan  kini hanya dia seorang diri yang menjaga Hyeri di ruangan yang berbau obat itu.

Sepanjang malam Lay menemani Hyeri yang tertidur di ranjang rumah sakit. Sesekali Lay mengusap lembut pipi Hyeri dan mendendangkan lagu-lagu kesukaan yeojanya itu.

“Lay…”

“Hyeri, kau sudah sadar?”

“Lay, aku ingin jalan-jalan keluar.”

Lay membawa Hyeri yang duduk di kursi rodanya menuju sebuah taman di rumah sakit yang mereka tempati saat ini. Setibanya di tempat itu, tiba-tiba Lay memulai pembicaraan yang membuat Hyeri sedikit tersentak.

“Aku ingin menjadi seorang Dokter spesialis jantung.”

“Mwo? Andwae! Menurutku, kamu lebih baik menjadi seorang penyanyi. Jangan sia-siakan bakatmu itu. Jangan jadikan aku sebagai alasan untuk merubah cita-citamu. Aku akan merasa sangat bersalah.”

“Aniyo… semuanya sudah kuputuskan. Ini keinginanku, Hyeri.”

“Tapi…”

“Sudahlah, mulai saat ini aku akan bekerja keras mewujudkan cita-citaku itu. Kau percaya kan kalau aku akan berhasil?”

“Ne…”

“Ini untukmu”

“Bunga matahari? Aku sangat suka bunga ini. Bunga matahari ini adalah simbol dari perasaan cinta yang kuat dan murni. Aku suka sekali aura dari bunga ini. Rasanya suasana menjadi sangat ceria kalau bunga ini sudah mekar.”

“Arasseo… arasseo…” Lay hanya bisa mengangguk sambil tersenyum mendengar penjelasan panjang dari kekasihnya itu.

“Darimana kau mendapatkannya Lay? Di daerah sini kan sangat langka.”

“Itu rahasia. Nanti kalau kau sudah sembuh total, aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang sangat indah. Kita akan menghabiskan waktu untuk bermain disana. Bagaimana? Apa kau mau?”

“Baiklah, aku akan menagih janjimu itu nanti. Gotjimalyoo! Oiya, aku punya satu permintaan padamu.”

“Apa itu? Katakan saja.”

“Aku tetap ingin kau juga menjadi seorang penyanyi.”

“Ige mwoya? Mana mungkin aku bekerja di dua tempat sekaligus. Jangan ngawur!”

“Siapa yang ngawur? Aku cuma ingin kau menjadi penyanyi pribadiku. Wee…”

“Ahahaha… memangnya aku mau? Wee”

“Iiihh… kau menyebalkan!”

Chup

Kecupan lembut mendarat di bibir mungil milik Hyeri dan itu membuat jantungnya kembali berdebar tidak karuan.

“Ya! ini ciuman pertamaku tahu! Seenaknya saja kau merebutnya saat aku tidak sadar! Heu… “ Gerutu Hyeri kesal.

“Jadi kau ingin melakukannya dengan kesadaran penuh? Ayo kita ulangi lagi kalau begitu.”

“Kau benar-benar menyebalkan Lay.” Kedua pipi Hyeri dibuat panas dan memerah oleh kata-kata yang diucapkan Lay barusan. Namja itu memang selalu saja membuat Hyeri semakin bermasalah dengan jantungnya.

Tanpa aba-aba terlebih dulu, Lay menarik tubuh Hyeri mendekat padanya dan membelai rambut panjang yeojanya itu dengan lembut sebelum akhirnya mereka menikmati perasaan bahagia di setiap sentuhan bibir keduanya yang saling bertautan.

~**~

“Lay… tempat ini benar – benar indah. Terima kasih sudah mengajakku kemari. Nae haengbokhae”

“Sesuai janjiku, ayo kita bermain sepuasnya di taman bunga matahari ini. Otte? Kau siap?”

“Ne…”

“Ayo kejar aku!”

Lay dan Hyeri terus berlarian di tengah hamparan bunga matahari dengan riang gembira. Semakin lama, matahari semakin terik dan itu membuat Hyeri  menghentikan larinya.

“Hah… hah… hah… aku lelah Lay.”

“Baiklah, kalau begitu duduklah di karpet ini. Aku sengaja membawanya agar kau tidak kedinginan.”

Lay menggelar karpet yang dibawanya, tapi gadisnya itu malah terus berdiri di hadapannya.

“Lay…” Hyeri menatap mata Lay begitu dalam.

“Hmmm?” Lay membalas tatapan Hyeri dengan senyuman yang sangat tulus.

Gadis itu menyandarkan kepalanya di dada Lay dan perlahan merapatkan seluruh tubuhnya sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang milik namja tampan di hadapannya itu.

“Saranghaeyo…” bisik Hyeri sambil memejamkan mata dan menenggelamkan dirinya dalam pelukan Lay.

“Nado Hyeri…”

“Gomawoo…”

“Cheonma… mau mendengarkan sebuah lagu dariku?”

“Eo! Ppalli!”

“Duduklah yang manis kalau begitu.”

Hari yang panjang itu mereka habiskan dengan penuh canda tawa. Alunan lagu dan gitar yang mengalun indah pun semakin menambah semaraknya rasa bahagia hati mereka berdua yang berbunga-bunga di siang musim panas kala itu.

Semua bunga di sekeliling mereka pun menjadi saksi betapa manisnya rasa cinta yang terpancar dari kedua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu.

Hyeri’s Side

Lay… jeongmal gomawoo… kau sudah mencintai perempuan lemah sepertiku ini. Kau adalah satu-satunya orang yang mampu membuat jantungku yang lemah ini berdetak cepat dan terasa hangat.

Kaulah satu-satunya orang yang selalu berhasil membuat pipiku terasa panas dan memerah setiap kali kau mengucapkan rayuan-rayuan konyol yang  bahkan aku pun tak pernah tahu darimana kau mendapatkannya.

Kaulah satu-satunya yang mampu menguasai seluruh bagian dari hati dan pikiranku. Satu-satunya yang tak akan pernah bisa terhapus dari memori hidupku.

Terima kasih atas semua cinta yang kau berikan padaku. Aku berjanji untuk selalu memberikan semua yang terbaik yang ada dalam diriku.

Cinta, kasih sayang, semuanya akan kuberikan hanya untukmu. Aku ingin membuatmu bahagia selamanya dengan semua yang kumiliki.

Aku ingin kau selalu tersenyum hanya karena dan untuk diriku.

Lay’s Side

Hyeri…

Aku berjanji akan selalu menjadi namja yang bisa kau andalkan, untuk melindungi dan membahagiankanmu. Tak akan pernah aku biarkan senyuman indah di bibirmu terhapus oleh kesedihan.

Akan ku jadikan kau wanita yang paling beruntung dan penuh kebahagiaan di sisiku.

Aku mencintaimu Kim Hyeri…

Selamanya…

~**~

Author’s Side

“Appa, ayo kita pergi. Hari ini kan hari ulang tahun eomma.” Seorang anak laki-laki berumur 6 tahun dengan semangat mengajak appanya.

“Ne… mana adikmu?”

“Hyejin-aah, ayo kita pergi sekarang!”

“Chankanman oppa!” Teriak seorang gadis kecil sambil berlari kecil ke arah oppa dan appanya.

Pagi itu Lay dan keluarganya pergi ke suatu tempat yang sangat indah. Tempat itu penuh dengan bunga matahari yang bermekaran. Bunga-bunga itu seakan menunjukkan aura kebahagiaan di musim panas tahun ini.

Setelah berjalan beberapa menit, Lay dan kedua anaknya meletakkan 3 tangkai bunga matahari di atas batu nisan seseorang. Tempat itulah yang mereka tuju. Tempat dimana orang yang mereka cintai berbaring dengan tenang untuk selamanya.

Lay kemudian berjongkok untuk menyentuh tempat peristirahatan kekasih hatinya itu.

“Hyeri-aah… cuaca hari ini sangat cerah. Bunga matahari kesukaanmu juga sudah bermekaran. Apa kau senang?”

Kedua anak yang berdiri di samping Lay hanya menatap ayahnya itu dengan tatapan sendu.

“Lihatlah, anak kita sudah besar. Mereka sudah tumbuh menjadi anak yang cantik dan tampan. Mereka juga anak yang sehat, pintar dan baik hati. Aku ayah yang hebat bukan?”

Lay perlahan menitikan air mata dan itu membuat kedua anaknya pun melakukan hal yang sama. Kedua anak itu memeluk ayahnya dengan erat sambil  menangis tersedu.

“Saranghaeyo Hyeri-aah… “ ucap Lay dengan suaranya yang parau.

“…”

Tak ada jawaban dari pernyataannya itu. Hanya ada semilir angin yang berhembus membawa aroma bunga matahari di sekelilingnya, menambah keheningan di tempat itu.

“Kenapa kau diam saja? Harusnya kau mengatakan ‘Nado saranghae’ chagiya.”

“Appa! Kajja! Jangan menagis terus, nanti eomma malah sedih disana. Sekarang aku sudah lapar appa. Eomma pasti mengatakan kata-kata itu ko, iya kan eomma?”

“Aish! Anakmu ini benar-benar mirip denganmu Hyeri. Dia selalu saja memarahiku. Ne… ne… kajja!”

“Appa… aku mau digendong.” Rengek putri kecil Lay.

“Aigoo… kemarilah putri appa yang cantik.”

“Kajja appa!” Anak sulung Lay terus menarik tangan kanan appanya menuju mobil yang mereka parkirkan tak jauh dari letak tempat peristirahatan Hyeri.

“Chankanman, kalian belum berpamitan dengan eomma kan?”

“Ah, ne… annyeong eomma… aku pasti datang kesini lagi mengunjungi eomma… eomma jangan khawatir ne… aku akan tumbuh menjadi namja yang tampan, pintar, kuat dan sehat untuk menjaga appa dan Hyejin. Aku janji eomma!”

“Haha… kau ini. Jaga janjimu itu Hyunki.” Lay mengusap puncak kepala anaknya dengan lembut.

“Ne, appa!”

“Hyejin, ayo pamit pada eomma.” Ujar Lay pada gadis kecil di pangkuannya.

“Annyeong eomma…. Saranghaeyoo.”

Lay dan kedua anaknya pun pergi meninggalkan Hyeri dengan senyuman di wajah mereka.

Annyeong…

Saranghaeyo Lay, Hyunki, Hyejin…

Finale

Huaaa… ko author bikin FF yang beginian ya? Mana ceritanya pendek pula. Haduuh… mian deh pokonya readers. Please jangan ngegebukin author, ampuun deh ampuun. Sequel yang ini terinspirasi abis beli kuwaci dan kebetulan nemu gambar bunga matahari hehe. Ga banget ya inspirasinya hohoho. Terus kalo buat judulnya itu, author milih bunga matahari karena nemu maknanya kayak gini readers:

Sunflower signifies pure thoughts. It symbolizes adoration and dedication.

It is symbolic of dedicated love.

Ga tau deh kena apa nggak sama ceritanya wkwkwk dasar author amatir kkkk 😀

Udah ah bacot author gak penting banget, mendingan langsung dikomen aja ya readers…

Selamat berkomen ria…

Peluk cium dri author mmuuaach#tendang author ke empang ^^

28 pemikiran pada “My Sunflower

  1. Thor…..astaga…..aku nangis sesenggukan baca ini…..ommo…..jinja…..berhasil banget bikin aku ngerasain gimana jadi lay sama hyerin…..aaaaaaaaaaa

  2. Ige mwoya?!
    Hyeri meninggal? Kasian Lay n anak2 nya T.T padahal anak mereka msih kecil2,,
    aigoo…pasti anak mereka pada manis2 kaya appanya,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s