Slave or Love? (Chapter 2)

Tittle       : Slave or Love ? Chapter 2

Author   : Double Kim (@mararatunss)

Cast        :  Kim Nayu (OC), Kim Jongin/Kai, Wu Yi Fan/Kris.

Genre     : Romance

Length   : Chaptered

Note     : Anyeong readers. Balik lagi sama chapter selanjutnya nih. Ada yg masih inget sama ff ini gak?-_- Maaf ya lama, FF ini emang ketunda banget hehe. Lagi males banyak omong jadi langsung baca aja deh. Mian kalo ada typo ada gaje. Don’t be silent readers oke? Yang gak komen ntar dicipokin sama si Kai lho (?)

“Masih ingat dengan ini, Kim Nayu?”

Pemilik suara bass itu menyodorkan tangannya padaku dan menaikkan sedikit lengan jas seragamnya. Dadaku sesak melihat pemandangan ini. Luka itu…

Nayu POV

Tubuhku bergetar hebat ketika melihat kembali luka itu. Luka yang selamanya hanya akan membuatku merasa bersalah. Sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa bahkan kali ini bernafas saja rasanya susah, tubuhku membatu. Ada apa ini? Rasanya ini begitu tiba-tiba sekali.

“Aigoo Kim Nayu, apa saat ini kau sedang berpura-pura amnesia? Seingatku dulu kau ini orang yang tidak mudah melupakan sesuatu, benar begitu?”

Kali ini Wufan sudah menempatkan dirinya duduk didepanku. Aigoo, melihat namja ini lagi rasanya seperti berada di neraka ah bahkan aku rasa lebih buruk dari neraka. Dia datang saja aura-aura setan sudah memenuhi ruangan ini. Ya tuhan kenapa kau pertemukan lagi aku dengan namja ini? Apakah dosaku sudah terlalu banyak padamu?

“Ya! Wufan, apa yang kau lakukan disini huh?!!” aku tersadar dari lamunanku dan malah membentaknya.

“Aku mau menagih hutangmu padaku!”

“Hutang apa? Aku tidak merasa punya hutang padamu”

Sekarang aku sadar satu hal, bahkan selama bertahun-tahun kami tidak bertemu dan sekarang kami berbicara satu sama lain, tidak ada sedikit pun rasa canggung didalamnya. Kami, masih sama. Masih seperti dulu.

“Jangan pura-pura bodoh! Aku rasa kau mengerti tujuanku kesini kan!”

Pletak!!!

Kupukul saja kepalanya dengan buku yang kupegang. Ish orang ini!  “Wufan! Itu sudah lama. Aku dan kau sekarang sudah bukan anak kecil lagi, kenapa tidak kau lupakan saja sih!”

“Aissh beraninya kau memukulku Nayu! Biarpun kita sudah besar, janji tetap janji!” ancamnya padaku.

“Aku tidak mau!”

“Mau tidak mau kau harus mau. Ini semua salahmu Nayu! Sekuat apapun kau mencoba kabur, kau tidak akan lepas dari rasa bersalahmu”

DEG!

Aku tersentak mendengarnya. Bertahun-tahun aku mencoba mengubur rasa bersalah itu, rasa bersalah yang sampai sekarangpun aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Dan sekarang apa? Dia kembali lagi? Baiklah mungkin setelah ini hari-hari kedepanku akan menjadi hari yang sangat memuakkan.

“Baiklah. Yang pertama jangan panggil aku Wufan, panggil aku Kris”

“Cih nama macam apa itu”

“Tidak ada komentar! Dan yang kedua. Mulai hari ini sampai seterusnya aku rasa kau tahu apa yang harus kau lakukan” ucapnya disertai dengan sebuah seringai yang cukup membuat bulu kudukku berdiri.

Setelah mengatakan itu semua dia pergi begitu saja meniggalkan aku yang masih merasa kesal. Pantas saja sedari pagi perasaanku tidak enak ternyata ada setan yang mulai masuk ke kehidupanku.  Tapi bertahun-tahun tidak bertemu dengannya ternyata tidak banyak yang berubah darinya, namja itu tetap saja seenaknya. Selalu menjalankan sesuatu dengan keinginannya sendiri. Yah apa boleh buat aku harus melakukan semua maunya.

Baiklah, kujelaskan. Wufan adalah teman kecilku saat di Canada dulu. Aku memang lahir di Canada karena saat itu appa sedang ditugaskan disana tapi kebangsaanku tetap Korea. Aku di Canada sampai umur 10 tahun dan saat umurku 5 tahun aku mengenal Wufan karena dia pindahan dari Cina. Semenjak itu kami selalu bermain bersama di taman kota. Wufan saat itu baik sekali, apa yang aku mau selalu dituruti olehnya. Persahabatan kami sangat indah dulu hingga pada satu kesalahan ah mungkin lebih tepatnya suatu ketidaksengajaan yang sangat fatal kulakukan padanya. Dan itu semua mengakibatkan hubungan kami tidak lagi seperti sahabat pada umumnya.

***

Aku sedang membereskan buku-bukuku karena bel pulang sekolah baru saja selesai. Untunglah hari ini aku tidak ada jam tambahan. Yah, menjadi murid kelas 3 SMA yang sebentar lagi akan lulus mengharuskan aku dan teman-teman lainnya mengikuti jam tambahan disekolah ini terlebih lagi ujian  akan dilaksanakan beberapa bulan lagi.

“Ku antar pulang ya?”

Jantungku hampir lepas dari tempatnya saat kulihat  Kai sudah berada disampingku dan sejak kapan Eunji sudah pergi meninggalkanku? Aish pasti ia terburu-buru menemui Luhan si pacar barunya itu sehingga lupa denganku. Awas saja kau Eunji.

“Ya! kenapa melamun huh? Ayo kita pulang” ajak Kai padaku.

“Kau tidak ada jam tambahan?” tanyaku padanya.

“Aniyo, hari kan kita sama-sama tidak ada jam tambahan”

Aku tersenyum dan kami melangkah meninggalkan kelas namun langkahku terhenti saat seseorang memanggilku ah tidak mungkin lebih tepatnya meneriakiku.

“Ya! Kim Nayu!!! Mau kemana kau hah?”

Kutengok kebelakang menemui asal suara itu. Aku bahkan lupa kalau si setan itu masih berada dikelas. Segera saja Wufan menghampiriku dan Kai. Dari sudut mataku aku tahu bahwa ada tatapan yang tajam nampak pada Kai, terlihat sekali dia tidak suka dengan si setan ini.

“Kau pulang bersamaku!” kata Wufan.

“Andwee! Aku pulang bersamanya” sergahku.

Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Wufan saat tiba-tiba dia langsung menarik genggaman tanganku dari Kai. Got it! Kali ini aku tahu bahwa ada setan yang sedang berusaha membangunkan iblis. Seketika itu juga Kai geram dan berusaha menggapaiku.

“Tidak bisakah sedikit sopan dengan yeojaku?” ucap Kai datar tapi tatapannya tajam pada Wufan. Ah ini seperti adegan di film-film romanis saat dua pria pria merebutkan seorang gadis.

“Ah Agassi sepertinya kita belum berkenalan. Aku Wufan, murid baru kau bisa memanggilku Kris. Dan tadi kau bilang apa? Dia yeojamu? Benarkah? Kalau begitu kita sama, dia juga yeojaku”

Aku membelalakan mataku saat mendengarnya. Mwo? Apa yang baru saja kau katakan Wufan!

“Ya! apa yang kau katakan huh? Sejak kapan aku yeojamu? Cih” teriakku.

“Sejak 11 tahun yang lalu. Mau apa kau huh?”

Ya tuhan aku rasa Wufan benar-benar sudah sakit jiwa. Dengan santainya dia berkata seperti itu didepan Kai, didepan namjachinguku? Rasanya jika membunuh itu tidak dosa sudah kubunuh setan yang satu ini.

“Berhenti bercanda, cepat lepaskan Nayu” kali ini Kai berkata seperti ingin membunuh orang saja. Dan aku bisa merasakan jika dia sekarang sedang menahan emosinya.

Kulihat Wufan mengeluarkan senyuman sinisnya pada Kai. Kemudian dia melepaskan cengkeramannya padaku.

“Nikmati waktu kalian berdua, karena kupastikan besok sudah tidak ada lagi momen-momen mesra seperti tadi pagi kulihat”

***

“Siapa namja itu?” kata Kai sambil menyetir mobilnya.

“Dia Wufan, teman kecilku dulu saat di kanada. Yang tadi dibicarakan olehnya jangan kau fikirkan dia memang sakit jiwa!” (Ya ampun thor Si Kris ganteng gitu dibilang sakit jiwa-_-)

“Benarkah hanya teman?”

“N-ne, wae?”

“Aku rasa dia bukan hanya sekedar teman”

“A-ani, dia memang hanya teman lamaku” jawabku dengan gugup.

“Baiklah. Hanya teman lamamu” katanya dengan nada yang sangat berbeda dari biasanya. Aku tahu ada sedikit emosi diucapannya tadi.

Aku membatu. Kenapa Kai bisa berbicara seyakin itu? Aku bingung telah ditempatkan disituasi seperti ini. Dan baru saja aku berbohong padanya bahwa Wufan hanya teman lamaku. Benar-benar teman lama. Jelas saja itu sebuah kenyataan yang salah. Huh.

***

“Wah Nayu kau tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik sekali ya”

Aku hanya tersenyum, sekarang aku dan keluargaku sedang di meja makan bersama dengan tamu spesial yang dimaksud eomma tadi pagi. Dugaanku benar, tamu itu adalah Wufan dan keluarganya dan yang barusan memujiku adalah eommanya Wufan.

“Nayu-ah, you and Wufan in the same school rite? He’s just get in the class today” jelas ayah Wufan dengan aksen inggrisnya. Ya, dia adalah orang Kanada asli. Yang kutahu dulu setelah orangtua Wufan menikah, mereka menetap di Cina di negera kelahiran eomma Wufan tapi saat Wufan berumur 5 tahun mereka pindah ke Kanada, entah apa alasannya aku tidak terlalu tahu.

“Yes uncle, we’re in the same class too” kataku sok manis. Kulihat senyum kemenangan terukir jelas diwajah Wufan.

“Well its good, aku jadi semakin tenang meninggalkan Wufan disini. Setidaknya ada kau yang akan selalu membantu Wufan belajar. Yah as you know he’s still lazy to study!”

Aku tersendak oleh makanan yang aku makan dan meminum air digelas yang ada dihadapanku. Apa katanya, meninggalkan Wufan?

“Maksud Uncle apa?”

“Nayu-ah, Kami akan kembali ke Cina karena bisnis kami disana tidak ada yang urus jadi Wufan akan sendiri di Korea” ujar Nyonya Wu.

“Tadinya eomma dan appa menyuruh Wufan untuk tinggal bersama kita tapi dia tidak mau” aku sedikit terkaget dengan ucapan appa yang mengajak Wufan tinggal dirumahku. Apa jadinya nanti jika dia tinggal dirumahku? Cih, untung saja namja pabo itu tidak mau. Yah setidaknya dengan begitu aku hanya akan bertemu dia di sekolah saja.

“Tapi aku janji akan sering-sering main kesini kok ahjumma, yah sekedar mengerjakan tugas bersama. Iya kan, Nayu?”

“Ehehe iya”

Aku hanya bisa menggerutu dalam hati ketika melihat senyumannya yang sok manis itu. Aku yakin betul dibalik senyuman itu ada rencana busuk yang sedang direncanakannya. Cih, melihatnya sok imut seperti itu membuatku semakin tidak nafsu makan saja.

***

Careless careless shoot anonymous anonymous.. Heartless mindless no one care about me..

Dering ponsel membuyarkan konsentrasiku yang sedang belajar, setelah kulihat siapa yang menelpon segera saja kutekan tombol hijau pada ponselku.

“Yoboseyo”

“Chagi kau sudah makan?”

“Aku rasa aku harus sudah terbiasa dengan pertanyaanmu itu haha aku sudah makan, kau?”

“Aniyo, mendengar suaramu saja aku sudah kenyang”

BLUSH!!!

Aku langsung merasakankan pipiku memerah setelah mendengar ucapannya barusan.

“Gombal!”

“Biarku tebak pasti kau sedang belajar? Aah aku selalu mengganggumu ya haha”

“Itu kan memang hobimu Kai“

“Sepertinya sekarang hobiku selalu berhubungan denganmu”

“Benarkah?”

“Ne. Nayu-ah”

“Waeyo Kai?”

“Saranghae”

“Ne, nado sa—-“

 

Belum juga aku menyelesaikan ucapanku tapi seseorang sudah mengambil alih ponselku dan mematikan telponnya begitu saja.

“Ya! Wufan, kau ini tidak sopan sekali sih!”

“Wae? Kau tidak suka? Huh?”

“Ish, sudah masuk kamar gadis tanpa mengetuk pintu dan kau dengan santainya mengambil ponselku. Kembalikan!” pintaku.

“Apakah harus aku mengetuk pintumu? Dulu saja aku masuk kamarmu saat kau sedang mandi kau tidak marah”

“Bodoh!!! Itu kan saat umurku masih 5 tahun. Cepat kembalikan ponselku!”

“Lalalalalala aku tidak dengar lalalala” cih, bertingkah seperti anak kecil saja namja ini.

“Kau menyebalkan Wufan!” Aku muak melihatnya dan segera saja aku beranjak dari meja belajarku.

DUARR!!!

Kututup pintu kamar mandi dengan keras. Ish, baru juga satu hari aku bertemu lagi dengannya sudah banyak ulah yang diperbuat olehnya. Bagaimana dengan hari-hariku kedepan? Ya tuhan, Kai pasti sekarang mengira aku yang memutuskan sambungannya.

***

“Bawa tasku, dan bola basketnya jangan lupa! Aish jinjja yang benar bawanya Kim Nayu!”

Seperti itulah yang sedari tadi masuk ke telingaku, sepanjang aku berjalan dikoridor aku sama sekali tidak memperdulikan tatapan-tatapan heran murid lain padaku. Siapa yang tidak heran, kemarin saat aku datang ke sekolah bagaikan romeo dan Juliet bersama Kai tapi hari ini? Ya Tuhan semua berubah 360 derajat. Siapa lagi kalau bukan karena si setan Cina itu. Pagi ini saat berangkat sekolah aku bagaikan upik abunya, membawa semua keperluannya.

“Tugasku pagi ini sudah selesai oke!”

Kutaruh tasnya dimeja belakangku dan setelah itu aku langsung duduk dikursiku. Dan yang kudapati adalah tatapan penuh tanya dari Eunji yang heran melihatku tingkahku yang seperti ini kepada Wufan yang jelas-jelas murid baru disekolah kami.

“Eunji-ah, nanti saja kujelaskan. Aku sedang bingung sekali”

Kutundukkan kepalaku sehingga membuatku menatap kebawah meja. Mencoba membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada hidupku.

“Nikmati waktu kalian berdua, karena kupastikan besok sudah tidak ada lagi momen-momen mesra seperti tadi pagi kulihat”

Kata-kata Wufan terbayang dipikiranku. Ternyata dia memang tidak pernah main-main dengan apa yang dikatakannya. Dimulai dari pagi ini, tidak bisa lagi aku rasakan sensasi seperti romeo dan Juliet ketika Kai menungguku didepan rumah, berangkat bersama lalu setelah sampai sekolah dengan bangganya dia menggenggam erat tanganku. Dan hari ini apa? Jam 5 pagi Wufan langsung masuk ke kamarku dan menyuruhku untuk segera rapi-rapi setelah itu membawaku ke apartemennya dan menyiapkan semua kebutuhannya di pagi hari. Membuat sarapan, menyiapkan buku-bukunya, dan setelah sampai sekolah dengan santainya dia menyuruhku membawa semuanya. Aaaah aku sekarang mengerti betul apa arti menyesal dari sebuah kesalahan di masa lalu.

***

Author POV

Kai sedang menunggu Nayu dipinggiran sungai Han. Tempat favorit mereka. Sebenarnya ada perasaan menjanggal pada Kai saat melihat sikap Nayu pada temannya, Wufan. Terlebih saat seminggu yang lalu ia ingin menjemput Nayu tapi eomma Nayu bilang dia sudah berangkat dengan Wufan. Saat itulah dadanya serasa sesak.

Ia memang menyesali dirinya bahwa dulu selalu bersikap cuek pada Nayu. Bukan tanpa alasan, sebenarnya Kai bersikap seperti itu hanya untuk meyakinkan perasaannya sendiri. Dulu saat menyatakan bahwa ia mencintai Nayu, sebenarnya didalam hatinya ia masih memiliki perasaan pada Soora. Mantan kekasihnya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, dan melihat betapa sabarnya Nayu terhadap sikap tidak peduli Kai, ia kini sadar bahwa yang saat ini Nayu sudah sukses membuatnya jatuh cinta.Tapi melihat kedatangan Wufan, ia merasa hubungan pertemanan Nayu-Wufan terlihat sangat aneh. Berbeda sekali dengan hubungan teman pada umumnya.

Dering ponsel milik Kai berbunyi sehingga membuat pemiliknya sontak mengangkat telepon itu.

“Yoboseyo, kau dimana? Aku sudah menunggumu lama”

“…”

“Seperti itukah?”

“…”

“Kita sudah tidak bertemu selama satu minggu Nayu”

“…”

“Nikmati saja waktumu!”

Kai menutup telponnya dengan penuh emosi. Lagi, Wufan menjadi alasan Kai tidak bisa bertemu dengannya dan ini semakin membuatnya heran. Bisa-bisanya namja yang hanya menjadi teman yeojachingunya itu lebih dipentingkan daripada dia sendiri yang sudah jelas-jelas namjachingunya.

“Seperti inikah perasaanmu dulu ketika aku tidak peduli padamu Nayu-ah? Padahal baru saja aku yakin bahwa hanya kaulah satu-satunya yeoja yang pantas untukkku”

Kai menarik nafas panjang dan menatap lurus kearah aliran sungai Han.

“ Baiklah, aku tidak akan membiarkan hal ini terus terjadi padaku” gumam Kai.

***

“Mau sampai kapan kau menyiksaku Wu Yi Fan!!!!!” teriak Nayu murka.

Buku-buku pelajaran didepannya membuat dia semakin jengkel. Terlebih yang diteriaki dari tadi hanya tiduran saja sambil menikmati permainan di PSP nya.

“Sudah jangan mengeluh. Itu hanya membuatmu semakin lelah”

Nayu menggerutu tidak jelas mendengar perkataan Wufan, ia kembali lagi dengan buku-buku didepannya. Menyalin sedemikian banyak catatan untuk seorang Wufan yang sudah seminggu ini menjadi murid baru dikelasnya. Benar kata appanya, ia masih sangat malas untuk belajar.

Sepintas bayangan Kai muncul dipikirannya. Sudah seminggu ia tidak bertemu dengan namjachingunya itu, selain karena Wufan yang selalu mengintimidasinya tapi juga karena ia tahu bahwa sekarang Kai sedang sibuk dengan acara Art Expo 3 bulan lagi, yaitu pada saat kelulusan. Haah sudahlah, sepertinya Nayu memang harus membiasakan diri lagi tanpa Kai.

“Wufan, kau kenapa pindah kesini sih? Padahal kan ujian tinggal sebentar lagi” kata Nayu sambil menyalin catatannya dibuku milik Wufan.

“Aku kuliah di Seoul, jadi mempermudah saja untuk pindah sekolah disini” jawab Wufan yang masih asik dengan PSPnya

“Menyusahkan. Membuatku menderita saja”

“Tidak lebih menderita daripada kau merasakan hampir mati, bukan?”

“Apakah masih sulit untukmu memaafkanku?” kali ini perbincangan mereka terlihat lebih serius.

“Benarkah kau mau mendapatkan maaf dariku?”

Nayu mengangguk mantap. Seketika itu juga Wufan menghentikan aktifitas gamesnya dan beranjak mendekati Nayu. Nayu yang sedang menyalin tulisan hanya bisa terkaget dengan tingkah Wufan yang tiba-tiba mendorongkan kebahu sofa dan mengunci tubuhnya dengan kedua kedua tangan Wufan.

“Ya! mau apa kau!” bentak Nayu.

Wufan hanya berseringai seperti biasanya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Nayu hingga kini jaraknya hanya sekitar 5 cm.

“Kau bilang tadi ingin mendapatkan maaf dariku bukan?” ucap Wufan, Nayu yang ditanya hanya bisa mengangguk. Ia gugup sekali dengan tingkah Wufan yang seperti ini. Ini jelas bukanlah Wufan yang biasanya. Bukan Wufan yang menyebalkan.

Wufan menatap mata Nayu dengan intens berusaha meyakinkan dirinya untuk mengatakan sesuatu.

“Aku tidak akan memaafkanmu” ucap Wufan disertai dengan seringainya.

“YA!!!! WU YI FAN KAU MENYEBALKAN!!!”

***

“Nayu-ah tolong berikan ini pada Kris yah”

“Nayu, titipkan ini untuk tuanmu”

“Nayu-ssi, kau kan budaknya jadi berikan hadiahku untuknya ya”

Nayu.. Nayu.. Nayu.. Yah begitulah yang daritadi masuk dikuping Nayu. Ia sudah mulai terbiasa dengan semua yeoja-yeoja di sekolahnya yang selalu menitipkan coklat, kue, dan berbagai jenis hadiah lainnya. Sebenarnya tidak terlalu buruk juga toh terkadang Wufan memberikan hadiahnya pada Nayu karena ia merasa tidak butuh tapi yang membuatnya muak adalah sebutan “Budak” untuknya.

Yah, baru juga satu minggu lebih Wufan pindah ke sekolah barunya ia sudah mendapatkan fans yang cukup banyak. Kemajuan bukan? Sedangkan Nayu, satu minggu ini telah merubah hidupnya. Intensitas bertemu dengan Kai semakin jarang bahkan hampir tidak pernah, terlebih Art Expo sebentar lagi dilaksanakan, dan bukan hanya itu sekarang sebutan “Kris maid” melekat betul pada dirinya. Bisa kalian bayangkan bagaimana Repotnya Nayu ketika harus membawa semua barang-barang milik Wufan atau bahkan membeli banyak makanan untuk Wufan dan Chaenyol dikelas ketika istirahat. Bukankah itu sebuah kemunduran bagi hidup Nayu? Jelas.

“Ini semua hadiah-hadiah dari fansmu. Cih, menyebalkan” ucap Nayu ketika ia sampai dimeja Wufan. Yang diajak berbicara hanya tersenyum bahagia melihat Nayu.

“Gomawo, jika kau mau ambil saja”

“Kali ini aku tidak sudi”

Nayu langsung duduk ditempat duduknya menemani Eunji yang sekarang sudah tahu betul apa hubungan Nayu-Wufan. Namun mata Nayu terbelalak ketika seseorang masuk dengan tampang yang sangat mengerikan. Sulit untuk dijelaskan lebih lanjut. Orang itu menghampiri Nayu dengan tatapan tajamnya dan sedetik kemudian dia sudah mencengkram tangan gadisnya itu untuk mengikutinya keluar.

“Kai-ah, sakit. Jangan seperti ini” rintih Nayu karena merasa cengkeraman Kai padanya sangat kencang.

“IKUT AKU!!!!” bentak Kai dan itu sukses membuat semua pasang mata dikelas tertuju pada Nayu dan Kai. Tidak terkecuali dengan Wufan. Ia yang paling emosi melihat pemandangan didepannya itu.

Sedangkan Nayu? Ini pertama kalinya ia melihat Kai membentaknya. Demi apapun ia lebih memilih Kai yang cuek padanya daripada Kai yang harus seperti ini. Menyakitkan.

TBC

Selesai. Gaje gak sih? kalo kata gua ini gaje banget lho, duh maaf banget yah readers. Komennya tetep ditunggu yah-___-

 

 

 

 

25 pemikiran pada “Slave or Love? (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s