Calling Out

Calling Out

 

Title                 : Calling Out (Melody of You)

Length             : OneShoot (?)

Rating             : PG-15

Genre              : Teen, Romance, Sad.

Author             : @indahwonwon

Main Cast        : Park YeongCha (OC)

Oh Sehun (EXO’s Sehun)

Disclaimers      : this story is pure from my imagination. And this fanfiction is dedicated to my Best Chingu as the main cast (Park YeongCha a.k.a @KEYPENTOK) hope you’ll like my story. I write it just for you & Sehunnie lol dan utk ide aku berhasil dpt ilham setelah denger lagu favorit dia yg ngingetin dia soal Sehun ^^

[A/N]               : Annyeoooooooong~ thanks for publishing my story. Ini ff dgn cast EXO pertama yang berhasil aku rampungkan dan akhirnya aku publish. Dan penulisan ff ini mungkin bisa dibilang pemecahan rekor baru aku dalam nulis, sekitar 4-5 jam dan berhasil rampung. Hopefully you like this story, i know i’m not pro but hope u love it. Like usual, i need your comment bcs your comment like Oxygen. Thanks before ^^

 

 

Calling Out

 

Seberkas cahaya mentari pagi yang temaram perlahan mencuri masuk melalui celah kecil di antara jendela yang ditutupi tirai berwarna gading. Cahayanya membelai wajahku yang pada akhirnya memilih mengalah dan terbangun dari tidur lelapku.

Aku menatap sekitar. Semua masih sama. Tetapi tidak dengan hatiku.

Aku memikirkanmu, bahkan setiap malam aku selalu memimpikanmu.

Memikirkan betapa manis senyumanmu memaksaku untuk ikut tersenyum.

Membentuk sebuah lengkungan simpul di wajahku.

Aku memeluk kedua kakiku meletakkan pipiku di atas lutut.

 

Pagi ini adalah musim semi pertama.  Aku memilih beranjak dari atas tempat tidur, perlahan berjalan menuju jendela dan membukanya lebar.

Ku biarkan terpaan udara pagi membelai wajahku.

Aku menghitup udara pagi sedalam-dalamnya hingga dadaku terasa terisi kembali.

Suara kicauan burung gereja yang bersahut-sahutan menambah kehangatan musim ini.

Namun aku sadar satu hal. Aku memiliki ruang kosong di sini, di hatiku.

Bahkan kehangatan musim semi tak cukup bisa menghangatkan hatiku yang sendiri.

Kau seperti menyisakan kesedihan dan kesepian di hatiku, di hari-hariku, di hidupku.

Namun, sekali lagi aku tetap bertahan disini, di jalan ini.

“YeongCha, kau tak pulang?”

“Sebentar lagi. Hari ini giliranku piket kelas.”

Aku menjawab pertanyaan Eunji, yang notabene teman sebangku ku sambil tetap sibuk merapikan buku-buku kedalam tas.

“Kalau begitu aku pulang duluan.”

“Ne, aku lihat Chanyeol sunbae sudah menunggumu di gerbang. Annyeong Eunji-ya.”

“Hehe, Annyeong YeongCha-ya.”

Kurang dari lima menit, Eunji telah sampai di depan gerbang menemui Chanyeol sunbae yang hampir setahun ini menjadi namjachingunya.

Aku mengambil sapu yang terletak di pojok ruangan dan mulai menyapu seluruh permukaan lantai kelas.

 

Sekitar tiga puluh menit seluruhnya telah tersapu bersih dan aku pun bermaksud untuk pulang.

Aku menyampirkan tas punggung berwarna coklat di bahu kananku sambil membawa bungkusan berisi sampah kelas seharian ini. Aku bermaksud membuangnya di tong sampah besar di ujung lorong. Namun, langkahku terhenti saat melewati ruang musik.

 

“Harusnya sekolah sudah sepi lima belas menit yang lalu.”

Aku bergumam pada diri sendiri.

 

Aku mengurungkan niat awal untuk segera pulang dan memilih untuk mengintip siapa yang masih berada di sekolah, lebih tepatnya ruang musik se sore ini.

 

Kreet..

 

Aku sedikit mendorong pintu ruang musik yang menyisakan celah kecil yang cukup untuk aku mengintip ke dalamnya. Suara dentuman piano yang mengalun dengan indah itu semakin terdengar. Bahkan dari jarak sedekat ini semakin terdengar sendu. Sejenak aku terpana dengan permainan piano seseorang yang berada di dalam.

 

“Siapa?”

 

Deg..

 

Seseorang itu menghentikan permainannya saat sepertinya ia menyadari aku telah mencuri dengar dari balik pintu. Aku terdiam mematung. Bermaksud untuk meranjak pergi tetapi tubuhku terasa kaku dan teramat sulit di gerakkan. Aku bisa mendengar langkahnya yang semakin mendekati ke arahku. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisku. Entah mengapa aku bisa merasa setakut ini ketahuan mencuri dengar. Dan.. Sedetik kemudian pintu ruang musik itu menjeblak terbuka.

“Ada perlu apa?”

Aku terpana menatap tubuh tinggi yang kini berada di hadapanku. Lidahku seperti kelu, aku terdiam membisu.

“Kau memata-mataiku, ha?”

Suaranya kembali terdengar, tetapi seperti tersihir. Aku hanya bisa terdiam menatap lurus ke wajahnya yang dingin.

Ia melambaikan tangannya di depan wajahku. Akhirnya aku kembali bisa menguasai diriku.

“Ah.. Mianhae, aku kebetulan lewat dan berhenti saat mendengarmu bermain piano.”

“Oh..”

Lelaki itu mengangguk paham kemudian berbalik menuju grand piano melanjutkan permainannya.

 

“Hmm.. Apa itu tadi The Four Season?”

 

Ia mengangguk sekilas, “Kau tahu?”

“Hmm.. Aku sangat suka musik klasik.”

Aku masih berdiri di ambang pintu yang kini terbuka lebar memperlihatkan interior ruang musik yang simple namun cukup elegan degan warna putih membalut seluruh dindingnya yang kontras dengan sebuah grand piano berwarna hitam mengkilap di tengah ruangan.

Lelaki itu kembali memainkan sebuah partitur lagu. Aku sangat familiar dengan alunannya. Aku melangkah mendekati grand piano. Menjatuhkan kantung berisi sampah di depan pintu.

“Kau tahu lagu itu?”

Ia berhenti memainkan tuts piano dan menatap kearahku dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Boleh aku..”

Ia menggeser tubuhnya sedikit ke kiri menyisakan celah di bangku. Ia menepuk celah pada bangku, menyuruhku duduk.

Aku mengikuti perintahnya. Menelusuri tuts-tuts piano dengan mataku kemudian mulai meletakkan jariku di atasnya.

 

Ting..

 

Bunyi dentingan pertama, yang berlanjut mengalun menjadi sebuah melodi indah. Namun hanya sepenggal lagu aku menghentikan menekan tuts-tuts piano.

“Aku tak bisa menyelesaikannya..”

Sekilas ia menatapku, sedetik kemudian ia kembali terfokus pada tuts-tuts piano memainkan kembali melodi yang terpotong. Aku memperhatikan permainannya dari jarak sedekat ini. Aku bagaikan tersihir. Ada perasaan hangat menjalari tubuhku. Aku terhanyut dalam melodi indah yang mengalun di sore yang temaram itu.

Ia mengakhiri permainannya dengan sempurna.

 

“Moonlight Sonata~”

 

“Aku, Sehun. Oh Sehun-imnida.”

Aku bertepuk tangan sekilas mengangguk-anggukkan kepala.

“Park YeongCha-imnida.”

Aku memamerkan senyum lebarku padanya dan secara sepihak menjabat tangannya. Awalnya ia masih terlihat sama, dingin. Namun, sedetik kemudian sebuah lengkungan terbentuk di sudut bibirnya. Sebuah seyuman simpul yang membuat tubuhku seperti tersengat listrik.

 

“Sepertinya kau masih punya satu pekerjaan yang belum selesai.”

Ia menunjuk ke arah pintu depan dengan pandangannya, menunjuk pada bungkusan berisi sampah yang aku jatuhkan begitu saja di depan pintu.

Senyumanku berubah menjadi cengiran salah tingkah. Aku beranjak dari kursi kemudian menundukkan badan.

“Maaf, aku permisi dulu..”

Aku sedikit berlari meraih bungkusan sampah bermaksud menghilang secepatnya menuju ujung lorong.

 

“Tunggu!”

Aku kembali memutar tubuhku menghadap lelaki misterius yang akhirnya aku ketahui namanya, Sehun. Aku memiringkan kepala binggung.

“Aku temani, aku juga sudah akan pulang.”

“Baiklah, terima kasih..”

Dua tahun berlalu sejak pertemuan pertamaku dengan dirimu. Semuanya terputar seperti sebuah film pendek. Berlalu lalang dipikiranku yang membangkitkan kembali kesedihanku.

Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat.

Apa tak ada lagi cinta yang tersisa di hatimu untukku. Bahkan berpikir untuk membencimu aku tak pernah. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu?

 

Satu..

 

Dua..

 

Tiga..

 

Setiap detik yang ku hitung berharap aku bisa kembali ke titik awal dimana kau masih disini.

Disisiku.

Menggenggam tanganku.

Menatap mataku.

Tersenyum untukku.

Tertawa padaku.

Berbagi keluh dan kesah bersama.

Dan bersandar padaku.

Kenangan yang kau torehkan untukku bagaikan bekas luka yang tak kian samar.

Apakah aku bisa membencimu?

Atau..

Rasa benci untukmu luluh dengan besarnya rasa cintaku untukmu?

“Annyeonghaseyo..”

“Oh kau, YeongCha-ssi. Kau bawa apa?”

Aku menyodorkan sebuah kertas berisi partitur lagu. Sehun menerimanya kemudian mulai terpekur memahami.

 

Hening sejenak..

 

“Fur Elise?”

Aku mengangguk mengiyakan. Meletakkan tas ransel berwarna coklat milikku di pinggir grand piano.

“Aku ingin kau memainkannya.”

Ia terdiam sesaat. Menarik nafas panjang dan mulai Meregangkan jari-jarinya sebelum akhirnya menyentuh tuts-tuts piano dan mulai terhanyut dalam permainan melodi yang menyaratkan sebuah makna. Matanya yang terpejam seperti ingin menyampaikan sesuatu yang sulit di pahami.

Sehun menyudahi permainannya sekali lagi dengan sempurna. Ia membuka matanya perlahan. Menatap padaku dan memberikan sebuah senyum.

“Luar biasa!”

Aku bertepuk tangan riuh sambil terseyum selebar mungkin.

“Improvisasi permainanmu bagus sekali. Walaupun itu terdengar lebih sendu. Aku suka!”

“Mau mencoba?”

Aku menganga menunjuk diri sendiri, “Aku?”

Ia mengangguk menyuruhku untuk duduk di sampingnya, di hadapan grand piano.

Dengan ragu aku mulai menyentuh tuts dengan jemariku.

Aku memusatkan pikiran, berkonsentrasi pada permainanku. Memulai memainkan melodi indah itu.

 

Satu..

 

Dua..

 

Tiga..

 

Aku mengakhiri permainanku. Walaupun tak seindah permainan Sehun.

Ia bertepuk tangan pelan. Yang membuatku menyunggingkan seyuman lebar.

“Kau ada kemajuan.”

Aku membulatkan kedua mataku tak percaya.

“Benarkan? Ah.. Senangnya. Kamsahamnida Oh Sehun-ssi.”

“Jangan terlalu formal padaku.”

Ia menjauh dari grand piano meraih tas sandangnya yang berwarna hitam di atas meja.

Aku menatap binggung padanya, menggaruk belakang kepalaku yang bahkan tak gatal.

“Panggil saja aku Sehun. Ok?”

Ia mulai berjalan Meninggalkan ruangan. Aku meraih cepat tas punggungku kemudian mengejarnya. Berusaha menyamakan langkahku dengannya.

“Sehun-ssi? Apa besok aku juga masih boleh kesini?”

“Ruangan itu milik sekolah. Jadi siapapun boleh memakainya.”

“Bukan begitu. Maksudku.. Apa aku masih boleh datang di saat kau sedang bermain?”

Ia tak menjawab. Hanya sebuah senyuman. Aku terpaku dan menghentikan langkah. Namun ia tetap berjalan dan mulai menjauhiku. Perlahan ku lihat punggungnya yang hampir jauh.

 

“Sehun-ssi! Gomawo!”

 

Aku berteriak sekeras mungkin.

Ia hanya mengacungkan jempolnya sebagai balasan dari teriakanku.

Tanpa aku sadari sebuah senyuman merekah di wajahku. Bahkan rasanya pipiku memanas. Aku menyentuh wajahku. Dan mulai tertawa kikuk.

Aneh..

 

Aku berlari di sepanjang koridor lantai dua. Menuruni tangga secepat yang aku bisa. Saat hampir mendekati ruangan itu aku berusaha menata nafasku. Membuatnya senormal mungkin. Hal ini sudah seperti kebiasaan untukku. Saat bel pulang berdering, aku akan keluar dari ruang kelas paling akhir dan menuju satu ruangan. Yap, ruang musik.

Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.

Aku menatap pintu itu, mencoba mendengarkan suara-suara dari dalam. Kemudian membukanya perlahan.

 

Kosong..

 

“Apa aku terlambat?”

Aku mengedarkan pandangan di setiap sudut ruangan. Ia tak ada. Atau ia sudah pulang.

Dengan langkah gontai aku meninggalkan ruangan musik. Sedikit kecewa karena hari ini aku tak bertemu Sehun dan tak bisa memintanya memainkan partitur yang aku bawa.

Langkahku terhenti tepat di depan lobi.

Hujan lebat.

Aku menghentakkan kaki dengan sedikit kesal.

“Pabo~ bagaimana bisa aku lupa membawa payung?”

Aku memukul-mukul kepalaku pelan dan kemudian menghembuskan nafas dengan berat.

Tadi pagi aku sempat melihat ramalan cuaca tetapi bodohnya aku lupa memasukkan payung ke dalam tas dan malah meninggalkannya di meja makan.

“Eomma pasti akan sangat marah karena kebodohanku.”

Aku menggerutu pada diri sendiri. Berusaha mencari cara untuk pulang tanpa harus basah.

Tetapi sesore ini sekolah sudah sepi dan seluruh siswa sudah di pastikan telah berada di rumah masing-masing apalagi di tengah musim hujan seperti ini.

“Sepertinya ini memang jalan satu-satunya! YeongCha fighting!”

Aku memasang ancang-ancang untuk berlari dan..

 

Tes..

 

Tes..

 

Tes..

 

Baru beberapa langkah meninggalkan lobi sekolah aku tak merasakan lagi tetesan hujan mengenai kepalaku. Aku menegadah mendapati sebuah payung berwarna putih yang memayungiku.

Aku menoleh menatap lengan yang memegangi payung putih itu.

“Sehun-ssi.. Aku pikir kau sudah pulang.”

“Bodoh, kau bisa sakit jika pulang hujan-hujanan begini. Pakai ini.”

Ia menyodorkan payung yang berada di genggamannya.

“Aniya, bagaimana denganmu. Kau juga bisa sakit.”

“Biar ku antar kau sampai ke rumah!”

Aku hanya mengangguk megiyakan. Aku takut berkomentar apapun. Tatapan Sehun kali ini jauh lebih misterius. Membuatku tak sanggup berkutik apalagi melawan.

“Gomawo Sehun-ssi..”

 

Aku dan Sehun, kami berjalan beriringan menuju rumahku. Masih bersikukuh dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

 

“Kau suka hujan?”

Sehun memecah kesunyian. Suaranya terdengar lembut di tengah gemericik hujan yang menerpa payung.

“Aku tak begitu menyukainya. Aku lebih suka musim semi.”

“Menurutku hujan itu unik.”

“Apa yang unik? Saat hujan kau tak bisa berlari-lari sesukamu. Saat hujan itu sepi. Orang-orang lebih memilih berada di rumah mereka. Dan saat hujan disaat itulah sisi asli seseorang terlihat. Mereka egois.”

“Menurutku hujan itu memiliki iramanya sendiri. Seperti sekarang.. Coba kau dengarkan baik-baik!”

Aku mengikutinya, menepi di sebuah halte bus.

Ia menutup matanya dan menjulurkan tangannya membiarkannya terkena hujan.

Wajahnya bahkan kini terlihat lebih polos. Tanpa beban. Berbeda seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya.

“Sehun-ssi, kau sedang apa?”

“Kesini, coba rasakan sendiri irama hujan. Kau pasti akan suka.”

Aku mengikutinya. Menirukan apa yang barusan ia lakukan. Perlahan aku memejamkan mataku.

 

Hening..

 

Hanya keheningan yang kurasakan. Hatiku tentram.

 

Tes..

 

Tes..

 

Tes..

 

Titik-titik hujan yang jatuh menyentuh tanganku memberikan ketentraman tersendiri yang membuatku merasakan hal baru saat bersamanya.

 

“Bagaimana?”

Ia menyadarkanku. Aku menarik lenganku dan kemudian membuka mata.

“Mungkin aku mulai sedikit menyukai hujan..”

Ia kembali menatap ke arahku. Kali ini tepat di mataku. Rasanya kedua pipiku mulai bersemu. Ia hanya tertawa renyah dan menepuk-nepuk kepalaku lembut.

Saat hujan turun adalah saat yang paling ku tunggu namun juga menjadi saat paling menyakitkan untukku.

Karenamu, aku menyukai hujan.

Dan karenamu pula hujan mengingatkanku tentangmu.

Aku berusaha menahan tangis saat melihat hujan.

Rintik hujan seperti membisikan namamu di telingaku berulang-ulang dan itu membuat hatiku kian perih.

Aku berusaha mengabaikan, tetapi hujan menahanku.

Aku tak pernah bisa melewatkan saat hujan turun.

Aku menyukai irama yang mereka ciptakan.

Itupun karenamu.

Tetapi aku benci karena hujan membuatku mengingat tentang betapa aku mencintaimu.

Aku berusaha tersenyum. Menahan air mata yang hampir tumpah. Tetapi rasanya sangat sulit.

Kegigihanku kalah dengan derasnya rintik hujan.

Air mataku turun seiring dengan gemericik hujan yang menyentuh tanah.

Aku berusaha meneriakkan namamu sekencang yang ku bisa.

Hingga suaraku hilang di telan derasnya deru hujan.

“Sehun-ssi, ada perlu apa?”

Aku sedikit terkesiap saat melihat ia menunggu di depan pintu kelasku bahkan sudah setengah jam berlalu dari jam pulang sekolah.

“Aku hanya ingin menunggu saja.”

Ia berdiri menyandar pada tembok sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.

“Apa hari ini kau punya lagu baru?”

Aku bertanya sambil memberikan sebuah senyuman padanya. Ia menyerahkan secarik kertas padaku. Aku menerimannya dan sedetik kemudian membukanya.

“Partitur ini..”

“Aku ingin kali ini kau yang memainkannya.”

“Sehun-ssi aku tidak bisa..”

“Ikut aku!”

 

Sekarang, di ruang musik. Aku dan Sehun seperti biasa menghabiskan waktu dengan bermain piano. Namun kali ini bukan Sehun yang akan bermain. Tetapi ia memaksaku untuk memainkan Sebuah partitur.

Perlahan aku mulai duduk di hadapan grand piano dan menelusuri partitur pemberian Sehun.

Jemariku mulai menyentuh tuts piano. Dan.. Melodi itu mengalun indah.

 

Ting..

 

Ting..

 

Ting..

 

Aku mengakhiri permainan soloku dengan penuh penghayatan. Aku seperti merasakan perasan hangat saat memainkannya. Lagu yang asing tetapi ada makna di dalamnya.

“Aku membuatnya sendiri. Butuh nyaris setengah tahun untuk menyempurnakannya.”

Sehun bicara padaku namun tanpa menatap ke arahku.

“Kalau aku boleh tahu, apa ada arti tersendiri dari lagu gubahanmu ini?”

Aku menegadah berusaha menatapnya walaupun ia memalingkan wajahnya ke arah lain.

 

“Untukmu..”

Sehun menyerahkan partitur tadi padaku saat aku hendak mengembalikannya.

Aku menggeleng. Aku tak paham dan aku juga tak mengerti mengapa ia memberikanku lagu hasil gubahannya.

 

“Spring, Cherry Blossom and You..”

 

Aku menerima kertas berisi partitur itu. Menimangnya sesaat.

“Lagu itu menceritakan tentang aku dan perasaanku.”

Aku masih tak mengerti kemana arah pembicaraan Sehun. Cukup lama kami terdiam. Memberikan waktu pada pikiran masing-masing.

Perlahan ia mulai menggenggam jemariku. Ada rasa kikuk saat ia menyentuh tanganku.

Ia menarik nafas panjang sebelum menghembuskannya perlahan.

 

“Aku.. Menyukaimu.”

 

Rasanya seperti ribuan kupu-kupu menari di perutku. Ada rasa menggelitik saat ia menyatakn cinta.

Hatiku bergemuruh dan berdetak kian cepat.

Pipiku kian bersemu merah dan aku hanya sanggup menundukkan wajahku.

Lidahku seolah kelu.

Aku hanya terpaku tanpa berkutik.

 

“Nado..”

 

Aku bisa mengingat setiap kenangan manis saat kau dan aku bersama.

Aku ingat setiap senyumanmu padaku.

Setiap tatapan mata indahmu padaku.

Aku bahagia setiap melihatmu memainkan piano mendentingkan melodi-melodi indah untukku.

Aku mencintaimu seperti aku mencintai musik.

Mereka seperti nyawa bagiku, setiap dentingannya memacu jantungku untuk tetap berdetak.

Begitu pula dirimu.

Membuatku lebih memiliki makna menatap hariku.

Cintamu yang menguatkanku.

Kau seolah menopang setiap langkahku.

Dan aku merasa beruntung bisa di cinta dan mencintaimu.

“Jika nanti aku bisa menjadi pianist profesional aku ingin kau berdiri di sampingku dan mendampingiku sebagai nyonya Oh Sehun.”

Seketika pipiku bersemu merah mendengar penuturannya.

“Ya! Sehun-ah jangan menggodaku terus.”

Aku memukul pelan lengannya.

“Aku suka pipimu yang bersemu saat kau tersipu. Itu cantik.”

Sehun menyentuh lembut rambutku. Memainkan ujung-ujungnya di jemarinya.

“Sehun-ah, saat nanti kita lulus. Apa kau akan melanjutkan sekolahmu ke luar sana?”

“Sepertinya begitu. Aku punya mimpi menjadi seorang pianist besar jadi aku harus mengejar mimpiku itu. Wae?”

“Aniya, aku akan mendukungmu. Karena aku sayang padamu.”

“Gomawo.. Aku juga sangat menyayangimu.”

Sehun mengecup lembut puncak kepalaku yang membuat pipiku kembali bersemu merah.

“Ya! Oh Sehun jangan begini. Aku malu!”

 

 

 

Satu tahun kemudian..

 

“Sehunnie, aku kembali..”

Sayup-sayup aku mendengar suara seorang gadis dari dalam ruang musik. Aku mengintip dari celah pintu.

 

Prang..

 

Aku menjatuhkan miniatur piano yang sudah susah payah aku buat untuk Sehun. Namun semuanya hancur berkeping-keping saat aku melihatnya.

Sehun memeluk erat seorang gadis bahkan dengan berlinang air mata dan dari tatapan mereka menyiratkan kerinduan mendalam.

Siapa gadis itu?

Apakah gadis itu adalah sosok penting untuknya?

Apakah setiap dentingan sendu itu ia mainkan untuk gadis itu?

Apakah setiap tatapan kesedihan itu karena gadis itu?

 

“Kau kemana saja? Aku merindukanmu..”

Bahkan dari sini aku bisa mendengar betapa lirih suara Sehun saat berucap pada gadis itu.

“Maaf karena aku sempat meninggalkanmu. Tapi kini aku kembali, kan?”

“Jangan pergi lagi.. Rena-ya!”

Pelukan Sehun pada gadis itu kian erat. Rasanya hatiku perih teriris.

Bodohnya aku masih terpaku berdiri di sana, tanpa melakukan apapun. Bahkan beranjak barang selangkah aku tak bisa.

 

“Rena-ya.. Aku masih menunggu hatimu..”

 

Deg..

 

Sepatah kata dari Sehun barusan bagaikan topan yang menporah-porandahkan hatiku. Rasanya hancur berkeping-keping.

 

“Nado..”

 

Gadis itu menatap Sehun lamat, kemudian mengecup pipinya lembut.

 

Tes..

 

Setetes air mata mengaliri pipiku. Hatiku kebas. Rasanya ada ribuan pisau yang menghujamku.

Secepat mungkin aku berlari menjauh dari sana. Meninggalkan tempat itu. Meninggalkan mereka bersama rasa sakit di hatiku.

Aku terus berlari tanpa mempedulikan kemana langkah membawaku. Air mata yang kini mengalir kian deras tak kupedulikan.

Yang ada dalam kepalaku kini hanya menjauh dari sana dan menyingkirkan pikiran tentang Sehun dan gadisnya yang kembali.

Jadi selama ini aku hanya pengobat luka hatinya.

Dan setiap melodi itu adalah milik gadis itu bukan untukku.

Atau mungkin bahkan lagu gubahan itu bukan untukku?

Aku bahkan baru sadar aku bukanlah apa-apa.

Banyak cara yang aku lakukan. Aku harus melupakanmu.

Melenyapkanmu dari setiap lembaran ingatanku.

Karenamu aku merasakan bagaimana dicintai.

Dan karenamu pula aku merasakan bagaimana tersakiti.

Aku hanya bisa mengigit bibirku saat mengingat kau mencampakkanku dan memilihnya yang lebih bisa mewujudkan mimpimu.

Aku baru sadar betapa bodohnya aku saat..

Ia telah tak berada di sisiku.

Aku bahkan baru menyadari betapa aku mencintainya.

Dan hanya dia satu-satunya yang sangat aku cintai.

END (?)

Oke, thanks for reading my story guys. Hope u enjoy it. I dunno it will end sampai disini atau akan ada sequel. Itu tergantung masukan dan comment dari kalian para reader. Jeongmal gomawo for reading my story till the end ^^ *deep bow*

Iklan

60 pemikiran pada “Calling Out

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s