Our Love (Immortal)

Tittle                     : Our Love (Immortal)

Author                 : Sayuri

Cast                     :

  • Ø Im Seun Ri
  • Ø Kim Jong In (Kai EXO K)

Sub Cast             :

  • Ø Kris (EXO M) as Seun Ri’s appa
  • Ø YoonA (SNSD) as Seun Ri’s eomma
  • Ø Do Kyung Soo (EXO K) as Seun Ri’s oppa
  • Ø SuHo (EXO K) as Jong In’s appa
  • Ø SeoHyun (SNSD) as Jong In’s eomma
  • Ø Tao (EXO M)

Genre                  : Sad, Romance, Fantasy (aku gak tau bisa disebut                         fantasy ato gak) XD

Length                 : Oneshoot

Backsounds       : Jang Nara ~ I only think of you, Katy Perry ~ The one thet got away, Celine Dion ~ Immortality. *author maruk. -_-

 

FF keduaku yang telah aku rilis. *jjiiah kayak album aja. Tolong RLC yak, bukan RCL. XD (Read Like Coment). Karena setiap kritikan yang membangun akan membuat kita lebih baik. XD . Mianhae yah kalo gak asik n banyak typo. FF ini terinspirasi dari lagunya Katy Perry yang The One That Got Away n Celine Dion yang Immortality (pada tau gak readers?). yah, langsung aja deh. Selamat membaca. ^ ^ . *bow bareng Chanie oppa. ^^

Our Love (Immortal)

 

Talk about our future
like we had a clue
Never plan that one day
I’d be losing you

And in another life
I would be your husband
We keep all our promises
Be us against the world

And in another life
I would make you stay
So I don’t have to say
You were the one that got away
The one that got away

@@@

(Seun Ri pov)

“Hey,, ada dimana aku…” tanyaku saat mataku terbuka. Disaat kubuka mataku, rasanya mata ini berat sekali untuk terbuka. Kenapa rasanya aku telah tidur lama sekali. “Ini bukan kamarku, lalu aku dimana?” tanyaku yang masih bingung ini menyadari bahwa langit-langit di ruangan ini tidak seperti di kamarku. Langit-langit ruangan ini seperti di… rumah sakit. Yah, rumah sakit… ‘apakah aku di rumah sakit?’ tanyaku dalam hati dengan menebar pandanganku keseluruh ruangan ini. Ini benar-benar ruang perawatan di rumah sakit, tepatnya di ruang ICU. Aku mencoba untuk bangun, rasanya tubuh ini ringan sekali, tidak seperti biasanya. “Apakah berat badanku turun? Hingga aku merasa seringan ini?” tanyaku heran pada diriku sendiri.

 

“Eomma….” ucapku yang agak terkejut menyadari ada seorang wanita tertidur disampingku dengan posisi duduk dan kepala disandarkan di tempat tidurku. Namun kenapa eomma tidak bangun saat aku memanggilnya? Aku heran, bingung. Lalu tiba-tiba pintu ruangan terbuka. “Appa…” ucapku dengan nada sumringah saat kulihat sosok pria dengan membawa sekantung plastik, yang mungkin berisi makanan, yang masuk kedalam adalah appaku. Namun lagi-lagi appa tidak mendengar sapaanku. ‘Ada apa ini?” tanyaku bingung. “Apa suaraku kurang keras? Atau appa sekarang sudah tuli?” tanyaku pada diriku sendiri. ‘ah,, tidak mungkin appaku yang super tampan ini tuli. Anak macam apa aku ini. Mengatakan appanya yang normal itu tuli. Ugrhhh..’ gerutuku pada diriku sendiri. Bukan hanya tidak mendengar sapaanku, tapi appa tidak menyadari bahwa aku sudah bangun. Apa dia tidak melihatku? Yah, kurasa dia memang tidak melihatku. Aku melihat tatapan matanya kosong dan hanya kesedihan. Tapi kesedihan apa?? Sedih karena apa? Aku yang sedari tadi bingung kini ditambah bingung dan tak ada yang bisa menjawab pertanyaanku.

 

Disaat aku hendak bangun dan turun dari tempat tidur ini dan menghampiri appa. Tiba-tiba appa berteriak memanggil namaku. “Seun Ri!!!!!…” teriakan appa yang keras itu membangunkan eomma yang sedari tadi tidur menjagaku. Kantung plastik yang tadi dibawa appa berjatuhan, berhamburan di lantai. “Appa!! Waeyeo???” tanya eomma panik saat melihat appa. Namun appa tak mempedulikan pertanyaan eomma, dia langsung pergi keluar. Saat melihat appa yang super panik itu eomma melihat alat pendeteksi detak jantung. “Eomma!!! Eomma!!! Aku disini. Eomma!!! Lihat aku!!! Eomma!!!” teriakku pada eomma. Namun eomma benar-benar tidak mendengarku. “Tttiiiiittttt….” terdengar suara dari alat itu yang menandakan detak jantung sang pasien itu sudah tidak ada. Aku mencoba memegang pundak eomma. “Yaa!!! ada apa ini? Apa yang terjadi denganku??” tanyaku yang lebih panik lagi disaat menyadari tanganku tembus saat ingin memegang pundak eomma. Eomma terlihat sangat panik saat melihat alat pendeteksi jantung itu. Panik. Diruangan ini penuh dengan kata panik.

 

“Hey.. alat itu terhubung dengan tubuhku” ucapku pada diriku sendiri. Lalu disaat aku menoleh kebelakang. “Kyyyaaa!!!! Gadis ini mirip denganku!!!” teriakku yang tidak mungkin terdengar oleh eomma. Aku tersentak, lalu kuamati wajah gadis ini. “Ini benar-benar aku. Apa aku sudah mati? Tuhan kenapa Kau lakukan ini padaku? Aku tidak ingin meninggalkan keluargaku yang sangat aku cintai, aku juga tidak ingin meninggalkan namja yang teramat aku cinta pula yang akan jadi suamiku 3 hari lagi” ucapku lirih, rasanya seluruh tubuh ini lemas, tak berdaya. “Aku memang sudah mati…” ucapku dengan berlinang air mata. Disaat itu pula appa datang dengan seorang dokter dan seorang perawat. Aku turun dari tempat tidurku sekarang, melihat tubuhku yang tertidur lemas tak berdaya dengan selang udara dihidungnya dan berbagai alat pengobatan lain. Tubuhku itu akan tertidur untuk selama-lamanya. Aku masih tak percaya dengan keadaan ini.

 

 

(Flashback)

 

(Seun Ri pov)

 

“Anhi, aku bisa berangkat sendiri oppa. Oppa tidak perlu mengantarku” ucapku pada Jong In oppa melalui ponsel itu. Terjadi perdebatan sedikit memang, dengan mempersoalkan aku yang saat ini ingin pergi ke kampus sendiri menggunakan mobil, yang biasanya selalu diantar Kyung Soo oppa atau Jong In oppa. Namun karena Kyung Soo oppa sudah pergi dari tadi jadi aku memustukan untuk menyetir sendiri daripada menunggu jemputan Jong In oppa. Jong In oppa memang selalu perhatian padaku. “Ne, tentu saja aku akan hati-hati. Bye oppa!” lanjutku dengan senyum yang terkembang di wajahku. “Love you too…” yang terakhir itu adalah sapaan setiap kami mengakhiri percakapan di telfon. Aku segera keluar dari kamar dan menuju lantai bawah untuk segera bersiap-siap pergi ke kampus.

 

“Eomma, Appa, aku berangkat dulu yah..” ucapku pada Eomma dan Appa yang selalu terlihat mesra jika sedang ada waktu untuk bersama. “Hati-hati dijalan chagi….” ucap mereka berdua. “Ne…” kataku yang langsung menuju keluar rumah setelah berpamitan dengan mereka.

 

“Untung saja jalanan hari ini dan pada jam ini tidak ramai” ucapku setelah hampir setengah perjalanan aku mengendarai mobil.

 

Careless, careless. Shoot anonymous, anonymous.

Heartless, mindless. No one, who care about me?

 

Handphoneku berdering, saat itu pula kuraih handphoneku di saku celanaku. Ternyata Jong In oppa yang mengirim pesan. Isinya hanya pesan yang menyuruhku berhati-hati. Ah, oppaku ini memang sayang sekali kepadaku. Namun disaat konsentrasiku terbagi antara menyetir dan melihat pesan di handphone tiba-tiba…

 

WWHUUZZZZ………..

 

Mobil yang mendahului truk didepanku itu melaju kencang kearahku. Ini adalah jalan 2 arah, tidak seharusnya mobil itu mendahului truk tanpa melihat mobil yang melaju dengan arah belawanan yang menujunya. Aku terhantak, aku kaget dan bingung harus melakukan apa. Sudah tidak ada kesempatan untuk menghindar. Dan….

 

BRUUUGGGGG……..

 

Mobil itu menabrak mobilku. Terdengar suara injakan rem yang sangat keras. Namun apa daya, kecelakaan tak dapat dihindar. Disaat mobil itu mendekat, mataku terasa berat, semua terlihat hitam, suram.

 

 

(End Flashback)

 

 (Seun Ri pov)

 

“Eomma!!! Appa!!!” teriakku yang ada disamping mereka namun mereka tidak menyadarinya. Yah, karena aku hanyalah roh, bukan manusia lagi. Dokter itupun mencoba memeriksaku menggunakan alat-alat yang tersedia. Namun itu hanyalah percuma karena Tuhan sudah mentakdirkan aku mati. Dokter itu masih berusaha menyelamatkan nyawaku, hingga dia putus asa. “Tuan Kris, ma’afkan saya. Saya sudah berusaha sekuat tenaga saya, namun Tuhan berkehendak lain” ucap dokter itu menyesal. Appa hanya tertunduk lemas, sepertinya appa sudah tau kalau aku akan meninggalkan mereka lebih dulu. “Anhi!!! tidak mungkin dokter!!! coba dokter periksa lagi. Dokter , tolong kami. Tolong selamatkan nyawa anak kami…..” ucap eomma yang histeris dan memohon pada dokter itu. Namun dokter hanya menggeleng “Jeongmal mianhae Nyonya” ucap dokter tersebut. Eomma menangis histeris, apppa hanya bisa memeluknya dan menenangkannya. “Chagi, relakanlah kepergian anak kita. Ini sudah menjadi kehendak Tuhan.” Ucap appa mencoba menghadapi cobaan yang tiba-tiba datang ini dengan tegar. Namun eomma tidak menjawab, dia hanya bisa menangis dan menangis. Aku yang melihat mereka menangispun tak kalah sedihnya.

 

Disaat yang mengharukan itu belum selesai, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka kembali. Dan terlihat dua orang namja. “Oppa…” ucapku yang masih berlinang air mata saat menyadari dua orang namja itu adalah kakak dan calon suami yang teramat aku cintai. Mereka adalah Kyung Soo, kakakku yang paling baik sedunia, yang selalu membantu tugas-tugasku dan calon suamiku Kim Jong In adalah namja yang menurutku paling pengertian didunia ini yang selalu menuruti keinginanku meski aku tidak banyak meminta. Bruggg… terlihat rangkaian bunga mawar merah itu jatuh dari tangan Jong In. Dan terlihat mata Kyung Soo oppa yang sudah membulat melihat keadaanku kini.

@@@

(Jong In pov)

 

Jllleepppp……

 

Apa yang aku lihat saat ini, tubuhku rasanya lemas sekali. Bibirku terasa berat untuk kugerakkan. Hatiku rasanya tertusuk beribu jarum, pisau, pedang dan benda tajam lainnya. *kebanyakan thor!. ‘Pemandangan macam apa ini? Hah??’ ucapku pada diriku sendiri. Disaat kurasakan kaki ini bisa melangkah, aku berlari menuju tubuh Seun Ri yang  terkapar lemah tak berdaya diatas tempat tidur putih itu. “Seun Ri!!!!!……” teriakku histeris sambil menggerakkan tubuhnya itu. Namun ia tak bangun juga. “Seun Ri! Bangun!! Bangun!! Kau tak boleh tidur berlama-lama! Kita akan menikah. Kau ingat itu kan? Seun Ri! Kita akan bersama-sama selamanya. Jadi jangan tinggalkan aku. Tetaplah disini. Kita akan menikah chagi, gaun pengantinmu sudah jadi. Ayo bangun! Aku ingin melihat kau dengan gaun pengantin itu. Bangun Seun Ri!! Seun Ri bangun!!!! Seun Riiiii!!!!!!!” teriakku sejadi-jadinya dengan menggerak-gerakkan tubuh mungilnya, aku tak mempedulikan pasien yang ada diruang sebelah. Biar semua orang tau, biar pasien yang awalnya koma mungkin akan bangun setelah mendengar teriakanku. *author ngaco. Namun apa daya, dia tak bangun juga, aku menangis, menangis. Baru pertama kali ini aku menangis histeris seperti ini. Aku teriak, aku tak sadar atas apa yang kulakukan. Aku hanya ingin Seun Ri bangun, itu saja. Aku memeluk tubuh mungil ini, terasa dingin, tidak seperti biasanya. Aku merasakan pelukan ini hampa, hambar. Yah, itu karena dia sudah tidak ada. Aku belum pernah merasakan sesakit ini, sakit ditinggal yeoja yang teramat sangat aku cinta. Yeoja yang akan jadi istriku, pendamping hidupku, ibu dari anak-anakku kelak. Namun sekarang harapan yang sudah aku impikan selama ini akan musnah begitu saja. Dia sudah pergi, meninggalkanku sendiri tanpa senyum manisnya lagi. Aku pasti akan sangat merindukannya, merindukan wajah itu, senyum itu, tangisan itu, tangan yang lembut itu. Aku akan merindukan semua yang ada padanya, kenangan yang pernah kami buat selama 5 tahun lamanya. “Jong In-ah, tenanglah. Sabar yahh…” ucap Kyung Soo lirih yang ada disampingku sambil menepuk pundakku. “Aku juga merasa sangat kehilangan dia. Bahkan kebih dari yang kau rasakan saat ini. Aku kakaknya, aku sudah bersama dengan dia selama 20 tahun. Aku tahu kau pasti sakit dan sulit menerima kenyataan, tapi mengertilah Jong In-ah, Tuhan sudah berkehendak lain. Mungkin ini yang terbaik untuk kita semua. Untukmu dan Seun Ri.” Ucapnya sembari menenangkanku. Namun aku masih belum bisa berfikir jernih. Rasanya hari ini adalah hari terburukku. Bagaimana tidak? 3 hari lagi kami akan menikah, namun pengantin wanitaku sudah pergi dulu. Meninggalkanku, meninggalkan pernikahan kami, meninggalkan kami semua.

 

“Ini semua salahku, tidak seharusnya aku membiarkannya pergi sendiri dan mengalami kecelakaan tragis itu” ucapku penuh dengan nada penyesalan. “andai saja aku yang mengantarnya, dia pasti akan baik-baik saja.” Lanjutku. “Anhi, ini bukan salahmu Jong In-ah. Ini semua sudah takdir Tuhan. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.” Ucap Kyung Soo yang merupakan sahabatku sejak lama ini menenangkanku. Aku hanya terdiam, tak mampu menjawab ucapan Kyung Soo. Kyung Soo benar, namun aku tak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri. Bagiku, Seun Ri meninggal itu karena aku.

 

“Seun Ri, kenapa kau tega melakukan ini padaku? Waeyeo?” tanyaku lirih sambil memegangi tangan Seun Ri yang pasti tidak akan dijawabnya. Atau mungkin rohnya mendengar apa yang aku katakan lalu menjawabnya namun aku tak mengetahuinya.

 

(Seun Ri pov)

 

“Jeongmal mianhae oppa,, aku sebenarnya juga tidak tega melakukan ini padamu. Namun ini sudah Takdir, Tuhan menginginkan aku menghadap-Nya lebih dulu. Mungkin ini memang yang terbaik, seperti kata Kyung Soo oppa. Tenaglah oppa, lepaskanlah.. Tolong lepaskan kepergianku. Tersenyumlah, aku ingin sekali melihatmu tersenyum. Rasanya rohku tidak akan tenang sebelum kau merelakanku.” Ucapku lirih menjawab pertanyaan Jong In oppa tadi, tentu saja dia tidak akan mendengarku. Ingin kupeluk tubuh namja itu, namun aku tak bisa. Tanganku tembus saat aku ingin menyentuhnya. Aku hanya bisa menangis melihat keadaan ini. “Kris Appa, Yoona Eomma, Kyung Soo oppa, Jong In oppa, aku mencintai kalian. Aku akan selalu mencintai kalian.” Lanjutku.

 

Tiba-tiba pandanganku terasa kabur, semua terlihat putih. Putih yang berbeda dengan ruangan ICU tadi. Yang ini terasa kosong, seperti tidak didalam ruangan, tapi dimana? Terlihat kepulan asap dari arah depan. Aku sedikit merinding. ‘Hey, aku kan roh, kenapa harus takut’  tanyaku dalam hati mencoba menghilangkan rasa ngeri ini. dari dalam kepulan asap itu, muncul sesosok tubuh. Tinggi, memakai jubah putih dan memakai cadar. Aku hanya bisa melihat tatapan matanya yang tajam.

 

“Siapa kau?” tanyaku memberanikan diri saat jaraknya sudah dekat denganku.

 

“Aku malaikat Tao. Aku malaikat penjagamu” ucapnya dingin, namun entah kenapa ucapannya tak membuatku takut.

 

“Malaikat penjaga?” tanyaku heran.

 

“Ya, karena rohmu tidak akan tenang sebelum orang-orang disekitarmu merelakan kepergianmu” jelasnya.

 

“Sampai kapan?” tanyaku lagi.

 

“Sampai orang yang kau cinta dan yang mencintaimu merelakanmu”.

 

“lalu bagaimana bila mereka tidak akan pernah rela?”.

 

“Selama itu pula kau tidak punya tempat di alam berikutnya, dan kau akan berkeliaran di dunia fana ini” jelasnya lagi yang kali ini mampu mebuatku merinding.

 

“Bagaimana cara agar mereka bisa merelakanku?” tanyaku bingung, berharap dia bisa memberiku jawaban.

 

“Itu semua terserah padamu. Aku hanya bisa menjagamu agar tidak mengganggu manusia yang masih hidup”.

 

“Hey! Aku tidak sejail itu, apa untungnya aku menganggu manusia” cibirku, namun dia malah tiba-tiba menghilang.

 

“Urghh…” ucapku kesal.

@@@

Sehari kemudian di pemakaman Seun Ri.

 

(Seun Ri pov)

 

Semua orang terlihat memakai baju hitam. Tak terkecuali, Kris Appa, Yoona Eomma, Kyung Soo oppa. Tapi, hey, dimana Jong In oppa? Kenapa aku tak melihatnya. Apa dia tak mau melihatku untuk yang terakhir kalinya? ‘Ah, mungkin dia akan datang terlambat, atau dia sangat terpukul dengan peristiwa ini? atau jangan-janagn dia frustasi lalu bunuh diri?’ ucapku dalam hati sambil melihat orang-orang yang ada disekitar pemakamanku. ‘Ah, anhi. Tidak mungkin dia bunuh diri gara-gara aku. Aku tahu kalu dia adalah namja yang kuat.’ Ucapku menghibur diri.

 

“Appa, eomma, dan kau Kyung Soo oppa tolong jangan menangis lagi. Tolong relakanlah aku. Agar aku mempunyai tempat yang tenang di alam sana. Tolong jangan siksa aku dengan tangisan kalian.” Ucapku lirih didepan mereka bertiga yang berdiri disamping pemakamanku. Ingin rasanya aku memeluk mereka bertiga, namun apa daya, aku hanya bisa melihatnya, aku tidak bisa menyentuh mereka apalagi berkomunikasi dengan mereka.

 

Tak lama kemudian, muncullah namja itu. Namja yang kunanti-nanti. Kim Jong In. Dia datang dengan setangkai bunga mawar merah kesukaanku di tangan kanannya. Dia memang tipe namja yang sangat romantis, meskipun dihari pemakamanku. Dan di tangan kirinya ada sebuah kotak kecil berwarna merah. Tanpa pikir panjang aku langsung meraba jari manis di tangan kananku. “tidak ada” ucapku kaget saat melihat cincin yang sejak 3 bulan yang lalu melingkar di jari manisku. Yah tentu saja tidak ada, aku ini kan roh, mana mungkin cincinku ikut jadi roh. Ada-ada saja.

 

(Jong In pov)

 

Hari ini masih terasa suram, seperti hatiku. Aku berusaha kuat dan tegar menghadapi semua ini. Namun kenapa terasa begitu sulit? Apa karena aku terlalu mencintai Seun Ri, hingga aku tak bisa melepas kepergiannya.

 

“Chagi, mianhae karena aku datang terlambat. Aku bingung antara datang ke pemakanmu atau tidak. Namun aku ingin melihatmu untuk yang terakhir kali. Cincin ini, akan kuberikan lagi padamu.” Ucapku pada diriku sendiri sambil berjalan menuju tempat pemakan Seun Ri.

 

Saat aku sudah sampai di tempat pemakamannya, aku berdiri disamping tubuh calon istriku yang terbaring didalam peti. “Dalam keadaan beginipun, kau masih terlihat cantik” ucapku yang tersadar akan senyum yang menghias wajah manis itu. Kubuka kotak kecil berwarna merah itu, kuambil sebuah cincin lalu kupasangkan pada jari manis di tangan kanannya. “cincin ini adalah milikmu” ucapku lirih menahan air mata yang sedari tadi protes ingin keluar. Sepasang cincin yang seharusnya menjadi bukti pernikahan kami, kini berubah menjadi bukti bahwa yeoja manis itu telah tiada. Aku meraba pasangan cincin itu yang melingkar di jari manisku. “cincin ini akan menjadi saksi cinta kita yang abadi” ucapku dengan mencoba tersenyum disampingnya. “Mungkinkah kau melihatku chagi? Mungkinkah kau ada disampingku?” tanyaku pada dirku sendiri berharap rohnya da disampingku sekarang, meskipun aku tak merasakan apa-apa.

 

“Tegarkan hatimu Jong In-ah…” ucap Kyung Soo sambil menepuk pundakku sebelah kanan. Aku hanya mengangguk pelan.

 

“Meski kau tidak jadi menikah dengan putriku, namun aku masih tetap menganggapmu sebagai anakku sendiri.” Ucap Kris Ahjussi, yang seharusnya akan menjadi Si-abeoji-ku.

 

“Ne Ahjussi…” ucapku lirih. Kulihat Yoona Ahjumma sedari tadi hanya diam dan menitikkan air mata. Mungkin dia jauh lebih terpukul dan kehilangan melebihi apa yang kurasa. Kris Ahjussi hanya bisa memeluk dan menenangkannya. Aku jadi tidak tega melihat keadaan Yoona Ahjumma seperti itu. Dia sudah kuanggap seperti Eomma keduaku. Dia eomma yang sangat baik, begitu pula dengan Kris Ahjussi.

 

Aku melihat appa dan eommaku disamping Yoona Ahjumma. Eomma menghampiriku, memelukku hangat. “Kuatkan hatimu nak. Seun Ri pasti tidak ingin melihatmu menangis. Masih ada Eomma dan Appamu disini” ucap Seo Hyun eomma yang merupakan eomma-ku itu tegar. Eomma memang selalu bisa membuatku lebih tenang. “hadapi semua ini dengan pikiran jernih Jong In” kini giliran SuHo appa yang menasehatiku. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa mengangguk pelan.

 

@@@

(Jong In pov)

 

Disaat semua orang sudah pulang dari pemakaman Seun Ri, aku masih tertahan disini, disamping makam Seun Ri. Entah kenapa kakiku terasa berat untuk meninggalkannya. Langit yang sedari tadi mendung kini mulai hujan mengiringi kepergian Seun Ri untuk selamanya. Biarlah hujan yang turun membasuh air mataku. Biarlah rintikan hujan ini membasahi bunga-bunga yang menghiasi makam Seun Ri. *backsound : Jang Nara-I only think of you.

 

“Chagiya, mungkinkah kau disini. Mungkinkah kau mendengar rintihanku? Aku ingin kau disampingku chagi…” pintaku, entah pada siapa aku meminta. Karena tak ada orang lain disini. Barangkali arwah Seun Ri datang dan mendengarkanku, meski aku tak bisa melihatnya.

 

(Seun Ri pov)

 

“Aku disini oppa, aku sedari tadi ada disampingmu.” Ucapku lirih dengan air mata yang mengalir di sudut mataku. Aku tak kuasa melihat keadaannya yang diguyur hujan deras ini. Aku yang berdiri disampingnya kini hanya bisa menangis melihatnya. Aku tak bisa melakukan apa-apa. Rasanya ingin memeluknya namun aku ini hanyalah roh, yang ada nanti malah tanganku menembus tubuhnya. Ingin kuhapus air mata di pipi namja itu, namun aku tak bisa. Lagi-lagi aku tak bisa melakukan apa-apa. Yang bisa kulakukan hanyalah berdiri disampingnya tanpa sepengetahuannya. Menemaninya dibawah guyuran hujan. Ternyata langitpun ikut menangis melihat kami berdua yang terpisah oleh alam yang berbeda.

 

@@@

Kamar Seun Ri.

 

(Seun Ri pov)

 

Hari ini seharusnya adalah hari yang paling aku nanti-nanti selama hidupku. Hari dimana aku dan Jong In oppa akan mengikat janji suci, saling mencintai satu sama lain sampai ajal menjemput. Namun ajal sudah menjemputku sebelum kami sempat mengikrarkan janji suci itu. Seharusnya, kami menikah dihari ulang tahun Jong In oppa. Yah hari ini, hari ini adalah ulang tahun-nya yang ke 23.

 

Aku melihat sekelilingku, kutebarkan pandanganku keseluruh sudut kamar ini. “Kosong…” ucapku pada diriku sendiri. Bukan kosong karena tak ada benda-benda atau perlengkapan tidur disini, namun kosong karena disini seperti tak ada kehidupan lagi. Terlihat setangkai mawar merah di ranjangku dan sebuh foto yang disandarkan disandaran tempat tidurku. Yang ada didalam foto itu tentunya dalah diriku. Semua yang ada disini berwarna putih, mulai dari cat tembok, warna sprei, karpet, sofa, selambu jendela, almari dan masih banyak lagi. Aku memang suka warna putih. Lalu di meja kecil disamping tempat tidurku terdapat lilin-lilin kecil yang menyala menghangatkan ruangan ini.

 

“Ternyata, mereka belum bisa melepas kepergianku.” Ucapku lirih sambil menahan air mata yang ingin keluar saat melihat pemandangan baru dikamarku ini. Aku tiba-tiba terhentak, seakan teringat sesuatu. “Malaikat Tao, bisakah aku meminta bantuanmu. Tolong muncullah…” ucapku dengan nada memohon berharap Malaikat penjagaku itu akan muncul dihadapanku. Lalu tiba-tiba muncul kepulan asap dari sudut kamarku, dan sosok malaikat yang aku harapkan kini muncul.

 

“Ada apa kau memanggilku?” tanyanya dengan nada heran.

 

“Aku ingin meminta bantuanmu, bolehkan?” ucapku memohon.

 

“Bantuan apa?”

 

“Aku ingin berbicara dengan orang-orang yang aku cintai, aku ingin bicara supaya mereka bisa melepaskanku. Namun dengan eadaanku yang seperti ini, aku tidak bisa melakukan apa-apa.” Pintaku

 

“Lalu kau ingin aku melakukan apa?”

 

“Tolong ubah wujudku, hingga terlihat oleh mereka. Hingga aku bisa berbicara dengan mereka”

 

“Baiklah, tapi hanya untuk hari ini. Hingga matahari muncul di esok hari, kekuatanmu itu akan hilang” jelasnya sambil mengulurkan tangannya. “Pegang tanganku” lanjutnya menyuruhku untuk memegang tangannya.

 

Disaat aku memegang tangannya kurasakan ada sesuatu yang masuk dalam tubuhku, entah kekuatan apa itu, namun tubuhku terasa hidup kembali. Yang berbeda adlah tak terdengar detak jantungku dan tak kurasakan hembusan nafas. ‘Kekuatan apa ini?’ tanyaku dalam hati.

 

“Kau tak perlu bertanya kekuatan apa ini?” ucap malaikat Tao yang mengerti ketidakjelasanku, sambil melepaskan genggaman tangan kami. Meski aku tak mengatakannya padannya namun dia bisa tahu apa yang kusembunyikan.

 

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku heran. Namun dia hanya tersenyum sinis.

 

“Kekuatan ini sepenuhnya hanya kau yang bisa kendalikan, kau bisa menampakkan wujudmu atau tidak itu terserah kau. Kau bisa mengendalikannya melalui pikiranmu.” Jelasnya lalu menghilang dari pandanganku.

 

“Urgh,, kebiasaan..” ucapku kesal karena dia pergi dengan tiba-tiba tanpa pamit dulu denganku. Memang aku siapanya yah kok harus pamit, ada-ada saja aku ini.

 

@@@

 (Seun Ri pov)

 

“Eomma…..” panggilku saat kulihat eomma sedang melamun diatas ranjangnya. Mungkin eomma masih memikirkanku. ‘Kasihan eomma.’ Ucapku dalam hati. Eomma yang menyadari akan suaraku langsung menoleh kearahku, disudut kamar ini.

 

“Seun Ri sayang… kau masih hidup…” ucap eomma yang langsung berlari kearahku. Aku langsung memeluk eomma. Aku merindukan pelukan eomma. Pelukan yang hangat kini sudah bisa kurasakan kembali.

 

“Eomma, aku sudah mati. Ini hanyalah arwahku.” Jelasku pada eomma, kulihat air mata eomma sudah tergantikan dengan senyum manisnya.

 

“Tidak mungkin. Katakn pada eomma kalau semua ini hanya mimpi. Kau masih hidup kan sayang?” ucap eomma sembari memegangi pipiku. Air mataku tak kuasa kubendung, hingga membasahi pipi dan tangan lembut eomma.

 

“Anhi, ini kenyataan eomma. Aku sudah meninggal dan yang ada dihadapan eomma hanyalah arwah eomma. Aku sekarang hanyalah sesosok arwah, bukan manusia lagi.” Ucapku mencoba menjelaskan pada eomma, agar eomma mengerti dan menerima kenyataan ini. Eomma hanya terdiam, air matanya menetes kembali. Kepeluk eommaku kembali, aku tidak ingin melihat air mata itu menetes disudut matanya yang teduh.

 

Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Terlihat sosok Appa yang terkejut melihatku memeluk eomma. “Seun Ri? Benarkah itu kau sayang?” tanya Appa yang masih dengan ekspresi terkejut.

 

“Ne Appa, ini aku, anakmu. Seun Ri” jawabku sambil melepas pelukan eomma, yang kini aku berlari menuju Appa. Kupeluk appa dengan tubuh jangkung ini erat. Pelukan eomma dan appa adalah pelukan terhangat yang pernah aku punya.

 

“Seun Ri, kaukan sudah mati. Bagaimana mungkin kau muncul dihadapan kami. Apa yang kau inginkan?” tanya Appa panjang lebar sambil melepaskan pelukannya.

 

“Appa, Eomma, tolong dengarkan aku dulu. Aku ingin bicara pada kalian.” Ucapku memohon pada Appa dan eomma. Mereka hanya mengangguk heran.

 

“Aku ingin meminta sesuatu pada kalian.” Lanjutku

 

“Sesuatu apa nak?” tanya eomma bingung.

 

“Tolong relakanlah kepergianku. Tolong jangan menangisi kepergianku lagi. Itu hanya akan menyiksaku. Apabila kalian terus bersedih, aku tidak akan mendapatkan tempat yang tenang di alam sana Appa,,, eomma…” jelasku. Lalu aku masih melajutkan penjelasanku hingga aku mendapatkan kekuatan ini.

 

“Baiklah sayang, eomma tidak akan menangis lagi. Eomma tidak ingin kau tersiksa. Eomma akan selalu tersenyum untukmu” ucap eomma dengan senyum yang terkembang di wajahnya. Sepertinya sekarang eomma sudah bisa menerima kenyataan ini.

 

“Ne, appa juga sayang. Appa dan kita semua akan selalu menyayangimu. Semoga kau bisa tenang dialam sana.” Ucap Appa sambil memelukku dan eomma.

 

“Jeongmal Gomawo Appa, Eomma. Aku sayang kalian. Dan selamanya akan sayang kalian.” Ucapku. Air mataku lagi-lagi tak dapat kubendung. Kali ini adalah air mata kebahagiaan.

 

“Appa, Eomma, selamat tinggal… aku akan menunggu kedatangan kalian.” Ucapku sebagai tanda perpisahan. Mereka hanya tersenyum dan menitikkan air mata kebahagiaan, sama sepertiku.

@@@

 

(Seun Ri pov)

 

Kulihat Kyung Soo oppa duduk ditaman belakang rumah. “Apa yang oppa lakukan disini?” tanyaku pada diriku sendiri. Aku berjalan mendekatinya dari arah belakang. Kulihat dia memegang sesuatu. Yah, sesuatu itu adalah sebuah foto yang berukuran sedang dengan frame berwarna putih. Didalam foto itu terdapat gambar 2 orang anak kecil. Yang lebih tinggi itu adalah Kyung Soo Oppa, dan yang masih kecil itu adalah aku. Itu adalah foto yang diambil Kris Appa 15 tahun yang lalu, disaat ulang tahunku yang ke 5 tahun dan Kyung Soo oppa masih 8 tahun. Kyung Soo oppa menatap foto itu dalam. Mungkin dia merindukanku, aku juga merindukanmu oppa. Aku merindukan saat-saat dimana kita selalu bersama.

 

“Seun Ri, aku merindukanmu. Aku merindukan saat-saat dimana kita tertawa bersama, saling berbagi cerita, dan masih banyak lagi. Aku tak menyangka kau pergi lebih dulu meninggalkanku, kedua orang tua kita dan Jong In-ah, calon suamimu yang sekaligus sahabat terbaikku.” Ucapnya lirih sambil terus memandangi foto itu. Jari-jari lembutnya mengelus foto itu pelan, air matanya terjatuh membasahi foto itu. Tak seperti biasanya Oppaku ini menangis.

 

“Oppa….” panggilku lirih, berharap dia mendengar suaraku.

 

“Seun Ri… Kaukah itu..” jawabnya sembari menoleh kearahku dengan ekspresi kaget yang terlihat sangat lucu setelah mendengar panggilanku. Masih dengan mengucek matanya yang tidak kemasukan debu itu, aku berjalan mendekatiya.

 

“Ne oppa, ini aku. Seun Ri.” Ucapku yang langsung duduk disampingnya, sepertinya dia masih tidak percaya atas apa yang dilihatnya sekarang.

 

“Apakah aku sedang bermimpi?” tanyanya dengan menepuk-nepuk kedua pipinya pelan.

 

“Anhi. Ini kenyataan oppa.” Jawabku dengan mencubit pipinya yang menurutku imut itu.

 

“Awww… sakit.. ini benar-benar nyata. Kau hidup!” cerocos Oppa dengan memegang kedua tanganku. Aku hanya tersenyum melihat ekspresi lucunya.

 

“Gidariseyo,… Moreugesseumnida….. Kau sudah mati Seun Ri. Bagaimana mungkin kau hidup kembali. Jangan-jangan kau adalah arwah Seun Ri?” ucap Kyung Soo oppa panjang lebar.

 

“Tolong diamlah dulu oppa. Aku akan menjelaskan semuanya padamu” ucapku memohon pada oppa untuk diam sebentar. Akhirnya kujelaskan semuanya, dari awal munculnya rohku hingga aku mendapatka kekuatan seperti saat ini.

 

“Geuraeyo…” ucapnya sembari menganggukkan kepalanya.

 

“Ne oppa, jadi tolong. Relakanlah aku pergi. Jangan menangisi kepergianku lagi. Itu hanya akan menyiksaku.” Pintaku dengan wajah memelas.

 

“Mullonimnida Seun Ri. Aku tidak akan dan tidak ingin membuat arwahmu tersiksa. Aku akan mencoba merelakan kepergianmu.” Ucapnya mengerti lalu memelukku hangat.

 

“Ne, gomawo oppa. Aku sayaaaang sekali sama oppa.” Ucapku dengan membalas pelukan oppaku itu.

 

“Oppa juga Seun Ri. Selamanya kau akan jadi adik perempuanku yang paling aku sayang.” Ucapnya dengan melepas pelukannya lalu tersenyum kearahku. Aku hanya tersenyum melihatnya.

 

“Aku harus pergi oppa. Selamat tinggal.”

 

Oppa hanya tersenyum. Sekarang wujudku sudah tak terlihat lagi oleh oppa.

@@@

 

(Seun Ri pov)

 

“Hey, ternyata hari ulang tahun Jong In oppa masih dirayakan.” Ucapku saat memasuki ballroom di bagian rumah yang menurutku besar itu. “Tentu saja ulang tahun yang berbeda dari rencana sebelumnya” lanjutku.

 

Disaat aku memasuki ballroom itu, aku takjub. Ternyata pernikahan kami berlangsung seperti ini. semua orang datang dengan membawa pasangannya. Pesta ini awalnya kurancang sedemikian rupa dengan Jong In oppa. Pesta bernuansa Victorian style. Semua orang yang datang mengenakan baju dan gaun bernuansa Zaman Victoria lengkap dengan topeng mereka. Yah, aku sangat menyukai Victorian Style, dan Jong In oppa menyiapkan semua ini untuk pernikahan kami. Namun na’as, aku harus meninggalkannya lebih dulu. Aku tak bisa menikmati pesta ini. Aku tak bisa berdansa dengannya dan mengenakan gaun Victorianku dan menjadi pusat perhatian. Kini harapanku itu semua hanyalah sia-sia.

 

Disaat aku melewati orang-orang yang sedang berdansa itu, aku berjalan mencari Jong In oppa. Tentu saja rang-orang disekitarku tidak akan terjatuh saat aku melewatinya, aku bisa menembus benda dan manusia. Aku berjalan seenaknya mencari Jong In oppa berada. Hingga pandanganku tertuju pada sesuatu. Sebuah meja panjang di sisi paling depan di ballroom itu. Diatas meja itu terpampang fotoku didepan fotoku lagi-lagi terdapat lilin-lilin kecil dan dihiasi banyak rangkaian bunga mawar merah. Lagi-lagi Jong In oppa membuatku terkesan dan membuat air mata ini menetes kembali. Ditambah lagu yang sedang diputar untuk dansa ini adalah lagu kesukaanku dan Jong In oppa. Kulanjutkan mencari Jong In oppa. Cukup lama buatku untuk berhenti menangis melihat keadaan disini. Kutelusuri lorong ini, lalu kutemukan kamar Jong In oppa. Aku menembus pintu itu. Disaat aku memasuki kamar yang luas itu, aku melihat gaun pengantinku tergantung di depan pintu almari. “Gaun itu indah sekali…” ucapku terkagum-kagum. Lalu disaat aku melewati sebuah cermin yang tingginya setara dengan tinggiku, aku terhentak. “Hey, kenapa tiba-tiba aku sudah mengenakan gaun yang sama dengan gaun pengantinku? Gidariseyo. Ini memang gaun pengantinku. Apakah seperti ini menjadi roh. Memakai baju sesuka kita?” tanyaku yang heran pada diriku sendiri. Lalu mencoba berlari menuju balkon, namun tak ada orang. Aku masuk kembali, lalu kuliah ada sepucuk surat diatas tempat tidur itu. Diikat dengan tali merah dan setangkai mawar merah. Kuubah wujudku agar aku bisa membuka dan membaca surat itu.

 

Dear chagi…

Chagi, ini adalah hari dimana kita akan mengikrarkan janji suci.

Namun kenapa kau meninggalkanku chagi.

Taukah kau, betapa sakitnya hatiku?

Hidupku terasa sudah tak berarti lagi tanpamu.

Kenapa kau pergi tanpa seizinku? Waeyeo?

Disini sungguh terasa sepi, dingin tanpa kehadiranmu.

Sekarang, untuk siapa lagi aku hidup, bila kau sudah tiada.

Ingin sekali rasanya kau menyusulmu.

Hingga kita bisa menikah di alam sana.

Di alam keabadian.

Untuk siapa lagi pesta ini? gaun pengantin ini?

Semua terasa hambar.

Padahal aku ingin sekali melihatmu mengenakan gaun indah itu dan berdansa bersamaku di ballroom.

Ingin rasanya kukecup bibirmu untuk yang terakhir kalinya.

Chagi, aku mohon. Kembalilah padaku.

Siapa yang akan menjadi pendamping hidupku kelak?

Siapa? Aku hanya mencintaimu chagi.

Tak ada yang lain.

Meskipun kau sudah tiada.

Namun aku tetap mencitaimu, dan akan selalu mencintaimu.

Cinta kita tetap abadi meski alam kita berbeda.

Andai saja kau bisa membaca sepucuk surat ini.

Tolong, muncullah dihadapanku.

Jeongmal saranghaeyo chagiya…..

 

Air mataku tak henti-hentinya menetes dari sudut mataku. Aku tak kuasa lagi, tubuhku terasa lemas tak berdaya. Tubuhku terjatuh di ranjang itu, aku hanya terduduk lesu. Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku hanya bisa pamit, tidak bisa hidup kembali. Aku sudah tidak bisa menjadi pendamping hidupnya. Aku tak bisa menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Dia harus mencari yeoja lain. Agar hidupnya bahagia. Agar aku juga bahagia melihatnya bahagia. Agar aku bisa tenang di alam sana. Agar aku bisa melihat keluarga barunya. Keluarga yang bahagia meski aku tak disampingnya. “Jeongmal mianhae oppa…” ucapku lirih.

 

Aku berlari keluar menembus pintu kamar itu. Mencari kembali dimana Jong In oppa berada. Saat aku menuju balkon utama. Kutemukan sosok namja yang kucari sedari tadi.

 

(Jong In pov)

 

Pesta malam ini terasa sepi sekali. Padahal banyak orang yang datang. Appa dan Eomma hanya pasrah melihat sikapku. “Dingin sekali disini, padahal aku sudah mengenakan jas” ucapku di balkon lantai 2 ini. Angin malam menerpa tubuhku. Bagiku pesta ini hanyalah sia-sia tanpa Seun Ri. Aku sudah menyiapkan semua ini untuknya, namun dia malah pergi tanpa pamit. Seun Ri.. hanya dialah yang memenuhi kepalaku seminggu ini sejak kecelakaan yang menimpanya. Kecelakaan yang membuatnya koma 4 hari lalu meninggal di ruang ICU sungguh membuat otak ini tak bisa berfikir yang lain. “Andai saja kau ada disini chagiya…” ucapku penuh harap.

 

(Seun Ri pov)

 

“Aku disini oppa….” ucapku yag ada dibelakang Jong In oppa dan mendengar permohonannya. Dia menoleh kearahku dan terkejut tak percaya atas apa yang baru dia lihat. *kemunculannya kayak teleportasinya Kai di MV MAMA. XD

 

“Seun Ri..” ucapnya yang langsung memelukku. Pelukan ini yang sangat aku rindukan.

 

“benarkah ini kau chagiya….” lanjutnya yang masih tak percaya.

 

“Ne oppa, ini aku. Aku ada disisimu saat ini. tolong jangan menangis lagi” ucapku dengan membalas pelukannya. Air mata kami tumpah kembali, aku sungguh bahagia bisa memeluknya kembali.

 

“Chagiya, apa aku sedang bermimpi hemmh? Kau kan sudah meninggal?”

 

“Anhi, ini kenyataan oppa, dan ini hanyalah arwahku.”

 

“Arwah, apa maksudmu?”

 

“Ne, arwah. Aku kesini untuk meminta sesuatu padamu” ucapku sembari melepaskan pelukan erat itu.

 

“Apa iu chagi?” ucapnya sembari memegangi kedua pipiku dengan tangan lembutnya. Dia menatapku dalam.

 

“Tolong relakankah aku oppa, relakanlah aku pergi. Kau tidak ingin aku tersiksa kan?”

 

“Ne, tentu saja aku tidak akan membiarkanmu tersiksa chagi” ucapnya dengan memperdekat jarak kami berdua.

 

“kalau begitu, relakanlah kepergianku. Carilah yeoja lain, yeoja yang akan menjadi pendamping hidupmu. Bila kau masih belum merelakanku, aku tidak bisa tenang oppa.” Jelasku, yang langsung membuat ekspresi wajahnya menjadi ekspresi kecewa. Yah, aku bsa membaca raut muka itu.

 

“Kenapa harus begitu?”

 

“Itu sudah menjadi ketentuan oppa. Kau harus merelakanku agar aku bisa tenang di alam sana.” Jelasku lagi. Adan aku juga harus menjelaskan semuanya, dari awal hingga seperti sekarang pada Jong In oppa.

 

“Berbahagialah dengan kehidupanmu yang sekarang oppa..”

 

“Namun aku tidak bisa bahagia tanpamu, kau tahu itu kan?”

 

“tentu aku tahu, namun keadaan berubah oppa, aku sudah tiada. Menikahlah dengan yeoja lain.”

 

“aku tidak bisa mencintai yeoja lain.”

 

“Dengarkan aku oppa.” Ucapku memohon sembari meraih kedua tangannya. “Kalau kau sangat mencintaiku, jadi tolong penuhi permintaanku ini. aku hanya ingin kau berbahagia meski aku tak disampingmu, aku ingin kau menikah dengan yeoja lain. Oppa, aku juga sangat mencitaimu. Lebih dari yang kau tahu. Tapi cara mencintai tiap orang itu berbeda-beda. Tuhan mentakdirkan aku pergi lebih dulu. Supaya kau bisa mencintaiku dengan keikhlasan bukan hanya nafsu belaka. Aku sangat mencintaimu oppa, bahagia bila melihatmu tersenyum kembali adalah caraku mencintaimu. Percayalah cinta kita tetap abadi meski maut memisahkan kita.” Jelasku panjang lebar. Air mataku tak tertahankan sedari tadi. Mereka bercucuran seperti gerimis hujan. Kulihat ekpresi wajah namja itu berubah kembali, kupikir dia sudah mengerti atas apa yang aku ucapkan.

 

“Ne, aku akan memenuhi keinginanmu. Aku akan berusaha mencintai yeoja lain. Namun kau tetap dan selalu ada dihatiku. Abadi.” Ucapnya. Jemari tangannya kini menghapus air mataku. Jarak kami semakin dekat, dan…

 

CHU…

 

Itu akan menjadi ciuman terakhir kami. Aku pasti akan sangat merindukan ciuman itu.

 

(Jong In pov)

 

Ciuman ini, pasti akan sangat aku rindukan. Kupeluk tubunhya erat, seakan tak ingin melepaskannya lagi.

 

“Berdansalah denganku chagi. Untuk yang terkahir kalinya..” pintaku pada Seun Ri. Dia hanya mengangguk.

 

Kami berdansa di balkon itu diiringi hembusan angin malam, dibawah sinar rembulan yang akan menjadi saksi cinta kami yang abadi untuk selamanya. Akhirnya aku bisa berdansa dengannya malam ini, malam yang seharusnya menjadi malam pernikahan kami. Namun aku tetap bahagia, karena kutemukan arti cinta yang sesungguhnya. Berdansa dengan menggunakan kostum vistorian style, yang menjadi impian kami, kahirnya terwujud juga. Meski aku berdansa dengan arwahnya, bukan dengan manusia. Kami berdansa bersama, entah sampai jam berapa aku tak peduli. *backsound: Celine dion-Immortality.

 

Kubuka mataku, ternyata ini hampir pagi. Dan semalam kami berdansa hingga trertidur. Kutoleh jam tangan dilenganku. Jam 4 pagi.

 

“oppa aku harus pergi” ucapnya setelah menyadari bahwa malam ini hampir berakhir.

 

“Apakah secepat itu?” tanyaku dengan mengucek mataku.

 

“Ne, selamat tinggal oppa. Saranghaeyo..” ucapnya sebagai kalimat perpisahan. Senyum itu masih terkembang diwajahnya.

 

“Nado sarangheyo chagiya.” Balasku, lalu kulihat seberkas cahaya putih mengelilingi tubuhnya. Mengitari tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lalu sosok yeoja itu tak terlihat lagi. Seiring dengan munculnya matahari. Kini aku bisa bahagia melepas kepergiannya. *bakcsound: Katy Perry-The one that got away.

@@@

 

(Seun Ri pov)

 

“Hutan?” ucapku bingun saat menyadari keberadaanku kini disebuah hutan. Namun hutan ini tidaklah lebat terasa sejuk dan pemandngan disini indah sekali. Kutelusuri jalan setapak ini, hingga aku melihat sebuah benda, entah itu kertas atau apa, aku tak ahu. Benda itu terkait denga seutas tali panjang yang terikat di dahan pohon yang tinggi. Benda itu banyak sekali, bergelantungan didahan pohon yang tinggi itu. Saat aku mendekat, aku mencoba mengambil benda itu. Kulihat, ternyata itu adalah sebuah foto. Dan didalam foto itu terdapat gambarku dan Jong In oppa. Itu adalah foto sewaktu kami masih bersama. Kulihat foto-foto yang lain lagi, ada gambarku bersama Kyung Soo oppa, Kris Appa, dan Yoona Eomma. Aku bahagia sekali melihat foto-foto ini. apakah foto-foto ini akan menemaniku disini? Apaka tempat ini akan menjadi tempat penantianku?

 

“malaikat Tao, apakah kau ada disini?” tanyaku dengan nada tinggi.

 

“Ada apa mencariku? Bukankah semuanya sudah selesai?” ucapnya yang tiba-tiba muncul dari arah belakang mengagetkanku. Lalu aku berbalik menghadapnya.

 

“Ne, memang semuanya sudah selesai. Tapi aku bingung, tempat apa ini?”

 

“Tempat penantianmu, foto-foto ini muncul karena orang-orang disekitarmu sangat mencintaimu. Ini bukti cinta kalian.” Ucapnya yang membuatku tercengang.

 

“Begitukah?” tanyaku terharu.

 

“Ne, kalau begitu, tugasku sudah selesai. Kau akan disini selamanya, hingga orang yang kau cintai datang.” Jelasnya yang langsung menghilang dari hadapanku.

 

Kini aku sudah mempunyai tempat yang indah. Aku akan menunggu Appa, Eomma, Kyung Soo oppa dan Jong In oppa disini. “Aku mencintai kalian selamanya….” ucapku dengan senyum manisku. *backsound:Celine Dion-Immortality.

So this is who I am

And this is all I know

And I must choose to live

For all that I can give

The spark that makes the power grow

 

And I will stand for my dream if I can

Symbol of my faith in who I am

But you are my only

And I must follow on the road that lies ahead

And I won’t let my heart control my head

But you are my only

And we don’t say goodbye

And I know what I’ve got to be

 

Immortality

I make my journey through eternity

I keep the memory of you and me inside

 

Fulfill your destiny

Is there within the child

My storm will never end

My fate is on the wind

The king of hearts, the joker’s wild

But we don’t say goodbye

I’ll make them all remember me

 

Cos I have found a dream that must come true

Every ounce of me must see it though

But you are my only

I’m sorry I don’t have a role for love to play

Hand over my heart I’ll find my way

I will make them give to me

 

Immortality

There is a vision and a fire in me

I keep the memory of you and me, inside

And we don’t say goodbye

We don’t say goodbye

With all my love for you

And what else we may do

We don’t say, goodbye

(Celine dion ~ Immortality)

 

~ END ~

Gimana readers?? Bagus gak? Sampe nangis gak? *ih author. Mianhae yah kalo gak asik trus banya typo. Tolong tinggalkan comentar kalian yak. ^^ . Sampai ketemu di ff selanjutnyaaaa…. XD *bowSembilanPuluhDerajat. J

Iklan

15 pemikiran pada “Our Love (Immortal)

  1. hiks T_T
    thor aku nangis nehh beneran deh u.u
    sedihh ceritanyaa
    daebak thorr suka aku sama ff yang sedih2
    daebakk thor jinjja jeongmal daebak ^^b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s