Your Happiness (Chapter 4)

Author : Saya BIBA

Main cast : Oh Sehun, Xi Luhan

Genre : romance, Hurt/comfort

Rated : t

Warning : yaoi, boyXboy, OOC, typo(s), bahasa gaje

a/n : chapter ini udah saya posting di akun fanfiction.net saya. saya langsung ngopas dari akun ffn saya tanpa diedit lebi dulu, maaf ya? so, baca aja

Ā ___________________________________________

 

~your happiness~

 

“Jongin-ah!”
“ah ne? Ada apa?” Jongin melepas headsetnya lantas ia berbalik menghadap Sehun. Sehun yang dari tadi mengejar Jongin sekarang hanya bisa mengatur nafasnya.

“ish! Kau ini. Aku perlu bicara denganmu.” kata Sehun sambil menarik lengan Jongin.

“apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku Sehunnie?” tanya Jongin sambil meminum bubble tea pesanannya. “aku mengatakannya kemarin.”

“mengatakan apa?”
“aku mengatakan aku mencintainya.”
“mencintai siapa sih? Kalau bicara itu yang jelas.” Jongin menggertakkan tangannya di atas meja untuk menunjukkan rasa kesalnya.

“orang yang kuceritakan padamu dulu.” Jongin yang baru mengerti ia hanya bisa mengangguk. “ada hal buruk yang terjadi…” wajah Sehun berubah menjadi lebih murung.

“…aku mengatakn bahwa aku mencintainya. Kemudian ia bertanya apa maksudku mengatakan hal itu, dan aku malah menjawab bahwa hal itu hanya ungkapan antar sahabat, tak lebih. Padahal nyatanya aku memang mencintainya. Aku benar-benar bingung saat itu.” lanjut Sehun sambil mengacak rambutnya frustasi.

“kenapa kau mengatakan itu? Jelas-jelas kau mencintainya bukan?” tanya Jongin.

“benar, tapi entahlah aku merasa jika ini terlalu cepat. Dan aku khawatir ia akan membenciku setelah ini. Makanya aku mengatakan alasan bodoh itu…” Jongin yang mendengar penjelasan Sehun hanya bisa mengangguk sembari memutar otaknya untuk memikirkan solusi yang akan ia berikan kepada Sehun.

“…sebenarnya aku mencintai seorang pria.”

sontak Jongin menyemburkan bubble tea-nya yang sempat masuk dalam mulutnya ke wajah Sehun. “KAU SERIUS?” Sehun tak menjawab, ia masih sibuk mengelap cipratan bubble tea yang mengenai wajahnya. “jangan keras-keras!” protes Sehun setelah ia selesai membersihkan wajahnya.

“kau serius?” tanya Jongin lagi, kali ini volume suaranya sedikit lebih kecil. Sehun hanya bisa mengangguk, ia siap kika harus dijauhi oleh satu-satunya sahabatnya karena -mungkin- merasa jijik.

“apa kau gay?”

“tidak. Baru pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini. Dan sayangnya kepada orang yang tidak tepat. Aku tahu kau akan menjauhiku setelah ini.” tutur Sehun sambil tersenyum pahit di hadapan Jongin.

“hei! Siapa yang akan menjauhimu eoh? Aku hanya merasa sedikit syok.” kata Jongin.

“terimakasih.” sebuah senyumpun akhirnya mengembang di wajah Sehun. “iya iya. Tapi menurutmu seperti apa sikapnya saat kau mengatakan alasan konyolmu itu?”

“entahlah, aku bingung. Aku merasa ada gurat kekecewaan di sorot matanya. Tapi aku tidak yakin.”

Jongin berpikir keras, jika situasinya seperti ini maka sulit baginya untuk mencari solusi. “katakan yang sejujurnya kepada orang yang kau cintai itu. Bukankah cinta tak peduli kapan ia harus datang? Cepat atau lambat kita tidak akan pernah tau. Juga cinta tak peduli dengan siapa seseorang akan jatuh cinta. Pria wanita sama saja menurutku.” kata Jongin sembari meminum bubble tea-nya.

‘hyung, jika nanti jam 5 sore kau kutunggu di taman belakang kampus. Jangan lupa memakai baju hangat. Hari ini dingin sekali. Sampai jumpa nanti sore.’

send

Sehun mengirim pesan singkat yang ia tulis kepada Luhan. Entah kenapa setelah mendengar penjelasan Jongin, ia merasa bersemangat untuk mengatakan sejujurnya pada Luhan.

30 menit…

Belum ada balasan juga dari Luhan. Mungkin ia sibuk, pikir Sehun.

1 jam setengah…

Sehun kembali mengecek ponselnya, dan tetap saja belum ada balasan dari Luhan. Ia mencoba menelfonnya, namun tak diangkat. Kembali Sehun berpikir Luhan sedang sibuk.

Sampai tiba saat yang sudah dijanjikan.

Kali ini Sehun sudah berpakaian lebih rapi dari sebelumnya, memakai baju hangat dan syal tebal yang menutupi sebagian wajahnya. “sss.. Luhan-hyung kenapa belum datang ya?” Sehun menggigil kedinginan sembari menggosok kedua telapak tangannya, berharap hal itu dapat membantunya untuk menghangatkan diri.

30 menit menunggu, tak ada tanda-tanda orang yang diharapkan akan muncul. Saljupun tiba-tiba turun sedikit demi sedikit. Sehun menengadah menatap langit yang sedang menurunkan kristal esnya. Indah.

“Hyung, kau ada di mana?”


“omo! Sehun-ah? Sejak kapan kau di sini? Wajahmu sampai merah begitu.”

sehun tak menjawab pertanyaan itu, ia hanya bisa menggigil kedinginan. Ia sudah menunggu selama 3 jam dan tak membuahkan hasil. Parahnya, ia menunggu selama itu di saat cuaca sedang buruk. Pantas saja ia kedinginan.

“biar kuantar kau pulang.”


“eunghh..”

“kau sudah bangun?”

“kenapa aku ada di.. Rumah? Aku ada janji dengan Luhan-hyung.” kata Sehun sambil menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya.

“hey! Jangan keras kepala! Kau tadi kedinginan lalu pingsan. Aku yang membawamu kemari.”

“benarkah? Ah iya Jongin-ah, apakah kau tadi melihat Luhan-hyung?” tanya Sehun.

“aku tidak tahu orang yang bernama Luhan. Ciri-cirinya seperti apa?” kata Jongin. “tingginya kira-kira seteligaku, tubuhnya kurus, kulitnya pucat, rambutnya dicat coklat tua.”

Jongin sedikit menerka-nerka, kemudian ia menggeleng. “tak ada..”

Selama berhari-hari Sehun selalu mengirimkan pesan singkat yang secara garis besar isinya sama kepada Luhan. Dan tak pernah ada balasan untuk hal itu. Dan selama berhari-hari itu pula Sehun selalu menunggu Luhan di taman belakang kampus, tak jarang ia pulang dengan keadaan demam. Ia selalu yakin bahwa Luhan akan datang. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk mendatangi apartemen Luhan. Namun saat Sehun mendatangi apartemen tersebut, tak ada jawaban dari sang pemilik.


(Luhan Pov)

sudah seminggu ini aku tak menemui Sehun. Apa dia baik-baik saja? Bagaimana kesehatannya? Dan entahlah, tiba-tiba pertanyaan ini muncul di pikiranku.

Bagaimana hubungannya dengan orang itu? Orang yang ia cintai.

“Luhan-ah, ponselmu sudah beberapa minggu ini tak kau pakai. Apa kau merindukannya?” tanya Yoonji-noona saat ia hendak memberikanku obat.

“terima kasih noona. Ah.. Aku sangat merindukannya noona. Boleh aku mengambilnya?” aku mengambil gelas berisi air putih dan beberapa obat yang sudah disediakan.

“tunggu sebentar, akan kuambilkan.” sembari menunggu Yoonji-noona mengambilkan ponselku, aku segera meminum obat-obat ini. Ah.. Membosankan. Jika saja aku tidak sakit, pasti aku sudah bebas berkeliaran di luar. Tidak seperti sekarang, aku hanya bisa tidur di kamar rumah sakit ini.

“ini.”

“terimakasih, noona.”

“oh ya, noona tinggal sebentar ya? Tadi noona dipanggil dokter Kim untuk ke ruangannya.” Yoonji-noona pun akhirnya keluar dari kamar dan menuju ke ruang dokter Kim.

Tanpa basa-basi lagi, aku segera menyalakan ponselku dan mengecek pesan masuk.

ada 20 pesan lebih yang masuk di inbox-ku, dan semua pesan itu dari…

Sehun?

Tapi bagaimana bisa?

‘hyung, hari ini aku menunggumu di taman belakang kampus jam 5 sore. Jangan lupa pakai baju hangatmu. Hari ini sangat dingin.’

‘hyung, hari ini jika kau tak sibuk, datanglah ke taman belakang kampus jam 5 sore. Jangan lupa pakai baju hangatmu. Hari ini salju sedang turun.’

sekitar 10 kemudian, pintu kamarku terbuka.

‘krek’

“Luhan-ah..” Yoonji-noona yang ternyata sudah masuk lagi ke kamarku. “ya?”

“aku perlu bicara dengamu.”

“maaf noona, tapi aku harus pergi. Temanku sedang menunggu di taman belakang kampus. Nanti saja noona bicarakan denganku.” aku segera bangun dari tempat tidurku dan memakai pakaian hangat yang tersedia di sofa. Entah kenapa aku ingin sekali bertemu Sehun.

“Luhan-ah.. Tapi kau sakit.” suara Yoonji-noona terdengar parau. Ada apa dengannya? “kumohon noona. Sekali saja izinkan aku keluar, hanya sebentar aku janji.” ucapku sedikit memohon.

Setelah berpikir cukup lama, noonapun mengizinkanku untuk menemui Sehun. Asalkan ia yang mengantarku.


Aku berlari mengelilingi taman untuk mencari kebaradaan Sehun, sampai akhirnya pandanganku tertuju pada seorang yang duduk di kursi panjang itu. “Sehun-ah?”

“h-hyuuung..” Ya Tuhan, ia kedinginan?

“h-hyuuung.. Dingiin.” ia menggigil dan terdengar suara gemerutuk giginya. Aku melihat jam tanganku, Sudah jam 7? Berarti ia menungguku selama 2 jam di sini dengan keadaan cuaca yang sedang turun salju.

Aku menggosok kedua telapak tanganku kemudian kutempelkan pada kedua pipinya. Setelah itu kedua tangannya kutiup-tiup berharap ia dapat merasakan kehangatan.

“hangat? kajja.. Ayo kita pulang.” ucapku sembari membopongnya. Berat. Dengan susah payah aku membawanya ke mobil Yoonji-noona.

“argh! Noona bantu aku.” kataku yang sudah tidak kuat menahan berat badan Sehun.


“kau sudah bangun?” tanyaku saat menyadari Sehun telah bangun dari pingsannya.

“hyung?”

“ish! Jangan bangun dulu. Kau masih demam.” akupun membetulkan selimutnya dan memasangkembali handuk hangat yang sempat terjatuh dari keningnya. Kemudian aku beranjak ingin pergi ke dapur apartemenku, akan kubuatkan Sehun bubur hangat.

“hyung..” ia menarik tanganku. “ya?”

“kemana saja kau selama ini? Aku mengkhawatirkan mu, hyung. Kau tidak memberiku kabar sama sekali.” kata Sehun mulai melepaskan tangannya.

“maafkan aku, Sehun-ah membuatmu khawatir.”

“lalu, selama ini kau kemana saja? apartemenmu tutup, ponselmu pun tidak aktif.”

Ya Tuhan, aku harus menjawab apa pada Sehun? Aku tak ingin membuatnya terlalu khawatir lagi. “hyung?”

“ah, ne?”

“jawab pertanyaanku hyung.”

“aku.. Aku sedang keluar kota untuk mengunjungi.. Nenekku yang sakit.”

maafkan aku Sehun-ah, tapi aku harus melakukan ini. “sungguh?”

“tentu, mana bisa aku berbohong. Ah iya, Sehun-ah kutinggal sebentar ya? Akan kubuatkan kau bubur hangat. Kau pasti menyukainya. Mmm.. Sambil menunggu kau tidur saja, nanti jika buburnya sudah matang kau akan kubangunkan.” ia hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Luhan-ah?”

“ah ne? Ada apa noona?” aku masih terus melanjutkan pekerjaanku -memasak bubur untuk sehun-

“tentang yang tadi ingin kubicarakan padamu.”

“ya?” kali ini aku menghentikan kegiatanku, aku menatap Yoonji-noona penasaran. Cukup lama Yoonji-noona teridam, terlihat sekali bahwa ia menimang-nimang hal yang ingin ia katakan, “ahh.. Kurasa waktunya belum tepat. Ayo biar kubantu kau memasak. Kau tak boleh terlalu lelah.”

(Luhan Pov End)


sejujurnya Yoonji bimbang antara ia harus memberitahu Luhan tentang hal itu atau tidak. Jika ia beritahu, ia khawatir Luhan akan sangat terpukul. Dan jika ia tak memberitahukan nya, ia khawatir proses pengobatan Luhan yang mungkin akan teganggu.

Sungguh pilihan yang sulit.

“noona, kau kelihatannya sedih. Apa yang terjadi? Ceritakan padaku.” suara Luhan membangunkan Yoonji dari lamunannya. “ah tidak penting. Ah iya, pemuda tadi itu siapa?” tanya Yoonji sambil melirik ke arah kamar Luhan yang ditempati Sehun.

“oh…” Luhan terlihat menghela nafasnya berat. “…ia orang yang kuceritakan dulu.”

“siapa?”

“orang yang aku cintai.” mendengar perkataan Luhan Yoonji menjadi sedikit syok. “benarkah?”

“ya, apa noona merasa jijik padaku?” tanya Luhan tiba-tiba.

“tidak…” Yoonji beranjak ingin memeluk Luhan. “…k untuk apa aku jijik padamu? Kau tak salah, cinta memang begitu kan? Datang semaunya, tanpa memperdulikan siapa yang ia datangi. Entah miskin, kaya, jelek, atau tampan. Cinta tak peduli semua itu kan? Termasuk gender.” lanjut Yoonji sambil mengusap rambut Luhan dengan sayang. Ia sudah menganggap Luhan sebagai adiknya sendiri.

“terimakasih, noona.”

“ya, sudah sana urusi orang yang kau cintai. Aku akan ke rumah sakit mengambil obatmu. Oh ya, jangan sampai terlalu kelelahan.” Yoonji lantas tersenyum manis kepada Luhan, kemudian ia pamit.

entah mengapa Luhan malah terpaku dengan wajah Sehun yang terlihat dari dapur, karena memang pintu kamarnya terbuka dan letak dapur dan kamar Luhan saling berhadapan. Jadi tak sulit baginya untuk menikmati wajah Sehun.

“ah Ya Tuhan! Buburnya!”


“bagaimana? Enak?” Sehun berhenti memakan buburnya. “k.. Kenapa? Tidak enak ya?” tanya Luhan sambil memasang ekspresi sedihnya.

“tidak kok.”

“lalu?”

“hanya saja aku tidak yakin kau yang memasaknya, hyung.”

“ish! Menyebalkan.”

“aku serius.”

“aku juga.” Sehun semakin mendekatkan wajahnya pada Luhan. Entah karena reflek atau apa, Luhan secara otomatis memejamkan matanya, menungu tindakan yang akan dilakukan Sehun selanjutnya.

Tapi nyatanya Sehun tak mencium bibir Luhan, ia malah menikmati wajah Luhan dari jarak yang terbilang sangat dekat itu. “ah.. Maaf hyung, ak.. Aku terbawa suasana.”

Sehunpun hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Kemudian ada jeda cukup lama di antara mereka berdua. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. “hyung?”

Luhan hanya menoleh, “Lusa kau ada waktu?”

“entahlah, memangnya kenapa?”

“makan malamlah bersamaku, hyung. Akan kuperkenalkan kau dengan seseorang yang sangat berarti bagiku.” kata Sehun sembari menatap manik Luhan tajam. Jangan tanyakan perasaan Luhan saat ini, perasaannya sedang berkecambuk. Ia marah, ia sedih, ia kecewa. Tapi entah mengapa ia merasa tak berhak menaruh perasaan itu pada Sehun, toh ia bukan siapa-siapanya.

Dalam pikiran Luhan hanya ada satu pertanyaan, kenapa Sehun tadi hampir menciumnya sedangkan ia sudah mempunyai orang spesial di hatinya? Ini sungguh tanda tanya besar bagi Luhan.

“kuusahakan, habiskan dulu buburmu.”


entah kenapa tiba-tiba Luhan merasa terlalu lelah. Padahal jika dipikir-pikir pekerjaan yang ia lakukan sedari tadi hanyalah sebuah pekerjaan ringan. “ash! Noona kenapa belum pulang sih?” kata Luhan yang tidur di atas sofa.

Ia merasakan matanya semakin berat dan iapun memutuskan untuk mengistirahatkan matanya sejenak,

Luhan menggeliat tak nyaman.

Luhanpun membuka matanya, karena ia mencium bau anyir dan ia merasakan ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya.

Tanpa curiga Luhan mengusap hidungnya. ‘darah?’ pikir Luhan. Ia segera mengambil box tisu dan mengambilnya beberapa. “kenapa harus sekarang sih?” keluh Luhan disela ia membersihkan hidungnya dari darah.

“hyung?” segera Luhan menyembunyikan tisu bekasnya dengan menggenggamnya erat, takut jika Sehun mengetahui apa yang baru saja terjadi padanya.

“eh.. S.. Sehun?”

“ada apa hyung?”
“tidak.”
“aku mau pamit pulang, hyung. Terima kasih kau sudah merawatku, meski hanya sebentar.” Kata Sehun tanpa menyadari keadaan Luhan.

“eh tunggu, tapi demammu?” tangan Luhanpun memegang kening Sehun, tak sepanas tadi.

“aku sudah sedikit baikan, jangan khawatir.” Sehunpun menyunggingkan senyuman termanisnya pada Luhan. “baiklah, sebaiknya kau pakai baju hangatku saja dulu. Aku yakin di luar masih dingin. Tapi bagaimana caramu untuk pulang?”

“tenang saja, tadi aku sudah menelfon temanku untuk menjemputku di sini.”

“baiklah.”


“lelah sekali.” Keluh Luhan sambil merebahkan tubuhnya di kasur. “tapi aku lapar.” Lanjutnya.

Kemudian Luhan beranjak dari tempat tidurnya dan segera menuju ke dapur. Berharap ada beberapa makanan yang bisa mengganjal perutnya. Saat di dapur perhatian Luhan tertuju pada tas Yoonji yang tertinggal. “noona ceroboh sekali sih.” Luhanpun berniat memindahkan tas noona-nya ke ruang tamu. Tapi tiba-tiba ada amplop yang terjatuh dari tas noona-nya..

“amplop?”

(Luhan Pov)

Aku mengambil amplop itu dan berniat untuk membaca isinya. Ternyata ampolop dari rumah sakit, kira-kira isinya apa ya? Kubuka suratnya perlahan..

Ada namaku tercantum, tapi tunggu dulu ada yang aneh dari surat ini..

Bukankah ini surat diagnosa?

Aku membulatkan mataku sempurna,

Aku, terkena leukemia?

TBC


REVIEWnya ditunggu lho šŸ˜€

 

10 pemikiran pada “Your Happiness (Chapter 4)

  1. double WHAT…!!
    Luhanku kena Leukimiaaaaa…????
    andwaaaaeeeee
    jangan pisahkan HunHan thoooorrrr
    next chapter ditunggu yaa

  2. maaf ya thor bru bisa komen d part ini..
    Aku udah menduga klo luhan tuh nakal sakit yg parah..kasian banget sih knp hrs kena leukimia..
    Nnt bakalan happy ending gak buat luhan ama sehun.??
    Nnt part berikutnya bakaln sedih2an kayakx nih..
    Cerita angst kayak gini emang keren mskipun agak sedih sih..
    Pokokx ditungggu next partnya..^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s