Summer Without You

Summer without you

Note:

Sequel of à HMH: Lay: Golden Melody & My Sunflower

(Sangat disarankan buat baca kedua ff itu^^)

Author: @kim_mus2

Main Casts: Lay a.k.a Zhang Yi Xing & Kim Hyeri

Length: Oneshot

Genre: Romance, Comedy (?)

Rating: PG-15

~**~

Pagi itu, Lay duduk seorang diri di sebuah gazebo kecil di taman depan rumahnya. Kabut pagi yang menyelimuti alam perlahan mulai tersibak oleh sebuah sinar. Sinar dari sang mentari yang menghangatkan suasana yang tengah ia kagumi saat ini. Suasana yang selalu mampu mengukir seulas senyuman di bibirnya.

Lay’s Side

Hyeri… lihatlah, musim panas sudah datang. Apa kau senang?

Cuacanya sangat cerah bukan? Bunga-bunga di taman kita sudah bermekaran. Warnanya benar-benar indah chagiya…

“Hmmm…” Udaranya juga sangat menyegarkan… aroma bunga-bunga yang kau tanam itu rupanya sangat harum. Aku sangat suka musim panas. Apalagi, jika kuhabiskan musim ini bersamamu.

Aku merindukanmu… Hyeri…

Flashback

Aduh… ternyata jadi mahasiswa kedokteran itu bikin pusing juga ya. Rambutku bisa cepat beruban kalau begini terus, arrgghh! Aku mulai frustasi kalau menulis skripsinya serumit ini. Kapan aku bisa bertemu Hyeri kalau terus begini huh? Aish! Jinjja!

“Ehem! Sedang menulis apa tuan tampan?”

“Aduh… jangan ganggu aku eomma, aku sedang sibuk nih!”

“Hey! Lihat dulu ke belakang Lay… “

Akhirnya dengan ogah-ogahan aku menoleh untuk melihat sang pemilik suara yang memanggilku.

“Hyeri…” ujarku dengan wajah tercengang. Sementara itu, orang yang kupanggil namanya hanya tersenyum simpul ke arahku. Cantik… neomu yeppeo Hyeri… arrgh! Kau membuat jantungku berdebar malam-malam begini. Konsentrasiku buyar… buyar… skripsiku… oh… andwaee… Wajahmu mengalihkan duniaku! (Lay Korban iklan)

“Ya! kenapa malah bengong? Katanya sedang sibuk.”

“…” Aku tak bisa berkata apa-apa. Lidahku kelu, mataku tak bisa berkedip, seluruh tubuhku kaku.

“Ah dasar Lay aneh! Aku datang cuma mau memberikanmu ini, jangan lupa dimakan ya… ini pudding buah special buatanku loh…”

Aku masih tak bisa bergerak dari tempatku. Aku terlalu terpesona dengan yeoja dihadapanku ini. Aku benar-benar merindukannya.

“Lay! Iiihh… kau terus mengacuhkanku. Menyebalkan! Baiklah, aku pergi dulu kalau begitu.”

“Chankanman!” Kutarik tangannya dan kupeluk erat tubuh mungilnya. Harum… aku sangat merindukan aroma tubuhnya, sentuhannya, suara lembutnya, semuanya. Aku benar-benar merindukanmu Hyeri.

“Lay… ada apa?”

“Kenapa baru menemuiku? Aku kangen setengah mati tahu!”

Dengan perlahan Hyeri melepaskan diri dari pelukanku dan kini ia menggenggam kedua tanganku sambil menunjukkan tatapan lembutnya.

“Hahaha… dasar lebay! Baru tak bertemu satu minggu saja sudah begini. Lay… Lay… kau ini seperti anak kecil saja. Kamu kan sudah mau jadi seorang dokter, masa kelakuanmu manja begini?”

“Aku kan manjanya cuma mau sama kamu…. ^^” (eeeaaaa gombal)

Kedua pipinya seketika memerah. Apa itu karena kata-kataku tadi? Hehe… aku senang melihat ekspresi wajahnya yang seperti ini. Menggemaskan!

“Ah, sudah malam. Aku pulang dulu. Kerjakan skripsimu sana! Aku tak mau menunggumu terlalu lama. Ara?”

~Chup~

Pipi kananku basah. Hyeri… dia mencium pipiku. Hyaaa… aku jadi bersemangat! Gomawoo Hyeri, otakku tiba-tiba loadingnya jadi cepat begini. Tunggu aku Hyeri, sebentar lagi pasti semua ini selesai.

~**~

Author’s Side

Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Lay. Hari dimana semua usaha kerasnya belajar berbagai ilmu kedokteran terbayar lunas. Ya, benar. Ini adalah hari wisudanya. Tapi, disaat semua wisudawan didampingi oleh kekasih, tunangan, atau bahkan calon istrinya, di hari yang berbahagia ini Lay hanya ditemani kedua orang tuanya. Lalu dimanakah Hyeri?

“Yeoboseyo… Hey nona chef , apa aku sudah bisa memanggilmu begitu sekarang?” tanya Lay pada yeoja di seberang telpon.

“Hahaha, ne! Aku sudah resmi jadi chef spesialis pastry Lay. Yaay! Senangnya!”

“Ya… ya… ya… kau tidak mengucapkan selamat padaku huh?”

“Eh? Mianhae… cukkhae Lay, akhirnya kau jadi bapak Dokter. Cukkhae… cukkhae… “

“Mau merayakannya?”

“Tentu aku mau, tapi kau kan harus bertugas di rumah sakit. Pasti kau sibuk…”

“Ahni… rumah sakit itu kan aku dirikan bersama teman-temanku. Jadi, aku bisa izin untuk pergi hehe.”

“Aish! Kau ini! Baiklah kalau begitu.”

~**~

Hyeri’s Side

Sedang apa sih namja itu? Kenapa malah aku yang menunggu lama. Coba kulihat dulu dari balkon kamarku kalau begitu, siapa tahu dia masih ada di kamarnya.

“Lay! Apa kau masih di kamar?”

“….” Tidak ada jawaban. Kupanggil sekali lagi deh.

“Lay! Sudah siap berangkat belum? Lay!”

“….” Aish! Dimana sih namja itu? Jangan-jangan dia masih tidur. Heuh… kalau sudah begini, aku harus menyusulnya ke rumah. Dasar Lay pemalas!

~Dug… dug… dug…dug~

Kuturuni tangga kayu rumahku dengan tergesa-gesa. Aku ingin segera sampai di lantai bawah, membuka kenop pintu depan rumahku dan berlari ke rumah tetanggaku yang pemalas itu untuk membangunkannya. Awas kau nanti Lay! Seenaknya saja menunda-nunda acara kita.

“Hyeri… mau kemana buru-buru begitu? Sudah mandi belum?”

“Aduh eomma! Ya jelas lah aku sudah mandi. Memangnya aku tidak kelihatan cantik ya? Ah sudahlah, aku mau ke rumah Lay dulu. Aku ada janji dengannya, tapi dia pasti masih tidur. Lihat saja, aku akan menyiksanya supaya cepat bangun.” Gerutuku kesal pada eommaku.

“Kau mau ke rumah Lay? Ini sudah jam 9 pagi kan? Sudah, ikut eomma saja ya. Appa! Cepat siapkan mobil!”

“Eomma! Kita mau kemana? Ko ngajak appa juga?”

“Sudah… ikut saja.”

Jujur, aku bingung dengan tingkah orang – orang hari ini. Apalagi eomma dan appa. Sebenarnya aku mau dibawa kemana ini?

“Turun dulu sayang, kita ke tempat itu dulu ya.” Ucapan eomma membuyarkan lamunanku.

Beberapa menit kemudian aku malah bertambah bingung dan kesal pada eommaku.

“Eomma… ige mwoya? Kenapa aku harus memakai gaun segala sih? Gaunnya pake ekor panjang pula, aku risih! Sudah seperti gaun orang menikah saja heuuh!” Aku benar-benar kesal!

“Aduh… anak eomma cerewet sekali ya… tolong bantu eomma untuk kali ini saja. Kau mau kan?”

“Ya… aku mau-mau saja. Tapi kenapa harus pakai gaun begini segala sih eomma?” Lagi-lagi aku penasaran, soalnya permintaan eomma kali ini sangat aneh.

“Nanti juga kau tahu Hyeri… tenanglah, eomma tak akan merepotkanmu.”

Tak merepotkan bagaimana? Gaun ini saja sudah membuatku jengah. Eomma aneh sekali, aku tak mengenal eomma yang ada disampingku ini. Jangan-jangan eomma dan appa yang bersamaku sekarang ini adalah orang lain? Jangan-jangan aku diculik? Andwae…

“Hyeri… ayo cepat masuk mobil! Kita harus pergi lagi sekarang, nanti kita terlambat.” Appaku ikut-ikutan menyebalkan. Aku semakin yakin kalau mereka bukan orang tuaku.

Sepanjang jalan aku hanya memandang bosan pemandangan musim panas yang biasanya aku kagumi. Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Eomma dan appa seperti menyembunyikan sesuatu. Entahlah apa itu. Yang jelas, mereka berdua sangat mencurigakan.

Kecurigaanku semakin bertambah karena kini aku berhenti di depan sebuah gedung, yang kuyakini adalah gedung yang sering dipakai orang untuk melangsungkan pernikahan. Ya Tuhan, pernikahan? Aku sudah memakai gaun seperti ini. Apa aku akan dinikahkan? Dengan siapa?

“Eomma… tidak sedang bercanda kan? Kenapa kita ke tempat ini?”

Appa dan eommaku malah tersenyum. Semakin mencurigakan.

“Apa aku akan dinikahkan?”

Aku tidak mau! Aku tidak mau kalau bukan dengan Lay!”

“Ya! Kim Hyeri, jangan lari! Ayo kita masuk!”

Appa dan eomma terus mengejarku. Ekor gaunku yang panjang aku pegang dengan tangan kiriku. Gaun ini benar-benar menyusahkan! Aku tahu ini konyol, tapi aku tak mau dinikahkan begitu saja. Aku sudah tak peduli dengan orang-orang yang memandangku aneh dan bahkan menertawaiku. Aku terus berlari dari eomma dan appa sampai tanpa sadar aku malah memasuki gedung itu dan mendapati seorang namja yang berdiri tepat di depanku.

“Kau? Ah andwae… aku tak mau menikah denganmu!” aku berteriak sekencang-kencangnya di depan wajah namja yang tak kukenal itu.

“Tenanglah nona, tenang!” Ujarnya sedikit panik dengan tingkahku yang brutal. Namja itu malah terus memegangi kedua tanganku. Apa dia tidak takut aku tendang huh? Awas kau! Berani-beraninya menyentuhku.

Saat aku hendak melayangkan tendanganku pada namja itu, tiba-tiba seluruh badanku terangkat. Ada apa ini? Siapa yang menggendongku?

“Nona Kim Hyeri… apa kau bisa berhenti berteriak?”

Suara ini…

“Lay…”

“Hmmm… Would you marry me Hyeri? Maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku? Dan maukah kau menghabiskan sisa hidupmu bersamaku?”

Shock! Speechless! Apa-apaan ini? Aku bingung. Jantungku memompa darah ke seluruh tubuhku dengan kecepatan yang tak normal. Aku menoleh ke arah eomma dan appaku yang kelelahan karena mengejarku, mencoba meminta tolong meskipun aku tahu mereka pasti kesal dengan tingkahku tadi. Tapi, bukannya wajah kesal yang mereka tunjukkan. Mereka malah tersenyum bahagia melihat puterinya terperangkap dalam pangkuan seorang namja.

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya yang bertubi-tubi itu, Lay malah terus membawaku ke sebuah tempat yang penuh dengan dekorasi bunga matahari kesukaanku. Disana, banyak sekali orang. Aku benar-benar malu dengan posisiku sekarang.

Lay’s Side

Gadis ini sudah ada dalam pangkuanku. Wajahnya merah merona. Dia pasti sedang berusaha menahan malu karena perlakuanku ini. Ku kecup pelan dahinya dan wajahnya pun semakin merah. Lucu sekali.

Saatnya telah tiba. Saat-saat dimana aku meraih impian terindahku. Kuucapkan janji setiaku untuk melindunginya seumur hidupku dan dia pun berjanji untuk selalu mendampingiku sampai akhir hayatnya. Bahagia… tidak… kata itu masih tidak cukup untuk mendeskripsikan betapa suka citanya hatiku ini. Akhirnya aku memilikimu, Hyeri.

“Hyeri…” ku tatap manik matanya yang indah dan dia tersenyum bahagia sambil meletakkan kedua tangannya di kedua pipiku dan mengatakan kata terindah yang pernah kudengar dalam hidupku.

“Saranghae…”

Kukecup lembut bibir merah mudanya untuk mengungkapkan semua rasa bahagia yang memuncah di dadaku ini. Perasaan itu semakin menjadi saat ia membalas sentuhan yang ku berikan. Aku sangat mencintaimu Hyeri.

~**~

“Hyunki… tolong bantu eomma menanam bunga ini di sebelah sana ya…” pinta Hyeri pada anak sulung kami yang masih berumur 3 tahun. Mereka terlihat sangat bersemangat. Tapi aku tak tega melihat Hyeri bekerja di bawah panas matahari seperti ini. Apalagi, dia sedang mengandung buah hati kami. Aku tak mau terjadi apa-apa pada keduanya.

“Hyeri… Hyunki… sudah siang. Sebaiknya kalian beristirahat. Biar aku saja yang lanjutkan menanam bunganya. Otte?”

“Aku belum lelah ko appa! Eomma saja ya yang istirahat. Kajja appa! Kita berkebun bersama.”

“Hyunki benar, duduklah yang manis di gazebo. Kami akan melanjutkannya.”

“Baiklah, menanamnya yang benar ya… bunga-bunga itu pasti sangat indah kalau sudah mekar. Apalagi di musim panas, suasana disini pasti akan semakin semarak. Aku sudah tak sabar untuk melihatnya.”

“Ne… ” aku hanya menanggapinya singkat sambil tersenyum melihat tingkahnya yang lucu.

“Lay…”

“Waeyo…” tanggapku santai sambil terus menanam bibit-bibit bunga di hadapanku.

“Lay… perutku…” suaranya terdengar semakin lirih.

Aku berbalik melihat Hyeri dan ternyata dia sedang merintih kesakitan. Rupanya anak kami akan segera lahir. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke arahnya diikuti oleh Hyunki yang sama-sama panik saat itu. Aku menggendong Hyeri ke dalam mobil dan mengantarnya ke rumah sakit untuk segera melakukan persalinan.

Persalinan Hyeri kali ini berlangsung lama. Yura, sahabatku, yang menangani persalinan Hyeri memberitahuku kalau kandungan Hyeri sangat lemah. Aku benar-benar khawatir. Tapi syukurlah, aku sudah mendengar tangisan bayi dari dalam ruang bersalin. Anakku sudah lahir.

Saking senangnya, saat Yura keluar dari ruangan, aku bersama Hyunki di pangkuanku langsung berlari ke dalam. Di sana, kudapati Hyeri yang sedang terbaring lemah dengan bayi cantik yang tertidur di sampingnya. Terima kasih Tuhan, kau telah menyelamatkan mereka. Terima kasih atas anugerah yang telah kau berikan padaku.

“Hyeri… bagaimana keadaanmu?”

“Aku sudah merasa lebih baik Lay…” jawabnya dengan suara yang sedikit melemah.

Kukecup keningnya dan kuusap lembut pipi kanannya yang putih itu dan kukatakan, “Terima kasih Hyeri… kau adalah ibu dan istri yang sempurna. Saranghae…”

Yeoja yang paling kucintai itu tersenyum dan berucap dengan suara yang semakin rendah. “Lay… aku sangat mencintaimu dan kedua anak kita. Aku mohon, jagalah mereka berdua untukku. Buat mereka merasakan kebahagiaan di setiap musim panas dan musim-musim lainnya, sama seperti kebahagiaan yang selalu kita rasakan berdua selama ini. Terima kasih sudah menjadi  suami dan ayah yang hebat. Saranghae…”

Itulah kata-kata terakhir yang diucapkannya padaku. Perlahan dia menutup kedua mata indahnya, yang ia tutup untuk selamanya.

Flashback Ends

~**~

Lay’s Side

“APPA!” Aduh, teriakan kedua malaikat kecilku ini benar-benar memekakan telinga.

“Waeyoo Hyunki… Hyejin…? Tenanglah sedikit. Coba lihat, bunga-bunga di taman kita sudah bermekaran. Indah bukan?”

“Ah ne… bunga yang kuning itu aku dan eomma yang menanamnya appa!” Ujar Hyunki antusias.

“Ne…kau masih ingat rupanya.” Kuusap lembut puncak kepala si sulung. Tapi, ada apa dengan Hyejin? Kenapa gadis kecilku ini diam saja?

“Hyejin… kau kenapa? Puteri appa yang cantik ini ko cemberut sih?”

“Appa… aku juga ingin menanam bunga dengan eomma!”

~Deg~

Rupanya dia merindukanmu Hyeri…

“Hyejin… eomma dan oppamu dulu menanam bunga matahari yang itu khusus untukmu. Kalau kau ingin menanam bunga, ayo kita lakukan bersama. Kita akan menanamnya untuk eomma, otte?”

“Emm!” akhirnya senyuman pun menghiasi wajah Hyejin.

Setelah selesai menanam bunga, tiba-tiba kedua anakku itu menarik kedua tanganku. Mereka berdua memang paling ahli membuatku kaget.

“Appa! Ayo kita masak sarapan! Ppalli… aku dan Hyejin sudah lapar sekali.”

“Ah kau ini, sebenarnya kau saja kan yang lapar?”

“Aniyoo… Hyejin juga ko. Iya kan Hye?”

“Ne, appa!”

“Hahaha… kalian ini kompak sekali. Baiklah, kajja!”

“Aku yang akan memasak omlete untuk appa dan Hyejin.”

“Memangnya kau sudah bisa?”

“Aaahh… appa ketinggalan jaman. Aku ini kan jago masak. Aku pasti akan menjadi chef seperti eomma. Kau percaya kan Hyejin?”

“Ne!” jawabnya sambil mengangguk mantap.

Mereka benar-benar lucu. Aku beruntung memiliki mereka. Terima kasih Hyeri… Aku akan menjaga mereka berdua dengan segenap jiwa dan ragaku dan akan kupastikan mereka mendapatkan kebahagian di setiap musim seperti yang kau pinta. Begitu pula di musim panas tahun ini, yang akan tetap hangat dan ceria dengan cintamu yang selalu ada di hatiku.

-FIN-

Author’s Talk:

Huwaaa…. FF yang ini rada ajaib chingudeul. Ceritanya ngalir gitu aja, ga pake konsep-konsepan segala. Dan lebih ajaibnya lagi, bahasa aku makin lebay…alay…kaya si Lay…#plaakk… aduuh mian deh pokonya ya… ditunggu banget loh komennya chingudeul… Mudah-mudahan sih pada suka ya…#ngarep haha … udah ah, selamat berkomen ria ^^

23 pemikiran pada “Summer Without You

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s