My Best “Friend” (Chapter 2)

My Best “Friend” Chapter 2 (Time Without You)

 

Author: parkhyejin94

Title: My Best “Friend”

Genre: Romance, Hurt, Comfort

Category: NC-17

Cast:

– Oh Sehun

– Park Hyejin

– Park Chanyeol

– Other EXO-K Member

– Other Casts

Length: Chaptered (2/5)

 

Seperti biasa, WARNING! Miss typo(s), gaje, abal, alur maju mundur.

Oke, langsung aja. Ini dia chapter 2-nya. Silahkan dibaca ^^

□□□

 

Saat ini Hyejin dan Sehun berjalan bersama. Menikmati meriahnya festival kembang api malam tahun baru di sepanjang jalan tepi Sungai Han.

“Sehun-ah… lihat! Yang itu indah sekali,” tunjuk Hyejin ke langit sambil bibirnya terus mengulas senyum.

Bukannya mengikuti telunjuk Hyejin, Sehun malah menatap wajah Hyejin seksama. Sungguh, tidak ada yang lebih membahagiakan baginya selain melihat yeoja yang ia cintai tersenyum. Terlihat sangat bahagia. Terus menatap wajah cantik di sampingnya. Mengikuti lekuk wajah yang terpahat indah.

“Hun hun, kesambet setan mana? Dari tadi liat wajahku segitunya. Kaya’ om-om yadong,” semburat merah tergurat di pipi Sehun, kedapatan Hyejin sedang menatapinya. Untung saja, ini sudah tengah malam, gelap, jadi Hyejin tidak bisa melihat pipinya yang sedang merona.

“Ini, tolong pegangkan es krimku dulu.” Ucapnya sembari mengangkat lalu meniup terompet dengan kencang bersamaan dengan orang-orang lain. Di malam tahun baru yang dingin, Hyejin malah memilih makan es krim. Tapi itu tidak masalah bagi Sehun. Sungguh. Apapun keinginan Hyejin, baginya tidak pernah salah.

Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Sehun berjalan di samping Hyejin yang terlihat lelah dan mengantuk. Ia lalu berjongkok.

“Naik ke sini.” perintah Sehun. Hyejin berjalan semakin sempoyongan menuju Sehun.

“Kau mau… menggendongku? Tapi aku beraaatt…”

“Ya! Cepat sini. Aku tidak akan membiarkanmu kenapa-kenapa di jalan.”

“Tidak usah. Aku jalan sendiri saja.”

“Hyejin, ayolah. Kau tidak akan menolak permintaan sahabatmu ini kan?” dengan lambat Hyejin berjalan menuju puggung Sehun. Jujur saja, ia memang sangat mengantuk, dan punggung Sehun terlihat sangat nyaman.

Hyejin berhasil naik ke punggung Sehun. Sehun berjalan santai sambil menggendong ‘beban hidupnya’.

“Aku yang mengajakmu ke luar. Maka aku juga harus mengembalikanmu sampai rumah dengan selamat.”

“Hyejin. Hyejin-ah,” ternyata Hyejin sudah tidur. Ia tidak lagi dapat merespon perkataan Sehun. Tubuh Hyejin yang tidak ringan terasa enteng bagi Sehun. Bukankah dengan cinta semuanya terasa ringan?

“Park Hyejin. Saranghamnida.” Memendam cinta terlalu lama seperti ini terkadang membuat Sehun sakit sendiri. Apa yang bisa ia perbuat? Hyejin hanya menganggapnya sahabat.

Langkah Sehun berhenti. Mereka telah sampai di depan rumah Hyejin.

“Eummh… kita, sudah sampai?” Hyejin menyadari Sehun yang dari tadi berusaha membangunkannya.

“Gomawoyo, Sehun-ah… Lain kali kutraktir kau makan ya…” Menyadari dirinya masih mengantuk dengan lekas Hyejin masuk ke rumah. Tapi apa ini? Tangan Sehun menahannya.

“Aku ingin kau tahu sesuatu.”

“Aku mencintaimu, Park Hyejin.” Hyejin sedikit membuka matanya. Dengan nyawa yang masih belum terkumpul sempurna, ia tidak jelas mendengar perkataan Sehun. Sedikit membuka mulutnya meminta penjelasan lebih.

“Huh?!”

‘Cup’

Tanpa aba-aba Sehun mencium bibir Hyejin. Menempelkan bibirnya di bibir Hyejin dengan sempurna. Mata Hyejin membulat. Tubuhnya kaku, tak bergerak sama sekali. Tangan kanan Sehun menahan belakang kepala Hyejin, sementara tangan kirinya diselipkan di pinggul kanan Hyejin.

Tak berapa lama, bibir Sehun bergerak. Menari-nari di permukaan bibir yeoja itu. Dengan intens dan tanpa jeda melumat bibir di hadapannya.

“Mmmhh… Se-hun, lep-ashh-kanhh,” Hyejin berusaha berontak, namun rengkuhan Sehun di tubuhnya tak kuasa ia lawan.

“Aku mohooonn… lepas-kannhh,” rintih Hyejin terputus-putus. Bibir Sehun semakin ganas menjamah bibirnya. Tidak hanya melumat, kini Sehun berani memasukkan lidahnya, mengeksplor setiap bagian mulut Hyejin. Mengajak lidahnya berdansa bersama.

“Eummhh… Ahh…”

‘Plakkk’

Tamparan keras sukses mendarat di pipi mulus namja itu. Hyejin menamparnya. Tidak terima dengan perlakuan Sehun.

“Sehun-ah, kenapa kau melakukannya. Wae? Hiks hiks,” Hyejin berlalu ke dalam rumah, tapi dengan cepat Sehun menahan sebelah tangannya.

“Lepaskan!”

“Tapi Hyejin. A-aku…” cengkramannya terlepas. Hyejin berlalu. Meninggalkan Sehun yang masih mematung di luar rumah. Butiran salju yang berguguran semakin menurunkan suhu tubuhnya.

“Bodoh! Kenapa kau begitu bodoh Sehun? Dia pasti membencimu sekarang!” Sehun memaki dirinya sendiri. Menyesali perbuatannya pada Hyejin. Harusnya ia menyatakan perasaannya pelan-pelan. Tidak seperti ini.

 

□□□

 

Kedua bocah kecil itu kini berjalan menyusuri trotoar kompleks. Sehun berusaha lebih akrab, ia menggandeng tangan yeoja di sampingnya. Hal itu lantas membuat pipi sang yeoja bersemu merah. Ia tidak pernah diperlakukan seperti ini bahkan oleh teman laki-lakinya sekalipun.

“Namaku Oh Sehun. Namamu siapa nona cantik?”

“Hye-hyejin. Namaku Park Hyejin. Kau ini masih kecil sudah pintar merayu ya?” cengiran lebar tertampang di wajah sang namja.

 

□□□

 

Melipat kedua lutut di dada menghadap jendela. Itulah kegiatan Hyejin saat merasa sendirian di rumah. Sekarang Hyejin tidak tahu harus curhat atau untuk sekedar mengobrol dengan siapa. Sehun yang dulunya selalu di sampingnya pasti akan setia mendengarkan semua kisahnya. Tapi sekarang sudah tidak ada. Semenjak kejadian itu, mereka berdua tidak lagi bersama. Bahkan saat berpapasan di sekolah, juga tidak sama sekali bertegur sapa.

Hyejin hanya berjalan menunduk saat melihat Sehun berjalan di depannya. Sementara Sehun? Jangankan menanyakan keadaanya, untuk menatap Hyejin saja ia tidak berani. Saat itu Sehun sedang asik menyeruput bubble tea kesukaannya. Mengingatkan Hyejin pada kenangan saat mereka masih bersama.

Mereka biasa menghabiskan minuman favorit Sehun itu berdua. Bahkan, saat uang mereka tinggal sedikit, mereka bisa menikmati bubble tea satu cup berdua.

Tidak. Hyejin bukannya membenci Sehun. Perasaan panas yang akhir-akhir ini timbul ketika berada di dekat Sehun kembali hadir. Panas yang merambat ke pipi dan membuatnya memerah. Ya, pelan tapi pasti, Hyejin menyukai namja itu.

Waktu yang dia habiskan untuk melupakan perasaan kagumnya pada Jino, diambil alih oleh Sehun. Dia menutup luka Hyejin, menggantinya dengan cinta yang baru. Hyejin hanya takut, sesuatu yang buruk akan datang jika mereka bersama. Dia tidak mau persahabatan mereka hancur hanya gara-gara masalah di antara sepasang kekasih.

Namun, sepertinya keputusannya untuk menghindari Sehun juga salah. Dia kehilangan Sehun. Sahabatnya. Cintanya. Lelakinya…

 

□□□

Tiga menit sudah mereka berjalan sambil Sehun terus menggandeng yeoja kecil bernama Park Hyejin itu.

“Sudah hampir sampai.” Hyejin menyadarkan hayalan Sehun.

“Rumahmu yang mana? Kalau aku tinggal di situ.” Ucap Sehun sambil menunjuk rumah tingkat dua berwarna biru.

“Rumahku yang itu. Ternyata kita tetangga ya? Hihi,” Hyejin lantas tersenyum. Manis. Sangat manis, menurut Sehun.

□□□

Hyejin POV

“Hyejin, sini.” Salah seorang di antara mereka melambai ke arahku.

Merekalah Baekhyun, Jongin, Kyungsoo dan Suho Oppa. Teman kampus sekaligus teman band Chanyeol Oppa, kakak kandungku. Hampir setiap hari mereka ke rumah. Apalagi sekarang, sebentar lagi ‘Seihen’, band yang mereka gawangi akan mengikuti lomba tidak kurang satu minggu lagi. Mereka biasa berlatih di studio yang sengaja dibangunkan Appa untuk Chanyeol Oppa.

“Hyejin, tolong antar mereka ke depan. Aku mau membantu Eomma di atas.” Teriak Chanyeol Oppa dari tangga.

“Kami pulang dulu ya. Ini sudah malam,” ucap Suho setelah melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 22.00 PM.

“Iya. Kami pamit dulu.” Timpal Jongin Oppa sembari membungkukkan sedikit kepalanya.

“Jangan lupa ucapkan terima kasih kami pada Eomma.” Ya, karena terlalu sering main ke sini, kami sudah seperti keluarga. Mereka juga tidak memanggil orangtuaku Ahjussi dan Ahjumma, melainkan Appa dan Eomma.

Tiba-tiba, sepasang tangan besar namun lembut menangkup kedua pipiku.

“Hyejin, a-aku, aku pamit dulu ya. Aku janji tidak akan lama. Tenang saja, secepatnya aku kembali lagi ke sini. Kalau kau tidak bisa tidur, telpon saja aku.” Baekhyun Oppa mengerlingkan sebelah matanya.

‘Hoeekk’ perutku mual.

Kalau ada yang mengira aku dan Baekhyun Oppa berpacaran, maka orang itu salah besar. Baekhyun Oppa memang seperti itu. Kelakuannya aneh. Tiba-tiba bisa jadi sok romantis padaku. Jangankan berpacaran, menyukai layaknya perasaan yeoja pada namja saja tidak. Menurutku, dia tidak ada bedanya dengan Chanyeol Oppa dan teman-temannya yang lain. Jahil, mengganggu, berisik, sumber keributan. Tapi aku senang, rumahku jadi ramai. Bersama mereka membuatku tidak lagi merasa kesepian. Orangtuaku juga tidak keberatan. Menurut mereka, lebih banyak lebih baik.

“Daaahhh…..” ucap mereka serempak sambil melambai-lambaikan tangan ke arahku. Sempat kulihat Baekhyun Oppa mengarahkan kiss bye. Lalu aku melakukan gerakan seperti menangkis cock bulu tangkis.

“Hmmm…” setelah mengantar 4 (macan) itu, aku berlalu ke dalam rumah. Berjalan sambil meregangkan ototku seperti orang habis latihan fisik.

‘Aku yang cuma menemani saja lelah, apalagi mereka tadi. Latihan dari siang sampai malam.’ pikirku.

 

Author POV

Sejak mengantar teman-teman Oppa-nya ke depan rumah, tanpa Hyejin sadari sepasang mata tengah mengawasinya dari balik pohon di seberang jalan. Dari kejauhan, samar-samar sosok itu bisa mendengar percakapan lima orang di depannya.

“Hyejin. A-aku, aku pamit dulu ya. Aku janji tidak akan lama. Tenang saja, secepatnya aku kembali lagi ke sini. Kalau kau tidak bisa tidur, telpon saja aku.”

Dua cup bubble tea di tangannya terjatuh bebas. Rahangnya mengeras melihat yeoja yang ia cintai disentuh dengan bebas oleh orang lain, apalagi Hyejin terlihat malu-malu disentuh oleh laki-laki itu.

Awalnya orang itu ingin menemui Hyejin untuk kembali merajut persahabatan seperti dulu. Tapi sekarang, harapan itu pupus sudah. Hatinya terlanjur sakit.

 

Make me to love you isn’t that hard

But one thing that I’ve never can do is to forget you

Cause you are my breath

My heart, my mind and my soul

 

-TO BE CONTINUED-

 

Yang rajin komen disayang author (^3^)  #slapped

Iklan

27 pemikiran pada “My Best “Friend” (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s