Octopus in Love (Chapter 1)

Octopus in Love

(Chapter 1)

 

Author       : Michishige

Main Cast  : Kim Jo Na (OC)

                     Oh Se Hoon (EXO-K)

                      Kim Jong In (EXO-K)

Other Cast : Byun Baekhyun (EXO-K)

Han Yoo Ra (OC)

Genre         : Jujur author bingung genrenya apa.___.

Rating        : PG20

Length       : Multi Chapter

Warning    : TYPO!!

Disclaimer :

Sujud syukur buat Tuhan YME yang udah bolehin author nulis ff ini dan terimakasih juga karena telah menciptakan makhluk sesempurna Sehun ,Kai dan Baekhyun sehingga author memutuskan untuk memakai mereka di ff ini. Author juga berterimakasih pada diri sendiri karena telah menciptakan Jona dan Yoora disini hehehe. Sebelumnya mohon maaf kalau ff nya jelek dan ngebosenin karena jujur ini ff kedua saya.__. Kalau kalian bilang cerita nya jelek ,berantakan dan bahasanya ga bagus itu sah-sah aja karena cerita ini murni dari hasil pemikiran author hehehe. So, langsung saja dibaca ff ngawur ini. Cekidot!

  

Jo Na’s POV

“Sudahlah.. jangan terlalu larut dalam kesedihan ,itu tidak baik untuk kesehatanmu”

Yoo Ra. Yeoja berumur duapuluh tahun dan satu-satunya orang yang masih bertahan menjadi sahabatku. Dia menatapku prihatin dan penuh rasa iba.

“Aku merindukannya YooRa-ah.”. Aku terduduk lemas memandang sebuah foto ditanganku.

“Nado.”

Hari ini genap tiga puluh hari kematiannya. Dan sampai saat ini sebenarnya aku masih tidak percaya bahwa dia telah pergi untuk selamanya. Terakhir kali aku melihatnya tiga puluh lima hari yang lalu saat masih berada dirumah sakit disini di Seoul ,Korea selatan. Dan saat itu juga orang tuanya memutuskan untuk membawanya ke Singapore demi mendapatkan perawatan yang lebih baik. Lima hari setelah itu aku mendapat kabar bahwa dia sudah tidak bernyawa lagi ,orang tuanyalah yang memberitahuku. Aku sangat shock saat itu. Shock sekali.

Yang lebih menyakitkan lagi orang tuanya tidak mengizinkanku melihat jasadnya untuk yang terakhir kalinya dengan alasan akan semakin membuatku menderita dan tidak bisa melupakannya. Aku tidak bisa memaksakan karena itu keputusan mereka. Walau hati kecilku ingin sekali memaksa untuk pergi ke Singapore dan melihat jasadnya untuk yang terakhir.

Aku meneteskan air mata untuk yang kesekalian kalinya. Mungkin jika mataku bisa berbicara dia akan memarahiku karena kubuat setiap hari untuk menangis. Ini juga bukan keinginanku ,air mata itu selalu keluar begitu saja.

“Sudahlah.. Dia pasti sedih melihatmu terus menangisinya.”. YooRa memelukku, mencoba menenangkanku. Mungkin YooRa sudah sangat bosan melihatku yang selalu saja menangis. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan selain menangis saat ini.

“Oppa..” . Tangisku meledak. Sungguh aku tidak kuat menerima semua ini. berkali-kali kucoba untuk tegar tetapi hatiku lemah. Lemah dan sakit menerima kenyataan ini. kenyataan bahwa orang yang kusayang pergi meninggalkanku untuk selamanya.

Mianhae oppa.. aku yeoja yang sangat bodoh. Mengapa bukan aku saja? Kenapa bukan aku yang menderita penyakit mengerikan itu?

Kupeluk erat sebuah boneka berbentuk Dolphin. Dolphin ini selalu mengingatkanku padanya. Seseorang yang sudah 3tahun menjadi namjachinguku.

*flashback*

 

Author’s POV

 

“Chagi… belikan aku itu.”. Dengan manjanya yeoja itu menunjuk kesebuah toko boneka.

“Yang mana?”. Tanya seorang namja disebelahnya yang sibuk membawa puluhan kantung belanja.

“Itu oppa.. yang itu..”

“Arraseo. Tunggu disini ya.”. Namja itu segera berlari menuju toko boneka tersebut dan masih dengan membawa puluhan kantung belanja.

Dan dengan santai si yeoja duduk ditaman pinggir jalan yang letaknya tepat bersebrangan dari toko boneka tersebut.

Tak perlu menunggu lama ,akhirnya namja itu keluar dari toko boneka dan berlari kearah yeojachingunya yang tengah asik melahap tusuk demi tusuk baso ikan yang lezat itu.

“Ta-Dah!” . Seru si namja sambil menunjukkan sepasang boneka Dolphin kepada yeoja dihadapannya. Berharap si yeoja akan senang dengan apa yang sudah dibelinya.

“Dolphin!?” . Pekik si yeoja dengan satu tusuk baso ikan dimulutnya. Untung saja tidak tersedak. Dengan cepat dan tanpa disuruh namja itu mengambil setusuk baso ikan yang ada dimulut yeojanya. Ini bukan pertama kalinya yeoja itu berbicara dengan makanan dimulutnya. Bagi namja itu hal ini sudah biasa.

“Ne. Ini Dolphin istimewah. Kau suka-kan?”

Yeoja itu menggeleng kencang.

“Aku hanya mau Hello Kitty itu” . Ditunjuknya boneka Hello Kitty berukuran sedang yang ada ditoko boneka itu.

“Aku tau. Tapi Dolphin ini lebih besar dari Hello Kitty yang kau mau. Lihatlah, bahkan aku membeli sepasang.”. Ucap namja itu yang selalu tak lupa tersenyum manis pada yeojanya.

Benar juga sih. Dolphin ini ukurannya lebih besar dan kuakui memang sangat bagus ,gumam yeoja dalam hati.

“Dolphin pink ini untukmu dan yang ini untukku.” . Kata Namja itu.

Umm… tidak buruk juga. Dolphin pink untukku dan Dolphin Blue untuknya. Biru dan Pink? Cocok juga ,batin si yeoja.

“Gomawo oppa.. Uuuhh bulunya sangat halus. Aku suka!” . Seru yeoja itu riang dan membuat si namja gemas dan mencubit pipinya pelan sehingga yang dicubit tidak akan merasa kesakitan. Namja itu teramat sayang pada yeojanya sehingga tidak mau menyakitinya walau hanya sekedar mencubit pipinya gemas dengan kencang.

“Kuharap kita seperti Dolphin. Mereka selalu bersama-sama. Mengarungi lautan besar bersama-sama. Mereka tidak akan terpisahkan, bahkan walaupun ada yang memisahkan mereka akan selalu tetap bersama.”

“Seperti Dolphin? mengarungi lautan? Aigoo.. oppa kau kan tau aku tidak bisa berenang.”

“hahahaaha kau ini.”.

Namja itu malah tertawa sambil mengacak-acak rambut yeojanya dan mendengar ucapan yeoja tadi. Bahkan saat berkata seriuspun yeoja ini masih saja bisa membuat si namja tertawa olehnya. Hanya dengannya si namja akan tertawa terbaha-bahak ,selalu tersenyum manis, selalu menuruti permintaan si yeoja baik fisik maupun materi dan hanya yeoja ini yang bisa membuatnya mau membawakan barang-barang belanjaannya.

Saranghae Kim Jong In..

*flashback end*

 

* * *

 

Kutopangkan daguku diatas meja. Dengan malas kutulis garis demi garis dinote kecil didepanku. Ah, jika Café ini milikku pasti aku tidak perlu susah payah setiap hari harus bekerja dari pagi sampai sore. Uuuhh rasanya hari ini aku hanya ingin seharian bersama tempat tidurku saja sambil memeluk Dolphin kesayanganku tentunya.

Kupandang dan kuelus lembut sebuah benda yang melingkar dipergelangan tanganku.

“Kim Jong In.. apakah gelang ini benar mengandung magic?”

Kalau dilihat gelang ini tidak ada yang istimewah ,bentuknya sangat biasa tidak ada yang menarik. Warnanya hitam polos ,tidak ada hiasan apapun disana. Tetapi mengingat gelang ini pemberian dari seorang yang berharga dalam hidupku ,tentu saja gelang ini menurutku sangatlah istimewah. Dan ini rahasia, Kim Jong In atau biasa dipanggil Kai bilang gelang ini mengandung magic.

KRING KRING

“Jo-ssi cepat layani pengunjung itu.”

“Jo-sii?”

“SARANGHAE KIM JONG IN.” Teriakku tanpa sadar. Kurasakan semua orang di Café ini atau lebih tepatnya Michelle Café ini menatapku heran.

Ooopss!

Aku tersenyum pada semua orang ,mencoba meminta maaf atas kebirisikkanku yang menggangu mereka walau dengan senyuman teraneh yang pernah kutunjukkan. Arrr pasti mukaku memerah sekarang.  Aih, babo babo babo ,JoNa babo bicara apa kau barusan. Kukutuk diriku sambil memukul-mukul pelan kepalaku.

“Setelah ini kau keruanganku ,sekarang cepatlah layani pengunjung itu.” Geram manager Ryu dengan muka datarnya. Ish, kalo Café ini punyaku sudah kupecat dia sebagai manager disini.

“Ne ,manager.” . Tanpa basa-basi lagi aku segera pergi dari hadapan manager seram itu dan langsung menuju kearah pengunjung yang sepertinya masih setia melihat kearahku. Ah, mungkin dia sudah tidak sabar ingin memesan makan atau minum.

“Annyeonghaseyeo”

“Mau.. pesan apa?” . Tanyaku ragu karena pengunjung ini masih saja menatapku aneh dan itu membuatku risih. Apa ada yang salah denganku? Aku memakai baju juga celana ,rambutku tidak botak ,wajahku juga tidak berjerawat tapi mengapa namja ini menatapku terus ,aneh sekali.

“Tuan ,mau pesan apa?” . Kuulangi ucapanku.

“Ah ne,”

Akhirnya..

“Aku pesan…..Hmmm…”

1 menit.. 2menit.. 3menit..

“Pesan?” Kucoba bersabar masih tetap tersenyum didepan pengunjung. Aih! Kalo Café ini punyaku sudah kuhapus slogan ‘Tersenyumlah maka para pengunjung akan senang dan datang kembali”. Tch, slogan macam apa itu. Sungguh ingin sekali kugebrak meja dan berhenti menjadi pelayan disini. Aiishh sebenanrnya ini bukanlah diriku. Aku yang sekarang sangat pemarah dan keras kepala.

“Apa makanan yang enak disini?” . Tanya namja itu tanpa merasa berdosa kepadaku yang sudah sangat lumutan menunggu pesanannya.

KYYYAAAAAAA!!!!!! MENGAPA TIDAK TANYA DARI TADI!!!!

“Makanan. Yang. Paling. Enak. Disini. Adalah. Gurita hidup.” Kutekankan setiap kata yang kuucapkan. Sial sekali aku melayani pengunjung seperti dia.

“Ne? Gurita Hidup?”

Aku mengangguk. Hehehe rasakan kau. Jelas-jelas itu makanan sangatlah tidak enak ahahaha. Eit, tapi makanan itu memang yang paling terkenal disini. Sial! Aku gagal mengerjainya!

“Oke , saya pesan dua porsi Gurita hidup, satu Frozen Cappuccino dan sebotol air mineral.”

Aku mencatat pesanannya itu. Omo! Dua porsi Gurita hidup? Uek.

“Ditunggu ya Tuan Oh Sehun”. Aku hendak meninggalkan namja itu ,tapi tiba-tiba dia menarik tanganku.

“Kau tau namaku? Apa kita saling kenal?”. Tanyanya dan lagi kembali menatapku dengan tatapan….Aneh. Mungkin besok-besok aku harus memakai topeng agar tidak selalu ditatap seperti ini.

“Ani. Hanya saja tertulis jelas dikeningmu.” Jawabku asal. Entah lah aku juga asal sebut saja nama itu. Ini bukan yang pertama kalinya ,aku memang sering sekali asal menyebut pengunjungku dengan nama yang menurutku cocok untuknya ,tetapi baru kali ini tebakanku benar. Ah, hanya kebetulan saja.

Aku segera pergi meninggalkan namja yang sibuk memegang keningnya dan sesekali melihat cermin. Dasar namja aneh hahahaa.

20 menit kemudian…

“DUA PORSI GURITA HIDUP ,SATU FROZEN CAPPUCCINO DAN SEBOTOL AIR MINERAL”

“Ne, segera kuantar!.” . Aku beranjak dari tempatku dengan membawa sebuah nampan berisi makanan pesanan namja aneh itu.

“Dua porsi Gurita hidup ,satu frozen cappuccino dan ini”

“Tunggu! Tolong temani… aku makan.” Pinta namja itu sambil menunjukkan puffy eyesnya. Apa dia gila ,bagaimana bisa aku menemaninya makan aku kan harus melayani pengunjung yang lain ,lagipula kalau dilihat manager seram itu bisa tamat riwayatku. Pemarah sepertiku pun sangalah membutuhkan uang untuk hidup.

“Mianhae tuan aku tidak bisa”

“Jebal.. aku tidak tau cara memakan gurita hidup ini” . Dia menarik tanganku dan menyuruhku duduk tepat didepannya. Aish..apa dia gila? Makanan ini sangat terkenal di korea tetapi dia tidak tau cara memakannya. Tidak salah aku menyebutnya namjah aneh.

Dengan terpaksa aku menemaninya makan ,mengajari bagaimana cara memakannya. Uek, perutku mual melihat makanan itu. Walaupun aku tinggal dikorea tetapi aku sangatlah tidak suka Gurita hidup ini. makanan ini sangat menjijikan bagiku karena teksturnya sangat lengket. Dan pasti saat dimakan gurita itu memberontak dan….Uek.

Kulihat namja itu memakannya dengan lahap ,apa dia menyukai makanannya? Ish, cara dia memakannya pun sangat persis dengan kau Kim Jong In. Mengapa orang-orang suka sekali dengan makanan menjijikan ini? bahkan Kai dulu hampir setiap hari memakannya. Itulah mengapa aku tahu cara memakannya walaupun aku tidak menyukai makanannya. Sering sekali aku menemani Kai memakan Gurita hidup di Café ini dan itu juga menjadi alasanku bekerja di Café ini. Café ini penuh kenangan antara aku dengannya.

* * *

Malamnya..

Jo Na’s POV

 

“Aigoo… lelah sekali , aih.. tanganku.” Rengekku sambil memijit-minjit tanganku yang sakit karena harus menerima hukuman manager Ryu mencuci semua piring dan gelas.

“Aih.. nappeun manager”

Aku berjalan dipinggir kota seoul. Berusaha menikmati indahnya malam ini walaupun tanganku masih saja sakit. Aku berjanji ,jika Café itu jadi milikku akan kupecat manager Ryu itu.

Sepanjang jalan hanya kulalui dengan kekesalanku hingga akhirnya mataku menangkap sebuah toko yang masih buka saat ini. Toko yang sering kukunjungi bersama kai dulu. Melihat isi tokonya membuat air liur dimulutku seperti ingin keluar.

“Aku ingin Ice cream itu!” Seruku pada diri sendiri. Tak  perduli tatapan aneh orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya.

15menit kemudian..

“Uuhh.. tak ada yang lebih lezat selain Ice cream ini”

Kekesalanku hilang begitu saja saat menjilat dikit demi sedikit Ice cream Cone rasa Blueberry ini. Seperti di surga rasanya setiap memakan Ice cream kesukaanku ini. Kai oppa.. andai saja kau disini pasti saat ini kita sedang bertengkar memperebutkan gigitan terakhir dari ice cream cone ini.

Pandanganku terus saja terfokus pada Ice cream Cone berukuran besar ini sampai-sampai aku tidak memperhatikan langkahku yang tidak sengaja begitu saja menabrak seseorang. Kuulangi. Menabrak seseorang!.

“Mianh–.. JAS KU!!”

“Aish.. ICE CREAM KU!!”

“Ya! agasshi! Kau harus bertanggung jaw—kau! Pelayan di Michelle Café.” Ucap seseorang  yang kutabrak tadi. Apa dia bilang? Pelayan Michelle Café? Memang benar aku pelayan disana tapi jangan memanggilku pelayan jika sedang diluar jam kerjaku. Errrrr.

“Kau harus mengganti Ice creamku!.” Omelku padanya ,aku tak perduli dia siapa. Aku hanya perduli jika dia mengganti Ice creamku yang terbuang sia-sia. Tch.

“Kau tidak ingat padaku?” Tanyanya.

Aku menggeleng. Siapa dia ,aku melayani puluhan pengunjung hari ini jadi aku tidak ingat siapa dia.

“Dua porsi Gurita hidup ,satu Frozen Cappuccino dan sebotol air mineral.” Jelasnya padaku. Aku terdiam berusaha mengingatnya ,jujur saja aku tidak bisa berfikir kalau belum menghabiskan Ice cream Cone Blueberry tadi.

“Ingat?”

“Hmm…kau! Namja aneh. Ya aku ingat.” Seruku setelah berhasil mengingat namja ini. ya siapa lagi yang memesan dua porsi Gurita hidup itu selain namja aneh ini.

“Eh? Namja aneh? Aku Oh sehun ,bukan namja aneh.” Namja aneh yang bernama Oh sehun itu hanya memanyunkan bibirnya. Dasar aneh.

“Ya! Tuan Gurita ,kau harus mengganti Ice cream ku”

“Mwo!? Hei pelayan, jas ku lebih berharga dari Ice creammu itu,kau yang seharusnya mengganti jasku yang rusak karena terkena Ice creammu itu.” Namja itu menyilakan tangannya.

Memang semua ini salahku jelas-jelas aku yang menabraknya ,tapi aku tidak terima gara-gara dia aku kehilangan Ice creamku. Errrrrr. Lagipula siapa suruh dia berjalan didepanku.

“MWO!? Ice creamku jauh lebih berharga dari jas murahanmu itu.” Aku ikut myenyilakan tanganku tak mau kalah

“Jas murah? Kau tahu harga Jas ini berapa? Satu juta won.” Bantahnya dengan bangga.

“Eeh? Kau menipuku!”

Apa-apaan dia berani menipuku. Mana ada harga jas semahal itu ,cih!

“AUWW YA!! PELAYAN!! KEMBALI KAU!! YA!” Teriak namja itu setelah berhasil kutendang bagian itu hmm anu hmm ya itunya lah kalian pasti tau.

Aku masih bisa mendengar teriakkannya walaupun aku sudah berlari kencang menjauhinya. Sangat jauh sekali sehingga namja aneh itu sudah tidak telihat lagi tetapi masih saja suaranya masih bisa kudengar.

“Aiisshhh keras sekali suaranya. Seperti perempuan saja,dasar namja aneh!.” Pekikku sambil menutup kedua telingaku dan berlari semakin kencang. Siapa tahu namja aneh itu mengejarku dan menyuruhku untuk mengganti rugi. Aku tidak punya uang untuk itu. Untuk menghidupi diriku saja aku harus bekerja keras ,bagaimana harus untuk mengganti rugi jas itu walaupun harganya murah.

 

***

Se Hun’s POV

“Sehunnie? kenapa kau merintih seperti itu?” Tanya hyungku ,Baekhyun. Yang sedang duduk santai didalam rumah dengan yeojanya. Dasar hyung pelit ,sabtu malam hanya berpacaran dirumah.

“Ini semua ulah pelayan Café itu ,Ough ,appo..” Rintihku sambil memegang ‘Junior’ku yang tadi ditendang oleh pelayan café itu.

“Eh? Pelayan Café ? trus itu bajumu kenapa kotor?” Dan kali ini yeojanya yang bertanya padaku. Mereka berdua mau tahu saja. Urusi percintaan kalian saja ,aku sedang badmood hari ini ,gumamku.

“Ini juga ulah Pelayan Café itu.” Jawabku sambil merintih, lalu dengan pelan kunaiki tangga menuju lantai dua dan masuk kekamarku. Aku tidak mau mereka  menyadari bagian mana yg sakit padaku, bisa-bisa aku ditertawakan oleh mereka.

CKLEK.

Kurebahkan tubuhku ke ranjang king size yang ada dikamarku.

“Aish…” Kubuka jas putihku lalu kulempar begitu saja kelantai.

Kembali kurebahkan tubuhku dan memencet tombol on diremote AC kamarku. Uuuhh… Dingin. Kudekatkan wajahku kemesin pendingin itu ,mencoba mengeringan keringat yang mengucur diwajah tampanku.

“Sehun, apa yang kau lakukan?” Eommaku tiba-tiba saja masuk kekamarku dan sukses membuatku meloncat kaget. Ish, eomma mengangguku kegiatanku saja.

“Jangan terlalu dekat dengan AC ,apalagi tidak memakai baju seperti itu ,nanti kau bisa demam ,sehunnie. Cepat pakai bajumu.”

“Ne ,eomma..” Ucapku dan langsung turun dari ranjang lalu menuju lemari pakaian untuk mengambil sebuah baju.

“Sehun..” Panggil eommaku lagi. Aku hanya menjawab dengan berkata “Hmm..?” sambil memakai T-shirt merah yang kuambil dilemari tadi.

“Apa kau sudah…”

Sudah apa? Firasatku tiba-tiba saja tidak enak. Tunggu! Sepertinya aku tahu kelanjutan ucapan eomma. Aku yakin dia mau bertanya ‘apa aku sudah menemukan seorang calon istri?’.

“..menemukan calon istrimu?” Lanjut eommaku. Yap! Tepat sekali pemikiranku.

Sejak kepergian nenekku untuk selama-selamanya, dia memberikan sebuah amanah untukku. Kalian tahu apa amanah itu? Ya, aku harus secepatnya segera menikah sebelum tepat 40 hari meninggalnya nenekku. Jelas saja ini semua membuatku frustasi. Bagaimana mungkin aku melangkahkan hyungku untuk menikah lebih dulu.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti amanah tersebut. Bahkan hyungku saja dengan  senang hati mendukungku karena memang dia tidak ingin cepat-cepat menikah dan tentu saja dia sangat senang karna akulah yang harus menerima amanah ini.

Arrrgghhh bagaimana aku menemukan seorang untuk dijadikan istri dalam waktu secepat ini. Pacar saja tidak punya ,apalagi seseorang yang akan kujadikan istri.

“Belum ,eomma.”

“Kalau begitu harus dilakukan dengan cara eomma ,kau sudah janjikan apabila sampai saat ini kau belum menemukannya maka eomma yang akan mengurus semuanya ,ingat?”

“Ne..” Ujarku pasrah. Sepertinya aku harus mulai menerima semua ini. Kesempatanku sudah habis. Tidak mudah menemukan seseorang yang cocok menjadi istriku nanti. Asal kalian tahu saja ,walaupun umurku dua puluh tahun tapi aku belum pernah sekalipun berpacaran. Aku tidak malu dengan semua itu karena memang aku tidak perduli. Aku hanya berpikir semua yeoja sama saja ,merepotkan.

Siapapun pilihan eomma nanti akan kucoba untuk menerimanya dan berusaha untuk mencintainya. Ya tuhan.. semoga pilihan eommaku memanglah jodohku darimu.

“Anak pintar.”

“Oh iya eomma, tolong suruh Kim ahjumma untuk membawa ini ke toko laundry.” Pintaku lalu memberikan jas kotor itu ke eommaku.

“Kenapa bisa kotor seperti ini?”

“Ini karena ulah pelayan caf—“

Eomma mengambil jas itu dari tanganku dan terdiam seperti menunggu lanjutan dari ucapanku tadi.

“Eomma ,apakah aku boleh meminta sesuatu?”

“Tentu anakku ,apa itu?”

“Apapun itu?”

“Ne, memangnya apa yang kau minta?”

“Walaupun yang kuminta harganya sangatlah mahal?”

“Ne. Apapun dan semahal apapun itu.”

Sudah kuduga. Aku menunjukkan senyum evilku saat mendengar jawaban eomma. Sebuah ide cemerlang sudah tersimpan diotakku.

YES! Hehehehee habis kau Pelayan Café hahahhaa

 

 

TBC

 

Gimana? Bosenin kan? Buat konflik aku belum munculin di chapter pertama karena disini baru perkenalan aja. Mohon kritik dan sarannya yah. Dan juga terimakasih sudah menyempatkan waktu berharga readers untuk membaca ff ga jelas ini. oh iya satu lagi ,buat chapter seterusnya aku buat ceritanya agak sedikit yadong ,jadi maaf buat yang ga terima^^ sekali lagi terimakasih….

Iklan

24 pemikiran pada “Octopus in Love (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s