This is What I Called Love (Chapter 1)

Title : This is What I Called Love

Nama author : milkchocholate

Genre : Romance

Length : 1 of ? (on writing)

Main cast : Do Kyungsoo, Kim Cheonmi

Other cast : Kim Cheonmi’s parents, (yg lain menyusul di chapter2 selanjutnya.. 😀 )

 

Author note :

Annyeonghaseyo yorobundeul~~ 😀

Gomawo dulu buat admin udh publish… 😀

Ada yg kangen??? *kepedean* *digantung*

Setelah the last target (yg belom baca, ayo silahkan dibaca ya… *promo* 😀 ) yg selesai dgn cukup geje dan ga bgt (TAT) author kembali dgn judul dan cast baruuuu~~

Ketauan bgt gapteknya ya itu poster -_- maaf ya author cuma bisa bikin begituan.. hehehe.. ayo ada yg rela bikinin author poster??? kkk~~ kalo beneran ada bisa dipertimbangkan buat poster chapter2 selanjutnya lhooo~~~ *ga ada yg minat* *nangis*

Cerita ini beda sama ff sebelumnya. Jadi ga ada sangkut pautnya sama cerita / tokoh di ff sebelumnya itu..

Sekarang kita pake mommy kyungsoo~~ ayo yg biasnya D.O, silahkan ya.. 😀

 

 

Enjoy!!! ^^

This is What I Called Love

 

Do Kyungsoo’s house, 10.00 pm

 

“Kyungsoo-ya, apa kau benar-benar harus melakukan ini?”

 

Seorang wanita dewasa yang masih sangat cantik di usianya yang berada di pertengahan empat puluh tengah berada di dalam kamar anak laki-lakinya, duduk di atas ranjang biru tua disana sambil menatap pasrah tumpukan baju di hadapannya.

 

“Omma, aku bukannya mau kabur dan tak akan kembali lagi, aku hanya mau kuliah..”

 

“Tapi kau kan bisa tinggal disini, kenapa harus pergi segala??” Do Kyungsoo menghentikan aktivitasnya memasukan bukunya ke dalam tas. Ia menatap sang ibu yang sekarang sudah mulai mengeluarkan air mata. Ternyata ibunya belum benar-benar bisa melepasnya.

 

“Aku pasti bisa. Jadi omma tenang saja..” Kyungsoo mendekat, berlutut di hadapan ibunya yang masih menangis. Satu minggu yang lalu, saat makan malam lengkap dengan ayah dan kakak laki-lakinya. Ia membuat semua orang kaget dengan mengatakan ingin hidup mandiri, mencoba meneruskan kuliahnya yang sudah menginjak tahun kedua sambil bekerja tanpa meminta uang dari keluarganya yang bisa dibilang ‘berlebih’. Ibunya menolak mati-matian, sang ayah hanya diam sedangkan kakak laki-lakinya malah setuju dengan keputusan adiknya itu. Agar sang adik bisa merasakan bagaimana hidup yang sebenarnya, begitu yang dikatakan kakaknya, yang sekarang tengah bekerja di luar negeri dan hanya pulang beberapa bulan sekali. Setelah perjuangan selama berhari-hari akhirnya sang ayah setuju. Ibunya, masih belum sepenuhnya setuju. Terlalu khawatir dengan nasib anak bungsu kesayangannya itu.

 

“Bagaimana kalau kau tidak mendapat rumah yang baik? Pekerjaan paruh waktu yang baik? Mau hidup seperti apa kau nanti??” Kyungsoo menggenggam tangan ibunya. Merasakan hangatnya tangan yang selalu ada untuknya selama hampir sembilan belas tahun hidupnya itu.

 

“Aku akan hidup baik, lulus kuliah, dan membuat omma bangga, hm?”

 

“Kau sudah cukup membuat omma bangga, Kyungsoo-ya..”

 

“Aku ingin hidup man-“

 

“Bagaimana kalau kau tidak punya uang dan kelaparan, hah?”

 

“Koki hebat sepertiku mana mungkin kelaparan.. aku akan memasak dan makan yang banyak..” candanya sambil tersenyum ke arah ibunya. Perlahan tangis ibunya pun hilang, digantikan senyum keibuan khas miliknya.

 

“Anak bodoh..”

 

***

 

Yonggeumok restaurant, Da-dong, Seoul, 6.00 am

 

“Kim Cheonmi!! Cepat bantu ibu!!”

 

Gadis itu bernama Kim Cheonmi. Mengenakan kaus tidur yang warnanya sudah pudar, celana olahraga hitam dan rambut acak-acakan khas orang bangun tidur. Gadis itu keluar dari kamarnya di lantai dua menuju dapur, dengan mata setengah tertutup mengeluarkan panci-panci besar dari lemari, mengisinya dengan air, lalu menaruhnya di atas kompor. Ia lalu menghampiri kulkas besar di ujung dapur, mengeluarkan beberapa plastik daging ayam, sapi, dan ikan dari kulkas, mencucinya sampai bersih lalu menaruhnya di dekat tumpukan bahan makanan mentah lain di sana. Begitulah Kim Cheonmi memulai harinya setiap hari, membantu usaha keluarganya sebelum berangkat sekolah. Ia memang hanya bertugas menyiapkan peralatan masak atau mencuci bahan-bahan mentah sebelum para pegawai datang, tapi bangun pagilah yang sebenarnya menjadi kesulitannya setiap hari. Entahlah sudah berapa kali alarm ponselnya berbunyi membangunkannya tapi gadis itu tak kunjung bangun, barulah setelah teriakan ibunya sampai ke telinganya ia mau beranjak dari ranjangnya.

 

Yonggeumok. Restoran masakan korea milik keluarga Kim Cheonmi yang sudah berdiri sejak tujuh puluh tahun lalu. Kini penerusnya adalah ayahnya. Beliau dibantu ibunya dan beberapa pegawai lain meneruskan warisan turun temurun keluarganya itu. Dulu restoran itu banyak didatangi para pejabat, petinggi negara, politis, bahkan artis-artis terkenal, membuatnya menjadi salah satu restoran yang diperhitungkan sebagai restoran korea terbaik. Itu semua berkat kerja keras para pendahulunya dulu. Saat ini pun Yonggeumok masih tetap diminati, tetapi dengan pasar berbeda. Kini orang-orang datang kesana karena keunikkan tempatnya yang belum pernah diubah, cita rasa masakannya, atau suasana hangat yang berbeda yang disuguhkan restoran itu. Banyak para remaja, turis, keluarga, atau perorangan yang datang kesana untuk menikmati masakan buatan ayahnya itu. Bahkan para veteran pun masih banyak yang datang, sekedar makan, duduk-duduk dan mengobrol, membicarakan pengalamannya hidupnya dulu. Yonggeumok, akan selalu menjadi bagian dari hidup keluarganya.

 

“Cheonmi-ya, pulang sekolah tolong belikan ini semua..” seorang wanita mengenakan apron hitam masuk ke area dapur, buru-buru menyerahkan secarik kertas berisi daftar belanjaan untuk anaknya lalu keluar lagi, meneruskan pekerjaannya menyapu di area depan yang penuh meja-meja dan kursi makan para pelanggan. Kim Cheonmi hanya menatap datar daftar belanjaan di tangannya. Ia tidak pernah belanja!! Bagaimana mungkin ibunya menyuruhnya yang tidak pernah masuk pasar itu untuk belanja bahan keperluan restoran?? Ini dikarenakan salah seorang pegawai mereka ada yang cuti hamil, jadilah ia yang kini mendapat tugas itu. Mau tak mau ia harus menerima tugas itu karena kalau tidak, uang bulanannya bisa dipotong. Orangtuanya memang paling tau kelemahannya. Cheonmi menyimpan peralatan dapur yang telah di bersihkannya lalu menuju kamarnya, bersiap-siap pergi ke sekolah. Hari ini ia dan teman-temannya akan mempersiapan diri untuk upacara kelulusannya yang akan dilaksanakan minggu depan. Walaupun sebenarnya ia tak mau repot mengurusi hal semacam itu, tetap saja teman-temannya berhasil membujuknya untuk ikut.

 

Kim Cheonmi mengambil tasnya lalu menuju pintu belakang rumahnya. Memakai sepatunya sambil mengunyah kue kering milik ayahnya yang tadi tergeletak begitu saja di dapur. Ia lalu pamit pada orangtua dan para pegawai restoran yang telah datang.

 

“Jangan lupa selesai dari sekolah langsung belanja..”

 

“Arraseo..” gadis itu baru akan menutup pintu dan siap berangkat saat ibunya memanggilnya lagi.

 

“Cheonmi-ya..” Cheonmi melongokkan wajahnya ke dalam, tampak ibunya sedang berkutat dengan beberapa bumbu dapur di tangannya. “Kau… sudah mandi kan?”

 

“Omma!!” dan ibu, ayah, beserta para pegawai disana pun tertawa senang setelah menggodanya.

 

***

 

Jangwe market, Sangwolgok, Seoul, 8.00 pm

 

Seorang gadis tengah memeriksa secarik kertas di tangannya dengan teliti sambil memakan es krim coklat di tangannya. Ia baru saja sampai di pasar yang ditunjuk ibunya itu kemarin. Matanya masih berkeliling, memikirkan kira-kira apa dulu yang harus dibelinya di pasar itu saat seseorang tiba-tiba menabraknya.

 

“Es krimku!!” Cheonmi refleks berteriak melihat es krimnya jatuh, tergeletak begitu saja di lantai semen pasar yang basah, es krim itu perlahan mulai mencair seiring tatapan ibanya pada es krim itu. Es krim itu adalah uang terakhirnya di bulan ini!!

 

“Maaf, aku tak melihatmu tadi..” seorang pria di sampingnya tiba-tiba bersuara. Membuatnya menoleh.

 

“Kau tak melihatku? Aku dari tadi disini, hanya diam, berdiri disini, dan kau tak melihatku??” Cheonmi tiba-tiba emosi melihat pria itu hanya menatapnya tanpa ekspresi. Ucapan maafnya tadi terdengar hambar di telinganya, tanpa nada sama sekali. Pria itu terlihat kaget melihat Cheonmi yang marah-marah.

 

“Mungkin ekspresiku tak menunjukannya, tapi aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar tak melihatmu, aku terus menunduk melihat ponselku, dan tak sengaja menabrakmu, aku-“ pria itu terlihat kebingungan sendiri dengan kata-katanya. Ia lalu menatap Cheonmi, tersenyum lebar dengan kaku, ekspresi merasa bersalah. “Mianhaeyo..”

 

“Sudahlah, aku harus buru-buru belanja dan-” Cheonmi sudah akan meninggalkan pria itu saat ia tak lagi melihat kertas daftar belanjaannya itu di tangannya. Ia berjongkok, mencari di saku-saku baju, tas, bahkan di sela-sela buku.

 

“Kau mencari ini?” pria itu berjongkok di hadapan es krim Cheonmi yang tadi terjatuh, menunjuk lembaran putih yang sudah tak berbentuk disana, bersatu dengan es krim tadi. Cheonmi memperhatikannya dan bahunya merosot lemah menyadari benda putih-basah-kotor itu adalah kertas daftar belanjaan yang tadi ibunya berikan. Kertas itu sudah bercampur dengan es krim, tak terlihat tulisan apapun disana. “Ada apa?”

 

“Kau!” Cheonmi menunjuknya dengan wajah kesal. “Tanggung jawab!!”

 

***

 

“Yang ini dan ini, lalu ini, yang itu juga..” seorang pria tengah sibuk menunjuk-nunjuk bumbu masakan yang akan dibelinya sementara gadis di sampingnya menatapnya dengan wajah kosong. Terlalu terkejut dengan apa yang dilakukan pria itu.

 

Namanya Do Kyungsoo, pria yang ternyata mau bertanggung jawab dengan mengantarnya berbelanja itu. Mengatakan ia tau semua bumbu dapur masakan korea. Cheonmi hanya setuju saja. Daripada ia pulang dengan tangan kosong, yang berpotensi menyulut kemarahan orangtunya yang nantinya berdampak pada uang bulanannya. Ia hanya mengekor saja kemana pria itu pergi, mengunjungi satu per satu pedagang disana, sedikit bertanya lalu membeli. Pria itu tampak sangat tau wilayah pasar ini. Terbukti dengan beberapa kantong belanjaan yang sudah mereka kumpulkan dalam waktu sepuluh menit saja.

 

Pria itu ternyata sudah selesai dengan gochujang*1 dan beberapa bahan lainnya. Ia lalu menatap Cheonmi yang masih asyik melamun.

 

“Apalagi yang kau butuhkan?” tanya Kyungsoo yang membawa beberapa kantung penuh belanjaan.

 

“Aku bahkan tidak tau apa isi dari kantung-kantung ini. Kalau semua sudah kau beli aku akan pulang sekarang..”

 

Cheonmi dan Kyungsoo menuju halte terdekat. Mereka berjalan dalam diam, tidak ada perbincangan apapun diantara keduanya. Sampai di halte, Kyungsoo menurunkan kantung-kantung belanja di tangannya ke atas kursi halte. Tak lama bus yang Cheonmi tunggu tiba. Ia baru saja akan membawa serta kantung belanjaan di kursi tadi saat Kyungsoo sudah membawanya duluan menuju bus. Cheonmi yang bingung pun mengikuti langkah Kyungsoo menuju kursi belakang.

 

“Kau mau apa?”

 

“Mengantarmu pulang..” Cheonmi mengerutkan kening. Memberi Kyungsoo tatapan ‘untuk-apa-kau-melakukannya?’

 

***

 

“Kau mau?” tiba-tiba Kyungsoo menyodorkan bungeoppang*2 kehadapannya. Cheonmi mengambilnya dan langsung memakannya.

 

“Sebenarnya kau tak harus mengantarku pulang..”

 

“Aku kan bersalah, jadi harus bertanggung jawab sampai akhir..”

 

Cheonmi tersenyum, kelihatannya pria di sampingnya ini pria baik-baik. Ia pria yang bertanggung jawab dan-

 

“Kenapa menatapku seperti itu?”

 

Cheonmi gelagapan ketahuan tengah menatapnya. Ia bahkan tak tau apa yang harus diucakannya pada pria di sampingnya itu.

 

“Siapa yang menatapmu? Dasar anak kecil sok tau..”

 

“Anak kecil? Aku bahkan sudah menjadi mahasiswa tingkat 2.”

 

“Mana ada mahasiswa pendek sepertimu?”

 

“Apa kau bilang? Kau sendiri? Pasti hanya anak smp yang tengah mendapat hukuman dari orang tuanya karena nilai-nilainya jelek, bagaimana orang tua bisa membiarkan anak kecil sepertimu berkeliaran di luar rumah malam-malam begini?”

 

Ternyata pria ini tidak ada baik-baiknya. Ia menghinaku habis-habisan. Entahlah tapi yang jelas aku membencinya sekarang!! Dasar pendek!!

 

“Cukup. Kau bahkan lebih terlihat seperti anak SD dibandingkan mahasiswa.”

 

“Kau-“

 

“Tahun ini aku lulus SMA tau. Dan akan menjadi mahasiswi-”

 

“Kau tak cocok menjadi mahasiswi..”

 

“Kau-”

 

“Kita sudah sampai di halte terakhir, kalian mau turun dimana?” tiba-tiba supir bus tersebut berbalik dan bertanya pada mereka berdua dengan nada lelah. Sepertinya pertengkaran mereka cukup membuat kegaduhan di busnya. Cheonmi hanya menatap sekelilingnya dengan tatapan bingung sementara Kyungsoo membereskan kantung-kantung belanjaan di tangannya.

 

“Ini dimana?” tanya Cheonmi dengan nada ragu. Membuat Kyungsoo yang tengah memeriksa barang bawaan mereka menghentikan kegiatannya.

 

“Kau tidak tau dimana rumahmu?”

 

Cheonmi menatap Kyungsoo, kantung belanjaan mereka, dan supir bus tersebut bergantian.

 

“Sepertinya halte menuju rumahku sudah terlewat tadi..”

 

***

 

Yonggeumok restaurant, Da-dong, Seoul, 7.00 am

 

“Kenapa ibu tak membangunkanku???”

 

Kim Cheonmi dengan tergesa-gesa menuju dapur dan melongok melihat dapur itu sudah rapi dan bersih. Panci-panci berisi air sudah berada di atas kompor, alat-alat masak sudah tersusun rapi, bahkan sayuran dan daging mentah sudah tercuci bersih.

 

“Kyungsoo bahkan bangun lebih pagi dari ibu. Ia rajin sekali..”

 

Cheonmi memutar matanya, memberi tatapan ‘aku-tak-peduli’ atas perkataan ibunya barusan. Ia melongokkan wajahnya dan melihat pria itu tengah menyapu di depan. Ya. Pria itu, Do Kyungsoo. Setelah semalam ia dan Cheonmi pulang tengah malam karena Cheonmi yang lupa menghentikan bus, bukanya memakinya dengan tuduhan membawa pergi seorang gadis sampai tengah malam, ibu dan ayah Cheonmi malah suka dengannya dan menyuruhnya tinggal bersama mereka saat tau Kyungsoo tidak punya tempat tinggal. Kyungsoo yang tak bisa menolak karena desakan orang tua Cheonmi itu akhirnya setuju asalkan ia diperbolehkan bekerja untuk restoran itu sebelum dan sepulang ia kuliah untuk membalas budi kebaikan orang tua Cheonmi.

 

“Aku tak bertanya mengenainya, aku bertanya kenapa ibu tak membangunkanku pagi ini?”

 

“Semua pekerjaan sudah selesai, kau mau melakukan apalagi?”

 

Cheonmi mengerucutkan bibirnya dan pergi dari dapur menuju kamarnya, mengeluarkan beberapa buku tebal dari dalam tasnya dan tak lama sudah tenggelam diantara soal-soal sejarah itu. Beberapa minggu lagi ia akan mengikuti ujian masuk universitas, jadi ia terus belajar agar bisa lolos ke universitas impiannya.

 

Baru saja beberapa soal berhasil dikerjakannya, Cheonmi sudah mulai mengantuk. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.

 

“Siapa?”

 

“Ini aku..”

 

Dengan malas Cheonmi membuka pintu kamarnya. Tampak Kyungsoo lengkap dengan handuk yang tersampir di bahunya. Ia tersenyum melihat Cheonmi yang tampak berantakan dengan celana olahraga dan kaus kebesaran yang dipakainya. Cheonmi lalu menatapnya dengan tatapan ‘kenapa-melihatku-seperti-itu?’

 

“Kau benar-benar tidak cocok menjadi mahasiswi..”

 

“Ya!!” sebelum mendapat teriakan lain dari Kim Cheonmi, Kyungsoo buru-buru masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamar Cheonmi.

 

“Kenapa kau mandi disini?”

 

“Ibumu bilang aku berbagi kamar mandi ini denganmu. Lagipula, gadis sepertimu tidak akan sering-sering memakai kamar mandi untuk mandi kan?”

 

“Ya! Do Kyungsoo!!”

 

***

 

Kim Cheonmi’s room, 10.00 pm

 

“Kyungsoo-ya..” panggil Cheonmi dari luar kamar mandi. Terhitung sudah empat hari Kyungsoo tinggal di rumah milik keluarga Cheonmi itu. Ia bahkan memliki hobi baru, mengganggu Kyungsoo saat berada di kamar mandi. Cheonmi selalu mengajak Kyungsoo mengobrol selama berada di kamar mandi, dan jawaban-jawaban dari pria itu selalu membuatnya tertawa. Setidaknya walau pria itu menyebalkan, Cheonmi bisa sedikit terhibur dengan tingkah lakunya yang kadang polos dan bodoh seperti anak kecil. Entahlah apa pria itu benar-benar mahasiswa tingkat dua seperti yang dikatakannya atau tidak.

 

Pria itu, sangat sopan, bertutur kata baik, selalu menyisipkan kata terimakasih dan maaf dalam setiap perkataannya yang membuatnya orang-orang terpesona pada aura kebaikkannya. Tapi semua hal itu hanya terjadi saat Kyungsoo tengah berada di antara keluarganya, para pegawainya, atau para pelanggan mereka. Saat pria itu berada di depan Cheonmi ia berubah menjadi pria menyebalkan yang suka menghinanya. Dengan pintarnya selalu menemukan satu persatu kesalahan atau kelemahan Cheonmi yang membuatnya hanya bisa menggerutu dalam diam atas tingkah laku pria itu.

 

Cheonmi masih berkutat dengan buku soal matematikanya saat Kyungsoo keluar kamar mandi sambil mengusap-ngusap rambut basahnya dengan handuk. Ia menghampiri Cheonmi yang sedang menekuk wajahnya menghadapi berbagai angka dan simbol di hadapannya itu.

 

“Ternyata kau benar-benar mau masuk universitas ya..”

 

“Sudah kubilang kan aku itu baru lulus SMA, kau saja yang-“

 

“Yang itu jawabannya salah..”

 

“Ha?” Cheonmi melihat arah pandang Kyungsoo menuju bukunya.

 

“Yang itu, dan itu, itu juga. Ya.. kenapa banyak sekali yang salah?”

 

“Aish.. sudah sana.. aku mau belajar lagi..”

 

Cheonmi mendorong Kyungsoo menjauh dari meja belajarnya dan keluar dari kamarnya. Kyungsoo pun masuk ke kamarnya sendiri yang tepat berhadapan dengan kamar Cheonmi.

 

***

 

Soomkyung Girls’ High School, Dogok-dong, Gangnam-gu, Seoul, 02.00 pm

 

“Sekarang kau sudah resmi lulus dari SMA ini Cheonmi-ya..”

 

Kim Cheonmi tersenyum. Jenis senyuman yang hanya akan seorang gadis berikan pada orang yang ia sukai. Ia membelalakan matanya saat tangan pria itu terjatuh begitu saja di bahunya, merangkulnya perlahan lalu mengajaknya berpose bersama di depan kamera yang tengah teman Cheonmi pegang.

 

“Sebenarnya apa yang oppa lakukan disini? Seingatku ini masih jam kuliahmu kan?”

 

Pria itu tersenyum. Salah satu hal terfavorit Cheonmi dari pria itu.

 

“Kau pikir aku mahasiswa kurang kerjaan yang akan sering-sering mengunjungi bekas sekolahnya? Tentu saja aku kesini untuk melihat kelulusanmu…”

 

Pria itu mengacak rambut Cheonmi lembut, lengkap dengan senyum khasnya yang membuat Cheonmi ikut tersenyum.

 

***

 

“Ya! Kau kemana saja? Ibu dan ayahmu sudah menunggu untuk berfoto bersama dari tadi..”

 

“Apa yang bisa kulakukan atas kepopuleranku disini? Dari tadi semua orang berebut untuk berfoto bersamaku.. Tidak mungkin aku menolaknya kan Kyungsoo-ya??”

 

“Anggap saja aku tak bertanya apapun padamu tadi.”

 

Cheonmi tertawa mendengar perkataan Kyungsoo barusan. Ia lalu berpose di depan kamera bersama kedua orangtuanya.

 

“Kyungsoo-ya, apa yang kau lakukan disana? Ayo cepat foto berdua bersama Cheonmi..”

 

Cheonmi dan Kyungsoo sama-sama kaget dengan perkataan ibu Cheonmi barusan. Tapi tak lama Cheonmi menunjukan senyuman penuh artinya. Kyungsoo tak punya pilihan, ia menghampiri Cheonmi yang masih berdiri di hadapan kamera.

 

“Aigoo.. ternyata urri Kyungsoo ingin berfoto denganku juga..” Cheonmi menunjukan senyum kemenangannya pada Kyungsoo. Kyungsoo hanya diam, memperhatikan juru foto yang sedang menyiapkan peralatannya lagi.

 

“Aku tak menyangka anak kecil sepertimu bisa melakukan kelulusan juga..” Kyungsoo mengatakannya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Menambah kekesalah Cheonmi pada pria itu.

 

“Aku benar-benar membencimu Do Kyungsoo..”

 

“Benarkah?”

 

“Tentu saja.” mereka berbicara tanpa saling menatap satu sama lain, keduanya sama-sama menatap ke depan. Ke arah kamera yang bersiap mengambil gambar mereka.

 

“Kalau begitu aku akan menyukaimu..”

 

***

 

TBC

 

Seperti biasa tempat2 di ff ini asli ada koreanya.. bisa tanya om gugel kalo penasaran.. hehe

Maaf kalau ffnya mengecewakan, geje, typo (salahkan keyboard dan jari yg tidak sinkron XD) , ide ceritanya udh banyak dimana2, dll.. tapi ya dinikmati brg aja ya… *maksa* xD

Karena baru chapter 1 jd masih belom kliatan konfliknya, hehe.. ditunggu ya next chapnya… 😀

Makasih buat semuanya yg udh mau baca, komen, like.. *tebar tiket smtown ina* hehehe

Sebelum gejenya tambah overload, author udahin aja ya.. 😀

Annyeong~~~~ *dadah2 brg mamih kyungsoo lengkap pake mata O.O-nya*

 

Note:

*1 : saus cabai

*2 : red bean fish toast (kue/roti bentuk ikan berisi red bean paste)

9 pemikiran pada “This is What I Called Love (Chapter 1)

  1. woow… ceritanya keren neh kayaknya
    pas baca nama author ff ini, udah langsung nebak ceritanya bakal bagus, yang sebelumnya aja keren,, thor, ditunggu ya lanjutannya 🙂
    jangan lama-lama ya ^_*

  2. Thooooooor!!! kayaknya aku suka banget deh sama couple yg satu ini >o<
    ehem! mereka tuh serasi banget!! nyehehe *ketawa haha*
    ahay! Kim Cheonmi denger kata2 terakhir si Kyungsoo, kayaknya dia gak bisa tidur deh malemnya..haha

    next chapt thoooor~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s