Endless Love (Chapter 3)

TITTLE: ENDLESS LOVE PART 3 (sequel of Between Friends)

Cast: Amelia Salisbury / Ri Ah. (OC)

Oh Sehun

Krystal Jung

Giselly Kim (OC)

Author: AAL (@adlnayu / @y00nkai)

Genre: Family, Friendship, Romance

Length: Chapter

Notes: pernah di post di hazelwine.wordpress.com

  

There was a distance between you and I, a misunderstanding once, but now we look it in the eye –Cars

Ri Ah’s POV.

“Sehun?”

“Ri Ah?”

Aku mengerjapkan kedua mataku. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Atau mungkin bila sempat, aku akan mengerjapkan kedua mataku sampai seribu kali lalu mencuci muka sampai seratus kali. Ditambah dengan puluhan tamparan di kedua pipi, agar dapat membuatku bangun dari mimpi disiang bolong ini.

Tapi.. apakah ini memang mimpi?

Aku menatap pria yang ada dihadapanku ini dengan mulut yang setengah terbuka. ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada yang keluar selain tiupan karbon dioksida. Aku bahkan lupa bagaimana caranya untuk bernafas. Sosok yang ada dihadapanku ini terlalu ajaib untuk menjadi nyata. Bahkan bermimpi untuk bertemu dengannya saja aku tidak berani. Dan sekarang, pria itu ada disini. Tepat dihadapan manik mataku. Sedang menatapku dengan kedua hazel miliknya.

 Satu tanganku yang tadi sedang menggeret koper berwarna merah terlepas begitu saja.  “Se…Se…. K-kau…. Sehun? Oh Sehun?”

Kedua bola mata pria itu yang tadi membulat kini sudah kembali ke ukuran normal. ia menggelengkan kedua kepalanya lalu kembali menatap wajahku. Seakan aku ini hanya bayangan ilusi yang bisa saja hilang sewaktu-waktu, “Dan kau…. Ri Ah? Amelia Salisbury?”

Aku tidak bisa merespon apapun selain mengangguk seperti orang bodoh.

Jadi….benar. pria yang sekarang berada dihadapanku ini adalah Sehun. Oh Sehun. Pemuda jenius berambut cokelat yang selalu mengendarai sepeda berwarna putih kemana-mana. Yang selalu menyesap secangkir Vanilla Latte di waktu pagi dan malam. Yang selalu menjadi penengah saat aku dan Kai sedang berdebat. Pemuda yang pergi tanpa sebab tujuh tahun lalu dan kini muncul bagai sinar mentari yang berada dipelupuk mata.

“Apa kabar?”

“Bagaimana kabarmu?”

Hening.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Sedang apa kau ada disini?”

Hening.

“Ah….” Sehun menggaruk tengkuknya –yang aku tidak tahu apakah benar gatal atau tidak- “Kau dulu.”

Aku berdehem sebentar. Lalu berkata dengan susah payah, “Kau… apa kabar…Sehun-ah?”

Sehun-ah. Sudah berapa lama aku tidak menyebut namamu?

“Baik.” Ia menjawab ramah. Namun aku bisa mendengar nada suaranya yang sedikit bergetar, “Kamu?”

Tidak. Aku tidak baik-baik saja.

“Baik. Apa yang kau lakukan disini Sehun-ah?”

“Kau tidak bisa lihat?” ia menunjuk bet yang berada diatas kantung jas birunya, “Sekarang aku seorang pilot dari penerbangan Estrella Airlines.”

Kedua mataku membulat, “Se-Seriusss?!!!”

Aku memperhatikan bet nya. Beneran loh. Kupikir dia bohong. Maksudku, Estrella Airlines bukan perusahaan maskapai sembarangan. Aku dan ayah selalu ingin menggunakan pesawat mereka bila berlibur. Namun tiketnya yang sangat mahal membuat kami gigit jari.

Ne.” ia tersenyum lebar. “Janji ku untuk meraih cita-cita menjadi pilot… dapat aku tepati kan?”

Aku dapat merasakan jantungku seperti berhenti berdetak. Kedua mataku tiba-tiba terasa hangat, dan aliran darahku berdesir lebih cepat.

Kau masih mengingatnya…. Sehun-ah?

“Lalu, apa yang kau lakukan disini Ri Ah?”

“Ah aku….. mulai hari ini akan tinggal di Seoul.”

“Memang selama ini kau tinggal dimana?” Tanya pria itu lagi.

“Masih di desa kecil tak bernama itu.” jawabku santai sambil mengangkat bahu, “Kau masih mengingat tempat itu kan Sehun-ah?” kataku. Setengah bertanya, setengah menyinggung.

Pemuda itu terdiam sebentar. Lalu menjawab, “Tentu. Mana mungkin aku melupakan tempat kelahiranku sendiri?”

Kalau begitu kenapa dulu kau pergi?

“Oh, baguslah kalau begitu.” Jawabku singkat. Pandanganku jatuh pada seorang gadis kecil yang daritadi hanya bisa memandangi kami berdua dalam diam. ”Ah, kenalkan. Ini….”

“Gissel!” Gadis kecil itu langsung berkata dengan nada riang. “Ajusshi kenalkan namaku.. Gi….”

“Seri. Namanya Seri.” Aku memotong kalimat gadis kecil itu sebelum sempat ia menyelesaikannya, “Kim Seri. Dia anakku.”

Aku tidak bisa melihat ekspresi wajah Sehun karena diriku lebih memilih untuk menundukan kepala. Apa ia terkejut? Aku tidak tahu. Tapi yang jelas aku dapat melihat jemarinya tiba-tiba bergetar lalu terkepal kuat.

“Kim? Apa dia…..”

“Ya.” Aku mendongakan kepalaku. Menatap langsung pada kedua matanya, “Seri adalah anak dari hasil perkawinanku dengan Kai.”

Sekarang aku benar-benar dapat melihat iris miliknya membesar seketika, lalu kembali ke ukuran normal saat pria itu mengerjap. “Benarkah? Kalau begitu…selamat atas pernikahanmu.”

Seharusnya kau ucapkan itu tujuh tahun lalu. Ah tidak. Seharusnya kau cegah aku agar tidak mengucapkan janji setia kepada lelaki selain dirimu.

“Terima kasih.” Ucapku pelan sambil tersenyum tipis.

“Lalu dimana dia?”

“Siapa?”

“Kai. Dimana dia?”

Aku tahu. Cepat atau lambat pertanyaan ini pasti akan datang juga dan meruntuhkan dinding pertahanan yang telah kubangun. Namun yang tidak aku tahu adalah, mengapa pertanyaan itu akan terlontar dari mulut pria ini?

“D-Dia….” Aku ingin menjawab sejujurnya, namun kini disamping kami ada Seri. Walaupun aku sudah memberitahunya bahwa ayahnya kini telah tiada, gadis kecil ini tetap tidak mengerti. dan tidak pantas rasanya, membicarakan tentang kematian ayahnya dihadapannya langsung, “Na-Nanti akan kuberitahu.” Hanya itu yang sanggup aku ucapkan.

Sehun mengangguk-angguk mengerti. aku bersyukur ia tidak bertanya lebih jauh.

Terlalu banyak yang ingin kuucapkan padanya. Hingga aku tidak bisa untuk memilih salah satu dan akhirnya hanya bisa menelan kalimat-kalimat yang sudah menggantung di kepalaku ini sejak tujuh tahun yang lalu hingga detik ini.

Keheningan mengisi suasana. Aku hanya bisa mendengar suara langkah kaki, geretan koper, dan suara dengungan mesin pesawat yang memekakkan telinga. Serta hembusan nafas kami yang tertahan, seperti ada sesuatu yang sedang menyesakkan dada.

Sehun menggigit bibir bawahnya sebelum berkata, “Kalau begitu… sampai nanti. Maaf tapi aku harus pergi sekarang juga.”

“A-Ah.” Aku menganggukan kepalaku canggung, “Kalau begitu aku juga….harus pergi. Sam…” kalimatku tiba-tiba terhenti. Aku tidak tahu kata apa yang harusnya kuucapkan selanjutnya. Sampai jumpa, ataukah selamat tinggal?

Sehun tersenyum lagi, tapi kutahu kedua matanya tidak. Perlahan, ia putar tubuhnya hingga membelakangiku lalu mulai berjalan menjauh. Membuatku hanya bisa memandang punggungnya yang terlihat semakin kecil.

Detik itu juga aku tidak bisa lagi menahan agar air mataku tidak jatuh dari pelupuk mata. aku ingin berteriak agar ia berhenti melangkah dan kembali padaku. Jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku. Namun jangankan bersuara, kedua tungkai kakiku bahkan tidak sanggup untuk bergerak mengejarnya.

Apakah ini adalah kesempatan kedua yang telah diberikan olehmu, Tuhan? namun mengapa lagi-lagi aku tidak bisa memanfaatkannya? Apakah sang takdir memang menuliskan jalanku, dan jalannya agar tidak bernah bersimpangan apalagi bertemu? Kalau memang begitu, mengapa kau hadirkan dia lagi Tuhan. Mengapa?

Madre…..?” Seri menarik ujung pakaianku, “Mengapa… Madre tiba-tiba menangis?”

Aku menundukan tubuhku agar sejajar dengan tinggi badannya lalu langsung memeluk gadis itu erat. Kutumpahkan tangisku diatas bahunya yang mungil.

Madre…..” gadis itu mengangkat tangannya lalu balas memelukku lembut, “Apa.. apa Ajusshi tadi melakukan sesuatu yang jahat sehingga membuatmu menangis?”

Justru karena ia tidak melakukan apa-apa Seri-ah. Karena ia lagi-lagi hanya berdiri mematung dan hanya bisa memandangku dalam diam sehingga aku menangis.

Untuk beberapa lama aku terdiam dalam posisi keningku yang terdapat diatas bahu mungilnya. Perlahan, kuangkat wajahku lalu menatap bola mata hitam miliknya, lalu berkata, “Terimakasih karena sudah membuatku tenang Seri-ah. Shall we go home now?”

Seri tergelak. Lalu mengangguk semangat, “Sure!”

Aku membalas senyumnya. Menggamit tangan mungilnya lalu mulai berjalan keluar bandara.

Seiring dengan sinar matahari senja yang menerpa wajahku aku berjanji dalam hati, bahwa sekarang adalah waktu yang paling tepat agar aku memulai semuanya dengan hal yang baru. Tidak ada lagi masa lalu. Tidak ada lagi penyesalan yang hanya bisa membuatku terpuruk. Yang ada hanyalah sebuah kehidupan baru, tanpa seorang yang bernama Oh Sehun.

SeRi.

Sehun dan Ri Ah. Entah kenapa, sekarang aku meragukan arti dari nama itu.

~ENDLESS LOVE~

 

I won’t look back. I can go the distance and I’ll stay on track. No , I won’t accept defeat -Hercules

Sehun’s POV

“Sehun Oppa!”

Aku tersentak saat mendengar suara wanita disampingku meninggi. Disusul oleh pukulan ringan yang melayang di bahu ku, “Oppa daritadi dengar nggak sih aku ngomong apa?”

“H-Hah?” Aku menoleh kearah wanita berambut panjang yang sedari tadi duduk disampingku, lalu mengerjap “Denger ko.”

“Apa memangnya?”

“Tentang ulang tahun Qian noona kan? Iya besok aku akan menemanimu membeli dress yang baru.”

“Bukan! Tuh kan nggak dengerin.” Wanita itu memutar kedua bola matanya sebal, “memangnya sedari tadi oppa melamunkan apa?”

Kalau aku ngomong yang sebenarnya. Yang ada kamu akan langsung menumpahkan  gelas berisi orange juice itu keatas kepalaku.

“Tidak. Bukan apa-apa. Hanya sedikit capek.” Jawabku bohong sambil mengangkat kedua bahu santai.

Wanita itu-Krystal, mengangkat sebelah alisnya dengan penuh selidik. Namun akhirnya ia mengangguk lalu kembali menyenderkan kepalanya pada salah satu bahuku. Sambil menatap para kru pesawat yang sedang mengobrol seru sambil menyantap pizza.

Aku menghela nafas pelan lalu menutup kedua mata. pikiranku masih melayang jauh pada kejadian tadi sore yang membuat otakku sama sekali tidak bisa bekerja. Bahkan saat sedang menyetir untuk sampai ke restoran italia ini, hampir saja aku menabrak seorang anak kecil karena terlalu banyak melamun.

‘Sehun….?’

suara itu lagi-lagi menyusup masuk ke dalam telingaku. Suara yang sudah tujuh tahun ini tidak kudengar, tapi tidak pernah kulupakan.

Kaget. Itu adalah perasaan pertama yang menyergapku saat melihatnya. Mimpi apa diriku, sampai Tuhan mempertemukannku kembali dengan perempuan itu? Perempuan yang menjadi pemeran utama dalam mimpi indahku. Namun juga menjadi penghuni tetap dalam mimpi burukku.

Saat itu aku merasa seperti jiwaku ditarik paksa keluar dari tubuh. Sehingga diriku hanya bisa mematung tanpa berbuat apa-apa. Hanya memandangi wajahnya setelah sekian lama. Iris sapphire itu kembali menenggelamkan anganku dalam tatapannya. Dan rambut merah itu kembali memaksaku untuk mengingat kembali segala sesuatu tentangnya.

Lalu, perasaan itu. bahagia akan rindu yang terbalaskan. Bicara jujur, aku selalu merindukan iris sapphire itu. aku rindu saat-saat dimana aku bisa mengelus rambut merah itu dengan lembut. Kadang aku merasa hampir gila, akibat perasaan rindu yang kadang membuat akal sehatku seakan hilang.

Lalu gadis kecil itu. Kim Seri.

Dia…. Adalah anak dari hasil perkawinanku dengan Kai.’

Oppa.”

“Ya?”

“lagi-lagi melamun. Apa kau sedang banyak masalah?”

Apa pertemuan tadi bisa disebut sebagai sebuah masalah?

“Tidak. Kenapa?”

Krystal memiringkan kepalanya. Mencari kebohongan dalam kedua bola mataku, “Aku harap kamu mengatakan yang sejujurnya, Sehun Oppa.” Katanya sangsi.

Aku hanya tersenyum tipis. Merasa sedikit tidak enak karena telah berbohong dengannya. Tapi bila aku berkata jujur, aku tidak yakin wanita ini bisa menerimanya.

Bukan berarti aku ragu dengannya. Hanya saja, Krystal adalah tipe wanita posesif yang akan mengeluarkan taringnya bila melihatku dekat dengan wanita lain, selain untuk urusan pekerjaan. Namun walau begitu, aku sangat menyayanginya. Kalau tidak, mana mungkin aku menjadikannya sebagai tunanganku.

“Ah, iya mulai minggu depan kau sudah cuti kan?” Tanya Krystal sambil menyesap kembali orange juicenya, “Tumben ambil cuti sekarang. Biasanya akhir tahun.”

Aku mengangguk. “Cuti yang kuambil ini bukannya tanpa alisan. Kris sajangnim menyuruhku untuk mengurus artikel yang akan memuat tentang Estrella Airlenss di sebuah majalah.”

“Maksudnya, Oppa yang akan menjawab semua pertanyaan dari wartawan majalah itu?”

Aku mengangguk.

“Kenapa bukan Kris sajangnim saja yang notabenase lebih tau tentang perusahaan ini?” Tanya wanita itu lagi.

Aku mengangkat bahu. Tidak masalah bila Kris sajangnim memberiku pekerjaan ini. hitung-hitung sebagai rutinitas baru selain menerbangkan pesawat yang memang menjadi kegiatanku sehari-hari.

“Hah. Dasar direktur yang suka makan gaji buta.” Krystal mendengus sebal.

Aku tertawa kecil. Kadang, aku selalu kagum dengan cara bicaranya yang ceplas-ceplos. Seakan wanita ini tidak pernah menyimpan kebohongan apapun karena selalu mengatakan apa yang ia pikirkan. Sangat berbanding terbalik denganku.

Karena itu lah aku memilih wanita ini menjadi pendampingku. Berharap ia bisa mengisi lubang kosong yang selama ini menganga dihatiku. Dan saat wanita ini hampir berhasil, tiba-tiba perempuan berambut merah itu datang lagi.

Sekarang, yang kuinginkan hanyalah, agar perasaan cinta itu tidak kembali dan menghancurkan apa yang telah kubangun selama tujuh tahun ini. semoga.

~ENDLESS LOVE~

Did you ever stop think, and forget to start again? -Pooh

Ri Ah’s POV.

“Apa?!!”

Aku hampir saja terkena semburan Strawberry Blush milik Baekhyun jika aku tidak menjauhkan badan, “Kau bertemu siapa?! Sehun?!!!”

Aku membetulkan tempat dudukku, lalu mengambil selembar Tisue guna membersihkan bekas semburan strawberry blush milik pemuda berambut cokelat itu yang menempel diatas meja, “Yup. Kenapa kau terkejut?”

“Kenapa kau bilang??? Astagaaaaa.” Ia memutar bola matanya sebelum memijit-mijit pelipisnya, persis seperti apa yang selalu ia lakukan jika dikejar deadline.

Baekhyun adalah salah satu kawan jurnalisku. Teman seperjuangan bila narasumber kami susah dicari, teman seperjuangan bila mengejar deadline, dan teman seperjuangan bila membahas tentang cinta.

Semenjak kematian Kai, aku menjadi canggung bila bergaul dengan laki-laki. Tapi itu semua tidak berlaku bagi pemuda ini, karena….

Yup. Dia Gay.

Pemuda ini juga satu-satunya orang yang aku percayai saat membahas tentang Sehun-Kai. Ia selalu menyukai bila aku mulai membahas kedua pemuda itu , bagai membaca sebuah kisah dongeng antah berantah katanya. Karena itu, saat waktu istirahat tiba aku langsung mengajaknya makan siang bersama di Flower Cafe.

Selain dekat dengan tempat kerja, aku selalu suka dengan suasana yang disuguhkan oleh tempat ini. Sesuai namanya, ‘Flower Cafe‘ merupakan restoran yang juga merangkap sebagai toko bunga.

Didepan pintu masuk terdapat tulisan ‘say it with flower’ yang diukir diatas papan berbahan mahoni.

Setiap meja pelanggan, dihiasi oleh bunga yang berbeda. Dan jika kita mau ‘menilik’ vas bunga itu lebih dalam kita akan menemukan kertas kecil yang bertuliskan arti dari bunga tersebut.

Konon katanya, arti dari bunga itu melambangkan perasaan yang sedang kita rasakan sekarang.

Contohnya hari ini. Kami berdua duduk di sebuah meja yang berhiaskan bunga mawar kuning. Yang berarti ‘awal yang baru.’

“Kenapa reaksimu berlebihan begitu?” Tanyaku sambil mengelus lembut kelopak bunga mawar itu.

“Wajar kalau aku terkejut! Setelah tujuh tahun tidak bertemu tiba-tiba kalian dipertemukan lagi!” Baekhyun mengangkat satu tangannya ke udara, seperti hendak bersyair, “Sepertinya, takdir pun mendukung kalian.”

Aku memutar bola mataku sebal saat mendengar kata itu. Takdir. Hah. Bullshit.

“Kita hanya bertemu, Bacon-ah. Itu bukan sesuatu yang spesial.” Dengan gaya elegan aku mengaduk-aduk Cammomile Tea-ku dengan sendok kecil.

Everything happens for a reason, honey.” Baekhyun mulai berkata sok bijak, “Tuhan pasti punya rencana untuk kalian. Just watch your back! And for God’s sake stop calling me bacon! Memangnya aku ini steak apa?”

Aku tidak bisa merespon apapum selain tergelak lalu memutar kedua bola mataku, “Kau terlalu banyak menonton drama.”

“Hei, apa itu salah?” Baekhyun mengambil sendok panjang didekatnya lalu mencuil es krim Vanilla yang menjadi toping minumannya, “ngomong-ngomong, apa yang Sehun lakukan di bandara?”

Sehun. pemuda…ah, mungkin sekarang lebih cocok dipanggil seorang ‘pria’. Mengingat bahwa dia sudah menjadi pria dewasa berumur dua puluh lima tahun.
Secara fisik, cukup banyak yang berubah dari dirinya.

Tubuhnya menjadi jauh lebih tinggi, walaupun dulu ia memang tergolong jangkung ,tetap saja tinggi badannya tidak jauh dariku yang memang berperawakan barat. Badannya yang dulu kurus menjadi lebih bidang, rambutnya yang dulu menutupi muka ia pangkas pendek sehingga terlihat rapih.

Tapi, tetap saja. Pandangan mata yang keluar dari iris hazel itu, juga seulas senyum tipis yang menghiasi wajah pucatnya, tidak pernah berubah.

Aku mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan jemariku, menimbulkan suara ketukan, yang entah kenapa membuatku tenang, “Dia… Adalah salah satu pilot penerbangan Estrella Airlines.”

“Wah.. Wah… Gak nyangka. Pemuda desa seperti dia bisa menjadi pilotnya Estrella….APAAA?!!!”

Lagi. Baekhyun menyemburkan strawberry blushnya yang hendak ia tenggak. Dan sialnya untuk yang kali ini aku terkena semburannya.

“Ugh, bisakah kau telan dulu minumanmu baru bicara?!” Aku menyipitkan mataku agar air bekas semburan tadi tidak masuk kedalam mataku. satu tanganku mengambil tisue yang tinggal tersisa satu lalu mengelap wajahku yang jadi penuh dengan cipratan air berwarna merah.

Baekhyun tidak menggubris omonganku. Pemuda itu malah sibuk mengobarak-abrik tas ransel kulit yang terlihat sangat trendi miliknya itu lalu mengeluarkan secarik kertas. Matanya meneliti tulisan yang tertera pada kertas itu, lalu seketika menggeleng-gelengkan kepala.

“Ini tidak mungkin….”

“Apanya?” Aku memajukan tubuhku agar bisa membaca tulisan yang tertera di kertas putih itu. penasaran. “apa? Apanya yang tidak mungkin.”

“Tuhan.” Pria itu berkata pelan. Kedua tangannya yang menggenggam kertas itu tiba-tiba bergetar, “Tuhan.. Memang mentakdirkan kalian untuk….”

“Untuk apa sih?!!!” Kesal, aku langsung merebut kertas itu dari tangannya. Kedua mataku bergerak cepat menelusuri kalimat yang tertera disana. Setelah paham akan maksudnya, tanganku ikut bergetar dan kertas itu langsung terlepas dari genggaman.

“Tidak mungkin…..”

New Look! magazine.
Schedule for this month.

Son Eun So : wawancara Lee Teuk Super junior tentang acara We Got Married dengan aktris Kang Sora.

Lee Si Young : Meliput pertandingan Baseball yang diadakan minggu ini.

Jung Ii Woo : mewawancarai ‘White Hunter‘ untuk pembukaan cabang restoran terbaru di Gangnam.

Amelia Salisbury : Meliput tentang sejarah Estrella Airlines serta perkembangannya hingga sekarang.

-TBC-

Iklan

14 pemikiran pada “Endless Love (Chapter 3)

  1. AAAAAAARGH AUTHOOOOOR INI BIKIN GEREGETAN OKE GUE SUKA BANGET KALO CAST FF ITU SEHUN KENAPA? GATAU DEH PDHL SEHUN JUGA BUKAN BIAS GUE -_- GUE PEN LANJUT BACAAAAA #CIPOKSEHUN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s