Fallin Love Trouble (Chapter 3)

Judul: Fallin Love Trouble (Chapter 3)

Author: Hyo_Hyo (Lee Hyora)

Rating : Pg 15

Genre : Romance, School Live

Cast :

Xi Luhan (EXO)

Kim Jihyun (OC)

Support Cast:

EXO Member

And Jihyun Friends (Original Cast)

(-/-/-/-/)

I’ Don’t know anything about Love

(-/-/-/-/)

 

 

Chapter 3

Jihyun Pov

“Hal rahasia?” tanya Yeonji pada Jiyeon.

Jiyeon hanya mengangguk pasti.

“Cepat ceritakan” suruhku padanya.

Sebenarnya Xi Luhan itu siapa sih?. Misterius, dan menyimpan banyak rahasia. Seperti teroris saja.

“Sehun Oppa yang memberitahuku tentang hal ini” ujar Jiyeon. “Karena itu cepat ceritakan padaku” suruhku lagi. “Hmm, enaknya cerita dari mana ya?” ujar jiyeon mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya. “Dari mana saja boleh, terserah” sahutku, aku sudah tak sabar mendengarkan ceritanya. “Masalahnya cerita ini panjang” ujarnya lagi. “Ya tinggal dipersingkat saja” tambahku. “Ehem, pada suatu hari..” kata-kata Jiyeon terpotong karena aku menyelanya. “Lee Jiyeon, aku bukan menyuruhmu mendongeng, arraseo? Kau ini tertula virus lemot dari mana sih?” ujarku kesal.

Sejak kapan seorang Lee Jiyeon menjadi lemot begini?.

“Mian-mian. Aku hanya bercanda kok” ujarnya lalu tertawa.

Tidak lucu. Sekarang yang aku butuh informasi tentang Xi Luhan bukannya sebuah candaan tak lucu.  Xi Luhan, namja itu yang seenaknya mengakuiku sebagai yeojachingunya. Walaupun aku berkata suka, tapi itu kan bukan sungguhan.

“Baiklah, aku akan menceritakannya, terserah kalian percaya atau tidak” ujar Jiyeon.

Belum sempat ia menjelaskan sepatah katapun, bel langsung berbunyi.

“Neun pabo Lee Jiyeon! Gara-gara kau tak mau menjelaskannya sedari tadi, jadinya keburu bel” sungutku kesal pada Jiyeon. “Pabo! Pabo! Pabo!” ujarku lagi berkali-kali sambil memukul-mukul kepala Jiyeon. “Kim jihyun. Tak ada yang mengizinkanmu menindasku” ujar Jiyeon.

Aku tidak mempedulikannya, aku sudah terlanjur kesal karena itu tetap kupukul kepalanya bagaikan memukul drum.

“Ya’ Hyunnie” panggil Yeonji setengah berbisik. “Diam kau, aku sedang emosi sekarang!” bentakku. “Memangnya siapa yang peduli kau emosi atau tidak huh? Kim Jihyun!” suara berat seorang namja paruh baya menggelegar di belakangku.

Aku pun membalik tubuhku perlahan dan kulihat Kang songsaenim sudah berdiri tegak dengan wajah sangarnya.

“Diam dan duduk!” suruhnya. “Mianhamnida” ujarku sedikit membungkuk dan kembali pada tempat dudukku.

Seisi kelas hanya tertawa, menertawakan tingkahku.

“Ya’ kenapa kau tak memberitahuku bahwa songsaenim telah datang?” bisikku pada Minah yang duduk di sebelahku. “Tadi Yeonji sudah memberimu kode” jawabnya. “Mana aku mengerti” ujarku lagi.

“PLETAAK!” sebuah penghapus papan tulis mendarat tepat di atas mejaku.

“Fiuh, untung tak kena kepalaku, seongsaenim ini bagaimana sih? Kalau kena kepala kan bisa bahaya” omelku pada Kang Seongsaenim yang melemparnya. “Ya! Aku justru berharap itu mendarat di kepalamu. Di wajahmu sekalian! Jangan bicara saat jam pelajaran Kim Jihyun!” bentaknya padaku. “Seongsaenim, hari ini peruntunganku sangat buruk” jawabku. “Memangnya siapa yang peduli dengan peruntunganmu? Itu tidak berpengaruh untukku. Cepat diam dan perhatikan pelajaran” ujar Songsaenim.

Aku hanya menurutinya, Seongsaenim yang satu ini memang sangat menyebalkan, lebih menyebalkan dari pada Seongsaenim lainnya. Dia akan kumasukan ke dalam list, orang yang tak ingin kutemui.

(***)

“Sekian pelajaran hari ini” ujar Seongsaenim lalu membereskan buku-buku bawaannya. “Terima kasih atas pelajarannya songsaenim, Selamat sore” ujar seisi kelas memberi hormat termasuk aku.

Kang Seongsaenim pun melangkahkan kakinya keluar dari kelas.

“Yay! Yuhuuuuu si menyebalkan sudah pergi!” ujarku bersorak-sorai bahagia ketika kang Seongsaenim sudah menghilang dari depan mataku. “Kau kelihatan bahagia sekali, seperti habis menang undian” ujar Hyejin. “Ini lebih menyenangkan dari menang undian” jawabku.

Aku tidak begitu menyukai pelajaran yang Seongsaenim ajarkan, Bahasa China. Aku tidak menyukainya, ditambah lagi guru yang menyebalkan. Bikin tidak niat saja. Lagipula apa-apaan guru itu? Orang korea asli tapi mengajar bahasa china, dasar sok. Orang korea ya bahasa korea saja.

“Cepat bereskan barang-barangmu, nanti kutinggal lho” ujar Minri padaku. “Ndee” jawabku lalu secepat kilat membereskannya. “Kajja” ajak Nara.

Kami pun bersama-sama berjalan keluar dari kelas.

“Hari ini Jonghyun oppa tidak menjemputku, jadi Eomma menyuruhku bawa sepeda” ujarku sambil berjalan. “Jeongmal? Kita bisa naik sepeda bersama” ujar Minah senang.

Untung ada Minah, selama ini dia kan selalu pulang pergi dengan sepeda karena rumahnya dekat. Hari ini Jonghyun Oppa tidak menjeputku. Katanya dia ingin menemani yeojachingunya jalan-jalan, mungkin kencan. Dasar oppa tidak ingat adik.

“Dramatis sekali kalian berdua, pulang bersama dengan sepeda” celetuk Hyejin. “Hidup ini bagai dalam sebuah diorama” sambung Hyora. “Sudahlah hyora, jangan sok puitis” sahut Minri. “Pakai sepeda itu hebat, aku melestarikan bumi” sahutku. “Memangnya bumi mau dilestarikan olehmu?” sahut Yeonji. “Tentu saja” jawabku ketus.

Kami pun berjalan menuju luar gedung sekolah.

“Waeyo? Kenapa ramai sekali?” ujar Hyora tiba-tiba. “Mwoya?” tanyaku. “Itu, yeoja-yeoja” ujar Hyora sambil menunjuk yeoja-yeoja yang berkumpul itu. “Molla, kita lihat saja, aku juga penasaran. Kajja” ajakku

(***)

Aku dan yang lainnya ikut bergabung dalam keramaian kumpulan yeoja-yeoja itu.

“Waeyo? Waeyo? Waegeurre?” tanyaku pada seorang yeoja. “Aniyo, hanya saja para namja populer sekolah kita sedang berkumpul” ujarnya. “Nuguya?” tanyaku. “EXO Oppadeul” jawabnya lagi. “Jinjja?! OMO!” ujarku terkejut.

“Waeyo Jihyunnie?” tanya Yeonji. “Katanya anak EXO kumpul tanpa diketahui” jawabku. “Jeongmal? Tao Oppa!” ujar Yeonji girang sendiri.

Akupun mencoba melihat siapa saja mereka, karena ramai aku jadi sedikit melompat agar dapat melihatnya.

“Hmm, tidak 12 orang tuh” ujarku saat menghitung kumpulan namja yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah.

Aku menautkan alisku kebingungan karena namja-namja itu tidak berjumlah dua belas orang. Aku terdiam sembari menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal.

“Hyunnie, gwenchana?” tanya Hyejin padaku. “Nee, aku hanya bingung mereka mau apa diam disitu? Mau pamer tampang?” tanyaku pada hyejin. “Mollayo, Yixing juga ada disitu” jawabnya. “Katanya EXO ada 12, tapi ini hanya 7 orang dan semuanya kukenal” jawabku.

Setelah kupikir-pikir mereka bertujuh itu kan semuanya namjachingu teman-temanku. AHH, sekarang aku mengerti dan mengetahui bahwa betapa bodohnya diriku ini karena sedari tadi aku tak menyadarinya. Mereka pasti menunggu yeojachingu mereka siapa lagi kalau bukan teman-temanku.

“OPPA-OPPA!!” teriak para yeoja di kerumunan ini.

Aku jadi sedikit sesak berada di antaranya. Namja-namja itu hanya tersenyum membalas teriakan mereka.

“Gomawo, kurasa sudah saatnya kalian pulang, keluarga kalian pasti khawatir. Pulanglah dengan selamat” ujar Kyungsoo, yang kutahu dia itu namjachingu salah satu temanku, Cho Nara.

“NDE!!!!” jawab para yeoja itu serempak.

Tanpa perlu diperintah untuk yang kedua kalinya mereka langsung bubar dengan segera. Yang tersisa hanya kami, aku dan ketujuh yeojachingu mereka.

“Fuuh, capek” ujar Sehun menghela nafas. “Apanya yang capek? Kita harus tetap tersenyum agar tidak mengecewakan para yeoja” ujar Chanyeol. “Kau saja sana pamer gigi sendiri, aku tak ikut-ikutan” sahut Sehun. “Smile dong! Smile!” sambung Baekhyun.

“Oppa!” panggil Minah kemudian pada Baekhyun, namjachingunya. “Minnie! Cepat kesini, palliwa” ujar Baekhyun memanggil minah.

Minah langsung berjalan menghampiri Baekhyun.

“Kau juga, pallinawa, Aku capek menunggumu” ujar Jongin memanggil Hyora yang sejak tadi asik sendiri menendang-nendang batu kerikil dengan kakinya. “Aku? Atau batu kerikil ini?” tanya Hyora.

OH! Astaga aku rasa Jongin sunbae akan mengalami stres berkepanjangan kalau berpacaran dengan lee hyora, lihat saja wajahnya yang tidak memungkinkan untuk dibilang masih waras.

“Batu kerikil! Bukan kau Lee Hyora, kau tidak usah kesini” jawab jongin. “Jeongmalyo?” tanya Hyora lagi. “Haah, Lee Hyora aku masih waras tidak memanggil batu kerikil” ujar Jongin sunbae.

Hyora hanya tertawa dan berjalan menghampirinya.

Kemudian satu persatu teman-temanku meninggalkanku dan lebih memilih berada di samping namjachingu mereka. Kini yang tersisa hanya aku dan jiyeon.

“Jiyeon, kau diam disini kan?” tanyaku padanya. “Hmm, molla” jawabnya santai.

Sudah kuduga. Pasrah sajalah, dia pasti akan menemui Sehun.

“Ya’ Lee jiyeon. Sampai kapan kau akan membuatku menunggu?” ujar Sehun tiba-tiba. “Annyeong Jihyun-ah” pamitnya langsung.

Sekarang, yang tersisa tinggal aku, Ssndirian. Yang lainnya sudah berdiri disamping namja mereka sekarang. Sudah kuduga, ini adalah nasibku sebagai seorang yoeja tanpa namjachingu.

“Ehem! Aku ambil sepeda dulu” ujarku memecah suasana mereka yang sejak tadi tidak menghiraukanku.

Aku pun berjalan menuju parkiran sekolah dan menggeret sepedaku menuju gerbang. 7 pasangan bodoh itu masih saja berdiri didepan gerbang sejak tadi. Mau apa sih? Mau pamer? Aku tidak tertarik.

“Choi Minah” panggilku. “Waeyo?” jawab Minah. “Kau jadi pulang bersamaku?” tanyaku padanya,

Semoga saja dia mau menemaniku, aku agak takut pulang sendirian.

“Hm, Baekhyun Oppa, aku bawa sepeda, aku akan pulang dengan chinguku. Gwenchana?” tanyanya pada Byun baekhyun yang berdiri disampingnya sekarang. “Shireo, kau harus pulang denganku. Aku akan menyuruh jemputanku pulang, biar aku memboncengmu dengan sepeda” jawab namja itu.

“Mian Hyunnie” ujar Minah padaku. “Arraseo” jawabku, jujur aku agak sedih. “Ahjusshi! Aku akan pulang dengan Minah. Ahjusshi kembali saja” ujar Baekhyun pada seorang ahjusshi yang berdiri di depan sebuah mobil sejak tadi. “Aku mengerti tuan” jawab pria paruh baya itu lalu langsung masuk kedalam mobil dan mengendarai mobil itu pergi.

Aku masih terdiam dan memegang sepedaku. Ya sudah, aku pulang sendiri saja. Baru saja aku mau pergi dari tempat terkutuk ini namun Nara mencegah niatku dengan sebuah pertanyaan anehnya.

“Jihyun-ah, kenapa tidak pulang dengan namjachingumu saja?” tanya Nara padaku. “Namjachingu?” tanyaku bingung.

“Namja XL” sahut Yeonji. “Ukuran baju?” tanyaku lagi. “Nuguya? Aku tidak punya kenalan namja tukang  jahit baju atau sebagainya” tambahku. “Bukan, pabo” sahut Hyejin. “Yang kau ceritakan tadi” sahut Jiyeon. “Namja yang melempar sepatumu” sambung Minri. “Yang kau sebut malaikat” tambah Hyora.

Aku pun mencoba mengingatnya. Namja malaikat? Ah! Aku ingat! XL! Xi Luhan Sunbae!. Sial, Jiyeon belum menceritakannya, gara-gara sempat menggalau sesaat tadi aku jadi lupa tentang masalah itu.

“Bukankah kalian menyuruhku menjauhinya? Dan dia juga penuh misteri?” tanyaku. “Sebenarnya tidak berbahaya, hanya aneh dan sedikit hm.., susah di jelaskan” ujar Yeonji. “Tapi ada hal penting yang harus kau ketahui, kapan-kapan saja ya kuberitahu” sahut Jiyeon.

Santai sekali mulutnya berbicara. Mereka tidak tahu rasanya dijadikan yeojachingu oleh orang aneh.

“Luhan! Kemana saja?” ujar Sehun tiba-tiba memanggil seseorang yang berjalan mendekati tempat kami berada sekarang.

Bulu kudukku bergidik ngeri begitu mendengar nama namja yang saat ini sangat tidak ingin kutemui.

“Wae? Aku hanya mengambil bukuku sebentar” ujar namja itu.

Aku memandanya dan diapun melihatku sebentar dengan mengeluarkan seringainya. Apa lagi ini? Aku tidak mau terjebak permainannya lagi.

“Ya’ kabarnya kau sudah punya yeojachingu? Ini mukjizat, Luhan bisa menyukai seseorang. Siapa yeoja itu?” tiba-tiba Chanyeol bertanya dengan antusias.

Luhanpun langsung menatapku, aku pun mengalihkan pandanganku darinya. Sepertinya akan terjadi hal tidak mengenakkan, aku harus cepat pulang, nanti malah terlibat.

“Yorobueun annyeong, aku pulang” ujarku lalu segera menenteng sepedaku.

Tapi anehnya sepedaku tak mau bergerak 1 cm pun dari tempatku berada, aku sudah mencoba menariknya sekuat tenaga.

“Kau tak bisa kabur” suara seorang namja menegurku.

Aku pun berbalik hadap, pantas saja berat. Luhan menduduki jok belakang sepedaku, menahan aku untuk pergi.

“Sunbae! Kau berat! Minggir!” suruhku padanya.

Dia pun menyingkir dan berjalan ke arahku, aku pun meletakkan sepedaku. Apa yang akan dilakukan manusia ini sih?. Entah kenapa tiba-tiba Luhan merangkul pundakku.

“Kalian tahu? Anak ini, yeojachinguku” ujarnya. “Jinjja? Ya’ yeoja, kenapa kau tak memberitahu kami sejak tadi?” tanya Sehun padaku.

Aku hanya diam tak menjawabnya.

“Jiyeonnie, kenapa kau tak memberitahu kami kalau dia yeojachingunya Luhan?” ujar Sehun pada Jiyeon. “Tak ada yang menanyakan” jawab Jiyeon. “Nuguya? Luhan, kau tidak memperkenalkannya pada kami” ujar Kyungsoo. “Bagaimana ya? Tebak saja sendiri” jawab Luhan, ia tetap merangkulku malah mempereratnya.

“Lepaskan! Menjijikkan!” ujarku pada Luhan. “Ya’ bersikaplah manis sedikit” ujar Luhan lalu mencubit pipiku sebelah.

Aku pun menginjak kakinya, sekuat tenaga tentunya.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” ujar Luhan lalu melepaskan cubitannya juga rangkulannya. “Rasakan” umpatku seraya mencibir ke arahnya.

Yang lain hanya tertawa melihatnya, tidakkah kalian membantuku bebas dari makhluk ini?. Kita kan teman bukan?. Tapi mungkin itu tidak berlaku sekarang, kalian kan sudah berada di samping namja kalian. Pasti menganggapku hanya butiran debu, tidak! Bahkan bukan apa-apa lagi.

Luhanpun kemudian tersenyum dan memegang kedua pipiku.

“Kau itu lucu ya?” ujarnya lalu mencubit kedua pipiku. “Kok bisa sih kau jadi selucu ini? Huh?” ujarnya lalu kembali tersenyum, tersenyum licik.

Semakin lama cubitannya semakin mengeras.

“Aaa’ Sunbae! Appoyo!” ujarku, aku mencoba melepaskan tangannya tapi sangat susah. “Kau jadi semakin lucu, Eotthe?” ujarnya dengan seringai lagi lalu semakin mengeraskan cubitannya.

UWAAA pipiku bisa bengkak. Ummaaaaa..!!

Aku yakin, kata-kata manisnya tadi hanya menutup kekejamannya, dia pasti dendam karena aku menginjak  kakinya tadi, buktinya dia mencubit pipiku keras sekali, dasar manusia pendendam.

“Kau kuampuni” ujarnya lalu melepas cubitannya. “Luhan, kau hobi menindas orang” ujar Tao. “Menindas? Tidak, aku hanya bermain-main sebentar” jawab Luhan.

Aku hanya terdiam sambil memegang kedua pipiku yang sudah memerah, sakit sekali. Kalau saja tenagaku lebih kuat darinya, sudah kucekik sejak tadi namja ini.

“Sakit? Pipimu jadi seperti tomat” ejek Luhan padaku.

Aku tak menggubris ejekannya, tidak ada gunanya meladeni namja abnormal sepertinya. Luhanpun kembali mendekatiku dan membisikan sesuatu.

“Ya! Cepat kenalkan dirimu sebagai yeojachinguku, atau kau mau kukerjai lagi?” bisiknya.

Dasar kurang kerjaan.

“Chonen, Kim jihyun Imnida, aku adalah yoejachingu Luhan Sunbae,” ujarku. “Walaupun tidak ikhlas” tambahku. “Mwo? tidak ikhlas? Malang sekali nasibmu Luhan” ujar Baekhyun.

Saat ini aku hanya tertawa keras dalam hati. Biar saja kesannya jadi kau yang suka padaku sedangkan aku tak menyukaimua. Jadi terlihat kalau kau memaksaku menjadi yeojachingumu. Aku puas membuat citramu jelek Xi Luhan.

“Wae? Aniyo, Jihyun hanya malu saja ne? Nee Hyunnie?” ujarnya padaku.

Ekspresinya kelihatan sekali memaksaku agar mengiyakan perkataannya. Aku hanya mengalihkan pandanganku tak mempedulikan kata-katanya, biarkan saja dia.

“Kita pulang saja, ini sudah sore” ujar Tao pada Yeonji. “Ndee, kajja” jawab Yeonji. “Aku juga akan pulang” sahutku lalu mengambil sepedaku. “Kau tak pulang dengan Luhan?” tanya Kyungsoo.

Sial, kenapa kau berkata seperti itu sih?. Bisa-bisa dia memaksaku pulang dengannya nanti, aku tak mau itu terjadi.

“Siapa bilang Jihyun akan pulang sendiri? Dia kan pulang bersamaku” ujar Luhan.

Sial! jadi kejadiankan, hal yang sangat tak kuinginkan.

“Mwo?! Andwe! Andwe!” tolakku, aku tak mau.

Dia pasti punya niat balas dendam lagi padaku, tadi aku kan tidak mau menyahutinya tentang aku berkata tidak ikhlas itu. Pasti ada yang di rencanakannya, lihat saja dari wajah-wajahnya ia sudah merencanakan hal busuk lainnya.

“Tenang, kau kan akan pulang bersamaku Itu pasti” ujarnya.

Luhan tersenyum ke arahku, lagi-lagi senyum licik andalannya keluar. Aku bosan melihatnya, melihat senyum licik atau seringai Luhan. Membosankan sekali, walau wajahnya tampan sih.

“Aniyo, aku bisa pulang sendiri, aku bawa sepeda” tolakku keras.

Untung saja ada sepeda, aku jadi punya alasan.

“Braaak!!” Luhan menendang sepedaku hingga terjatuh dan sedikit rusak akibatnya. “Uwaa, stanknya patah, Ottokhae?” ujarku prihatin melihat keadaan sepedaku sekarang. “Dengan begini kau tak punya kendaraan pulang” ujar Luhan, dia serasa menang sekarang. “Aku bisa menelfon taksi” ujarku lalu mengambil ponselku dari dalam saku.

Sial, batrainya habis.

“Jiyeon-ah, aku boleh pinjam ponselmu?” tanyaku. “Ya’ jangan izinkan yeojachingu kalian meminjamkan ponselnya” perintah Luhan. “Ya! Memangnya kau itu siapa? Beraninya memerintah! Mereka kan chingu ku” ujarku. “Aku akan membantumu Luhan,” ujar Sehun. “Dengar Yorobeun! Kalau ada yang meminjamkan ponselnya putuskan saja dia” tambahnya.

Aku hanya menghela nafas dalam ketika melihat aksi Sehun yang mati-matian membela sahabat karibnya itu, Luhan. Namun aku takkan putus asa, merekakan temanku mana mungkin mereka mau diperbudak oleh manusia macam Sehun ini, karena itu aku akan memohon pada sahabatku.

“Bantu aku, Jiyeon? Minri? Hyejin? Nara? Hyora? Yeonji? Minah? Aku butuh bantuan kalian, aku mohon” pintaku, kemudian.  “Mian Jihyun-ah” ujar teman-temanku, tidak ada satupun yang mau membantu.

Ternyata tebakanku salah, kalian memang tega. Lebih memilih namjachingu kalian dari pada aku. Aku menyesal telah membantu kalian.Kalian lupa ya?. Aku yang membantu kalian agar bisa bersama orang yang kalian cintai. Aku yang membantu kalian. Namun sekarang malah dapat masalah karena kalian dan namjachingu kalian bersekongkol padaku. Dasar biang kerok. Awas saja kalian nanti!.

“Jadi bagaimana aku pulang? Ottokhaji?” ujarku, aku sangat bingung sekarang. “Pulang saja dengan Luhan, Hush-Hush! Pergi sana” usir Sehun.

Jiyeon, aku harap kau putuskan namjachingumu ini. Sejak tadi dia membantu manusia abnormal itu tiada henti.

“Karena itu kau tak punya pilihan lain” sahut Luhan kemudian. “Aku bisa saja jalan sendiri” sahutku dan mulai berjalan meninggalkan mereka.

“BRUKK!”

Seseorang menyandung kakiku yang mengakibatkan aku kehilangan keseimbangan diriku dan terjatuh.

“Aaakh” rintihku, lututku luka.

Aku pun mendongak melihat siapa yang menyandungku.

“Mian, aku hanya membantu” ujar namja itu. “Ya! Huang Zi Tao! Aissh Jinjja!” omelku, kakiku sakit sekarang.

Bagaimana aku harus berjalan pulang?. Kalau dipaksakan nanti malah semakin sakit.

“Kalian segitu ngototnya sih?! Memangnya tak ada yeoja lain yang harus dijadikan boneka mainan namja itu?! Aku mohon jangan aku!” bentakku menunjuk Luhan. “Kalian juga!” bentakku lagi menunjuk teman-temanku. “Kalian kan chinguku! Apa kalian Lupa padaku!” tambahku. “Mian Jihyun-ah, kami bukannya seperti itu” ujar Minri. “Sejak tadi kalian hanya minta maaf saja! Kalian tahu betapa susahnya memaafkan seseorang? Kalau bicara gampang! Tapi aku sangat kesal! Sejak tadi dikerjai!” bentakku, kali ini nafasku terengah-engah.

Aku lelah mengeluarkan semua ganjalan pikiranku yang terpendam sejak tadi. Gwenchana, Kim jihyun. Semuanya akan kembali seperti semula nanti. Semuanya gara-gara taruhan aneh itu. Awalnya aku memang ingin jatuh cinta, tapi sekarang kenapa malah dapat masalah seperti ini?. Menyebalkan.

“Aaakh, appo” ringisku begitu rasa sakit dilututku semakin terasa.

Air mataku terasa ingin menetes keluar, aku mengibas-kibaskan tanganku dihadapan wajahku. Berharap air mata itu tidak menetes dan kering terkena angin kibasan tanganku. Aku pun menghela nafas panjang dan sedikit memijit kakiku. Yang lainnya hanya memperhatikan, tanpa ada seorang yang membantuku.

“Keras kepala” ujar Luhan menghampiriku dan mengangkatku berdiri.

Dia pun membersihkan rokku yang kotor terkena tanah.

“Appoyo? Gwenchanayo?” tanyanya.

Aku hanya menggeleng.

“Gajjimal, kau hampir menangis” ujarnya. “Jangan sok baik” ujarku. “Aniyo, aku itu masih punya hati” jawabnya. “Oh, kupikir hatimu sudah kau jual” sahutku.

Diapun tertawa dan mengelus pelan puncak rambutku.

“Kali ini kau benar-benar lucu, arraseo?” ujarnya menatapku. “Jangan salahkan teman-temanmu, kami hanya main-main” ujarnya lalu menepuk pundakku pelan. “Yang kau sebut main-main itu berlebihan” sahutku. “Tapi begitulah aku, sudahlah jangan banyak omong. Kajja pulang” ajaknya.

“Ya sudah, kami juga pulang. Annyeong” ujar yang lainnya melambaikan tangan.

Aku hanya membalas lambaian tangannya.

“Bisa jalan?” Tanya Luhan padaku. “Nee, tentu saja” jawabku ketus.

Jangan anggap aku sudah memaafkanmu. Selamanya, tidak akan pernah.

(***)

“Aku bawa mobil, kita naik itu. Beritahu aku alamatmu” ujarnya. “Bukankah kita masih muda? Kau punya surat izin?” tanyaku, aku curiga dia mengemudi tanpa surat izin, kan bisa gawat. “Aku lebih tua setahun darimu, tentu saja aku punya surat izin. Jika tidak, mana berani aku mengendarai mobilku yang bagus ini” ujarnya.

Lalu ia menyuruhku masuk ke dalam mobil yang dibanggakannya itu, duduk disampingnya.

“Oh, kukira kau anak yang tak patuh aturan” sahutku. “Aku ini masih sayang nyawa, kalau tak patuh pada aturan, habislah kita. Tak patuh pada aturan berkendara bisa kecelakaan. Tak patuh pada aturan sekolah nilai bisa dikurangi” jelasnya padaku. “Jangan menceramahiku! Aku sudah tahu itu semua” jawabku, aku tak sudi dinasihati oleh orang sepertimu.

“Sepedamu akan kuganti” ujarnya tiba-tiba. “Shireo, aku orang kaya, tak masalah” jawabku.

Eomma dan Appa juga tak akan marah kalau yang rusak hanya sepeda. Oppaku malah hobi merusakan ponsel dia saja selalu diampuni. Entah, Oppaku itu memang orang yang agak sedikit aneh.

“Oh, begitu” jawab Luhan.

Dia pun mulai menyalakan mesin mobilnya.

“Luhansshi, aku ingin berkata jujur. Aku sama sekali tidak menyukaimu. Itu hanya taruhan dengan temanku saja” ujarku padanya. “Arraseo” jawabnya singkat. “Lalu kenapa kau menerimaku?” tanyaku lagi. “Molla” jawabnya.

“Kalau begitu, kita putus” ujarku lagi. “Sshireo” jawabnya singkat tanpa ekspresi. “Mwoya? Waeyo? Aku tidak ingin namjachingu pertamaku itu orang yang tidak kusukai dan tidak sesuai tipeku” sahutku. “Aku ini memenuhi tipe semua umat manusia” jawab Luhan. “Ya! Aku ini serius! Jangan menjawab singkat-singkat saja sejak tadi!” bentakku. “Kau ini berisik sekali sih. Pokoknya diam saja dan kau tetap yeojachinguku” ujar Luhan.

Pemaksa sekali orang ini. Aku pun hanya terdiam dan dia mulai menjalankan mobilnya. Aku menunjukan arah rumahku, tapi dia malah melewati arah lain. Apa kubilang, dia pasti punya rencana gila lagi.

“Kita mau kemana?” tanyaku. “Ya! Tidak ada yang mengizinkanmu bicara.” ujarnya.

Namja Sialan, ini kan terserahku. Mau bicara, mau ngomel, marah atau tertawa sekalipun itu urusanku bukan urusanmu. Namun tiba-tiba mobilnya terhenti.

“Waeyo Sunbae?” tanyaku bingung. “Sial, gara-gara kau bicara tadi mobilku jadi mogok. Kan sudah kubilang untuk diam. Kau tetap saja bicara” omelnya. “Jangan salahkan aku! Itu tak ada hubungannya” sahutku kesal. “Tentu saja ada, mungkin mobilku tidak menyukaimu. Mendengar suaramu saja dia langsung jadi sakit dan mogok seperti ini” ledek Luhan. “Justru suaramu, bukan suaraku” jawabku. “Mana mungkin. Kau tanggung jawab! Cepat keluar dan dorong mobilku!” suruh luhan. “Mwo? kau gila?” ujarku terkejut.

Padahal dia tahu kakiku sakit. Tetap saja menyiksaku.

“Aku masih waras. Palliwa, kasihan mobilku” ujarnya.

Seenaknya saja menyuruh orang, seenaknya saja mengakui orang, seenaknya saja menuduh orang, seenaknya saja memerintah orang. Dasar manusia suka seenaknya!!.

(TBC)

 

Annyeong!! Bagaimana Chapter 3ini?? Mianhae kalau lama, sebenarnya ini lama di editornya kekeke. Semoga Chapter 3ini baik dan menyenangkan juga memuaskan. Maaf jika banyak typo, alur cerita tak jelas, author hanya berusaha sebaik mungkin untuk memuaskan readers, sekian dan terimakasih^^.

 

54 pemikiran pada “Fallin Love Trouble (Chapter 3)

  1. Aaaa suka banget sama karakter luhan wkwk oya aku reader baru hehe kenapa gaa dilanjutin thor? Penasaran padahal wkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s