Of Course, This Is Love (Chapter 2)

Of course, this is L O V E !

Chapter 2

 

Review chap before:

https://exofanfiction.wordpress.com/2012/07/25/of-course-this-is-love-chapter-1/#comment-22631

Author : Mery Fitria Riswanti

Twitter : @hanjihwaw

e-mail : meryfitriariswanti@yahoo.com

Genre : Teen-Romance

Lenght : 1-3

Cast :

~ you as Han Ji Hwa

~ Kim Jong In as Kai

~ Krystal Jung

~ All of member EXO-K

~ Joon seonsaengnim

~ Heechul (sekedar numpang nama)

~ And others you can find it by your self

 

Alhamdulilah, awalnya sempat shock ga nyangka ada yang tertarik sama ff berantakan hasil otak author yang amatiran ini, tapi ternyata tanggapan kalian luar biasa banget,  kalian bener-bener menghargai dan itu membuat author sangat terharu sampai air mata author banjir ngalahin air mata spongebob (?) .. sekali lagi terimakasih banyak buat kalian semua yang udah mensupport author lewat komen-komenan kalian, dan terimakasih juga buat yang selama ini udah setia  menunggu lanjutan ff ini *sujud * yang pasti dengan harapan karya yang ke dua ini gak mengecewakan dan lebih membuat kalian puas. Happy reading~~~~ *cipok*

 

________________________________________________________

Bagaimana jika cinta datang tanpa permulaan yang indah?

Benarkah selamanya ia yang kau benci terus menyulut amarahmu?

Tidak seorang pun tau apa yang akan terjadi.

Sampai akhirnya kau sendiri menyadari kehadirannya membuat jantungmu bekerja secara abnormal.

Konsentrasimu yang tak pernah utuh

selama bayangannya masih menguasai  pikiranmu.

Semuanya terjadi jauh di luar dugaanmu.

Itulah cinta!

Who can predict it?

_________________________________

[Ji Hwa POV]

“Baik, aku akan membagi peran yang akan kalian mainkan dalam drama Beauty and The Beast kali ini.”

Aktifitas mengobrol siswa menjadi terhenti ketika guru drama yang sekaligus menjabat sebagai tim penegak kedisiplinan sekolah itu memulai pembagian peran.

“Sebelumnya.. Sudah sepatutnya kalian bangga. Saya memberikan tanggung jawab drama ini karena saya percaya akan kemampuan kalian, jadi saya harap jangan merasa terbebani ataupun terpaksa menjalankan peran masing-masing. Sanggup?”

Entah mengapa nada guru ini lebih terkesan memaksa ketimbang meminta kesanggupan. Ya, pastilah mau tidak mau kami harus..

“SANGGUP!” Jawab seluruh peserta drama serentak.

“Kim Jong In. Kau menjadi Beast.” Titahnya langsung.

Kutoleh ke arah sosok pria bernama Kim Jong In itu, pemeran utama pria? Ish apa bagusnya dia. Aku mengamati setiap lekuk tubuhnya tajam. Pantasnya manusia semacam dia dijadikan stuntman babi? Ups.

“Lalu Han Ji Hwa..”

DEG!

“Kau yang menjadi Beauty..”

Ucapan Joon saem sontak membuat seluruh sendiku terasa nyeri. Kepalaku pening, dan pandanganku berkunang-kunang, ku telan air liurku sendiri, pahit sekali sepahit kenyataan yang harus kuhadapi. Ku jiwit kecil permukaan kulit di pipiku berharap apa yang barusan masuk ke dalam telingaku adalah sebuah mimpi buruk di siang bolong, tapi percuma ini nyata! Sekali lagi ini nyata!!

Aku pasti menolaknya!  “Tapi..” Aku mulai mencoba mengeluarkan  unek-unek yang mengganjal di setiap nafasku.

“Tapi apa?” Tanya Joon saem, guru berbadan tambun yang angker itu. Kulihat hari ini kumisnya nampak lebih tebal, kepala botaknya semakin kinclong membuat setiap mata yang melihat pasti silau, hidungnya kembang kempis, dan bola matanya itu sekarang sedang terpusat tajam ke arahku. Andaikan saja ku katakan penolakan ini, aku ragu apakah aku bisa pulang dengan selamat?

Kepalaku tertunduk lemah. “Tidak jadi..” Putusku lesu.

Sial! Aku tak cukup nyali untuk mengatakannya.

Lelucon macam apa lagi yang menimpaku, guru ini sudah tidak waras! Mengapa bisa gadis kuper dan pemalas sepertiku dijadikan pemeran utama?  Bersama Kai pula! apa tidak ada orang lain di dunia ini? Nampaknya rumah sakit jiwa harus bersiap kedatangan pasien baru yang mengidap penyakit langka. ‘Stress berkelanjutan karena drama!’

“Sebenarnya, peran utama wanita akan kuberikan pada Krystal, hanya saja 2 hari yang lalu kakinya cidera ketika show, jadi saat ini ia sedang melakukan perawatan intensive di rumah sakit.” Tambah joon saem seakan mengerti tanda tanya besar yang sekarang memenuhi kepalaku.

Krystal eonni yang juga member f(x) itu kan? Hah, bagus sekali dia cidera disaat yang tepat! Bersyukulah dia, Tuhan telah menyelamatkannya dari api neraka dan iblisnya bernama Kai.

Dan hei… jadi sekarang akulah yang jadi tumbalnya ?!

[ Baekhyun POV ]

Ji Hwa pemeran Beauty? Dia yang menjadi pasangan Kai. Aku tak yakin ia akan baik-baik saja memainkan peran itu bersama namja sedingin Kai.

Ku lirik gadis di sampingku yang saat ini sedang menggigit kecil kuku di jarinya, menggaruk rambutnya kasar, bola matanya berputar tak berarah, bibirnya bergumam tak jelas, kemudian menggelengkan kepalanya tanpa sadar.. Nampak sekali wajah cerianya itu sedang dirundung kegelisahan. aku tau dia sangat shock mendengar keputusan saem yang tak terduga ini.

“Ji Hwa kau baik-baik saja?” Tanyaku memastikan keadaannya. “Ji Hwa??” sekali lagi.

“ah nee oppa?”

“Jangan takut, kau tau? sebenarnya Jong in itu orang yg ramah lo!” Ku tepuk pelan punggung gadis ini mencoba menenangkannya. “Dia baik, tak sekejam wajahnya.”

Mendangar ucapanku spontan kecerewetannya kembali pulih. “Mana mungkin! Lihat wajahnya, untuk senyum saja sulit, Tuhan menakdirkan wajah se menyebalkan itu!”  Telunjuknya mengarah lurus pada Kai di sampingku.

“Tidak sopan! Perlu kau tau, wajah sepertiku ini menjadi incaran setiap wanita, kau saja seleramu rendah. Kampungan!”  Jawab Kai  yang tak mau kalah. Jari nya pun ikut tertuju pada Ji Hwa, mereka sekarang sedang tunjuk-menunjuk.

“Incaran wanita katamu? Hah, aku yakin setiap gadis yang ada di dekatmu pasti umurnya tidak lama!”

“Kau pikir kau menarik bisa mengataiku seperti itu! Aku juga yakin gadis norak dan berantakan sepertimu pasti belum pernah pacaran kan! Akui saja!!”

“…” Dan Ji Hwa hanya diam saja mendengar hinaan Kai yang satu ini. Ia tak bergeming sedikitpun.

Kai melengos “Benarkan? Tidak akan ada pria yang mencintaimu!! Harusnya kau sadar!” Ia hanya tertawa puas, merasa menang karena kediaman Ji Hwa.

Kata-kata tajam Kai membuatku angkat bicara, “Sudahlah! sampai kapan kalian akan bertingkah seperti ini?” Aku tidak tahan terus menerus melihat pertengkaran ini. “Kalian bukan lagi anak bayi yang memperebutkan botol susu. Apa tidak malu bertengkar terus?” Lanjutku.

Seketika pula kedua musuh itu menatapku dengan penuh kebencian. Seakan aku adalah musuh baru mereka.

“Hey jangan menatapku seperti itu. Perkataanku benar kan?”

Mereka hanya mendengus kesal “HUH!!” dan secara bersamaan memalingkan wajahnya dariku.

Jujur saja aku tak tega melihat Ji Hwa yang selalu mendapatkan perlakuan tak pantas dari Kai.

“Kai..” Saat amarah meraka dirasa mulai mereda. Aku mendekati Jong In dan membisikkan sesuatu di telinganya. “mengalahlah sedikit, ingat posisimu Kai.”

<><><>

[ Author POV ]

“Sekarang kita mulai latihan. Yang lainnya akan dilatih oleh Heechul (nih bias author di suju ikut nyempil) Sunbae, sementara pemeran utama, Jong In dan Ji Hwa, kalian ikuti saya.” Suruh Joon saem, seraya berjalan menuju ruangan khusus yang terletak di lantai dua.

Kai dan Ji hwa mengikuti Joon saem dari belakang layaknya kereta api dengan setengah hati.  Kaki mereka terasa begitu berat untuk sekedar melangkah.

“Kenapa harus di ruangan yang beda sih?” Protes Ji Hwa. Ia menundukkan kepalanya menyepak setiap kerikil yang terdampar di kakinya. Ingin sekali ia layangkan kerikil itu di kepala botak guru yang saat ini ada di depannya.

“Ini akan memudahkan kalian untuk mendalami peran. Kalau digabungkan dengan yang lain kalian tidak akan bisa dapat feel yang nyata.” Joon saem sok bijak.

“Macam-macam. Tidak ingat umur sudah bau tanah..” Gumam Kai yang tak terdengar oleh Joon saem.

“Hmmmph..” Tawa Ji Hwa yang tertahan karena masih bisa mendengar rutukkan namja dibelakangnya.

<><><>

“Nah sudah sampai, ini script kalian, tolong di baca dulu. Aku akan segera kembali.” Setelah memberikan tumpukan kertas tebal itu Joon saem langsung berlalu meninggalkan ruangan.

15 menit berlalu, krik krik krik.. (bayi kecoa lewat #abaikan)

Keheningan meliputi seluruh isi ruangan. Kai dan Ji Hwa masih tetap diam dalam kursinya. Kedua orang ini sibuk dengan dunia dan pikirannya masing-masing,  tidak saling berbicara sepatah pun.

Akhirnya Ji Hwa memulai percakapan. Tak tahan dengan kecanggungan ini, dilupakannya semua gengsi miliknya. “Hm, kau sudah lama ya jadi trainee di SM? Angkatan tahun berapa?”

“Bukan urusanmu.” Jawab Kai tanpa melihat sumber suara, dia masih sibuk membaca scriptnya.

“Hey! Bisakah kau menghargai orang yang sedang mengajakmu bicara?!”

Namja itu hanya membalik kertas yang ada ditangannya. sama sekali tidak peduli dengan ucapan yeoja yang sekarang pasti sedang uring-uringan mendengar balasannya.

“Bukan urusanmu juga.” Kai mengulang jawabannya yang tadi.

 [ Ji Hwa POV ]

“Bukan urusanmu.” Jawab Kai singkat.

Mataku mendelik mendengar jawabannya. “Bisakah kau menghargai orang yang sedang mengajakmu bicara?!”

Tidak punya sopan! Berkata seenak kentutnya! Sok cool! Sok kecakepan! Namja ini..  aku benar-benar ingin meracuninya!

“Bukan urusanmu juga.”  Diulangilah jawaban yang semakin membuatku naik darah.

Baiklah, baiklah.. Aku tak akan bertanya-tanya lagi.. Aku akan diam dasar kepala babi!

Krik.. krik.. krik..  (ibu kecoa lewat #sekali lagi abaikan)

Beberapa menit kemudian Joon saem datang dengan menyodorkan dua gelas kopi hangat untuk kami. “Kai, Ji Hwa? Maaf membuat kalian menunggu lama, ini minumlah dulu.”

Ah akhirnya datang juga. Teganya guru ini telah meninggalkanku sendiri hanya berdua dengan namja pembunuh seperti.. -jangan sebutkan namanya, bahaya!- membayangkannya saja sudah membuat bulu romaku berdisco.

“Kamsahaeyo.” Aku mengambil kopi yang ada di hadapanku dan langsung menyeruputnya hingga tak tersisa setetespun. Hawa di ruangan ini bersama pria itu  membuatku haus.

“Kalian sudah selesai membaca script? Ada pertanyaan?” Tanya Joon saem.

Jujur saja, sejak tadi belum ada selembar kertaspun yang selesai kubaca. Aku tidak bisa berkonsentrasi sama sekali.

“Ne.” Jawab Kai meyakinkan.

“Kalau begitu, kita akan berlatih adegan pertama.”

Matilah aku..

latihan drama skip

Joon saem mengernyitkan dahinya. “Ji Hwa, apa sebenarnya yang kau pikirkan? Mengapa kata-katamu selalu melenceng jauh dari teks?”

“Mianhae saem, sebenarnya hari ini kondisiku sedang tidak fit. Ada gangguan perut.” Aku mencoba mencari alasan yang tepat.

“Ya sudah, latihan hari ini kita lanjutkan besok lusa saja, karena besok sepulang sekolah bapak ibu guru akan rapat. Jangan lupa jaga kondisimu. Waktu kita hanya satu minggu.” Jelas saem.

Aku mengangguk. “nee, arraseo.”

“Kalian boleh pulang.” Suruhnya.

Mendengar ucapan Joon saem, tanpa banyak bicara Kai langsung bergegas mengambil tasnya dan segera meninggalkan ruangan. Aish pria ini, aku yang mencari alasan, malah dia yang pulang mendahului.

“Apa ini??” Saat akan menutup pintu ruangan, tanpa sengaja aku melihat sebuah kaset dengan cover abu-abu tergeletak di bawah kursi yang sebelumnya diduduki Kai.

‘Dance Practice’ bisa ditebak siapa lagi tuan pemilik kaset ini kalau bukan dia, si dance machine andalan EXO.

Sepertinya penting sekali. Haruskah aku menitipkannya pada baekhyun oppa? Untunglah tadi siang kami sempat bertukaran nomor ponsel.

_ Oppa, kau dimana? Masih latihan drama?

_ Aku sudah pulang, sekarang aku ada di dorm. Waeyo Ji Hwa?

_ Apa Kai ada di sana?

_Tidak, dia belum pulang. Katanya dia sedang di RS.

_RS mana?

_RS dekat sekolah.. ada yang bisa kubantu?

_Aniya, gomapta oppa.

_Ne (:

Aku menitipkannya di dorm? Ah mana aku tau dorm EXO dimana.

Bagaimana kalau aku mengembalikannya besok saja. Tapi, besok juga tak ada latihan kan? Itu akan menyusahkan jika aku harus menemuinya di sekolah.

Setelah berpikir cukup lama dan menimbang-nimbang segala resiko yang mungkin terjadi.. Baiklah aku akan menunggunya di RS, toh saat pulang aku melewatinya juga.

[ Author POV ]

Rumah Sakit

Hampir satu jam sudah Ji Hwa menunggu di post security bak anak yang sedang tersesat menunggu jemputan orang tuanya. Matanya tak pernah berhenti menyusuri setiap orang yang berlalu lalang di sekitar post yang terletak di samping gerbang Rumah Sakit itu, berharap dengan segera dapat menemui pria yang sejak tadi ia tunggu. Tapi sayang sekali ia belum melihat tanda-tanda kehadirannya.

Karena bosan menunggu akhirnya Ji Hwa berniat mencari udara segar di sekitar taman. Rumah Sakit nya saja elit, tamannya pasti juga kan? Pikir gadis itu polos.

Ia berjalan gontai menuju taman yang ada di belakang Rumah Sakit, tubuhnya yang jangkung mulai merasa kedinginan harus bertahan tanpa mengenakan jaket ataupun kain penghangat lainnya, apalagi di malam musim dingin seperti ini. Tapi apa boleh buat semuanya sudah terlanjur dilakukan. Apabila ia pulang sekarang maka waktu yang sudah digunakan untuk menunggu tadi akan terbuang percuma.

Saat akan mendekati kolam yang berada di tengah taman, tanpa diduga di sana pandangan matanya terhenti pada sepasang sosok namja dan yeoja yang sedang duduk dengan manisnya di sebuah bangku taman.

Kai ? Dan gadis yang dapat dikenali  dari perawakannya ia adalah.. Krystal?

Apa yang sedang mereka lakukan malam-malam begini?

Dengan rasa penasaran yang tak dapat ditahan lagi Ji Hwa mengintip kedua insan itu dari celah dedaunan. Sekarang sudah jam 9 malam, dan Kai belum juga beranjak dari kursinya.

Sebenarnya Ji Hwa ingin sekali mendengar percakapan mereka lebih jelas, tapi apalah daya jarak antara ia dan kedua orang itu harus terhalang pohon beringin besar, serta kesibukan gadis itu mengurus teman-teman barunya..

“Issh, nyamuk-nyamuk ini. Nafsu banget ya sama darahku?!” Maklum saja, tempat  Ji Hwa saat ini bukanlah tempat persembunyian yang layak, tanahnya becek, banyak genangan air, di sekelilingnya pun dedaunan liar, pastilah banyak seragga bermukim di sana. Jauh berbeda dari Taman Elit dugaannya.

Akhirnya hingga pukul 10 malam, Kai baru pergi meninggalkan taman dan yeoja bernama Krystal itu sendirian.

Ji Hwa pun turut mengikutinya dari belakang.

“Kai tunggu.” Panggilnya sambil tersenyum lega melihat kehadiran pria yang sedari tadi ia nanti.

“Kau??”

“Ini kasetmu Kai.” Disodorkannya kaset yang sedari tadi tak pernah lepas dari genggamannya. Hingga membuat kaset itu sedikit, lepek.

“Jadi sejak tadi kau menungguku di sini?” tanya Kai keheranan.

“Ne.”

“Sejak pulang latihan tadi?”

“Ne.”

“Bodoh sekali, kau pikir dengan ini aku akan berterimakasih? Dasar wanita sepertimu selalu merepotkan!”

[ Kai POV ]

Aku memberanikan diri untuk menjenguk Krystal, meski aku belum yakin bisa memaafkan kesalahannya tapi jujur saja sampai detik ini aku masih sangat khawatir dengan keadaan gadis manis itu.

Sudah 3 jam kami mengobrol di taman Rumas Sakit.

“Kemarin Myung Soo orang yang pertama kali menjengukku lo.” Ucapnya tiba-tiba.

Tampak senyum merekah dengan bangga di kedua sisi pipinya setelah menyebut nama namja bernama Myung Soo itu.

“Begitukah?”

“Yaa, dia juga membawakan jus jeruk kesukaanku. enaaak sekali.” Senyumnya masih belum hilang.

“…”

“Dasar Myung Soo, ternyata ia masih seperhatian dulu.” Celotehnya tak berhenti meski aku sama sekali tak meresponnya.

“…”

Gadis ini apa sebenarnya yang ia inginkan.  tidak sadar ia dengan kesalahannya di masa lalu? Belum puas dengan kemarahanku selama ini? Saat aku mulai mencoba membuka hati untuk memaafkannya, mencoba melupakan semua yang pernah ia lakukan, bagaimana bisa dengan mudahnya ia ucapkan nama itu di depanku?

“Aku pulang.” Putusku seraya berjalan meninggalkan Krystal sendiri.

Lebih baik aku pergi dari sini sekarang daripada harus bertengkar dengan keadaannya yang masih sakit.

“Jong in-ah, apa kau cemburu?”  Pertanyaan yang tiba-tiba ia lontarkan otomatis menahan langkahku. “Iya kau masih menyukaiku, benar kan?”

Dia menjebakku kali ini. Tak kutoleh sama sekali arah datangnya pertanyaan itu. “Aku rasa tak penting bagimu untuk mengetahui perasaanku.” Kulanjutkan langkahku.

Berkecamuk rasa kesal dalam pikiranku. Saat itu juga aku ingin membentak setiap orang yang ada di sini, di hadapanku! meluapkan amarahku.

<><><>

“Kai tunggu.” Seperti terdengar suara gadis yang memanggilku.

“Kau??”

“Ini kasetmu ketinggalan.” Gadis menyebalkan bernama Ji Hwa menyodorkan kaset yang tadi kubawa ke sekolah.

“Jadi sejak tadi kau menungguku di sini?”

“Ne.”

“Sejak pulang latihan tadi?”

“ne.”

Tatapanku menajam dan rahangku mengeras. “Bodoh sekali, kau pikir dengan ini aku akan berterimakasih! Dasar wanita sepertimu, selalu merepotkan!” Aku lepas control, nadaku berubah meninggi.

“Me.. me.. mengapa marah?”  Ucapnya terbata-bata.

Dia harus tau. Saat ini aku sedang tidak berada dalam mood yang baik. “Aku tidak mengharapkan bantuanmu! Jangan harap aku berterimakasih padamu!”

“Bagaimana bisa pikiranmu seburuk itu tentangku? Aku tidak mengharapkan terimakasihmu!”

“Lalu apa maumu ? Tidak mungkin sampai selarut ini kau masih menungguku tanpa pamrih kan?!”

“Aku hanya ingin dengan ini hubungan kita bisa membaik, hanya itu Kai! apakah itu terlalu sulit bagimu?” Dengan air mata yang membuncah ia lalu berlari meninggalkan tempat ini.

 [ Ji Hwa POV ]

“Ji Hwa, kenapa baru pulang?” tanya bibi asrama yang melihatku baru masuk ke dalam asrama pukul sebelas malam.

“Ada urusan sebentar.” Jawabku singkat, segera aku masuk dalam kamar. Aku sedang tidak ingin berlama-lama  meladeni pertanyaan ajjeoma. Satu yang ingin aku lakukan sekarang, tidur! Merebahkan tubuhku ke dalam hangatnya kasur yang selalu ku rindukan,  hari ini aku sangat lelah. Terlampau lelah.

Aku mengerti di sini akulah yang bersalah,  tak seharusnya kupaksakan diri untuk membantunya. Tapi haruskah ia mengucapkan kata-kata sekasar itu? Begitu tidak pentingnya kah aku dihadapannya hingga perkataan semenyakitkan itu ditujukan padaku? Meski aku adalah wanita paling bodoh di dunia baginya, wanita tak tau diri yang selalu mengganggunya. namun aku juga wanita yang ingin dianggap kehadirannya! Apa salah jika wanita seburuk aku berteman dengannya?

aku sudah tak lagi sanggup melanjutkan peranku bersamanya. Aku tidak mungkin terus menerus bertemu Kai dengan keadaan seperti ini.

Kring.. Kring..

Kuraih ponsel yang berbunyi disampingku. Tak tercantum nama penelpon.

_Yeoboseyo?

_Jeongmal mianhae. Han Ji Hwa..

Tidak salah lagi.. Aku masih mengingatnya, pemilik suara suara berat ini pria yang baru saja membentakku.

Teriakannya masih terngiang jelas di telingaku, membuat tangan gemetar. Dadaku sesak. Dan memaksa air mata kembali pecah..

Ku tutup sambungan telepon sepihak.

[ Kai POV ]

Kupegang erat benda ini di sepanjang perjalanan pulang.

“Aku hanya ingin dengan ini hubungan kita bisa membaik, hanya itu Kai! apakah itu terlalu sulit bagimu?”

Gadis itu tau ini kaset yang paling berharga bagiku hingga ia menungguku sampai selarut ini.. tapi apa yang baru saja aku lakukan? Membentaknya karena niat baiknya bahkan membuatnya menangis! Bodoh!! Kenapa aku baru sadar sekarang setelah semuanya terlanjur terjadi.. pria macam apa aku ini?! Tak seharusnya aku mengeluarkan perkataan sekasar itu padanya! Tak sepantasnya pula ia yang menjadi korban amarahku karena Krystal.

Aku kalap.. Aku menyesal, dan kini aku dirundung perasaan bersalah.

“Kai? Ji Hwa tadi mengirim pesan padaku. Dia mencarimu.” Terdengar suara baekki hyung ketika kuinjakkan kakiku memasuki dorm.

“Berapa nomor ponselnya?” Tanyaku.

Baek hyung menatapku penuh selidik.  “Ada apa dengan kalian?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Kau membuatnya kesal lagi ?” Pertanyaannya tak berhenti, ia masih ingin tau.

“Aniya. Kami baik-baik saja. Cepat berikan nomornya hyung!” Pintaku tak sabar.

Setelah mendapatkan nomor ponsel Ji Hwa. Dengan  segera aku mengumpulkan semua keberanianku untuk  menelponnya.

_Yeoboseyo?

Suaranya terdengar lirih dan sedikit terisak, ya dia masih menangis.

_Jeongmal mianhae. Han Ji Hwa

Tanpa membalas permintaan maafku langsung ditutupnya sambungan telepon. Aku bisa memahami, apa yang telah aku lakukan memang terlewat batas. mungkin untuk saat ini ia tak ingin mendengar suaraku.

[Author POV ]

Tommorow at Kang Dam school

Hari ini tak ada latihan drama, maka siswa-siswi langsung bergegas pulang saat bel pulang sekolah berbunyi.

Teet.. Teett..

“Kai keren sekali !! Kaiiiiii !” Riuh gadis seisi kelas 1-I mengetahui kehadiran Kai si Kingka.

Semenjak pelajaran terakhir Kai memang sudah tidak ada di dalam kelasnya, ia membolos dan malah berada di depan kelas 1-I, menunggu Ji Hwa.

“Apa yang bisa membuatnya datang ke kelas kita?” Celetuk salah seorang gadis.

“Molla, tapi aku yakin pasti hal yang sangat menarik!”  Jawab temannya lagi.

Tanpa mempedulikan kehebohan yg terjadi karena ulahnya, Kai terus melangkah pasti menuju bangku urutan nomor 3 dari depan dengan papan nama Han Ji Hwa tertera di atasnya.

Dia menunjuk papan nama tadi. “Dimana dia?” tanya Kai pada Ryuna yang saat itu sedang duduk di sana, ia tau gadis itu adalah sahabat Ji Hwa.

“Kau masih peduli padanya?” Ternyata Ji Hwa sudah menceritakan semua yang terjadi.  “Tidak ingat dengan apa yang sudah kau lakukan semalam?”

Pertanyaan Ryuna membuat lidah Kai terasa kelu, ia tidak sanggup menjawabnya. Yaa, Kai memang salah, sangat sangat bersalah.

“Dia baru saja pergi menemui Joon saem.” Lanjut Ryuna.

Mata Kai terbelalak seketika. “Wae??”

“Ia akan keluar drama!  Kau senang bukan?” Ryuna tersenyum sinis.

Mendengar jawaban Ryuna, tanpa pikir panjang Kai langsung mengambil langkah seribu menuju ruangan Joon saem.

Di ruang guru terlihat Ji Hwa yang sedang berjalan menghampiri meja Joon saem.

“Chakkaman!” ditariknya tangan gadis itu dengan sedikit kasar dan menggandengnya keluar. “Apa yang akan kau katakan pada Joon saem?”

Melihat Kai memegang tangannya tiba-tiba pipi Ji Hwa terasa panas. “Bukan urusanmu!” Kali ini ia mengulangi kata-kata yang sering diucapkan Kai.

“Ini urusanku juga, kau tak boleh keluar dari drama tanpa seijinku!”

Ji Hwa berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Kai, tapi tangan besar dan hangat pria itu terlalu kuat untuk ia lawan. “Egois! Mudahnya kau berkata seperti itu sementara kaulah satu-satunya alasan yang membuatku ingin keluar!”  Nampak matanya yang bundar kini mulai berkaca-kaca seperti menahan sebuah aliran air yang sebenarnya ingin mamaksa keluar.

[ Kai POV ]

“Egois! Mudahnya kau berkata seperti itu sementara kaulah satu-satunya alasan yang membuatku ingin keluar!”

Entah mengapa penyesalanku semakin menjadi melihat wajah sendunya hampir mengeluarkan air mata. “Aku sadar, apa yang telah kulakukan padamu adalah sebuah kesalahan, kesalahan besar yang sulit untuk dimaafkan, tapi..” Kulonggarkan tangannya dari genggamanku.

“Sulit untuk dimaafkan kan? Kau tau itu! tapi apa?”

“Tapi aku percaya kau akan memaafkanku.” Ku tatap gadis itu lembut. “Jeongmal mianhae.. aku ingin memulai semuanya dari awal. Aku ingin kita berteman.”

Sejenak yeoja itu terdiam, menunduk dan menyandarkan tubuhnya pada dinding. Nampak jelas sekali matanya yang sembab pasti karena menangis semalaman, dan wajah putihnya yang pucat pasi karena kelelahan menungguku hingga selarut itu.

“Kau jahat Kai.. tidak punya perasaan.” Suaranya mulai melemah. Sekilas ia menatap ke arahku yang sedang mematung mengamati setiap gerak tubuhnya, kemudian ia berlalu berjalan menjauhiku juga ruangan Joon saem.

Ya, dia sudah memaafkanku.

“Apa kau sakit? Wajahmu pucat.”  Tanyaku memastikan.

Ia tak menjawab kekhawatiranku. Ji Hwa hanya tersenyum tipis yang sedikit dipaksakan lalu berbalik meneruskan langkahnya.

Walaupun begitu aku sangat lega ia mau memaafkanku, seolah beban berton-ton yang selama ini menggumpal dalam dadaku telah menghilang seiring dengan senyumnya.

– EXO’s dance room –

Ji Hwa, baru kali ini aku melihat wajahnya dari dekat. Berbeda dengan tampilannya yang berantakan dan rambut yang biasa ia kuncrit seadanya, hari ini rambutnya yang hitam panjang terurai membuatnya terlihat lebih cantik, juga sorotan matanya..

“Jong In-ah! gerakanmu lamban sekali!”  D.O hyung tak tahan melihat tarianku yang sedari tadi selalu salah.

“Kenapa malah diam? Kau mendengarkan kami tidak?!” Jeweran Su Ho hyung di telingaku 100%  mengembalikan kesadaranku.

“Arrgh, sakit.” Rintihku.

“Tidak biasanya kau seperti ini Kai.” Tambah Chanyeol dengan menatap intens wajahku. “Apa yang kau pikirkan?”

Sebenarnya aku sendiri juga tak tau apa yang aku terjadi denganku.  Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Pria yang meminta maaf dengan cara se-ngotot itu. Yang memohon seseorang untuk terus bertahan dalam drama bersamanya, dan meminta seorang gadis untuk berteman dengannya.. Tidak! Itu semua bukanlah diriku yang asli, ini bukanlah tipeku! Sekarang aku kehilangan semua gengsi dan harga diri dihadapan gadis itu!

[ Ji Hwa POV ]

Aku yakin, tatapannya.. tatapan ketulusan yang mengatakan bahwa dia sangat menyesal. Meski berat, baiklah kali ini aku memaafkannya.

Tapi, sejak kemarin aku terus bertanya-tanya apa sebenarnya hubungan antara Kai dan Krystal? Mengapa mereka berdua terlihat begitu dekat, jika teman biasa haruskah menghabiskan waktu 3 jam mengobrol, untuk sekedar menjenguk? Di taman sampai larut malam pula.

“Ryuna, kau tau Krystal kan?”

“Kakak kelas kita? Ah gadis itu, siapa yang tak mengenalnya. Ada apa tiba-tiba kau menanyakannya?” Temanku yang notabene penggosip ulung itu mulai tertarik dengan topik pembicaraan kami.

“Hmm, apakah dia kekasih Kai?”

“Mantan lebih tepatnya, tapi itu sudah satu tahun lalu.”

“Loh. Kai brondong ya? Suka sama kakak kelas.” Tampang bodohku keluar lagi.

“Heloo? Ji Hwa kau ngelindur ya? Kai itu sunbae kita babo.” Ryuna mencubit pipiku gemas.

Ku garuk dengan asal kepala yang sebenarnya tak gatal sama sekali. “Jincha? Kenapa aku baru tau?”

Pria itu ternyata kakak kelasku? Pantas saja wajahnya tua. Tua yang menyebalkan!  Dengusku.

“Aish, kau ini. memangnya apa sih yang kau ketahui Ji Hwa?”

“hehe, tapi ngomong-ngomong kenapa mereka putus??”

“Krystal berselingkuh dengan sahabat Kai sejak kecil, Myung Soo dia juga sekolah di sini. Karena itu Kai sangat tidak terima dan memutuskannya. Tapi kelihatannya..”

“Kelihatannya kenapa??”

“Tapi jelas sekali terlihat kalau Kai masih menaruh rasa pada Krystal sampai sekarang. Meskipun ia tak pernah mau mengakuinya.”

Tanganku mengaduk kasar yoghurt lecy yang sejak tadi belum terminum, mencoba menyalurkan rasa penasaranku agar tak terbaca oleh Ryuna “Benarkah? Apa Krystal cinta pertama Kai??”

“Usut punya usut sih begitu, mengingat dari lahir mantan pacar Kai hanya Krystal. Sama sepertimu bukan? Bahkan kau lebih parah lagi. Tidak pernah pacaran, apalagi punya mantan.”

“Hey kenapa jadi membahasku! Tidak pacaran saat masih menjadi pelajar itu prinsipku tau, lagipula belum pernah ada pria yang mengatakan perasaannya padaku.”

“Karen terlalu sulit bagimu untuk membuka diri Ji Hwa. Kau tidak pernah mengakui perasaanmu sendiri jika kau sebenarnya membutuhkan sosok pria untuk menemanimu.”

Benarkah apa yang dikatakan Ryuna? Selama ini aku memang tidak pernah terbuka tehadap pria. Jujur saja sejak SMP hingga sekarang sudah ada beberapa pria yang mencoba mendekatiku tapi aku tak pernah membalas perhatian mereka, aku tetap kekeuh dengan pendirianku untuk tidak pacaran. Mungkin hal ini yang membuat pria-pria itu mengundurkan diri untuk terus mendekatiku dan mengatakan perasaannya padaku. Tapi di lain sisi aku sering merasakan kesepian. Di saat semua teman-temanku menceritakan betapa indahnya masa-masa pacaran itu, terbesit di benakku untuk merasakannya juga. Tidak dapat dipungkiri akupun seorang gadis biasa, membutuhkan seorang teman -lawan jenis- yang ada disampingku, menghiburku, dan yang selalu ada menjadi tempatku bersandar.

“mungkin..” Gumamku.

“Kalau begitu apa sekarang Kai sudah menarik perhatianmu??” Goda Ryuna mengedipkan sebelah matanya langsung saja membuat pipiku memerah.

“Aniya! Mengapa malah mengatakan hal itu sih? yang benar saja, itu tidak akan terjadi.”

Tidak akan terjadi? Semoga saja.

 

Hari ke dua latihan drama

“Siswa-siswi yang mengikuti drama, di mohon cepat segera berkumpul. Kita akan memulai latihan.” Suara Joon saem lagi-lagi membahana di setiap ujung kelas.

“Hah, perasaanku selalu tak enak setiap kali mendengar suara pria tua ini.” Gerutuku meninggalkan kelas menuju ruang latihan.

Kai? Aku akan latihan berdua dengannya lagi. Bagaimana ya. Mungkin sikapnya sudah berubah atau.. masih  menyulut amarah seperti biasanya..

Sialnya. Dia sudah duduk dengan  nyamannya di dalam. Tak menggubris kehadiranku sama sekali. Namja itu masih asyik membaca komik.

Baiklah kali ini aku tidak akan memulai pembicaraan. Aku akan diam.

“Dimana Joon saem?” tanyanya santai, seolah-olah kemarin tidak terjadi pertegangan hebat di antara kami.

Tumben sekali dia bertanya lebih dulu.

“Di aula, masih mengurus yang lain.” Jawabku sekedarnya.

“oh.” Ia melanjutkan membaca komik di tangannya.

Sebenarnya apa saja yang dilakukan Joon saem di sana? Haruskah pemeran utama seperti kami ditelantarkan seperti ini.

[ Kai POV ]

Ah, itu dia, Ji Hwa datang.

Dengan sengaja aku membawa komik yang sebenarnya sudah selesai kubaca berkali kali, untuk menutupi keteganganku saat bertemu dengannya.

Sekarang, Hal idiot apalagi yang aku lakukan karenanya huh?

20 menit berlalu..

“Annyeong? Sudah datang dari tadi ya?” Sosok Joon saem muncul dari pintu “Aku masih mengurus teman-teman kalian. Membuatku lupa jika pemeran utamanya sedang menunggu, haha..  kalian sudah hafal teksnya?”

“Lumayan hafal.”  Jawabku yakin.

“Baiklah kita mulai.”

— Saat latihan —

“Jong In, dalam adegan ini kau harus memusatkan pandanganmu pada Ji Hwa, tatap matanya dengan lekat.” Suruh Joon saem, ini membuat keringat di tanganku mengucur deras.

Ini dialog yang sejak kemarin malam kuhafalkan. Aku tidak ingin banyak melakukan kesalahan di hadapan gadis ini.  Aku memberanikan diri untuk menatapnya seperti yang diperintahkan Joon saem.

Wajah mungil yang lonjong, mata yang bening bersinar dihiasi alis tebal dan bulu mata lentik, bibir berwarna pink yang tak terlalu tipis, hidung yang juga tidak begitu mancung, memang tidak sempurna tapi merupakan perpaduan pas yang menarik untuk dilihat.

HEY! Apa sebenarnya yang kupikirkan?!

 [ Ji Hwa POV ]

Kai mengucapkan dialognya dengan baik.

God, kenapa aku baru sadar.. Betapa tampannya pria yang sedang ada di hadapanku sekarang..  Berbeda dari wajah pembunuh dulu yang sejak pertama kulihat, tapi kali ini karismanya hampir membuatku gila..

Dan tatapannya itu, mengapa ia tak menghentikan pandangannya dariku, bukankah dialognya sudah habis?

“Jong In? Hey Jong In-ah? Dialogmu sudah selesai.” Joon saem menggoyangkan bahu Kai.

“ah, nee.” Kai tersadar dari lamunannya, dia terlihat salah tingkah dan haha pipinya itu, merah seperti kepiting rebus.

“Latihan untuk hari ini sudah cukup. Akting kalian juga sudah mengalami peningkatan, terus berusaha!!”

“NE!” Balas kami serentak. Setelah memberikan semangat seketika pula guru itu pulang meninggalkan ruangan.

Ku lirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 malam.

“Omo, aku sudah terlambat.” Seruku.

“Kau ada jadwal di SM?” Tanya Kai yang ternyata mendengar ucapanku.

“Ne, harusnya sejak jam 6 tadi.”

“Akan kuantar.”  Balasnya datar.

Apa aku mimpi? Apa yang barusan dia katakan?? Aku tidak salah dengarkan?

“Jangan melamun, cepat ambil tasmu!”

Aku langsung mengambil tas dan menyusulnya, masih tidak menyangka dengan tawarannya.

“Tunggu di depan gerbang, aku akan mengambil motor.”

Tanpa banyak tanya aku lalu menuju pintu gerbang sekolah, menunggunya.

Lucu sekali, melihat keadaanku sekarang. Bak sepasang kekasih saja. Menunggu seorang pria yang akan mengantarku pulang di depan pintu gerbang sekolah. Selama ini belum pernah aku dibonceng oleh pria, terkecuali appaku. Tapi kali ini, dia lah yang pertama bagiku. Kim Jong In, bukan pria sembarangan.

Dari jauh terlihat motor sport besar berwarna hitam yang coraknya berwarna putih keabu-abuan ditumpangi oleh seorang pria dengan helm teropong terpasang di kepalanya sedang menuju ke arahku.

“Keren sekali.  bisikku dalam hati.

“Aku tau aku keren. Tapi cepat naik!” Ujarnya seolah bisa membaca pikiranku .

“Huh, sok tau!”

Meski harus bersusah payah untuk naik motor setinggi ini dan aku harus duduk dengan posisi sedikit njentit tapi.. Waah rasanya bahagia sekali, ada sebuah kebanggan yang terselip. Mungkin inilah mimpi sebagian besar para gadis, di bonceng dan duduk nyaman  di belakang pria idaman seperti dia. Aku merasa sangat beruntung bisa merasakannya.

Tunggu.. Apa tidak terlalu cepat aku melupakan kesalahannya begitu saja? Padahal ia telah melakukan kesalahan  besar yang membuat air mataku hampir banjir. Tapi yang berlalu biarlah berlalu. Walau rasa sakit itu masih membekas namun cukup bagiku dia yang sekarang sudah berubah. Dia sudah menganggap kehadiranku.

[ Kai POV ]

Gadis itu saat ini ada di belakangku. Aku dapat merasakan detak jantungnya yang berdebar kencang, kira-kira apa yang sedang ia pikirkan?

10 menit kemudian kami sudah berada di pintu gerbang gedung SM,

“Turunkan di depan gerbang saja,  satpam SM sangat pemarah.” Ucap yeoja di belakangku ketakutan.

“Dasar penakut. Satpam itu tak mungkin berani memarahiku.”

Dengan santai aku menerobos gerbang tanpa mengurangi laju motor, satpam yang awalnya akan menghampiri kami membatalkan niatnya setelah dengan sengaja kubuka sedikit kaca helmku.

Ku hentikan motor tepat di depan pintu masuk gedung.

“Gimana??” Godaku.

“Kau ini berani sekali !” Ji Hwa menggelengkan kepalanya. “Oh ya, kenapa tidak masuk ke gedung? Apa tidak ada latihan?”

“Iyalah, jadwalku kosong hari ini. Hmm, ngomong-ngomong boleh aku minta tolong sesuatu?”

“Eh?Minta apa?”

“Tolong jangan panggil aku ‘kau’ itu tidak sopan. begini-begini aku lebih tua darimu.” Aku memberanikan diri mengatakan hal yang sejak dulu mengganjal di benakku.

“Oh, jadi aku harus memanggilmu oppa?”

“Kurang lebih seperti itu.”

“Baiklah. hati-hati di jalan ya oppa.. gomapta.”  Ia melambaikan tangannya sembari tersenyum, senyum yang sangat manis.

Aku langsung mengegas motorku meninggalkan gedung ini cepat-cepat, tak ingin ia melihat rona wajahku yang saat ini merah padam karena mendengarnya memanggilku dengan panggilan itu.

Perasaan apa ini? Aku sangat bahagia.

TO BER CULOSES

(eh maaf typo)

TO BE CONTINOUE

*sekilas chap 3*

Kai-pun juga melihat dengan jelas penampakan yang Ji Hwa maksud. “Gwaenchana, jangan dilihat, tutup matamu..” Suruhnya lembut.

“Tapi aku kan malu, lihat pipiku gak bisa tirus kaya snsd sunbae nih.” Ji Hwa mengembungkan pipinya, menunjukkan betapa gemuk kedua bagian wajahnya itu.

“Kau masih mempedulikanku. Bahkan kau tau aku pasti ada di tempat ini tanpa harus memberitaumu.” Jawab Krystal yakin.

“Sial, padahal aku kira aku yang lebih pantas, daripada kau pria tengil..” Wajahnya merengut.

“Aku hanya ingin memelukmu, boleh kan?” Balas Krystal berusaha mempertahankan raga Kai.

“Kau tak perlu mendengarnya sekarang, kau hanya perlu merasakan perasaanku.”

“Tapi aku rasa akan lebih baik jika pemeran penggantiku adalah Krystal unni, benarkan?”

“Jahat! Itu tadi ciuman pertamaku dan kau merebutnya! Kembalikan!!”

 

<><><>

Seperti biasa kalo responnya jelek dan peminatnya sedikit author akan mengurungkan niat untuk kirim chapter berikutnya, tapi kalau ternyata komen kalian bagus dan banyak yang berminat maka author bakal kirim chapter selanjutnya, inget chapter selanjutnya adalah part terakhir lo!

jadilah readers yang baik yaa, jangan lupa RCL nya setelah membaca oke? 🙂

Komen dan pendapat kalian sangat penting bagi author 🙂

 

 

 

 

 

 

Iklan

13 pemikiran pada “Of Course, This Is Love (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s