Tears of Heaven (Chapter 1)

‘Tears Of Heaven Chapter 1 (Cold Silence Heart)

 

Tittle: Tears Of Heaven

Author: dylandia (@mddede04)

Main cast: Byun Baekhyun & Park Chanyeol

Other Cast: KAI, Suho, Sehun, D.O

Genre: Romance/Angst/Soft/Comfort

Rated: T/PG-13

Backsound: Your World by EXO-K, Room of Angels by Akira Yamaoka

Warning: YAOI/BL

 

CHANYEOL POV

Hari ini sama seperti biasa. Kami masih sesibuk biasanya, jadwal padat, tidak ada waktu bahkan untuk menarik napas. Matahari masih bulat, tidak tiba-tiba berubah menjadi segitiga. EXO masih digilai banyak wanita di Korea, bahkan di luar negeri ginseng ini. Aku masih setampan biasanya, dan senyumku semanis hari sebelumnya.

Tapi, ada yang berubah hari ini. Aku langsung tahu di detik pertama aku bangun pagi tadi. Senyum itu. Senyum lembut itu. Sapaan dari suara yang beberapa bulan ini sudah menjadi bagian dari hariku. Tatapan itu. Tatapan polos yang membuatku rela melakukan apapun untuk memilikinya.

Meski dia masih ada di sampingku, hatinya tidak ada disana.

Meski dia tetap tersenyum pada yang lain saat sarapan, senyumnya bukan lagi untukku.

Bahkan, mendekatiku pun dia enggan.

Saat aku memandangnya, dia mengalihkan tatapannya.

Aku tahu semua ini salahku. Tapi, aku tidak bisa menahannya.

Baekhyun-ah, salahkah aku jika mencintaimu?

 

AUTHOR POV

Studio itu penuh dengan teriakan centil para gadis, meneriakkan idola dan favorit mereka. Musik membahana, mengajak siapapun ikut larut dalam irama enam lelaki di atas panggung. Memberikan penampilan terbaik untuk fans yang merelakan apapun demi melihat mereka tersenyum.

Itulah yang dilakukan Baekhyun. Senyum. Senyum. Pose seksi. Menatap kamera. Menatap penonton. Fan-service. Dia tidak memedulikan apapun lagi, bahkan hatinya yang masih berdenyut sakit setelah kejadian beberapa hari lalu. Kejadian yang merubah segalanya, terutama hati Baekhyun. Caranya menatap lelaki itu, Chanyeol.

Tanpa bisa dia cegah, tatapannya selalu berpaling ke arah Chanyeol. Bagaimana namja itu melakukan bagian rap-nya, bagaimana dia menguasai panggung, bahkan bagaimana dia mengatur napas. Baekhyun terlanjur melibatkan harinya untuk Chanyeol, dia tidak bisa melakukan yang lain lagi.

Tapi, setelah kejadian itu, semua tidak akan pernah sama lagi…

 

-BaekYeol-

“Kau tidak mencari Chanyeol?” KAI menghempaskan pantat semoknya di samping Baekhyun. Si Bacon terlonjak kaget.

Dasar hantu. Dia menatap KAI kesal. Dia tidak tahu ya kalau aku lagi melamun.

“Atau kau sedang memikirkan Chanyeol Hyung?” KAI meminum air di dalam botol yang disodorkan Suho di depannya.

Baekhyun melongo. Bagaimana bisa dia tahu apa yang kupikirkan?

“Hey, kau jelas-jelas sedang melamun. Tidak mungkin kan dengan tatapan seperti itu kau sedang membayangkan yang tidak-tidak? Seperti membayangkan Lee Hyori?” KAI menarik Suho yang masih berdiri di depan mereka. Lama-lama dia yang lelah melihat Suho hanya berdiri memandangi mereka.

“Dasar yadong!” Baekhyun hampir menjitak KAI, kalau saja tangan Suho tidak menahannya.

“Jongin benar. Kenapa kau tidak mencari Chanyeol? Biasanya kalian selalu bersama bagai Dora dan Boots, bagai Spongebob dan Patrick, bagai Tom dan Jerry, bagai….” Baekhyun cepat-cepat menghentikan celotehan Suho sebelum dia menyumpal mulut leader itu dengan sepatunya.

“Kalau bertanya ya bertanya saja, tidak usah berputar mencari perbandingan yang tidak jelas,” Baekhyun bersungut-sungut kesal.

KAI dan Suho malah tersenyum lebar, seolah berhasil membuat joke paling lucu sedunia.

“Kau belum menjawab,” KAI masih belum menyerah. Memang aneh melihat Baekhyun tanpa Chanyeol.

“Aish.. Memang kenapa? Apa aku harus selalu bersamanya?” Baekhyun menatap KAI dan Suho yang tidak berhenti tersenyum dari tadi.

“Tentu saja kau harus mencarinya. Kalian kan pacaran,” satu lagi manusia aneh ikut dalam pembicaraan kenapa-Baekhyun-tidak-mencari-Chanyeol-padahal-mereka-terlihat-pacaran.

“YA! Sehun-ah! Sejak kapan kami pacaran?” Baekhyun merebut botol minuman di tangan KAI dan hampir melemparnya ke arah Sehun yang terkekeh puas. Dia yakin perkataannya tidak meleset, muka Baekhyun langsung merah padam! Bahkan eyeliner­­-nya tidak menyelamatkannya dari situasi semacam ini.

“Bukankah sejak kalian sekamar?” KAI bertanya polos.

Baekhyun menoleh ke arah KAI. Pada saat seperti ini, dia benar-benar berharap mempunyai kekuatan seperti di MV MAMA. Sayang, semua itu hanya imajinasi. Jadi, yang bisa dilakukan Baekhyun hanya menendang tulang kering KAI pelan, membuat lelaki manis itu mengaduh pelan.

Hyung, kau mau aku tidak bisa menari lagi?” KAI mengusap kakinya dengan muka tersiksa.

“Siapa suruh ikut campur urusanku?”

“Chanyeol yang menyuruhku.” Baekhyun tidak tahan lagi! Dia mengangkat kaki kirinya, hendak menginjak kaki kanan KAI sekeras yang dia bisa. Tapi, KAI lebih gesit. Dia segera lari dengan tawa mengesalkan dari mulutnya. Melihat muka Baekhyun seperti hendak memakan orang satu kampung, Suho dan Sehun undur diri. Mereka tidak ingin menjadi korban keganasan Baekhyun berikutnya.

Setelah ditinggalkan oleh Kkamjong, leader, dan maknae EXO, Baekhyun kembali meneruskan lamunanannya. Hatinya kembali kosong. Biasanya.. ada yang mengisi tiap celah kosong di hatinya. Baekhyun menoleh ke samping, biasanya ada yang menemaninya setelah perform. Entah mengambilkannya makanan atau minuman, berbicara, bahkan tidak jarang hanya diam. Jika ada dia, Baekhyun tidak membutuhkan kata. Cukup hanya bersamanya, kata tidak akan berarti lagi.

Hatinya kembali berdenyut perih, kali ini ditambah rindu, cinta, marah, dan kesal. Dia bahkan tidak mengetahui bentuk rasa macam apa yang tengah dirasanya kini. Chanyeol terlalu menambahkan banyak rasa dalam hidupnya. Tanpa Chanyeol, rasa lain tidak lagi berarti.

Baekhyun memejamkan matanya. Membiarkan tiap lembar kenangan memenuhi hatinya..

Rasa pertama itu datang ketika…

“Baekhyun, kau akan sekamar dengan…..” Manajer EXO membaca kertas di depannya, mencari nama yang diberikan padanya untuk teman sekamar Baekhyun. Matanya berhenti pada satu nama. “Chanyeol…”

Baekhyun memandang Chanyeol. Lelaki tinggi itu membalas pandangan Baekhyun dengan senyum lebar dan mengacungkan kedua jempolnya. Hati Baekhyun berdesir hangat untuk alasan yang tidak ia mengerti. Melihat Chanyeol selalu seperti ini..

Rasa kedua itu datang ketika…

“Jadi, kamar kita yang ini?” Baekhyun terpaku beberapa detik, berusaha mencerna apa yang akan terjadi pada hidupnya kemudia. Dia akan sekamar dengan Chanyeol.

Chanyeol memasuki kamar dengan koper di tangannya. “Ranjang tingkat ya? Kau sudah memilih?”

“Eh, memilih apa?” Baekhyun tergagap. Bersama Chanyeol selalu membuatnya lambat berpikir.

“Memilih gadis.”

“Hah?” Baekhyun melongo bingung. Apa hubungannya pembicaraan mereka tadi dengan gadis?

“Ya ampun. Kau tidak bisa diajak bercanda ya?” Chanyeol tertawa geli beberapa saat. “Memilih tempatmu, kau ingin di atas atau di bawah?”

“Oh.. itu. Err, aku ingin di bawah..” Baekhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memang bukan kepalanya yang gatal, tapi sesuatu di tubuhnya yang dia juga tidak tahu apa.

“Bagus! Kau memang lebih cocok di bawah,” Chanyeol tersenyum puas. Seolah ‘atas’ dan ‘bawah’ yang mereka bicarakan lebih dari ini.

Itulah yang dipikirkan Baekhyun. Dan itulah yang membuat mukanya memerah.

Rasa ketiga itu datang ketika…

Entah sudah berapa malam Baekhyun berbagi kamar dengan Chanyeol. Dia tidak menghitung. Baekhyun takut ketika dia menghitung, hitungannya berhenti dan rasa yang diberikan Chanyeol itu juga berhenti. Sampai sekarang, Baekhyun tidak berani mengartikan rasa itu. Yang dia tahu, dia ingin menikmati rasa itu sepuasnya, selagi dia bisa dan tidak perlu memberitahu siapapun mengenai perasaannya. Karena yang lain pasti menjawab kalau itu berarti…

Baekhyun memandang ranjang di atasnya. Tiba-tiba, sebuah keinginan kuat berteriak dalam hati dan pikirannya.. Dia ingin memeluk Chanyeol.. Malam ini..

Tidak! Teriak hati Baekhyun meredam keinginan aneh itu.

“Untuk apa aku memeluknya?” tanya Baekhyun pelan pada dirinya sendiri.

Baekhyun berusaha tidur. Mematikan keinginannya. Tapi, keinginan itu terlalu kuat untuk hidup. Dia tidak menyerah. Terus menggoda Baekhyun untuk naik ke ranjang di atasnya dan bergelung di samping Chanyeol.

“Hentikan!” Baekhyun berteriak pelan. Dia masih bertahan dan berusaha tidur.

Setelah bermenit-menit lewat dengan perdebatan sengit dan menurutnya tidak penting, Baekhyun tidak tahan lagi! Dia bangun dan memanjat tangga menuju ranjang Chanyeol di atasnya.

Lalu.. Ketika melihat Chanyeol, semua kata-kata perintah di otaknya berhenti. Ketika melihat Chanyeol tidur dengan napas teratur, dia tidak perlu berdebat lagi dengan hatinya. Tiba-tiba saja, logika dan hatinya sepakat. Dia memang ingin memeluk Chanyeol. Tidak hanya malam ini, tapi juga malam-malam selanjutnya..

Di tengah gelapnya kamar, tangan Baekhyun terlihat menggapai kepala Chanyeol. Tangannya membelai rambut Chanyeol lembut. Ah.. Rasa itu.. Kali ini bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Baekhyun hampir menangis karena bahagia. Dia… menyayangi Chanyeol. Ya, dia menyayangi Chanyeol. Hanya sampai itu penjelasan masuk akal kenapa dia melakukannya.

“Apa yang kau lakukan?” Baekhyun terkesiap kaget. Chanyeol menangkap tangannya. Jantungnya serasa melorot dan menggelinding di lantai. Otaknya berhenti berpikir. Baekhyun hanya bisa membuka-tutup mulutnya seperti ikan yang kehabisan napas. Memang tidak ada penjelasan masuk akal atas apa yang dia lakukan. Bahkan jika penjelasan itu berarti menyayangi Chanyeol. Itu terkesan tidak normal, bahkan di pikiran Baekhyun sendiri. Dia tidak berani membayangkan bagaimana jika Chanyeol tahu penjelasan akan kelakukannya ini.

“Menyelinap ke ranjangku saat aku tertidur, membelaiku.. Ternyata kau nakal.” Bahkan di keremangan kamar, Baekhyun dapat merasakan kelicikan dalam suara Chanyeol.

“Ah, aku tahu apa yang kau inginkan. Dan.. sepertinya aku juga menginginkannya..” Chanyeol menarik tangan Baekhyun ke dadanya. Dia terkesiap. Jantung Chanyeol berdetak sangat cepat. Dan panas. Seolah membutuhkan sesuatu.

“Sepertinya di ranjangmu lebih nyaman,” Chanyeol tersenyum lembut. Baekhyun langsung menundukkan wajahnya. Dia yakin, di gelap pun wajahnya akan bersinar kemerahan.

Chanyeol bangun dan turun ke ranjang Baekhyun. “Sini..” Dia menepuk bagian kasur samping tubuhnya.

Dengan bahasa tubuh kentara akan kegugupan, Baekhyun mendekat dan merebahkan tubuhnya.

“Nah.. Ini kan yang  kau inginkan?” Tangan Chanyeol segera melingkari tubuh Baekhyun. Seakan ingin menyimpannya dari dunia, melindungi Baekhyun dari apapun.

Dan Baekhyun menyadarinya. Kegugupannya langsung hilang tak berbekas. Terganti dengan kelegaan dan kebahagiaan lebih daripada tadi.

“Sepertinya, mulai sekarang ranjang atas tidak terpakai lagi. Aku akan tidur disini. Menemanimu dan memelukmu.”

Baekhyun menyembunyikan wajahnya di dada Chanyeol. Sejujurnya, dia tidak tahu apa yang dia lakukan. Dia hanya ingin melakukannya. Dia bahagia saat melakukannya. Saat ini, semuanya tak lagi berarti.

Hanya detak jantung Chanyeol, hembusan napasnya, panas tubuhnya.

Baekhyun menyayangi Chanyeol..

Selanjutnya, dia tidak menghitung lagi rasa ke-berapa yang diberikan Chanyeol untuk hatinya. Angka dan kata membeku, menjadi abadi untuk Baekhyun. Untuk terus merasakan ini, Baekhyun berhenti menghitung. Hanya menikmati, merasuk, meresapi, mendalami harinya bersama Chanyeol…

“Aku menangis?” Baekhyun merasakan butiran panas keluar dari matanya. Dia kembali berada di ruang tunggu, bukan di kamarnya dan Chanyeol seperti yang dia bayangkan tadi. Bukan perasaan hangat itu yang datang, dia hanya merasa dingin. Dingin yang menggelisahkan. Dia sangat merindukan Chanyeol. Membayangkan Chanyeol ada di sampingnya dan mencari rasa itu tidak pernah sama dengan kenyataan sebenarnya.

Baekhyun menyentuh bibirnya. Rasa bibir yang mengecup itu sudah hilang. Dia tidak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya. Mengalaminya.. jauh lebih menakjubkan.

Tapi, mengapa aku menghindar? Dia berpikir getir.

Tubuh Baekhyun bergetar. Dia masuk terlalu jauh. Dalam pusaran rasa yang tidak jua ia mengerti..

 

BAEKHYUN POV

Aku kembali menghitung. Menghitung sesuatu yang sama sekali berbeda. Merasakan rasa yang ternyata sangat menyesakkan. Membuatku ingin kembali dan memperbaiki semuanya. Sungguh, aku tidak akan menghindar saat itu.

Tapi, saat melihat Chanyeol memasuki kamar dengan wajah dingin dan lelah, semua keinginan itu langsung melebur bersama perih. Perih yang tidak juga hilang dari hari pertama dia datang. Perih yang setia menabur sakit, mencipta luka, menghapus bahagia, aku dan Chanyeol.

Apa yang telah terjadi pada kami? Air mataku kembali tumpah. Ranjangku tidak pernah sedingin ini. Hatiku juga tidak pernah sesakit ini. Chanyeol kembali menggunakan ranjang di atas ranjangku. Seolah apa yang kami lakukan malam-malam sebelumnya tidak pernah terjadi.

Ucapan selamat malam.. Pelukan… Ucapan selamat pagi..

Ciuman pertama..

Dan mungkin yang terakhir..

Aku seakan baru saja terbangun dari mimpi indah. Yang terjadi padaku dan hatiku seolah berjarak ribuan hari, bukannya beberapa hari seperti kenyataannya.

Tiba-tiba, kudengar Chanyeol menuruni tangga di samping tempat tidurku. Aku melirik sedikit, takut jika mataku yang bengkak membuatnya makin membenciku. Keadaanku pasti sangat tidak karuan saat ini. Dia melangkah keluar kamar, mengambil selimut dalam lemari, membuka pintu dengan cepat, dan meninggalkanku.

Tahukah kalian bagaimana es membekukan tubuh? Dimulai dari ujung kaki, ke paha, ke perut, ke dada, dan kepala. Terjadi dalam waktu kurang dari sedetik. Setelah aku menyadari itu tanda dia ingin meninggalkanku. Mungkin jantungku berdetak sangat cepat karena sakit, tapi aku merasa beku. Tubuhku terbujur diam. Menanti malaikat maut menjemputku. Rasa ini terlalu sakit. Lebih baik aku mati. Lebih baik aku mati daripada mencintainya…

Chanyeol-ah, aku juga mencintaimu….

 

CHANYEOL POV

Posisi tidur apapun tidak akan membantu. Tidak akan meredakan gelisah dan sakit ini. Tidak akan membuat mataku terpejam dan melupakan semuanya sesaat. Tidak akan mengembalikan apa yang telah kulakukan. Mataku masih terbuka menatap dalam gelapnya ruang tamu di dorm EXO. Menanti dan mengharapkan, Baekhyun datang lalu memelukku. Memberitahu dia juga mencintaiku. Dan tidak akan menolak apapun yang akan kulakukan.

Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Hanya agar beban ini terlepas walau sedikit. Tapi, aku yakin, teriakan sekeras dan secempreng apapun tidak akan membuat Baekhyun mencintaiku.

Dia menolakku. Dia menjauhkan bibirnya ketika pengakuan itu keluar dari bibirku. Pengakuan yang kukatakan dalam bentuk ciuman. Manis, bukan? Namun, Baekhyun tidak mengerti. Aku pun sebenarnya tidak mengerti dengan rasa aneh ini. Lalu, aku memutuskan untuk memulainya. Memulai hal yang memang seharusnya terjadi sejak kali pertama aku melihatnya. Aku tidak buta. Binar mata Baekhyun sarat akan cinta, pengorbanan, keinginan, bahkan kebingungan. Aku memutuskan untuk mengakhiri kebingungannya, mengatakan padanya bahwa aku mencintainya.

Tapi… Dia membutakan hatinya… Menerbitkan cubitan kecil di hatiku, disusul tamparan telak dan kenyataan pedih, aku salah mengartikan apa yang terjadi di antara kami…

FLASHBACK

“Wah, tinggi sekali..” Aku menoleh ke arahnya, mendapati matanya berbinar takut dan bahagia, sebuah kombinasi yang membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan darinya.

Saat ini, kami berada jauh di atas tanah, di dalam bianglala yang berputar pelan. Member EXO yang lain pasti ingin mencoba permainan lebih menantang, tapi tidak denganku. Bersamanya selalu menantang, selalu seperti ini. Sensasi rasa seperti ekstasi. Aku selalu ingin mengulangnya.

“Chanyeol-ah, berapa kali putaran lagi kita harus turun?” Dia menoleh ke arahku. Aku langsung mengalihkan pandangan, berusaha menurunkan darah yang kini berkumpul di mukaku.

“Err.. aku tidak tahu,” balasku sambil terus memandang ke arah lain. Entah kenapa, saat ini terasa lain. Mungkin karena hanya kami berdua dalam ‘sangkar’ kecil ini. Mungkin karena tidak ada lagi KAI dan Suho yang menggoda tiap saat. Atau mungkin karena matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.

Tapi, penjelasan yang lebih membuatku bahagia adalah Baekhyun yang tidak berhenti tersenyum sejak tadi..

“Kau senang?” tanyaku.

“Tentu saja. Naik bianglala terasa… melegakan,” balasnya. “YA! Kenapa kau terus menoleh ke sana? Apa mukaku sangat jelek untuk dilihat?”

“Tentu saja tidak! Tidak mungkin banyak EXOTIC yang mengambil fotomu jika kau terlihat jelek. Kau selalu.. tampan.” Sial. Sekarang aku terdengar menggoda seorang lelaki.

“Aku lebih peduli padamu daripada mereka yang mengambil fotoku.”

Aku terkesiap kaget dan buru-buru menatapnya. Dia juga memandangku. Seakan menantangku untuk mencari apapun yang tersembunyi di dalamnya.

“Foto yuk…” Tiba-tiba dia tersenyum lebar dan mengambil kameranya, merangkulkan tangannya di bahuku, dan berpose imut. Aku mempersiapkan bibirku yang serasa dilekatkan oleh benang untuk tersenyum. Menatapnya selalu membuatku terdiam.

KLIK…

Dia melihat hasil jepretannya dan tersenyum lembut. Hatiku berdesir menatapnya.

Lalu.. Entah darimana datangnya keberanian dan kekuatan itu..

Tanganku mengambil kameranya dan meletakkannya di sampingku. Dia terlihat bingung.

“Kau ingin melihat hasil foto tadi?” tanyanya polos.

Aku tidak memedulikan pertanyaannya. Tanganku memegang bahunya. Menguncinya dalam tatapan tajam beribu arti. Mengharapkan dia tahu maksudku. Di tempat ini, di bianglala yang saat ini berada di puncak, waktu tak lagi berarti. Dia terasa abadi di hatiku.

Angin membelai kulitku lembut. Membisikkan godaan. Membisikkan pengakuan. Aku harus memberitahunya. Sebelum rasa ini membuatku gila..

“Chanyeol-ah..” bisik yang menyerupai desah itu meruntuhkan sisa-sisa pertahanan diriku. Aku mendekati wajahnya. Merasakan tiap hembusan napasnya. Menghirup aromanya. Mendengar jantungnya yang juga berdetak cepat..

Lalu.. aku mengcup lembut bibirnya. Hanya mengecupnya tanpa berani melakukan apapun lagi. Detik menjadi hampa. Tak ada lagi arti kecuali dirinya yang pasrah dalam ciumanku.

Tapi… detik benar-benar menjadi hampa. Hampa yang sakit menggigit. Ketika dia mendorongku dan memandangku takut. Seakan mengatakan bahwa ini salah. Kecupan dan perasaanku salah.

Aku telah kalah. Menyerah. Pasrah. Dalam matanya yang terus memandangku takut. Dan ketika bianglala sudah mencapai tanah, dia segera membukanya dan berlari, meninggalkanku dengan kesakitan yang sangat terasa…

END OF FLASHBACK

Sakit itu mengendap disini. Mengendap dan menjadi racun, memakan hatiku menjadi puing-puing tanpa harapan. Tidak ada lagi yang tersisa untuk hari esok, selama dia tidak ada. Setelah penolakan itu, kehadiran Baekhyun terasa sangat berarti. Ucapan selamat malam dan sapaan di pagi hari sangat kurindukan. Tapi, dia sangat jauh tak terjangkau..

Aku melihat jam ruang tamu. Sudah hampir pagi. Dan aku belum memejamkan mata sama sekali. Ah, aku harus tidur. Nyenyak atau tidak, itu urusan nanti. Hariku esok sudah cukup buruk tanpa omelan manajer kami karena mataku yang bengkak.

Dalam mataku yang terpejam, Baekhyun kembali membayang semu….

 

To Be Continue..

8 pemikiran pada “Tears of Heaven (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s