Endless Love Special Edition (Kai Version)

TITTLE: ENDLESS LOVE SPECIAL EDITION. (KAI version)

CAST: Kim Jongin

GENRE: Friendship, romance.

LENGTH: oneshoot

AUTHOR: AAL (@adlnayu / @y00nkai)

Notes: pernah di post di blog pribadiku hazelwine.wordpress.com

Halloooo! Aku yakin kalian akan bingung saat membaca judulnya. Apaan nih?

Hehe jangan bingung. Sekarang akan kujelaskan maksudny apa ^^.

ENDLESS LOVE SPECIAL EDITION. Merupakan bagian dari ff endless love (sequel of between friends) itu sendiri. Di Special Edition ini kalian akan mengetahui sisi lain yang tidak diketahui tentang tokoh-tokoh utama dalam ff ini.

Untuk special edition yang pertama aku memilih Kim Jongin aka Kai. Nanti akan ada special edition yang lain, yang juga akan membahas sisi lain dari para tokoh utama.

Sudah jelaskan? ^^. Silahkan membaca~

 

 

 

Annyeong Haseyo, Kim Jong… Ah-ani-. Kai Imnida.

Yah, sebenarnya tidak masalah jika kalian ingin memanggilku dengan nama Kim Jong In. Tapi, sebenarnya aku agak risih mendengarnya. Habis menurutku, nama Kim Jong In itu agak kampungan.

Kalau boleh pilih, aku ingin punya nama yang keren seperti orang kota. Apa kalian tau Eric Mun? Nah aku ingin punya nama seperti dia. Terkesan modern, dan lebih mudah untuk diingat.

Jika ditanya apa cita-cita ku, tentu saja aku akan mengatakan, pergi jauh dari desa ini. Bukan berarti aku tidak betah tinggal disini, tapi ada kalanya, aku ingin melihat dunia lewat jendela yang berbeda.  Bukannya jendela berdebu yang ada di kamarku.

Karena itu lah, aku selalu suka mendengar kisah perjalanan Ri Ah dalam mengelilingi dunia.

Ayah Ri Ah adalah seorang petualang, dan beliau selalu berbaik hati membawa anak gadisnya ikut serta. Kudengar, mereka sudah menjelajahi lebih dari dua puluh negara.

Ri Ah bukanlah nama sebenarnya. Nama aslinya adalah Amelia Salisbury. Keren bukan? Entah kenapa, aku selalu suka dengan nama yang berbau barat.

Saat pertama kali bertemu gadis itu,aku merasa seperti melihat alien. Rambutnya berwarna merah,persis seperti lidah api. Sangat berbeda dengan orang Korea yang biasanya berambut hitam. Kulitnya putih seperti hantu, dengan bintik-bintik merah menghiasi pipinya.

Aku pikir gadis itu tidak bisa bahasa korea, jadi awalnya aku malas berkenalan dengannya. Ternyata tebakanku salah. Bahasa Koreanya tanpa celah, walau logatnya memang agak aneh.

Amelia. Cinta pertamaku.

Orang bilang, cinta adalah sesuatu yang rumit. Tapi tidak bagiku.

Cinta adalah sebuah rasa. Tapi rasa ini berbeda karena kita tidak bisa mengecapnya menggunakan lidah, melainkan dengan hati. Rasakanlah, maka kau akan mengerti.

Cinta. Referensi utama bagi seluruh penulis di penjuru dunia saat memulai tulisannya. Sebuah harmoni klasik yang mengalun lebih indah daripada deburan ombak ataupun kicauan merpati.

Menurutku, jatuh cinta tidak memerlukan alasan. Kita bisa saja jatuh cinta dengan orang yang baru kita temui tadi pagi tanpa alasan yang jelas. Dengan satu jentikan, cinta bisa membuat segala sesuatu menjadi mungkin.

Rasa cintaku pada gadis itu membuatku ingin memilikinya.

Walaupun aku tahu, kenyataan berbanding dengan yang kuharapan.

Karena gadis itu menyukai orang lain.

~ENDLESS LOVE. KAI VER~

Oh. Se. Hun.

Daripada nama Kim Jong In. Menurutku, nama Oh Sehun lebih kampungan lagi.

Tapi, sesering apapun aku mencemooh nama ini, toh tidak ada kesenangan dibaliknya karena pemilik nama ini pun tidak mempedulikannya.

Tidak berlebihan rasanya, jika aku mengatakan kalau aku mengenal Sehun lebih dari dirinya sendiri. Kami mengenal bukannya setahun dua tahun, melainkan seumur hidup.

Kami lahir di rumah sakit yang sama. Waktu yang sama. Bahkan di tangan bidan yang sama, hebat bukan?

Mungkin karena faktor kesamaan itulah, kami menjadi sahabat yang tidak terpisahkan.

Walau kadang, perasaan iri yang terselip dihatiku ini ingin menghancurkan hubungan yang sudah terjalin lama.

Aku iri dengan otaknya yang sangat encer. Malah kadang aku suka berpendapat kalau Sehun adalah reinkarnasi dari Einsten. Berlebihan, aku tau.

Aku juga iri dengan kesopanannya, cara bicaranya yang teratur, matanya yang teduh, kulitnya yang tidak akan menjadi hitam walau sering terjamah matahari.

Aku iri, karena gadis itu menyukainya.

Jangan kira aku bodoh. Aku punya mata, dan lagipula aku punya hati. Bagaimana mungkin aku tidak menyadari aura cinta yang menguar disekeliling kedua insan itu?

Sekeras apapun kedua orang itu menyembunyikan perasaan masing-masing, toh usaha mereka sia-sia karena aku bisa melihatnya.

Aku ingat, hari dimana aku dan Sehun datang ke sekolah dengan muka babak belur seperti habis berkelahi.

Sebenarnya, sepeda yang kami naiki oleng karena menyandung sebuah batu besar yang ada di tengah jalan. Dan sedetik kemudian tubuh kami dengan suksesnya sudah jatuh terjerembab membentur kerasnya apal.

Saat itu, rasanya aku ingin membunuh orang bodoh yang sudah menaruh batu besar itu ditengah jalan.

Tapi, bukan itu sebenarnya yang membuatku kesal.

Sesampainya di sekolah, Ri Ah langsung sibuk mengobati luka kami. Ah bukan kami. Melainkan Sehun. Ia terlalu sibuk mengobati luka yang diderita Sehun, sedangkan aku? Hanya kebagian ceramahnya saja.

“Aduhhh, Kai! Kalau naik sepeda hati-hati dong, tuh liat Sehun jadi luka begini!”

“Sudah lah, ini bukan salah Kai. Kau tidak perlu khawatir.”

“Eh Ri Ah, aku juga tidak apa-apa ko. Kau tidak usah khawatir dengan keadaanku.” Ujarku sambil tersenyum walaupun meringis menahan sakit yang menjalar di pipi.

“Sehun-ah, lihat kepalamu sampai bocor begini, kalau darahnya tidak mau berhenti bagaimana?”

“Tak apa. Dikompres sebentar juga sembuh ko.”

“Adududuh, Eh Ri Ah kepalaku juga sakit. Sepertinya aku gagar otak.”

“Yaampun Sehun-ah! Lihat, pergelangan kakimu sampai biru begitu, apa kau ingin aku mengantarmu ke rumah sakit?”

“Tidak usah. Aku tak ingin merepotkanmu”

“……”

Ya,ya,ya. Terus saja bicara. Saat itu, aku merasa seperti pohon kaktus yang tumbuh diantara padang pasir. Sepi. Sendiri. Hanya ditemani sepoian angin yang bagaikan mengejek.

Syuuuu~ syuuuu~

“Yasudah kalau begitu. Nanti saat pulang sekolah, aku akan mengobatimu lagi. Oiya Kai, ingat hati-hati kalau mengendarai sepeda!”

Gadis berambut merah itu dengan santainya langsung berjalan menjauh untuk memasuki kelas. Meninggalkanku dengan hati yang hancur berkeping-keping.

Dengar? Gadis itu bilang ‘aku akan mengobatimu lagi’ bukannya ‘aku akan mengobati kalian’, sudah jelaskan siapa ‘mu‘ yang ditujukan disini?

“Kai, ayo kita masuk kelas juga. Bel sudah berbunyi dari tadi.” Pemuda yang duduk disebelahku bangkit berdiri, sedetik kemudia ia meringis menahan sakit yang menjalar dari pergelangan kakinya.

Panggil aku jahat, panggil aku egois, entah mungkin saat itu Lucifer sedang merasuki jiwaku sehingga aku mengangkat kaki dan dengan tidak berperi kemanusiaannya aku langsung menginjak pergelangan kakinya.

“AARRRRRGGG!!!” Pemuda itu meringis, ah tidak. Berteriak. Ia lalu mendorong tubuhku, “Hei, apa masalahmu?!!”

Aku tidak menjawab gertakannya, hanya memasang tampang datar lalu berkata “sakit ya? Kau tahu, hatiku jauh lebih sakit daripada itu.”

Lalu tanpa rasa bersalah yang melingkupi, aku memutar tubuh lalu berjalan meninggalkan pemuda itu dengan langkah terseok-seok.

Wuih, ternyata kakinya lebih keras daripada batu.

~ENDLESS LOVE. KAI VER.~

Entah aku yang beruntung, atau memang Sehun adalah jelmaan malaikat, pemuda itu tidak melaporkan insiden menginjak kaki tadi pagi kepada Ri Ah. Kebayang kan bagaimana jadinya kalau pemuda itu menceritakannya pada Ri Ah?

Mungkin, aku sudah ditendang oleh gadis itu sampai Papua. Atau Amazon. Yah dimana sajalah, yang jelas jauh dari desa ini.

Ri Ah bilang ia masih punya beberapa urusan di sekolah yang harus ia kerjakan. Jadi ia menyuruh aku dan Sehun untuk pulang duluan. Tadinya aku menolak, dengan berkata “aku juga pulanganya telat. Mau main sepak bola dulu.”

Aku pikir Ri Ah akan melarangku karena khawatir, ternyata dia hanya berkata dengan wajah datar “oh, yasudah kalau begitu. Tapi, kau antar Sehun dulu ya.”

Saat itu, ingin rasanya aku menimpuk kepala gadis itu dengan batu besar tadi.

“Hei, Kai.” Sapa pemuda itu saat kami sedang dalam perjalanan pulang. “Maaf ya.”

Aku menggeret sepedaku lebih cepat. Malas berjalan bersisian dengannya “seharusnya aku yang minta maaf. Gara-gara keteledoranku, kau jadi ikutan jatuh.”

“Bukan, bukan maaf karena itu.” Pemuda itu mensejajarkan jarak kami dengan kakinya yang pincang sebelah. “Maaf…”

“Maaf karena apa?” Tanyaku tanpa sedikitpun menoleh kearahnya.

“Kau pasti tahu apa maksudku.”

“Aku tidak tahu.”

Pemuda itu menghela nafas, sebelah tangannya terangkat mengacak-acak rambut cokelatnya dengan frustasi karena tidak berhasil bicara denganku.

Hah, rasakan itu.

Mungkin aku saja yang terlalu kekanak-kanakan sampai marah tidak jelas seperti ini. Mungkin aku hanya cemburu. Ya, cemburu. Sebuah rasa yang mengatakan bahwa cinta saja tidak cukup untuk memiliki seseorang yang kita cintai.

Pemuda ini. Gadis itu. Dan cinta yang tersembunyi diantara keduanya.

Bukan kejadian ini saja yang membuatku yakin kalau ada sesuatu yang terselip diantara mereka. Jika kalian ingin tau, lihat saja iris mata gadis itu.

Sapphire miliknya tidak berbinar saat melihatku sebagaimana irisnya berbinar saat melihat Sehun, menyebut kata Sehun, bercerita tentang Sehun.

Malamnya, Ri Ah mengatakan kalau ia akan pulang ke Meksiko. Aku berusaha mencegahnya, tapi tidak berhasil. Jika Sehun yang mencegahnya, Aku yakin respon gadis itu akan berbeda.

Tapi pemuda itu tetap diam seperti tidak ada yang salah.  Aku ingin memukulnya, tapi tanganku masih sakit, jadi aku lebih memilih untuk meninggalkan mereka berdua saja.

Esoknya, Sehun tidak datang untuk mengantar Ri Ah. Aku tidak tahu apa yang mereka berdua bicarakan sampai pemuda itu tidak datang.

Saat itu, wajah Ri Ah kelihatan sangat sedih, tapi gadis itu berusaha untuk tersenyum. Tak tahan melihatnya seperti itu, aku memberanikan diri untuk mengecup keningnya, lalu berkata “Aku mencintaimu.”

Gadis itu diam saja. Tidak terlihat terkejut seakan tahu aku akan mengatakan ini padanya.

Bus yang ia tumpangi mulai berjalan menjauh meninggalkan desa, setelah kendaraan itu tidak terlihat lagi aku langsung memutar tubuhku dan berlari menuju rumah pemuda itu.

Demi mendapatkan sebuah kepastian darinya.

~ENDLESS LOVE. KAI VER~

BRAAKK!!!

Aku membuka pintu kamarnya tanpa mengucapkan permisi atau pun mengetuk pintu.

Pemuda itu tidak menoleh kearahku, melainkan matanya tertuju pada secarik kertas yang berada digenggamannya. Matanya bergerak membaca tulisan yang ada disana, tangannya bergetar. Sedetik kemudian ia melemparkan kertas itu ke lantai.

“Hei apa yang kau lakukan?!” Aku mengambil kertas yang tadi ia lempar. Membaca tulisan yang tertulis disana lalu mengerutkan alis. Ini artinya apa ya?

“Oh Kai, sedang apa kau disini?” Sehun menatapku sambil memiringkan kepala, baru sadar kalau sejak tadi aku sudah menginjakan kaki di dalam kamarnya.

Aku menatap pemuda itu dengan kedua bola mata hitamku, lalu berkata “kita bicara di luar.”

~ENDLESS LOVE. KAI VER~

Hembusan angin laut seakan menyapa kedatangan kami, riak ombak menggelitik telapak kaki seakan mengajak kami untuk menapakinya lebih jauh. Sayang, pemandangan yang indah ini pun tidak mampu untuk mencairkan suasana yang sedang tercipta.

“Kenapa kau tidak mengantar, Ri Ah?”

Pertanyaan pertama sukses aku lontarkan. Tapi pemuda berambut cokelat ini hanya mampu menjawabnya dengan wajah tertunduk “Bukan urusanmu.”

“Apa semua yang berhubungan dengan gadis itu bukan urusanku?!”

“Memang bukan. Memangnya gadis itu siapa sampai kau harus selalu mengurusi dia?”

Aku tidak percaya Sehun sampai bicara begitu. Maksudku, Sehun yang selama ini kukenal adalah pemuda yang tidak pernah bicara kasar ataupun menusuk pada orang lain walaupun kau menumpahkan orange juice diatas kemeja putihnya. Tapi, lihat sekarang?

“Aku tidak tau apa yang terjadi sampai kau seperti ini, Oh Sehun.”

“Aku juga tidak tahu.”

“Kau jelas tahu. Ini perasaanmu. Kau hanya berusaha menutupi…ah tidak. Membohonginya.”

Pemuda itu mengangkat wajahnya, satu tangannya terkepal erat. Aku memperkirakan di telapak tangannya pasti banyak terdapat bulan sabit berwarna merah akibat kukunya yang terlalu sering tertancap disana, “apa yang kau tahu tentang perasaanku?”

Aku hanya terdiam melihat kedua alisnya yang menekuk menunjukan amarah.

Keheningan mengisi suasana. Suara deburan ombak ataupun percikan air mendominasi berbagai perasaan yang beraduk di dalam sukma, sampai bibirku terbuka untuk mengeluarkan suara “kau tahu, Sehun? Life is all about question.” Aku menatap hazel pemuda itu dengan black pearl milikku, “Can you question life? Can life question you?”

Aku yakin sekarang pemuda itu terdiam bukan karena merenungi kalimat yang aku katakan melainkan shock karena mendengarku bicara menggunakan bahasa inggris.

“Pertanyaan-pertanyaan itu bisa mewarnai ataupun menjenuhkan hidup kita. Tergantung kita ingin menjawabnya atau tidak.

Untuk menjawabnya memang bukan sesuatu yang mudah. Kadang kita butuh waktu ataupun pengalaman untuk menjawabnya. Tapi ingat, bukan jawaban yang benar yang akan menyelamatkan kita, melainkan jawaban yang tepat. ada kalanya dalam hidup ini suatu kesalahan lah yang akan menyelamatkan kita.”

Matahari pagi kini sudah meninggi dan sekarang sedang berada pada puncaknya. Tapi anehnya, aku tidak merasakan panas sama sekali. Melainkan merasa nyaman.

“Sekarang aku yakin hidup sedang mengajukan pertanyaan padamu. ‘Oh Sehun, apakah kau ingin mengejar gadis itu atau melepaskannya?'” Aku berkata dengan suara yang diberat-beratkan. “Sekarang semuanya bergantung padamu. Jawab pertanyaan itu dengan tepat, maka kau akan bahagia. Kau tidak perlu takut untuk menjawabnya. Dengar kata hatimu, karena hati selalu tahu.”

~ENDLESS LOVE KAI VER~

Esoknya Sehun menghilang tanpa jejak. Ia pergi dengan membawa beberapa potong pakaian, semua tabungan, tanpa meninggalkan secarik kertas yang bertuliskan pesan.

Kedua orang tuanya tidak pernah berhenti mencari anak laki-laki nya itu. Bahkan Seohyun noona yang notabenase berhati batu pun ikut panik dibuatnya.

Semuanya begitu, kecuali aku.

Aku yakin sekarang Sehun sedang mencari jawaban dari pertanyaannya. Entah dengan pergi keliling dunia ataupun mencari berbagai pengalaman. Hanya dia yang tahu.

Yang jelas aku selalu berdoa untuknya. Agar dia menemukan arti hidupnya. Agar ia dapat menjawab pertanyaannya. Mengejar gadis itu atau melepaskannya.

Aku tidak peduli jika jawabannya nanti malah akan menyakitkan ku. Yang jelas aku ingin mereka berdua bahagia. Sudah terlalu banyak mereka menderita karena rasa cinta yang tak kunjung terucap. Sekali saja. Ijinkanlah mereka bahagia.

Dan…. Untuk Ri Ah. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku selalu mencintaimu. Aku harap pesan ini akan sampai padamu. Entah bagaimana caranya. Karena kini, kata-kata ini hanya tinggal rasa. Raga ini hanya tinggal bayang. aku tak bisa kembali padamu lagi walau sekeras apapun meminta.

Setelah bertemu denganmu, akhirnya aku menemukan sebuah kebahagiaan kecil yang ingin kujaga. Kamu mengajarkan padaku bahwa menghitung bintang itu menyenangkan. Bahwa menebak bentuk awan itu menenangkan. Bahwa cinta sejati tak pernah mati. Walau jasadku sudah.

Oleh sebab itu, berjanjilah padaku untuk selalu tersenyum Ri Ah.

Karena aku, ada disini.

19 pemikiran pada “Endless Love Special Edition (Kai Version)

  1. mata aku berkaca-kaca thor, aku jadi tringat scene di mana kai meninggal T_T
    sumpah thor, sampai sekarang aku masih belum rela kai mati…. dia tokoh favoritku di ff ini
    lanjut thor, aku tunggu ri-ah versionnya

  2. Aku sangat suka dengan gaya bahasa yang digunakan author.
    Sepertinya aku merasa ikut terhanyut ke dalam cerita.
    Pendiskripsian yang sangat bagus. ^^
    feelnya dapet bgt.
    Airmataku bahkan jatuh sendiri saat membaca between friend.

    okeh,
    that’s all.

    Fighting!

  3. Kai…. Malah sebenernya yang dewasa itu Kai..

    Aigoo.. Kai…
    Kai… Kai… (ɔ’́ ̯’̀c)

    Hiks Hiks Hiks

    Udahlah thor aku ga bisa berkata-kata pokoknya bagus dan sukses bikin aku nangis dan merenungi nasib kai..

    KAI !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s