A ‘Showa’ Beautiful Girl (Chapter 1)

Author                 : Hwang Ji Jae ^^

Main Cast            : Hwang Soo Mi (OC), Oh Se Hoon (EXO-K)

Other Cast           : hmm.. cari sendiri yaa ^^

Rating                 : PG 15+

Length                 : Twoshoots

Genre                  : Romance, AU, Friendship

Warning!!

Fanfict ini rada-rada NC tapi ngga terlalu 😀 huehehehe. Harus dipastikan Anda berniat membaca fanfict ini. kalau yang ngga suka, JANGAN DIBACA! Oke? ^^

 

Note :

Ini fanfict twoshoots aku yang pertama. Sebenernya

Aku kurang yakin sama ff ini, takutnya banyak banget kesalahannya 😀 huehehe

Selain itu, aku juga bisa disebut sebagai author baru yang kece dan imut disini.

Jadi, untuk kekurangan dan kesalahannya,

mohon dimaafkan ya 😀

Oh iya… buat yang punya saran dan kritikkan boleh comment fanfict aku ini 😀

Insyallah aku terima saran negatif ato positif nya

Yaudah deh, daripada author yang kece dan imut ini banyak bacot,

mendingan kalian enjoy aja fanfict abal-abal ku ini..

Happy reading! ^^

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Soo Mi’s POV

“Huuu, dasar yeoja jelek! Kutu buku! Sok rajin!”

“Pergi sana kau! Dasar showa! Menjijikkan!”

“Kampungan! Sok keren!”

“Angkuh sekali kau jelek! Ngaca dulu kau sana!”

Jelek, kampungan, kutu buku, angkuh? Yeah, itulah aku. Penampilanku mungkin bisa dibilang norak alias ketinggalan zaman. Itu semua karena aku terobsesi oleh salah satu komik ‘showa’ yang menampilkan gaya orang Jepang dahulu kala.

Aku pun punya sebab melakukan hal sekonyol itu. Salah satunya karena wajahku yang tyrus dan tubuhku yang semampai ini. Yahh, memang itulah resikonya jika menjadi seorang idola.

Aku Hwang Soo Mi, anak dari pemilik Hwang Coorporation yang terkenal dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki kecanggihan tertinggi seantero Jepang. Aku anak tunggal dari pasangan Mr dan Mrs. Hwang yang sekarang sedang berada di Amerika untuk melancarkan proyek terbarunya. Kaya, pintar, manis, dan berparas cantik, itulah aku beberapa bulan yang lalu. Saat aku masih tinggal di Jepang. Ditambah lagi aku adalah seorang idola. Bahkan disekolah pun aku mempunyai fansclub ku sendiri. Tapi hidupku terasa hampa jika hanya ditemani oleh fans-fans ku yang akupun tidak tahu siapa saja.

Orangtuaku tidak pernah mengurusku. Aku diurus Lee ahjumma, teman ummaku dan aku mempunyai supir pribadi, Kim ahjushi. Sebenarnya aku tidak keberatan dengan kesibukan mereka. Tapi kesepian yang menjalar ditubuhku selama 18 tahun ini membuatku susah bergaul. Aku hanya bisa bergaul dengan buku-buku yang setia menemaniku sejak aku lahir.

Disekolah pun aku tak punya banyak teman. Tapi aku mempunyai fans yang banyak. Sesekali aku menyapa mereka, tapi itu membuat salah satu dari fansclubku jatuh pingsan karena lambaian tanganku. Sungguh, apa aku seorang idola yang sebenarnya?

Namun, suatu kejadian telah terjadi. Para yeojachingu dari fansclubku yang rata-rata adalah namja semua, komplain padaku saat aku berada diperpustakaan. Salah satu dari mereka adalah anak Yakuza, mungkin pemimpin dari aksi demo masal (?) mereka. Aku paling tidak suka mendengar kata itu. Kenapa? Karena aku takut. Siapa yang tidak takut pada anak-anak keturunan Yakuza?

Akupun yang notabene adalah orang kaya yang mungkin saja bisa membayar oranglain untuk menghabisi mereka, tak bisa berkutik lagi setelah mendengar ancaman-ancaman yang mereka katakan. Dan akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke Korea.

Semua orang dari fansclubku marah dan sedih atas kepergianku. Mereka komplain dan memohon agar aku tidak pindah dari sekolah ini. Maaf. Hanya kata itu yang dapat aku sampaikan. Tekadku sudah bulat dan aku segera pindah hari itu juga.

Orangtuaku mengizinkanku untuk kepindahanku. Sebenarnya aku bukan pindah, melainkan kembali keasalku. Meskipun aku belum pernah ke Korea bahkan mengetahui bagaimana negaranya pun belum, tapi aku yakin aku akan betah tinggal disana. Dengan gaya hidupku yang baru.

Berubah menjadi aneh. Itulah yang terlintas dipikiranku saat itu. Mungkin disini aku akan mendapatkan banyak teman. Mungkin. Tapi ternyata setelah aku mengubah diriku menjadi yeoja ‘showa’, aku tidak mendapatkan teman, satupun.

Hahh, miris sekali hidupku ini. Sudah tidak punya saudara, tidak punya teman pula ( ⌣ ́_ ⌣ ̀) Ayah dan Ibuku sama-sama anak tunggal. Dan keturunan merekapun hanya aku dan itu berarti aku anak tunggal dan otomatis aku tak mempunyai saudara kandung. Ditambah lagi dengan perubahanku menjadi anak showa tidak ada satupun orang yang ingin dekat denganku.

Kesan pertama dari kepindahanku sangatlah memprihatinkan hingga akhirnya aku bertemu dengan seorang namja.

 

Flashback…

Aku datang kesekolah lebih lambat dari yang seharusnya. Ini karena aku telat bangun pagi ditambah Lee ahjumma yang juga tidak membangunkanku. Aigoo, bagaimana ini?

BRUKK!!

Aku menabrak seseorang. Ahh, kenapa aku bisa begitu ceroboh?

“Ahh, mianhamnida.. mianhamnida..”, ucapku sambil membungkuk berkali-kali.

“Eh? Gwaenchana. Aku sudah tidak apa-apa kok”, ucapnya.

OMONAAAA! Namja ini begitu.. menyeramkan! Garis matanya yang bulat membuat aku merinding. Tapi..

“Hey, ada apa denganmu? Mengapa kau melamun?”

Tapi.. kenapa suaranya lembut? Setidaknya tidak terlalu menyeramkan seperti wajahnya. Tanpa menunggu apapun lagi, aku langsung berlari menuju kelas. Tanpa mengucapkan sesuatu seperti ‘arigatou gozaimasu’ padanya. Mengapa? Itu karena bahasa Koreaku masih belum lancar -_-

 

Dan setelah kejadian itu, dia sering berada didekatku. Dia adalah sunbaeku, namanya Huang Zi Tao. Dia juga bukan berasal dari Korea. Maka dari itu aksen China nya masih melekat didirinya. Sama sepertiku, aksen Jepangku yang masih kuat berada dalam diriku. Untunglah kami tidak jauh berbeda.

Aku diajak bermain wushu bersamanya. Dan tak ada alasan bagiku untuk menolak ajakannya, lagipula untuk apa aku menolaknya, iya kan? Dan juga, aku lumayan baik dalam wushu, katanya. Hahaha, wushu memang menyenangkan. Banyak hambatan dan tantangan yang harus aku hadapi. Kebetulan sekali aku adalah seseorang yang menyukai tantangan.

Dari dulu sampai sekarang, jarak 2,5 tahun, bukan waktu yang sebentar. Aku cukup mempelajari jurus-jurus dalam wushu. Tentunya dibantu oleh Tao sunbae. Bahasa Korea ku juga sudah lebih fasih sekarang. Tapi bukan teman yang aku dapatkan melainkan musuh yang sering banyak aku temui. Bahkan setiap aku berjalan dari koridor yang ramai sampai masuk kekelasku, aku tidak luput dari hinaan dan cacian oranglain.

Mereka membenciku. Tentu saja, gaya ‘showa’ ku masih melekat kuat ditubuhku. Tak ada niat bagiku untuk melepaskannya. Itu adalah keuntungan bagiku karena kecantikkanku tidak terlihat oleh mereka. Huh, ternyata di Korea lebih parah. Dimana-mana yeoja memakai make-up. Tetapi dibalik make-up itu, mereka tidak ada apa-apanya. Aneh sekali negaraku ini, bagaimana mereka bisa maju dengan keadaan generasi muda yang terlalu mementingkan gayanya seperti ini?

Tidak bisakah mereka menuruti jejakku yang sukses diberbagai bidang pelajaran?

“Sombong sekali kau! Hanya mendapat juara umum saja sudah kepedean”

“Jangan karena seonsaengnim selalu memujimu jadi kau bisa mengatur kamu seenaknya!”

Huh, dasar anak-anak Korea. Kenapa mereka susah sekali dikasih solusi. Yasudahlah, itu kan kemauan mereka. Lagipula, aku sudah menyampaikan apa yang seharusnya aku sampaikan. Jadi, aku tidak ada masalah bagiku. Jika mereka seperti itu, itu akan memudahkanku untuk menjadi juara pertama dan selalu menjadi yang pertama disekolah ini.

Sampai saat ini, tak ada yang tahu wajahku sebenarnya. Tao sunbae yang notabene adalah orang terdekatku disekolah ini selain seonsaengnim tidak tahu menahu tentangku. Curiga pun tidak meskipun saat latihan wajah kami saling berdekatan. Mungkin di China dia sudah sering melihat yeoja berparas cantik sepertiku, jadi dia tidak asing lagi. Ah sudahlah, aku sangat beruntung hidup disini, meskipun tidak punya teman. (◠ ◡ ◠)

“Uuuh, pagi yang cerah!”, ucapku sambil menggeliat menikmati indahnya dunia.

Aku pun berjalan santai menuju gerbang sekolah. Mengingat ini masih pagi, aku berjalan sambil jogging-jogging sedikit untuk membugarkan tubuhku. Suddenly..

BRUGH..

Well done, baby. Bukuku berserakan dimana-mana bersama tubuh dan kacamataku yang juga ikut terlempar kebawah. Pagi yang cerah.. kau mengecewakanku.

“Ah.. mianhae. Aku..”

Aku tidak menggubris perkataan seorang namja yang menabrakku itu dan langsung membereskan bukuku yang hampir saja kotor terkena lumpur. Aish, jinjja! Meskipun bukan bukuku yang kotor, ternyata rokku yang kotor! Sungguh mengejutkan, ketiban sial berkali-kali adalah hal yang baru untukku. Aku pun mencoba melihat siapa yang menabrakku.

Seorang namja yang……………………………….. KURANG AJAR! Bagaimana bisa dia hanya diam melihatku sedangkan aku bersusah payah untuk membersihkan buku dan tubuhku?! Dasar namja tidak bertanggung jawab!

“YA! Bisakah kau lihat dulu kekanan atau kekiri?! Aku baru saja mandi dan kau malah mengotorinya lagi! Bukannya membantuku malah bengong seperti itu! Dasar namja aneh!”, teriakku didepannya. Aku baru menyentak orang lagi setelah aku pindah ke Korea. Huh, lega sekali rasanya. Kapan-kapan aku akan berterimakasih kepada namja ini.

Tapi dia malah bengong dan tidak merespon ucapanku. Sungguh menjengkelkan! Gyaaaah! Aku ingin menghajarnya sekarang juga. Memang apa sih yang dia lihat? Dia menatap wajahku? Andwae! Dimana kacamataku?!

Aku melihat kebawah, kucari sekelilingku dan akhirnya aku menemukan kacamataku berada digenggaman namja itu. Tanpa menunggu lama aku langsung merebutnya. Menutupi diriku yang sebenarnya. Namja itu masih menatapku. Setelah aku memakai kacamata gadunganku aku langsung mengambil tasku yang tergeletak dengan rapi diatas kakiku.

Kenapa aku bisa seceroboh ini?!

Aku langsung berlari meninggalkan namja itu.

Kyaaa! Kenapa aku bisa speechless seperti ini sih?! Ini bukan aku!!

.

.

.

Akhirnya aku sampai didepan kelas. Untunglah seonsaengnim masih ada diambang pintu. Kami pun bersapaan sebentar dan aku berniat untuk masuk kelas. Tapi..

“Soo-ya! Aku ada kabar baik!”

Aku pun menghentikan langkahku dan kembali menghadap seonsaengnim.”Waeyo seonsaengnim?”, tanyaku antusias.

“Akan ada new member dikelas kita!”, ucapnya riang. Terlihat jelas bahwa namja yang hampir saja berkepala tiga itu sangat senang mengetahui berita ini. Aku pun begitu.

“Benarkah? Syukurlah kalau begitu”

Asyik! Siapa tahu anak baru ini bisa aku ajak ngobrol dan siapa tahu juga dia rela menjadi temanku. Yeay!

“Ya sudah, aku kekelas saja dulu”

“Ne”

Aku pun menuruti perintah seonsaengnim. Seperti biasa aku disambut ocehan-ocehan dari Lee Jiyeon cs. Jiyeon adalah yeoja gal yang tidak ada apa-apanya. Biarlah mereka tertawa dan berbahagia, aku hanya harus sabar menunggu saatnya datang. Saat dimana mereka terpuruk dan meminta ampunan dariku (?). Huahahaha *evil smile*

SREKK..

Ah, itu dia.. seonsaengnim. “Baik anak-anak, sepertinya kita mendapat rezeki tahun ini. Kalian pasti penasaran kan dengan berita baru ini?”

“Waeyo seonsaengnim? Apakah ulangan lagi?”, tanya Jiyeon dengan nada malas.

“Diamlah kau, Lee Jiyeon. Meskipun benar hari ini akan ulangan, aku tidak yakin kau akan mendapatkan nilai D!”

“Aish, ahjushi!”, dengus Jiyeon.

“Lee Jiyeon! Ini adalah sekolah dan aku tidak ingin kau memperlakukanku dengan tidak sopan saat berada dikawasan sekolah!”

Yup, Lee Jiyeon adalah keponakan dari Lee seonsaengnim. Ayahnya yang notabene pemilik sekolah ini adalah direktur ternama sepanjang Korea. Itu sebabnya ia sering berperilaku sebagai putri disekolah ini. Orangtuanya tidak tahu karena mereka sibuk, sama saja seperti orangtuaku. Menurutku Jiyeon mempunyai bad attitude dan jika dilihat dari aspek manapun, ia sangat kurang berkemampuan. Kadang aku sangat kasihan padanya. Hahh, lagipula ia tidak akan pernah mau mendengarkan nasihat dan saran dariku. Jadi untuk apa aku mencoba untuk memberikannya solusi lagi? Hanya menghabiskan tenaga saja.

“Contohlah Hwang Soo Mi. Dia berbakat, cantik, pintar pula. Kau seharusnya belajar banyak darinya”

Kurasakan setiap pasang mata menatapku dengan tatapan menusuk. Aku yakin mereka terasa terganggu atas apa yang telah Lee seonsaengnim lontarkan barusan. Aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya bisa membiarkan bulu kudukku berdiri merasakan aura jahat yang sedang menjalar keseluruh tubuhku.

Hahh, rasakan itu, Soo-ya. Inilah akibatnya jika kau terlalu pintar.

“Baiklah, daripada kita menunggu lebih lama dan menimbulkan perdebatan, lebih baik kita perkenalkan.. Oh Se Hoon.. murid baru kelas kita!”

Baiklah, keluarlah nae chingu. Jeng.. jeng.. jeng..

JEDERR!!!

Serasa melayang menuju dimensi ketujuh dan dengan beberapa saat jatuh kembali kebumi. Dengan bonus petir yang menyambar seluruh tubuh dan akhirnya sekarat ditelan bumi. (ngomong apa author ini? -_-)

Mwoya?! Namja itu! Bagaimana dia bisa masuk kedalam kelasku?!

Arghh! Kenapa otakku ini? Tentu saja ini semua karena dia adalah murid baru sekolah ini. sekolahku. Dan sekarang dia akan tinggal didalam kelasku. Menjadi bagian didalamnya. Well done, Soo Mi, kau sungguh hebat jika kau bisa bertahan berteman dengan namja ini.

“Annyeong, namaku Oh Se Hoon. Kalian bisa memanggilku Sehun. Salam kenal!”

DEG! Dia.. menatapku? Benar atau salah, nyata atau fiksi, iya atau tidak, aku yakin dia mentapku barusan! Sial! Kenapa tubuhku tidak bisa kugerakkan? Mengapa sel saraf dan sel motorikku tidak ingin bekerjasama dengan otakku?

“Baiklah, Sehun, kau bisa duduk bersama.. oh Soo-ya, bertemanlah dengannya”, ujar Lee sonsengnim sambil menunjuk kearahku.

Oh tidak! Sonsaengnim, tolonglah kali ini saja. Bagaimana mungkin ini terjadi? Kau telah memasukanku kedalam lubang buaya, Lee sonsaengnim! (>̯┌┐<)

Hi, kau yang tadi kan?”

“Hmm..”, ucapku sedikit cuek.

Aku tak bisa menjawab apapun kecuali tersenyum tidak jelas. Aneh, padahal aku sudah bernazar untuk berteman dengan seseorang yang akan menjadi anak baru dikelasku. Tapi kenapa saat aku tahu yang masuk adalah namja ini aku jadi OGAH untuk berteman apalagi berkenalan dengannya?

Gyaah! Jeongmal michigetda! Sohan! Jangan berani-beraninya kau mendekatiku! Andwaeee!

Teng.. Teng.. Teng.. (author jadi pengen teng teng ⌣ ́_ ⌣ ̀)

Huaahh! Akhirnya pelajaran usai juga. Inilah saat yang aku tunggu-tunggu. Latihan wushu! Hahh, sayang sekali Tao sunbae tidak bisa mengajariku karena dia sedang mengikuti lomba di negara asalanya, China.

“Hai, Soo-ya, mau pulang bareng?”, tanya seorang namja.

Hahh, aku tahu ini siapa. Dia adalah namja yang beberapa jam yang lalu menjadi warga dikelasku sekaligus menjadi teman pertamaku disini. Namanya Sohan eh aku salah lagi ︶.︶ namanya itu Sehun. Oh Se Hoon. Aku senang mempunyai teman, meskipun satu. Tapi, aku tidak ingin ditemani oleh namja ini >̯┌┐<!

“Soo-ya~”, panggilnya.

“Aniya”, jawabku singkat dan langsung meninggalkannya sendirian. Kenapa dia SKSD seperti itu sih?

Aku tidak memperdulikannya lagi. Aku langsung saja kelapangan basket yang ada dibelakang halaman sekolah. Hahh, sebenarnya aku ingin sekali berenang di swimpool indoor disekolahku. Mengingat hari ini adalah jadwal eskulnya, aku jadi tidak berniat untuk berenang. Aku memang menyukai berenang, dari balita aku sudah dilatih untuk menjadi perenang.

Dulu juga aku adalah atlet renang. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk vacum dan mulai fokus pada pelajaran yang akhirnya menjadi alasanku untuk meninggalkan olahraga tercintaku itu. Setelah aku quit dari renang, sebenarnya aku bukan keluar, aku hanya keluar untuk menjadi atlet saja. Aku tidak pernah berpikiran untuk meninggalkan renang seutuhnya. Itu sangat susah, dalam seminggu, minimal aku harus berlatih sekali untuk memuaskan keinginanku.

Maklum lah, jika aku menyukai satu hal, aku akan selalu ingin mengerjakannya.. atau mendapatkannya. Aku selalu saja mencintai renang, sama seperti renang yang sangat mencintaiku ^^ (author capruk -_-)

Setelah aku membuka gerbang lapangan, kalian tahu apa yang terjadi? Ternyata aku lupa bahwa mulai tahun ini akan diadakan Festival Sekolah dan hari ini adalah hari pertama penjualan untuk Festival tersebut. Aigoo, bagaimana bisa aku melupakan hal ini? Arghh! Hari ini aku benar-benar sial!

“Apakah kau tidak pulang?”

Aku terlonjak kaget saat aku mendengar suara melengking dari seorang namja. Oh Se Hoon! Kenapa dia selalu saja membuatku kaget! (>̯┌┐<)

“Ya! Kenapa kau selalu datang tiba-tiba dan langsung mengagetkanku hah?!”, teriakku langsung memukul pelan lengannya. Omona.. abs nyaa… (melting)

“Siapa yang mengagetkanmu, Soo-ya? Kau saja yang sedang melamun”

“Siapa juga yang melamun”

Aku langsung berbalik menghadap kerumunan orang yang sedang bertransaksi jual beli. (emang dipasar apa? -_-) Aish, bagaimana bisa aku berlatih kalau seperti ini? Bisa-bisa aku latihan saat Tao sunbae pulang? Andwae. Tao sunbae kan pulangnya sekitar 2 bulan lagi. Lalu bagaimana ini? Gyaaah! Kejadian hari ini membuatku gila! (>̯┌┐<)

“Hei, kau mau kemana?”, tanya Sehun.

Aku lagi-lagi tidak menggubrisnya. Ah, sungguh hari ini aku hanya ingin berlatih wushu. Seminggu ini aku tidak berlatih, sekalipun tidak. Rasanya diriku tidak hidup lagi tanpa adanya wushu dan renang. Inilah resiko seorang atletik yang sudah terbiasa dengan dunia keatletisannya. Lalu sekarang bagaimana? Ah, sudahlah, lebih baik aku pulang saja.

.

.

.

TAP..TAP..TAP..

Langkah demi langkah aku lalui melewati koridor yang sepi ini. Tentu saja, ini sudah pukul 5 sore tapi aku belum juga beranjak pulang. Aku sebal karena bis tak kunjung datang. Itu sebabnya aku berniat untuk kembali kesekolah. Aku yakin saat aku membuka pintu, umma akan langsung menghujaniku dengan beberapa pertanyaan. Dan benar saja, aku langsung dimarahi+dijewer oleh ummaku. Ah, sungguh hari yang sial.

.

.

.

Esok harinya, seperti biasa aku pasti saja mendapat olok-olok dari Jiyeon bersama teman-temannya. Tapi, sesuatu telah terjadi dan membuatnya menjadi berbeda..

“Ya! Kau masih saja bersekolah disini. Aku kira kau akan pergi dari kelas ini, aku berharap sekali itu terjadi. Agar kau tak lagi ada dihadapanku, selamanya!”

“HUAHAHAHA..”

Huh, dasar Jiyeon. Kapan-kapan aku akan membalasmu. Lihat saja tanggal mainnya.

Untunglah aku membawa walkman, aku langsung memasangnya saja ditelingaku saat aku sudah duduk ditempatku. Walkman adalah salah satu hal terpenting dalam hidupku, karena barang ini selalu menemaniku. Aku tak bisa hidup tanpanya.

 

♫♪♫Machi amugeotdo moreunan naero geurohke

Dashi tteonal sungan gachi

Jamsi kkumeul kkabwa hanbeonnnnnn……♫♪♫

 

KRAKK!! #suara walkman diancurin ini tuh 😀

Eh? WALKMAN KU?!! (Soomi lebay deh -_-)

“Apa ini? Barang murahan! Hei, Minji, Dara, bisakah kau membuang barang ini? Sungguh menjijikkan!”

Nappeun Jiyeon! Bagaimana bisa dia menghancurkan walkman ku? Belum juga satu jam aku mendengarkan musik. Keterlaluan!

“Ya! Hentikan ini semua! Apa yang kau lakukan, Lee Jiyeon?!”, ucap seorang namja.

Ah, kenapa dia selalu datang disaat aku sedang sial seperti ini?

Aku tak mementingkan perdebatannya bersama Jiyeon. Aku hanya mengambil serpihan-serpihan walkmanku yang sudah terjatuh. Aish, jinjja! Ini pemberian dari orangtuaku!! (>̯┌┐<)

“Pergi kalian!!”

Entah apa yang terjadi, aku hanya merasakan aura jahat yang tadi sempat mengepungku hilang begitu saja. Digantikan oleh aura seorang malaikat berkulit putih polos dengan wajah diatas rata-rata. Ahh! Apa yang kau pikirkan Soo-ya? Dia adalah Oh Se Hoon. Namja yang menjadi teman sebangkumu. Dia chingumu! Chingu? Aniya!

“Gwaenchana?”, tanya Sehun khawatir.

Mungkin dia khawatir karena sebutir air tumpah dari mataku. Ah, ini sangat memalukan. Seorang Hwang Soo Mi menangis hanya karena sebuah walkman? Baiklah, aku akui ini terlalu berlebihan. Tapi bisakah kalian mengerti? Ini adalah pemberian dari orangtuaku. Orangtuaku yang sangat jarang aku temui. Wajah mereka pun aku lupa lagi. Ah, jeongmal! Jiyeon, biyeowo! (>̯┌┐<)

“Sudahlah, akan kubelikan yang baru. Uljimayo..”, ucapnya sambbil mengangkat wajahku untuk menatapnya. Omonaa.. wajahnya yang tyrus sama sepertiku. Sangat tampan. Terlalu tampan malahan. Memang benar dia adalah malaikat yang tadi aku bayangkan. Wajahnya benar-benar diatas rata-rata! Kyaaa! ٥´▽`٥

Tak terasa tangisanku berhenti. Kenapa aku selalu merasa aman saat dekat dengannya? Semenjak dia menjadi teman sebangkuku dia selalu ada disaat aku membutuhkan bantuan. Meskipun aku tidak meminta bantuannya, dia selalu menolongku. Seperti ada ikatan batin, dia tahu dan mengerti maksudku. Namja aneh.

Kadang dia bersikap manis dan imut. Kadang juga dia bersikap serius saat pelajaran dimulai. Itulah yang membuatnya cool dan menjadikannya ulzzang disekolah. Bahkan diapun mempunyai fansclubnya sendiri! Ah, aku tidak peduli. Toh dia bukan siapa-siapa bagiku. Aku sendiri saja sudah cukup. Aku tidak perlu lindungan darinya.

“Soo-ya, ajari aku tentang logaritma ini. Pleaseee..”

Dasar Sehun! Tahukah dia bahwa aku sedang membaca?

“Aku tahu. Tapi tolong, ini mendesak, Soo-ya. Please, pretty please?”

Bagaimana dia tahu isi hatiku? O.O?

Ah, okay. Dia selalu seperti ini. aku sangat tidak tahan melihat aegyo nya. Itu membuatku lemas sendiri. Kenapa ya aku? Ah, entahlah. Yang penting aku ingin ini semua cepat selesai.

“Ya ampun, kau ini, masa yang seperti ini saja tidak bisa?”, ucapku sambil membawa bukunya dan mulai mengajarinya tentang logaritma. (alaaaah, sejujurnya, author ngga bisa logaritma. Jadi disini author bikin Soomi bisa logaritma biar pinternya nular ke author 😀 amin)

“Aigoo, uri Soomi sombong sekali ne?”, ujar Sehun.

“Ya! Sudah bagus aku mau mengajarimu. Masih saja kau mengata-ngataiku huh?”

“Ah, aniya. Soo-ya, jangan marah-marah terus, nanti kau tambah cantik”, katanya sambil mencubit pipiku gemas.

Kyaaa! Kenapa jantungku berdetak tak karuan seperti ini?

“Mulai?”

“Ah, n-ne”

Ah, kenapa aku jadi gelagapan seperti ini? Soomi-ya, jangan bilang kau.. ah! Itu tidak mungkin! Lebih baik aku cepat menyelesaikan ini semua. Dasar Sehun, soal seperti ini saja tidak bisa. Hemeh!  ⌣ ́_ ⌣ ̀

Author’s POV ^^

“Soo-yaaaa! Aku dibelakangmuuu, tunggu akuuuu!!”

Ah, dia lagi. Kenapa dia selalu datang dihidupku sih?

“Hosh.. hosh.. Soo-ya.. hosh.. ke-kenaphaa khaauu meninggalkanku? Hosh.. hosh..”

Ya ampun, berbicara saja sampai terengah-engah begitu. Dasar pabo namja!

“Ya! Aku tidak menyuruhmu untuk mengikutiku ya. Jadi sebaiknya kau pergi jauh-jauh dariku. Hush.. hushh”, usir Soomi.

“Soo-yaaa, kita kan teman. Apa kita tidak bisa selalu bersama hmm? Kajja!”

DEG.. DEG.. DEG..

Tiba-tiba tangan Sehun menggelayut manja dilengan Soomi. Itu membuat Soomi gugup akan keadaannya sekarang. Tuh kan, aku tahu akhirnya akan seperti ini. Oh Se Hoon, tolong lepaskan tanganmu dariku! Ah, rasanya aku ingin pingsan saja. Akhir-akhir ini Sehun terlalu sering dekat dengan Soomi. Sifatnya yang manja pada Soomi semakin bertambah. Ah, bagaimana ini? Ditambah lagi degup jantung Soomi yang semakin tak menentu saat bersama Sehun. Satu-satu jalan adalah.. latihan!

.

.

.

CKLEK.. TAP.. TAP.. TAP..

“Huaahhh… hahhh… hahhh.. hahhh..”, teriak Soomi saat sampai disebuah lapangan indoor disekolahnya..

Omonaa.. ternyata dilapang basket indoor lebih luas dan lebih nyaman daripada lapangan diluar. Suaraku saja sampai bergema diseluruh penjuru ruangan.

“Daebak!! Bak!! Bak!! Bak! Huahahaha!! Hahaha!! Hahaha!” (ceritanya suara diruangan ini menggema karena kosong)

“Ini menyenangkan. Kenapa tidak daridulu saja aku berlatih disini? Disini aku bisa saja tidak menyamar. Toh, pintunya ditutup rapat dan tidak akan ada yang tahu bahwa ada orang dilapangan indoor ini huahaha *evil smile*”

Soomi terpaksa untuk berlatih disini karena lapangan luar yang biasanya ia pakai untuk berlatih masih saja dipakai untul Festival Sekolahnya. Tak apalah, toh Soomi juga lebih menyukai lapangan indoor ini daripada lapangan yang dulu.

Soomi membuka ikatan rambutnya. Rambutnya yang bergelombang terurai dengan sempurna. Kacamata ‘gadungan’nya ia lepas sehingga menampilkan mata biru tuanya yang cantik. Tak ingin terganggu latihan, maka Soomi mengikat kembali rambutnya dengan gaya ekor kuda. Ikat satu kebelakang dengan rapi, menampilkan dahi indahnya yang selama ini ia tutupi. Tak ada yang menyadari kecantikkan yeoja ini disekolah ini. Kecuali satu orang, yaitu.. namja yang sedang memergoki Soomi tak jauh dari tempatnya sekarang.

Yup! Dia adalah Oh Se Hoon. Namja imut yang beberapa minggu ini menjabat (?) sebagai teman sebangku Soomi. Dia tidak terlalu kaget dengan apa yang ia lihat saat ini. Ia terlalu sering melihat adegan manis dan sexy dari yeoja itu. Menjadi teman sebangku Soomi setiap hari, banyak kesempatan untuk melihat lebih jelas wajah berparas cantik yang ditutupi yeoja itu.

Ia teringat saat pertama kali ia bertemu dengan yeoja itu. Soomi, dia adalah yeoja pertama yang bisa membuat Sehun tercengang dengan hanya menatapnya dari jauh. Ia seperti malaikat, pikir Sehun. Dan akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali. Menjadi teman sebangku pula. Ah, ini adalah rizki dari YME.

Tapi, Sehun bingung, apa yang akan dilakukan Soomi disini? Ditempatnya. Sehun adalah kapten basket disekolah. Tapi, Soomi tidak tahu menahu soal ini. Yang ia tahu, ia hanya bisa memakai lapangan indoor ini sesuka hatinya.

“Sedang apa dia disini?”, gumam Sehun.

Soomi tidak menyalakan lampu agar orang yang diluar tidak menyadari Soomi berada didalam. Sehun yang sedang beristirahat dari latihannya hanya bisa menatap bingung sambil diam memperhatikan Soomi. Meskipun remang-remang, Sehun bisa melihat Soomi sedang menggerakkan sesuatu yang panjang. Itu tongkat?

WHUSHH.. WHUSHH..

“Woaahh”, decak Sehun kagum.

Melihat Soomi beratraksi dengan lincahnya, Sehun hanya bisa menganga tak percaya atas apa yang sedang ia lihat sekarang. Loncatan demi loncatan Soomi lakukan dengan lancar. Dalam waktu 2,5 tahun, ia bisa mempelajari setengah dari ilmu yang Tao tahu. Memang, Soomi meminta Tao mengajarinya secara privat. Mengingat Soomi adalah anak yang suka dibully oleh Jiyeon dan kawan-kawan. Apalagi jika Jiyeon tahu kalau Soomi meminta belajar privat bersama Tao. Bisa-bisa wajah cantik Soomi habis tak tersisa. Tiba-tiba…

BRAKK!!

“AAHHH!!!”, erang Soomi saat merasakan kakinya keram karena sebelum latihan dia tidak pemanasan terlebih dahulu.

Tanpa babibu, Sehun berlari melewati kursi penonton menuju Soomi yang sedang terduduk lemas kesakitan.

“Soo-ya! Gwaenchana?”, tanya Sehun dengan wajah yang saaaangat khawatir.

“Se-Sehun?!”

Soomi yang melihat Sehun seketika melupakan sakitnya. Padahal sakitnya keram itu luar biasa. Dasar Soomi ⌣ ́_ ⌣ ̀

“Sini, biar kulihat kakimu, Soo-ya”

Sehun langsung mengangkat kaki Soomi yang terbujur kaku karena keram. Sesekali Soomi mengerang saat Sehun mencoba untuk memijitnya sedikit keras. Sehun tidak menyadari bahwa rencananya untuk bersembunyi telah hancur lembur.

Sesekali Soomi meringis kesakitan saat Sehun mencoba untuk memijat kakinya. Ia hanya bisa meremas baju olahraga Sehun sebagai pelampiasannya. Ia mengencangkan genggamanannya dibaju Sehun. Sehun yang masih saja belum sadar tentang persembunyiannya malah asik memijat kaki Soomi yang keram.

“Agak baikan?”, ucap Sehun setelah menghentinkan pijatannya.

“Mm, sudah tidak terlalu sakit. Gomawo, Sehuna~”. Ucap Soomi lembut.

Ini pertama kalinya bagi Sehun mendengar Soomi berbicara lembut padanya. Apa yang membuatnya berubah?, pikir Sehun. Soomi menyadari bahwa ucapan terimakasihnya terdengar sangat.. friendly? Ah, molla. Merekapun bertatapan dan untuk beberapa saat, Soomi tidak bisa menggerakkan badannya, sedikitpun. Berbeda dengan Sehun yang malah medekati Soomi, menikmati pandangan indah didepannya saat ini.

Sehun semakin memperkecil jarak antara mereka berdua. Tak henti-hentinya ia menatap wajah manis milik Soomi. Matanya, hidungnya, pipinya dan berakhir tepat dibibirnya. Ia merasa kalau sekarang ia telah berubah menjadi kumbang yang tertarik dengan salah satu bunga. Dan tentu saja ia juga tertarik untuk mencobanya.

Soomi pun menatap lekat wajah tampan Sehun yang sekarang berada tepat didepan wajahnya. Jarak sejengkal wajah mereka sangat berpengaruh besar bagi jantung Soomi. Sungguh saat ini ia tak bisa menahan debaran jantungnya.

Ini terlalu kuat, batin Soomi.

Ups! Hidung mereka bersentuhan! Kenapa bisa seperti ini ya Tuhaaann?!!

Sehun memiringkan kepalanya, mencoba meraih bunga manis miliknya. Dan 5 detik kemudian, bibir seksi Sehun telah mendarat dibibir manis milik Soomi. Dengan pelan Sehun menggerakkan bibirnya yang menempel dengan bibir Soomi. Yang ada dipikirannya hanya, “Bibir milik yeoja ini.. terlalu manis”. Pikiran itu sontak membuat Sehun lepas kendali. Ia langsung mengambil tengkuk Soomi, mencoba untuk memperdalam ciumannya. Soomi yang notabene yeoja pemilik bibir manis itu menikmati sensasi yang Sehun berikan. Ia mulai duduk dipangkuan Sehun. Ia juga melupakan rasa sakit yang sebelumnya sempat menjalar keseluruh tubuhnya. Sehun mendongkak untuk mencium Soomi lebih dalam lagi, Soomi pun mengalungkan tangannya dileher Sehun.

Soomi sedikit mendesah saat Sehun menggigit bibir bawahnya, dan itu refleks membuat Soomi membuka mulutnya. Sehun memasukkan lidahnya kedalam mulut Soomi. Menyentuh segala yang ada didalamnya. Dan menggelitiknya. Mereka tak sadar atas apa yang mereka lakukan. Mereka terus saja berciuman sampai melanjutkan ketahap yang lebih ‘panas’. Tiba-tiba Sehun melepaskan ciuman ‘panas’nya itu.

“Saranghae..”, lirih Sehun ditengah ciuman panasnya.

Seperti melayang kegalaksi Andromeda tapi jatuh lagi kegalaksi Bima Sakti, menuju bumi dan akhirnya nyungseb (?) tepat kedalam sumur yang dalamnya sangaaaat sangat dalam, Soomi membuka dan melebarkan matanya karena tubuhnya seketika merinding setelah mendengar ucapan Sehun.

PLAKK!!

Menampar Sehun. Itulah yang dia lakukan setelah mendengar ucapan Prince Charming disekolahnya itu. Dan setelah menampar Sehun, Soomi langsung beranjak mengambil peralatannya dan meninggalkan Sehun yang masih berada diposisi yang sama sambil memikirkan kesalahannya.

“Apa salahku, Soo-ya?”

.

.

.

“Arrghh!!! Apa yang aku lakukan?!! Apa yang dia lakukan?!! Apa yang telah KITA LAKUKAAAAANN??!!!!”, teriak Soomi frustasi.

Untunglah waktu sudah sore, otomatis disekolah tidak terlalu banyak dan bahkan jarang ada orang yang berlalu lalang. Soomi merubah wujudnya (?) kembali seperti semula. Ia berdiri didepan cermin kamar mandi sekolahnya, ia kembali mengepang rambut pirangnya yang tadi sempat ia urai.

Ia menatap lekat bibirnya yang merah dan masih basah. Menyentuhnya dengan wajah sendu. Jantungnya kembali berdebar mengingat hal yang baru saja ia lakukan bersama Sehun. Omonaaa. Wae geurae, Soomi-ya? Sadarlah kau, Soo-ya! Lupakan kejadian itu dan jangan pernah kau memikirkan namja itu lagi! Sesosok makhluk yang menjadi jin Qorin Soomi menghasutnya agar ia melupakan dan menjauhi Sehun. Dan tanpa disangka-sangka ia pun menuruti perintah jin tersebut.

“Yosh! Halssuisseo!”

Akhirnya Soomi keluar dari kamar mandi dan langsung pulang untuk menenangkan dirinya yang masih Shock.

Sehun bersiap-siap untuk berangkat kesekolah. Seragam rapi, rambut sudah sesuai image, perlatan belajar hari ini juga lengkap. Tapi ada yang berbeda dari Sehun. penampilannya sedikit berbeda akhir-akhir ini. wajahnya. Wajahnya yang selalu ceria berubah menjadi sendu dan lesu. Kengkungan bibirnya yang indah menghilang begitu saja sejak seminggu yang lalu. Semenjak kejadian itu, kejadian yang memang tidak pernah ia duga. Tapi, ia juga tidak pernah menyesali perbuatannya itu.

“Pabo yeoja”, gumamnya.

Ia menatap dirinya yang berada didepan cermin. Tersenyum miris pada dirinya sendiri.

“Kenapa kau tak menganggap omonganku itu? Padahal aku sungguh-sungguh mengatakan itu semua”

Ia menghentikan ucapannya dan mulai mengikat dasinya perlahan. Setelah selali, ia pun langsung berpamitan dan pergi ke sekolah.

.

.

.

TENG.. TENG..

Bel pun berbunyi. Sehun yang masih berada diluar gerbang segera berlari sebelum gerbang ditutup dan menimbulkan sesuatu yang beresiko untuknya. Ia berhenti tepat didepan pintu kelasnya yang tertutup. Dari kaca pintunya, ia bisa melihat seorang yeoja tengah mengerjakan soal sambil mendengarkan musik. Yeoja itu duduk sendiri, namun disebelahnya terdapat satu kursi yang kosong. Itu kursinya. Kursi yang selalu dipakai Sehun setiap hari ia masuk kesekolah. Bercanda ria dengan yeoja teman sebangkunya itu.

Tapi sekarang Sehun hanya bisa memandang kursi itu dari jauh. Ia tak ingin masuk kelas, lagi. Beberapa hari ini ia tak pernah masuk kelas. Absen. Ah bukan.. bukan absen. Tepatnya membolos. Ia tak ingin melihat wajah Soomi yang begitu membenci dirinya. Yeoja itu berubah drastis setelah kejadian seminggu yang lalu. Ia kembali menjadi yeoja yang dingin terhadap Sehun. Sama seperti awal mereka bertemu.

Meskipun Soomi selalu menanggapi omongan dan ocehan Sehun dengan death glare dan tatapan kesalnya, setidaknya itu cukup membuat Sehun bahagia karena ia bisa membuat Soomi beralih untuk memperhatikannya. Daripada memikirkan hal yang seharusnya ia tak pikirkan, lebih baik ia pergi kelapangan basket indoor disekolahnya.

.

.

.

♫♪♫ I lost my mind, the moment I saw you

Except you, everything get in slow montion

Tell me, if this is love

Sharing and learning countless emotions everyday with you Fighting, crying and hugging

Tell me, if this is love

All the guys in the world are jealous of me

They must be jealous to death of me, for having you

My babe, baby babe, baby baby

I can tell, this is love I will make you smile often like a child

I will make you feel the most comfortable, like a friend

My babe, baby babe, baby baby

Tell me, what is love…..♫♪♫

Satu persatu kata dari alunan lagu yang sedang dimainkan I-Pod milik Soomi, terlantun begitu indah dan merdu. Soomi sedang mengerjakan tugas mengarang yang diberikan oleh sonsaengnim. Hari ini kebetulan sekali sonsaengnim tidak bisa masuk karena saudaranya akan melahirkan. Meskipun Soomi terlihat seperti sedang mengerjakan tugas tapi sebenarnya pikirannya tercantum pada sesuatu. Aniya. Pada seseorang, tepatnya. Seketika itu, ia menghentikan goresan pulpennya.

“Apa yang aku lakukan?!”, tanyanya entah pada siapa. Pada dirinya, mungkin.

Ia kaget saat menyadari dirinya menulis kata ‘LOVE IS SEHUN’ dibuku mengarangnya. Ah, kenapa namja itu selalu saja mengganggu pikirannya?

Soomi menghapus kata itu dengan cara kasar. Tapi, aneh. Tulisan itu tidak mau dihapus. Tentu saja karena tulisan itu berasal dari pulpen -_- Sampai sebegitu bahayakah pengaruh Sehun bagi dirinya? Bahkan otaknya pun dipenuhi oleh Sehun semua. (¬_¬”)

Dan akhirnya ia tidak jadi menghapus kata ‘cinta’nya itu. Ia menutup bukunya itu dan kembali melamun. Tidak sengaja memori otaknya kembali memutar kejadian seminggu yang lalu. Memutar saat-saat bibirnya tidak virgin lagi. Dimana Sehun mengambilnya perlahan. Dimana akhirnya Soomi menampar pipi mulus Sehun. Hari yang sangat sial baginya saat itu.

Dengan reflek Soomi memegang belahan bibirnya. Lagi-lagi jantungnya berdetak tak menentu saat ia memikirkan namja itu. Namja yang membuatnya kehilangan akal hanya dengan sentuhan yang namja itu berikan. Ah, sungguh dia tak ingin memikirkan namja itu, lagi.

Tapi kenapa hatinya serasa sesak semenjak ia mulai menjauhi Sehun? Kenapa ia merasa kesepian karena ia tak lagi mendengar ucapan omong kosong dan basa basi dari Sehun? Kenapa ia merasa merindukan sosok Sehun yang ceria disampingnya, menganggunya setiap waktu? Apa dia mulai menyukai sosok Sehun? Apakah ia… mencintainya?

“Aniya!”

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya seperti orang gila. Tak ia sadari hampir semua murid dikelasnya menatapnya dengan bingung.

“Jiyeon, ada apa dengannya?”, tanya Minji pada Jiyeon.

“Molla. Mungkin dia menyesal sudah menjauhi Prince Charming kita”, jawab Jiyeon acuh sambil memainkan rubik yang ada ditangannya.

“Yang kutahu Sehun itu menyukai Soomi. Dan aku rasa Soomi juga demikian”

“Mwo? Jinjja?”, Jiyeon pun mengalihkan wajahnya dari rubik dan menatap Minji penuh tanya.

Apa benar mereka saling mencintai?

 

“Hahhh… Capeknyaa..”

Sehun segera meminum air dibotolnya hingga tak tersisa sedikitpun air didalamnya. Ia berlatih cukup keras agar ia melupakan masalahnya dengan Soomi. Sebenarnya ia ingin meminta maaf. Tapi apa daya jika setiap hari Soomi selalu menganggapnya tidak ada sebelum Sehun mengatakan satu katapun. Harapan semakin sempit, dan Sehun pun sebentar lagi akan menemui jalan buntu.

Apa yang harus aku lakukan?

Bingung. Dan bimbang. Ditambah galau pula. Itulah yang dirasakan Sehun. Bercampur aduk rasa didalam hatinya kini.

“Apa aku harus menariknya dengan paksa agar dia mau mendengar semua kata maafku? Lagipula, jika itu berhasil, belum tentu juga dia akan memaafkanku. AARRGHH!! Seseorang tolong akuuuu!!!!”, teriak Sehun frustasi.

“Aku bisa membantumu”

“Eh? Kau?”

.

.

.

TBC ^^

22 pemikiran pada “A ‘Showa’ Beautiful Girl (Chapter 1)

  1. Sumpaaaaaah nganga bacanya.. Daebak! kata katanya rapi, alurnya ga kecepetan!!!! Daebak thor.. biasanya baca ff yang castnya exo dapet feelnya kalo castnya My Prince Luhan, tapi kali ini WOW! Daebak thor._.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s