Hard To Be Love (Chapter 1)

AUTHOR                   : Hwang Ji Jae ^^

CAST                          : Choi Ryeo Na/Ryeonie/Shailee Choi (OC)

Kim Jong In/Kkamjong/Kai (EXO-K)

Kang Shin Kyung/Kyungie (OC)

Oh Se Hoon/Sehun (EXO-K)

Lee Chae Ri/Chaeri (OC)

Kim Joon Myun/Suho (EXO-K)

OTHER CAST           : Byun Baek Hyun/Baek Hyun (EXO-K)

Park Chan Yeol/Chanyeol (EXO-K)

Wu Yi Fan/Kris (EXO-M)

Xi Lu Han/Lu Han (EXO-M)

Choi Si Won (SJ)

Choi Soo Young (SNSD)

Kim Jong Dae (EXO-M)

Kim (?) Seo Hyun (SNSD)

RATING                    : PG-15+ #ah gatau dah pusing gue -,-

LENGTH                    : Chaptered / Series Fic

GENRE                      : Romance

  Humor #rada ragu nih :/

AU (School, Friendship, Family)

Het/Shoujo

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ryeona’s POV

“Yosh, pertama sekolah!”,  kataku saat aku berada didepan gerbang sekolah. Itu adalah SMA Kirin yang dirancang khusus untuk melahirkan anak-anak yang berbakat didunia musik dan hiburan. Sekolah ini sudah lama didirkan, namun anak-anak yang kreatif belum lama bermunculan disekolah ini. Itu semua yang menyebabkan sekolah Kirin baru melahirkan anak-anak yang bisa dibilang berbakat dalam bidang seni. Disini, aku akan mengembangkan cita-citaku untuk menjadi seorang dancer. Aku harap, aku bisa nyaman dan merasakan hal yang tak pernah kurasakan sebelumnya disekolah ini.

Tak lama kemudian aku masuk dan menginjakkan kakiku untuk pertama kalinya di sekolah itu. Dan sebelum aku melangkah lebih jauh, seseorang memanggilku. “Ryeonie! Wait for me!”, aku berbalik kebelakang dan itu adalah suara temanku, Shinkyung.

“Ah, Shinkyungie. Ppali!”, kataku seraya jalan sambil mundur. Karena kecerobohanku itu…

Brukk!

Tak sangka aku menabrak seorang namja yang seharusnya memang dia adalah sunbae ku alias kakak kelasku. “Ah, cheoseonghamnida”, kataku sambil langsung menunduk dan mengambil buku-bukunya yang berjatuhan.

“Gwaenchana”, kata namja itu. Ia pun mengambil buku yang aku kasih kepadanya dan tersenyum manis padaku. Aku mendongkak dan …Aigooo, betapa manisnya senyuman namja yang ada didepanku itu. Sehingga tak lama kemudian aku hanya menatap punggungnya yang lenyap diantara tembok dan gerbang sekolah.

“Woy, kamu kenapa? Hmm, jangan-jangan kamu suka sama sunbae yang itu ya?”, goda Shinkyung.

“Ap-apa katamu? Ya tentu saja tidak, masa aku baru masuk udah mulai ngeceng cowo, apalagi yang tadi sunbae aku sendiri? Ya ngga mungkin lah -_-“

“Ah, masa sih?”, Shinkyung tetap menggoda ku dan akhirnya aku putuskan untuk masuk ke kelas ku.

—–

“Hmm, kelas baru yah. Kyungie,  duduklah disebelahku.”, kataku sambil menunjuk bangku sebelah kanan.

“Ah, shireo. Aku pengen sebelah sana”, katanya sambil duduk dibangku sebelah kiriku.

Setelah ia duduk disebelahku, tiba-tiba aku merasa ada yang meremas diperutku. Sakit. Sepertinya maag ku kambuh, aku harus segera mengganjalnya dengan makanan berat. Namun, kelas akan tiba, aku harus menahannya sampai pelajaran menunjukkan istirahat.

“Ryeona-ah, kamu gapapa? Kayanya maag kamu kambuh ya?”, kata Shinkyung. Ia memang telah lama mengenalku, bisa dibilang ia seperti eonnie ku. Kebetulan sekali aku tak punya eonnie dan akhirnya dia ada disisiku.

“Kajja”, lanjutnya dan langsung menarikku ke kantin.

Setelah dikantin, ia tetap menungguiku, padahal sebentar lagi bel akan berbunyi. “Kyungie, pelajaran akan dimulai dan kau harus segera masuk. Aku tak apa ko sendirian disini”

“Hei, sudahlah. Kau jangan beraninya membantahku!”, katanya tegas sambil membawakanku makan lagi.

Tak lupa aku berterima kasih padanya karena sudah menolong ku disetiap aku sakit karena maag. Kami pun kembali ke kelas, dan tak disangka belum ada guru yang datang tapi anak-anak sudah ramai dikelas. Waktunya berkenalaan!

Aku kembali duduk dan ternyata bangku yang tadi aku sediakan pada Shinkyung sebelumnya, sudah ditempati seorang namja. Ia terlihat segar dan aku pun menyapanya.

“Annyeong~”, sapaku dengan senyuman lembut dibibirku. Tapi dia langsung menghindar dari tatapan dan lambaian dariku barusan.

Shit, dia tidak menjawab dan malah memalingkan wajahnya dariku. Apa ada orang yang sedingin atau bahkan melebihi kedinginannya padaku disini? Tentu tidak! Semuanya ramah-ramah, begitu juga yeoja yang ada dihadapanku sekarang ini.

“Ryeona-ah, boleh aku tanya tentang ini?”, katanya padaku.

“Apa ini? Ow!! Super Junior! Bang Enyuk, saranghaeyo!”, kataku langsung kegirangan melihat bias ku itu.

“Hei, aku kan sedang bertanya padamu. Kenapa malah teriak-teriak gaje sih?”

“Ah mian, Chaeri-ah. Aku perkenalkan satu persatu ya? Ini Enyuk-oppa, ini Leeteuk-oppa……”, aku pun menceritakannya panjang lebar. Bahkan saat aku sedang menonton konser Super Show nya pun aku ungkapkan dan ia mendengarkanku.

“Dasar penggemar SUJU.”, kata Shinkyung dan langsung membelakangiku.

“Ya, Kyungi-a, kau juga suka mereka kan? Masa kamu gitu sih sama aku”, aku pun memasang wajah ku yang cemberut dan dia langsung mengalah dan kita bertiga terus mengungkapkan apa yang kita ketahui tentang boyband itu.

—–

Tak terasa jam sekolah pun telah berakhir, kami pun berpisah saat digerbang. Sebetulnya bukan kami, tepatnya Aku dan Shinkyung dengan Chaeri. Ia dijemput langsung oleh orangtua nya. “Huh, dasar orang kaya. Kemana-mana pasti aja langsung ada yang jemput.”, kataku mengeluh.

“Ah, kau ini, dulu juga kau begitu, sampai-sampai pengawal yang menjagamu ketakutan karena tingkah lakumu kepada mereka sangat tidak berkeprimanusiaan”, jelas Shinkyung.

“Siapa suruh mereka mengikutiku kemana pun aku pergi? Aku kan sudah besar dan aku bukan anak ingusan lagi. Masa ke kamar mandi juga mereka harus masuk sih? Gila kan?”, runtukku.

“Hemm, iya iya. Aku mengerti, untung saja aku bukan anak direktur Lotte Department seperti mu. Kalau aku jadi kamu, aku pasti udah gak aman. Hehe”

“Iya, ngga kebayang deh apa yang bakalan terjadi. Untung aku ikutan ekskul boxer secara diem-diem dirumah. Huehehehe”

“Kamu memang cerdas Ryeonie-a.”, pujinya padaku.

Kami pun sampai didepan rumah kami masing-masing.

“Annyeong Ryeonie. Besok kita bareng lagi ya, aku samper!”

“Annyeong Kyungie. Aku tunggu!”

Kita berdua pun masuk kerumah masing-masing.

—–

Author’s POV

“Aku pulang!”, sapa Ryeona saat dirumah.

“Ah, putri ku sudah pulang? Kemari nak, aku buatkan sup panas dan daebokki kesukaan mu!”, ucap Mrs. Choi selagi membersihkan dapurnya yang sedkit kotor bekas memasak makanan yang ada dimeja.

“Ne umma. Tapi, aku ke kamar dulu ya? Mau ganti baju”, kata Ryeona dan langsung beranjak kekamarnya.

Ryeona’s POV

Aku membaringkan diriku dikasur.

“Hmm, hari ini sangat menyenangkan! Aku ingin lebih kenal dengan mereka, dengan kelasku yang nyaman ini. Aku, pasti akan bahagia disini.”, dan aku pun membenamkan diri untuk tidur dikasurku.

“Emmh,” erangku saat bangun tidur. “Jam berapa ini? Omo! Udah malem gini”, aku pun langsung beranjak dari kasurku dan langsung ke meja makan. “Umma, kenapa ngga bangunin aku? Aku ketiduran nih”, kataku sambil duduk disamping umma ku tersayang.

“Mian sayang. Tadi umma liat kamu capek sekali, jadi umma biarkan saja sampai kamu bangun sendiri.”, katanya sambil mengelus-elus rambutku.

“Hmm, umma selalu saja begini. Ya sudah, aku mau makan lalu mandi lalu tidur lagi ya umma.”, kataku dan langsung pergi ke ruang makan. ‘Masakannya enak! Emang umma ku chef terbaik dan nomor satu! Aku harus belajar banyak darinya’. Tak terasa aku pun beranjak kekamar dan langsung mandi. Setelah itu aku pun membenamkan diri lagi dikasur.

—–

“Ryeonie?? Ryeonie?? Kau ada disitu? Apa kau sudah bangun?”, terdengar suara seseorang dari luar. Dan itu bukan seseorang… itu Shinkyung. ‘Oh tidak, aku terlambat, aku terlambat!’.

“Kyungie, tunggu aku, aku ganti baju dulu!”, seruku melewati jendela dan berteriak kebawahnya.

“Ah, anak itu. Ya sudah, aku masuk kerumahmu saja.”, ia pun masuk dan disambut ramah oleh umma ku.

Sedangkan aku, sibuk mengurus diri sendiri dan akhirnya hancur berantakan karena tergesa-gesa. ‘Aduh, Shinkyung menungguku dibawah, jangan sampai dia marah. Cepatlah oh rambutku yang susah diatur!’. Semakin aku panik, rambutnya pun semakin susah untuk diatur.

Brakk!

“Kamu tuh ya, lama banget sih!”, teriak Shinkyung didepanku.

“Mian, ini rambut aku gamau diatur. Bantuin dong jangan ngomelnya aja”

“Iya, iya”, dia pun membantuku merapikan rambut yang tadinya acak-acakan dan sekarang.. menjadi rapi. Sungguh sebuah keajaiban. Dasar rambut jelek! Kamu tuh kenapa sih gamau nurutin perintah yang punya? Azz -_-

—–

Kami pun memulai pelajaran dengan pelajaran olahraga. ‘Hmm, segarnya udara pagi ditambah lagi olahraga pagi’, batinku dalam hati. Aku dan kawan-kawan pun berlari-lari kecil disekeliling lapangan. Hari ini, kita semua mempunyai jadwal olahraga sepakbola. Semua dibagi kelompok, aku dan Shinkyung berada dalam satu kelompok. Kita kerahkan seluruh tenaga untuk menang.

Aku bermain sebagai penjaga gawang saat itu. Dengan riangnya aku menjaga gawang sambil bernyanyi dan tiba-tiba …

Dugg!

“Aaaw!”, aku memegang kepalaku yang kesakitan. Dan aku lihat, bola. ‘Loh, bolanya kan sedang ditendang didaerah sana, kenapa malah ada disini?’, batinku. Aku pun menoleh dan..

“Hey, bisakah kau menaruh kepalamu ditempat lain. Ini menggangguku”, kata datar seorang namja ini benar-benar membuatku habis kesabaran. Lalu aku pun melempar bolanya tepat ke’kepunyaan’nya.

“AW!, apa yang kau lakukan yeoja gila?!”, mendengar perkataanya yang selanjutnya membuatku ingin mencakar-cakar mulutnya yang kejam itu.

“Apa yang kau lakukan? Harusnya aku yang tanya begitu, bukannya minta maaf malah menyalahkanku. Padahal sangatlah jelas kau yang salah!”, jelasku dihadapannya sambil memainkan telunjukku.

“Ryeonie, ada apa?”

Aku malah menatap namja itu kejam dan seolah-olah seperti seekor singa yang sedang ingin menyantap mangsanya yang sedang tepat berada didepannya.

“Kelas apa kau?” tanyaku.

“Apa?”

“Apa aku harus mengulangnya lagi hah?”, sentakku.

“Ryeonie, dia adalah namja yang berada disebelahmu saat dikelas”, bisik Shinkyung tepat ditelingaku.

“MWO?!!”

“Hey, hey, ada apa ini? Cepat kembali berolahraga” tegas Song saengnim.

Aku pun cepat kembali ketempatku semula. Dan aku berpikir, ‘Jadi, namja itu adalah namja dingin yang kemarin aku sapa itu?’. Tidak terlalu kaget karena memang sudah seharusnya sifatnya seperti itu.

—–

Hari demi hari berganti menjadi minggu, berminggu-minggu berganti menjadi bulan, bulan demi bulan akan menjadi tahun. Sudah sekitar satu tahun lebih aku berada dikelas ini, namun semakin hari semakin bosan untuk berada dalam kelas. Kalian tahu kenapa? Tentu saja karena namja dingin yang sekarang memang sudah tidak dingin lagi.

Aku selalu dibuat kesal olehnya dan sekarang dia telah menjadi rivalku. Entah kenapa hobiku sama dan menjadikanku rival untuknya. Dia pun mengambil kesempatanku untuk menjadi trainee SM Ent. Padahal itu adalah satu-satunya cara agar aku dapat melihat anggota Super Junior dalam jarak yang sangat dekat. Dan memang sudah takdir, aku harus menjadi trainee Entertainment lain. Dasar Kim Jong In, oh tidak, sekarang dia sudah mempunyai nama panggung, Kai. Memang dari awal bertemu dia, dalam diriku memenuhi kesan negatifku untuknya. Dalam diriku, dia hanya mempunyai beberapa sisi positif, dan salah satunya adalah dance nya.

Author’s POV

“Hei, kau jelek! Ada orang yang mau menemuimu, ia sedang menunggu dikantor”, kata Kai dengan tampang dinginnya.

Ryeona pura-pura tidak mendengarnya karena sudah berkali-kali ia dibohongi oleh namja yang bernama Kim Jong In a.k.a Kai yang selalu mengusik hidupnya. Ia tahu bahwa Kai juga membencinya, sama seperti dirinya kepada Kai. ‘Tapi bisakah engkau menjauhi diriku dari dirinya?’, batin Ryeona sambil mendengus pelan.

“Hei, kau pabo yeoja! Apa kau tidak mendengarku?”, kata Kai sambil sedikit lebih keras.

“Ryeonie, dia sepertinya berbicara padamu”, ujar Shinkyung.

“Iya Ryeo, apakah sebaiknya kau menghentikannya sebelum orang-orang dikantin ini melihat kita dengan penasaran?”, ujar Chaeri.

“Hmmmh”, dengusnya pelan untuk mengambil kesabaran yang tersisa didalam dirinya. Segera ia bangkit dan menghampiri Kai. “Wae geurae?”, kata Ryeona sambil menahan amarah.

“Ada orang mencarimu, lagi. Dia ada dikantor”

“Kalau kau…”

“Aku tidak bohong, lihat saja sendiri kekantor”, kata Kai sambil mengangkat tangannya.

“Awas kalau kau bohong, aku akan menggigitmu sampai mati!”, ancam Ryeona dan langsung pergi kekantor. Ternyata benar, ada seseorang yang menunggunya dilobby.

“Nuguseyo?”, kata Ryeo sambil mendekati seorang pria yang kira-kira berumur 40 tahun keatas. “Appa?”

“Annyeong, Ryeona-ah”, dia ternyata appa nya yang telah meninggalkannya dengan umma nya selama setahun ini. Entah hilang kemana dan yang pastinya Ryeona sudah menghilangkan ingatannya tentang appa nya yang sudah meninggalkannya bersama dengan umma nya demi wanita baru yang akan dijadikan istri keduanya itu.

Ryeona’s POV

‘Apa yang ia lakukan disini? Dan mengapa aku menyebutnya ‘appa’? dia bukan appa ku dan aku harus segera pergi menjauh darinya’. Aku pun pergi dan dengan reflek tangan napeun namja itu menahanku dan langsung memelukku dengan erat. Aku merasakan sesuatu yang hangat dibahuku, menembus seragamku yang seperti nya basah karena.. air mata.

‘Apa? Dia menangis, tapi kenapa?’, batinku dalam hati.

“Maafkan appa sayang, appa akan kembali menjadi appa yang dulu. Tolong, ampuni appa mu yang kejam ini. Aku memohon padamu nak”, dengan nada bicaranya yang sedang tulus memohon. Ia berlutut dihadapanku dengan memegang tanganku. Aku hanya bisa terdiam dan menyuruhnya pulang, agar dia bicarakan ini semua dengan umma. Karena yang sebenarnya sangat terpuruk karena kejadian ini adalah umma ku sendiri yang telah ia selingkuhi.

“Appa, lebih baik appa pulang dan bbicarakn semua ini dengan umma. Appa seharusnya minta maaf pada umma, bukan padaku. Karena yang sebenarnya hatinya tergors adalah umma ku, istrimu”, kataku.

Ia pun menuruti saranku dan berjalan jauh menuju koridor dibelakangku. Kutatap punggungnya dan ketika itu punggungnya lenyap, aku merindukan pelukannya kembali. ‘Appa, appa ku telah kembali lagi’, batinku senang.

“Tak kusangka kau begitu kasar pada appa mu sendiri. Ck, dasar yeoja gila!”

Huh, aku sangat tahu suara ini. Suara yang selama hampir 2 tahun suara ini selalu mengusikku saat aku sedang gembira ataupun sedih seperti saat ini. Tapi anehnya, akhir-akhir ini suara itu sangat membantuku. Padahal aku sendiri sadar bahwa suara itu sangat menggangguku.

Aku pun mengikuti langkahnya dari belakang, aku juga tahu dia menungguku hanya untuk menghinaku. Dan kalau dia sudah puas, dia akan meninggalkanku dalam perasaan yang sangat amat sangaaaat kesal. Aku pun berbalik dan menatapnya.

Kai, Kim Jong In, aku sangat benci padamu karena kau telah merebut impianku. Kali ini, takkan kubiarkan kau merebut kembali impianku itu. Aku akan memenangkan juara dance disekolah Kirin ini dan menjadi pemenang, lihat saja.

“Mengapa kau menatapku seperti itu? Apa kau tidak tahu malu menyukai rivalmu sendiri hah?”, ucapnya blak-blakan.

Ya ampun, sudah berapa kali aku bilang, tolonglah jauhkan diriku dari dirinya. Aku sudah tidak tahan dengan gayanya yang sok dan sangat menyebalkan itu.

Aku pun berjalan cepat mendahuluinya. ‘Dasar namja gila!’, batinku kehabisan kesabaran.

—–

Aku lelah dengan keadaan ini, aku tak tahu harus berbuat apa. Bagaimana keadaan appa dan umma ku dirumah? Jika mereka bertengkar akan apa jadinya? Apakah sesuatu akan terjadi diantara mereka? Aaahh! Apa yang harus aku lakukan?

“Aaah, sebaiknya aku latihan saja biar kepalaku mendingin”, aku pun berjalan keruang latihan.

Author’s POV

Ryeona pun berjalan melewati koridor-koridor disekitar Kirin. Dan akhirnya ia pun sampai ditempat latihannya. Tapi aneh, dia mendengar musik dari ruang yang biasa ia pakai untuk latihannya itu. Ia buka sedikit pintunya dan mendapati seseorang sedang menggerak-gerakkan tubuhnya sesuai dengan irama.

Ryeona’s POV

‘Suara apa ini? Siapa yang sedang latihan? Tumben sekali’, kataku dalam hati.

Kubuka pintu dan mendapati seseorang sedang menari-nari dengan lincah kesana kemari. Gerakannya sangat bagus, sangat sesuai dengan irama dan lagu yang sedang dimainkan. Bahkan aku tahu bahwa sekarang ini dia sedang berimprovisasi. Aku menyukainya saat dia sedang seperti ini. Menyukainya, sangat.

Debb.

“Ya, ngapain kamu disini ha? Pergi sana!”, katanya kasar.

Aku pun masuk tanpa menghiraukan kata-katanya yang kadang-kadang menusuk hatiku itu. “Oh, kau disini rupanya? Apa yang sedang kau lakukan disini?”, kataku pura-pura tidak tahu.

“Kau sangat mengganggu latihanku, dasar penguntit!”, ia mengambil tas nya yang berada didepanku. Dia menggerakkan bahunya ke bahuku sehingga aku sedikit terdorong dan hampir tersungkur. Dia pun pergi meninggalkanku yang sedang terdiam karena perilakunya.

“Ya ampun, kenapa cobaan membuntutiku secara bertubi-tubi. Apa yang telah ia makan sehingga ia selalu kasar kepadaku?”, keluhku. Dan dengan stamina dan semangat yang kurang, aku memainkan musik dan memulai latihanku.

Tapi, tiba-tiba kakiku lemas dan nyeri. Dan diikuti juga dengan kepalaku yang pusing. Sekujur badanku seperti lemas sekarang, tak bisa digerakkan. Akupun terlentang dilantai tempat latihanku. ‘Aku harap, ada yang menolongku’

Cklek.

Author’s POV

Cklek.

Seorang namja yang sangat tampan tiba-tiba masuk dan mendapati Ryeona terkapar lemas dilantai. Tanpa berpikir panjang, namja itupun segera menolong Ryeona dan membantunya untuk duduk.

“Hei, sadarlah. Kau tak apa? Apa yang terjadi padamu?”, kata seorang namja itu dengan lembut.

Sebelum Ryeona melihat siapa orang yang menolongnya, ia langsung pingsan dipangkuan namja itu. Namja yang baik hati itu pun membawa Ryeona ke ruang UKS. Dibantu oleh guru penjaga UKS, dia juga merawat Ryeona yang masih pingsan.

“Emmh”, Ryeona telah bangun dari pingsannya. Ia terlihat bingung saat melihat seorang namja yang sedang ada dihadapannya sekarang. “Siapa?”, tanya Ryeona.

“Hmm, kau tak ingat aku ternyata. Ini aku, Suho, sunbae mu yang tahun ini sudah keluar.”, jawab namja itu, seperti biasa dengan suara lembutnya.

“Suho? Sunbae?”, Ryeona tampaknya berpikir panjang. Ia mengingat-ngingat masa-masa lalu. “Ah, sunbae yang aku tabrak pas digerbang itu ya?”, ia langsung terperanjat bangun.

“Eh, kau jangan dulu bangun seperti itu. Tidur saja lagi”, Suho pun dengan lembut mendorong Ryeona kembali dalam keadaan tidurnya.

“T-t-tapi sunbae. Bagaimana bisa sunbae yang menolongku? Padahal sunbae kan…”

“Aku tak sengaja saja ingin berlatih dance ku sekali lagi disini. Dan ketika aku masuk, aku melihatmu terkapar seperti ikan pindang.”, jelasnya.

“Ohh begitu.”, bibir Ryeona pun membentuk huruf O.

Tiba-tiba….

“YA! Apa yang terjadi padamu Choi Ryeona?!”, teriak Shinkyung dari arah pintu.

Ryeona dan Suho tersentak dan hampir terperanjat dari duduknya. Dari arah pintu, keluarlah Shinkyung dibarengi dengan Chaeri.

“Ryeona-a, kau tak apa? Kami cemas padamu.”, tanya Chaeri lembut.

“Ah, aku ngga apa-apa ko. Tenang aja ngga usah khawatir. Dan juga ngga usah teriak-teriak kaya tadi, malu-maluin tau. -_-“, keluh Ryeona.

“Kau ini, aku ini cemas padamu tau. Bagaimana kalau ahjumma tau kau sedang seperti ini disini?”, tanya Shinkyung dengan serius.

“Hei, jangan bilang hal ini pada umma ku ya? Awas kau”

“Ehmm”, Suho berdehem karena sepertinya Ryeona mulai lupa dengan kehadirannya.

“Ah iya, kenalkan ini, eh apa kalian sudah kenal?”, tanya balik Ryeona dengan wajah polosnya.

“Hmm, sepertinya belum. Siapa dia? Namjachingu mu yang baru ya?”, goda Shinkyung.

“Hush, apa-apaan kau ini, ini adalah Suho sunbae. Dia adalah alumni yang tahun ini keluar. Beda 1 tahun dengan kita”, jelas Ryeona.

“Hmm, kayanya aku pernah liat dia deh. Tahun kemaren?”

“Iya, dia itu namja yang aku tabrak pas lagi digerbang dan..”

“Dan dia itu namja yang kamu suka selama ini kan?”, jelas Shinkyung dengan tatapan serius.

“Eeeh? Kamu ngomong jangan ngelantur deh. Hahaha, sunbae, jangan dengerin kata-kata temenku ini ya. Otaknya rada muter 180 derajat hehehe”

“Iya, tak apa ko. Ya sudah kalau begitu, aku tinggal ya”, tiba-tiba Suho membelai pipi Ryeona dan mencium pipinya dengan lembut. Semua yang ada disana apalagi Ryeona terbelalak karena kaget setengah mati atas perlakuan Suho padanya. Suho pun tersenyum lalu pergi meninggalkan Ryeona setelah pamit.

“Mmmmwo?”, Ryeona pun langsung memegang pipinya yang sudah disentuh oleh namja yang dianggapnya Angel itu.

“Daebak! Congratulation for you!”, Shinkyung dan Chaeri langsung menghampiri Ryeona dengan gaya mereka yang gaje(?)

—–

Hari demi hari terlewat sudah dan akhirnya, hari ini…

“Ryeonie!!”, panggil Shinkyung sambil berlari-lari kearah Ryeona.

“Kyungie, bisa ngga sih ngga teriak-teriak kaya tarzan(?)? Emang kamu pikir ini hutan apa?”, Chaeri langsung menutup telinganya.

“Aish, ada apa kali ini ha?”

“Ini, look at this” *lebay amaat pake logat inggris -_-*

“Bukannya ini tiket buat ke prom weekend nanti ya?”, tanya Chaeri dan langsung merebut satu tiket.

“Oh ya? Sekolah kita bakalan ngadain prom? Kok aku ngga tau ya?”

“Aku juga baru liat dipapan pengumuman tadi. Dan hari ini adalah hari terakhir buat beli tiket. Sebelum loketnya tutup aku langsung beli aja. Nah,kebetulan aku inget kalian, jadi aku beli 3. Siapa tahu kalian juga mau ikut”, jelas Shinkyung.

“Hmm, tapi kalau ke prom, kita itu harus bawa pasangan. Wajibnyanya sih cewe cowo gitu, jadi aku tinggal ngajak pacar aku aja deh. Gomapta, Kyungie”, saking senangnya Chaeri langsung memeluk Shinkyung.

“Ah, kalau gitu…. aku ga jadi ikut deh”, kata Ryeona sambil memasang wajah pasrah.

“Wae?”, tanya Shinkyung dan Chaeri berbarengan.

“Kalian tau kan kalo aku itu ngga punya cowo. Dan juga kalo aku ajak temen aku mereka belum tentu setuju kan?”, jelas Ryeona.

“Hmm, gimana kalo Jong In?”, tawar Chaeri.

“Mwo?! Plis deh, Chaeri-a. Emang aku gila apa, mana mungkin aku mau ngajak rival aku sendiri -_-“

“Yaudah mau gimana lagi? Masa kamu mau ngajak cowo laen?”

“Iya, padahal aku liat-liat kalian akrab banget loh”

“Ah, jinjja michigetda. Terserah kalian!”, Ryeona langsung beranjak dari duduknya.”Aku bakal ikut ketika aku dapat pasangan dan pasanganku itu bukan KIM JONG IN”, kata Ryeona dengan memperjelas kata KIM JONG IN.

“Bagaimana kalau denganku?”

Tiba-tiba semuanya menoleh ke sumber suara.

“Su-Suho oppppa?”, Ryeona beranjak kaget saat namja yang tiba-tiba datang dan sekarang sedang ada didepannya ini.

“Eottae?”, Suho menegaskan pertanyaannya yang belum dijawab Ryeona.

“Eh? Emm”, Ryeona langsung menatap teman-temannya yang sebenarnya telah mengisyaratkan untuk bilang ‘iya’ kepada Ryeona.

“Iya”, akhirnya terlontarkan kalimat yang sepertinya sangat susah untuk diucapkan oleh Ryeona. Sangat canggung memang, jika harus menjadi pasangan kakak kelas yang rupanya sudah keluar ini. Ia pun diajak Suho untuk mengobrol dan berkeliling sekolah. Kebetulan sekali dia sudah lama tak mengelilingi mantan sekolahnya ini.

“Emm, sunbae, kenapa sunbae juga bisa ikut dikegiatan sekolah ini? Bukannya sunbae udah keluar ya?”, celetuk Ryeona yang bisa dianggap kurang sopan untuk berbicara seperti itu pada sunbae nya sendiri.

“Hmm, sepertinya kau penasaran sekali ya? Apa harus aku beritahu?”

“Yaah, sunbae ko gitu sih?”

“Aku kasih tahu asal ada syaratnya” *mulai deh ini sunbae kurangajar*

“Huuuh, tinggal bilang aja kenapa harus ada syaratnya segala sih. Emang apa syaratnya sunbae?”

Suho pun menghentikan gerakan majunya dan berbalik menghadapi Ryeona. Dipegangnya tangan Ryeona sambil mendekati wajahnya. “Call me oppa”, dengan suara lembutnya Suho menggetarkan Ryeona yang saat itu speechless gatau mau ngomong apa. “Eottae?”, tanya Suho yang menunggu jawaban dari Ryeona.

“Eh, emm”, Ryeona hanya bisa bergumam karena dia masih ngga nyangka seorang namja yang dimata semua dan termasuk dirinya sangat special menggenggam tangannya dengan erat.

Melihat kecanggungan Ryeona, Suho pun langsung melepaskan genggaman tangannya. Akhirnya Ryeona bisa kembali bernapas lega. “Hey, jangan diem aja dong, respon yang agak baik dikit napa?”

“Ah, ne sunbae, eh oppa hehe”, Suho pun melanjutkan jalannya.“Lah terus, kenapa oppa bisa sampe disini dan mengikuti acara prom weekend nanti?”, balas Ryeona.

“Oh itu, hehe. Itu semua karena acara ini diperuntukkan kepada alumni tahun ini. Jadi, aku berhak kan buat ikutan prom weekend nanti?”

“Oooooh”, mulutnya pun berbentuk O saat Ryeona menyadari alasan mengapa sunbae, eh bukan, oppa nya itu datang ke prom nanti.

Mereka pun kembali mengelilingi sekolah yang sudah lama tidak Suho lihat.

—–

“Ya, Ryeonie, wae geurae? Dari tadi kamu keliling-keliling ga jelas. Emang apa sih yang ilang dilemari kamu?”

“Aduh, Kyungie, aku tuh bukan nyari barang ilang. Tapi aku nyari gaun yang bakal aku pake ke prom nanti”

“Loh, chamkan! Kamu ngga inget apa? Dari semenjak kamu SMP, kamu tuh ngga pernah pake rok apalagi gaun kaya gitu”

Mendengar apa yang dikatakan Shinkyung, Ryeona berhenti mencari dan duduk pasrah dilantai depan lemarinya. “Ah, eotteokhae? Aku harus gimana datang ke prom nanti dong?”, kata Ryeona dengan pasrah.”Ah, ini salah aku! Kenapa aku ekskul boxer dan ngebuang semua alat kecantikan aku?! Gyaaaaaah!!!”

“Ya ya! Ngga segitunya juga kali. Toh prom night nya juga masih 5 hari lagi. Kalem aja, kita cari bareng-bareng gaun yang cocok buat kamu. Kalo perlu gaun buat Cinderella deh”

“Tapi, kita mau beli dimana ya?”

“Hmm, oh iya! Aku kemaren ngga sengaja ngeliat gaun baguuus banget ditoko apa ya? Pokonya mah da ngga jauh sama Kirin”

“Harganya?”

“Ehehehe, 499.000 won”, langsung ketawa gaje.

“Eh buset, gila kamu”, ia pun langsung beranjak untuk memecahkan celengannya *buseeet ko ada celengan segala -_-* PRAANGG!!! Ryeona dan Shinkyung langsung menghitungnya bersama-sama.

“Yaah, 159.000 won”, desah Ryeona.

“Masih harus ada 340.000 won, kurang lebih”

“Ah, udah deh, daripada mikirin yang ngga penting gini mending kita siap-siap buat latihan ke sekolah”

Mereka pun langsung beranjak ke bawah dan berpamitan kepada Mrs. Choi untuk pergi kesekolah.

—–

“Hup hup hup, 1 2 3 4 5 6 7 8 2 2 3 4 5 6 7 8, hup hup hup”

“Ryeonie, sudahlah dulu. Aku cape nih”, kata Shinkyung. “Iya, nih aku juga. Stop dulu laa~”, lanjut oleh Chaeri.

“Hey, bentar lagi kita ngadain festival olahraga, makanya dari itu fisik kita harus udah siap dari sekarang. Hap hap hup hup 1234 1234”

“Aish, jinjja. Hayu Chaeri”, mereka pun kembali berolahraga. Saat itu juga, seorang ahjushi memanggil mereka.

“Hei, apakah diantara kalian ada yang bernama Choi Ryeo Na?”

“Ryeonie, ada ahjushi yang perlu ama kamu tuh”

“Ah, iya ada apa ahjushi”, sambil menghampiri ahjushi itu.

“Ini, ada titipan dari cowok ganteng. Ngga tau siapa namanya, yang penting ahjushi disuruh dia buat ngasihin ini ke Ryeona agashi”, jelas ahjushi itu. Kemudian kembali untuk menekuni pekerjaan nya yang tertunda.

Sementara itu, Ryeona dan kawannya bingung, apa yang ada didalam dus berwarna merah yang dibungkus dan ditali pita berwarna merah bata itu. Segera Ryeona membuka bungkusnya dan kawan-kawannya pun ikut menimbrung Ryeona. Dan ternyata ..

“Waaah, gaun! Bagus banget Ryeo, ini dari siapa emang?”

“Heh, bukannya kalian ngedenger ya? Yang ngirimnya itu ngga ngasih tau namanya alias kiriman ini anonim”

Careless, careless

Shoot anonymous, anonymous

Heartless, mindless

No one, who care ‘bout me?

 

Tiba-tiba handphone Ryeona berdering dan dia langsung mengangkatnya.

“Yeoboseyo, Suho oppa?”

“Ne, gimana, kamu suka gaunnya?”

“Oh, aku suka banget oppa. Gimana oppa bisa tau kalo warna favorit aku itu putih?”

“Hehe, benarkah? Aku hanya menebaknya saja”

“Oh begitu, makasih ya oppa, kebetulan aku juga belum ada kostum buat ke prom nanti. Ini ngebantu banget!”

“Oh ya? Syukurlah kalau begitu. Oh iya, didalamnya juga ada highheels dan nomor meja yang sudah aku siapkan untuk kita, VIP”

“Oh, tunggu sebentar”, Ryeona pun langsung mengacak-acak dan mengaduk-aduk seisi bungkusan dan ditemukannya kertas dan highheels seperti yang dibilang Suho.”I got it oppa! Highheels nya juga lucu banget, makasih ya oppa hehe”

“Iya, itu semua khusus buat kamu. Nah, nanti malam weekend, kamu dandan yang cantik secantik cantiknya ya”

“Oke, oppa. Annyeong”

“Annyeong”

Setelah telepon ditutup, Shinkyung dan Chaeri yang dari tadi penasaran dengan pembicaraan Ryeona dan Suho mencerca Ryeona dengan berbagai pertanyaan.

—–

2 hari kemudian..

“Kamu harus ke LA weekend nanti”

“Apa? Kenapa bisa mendadak seperti ini, Sooman hyung? Aku kan ada acara sekolah weekend ini, aku ngga bisa pergi kemana-mana”

“Tapi semua ini sudah dibicarakan dan kami semua sepakat. Kau sebagai wakil dari mereka semua harus bisa beradaptasi dengan tanggung jawab dan resiko yang harus ditanggung sebelum kalian semua debut”

“Tapi…”

“Tidak bisa ditolak, jika kutolak. Gedung ini tak akan ada lagi, ‘selamanya’!”

—–

“Uuh, kenapa dia ngga bisa dihubungin sih?”

Tuutt tuutt..

“Azz, gimana nih?”

“Hey hyung!”

“YA! Bisa ngga sih kamu ngga ngagetin aku ha? Gatau aku lagi bingung apa?”

“Emang kenapa hyung?”

“Ini, Sooman hyung nyuruh aku buat jadi wakil promosian pertama kita nanti kalo kita udah debut. Dan aku harus berangkat weekend ini”

“Ya udah tinggal siap-siap terus berangkat deh. Apa susahnya sih hyung”

“Uh, makanya dengerin dulu hyung ngomong sampe tuntas. Kan sekolah kita ngadain prom weekend ini dan hyung udah ngajak seseorang buat jadi pasangan hyung. Nah, masa harus ditinggalin aja sih? Ngga mungkin kan? Nah, makanya aku mau nelpon dia, tapi ngga nyambung terus dari tadi”

“Hmm, sabar ya hyung. Jadi, hyung maunya gimana? Udah tau Sooman hyung itu kayak gitu, keputusannya udah bulat dan ngga bisa diganggu gugat. Kayanya hyung harus cepet-cepet ngebatalin janji hyung itu”

“Ngga! Dia udah seneng banget mau datang ke prom itu, hyung ngga bakal ngecewain dia”, setelah Suho menyerah untuk menelepon Ryeona, dia berpikir untuk mencari solusi. Namja yang sedang ada disampinya hanya bisa menepuk-nepuk bahu hyungnya itu dan berkata “Sabar ya hyung”. Dan akhirnya,”AHA!”

“Apaan sih hyung? Bisasa aja deh, apa hyung udah tau solusinya?”

“Hehe, dongsaengku yang imuut”, sambil nada menggoda dan merayu, Suho membisikkan rencananya pada dongsaengnya itu.

“MWO?!”

—–

 Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Ryeona harus dandan secantik mungkin agar dia bisa menjadi Cinderella malam ini.

“Hmm, eyeshadow, lipstick, dan ini. Yosh!”, Ryeona pun melihat dirinya yang telah diubah menjadi.. menjadi seorang BADUT?! “Gyaaaah!”, Ryeona pun mengacak ngacak lagi dari mulai rambut sampai wajah yang tadinya ingin dia ubah dari bebek menjadi angsa.

Ternyata percuma, bagaimana pun niatnya untuk mengubah dirinya yang sekarang adalah bebek dan ingin menjadi angsa sangatlah sulit untuk dilakukan.

“Huh, bagaimana ini? Waktunya tinggal 2 jam lagi tapi aku belum menyiapkan apapun”

Ceklek..

‘Siapa itu? Umma?’, batin Ryeona.

“Ryeonie… Ha? What are you doing? Kenapa muka kamu jadi kaya badut gini hah?”

“Kyungie, Chaeri, eotteokhae? Aku ngga bisa jadi angsa, aku tetep bebek. Sedangkan kalian udah jadi.. jadi..”

“Udahlah, sini, aku bantu. Aku bakal mengeluarkan kekuatan aku untuk membuat kamu menjadi Cinderella didepan Suho-mu dan juga semua orang. Help me too, Kyungie”

“Oke!”

Sahabatnya pun merancang rencana untuk membuat sahabatnya ini menjadi barang antik yang dilelang dengan harga mahal #plakk! #ngatain diri sendiri #abaikan -,-. Dengan rencana yang mereka buat, Ryeona hanya bisa diam dan memejamkan mata saat sesuatu merajai wajahnya dengan lembut. Tak lama kemudian…

“Yosh, berhasil. Good work Chaeri!”

“Yeah, you too! Nah, sekarang liat dikaca, Cinderella”

Ryeona pun dengan pelan-pelan dan hati-hati #emang mau kemana sih mba?# memperlihatkan dirinya dikaca cermin yang sekarang sudah ada didepannya, dan…

“WOW! Is it me?”

“Yaiyalah, emang kamu pikir siapa ha? Yaudah, kita bernagkat duluan ya, pacar kita udah nungguin nih hehe. Babay”

“Kyungie, tunggu aku! Ryeonie, kita duluan ya, samapi ketemu disana dan jangan gugup buat ketemu oppa-mu!”, kata Chaeri berteriak karena memang dia sambil berlari untuk menyusul Shinkyung. Sedangkan Ryeona masih terdiam melihat dirinya yang sudah berubarah itu.

Ryeona POV

Ini aku? Apakah ini benar aku? Aku Choi Ryeona?

Sementara aku masih berkaca dicermin, tiba-tiba aku tidak sengaja melirik jam yang terlihat dicerminku itu.

“Whoaa! Udah jam segini?! Kenapa ngga ada yang ngaish tau aku sih?!!”, aku pun berlari dan segera pamit kepada umma. “Annyeong umma. Wish me luck today!”

“Hei, hati-hati, jangan pulang malem-malem loh. Umma ngga ada yang nemenin, apalagi appa-mu masih bisnis diluar kota”

“Tenang aja umma, i’ll be here soon”, aku mengecup pipinya dan langsung berangkat tanpa menunda waktu lagi.

—–

‘Hmm, akhirnya nyampe juga’

Eh, tunggu! Kenapa semua orang ngeliatin aku kayak gitu ya? Azz -,- Apa jangan-jangan dandanan make over ku yang kacau ya? Tapi perasaan tadi aku udah kaya Cinderella deh #pede lepel 22 -_-#

‘Ah iya, aku itu harus nemuin meja nomer 9. Hmm, mana ya?’

Aku berjalan pelan sambil mencari meja bernomor 9 itu. Tapi, aku tak menemukan meja itu, aku bingung dan akhirnya aku bertemu kedua sahabatku yang sedang berkumpul bersama pacarnya. Aku pun bertanya pada mereka. Namun, percuma saja, tak ada yang tahu meja misterius itu.

Tapi, pacarnya Shinkyung yang namanya… emm gatau lah pokonya dia, bilang kalau itu adalah kursi VIP dan letaknya ada dibagian depan, tepat didepan panggung. ’Kenapa Suho oppa ngasih kursi VIP segala sih? Kita bisa-bisa dijadiin pusat perhatian orang banyak oppaaa~’, renungku dalam hati.

Aku pun terus mencari meja misterius itu, dan AHA! Aku menemukannya, aku juga melihat seseorang yang telah duduk disana. Aku duduk dan mengucapkan salam.

“A-annyeong, Suho oppa”, aku menunduk sedikit untuk menyapanya.

“A-a-annyeong”, balasnya dengan kegugupan yang lebih dariku.

Eh, tunggu dulu, sepertinya ada yang beda dari oppa didepanku ini. Suara nyaa.. postur tubuhnya.. Ah, mungkin hanya perasaanku saja karena kami semua disini memakai topeng.

“Oppa, apa oppa sakit? Kenapa suaranya beda?”

“Ah, ehm, iya, aku sedikit flu dan suaraku menjadi aneh seperti ini. Aku juga tak menyadarinya hehe”

“Oh, begitu”, apakah perasaanku saja menyangka bahwa namja yang ada didepanku ini bukan Suho oppa. ‘Suaranya mirip, postur tubuh, oke juga. Apalagi wajahnya, aku sangat mengenali orang ini’, dan sekelebat(?) dipikiranku terbayang… Kim Jong In. Namja sialan itu.

Aish! Kutepis pikiranku itu, dan segera aku tebarkan senyum manisku pada oppa yang sekarang ada didepanku. Ups, apa pikiranku saja atau memang Suho oppa sedang malu? Meskipun lampunya sedikit diredupkan tapi aku masih bisa melihat perubahan dari wajahnya. Mengapa pipinya menjadi merona begitu ya kkk~

“Neomu yeoppo”, katanya.

M-mwo? Na? Yeoppo? “Aih, oppa, kamsahamnida”, lagi-lagi saat aku tersenyum pipinya merona.

‘Eih, Ryeona-ahh, kau ini, mana mungkin namja yang sekarang ada didepanmu ini malu hanya karena melihat senyum awkward-mu ha? Mimpi aja kamu’. Aku pun melihat sekeliling, musik jazz yang sangat aku suka terdengar saat aku melihat semua orang yang berpasangan maju ke pusat area dan berdansa bersama. Huh, coba saja aku mempunyai pasangan.

“Apa kamu mau berdansa?”

“Eh, aniyo oppa. Lagian, aku juga ngga bisa dansa ko hehe”, ujarku malu.

“Sudahlah, tak apa. Aku akan mengajari mu kok, tenang saja”, ia pun berdiri dan mengulurkan tangannya dihadapanku.

Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Tanpa sadar aku pun meraih tangannya. Ia pun menarikku mendekat dan ia menuntunku untuk sampai diarea dansa. Kami berhenti dan saling bertatapan untuk waktu yang dibilang sedikit lama. Hmmh, sudah aku bilang, seharusnya aku memikirkan Suho oppa yang sekarang ada dihadapanku, bukan si namja sialan itu. Sudah jelas-jelas namja dihadapanku ini Suho oppa, kenapa aku.. Ah, sudahlah, lebih baik aku menghapus pikiran tentang namja itu sekarang.

Tak kusadari bahwa tangannya perlahan-lahan melingkar dipinggangku, apa yang terjadi? Kenapa jantungku berdetak 2x lebih cepat? Tak  biasanya aku seperti ini, biasanya aku seperti ini saat.. ah, bukankah aku sudah mengatakannya? Aku harus buang pikiran tentang namja itu disaat seperti ini. Tapi, jujur saja hatiku saat ini sedang tidak karuan. Hingga tak sadar aku pun menggantungkan tangan kiriku ke lehernya, tangan kananku dan tangan kirinya beradu untuk memimpin kami berdansa.

Setelah beberapa saat kami berdansa, tatapan mata kami masih saling beradu. Sekarang aku sadar, bahwa warna bola matanya berwarna coklat kehitaman, sepertinya dominan kehitaman sih. Entah apa yang merasuki kami, tiba-tiba kami saling mendekatkan diri, hingga hampir tak ada jarak antara kami berdua. Dan anehnya, dia memiringkan kepalanya, seperti posisi ingin..

DEB.

Hah, apa yang terjadi? Semuanya gelap.

“Mati lampu”, katanya, dia masih didepanku.

Ah, mengapa disaat seperti ini malah mati lampu sih. Eh, tunggu dulu, apa tadi dia mau.. menciumku? Hmm, entahlah. Untunglah mati lampu, jadi dia tidak bisa melihatku pipiku yang sekarang pasti sudah merah merona sepertinya tadi.

Kami tetap pada posisi masing-masing, bedanya, kami tidak berhadapan lagi. sekarang aku dan dia hanya berpegangan tangan. Padahal aku takut gelap, tapi kenapa saat bersama dia dan dia memegang tanganku, rasanya aku tak takut akan apapun.

Terasa orang-orang banyak yang menjerit saat awal mati lampu, tapi sekarang, biasa saja. Kami tidak duduk ditempat kami karena tempat kami lumayan jauh dengan area dansa. Huh, suasana ini.. aku sangat tidak suka. Padahal tadi aku sedang ada didunia fantasi bersama Suho oppa.

“Hei, kamu tahu tidak? Suho tidak datang loh”, tunggu apa yang sedang yeoja ini bicarakan?

“Oh ya, bagaimana bisa?”

“Entahlah, tapi katanya dia harus ke LA karena ada sesuatu”

“LA? Ah, padahal aku berharap dia bisa melihatku malam ini”

“Mustahil, pasti perginya juga lama. Dia baru berangkat tadi pagi”

Apa? Apa yang mereka bicarakan? Sudah jelas-jelas Suho oppa ada disamping.. eh, tunggu dulu, kalau disampingku ini bukan Suho oppa lantas siapa?

“Hmm, tapi aku lihat meja Suho ditempati namja bersama yeoja. Siapakah?”

“Entahlah, tapi sepertinya yeoja itu janjian sama Suho karena Suho tidak datang makanya dia nyuruh dongsaengnya buat ngegantiin dia”

“Tapi tadi, aku sempet denger yeoja itu manggil Suho oppa”

“Ah, mungkin hanya pendengaranmu saja. Yang penting, intinya Suho tidak datang dan namja itu adalah dongsaengnya”

‘Mwo?? Jadi.. siapa orang ini? Terus kenapa dia kayak yang udah kenal sama aku? Apalagi sampai mau nyium aku segala’, batinku dalam hati.

Aku pun melirik kearah namja yang ada disampingku. Aku merubah posisi sehingga dia tepat berada didepanku lagi, seperti sebelumnya. Memang tak terlihat, tapi sepertinya aku kenal namja ini. Baru kusadari bahwa namja ini lebih tinggi dari Suho oppa. Seperti yang aku sadari sebelumnya, Suho oppa mempunyai suara yang merdu, bukan nge-bass seperti namja ini. Matanya beda, dan juga kulit mereka sangatlah berbeda. Sekilas aku sadari namja ini.. “Kim Jong In”

—–

“Kim Jong In”… Ya, itulah nama pertama yang aku sebut.

DEB.

Lampu kembali menyala dan.. dia tengah menatapku! Sama seperti yang sedang kulakukan. Aku menatapnya dalam dan penuh arti. Sebenarnya bukan penuh arti tapi, penuh pertanyaan. Aku telusuri setiap bagian dari tubuhnya, dan ya, aku menemukan jawabannya. Namja ini, memang Kim Jong In a.k.a Kai, namja yang tadi aku pikirkan saat belum menyadari bahwa namja yang aku pikirkan itu memang namja yang sekarang ada dihadapanku.

BRUK!

Entah apa yang terjadi tapi yang aku sadari sebelumnya, ada seorang pelayan yang tak sengaja menabrak Kai dari belakang. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Ia tersungkur, begitu juga denganku. Dan lagi-lagi entah apa yang terjadi, ia menahan kepala dan tengkukku dengan tangannya hingga posisi kami seperti pasangan yang sedang mengakhiri dansa. Dan , oh tidak! Wajahku, wajah kami.. kyaaa! Sepertinya aku ingin menjerit dan menghilang sekarang juga. Lenyap. Karena selain wajah kami yang berdekatan dan sebenarnya bukan berdekatan lagi, sudah tak ada jarak antara kami. Dan tentu saja, bibir kami bersentuhan! >,<!

—–

‘Bibir kami bersentuhan!’ Masih ingatkah dengan kata ini? Yah, setidaknya itulah yang terjadi sekitar 2 jam yang lalu. Huh, tak kusangka ternyata orang yang akan mengambil ciuman pertamaku adalah namja sialan yang mengaku dirinya adalah Suho oppa. Kukira pangeran tampan yang akan merebutnya, ternyata eh ternyata.. ah, sudahlah, aku tidak ingin memikirkannya lagi.

Aku pun berjalan malas kekamarku. Tak kusadari umma menyapa dan memanggilku untuk makan malam. Akupun tetap berjalan dengan wajah sayu dan seperti orang yang kurang tidur. Entah kenapa hari ini aku begitu lemas, dan sebenarnya bukan hari ini tepatnya setelah Kim Kong In alias Kai alias namja pabo bin sialan itu merebut ciuman pertamaku. Ah, akhirnya sampai juga dikamarku, entah kenapa sepertinya hari ini waktu terasa lama, apalagi saat.. gyaaah! Mengapa aku masih saja memikirkan hal tadi huh? Dasar otak, berpihaklah pada yang punya sekali ini saja.

Aku merebahkan diri dikasur, kasur yang berada ditempat dimana aku mencurahkan semua isi hati aku. Ya, kamarku adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa curhat, berbicara sendiri seperti orang gila. Setelah lama aku terdiam, aku baru menyadari bahwa aku menduduki sesuatu hingga pantatku terasa sakit.

“Eh, ini, aku nyari kamu kemana aja kenapa baru nemu sekarang huh?”, kataku marah kepada charger yang beberapa hari ini menghilang entah kemana. Aku charge hp-ku yang sudah mati beberapa hari ini. Aku hidupkan kembali dan waw! “Pesannya banyak banget! Dari Suho oppa?”

From       : Suho oppa J

To           : Ryeona

Ryeo, mian. Sepertinya aku tidak bisa ke prom bersamamu. Aku ada tugas di LA dan aku tidak bisa menghubungimu beberapa hari ini. Mian, jeongmal mianhae. Tapi aku sudah menyuruh dongsaengku untuk menggantikanku menemanimu di prom nanti, sepertinya kau mengenalinya karena dia seangkatanmu. Sekali lagi, mian.

From       : Kyungie :3

To           : Ryeona

Ryeonie, sekarang aku udah di prom, tapi katanya oppa-mu itu tidak akan datang. Ia menggantikan dirinya dengan seseorang, entah siapa

“Jadi.. ah sial! Padahal ini semua salahku yang tak tahu apa-apa! Aku juga tak membalas pesan-pesan dari orang terdekatku”

Aku pun merebahkan diri lagi dikasur. “Gyaaah! Aku sial hari ini!”

—–

Hari demi hari telah berlalu, untunglah setelah acara prom dilangsungkan anak-anak bebas untuk seminggu. Mungkin ini sudah 5 hari berlalu, aku tak keluar rumah dan tak melakukan kegiatanku seperti biasanya. Umma dan appa bertanya padaku, tapi aku hanya menjawab “Tak ada apa-apa” dan langsung senyum terpaksa.

Uh, kalau begini terus, bagaimana kedepannya? Apa aku akan malas seperti ini terus?

Drrtt drrrt.. hp-ku berbunyi.

From       : Kyungie :3

To           : Ryeona

Ryeonie, aku akan main kerumahmu bersama Chaeri. Jangan kemana-mana ya :*

From       : Ryeona

To           : Kyungie :3

Arasseo, aku tunggu :*

Huahh, akhirnya teman-temanku menjengukku. Tak lama kemudian mereka datang, membawa sesuatu dan juga.. seseorang.

“Ryeonie, aku datang”

“Masuk”, sahutku saat mengetahui Shinkyung dan Chaeri dan.. “Ah, Suho oppa, annyeong”

“Annyeong, kamu ngga apa-apa? Ko pucat gitu sih?”

“Aku, ngga apa-apa ko hehe”

“Hmm, begitukah? Oh iya, bagaimana dengan prom nya? Maaf aku tidak bisa menemanimu, padahal aku sendiri yang mengajakmu”

“Ah, itu”.. ‘Aish, mengapa Suho oppa betanya hal itu saat aku tidak ingin memikirkan kejadiannya?’..”Prom nya menyenangkan ko oppa hehe”

“Oh, baguslah kalau begitu. Aku kira dongsaengku akan membuatmu membenciku”

“Oh, tentu tidak oppa. Itu, sangat menyenangkan”..’Maaf aku berbohong oppa’ -_-

Aku pun mengajak Suho oppa untuk masuk kerumahku. Kyungie sudah masuk duluan, karena dia memang tidak pernah sungkan untuk masuk kerumah yang memang sangat familiar untuknya ini.

“Ah, Ryeonie, aku membawakan makanan untukmu. Ahjumma bilang kamu jarang keluar akhir-akhir ini”, sambil memberikanku ddukbokki, makanan kesukaanku.

“Gomawo Kyungie. Gimana rumah barunya?”

“Hmm, lumayan bagus. Jika kau kesana kau pasti akan suka”

“Oh ya? Pantas saja kau jarang main kemari, huh kamu ngga tau sih aku disini sendirian ngga ada yang nemenin tau”

“Hehe, mian. Umma-ku masih menyuruhku untuk menjaga rumah itu selama dia masih diluar negeri. Jadi terpaksa, mau tidak mau aku harus tetap ada disana sepanjang waktu”

“Hmm, gwaenchana”

“Gimana kalo weekend ini kita main kerumah aku yang baru?”

“Suho oppa ikut juga deh, eottae?”, lanjut Shinkyung.

“Arasseo”, jawab Suho oppa.

“Oke deh hehe”, kataku sambil tersenyum.

Tak terasa telah datang hari yang dinanti-nanti. Aku packing beberapa barang untuk tinggal disana. Harinya diganti jadi sekarang karena kami menginap, jadi pas weekend nanti hari kita terakhir disana. Setelah aku selesai packing Shinkyung meneleponku.

“Waeyo Kyungie? Aku udah siap packing ko”, kataku sambil emmasukkan barangku kekoper.

“Aniyo, kandidat kita ternyata bertambah satu lagi”

“Hah? Siapa lagi? Aku, kamu, Chaeri, pacar kamu dan Chaeri, Suho oppa, terus siapa lagi huh?”

“Hmm, gatau, tapi yang sekarang giliran Suho sunbae yang ngajak someone”

“Eh? Jangan-jangan dia bawa yeoching nya lagi?”

“Hush, andwaeyo, Suho sunbae kan suka ama kamu kekeke”

“Hush, kamu gila ya?”

“Yaudah deh, pokonya surprise buat kita kayaknya hehe. Annyeong”

“Annyeong”, kututup telpon dari Shinkyung. ‘Humm, siapa ya yang Suho oppa ajak?’, batinku dalam hati.

Tanpa memikirkannya lebih lanjut, aku langsung beranjak kebawah untuk menunggu Shinkyung dan Chaeri menjemputku. Ah, tidak akan lama, soalnya mereka sudah dijalan saat meneleponku tadi, jadi aku juga santai saja, tinggal dijemput hehe.

Mungkin 2 jam berlalu, aku, Shinkyung dan Chaeri baru sama dirumah Shinkyung yang baru dan waw! It’s amazing! Mewah dan royal banget! Oh iya yah, aku baru inget kalo umma dan appa nya pengusaha, sama sepertiku. Tapi, kenapa aku ga punya rumah kaya gini ya? Ckckck -_- Setelah lelah karena selama 2 jam berada dimobil terus, aku langsung merentangkan kedua tanganku dan duduk santai disofa yang empuk ini.

TOK TOK TOK!

“Oh, kayaknya itu Suho oppa deh. Aku yang buka ya?”, sahutku.

“Iya iya, kamu kayak orang yang punya rumah aja deh. Itu kan tugas aku”

“Aigoo, jangan ngambek dong”

“Yaudah deh, cepetan. Nanti calon nampyeon kamu keburu pulang lagi kkk~”

“Aish, dasar fungi”, aku pun beranjak dari duduk dan berlari kecil kearah pintu. Sebenarnya aku bukan ingin membukakan pintu untuk Suho oppa, terlebih aku ingin mengetahui siapa yang oppa bawa. Aku pun perlahan membuka pintu, dan aku harap yang datang bersama Suho oppa.. Kim Jong In!

Kyaaaa! He’s coming with Suho oppa? Aku ngga mimpi kan? Ini nyata kan? Eh, tapi tunggu dulu, kenapa aku ngerasa seneng gini ya? Aigoo, dia kan musuh aku, rival aku, orang yang aku benci, setan yang ngerebut first kiss aku dan juga.. orang yang aku suka? Astaga! Apa sih yang aku pikirin?

Kai POV

Tuh kan, benar apa yang aku pikirkan? Pasti ada dia juga! Kenapa aku setuju aja ikut sama Suho hyung? Dasar, pabo Kim Jong In, apa kamu ngga sadar? Kamu tuh yang bikin first kiss kamu direbut sama dia! Aku masih tidak mau melihat wajahnya setelah kejadian itu. Sungguh memalukan, seorang Kim Jong In mencium seorang yeoja yang tidak lain adalah rivalnya sendiri disebuah acara perpisahan senior. Ya, dia rivalku, orang yang seharusnya aku benci tapi aku malah menciumnya.. memang tidak sengaja, tapi itu tetap ciuman kan? Terlebih itu ciuman pertama ku. Yeoja itu adalah Choi Ryeo Na dan Ha! Orang yang paling tidak ingin aku temui sekarang dia ada tepat didepan wajahku.

Entah perasaanku saja atau memang wajahnya menjadi merona saat melihatku? Mungkin dia mulai menyukaiku kkk~ Aish, apa yang kau pikirkan Kim Jong In? Apa kau gila huh? Tak seharusnya kau mengharapkan dia menyukaimu, memang dia siapa? Dia adalah rivalmu, rival terbesarmu yang ingin mengalahkanmu. Meskipun kamu tau dia ngga bakalan bisa ngalahin kamu, tapi tetep aja dia itu rival kamu!

“Ah, annyeong oppa”, akhirnya dia ngomong juga. Tapi kok, oppa?  -_-

“Annyeong Ryeo”, Mwo? Ryeo? Sedekat apa sih Suho hyung sama ini anak? Bikin kesel aja tau ga -,-

“Annyeong”

DEG. D-d-dia, menyapaku? “A-a-annyeong”, jawabku gagap.

“Ayo masuk oppa, yang lain sudah menunggu”, dia mempersilahkan kami masuk. Suho oppa masuk duluan dan dia menungguku untuk masuk juga. Tapi, tunggu dulu, kenapa tatapannya beda dengan saat tadi dia menyapaku. Sekarang lebih.. tajam! Seperti mau melahapku hidup-hidup.

Aku pun masuk dan melihat Suho hyung sudah menyapa orang-orang didalam. Ryeona pun mengikutiku. Aku duduk disofa yang kosong dan dia malah duduk disampingku. Memang sofanya tinggal satu lagi sih, tapi kenapa aku jadi seperti ini?

“Ya, kenapa kamu bisa disini huh?”, katanya dengan nada berbisik yang menurutku seksi. Ups!

“Apakah kau tidak tahu? Suho hyung yang mengajakku kemari”, kataku tak lebih pelan darinya.

“Aish, jinjja. Aku pikir hari ini akan cerah bagiku. Ternyata suram setelah melihat wajahmu”

“Mwo? Ya, kalau aku tahu kau disini aku pasti tak akan mau diajak Suho hyung”

“Ah, dasar kau napeun namja. Apa kau melupakan kejadian weekend kemarin huh?”, ah sial, aku tahu dia akan berbicara tentang ini. Tak terasa pipiku sudah berubah warna menjadi merah muda yang merona. Begitu juga dia.

“Ya, it was an accident!”, kataku salting dan membuat orang yang disitu melirik kami berdua.

“An accident? Ada apa dengan kalian”, oh sial, aku terlalu bersuara  -_-

“Ah, aniyo hyung hehe”

“Hmm, kalian rasanya menjadi lebih akrab ya?”, kataku Shinkyung dengan tatapan yang aneh pada kami berdua.

“Apa maksudmu?!”, tak kusangka kami mengatakan itu secara bersamaan. Aih, malunya akuuu.

“Apa kalian sudah kalian kenal satu sama lain?”

“Sunbae, kita berempat ini teman satu kelas”, jawab Chaeri, mungkin Chaeri namanya kalau tidak salah. Karena aku sering mendengar yeoja gila yang sekarang disampingku ini menyebutnya dengan nama itu. Padahal kami sekelas -,-

“Oh ya? Mengapa kau tak mengatakannya padaku, Kai?”

“Ah mian, hyung hehe”

“Untunglah kalau begitu, berarti kalian tak merasa direpotkan kan saat di prom kemarin?”, aigoo, mengapa hyung malah membahas tentang prom weekend kemarin sih? Aku harus jawab apa?

“Prom? Ryeonie, jadi pasangan kamu itu.. Kai?”, sepertinya Shinkyung sedikit kaget. Karena dia mengetahui bahwa kami adalah musuh bebuyutan. Ah, bagaimana ini, semoga mereka tidak tahu apa-apa tentang kejadian itu.

“Ah, ne Kyungie. Aku juga ngga merasa direpotkan kok oppa. Karena dia sangat BAIK sekali hehe”, aih, tatapannya padaku itu.. sumpah tak bisa dideskripsikan. Seperti mau melahap, memakan, mengoyak, mencincang dagingku dengan deretan giginya yang berjajar itu. Kurasa seluruh tubuhku merinding melihatnya seperti itu -_-

“Ah, mana barang-barang kalian? Simpan saja diatas, sepertinya kita akan membuat tenda didekat pantai untuk tidur malam ini”, ujar Shinkyung, untunglah sebelum ada yang bertanya lebih banyak.

Kami semua, tepatnya para namja membawa barang-barang kami semua ketempat yang sudah dipersiapkan oleh para yeoja. Kami mengobrol tentang para yeoja itu, dan anehnya Suho hyung juga ikut-ikutan membicarakan tentang rivalku itu.

“Ryeona itu, dia memang juniorku dan aku sebagai seniornya seharusnya bisa menjaganya. Mungkin sampai akhir hayat kkk~”

“Aigoo, kau ini, mungkin saja dia sudah mempunyai namjachingu”, kata seorang lelaki bernama Chanyeol, namjachingu nya Chaeri.

“Iya, bisa saja kan?”, sahut seorang namja yang bernama Baekhyun, namjachingu nya Shinkyung.

“Hmm, mungkin juga tapi.. aku akan berusaha”, ujar Suho hyung dengan semangat 45 (?)

“Menurut hyung tentang dia bagaimana?”, ugh, apa yang aku bicarakan sih? Kenapa aku mengatakan semua itu pada Suho hyung?

“Menurutku, dia manis, sedikit kekanakan tapi kadang dia dewasa juga”, itu memang benar hyung, aku juga bisa melihatnya -_-

“Terus?”, kataku penasaran.

“Kalo dengan orang terdekatnya dia suka bermanja dan aku pernah denger dari dia sendiri kalo dia punya rival yang pengen banget dia kalahin. Aku tanya sama dia, namja apa yeoja. Dia jawab namja”

Huh, pasti itu aku. Ya siapa lagi coba? Semua namja dikelas sangat akrab dengannya, bahkan banyak yang menyukainya. Sedangkan aku, aku hanya bisa mencemooh dan menghinanya, kalian tau kenapa? Karena aku sangat benci ketika teman-temanku mendekatinya.

“Oh ya? Siapa?”, tanyaku lagi pura-pura tidak tahu.

“Entahlah. Hei, kau kan teman sekelasnya, apa kau tidak tahu apa-apa?”

“Aku tak pernah akrab dengan yeoja”

“Ah, iya yah. makanya cepat-cepat cari pacar sana”

“Belum nemu yang cocok”, sahutku acuh.

“Sepertinya aku akan merebut ciuman pertamanya malam ini”

“MWO?!”, aku terhenyak dan tak sadar malah berdiri dari duduk sambil menatap kaget kearah Suho hyung.

“Hei, wae geurae? Memang aku tak boleh apa?”

“Mungkin dia menyukainya hyung”, kata orang berambut aneh, Chanyeol.

“Ap-apa yang kau bicarakan huh? Bukan begitu hyung aku.. aku hanya..”

“Kalau kau menyukainya bilang saja heum?”, katan Suho hyung memastikan.

Tentu saja aku tak mengerti dengan perasaanku sendiri. Tak mungkin aku menyukainya kan? Ya Tuhan, apa yang terjadi denganku? “Hyung, dengarkan aku, aku tidak suka padanya karena akulah rivalnya”

“Oh, jadi..”

“Hei, para namja! Cepatlah turun, kami sudah menyiapkan peralatan dan saatnya kita semua memasang tenda!”, kata Shinkyung sambil berteriak, mungkin karena lantai 1 dan 2 jaraknya lumayan jauh kali ya, tapi tetep aja kita semua harus menutup telinga mendengarnya -_-

“Aigoo, dia.. jinjja ckckck”, kata Baekhyun mengeluh sambil tersenyum.

“Aih, tetap saja dia ini yeojachingu mu”, sahut Chanyeol.

“Ne, ne, aku pun mencintainya hehe”

“Ngga ada yang nanya tau :p”

“Aih, kau ini punya yeojachingu pendiam saja sombong sekali”

“Hei, hei, sudah diam kalian semua. Apakah kalian tidak kasian pada kami berdua yang masih pada jomblo huh?”, ujar Suho hyung menghentikan perdebatan antara dua namja yang sudah mempunyai pasangan ini.

“Ehehe, mian hyung”, kata mereka berdua.

“Oh, kids ckckck”, kataku sambil beranjak turun.

“Hei, kamu juga anak kecil!”, ujar mereka bertiga saat melihatku turun duluan.

Ryeona’s POV

Huh, kemana lagi namja-namja ini? Kenapa mereka masih saja berbincang-bincang dan mengobrol sesuatu yang pastinya tidak perlu huh? Aish, dasar namja tukang gossip. Lagian, kenapa juga sih dihari liburan akhir-akhir ini aku sering dan sangat sering bertemu dengan namja sialan yang merebut ciuman pertamaku itu. Dan terlebih dia adalah dongsaengnya Suho oppa, namja yang sekarang bisa dibilang dekat denganku.

“Ryeonie, apa kau masih mau menyembunyikan kenyataan huh?”, aku mengenal sekali suara ini, siapa lagi yang memanggilku dengan sebut ‘Ryeonie’ coba?

“Aigoo, Kyungie, bukan seperti itu maksudku. Memang kami ini dekat, tapi arti dekat antara kita tak ada arti khusus alias kita hanya teman dan seperti sahabat pada umumnya”

Shinkyung mendengus pelan. Siapa yang dimaksudnya? Ya, yang dimaksudnya adalah Suho oppa. Entah apa yang sedang ada dipikirannya hingga menyebutkan bahwa Suho oppa memang tertarik dan sangat suka kepadaku. Baiklah, aku akui itu semua, namun seperti yang aku bilang sebelumnya, aku tetap menganggapnya sebagai teman atau sebagai oppa-ku sendiri, tidak lebih. Kenapa? Hmm, entahlah. Aku juga tidak tahu, aku hanya ingin menganggapnya sebagi teman saja. Eh, tunggu, apa mungkin ada someone yang telah mengisi hatiku ini? Argh! Aniya! Bisa-bisanya aku memikirkan namja pabo itu disaat aku memikirkan someone yang mengisi relung hatiku.

Helooo, tidak mungkin aku menyukai namja itu. Dari awal bertemu, aku sudah menganggapnya sebagai musuh dan rival terbesarku. Sebabnya? Yah, karena impianku itu. Tapi, entah kenapa, sepertinya hati paling kecil dan paling dalam yang ada didiriku ini tidak terima dengan ucapanku barusan. Apa aku… memang menyukainya?

“Hei, para namja! Cepatlah turun, kami sudah menyiapkan peralatan dan saatnya kita semua memasang tenda!”

Aigoo, dasar Kyungie, dia selalu saja mengganggu saat aku sedang memikirkan sesuatu. Hmm, yasudahlah, mungkin belum waktunya.

Aku mengambil satu tenda besar yang akan aku tempati bersama Kyungie dan Chaeri. Aigoo, ternyata tenda yang kubawa ini berat sekali ya. Hup! Sekali angkat dan tenda itu sudah terpangku oleh tanganku yang bisa dibilang kecil tapi bertenaga ini -_- Aku mencoba jalan walaupun besarnya tenda ini menghalangi penglihatanku untuk berjalan.

BRUKK!

Ah, aku menabrak seseorang!

“Ya! Bisakah kau lihat langkahmu?!”

Meskipun aku tidak melihat wajahnya, tapi aku kenal dan sangat mengenali suara ini.. Kim Jong In. Selalu saja menyalahkanku seperti ini.

“Hei, apakah kau tidak melihatku membawa tenda besar seperti ini huh?!”, kataku dan masih belum bisa melihat wajahnya.

“Aigoo, sini aku yang bawa! dasar pendek! Kecil lagi!”

Aku hanya bisa mencibir kata-katanya yang memang sudah lama aku.. rindukan? Haha. Astaga, apa yang aku pikirkan? Dasar namja gila, mengapa namamu selalu memenuhi otakku hah? Aish!

Dia membawakan tenda berat yang aku bawa tadi. Dia bertanya pada Kyungie dan segera melaksanakan tugasnya (?) menggantikanku membawa tenda. Aih, romantisnya. Eh? Apa? Romantis? TIDAK!

Aku berjalan kearah Kyungie dan bertanya apakah ada yang perlu kubantu?

“Tidak, kau buat saja tenda kita. Aku, Chaeri, dan sebagian namja akan membawa peralatan untuk masak nanti malam”

“Hmm, baiklah”

Aku berjalan menyusuri indahnya pantai bersama.. ehehehe Kai a.k.a Kim Jong In. Entah mengapa aku lebih suka menyebutnya Kim Jong In daripada Kai. menurutku itu panggilan yang sedikit berbeda dari orang yang dekat dengannya. Serasa hanya aku yang menyebutnya dengan sebutan nama aslinya.

“Ya! Ini mau ditaruh dimana huh?”, tanyanya saat aku melamun dan aku langsung terlonjak kaget saat dia menyapa ah menyentakku barusan.

“Bisakah kau sopan sedikit Kim Jong In? Namaku bukan Ya dan namaku adalah Choi Ryeo Na. CHOI RYEO NA. Bisakah kau tegaskan itu dalam dirimu hah?”

“Ah, terserah kau saja yeoja GILA. Dan sekarang sekali lagi aku tanya, dimana kau akan menaruh benda berat ini huh?”, penuh penekanan dikata GILA! Aih, jika saja dia tak sedang membantuku, sudah aku cabik-cabik mukanya hingga tak berbentuk lagi -,-

“Hmm, disana saja. Kita sudah berjalan cukup jauh dari rumah Kyungie”, kataku sambil menunjuk suatu tempat pesisir pantai.

Kami pun bekerja sama untuk membuat tenda yang sebenarnya hanya yeoja saja yang akan masuk ekdalam tenda ini. Tapi, entah mengapa dia mau membantuku. Hmm, sepertinya ada yang aneh dengannya. Tak lama kemudian…

“Ah, akhirnya selesai juga”, aku meregangkan tubuhku lalu beranjak pergi kembali kerumah Shinkyung. Tapi…

SREEET!

Aku tersandung tali yang sudah aku ikatkan kedalam tanah untuk tenda yang baru aku buat bersama Jong In.

GRETEEEK..

“YA! Awas!”

GUBRAKK!

‘Apa? Bukankah tenda itu roboh? Tapi..’

Sebelumnya ada yang menarikku. Aku membuka mataku dan mendapati Jong In menindihku. Aww, punggungku.. sakit sekali -_-‘

“Jong In-ahh? Bisakah kau..”

“YA! PABO YEOJA! Bisakah kau melihat sesuatu yang kau lewati sebelum melangkah lebih jauh ha?!”

Dia.. memarahiku?

“Mi-mian, aku tidak..”

“Meskipun tidak sengaja itu adalah kesalahan fatal! Kau bisa mati dalam sekejap PABO!”

DEG.. DEG.. DEG..

Aku merasakan dadaku yang terasa sesak. Mungkin karena aku masih kaget? Bukan, bukan karena itu!

Hatiku berdebar sangat kencang. Lagi-lagi karena aku dekat dengan namja sialan ini.

Entahlah, kenapa aku baru sadar kalau jarak antara kami sangat dekat. Apalagi sekarang posisiku sedang dibawahnya. Aku menatap mata kehitamannya itu dengan intens. Sangat menawan. Aku tidak bisa memalingkan wajahku darinya.

Kai’s POV

‘Apa yang terjadi? Mengapa tubuhku menjadi kaku seperti ini?’

Aku menolongnya dari reruntuhan tenda yang hampir mengenainya barusan. Dan akhirnya posisiku seperti ini? Ah, plis deh. Apa yang harus aku lakukan? Mengapa tubuhku tak mau bergerak? Aku malah menatap matanya yang sedari tadi juga menatapku dengan intens. Hey, matanya sangat indah! Biru kecoklatan. Semua orang pasti akan menyangka bahwa dia mempunyai warna bola mata yang hitam jika tidak melihat dengan jarak dekat seperti ini. Eh, tunggu dulu, bukan hanya dekat, bahkan SANGAT dekat!

Entah setan apa yang merasuki tubuhku tapi aku malah memperkecil jarak yang tadinya sangat dekat menjadi.. TAK ADA JARAK SAMA SEKALI! Sungguh, aku tak tahu apa yang kulakukan lagi kali ini. Tidak mungkin jika dia yang mendekatkan wajahnya padaku, dan kemungkinan besar tubuhku sendiri yang memperkecil jarak wajahku dengan wajahnya sekarang.

5 senti ..

4 senti ..

3 senti ..

2 senti ..

1 senti ..

Gyaaah! Hidung kami bersentuhan!! Hey mengapa dia menutup matanya? Namun, hasrat dihatiku juga mengatakan untuk melakukan hal itu. Aku langsung menutup mataku yang sedari tadi menatapnya.

5 detik ..

4 detik ..

3 detik ..

2 detik ..

CHU~

Aku menciumnya! Yeah! Akhirnya. Aku melumatnya dengan lembut, sangaaaat sangat lembut dan.. ~10 detik kemudian~ Aku.. aku apa?!!

Author’s POV

Tanpa mereka sadari mereka telah berciuman. Kai yang sebenarnya memulai pergulatan (?) bibir itu segera melumat bibir Ryeona dengan lembut. Tidak dengan nafsu, tapi sepertinya dengan hasrat cinta mereka masing-masing yang memang tidak mereka sadari. Tak lama kemudian Kai sadar atas apa yang dilakukannya. Dia pun langsung melepas pergulatan (?) bibir mereka dan duduk disamping yeoja yang telah diciumnya.

“M-m-mian. A-aku…”, dengan kelagapan Kai tidak bisa menuntaskan kata-katanya.

Ryeona yang sama baru menyadari apa yang telah dilakukannya bersama namja yang sering ia sebut rival ini langsung menampilkan semburat merah pada pipinya. Ia hanya bisa menunduk menahan malu yang sedang menerpanya sambil merutuki dirinya.

“Hei! Apa yang sedang kalian lakukan?”, sahut Shinkyung yang baru datang bersama Chaeri dan namja lainnya.

Kai dan Ryeona yang kaget langsung berdiri dari duduknya.

“Mengapa kalian malah duduk berduaan dan meninggalkan tenda yang seharusnya kalian buat ha?”, kata Shinkyung sambil meningkatkan nada bicaranya.

“Mi-mian Kyungie, aku akan segera membereskannya. Emm, oppa, bisakah kau membantuku?”

“Ah, ne”

Kai’s POV

“Mi-mian Kyungie, aku akan segera membereskannya. Emm, oppa, bisakah kau membantuku?”, katanya sambil masih menampilkan semburat merah dipipinya.

“Ah, ne”, jawab Suho hyung.

‘Mwo? Bukankah seharusnya aku ya? Kenapa jadi Suho hyung?’

Ah, dasar yeoja pabo, masa lebih milih Suho hyung daripada aku sih? Emang, Suho hyung lebih cakep, lebih berkharisma. Tapi kan, masa dia mau sama namja yang hampir sepantar sama dia? Ups! Mian hyung hehe. Kok aku jadi mikir yang ngga ngga sih -_-

“Hey, kau Kai. bisakah kau membantu kami?”, ujar Shinkyung saat aku masih memandang Suho hyung dan yeoja pabo itu.

“Ah, mian, sepertinya aku akan ikut mereka saja. Berikan saja aku tenda yang satunya”

“Hah? Baiklah”, kata Shinkyung sambil melempar tenda yang satunya.

Aku segera berlari kearah Ryeona, si yeoja pabo itu. Aku lihat dia sedang tertawa bersama Suho hyung dibalik tenda yang seharusnya mereka buat secepatnya. Huh dasar! Mau saja mencari perhatian dari namja yang notabene adalah hyung-ku ini. Entah mengapa aku ingin mengganggu mereka.

“Hei, hyung, cepatlah sedikit. Shinkyung sudah marah-marah padaku. Kita harus menyelesaikan 2 tenda dalam waktu yang tidak lama karena sebentar lagi sore”, sahutku dan dibalas oleh tatapan bingung dari mereka berdua.

“Hmm, baiklah. Ayo Ryeo”

“Ah, ne”

Aish, tanpa melirik padaku sekalipun? Memangnya kau pikir kau bisa mengambil perhatian hyung-ku ha? TIDAK. Tak akan kubiarkan hyung-ku bersama denganmu :p

Suho’s POV

Ada apa dengan dongsaengku ini? Mengapa dia seperti ingin memisahkanku dari Ryeona? Apa dia menyukai gadis ini? Ah, tidak mungkin, bukankah dia sudah bilang bahwa dia dan Ryeona adalah sesama rival? Apakah mungkin mencintai rival sendiri? Hmm, seperti difilm saja. Aku tak suka drama!

Aku membangun tenda bersama Ryeona, sambil tertawa bersama. Namun tiba-tiba Kai malah datang diantara kami. Ada apa sih? Huh! Tumben sekali dongsaengku ini peduli dengan urusan kakaknya -,-

—–

Hhh, akhirnya tendanya selesai dibangun. Mengapa susah sekali membangun 2 tenda yang akhirnya kecil seperti ini? -_- Ah, sebaiknya aku lancarkan saja rencanaku sebelumnya, mengambil first kiss-nya Ryeona *evil smile* #Suho berubah jadi evil wkwkwk

“Ryeo, kita main air dipantai yuk?”

“Eh? Oppa ke aku?”

“Emang yang namanya Ryeo disini ada dua yah? -_-‘“

“Oh iya yah, hehe. Mian oppa, kajja!”

Aigoo, gadis ini polos sekali, tapi kadang berubah 180 derajat menjadi orang yang dewasa. Hmm, dia cukup untukku. Huehehe. Dia menarikku untuk segera bermain air dipantai, sedangkan yang lain masih memasak untuk nanti malam.

“Ryeonie, jangan lama-lama mainnya! Bantu kita masak nih!”, tegur Shinkyung.

“Arraseo, Shinkyung umma~”, sahut Ryeona. Mereka memang seperti ibu dan anak untuk waktu tertentu. Lihatlah wajah Ryeona saat ini, tak bisa kudeskripsikan karena dia terlihat begitu sempurna.

Ciprat! Ciprat! ß backsound gagal -_-

Ryeona menyipratkan air padaku, alhasil mulutku merasakan rasa asin yang tidak lain adalah dari air yang Reona semprotkan tadi. Kami bermain air, bertanding semprot menyemprot (?) Tak terasa sudah lama kami bermain, akhirnya kami berniat untuk kembali ketenda.

ZZRRT!

Entah kenapa, kakiku dan semua badanku terasa lemas. Tak bisa kugerakkan. Alhasil, tubuhku melunglai dipasir pantai. Ah, untunglah aku sudah ada didarat.

“Oppaaa!”, kudengar Ryeona teriak memanggil namaku. Tapi setelah itu, semuanya gelap.

Author’s POV

Suho yang telah dibawa kerumah Shinkyung segera mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia merasa sesuatu menyengatnya kembali dibagian kaki, tapi tak seperti tadi, sekarang badan Suho masih bisa digerakkan walaupun sedikit.

“Oppa, gwaencanha?”, ujar Ryeona dibalik pintu dengan membawa semangkuk air dingin.

“Ah, Ryeonie. Na gwaencanha, aku kenapa?”

“Kayanya tadi oppa kesengat sama ubur-ubur deh, tapi untunglah oppa hanya pingsan. Padahal biasanya sengatan ubur-ubur itu menyebabkan kematian”, ucap Ryeona sambil duduk ditepi kasur.

“Oh jinjja? Ah, syukurlah kalau begitu, tapi kakiku sepertinya sedikit keram”

“Mungkin sengatannya masih berpengaruh pada tubuhmu oppa, makanya aku membawakan air dingin untuk mengompres oppa”, jelas Ryeona.

“Begitukah, mana yang lain?”

“Yang lain masih dibawah, kami berencana untuk kemping besok atau lusa sampai keadaan oppa membaik, masa kita mau bersenang-senang tanpa oppa”, kata Ryeona sambil mulai megompres kaki Suho, tapi raut wajahnya seperti sedang sedih.

“Aah”, Suho meringis karena sepertinya sengatan itu menjulur keseluruh tubuhnya.

“Gwaencanha oppa. Sengatan itu hanya sedikit, sebentar lagi juga oppa pasti akan pulih kembali. Hanya istirahat dan jangan banyak gerak dulu ya oppa”, sahut Ryeona sambil tersenyum, terpaksa.

Sepertinya Suho terpana oleh senyuman dari Ryeona, meskipun Ryeona hanya mencoba untuk tersenyum. “Tapi, sebaiknya kalian tetap kemping, baik denganku atau tanpaku. Kamu juga kan antusias banget buat kemping hari ini”

“Iya, tapi oppa…”

“Ssstt, gwaencanha. Aku bisa jaga diri disini, lagian disini juga ada pembantunya Shinkyung kan? Jadi aku aman”, kata Suho sambil tersenyum.

“Hmm, arasseo. Aku kebawah dulu ya, aku mau bilang sama mereka semua. Eh, tunggu dulu, oppa bener udah baikkan?”

“Iya, tenang aja Ryeo aku pasti baik-baik aja”

“Hmm, yaudah deh kalo gitu. Gomapsumnida nae oppa!”, ujar Ryeona sambil membungkuk dan bergegas pergi membawa mangkuk air dingin.

Suho sedikit senang saat Ryeona mengatakan ‘Nae oppa’, itu menandakan bahwa Ryeona sudah menganggapnya. Namun, Ryeona telah pergi meninggalkan Suho yang sebenarnya sangat ingin berdua bersama Ryeona. “Huh, ternyata rencana ku sekarang, gagal total”, ujar Suho sambil kembali merebahkan badannya dikasur.

Sementara itu, Ryeona …

“Yeorobbun!!”, sahut Ryeona sambil terengah-engah sambil karena berlari.

“Ya, Ryeonie, gwaencanha? Ada apa dengan Suho sunbae?”, tanya Shinkyung sambil melepaskan tenda yang dipegangnya karena saking kagetnya.

“Apa Suho sunbae mati?”, ujar Chaeri dengan polos.

PLETAK!

“Seenaknya saja kau berbicara begitu, hyungku adalah orang yang kuat, kau tahu itu?”, jelas Kai dengan tatapan tajam kearah Chaeri. Alhasil, mata Chaeri berkunang-kunang dan menyebabkan..

“Ya! Kenapa kamu bikin yeoja ku menangis ha?!”, bentak Chanyeol dengan dibarengi pelukan dari Chaeri.

“Mwoya? Dia yang duluan mengajakku berdebat!”, ujar Kai dengan dibalas geraman dan kepalan tangan.

“Ya! Kkeumanhae!”, bentak Ryeona dengan menahan serangan tinju Chanyeol yang tadinya akan diberikan pada Kai.

“Mengapa kalian tidak mendengar penjelasanku terlebih dahulu ha?!”, lanjut Ryeona dengan nafas yang masih terengah-engah. “Begini, kata Suho oppa kita boleh melanjutkan kemping ini, meskipun tanpa dia”, kata Ryeona sedikit lebih tenang dan dia mendapat pelukan dari…?

“Jinjja?! Ah, baguslah kalau begitu. Huray!”, ujar Kai dengan pesaan senangnya ia memeluk Ryeona dan mengangkatnya seperti boneka. Memang sih Ryeona mempunyai tubuh semampai, sehingga tentu saja sangat ringan jika Kai angkat seperti itu.

“Ya!!”, bentak Ryeona dan akhirnya Kai menurunkannya.

Terasa detak jantung mereka berdua berdetak 2x lebih cepat dari yang sebelumnya. Dan akhirnya mereka bertatapan sebentar dan diakhiri oleh teriakkan dari Shinkyung.

“Horeee!!!! Jjagi, kita bisa satu tenda nih!”, teriakan Shinkyung membuat semua yang disana apalagi Baekhyun yang berada sangat dekat dengan Shinkyung menutup telinga.

“Gimana kalo kita juga setenda jjagi?”, kata Chaeri polos.

“Ouh, ide bagus chagiya”, kata Chanyeol senang dengan mengecup singkat bibir mungil Chaeri.

“Aigoo, ckckck”, desah Ryeona. “Eh, chamkamman Kyungie! Chaeri-ahh! Kkeureom na??”, sahut Ryeona dengan penuh pertanyaan dan menunjuk dirinya sendiri.

“Mwoareungoya? Ya sama Kai lah”, ujar Shinkyung masih menatap namjachingu nya Baekhyun.

“MWOO?!!!”

.

.

.

TBC ^^

Ehehehe..

Eottae reader-deul? Baguskah? Jelekah? Tell me, tell me, tell me now… #joget bareng Jinyoung

Please comment nya ya reader-deul, biar kalo ada kesalahan aku bisa memperbaikinya 😀 hehehe

And at the end.. saranghae buat yang udah baca ^-^ *moash.. moash..*

Iklan

34 pemikiran pada “Hard To Be Love (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s