Khayalan Seorang Kai Bias

TITTLE: Khayalan seorang Kai bias.

Cast: Kirana (OC/ You)
Kim Jongin.

Genre: Maunya sih Romance… Tapi kalo kalian mau anggap ini Comedy (walaupun sama sekali nggak ada lucu-lucunya), juga nggak apa-apa.

Author: AAL (@adlnayu / @y00nkai)

Length: Ficlet

 

Notes: pernah di post di hazelwine.wordpress.com (blog pribadiku)

Dari judulnya aja udh nggak penting. Emang ini ff nggak penting sih. Ff ini kubuat jam 11 malem krn lg galau mikirin Kai. Tiba-tiba fikiran aku melayang dan mulai berimajinasi, gimana kalo Kai itu orang biasa dan satu sekolah sama aku? Hehe dan jadilah ff nista ini.

Ff ini berlatar belakang di indonesia dan di SMA negeri. Hehe. Bayangin aja kalo ini POV kalian. Siapa tau bisa bikin hati melayang kekeke.

 

Ps: yg dimaksud ‘kamu‘ disini tentu saja si Jongin ya :).

Ah dan satu lagi. Tadinya aku ingin membuat si tokoh OC ini dengan _  _ _ _ alias bisa isi dengan nama sendiri. Tapi setelah dibaca-baca ko jadi aneh. Makanya kupakai nama Indonesia yaitu Kirana. Aku suka banget dengan nama ini. malah aku ingin memberikan nama anakku ini kalo udh gede nanti. (oke gaada yang nanya).

Kenapa aku pakai nama Indonesia? Ya gak kenapa-kenapa. Biar matching aja kan ff ini berlatar belakang Indonesia. Hehe :-p

Oke gausah banyak bacot lagi. Silahkan membaca J

Kirana‘s POV.

Kim Jongin aka Kai. Diantara semua artis korea yang ganteng nan kece kenapa aku harus terpikat pada muka mesum dan hidung pesek milikmu? Kenapa bukan sama Lee Min Ho saja yang jelas jauh lebih unggul darimu baik dari segi fisik maupun bakat (kecuali dance ya itu sih jelas kamu menang)? Ah, sudahlah. Tidak akan ada habisnya jika aku tetap menyalahkanmu. Lebih baik aku berimajinasi saja tentang kamu.

***

Aku berimajinasi kamu tinggal disini. Di negara ku. Dan jadi orang biasa. Kamu senior kelas tiga sedangkan aku masih duduk di kelas satu di salah satu SMA negeri di Indonesia. Lalu aku jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu saat kamu sedang memasukan bola basket ke dalam ring.

Keringat bercucuran dari pelipismu. Peluh membasahi seragam putih abu-abu yang sedang kau kenakan. Aku yg habis dari kantin sama Atikah (anggap aja ini nama teman kamu) terpesona. Melihatmu yang sedang mendribble bola dan memasukannya kembali ke dalam ring dengan lompatan yang sangat indah.

Lalu saat tubuhmu sudah kembali menapakki lapangan akibat gaya gravitasi, pandangan kita bertemu. Cepat-cepat kutundukan kepalaku agar tidak beradu mata denganmu. Malu jika ketahuan sedang memperhatikanmu. Namun kamu sempat menangkap pandanganku.

Kamu tersenyum tipis padaku sambil melambaikan tangan santai,lalu kembali sibuk dengan bola basket itu. Sementara aku susah payah mengingat bagaimana caranya bernafas.

Pertemuan kedua kita terjadi saat moving class. Aku yg ingin masuk kedalam lab.biologi berpapasan denganmu yg ingin melangkah ke ruang sejarah.

Lagi, aku hanya bisa memandangimu dalam diam. Kamu melangkah dengan percaya diri padahal tahu hari itu sang guru sejarah, mau memberikan tes dadakan yang aku yakin nggak akan bisa kamu kerjakan.

Namun kamu tidak peduli itu. Senyum jenaka tetap terlukis diatas wajah tampanmu. Tas ransel berwarna hitam bergalayut di pundakmu yang lebar. Sesekali kamu tertawa mendengar candaan dari teman disampingmu.

Lalu kejadian itu terjadi lagi. Pandangan kita kembali bertemu.

Bingung. Aku tidak mungkin menundukan kepalaku karena kini, kedua mataku benar-benar terkurung pada senyum yang tiba-tiba terlukis diwajahmu. Kamu mengangguk kecil, dan kembali melangkah masuk ke dalam ruang sejarah lalu menutup pintu kelas. Pelajaran sebentar lagi akan mulai.

Dan lagi-lagi aku hanya bisa termenung sambil memeluk erat buku paket biologiku. Menetralisir perasaan aneh yang mengalir dalam aliran darahku untuk kedua kalinya dalam hari ini.

Siapa dia? Batinku.

Kutolehkan kepalaku menatap pintu sejarah yang sudah tertutup rapat itu, lalu tersenyum kecil.

Semoga aku bisa bertemu denganmu lagi.

***

Lalu kejadian itu terjadi, lagi dan lagi. Sampai aku tidak bisa mengingat lagi, sudah berapa kali kedua mata ini terkurung dalam senyum manismu. Kamu tersenyum padaku, namun tak kuasa raga ini untuk membalasnya. Hanya bisa menatapmu dalam diam ataupun menundukan kepala sambil menyembunyikan rona merah yang muncul di kedua pipi.

Aku tidak tahu siapa kamu. Yang jelas kamu seniorku. Aku juga tidak tahu jurusan apa yang kau ambil. IPA,IPS atau Bahasa? Ah, tidak penting. Yang jelas, bisa melihat dirimu setiap hari sudah sukses untuk membuat diriku mematut di depan cermin lebih lama dari biasanya, ataupun pergi ke toilet hanya untuk memeriksa apakah rambutku masih layak dilihat atau tidak.

Bila beruntung aku akan berpapasan denganmu. Bila tidak, aku hanya bisa menerka-nerka pelajaran dan guru seperti apa yang sedang kau hadapi saat itu.

Sampai suatu ketika, saat kita berpapasan (lagi) aku mendengar suara salah satu temanmu yang memanggil namamu dengan lantang, “JONGIN!’

Sontak kamu menoleh. Lalu menyambut rangkulan akrab dari temanmu itu.

Lalu, sambil mengiringi langkahmu dengan pandanganku yang kian menjauh. Aku tersenyum kecil.

Jongin. Akan kuingat kata itu.

***

Waktu berlalu, dan tidak terasa kalender tua yang terpasang di rumahku sudah menunjukan bulan mei. Bulan dimana senior kelas tiga sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi Ujian akhir dan Ujian nasional. Melahap soal-soal setiap hari. Menghafal, menghitung, dan mencari cara paling jitu untuk menyelesaikan suatu soal.

Dan kamu, salah satu diantaranya.

Mungkin, karena sedang masa ujian, sekolah sementara menghentikan sistem moving class agar guru-guru tidak kesulitan antara mencari kelas untuk kegiatan belajar dan mengawas ujian.

Teman-teman sekelasku bersorak sorai gembira. Itu berarti mereka tidak perlu memikul beban berat -yaitu tas- setiap ganti pelajaran untuk pindah ke kelas lain.

Semua begitu, kecuali aku.

Karena moving class ditiadakan, frekuensi pertemuan kita menjadi sangat jarang. Dalam seminggu, mungkin aku hanya bisa bertemu denganmu dua kali. Itupun, kau ada di lapangan, sedangkan aku memperhatikanmu diam-diam dari lantai tiga. Atau sebaliknya. Aku yang sedang berolahraga dilapangan, memperhatikanmu yang sedang berdiri di depan ruang seni untuk menghadapi ujian praktek.

Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, aku menyadari sesuatu.

Jadi…. Begini rasanya, mengamati seseorang dengan satu arah. Aku selalu memperhatikanmu dari jauh. Berharap akan bertemu denganmu setiap kedua kaki ini melangkah. Dan berdoa setiap malam agar senyum itu kembali kau tunjukan padaku. Namun, sekarang aku tersadar, apakah benar, senyum manis yang kerap terpatri itu, memang ditunjukan padaku?

Lalu, aku sampai pada tahap dimana  aku telah jatuh cinta. Rasa ini muncul begitu saja saat pertama kali melihat dirimu yang sedang memasukan bola basket ke dalam Ring. Dan saat itu juga, kau berhasil mengambil tempat di dalam hatiku, yang sebelumnya tidak pernah terisi oleh siapapun.

Sang waktu kembali berputar, dan kalender tua itu menyadarkanku bahwa sekarang sudah bulan juni. Bulan kelulusan.

Jujur, aku begitu takut hari ini akan datang. Hari dimana, menjadi akhir bagi pertemuan-pertemuan kecil kita. Setelah hari ini selesai, aku tidak bisa lagi melihatmu bermain basket di lapangan. Memperhatikanmu yang Tertawa lepas sambil bersenda gurau dengan teman-temanmu di kantin. Ataupun tertawa kecil saat melihatmu di hukum guru BP karena kerap terlambat.

belum apa-apa, aku sudah rindu padamu. Aku rindu dengan kenangan kecil kita. Walaupun mungkin kamu menganggap ini bukan apa-apa, tapi paling tidak, ini adalah salah satu kenangan berharga pada masa putih abu-abuku di tahun pertama.

Aku mendudukan tubuhku pada bangku panjang yang menghadap lapangan. Memperhatikan senior kelas tiga yang sedang tertawa-tawa bahagia karena akhirnya dapat lulus dari sekolah ini. Lihat mereka, berlari-larian sambil menggenggam spidol lalu menandatangani seragam masing-masing.

Dan diantara sekumpulan orang itu, aku melihat kamu. Sedang menandatangani seragam milik salah satu teman wanitamu. Lalu, kalian berdua berfoto bersama. Aku tidak tahu apa hubunganmu dengannya, tetapi ketika melihat kalian yang berpose sambil berangkulan mau tidak mau berhasil membuat api cemburu ku menyala. Namun cepat-cepat kutepis rasa itu.

Lalu, kejadian itu terjadi lagi. Seperti saat itu. Di tempat yang sama. Di lapangan ini. Tempat pertama kali aku melihatmu, pandangan kita kembali bertemu. Dan sekali lagi aku lupa bagaimana caranya untuk bernafas.

Kembali, cepat-cepat kutundukan kepalaku untuk menyembunyikan rona merah itu. Namun tidak bisa kusembunyikan bunyi detak jantungku yang berdentum kian keras saat melihatmu berjalan mendekat kearahku. Langkah kaki itu pelan, namun setiap gerakkannya mampu membuatku melayang dan  lupa tempat berpijak.

Kini, kamu sudah berdiri tepat dihadapanku. Memandangku, dengan senyum itu. “Hai.”

Kuselipkan kedua tanganku yang bergetar di dalam saku rok abu-abuku, lalu dengan berani, kubalas tatapan kedua bola matamu, “H-Hai ka.”

“Ngapain kamu disini? Bukannya…. Anak kelas satu hari ini libur?” Tanyamu lagi. Nada ramah terselip dalam tiap kata yang kau ucap.

Darimana dia tahu aku kelas satu?

“A-aku… Habis mengembalikan buku di perpustakaan ka.” Jawabku canggung, sambil tak lupa melengkungkan senyum.

Kamu membalas senyumku. Lalu mengambil tempat duduk yang tepat berada disampingku, dan menghela nafas. “Sedih ya, akhirnya berpisah juga dari sekolah ini.”

Aku tidak begitu mendengar apa yang kau ucapkan, karena suara detak jantungku benar-benar minta diperhatikan. Berkali-kali kukutuk jantung ini agar berhenti mengeluarkan suara yang lebih mirip dengan hentakan kaki gajah. Aku tidak ingin dia mendengar suara yang memalukan ini.

“Mungkin, ini terakhir kalinya aku menginjakan kaki di sekolah ini.” Katamu lagi. Dan kali ini sukses membuatku menolehkan kepala.

“Kenapa?” Tanyaku hati-hati. Sedikit bingung. mengapa dirimu memberitahukannya pada orang yang sama sekali tidak kau kenal seperti aku?

“Orangtuaku menyuruhku untuk kuliah di luar negeri. Mereka ingin aku mengikuti jejak mereka sebagai lulusan universitas Harvard ataupun oxfort.” Kamu tersenyum kecut, “Terlalu muluk ya?”

“E-Enggak ko ka.” Aku menggeleng kecil, “Kakak pasti bisa. Aku yakin itu.”

Kamu tertawa kecil, lalu menatap wajahku, “Kenapa kamu berkata seakan tahu segalanya tentangku?”

Karena aku selalu memperhatikanmu.

“Aku……..” Kutelan kembali kalimat yang tiba-tiba muncul dibenakku itu, “Aku tidak tahu tapi… Yang jelas aku yakin kakak pasti bisa”

Kamu tertawa lagi. Kali ini lebih keras. Tapi terdengar menyenangkan. Bukan meremehkan. “Terima kasih.” Lalu kamu mengangkat sebelah tanganmu, dan dengan lembut kamu mengusap puncak kepalaku.

Kontak fisik yang pertama. Setelah setahun memperhatikanmu, ini adalah kontak fisik yang pertama. Dan apakah akan menjadi yang terakhir juga?

Lalu kamu tidak mengatakan apa-apa lagi. Dan aku terlalu takut untuk berbicara. Jadi disinilah kita. Hanya duduk terdiam sambil memandangi sekempulan orang yang masih asyik bersenda gurau dalam balutan seragam putih abu-abu yang sekarang sudah tidak jelas warna aslinya apa.

Entah kenapa, tiba-tiba aku ingin menangis. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita. Mungkin setelah ini aku tidak bisa melihatmu lagi. Mungkin ini adalah kesempatan terakhir.

Aku tidak mempunyai cukup keberanian untuk menyatakan perasaanku ini padamu. Dan aku juga tidak berharap kau membalasnya. Aku hanya ingin kamu ada disini. Biarkan aku memperhatikanmu dalam diam seperti biasa. Asal bisa melihat dirimu saja, itu sudah cukup bagiku.

“Aku…….” Akhirnya kamu kembali berkata setelah sekian menit membisu , “Selama ini selalu penasaran denganmu.”

Dan kalimat itu sukses membuat mulutku setengah terbuka. Kaget. Bingung. Dan…. Senang. “A-Aku kak?”

“Iya.” Kamu tersenyum. Manis sekali. “Aku penasaran denganmu.”

“Ke-Kenapa….?”

“Tidak tahu.” Ia mengangkat kedua bahu santai, “Yang jelas, melihatmu setiap hari menjadi kegiatan baru pada tahun terakhirku di sekolah ini.”

Dan kamu adalah kenangan terindah pada tahun pertamaku di sekolah ini.

“Menyenangkan rasanya melihatmu yang tertunduk malu saat berpapasan padaku. Eh, kalau itu memang benar karena aku loh.” Katamu sambil tertawa kecil.

“Aku juga…. Senang saat melihat kakak ada di sekitarku.” Aku tidak tahu keberanian ini muncul dari mana. Yang jelas, aku ingin mengatakannya, sebelum tubuh ini meledak oleh perasaan yang meletup-letup hebat. “Aku senang kakak ada disini.”

Dan yang tidak kuduga adalah kamu berkata sambil tersenyum lagi, “Aku juga.”

Hanya dua kata. Tapi, bolehkah aku berharap lebih?

“Hei, sudah lama ternyata kita saling memperhatikan tapi kalau boleh jujur aku tidak tahu siapa namamu.” Kamu tergelak lagi. Menunjukan deretan gigimu yang rapih lalu mengulurkan satu tangan, “Namaku Jongin. Kamu?”

Aku dapat merasakan setitik air mata jatuh dari pelupuk mataku. Namun kali ini, bukan karena perasaan sedih akan berpisah denganmu. Air mata ini merupakan sebuah awal. Awal bagi, aku. kamu. Kita.

“Kirana.”

Dan saat itu, aku menyadari bahwa diriku kembali jatuh cinta padamu. Lagi, dan lagi. :-).

-END-

Hayooo itu bacanya nggak usah terlalu serius sampe senyum-senyum gitu ah. :’p /plak /apasih

Hehe. Aneh ya? Maaf ya. Namanya juga iseng. Nggak sampe sejam pula aku bikinnya, jadi pasti banyak typo. Maaf ya.

Tapi… tetep. Jangan lupa RCL ya? Makasih karena sudah baca ^^

47 pemikiran pada “Khayalan Seorang Kai Bias

  1. Astaga.. gue bukan senyum senyum tapi malah nangis karna ceeita ini tuh kaya nge flashback waktu gue kelas 7 smp tapi beda nya kaka kelasnya itu bkn kelas 9 tapi kelas 8 smp .. huuuaaa… sumpah deh gue nangis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s