Turn Back

Author : fishyflameye

Title : Turn Back

Main cast :

  • Oh Se Hoon
  • Jung Hye Min (OC)

Other cast :

  • Kim Na Ra (OC)
  • Xi Lu Han
  • Cho Min Ah (OC)

Length : Oneshot

Genre : Romance, Friendship, Comedy

Rating : T

Author Note: Kyaaaaaa! This is my first fanfiction! So, don’t be silent reader please 🙂 ff ini udah aku publish di wordpress pribadiku cuman karena masih sepi bangetttt jadi aku kirim deh ke sini._. masih pemula jadi butuh sarannya u,u tulisan bercetak tebal itu flashback, typo harap dimaklumin 😀 gamsahamnida buat adminnya karena udah mau ngepost ff sederhana ini 😀 okaay, langsung sajaa.

Happy readers 😀

***

Jung Hyemin POV

“Sehun~ya, ayo kita ke kantin”

Ne

“Seharusnya yang mengajak Sehun ke kantin itu kamu” ucap seseorang dari arah belakangku.

Ya! Nara~ah! Tidaklah, itu hanya masa lalu”

Kim Nara, sahabat dekatku. Jika tidak ada dia, entahlah bagaimana nasibku sekarang. Memang berlebihan ucapanku tersebut, tapi nyatanya aku selalu bercerita dengannya, begitu pula dengannya.

“Huh, memang kenyataannya begitu. Jika tidak ada yeoja pengganggu itu, sekarang kaulah yang mengajaknya ke kantin”

Aku terdiam….

Oh Sehoon. Iya, dia memang mantan namjachinguku. Rasanya aku tak mau mengingat tentang hal itu lagi. Tapi entah mengapa aku selalu memperhatikan ia dan yeojachingunya itu, aku memang selalu penasaran. Tapi rasa penasaran yang ku rasakan justru membuat batinku tersiksa.

“Sudahlah, kita ke kantin saja yuk. Tidak baik lama-lama memikirkan namja seperti itu”

“Ahahaha, ne

Nara memang selalu membuatku semangat lagi, bisa dibilang dia itu moodbosterku.

Lagi-lagi malang menimpa nasibku, kantin penuh! Dan aku mendapatkan meja tepat samping meja Sehun dan yeojachingunya itu. Awalnya aku ingin mengurungkan niatku untuk makan di kantin, tapi lagi-lagi Nara mencegahku.

“Sudahlah, kau jangan menghindar seperti itu, kau payah jika seperti itu. Buktikan bahwa kau tidak peduli dengan Sehun lagi”

Nara benar, benar sekali. Ku hampiri meja yang berada di sebelah meja Sehun tersebut. Entah Sehun melirik atau tidak ke arahku, aku tak ingin melihatnya.

***

Sillye hamnida seonsaengnim. Bolehkah saya izin ke toilet?”

“Ah, ne Hyemin~ah, juseyo

Negamsahamnida saem

Ku langkahkan kakiku keluar kelas menuju toilet. Sebenarnya aku tidak terlalu kebelet, tapi ya daripada aku bosan di kelas. Aku memang murid yang nakal, ckckck.

Sampailah aku di toilet yeoja yang berhadapan dengan toilet namja. Hanya ada aku seorang disini. Tadinya aku mau mengajak Nara, tapi dia sedang konsentrasi dengan pelajaran Jun seonsaengnimitu. Tumben sekali dia se-rajin itu.

Selesai mencuci muka, aku melangkahkan kaki keluar toilet.

Ku lihat ada sepasang kaki di depanku, kaki yang baru saja keluar dari toilet namja. Ku angkat wajahku agar bisa melihat wajahnya.

Seseorang yang memakai seragam sekolah ditambah blazer hitam yang menutupi seragam.

Kenapa aku harus bertemu dengannya? Dengan Oh Sehoon! Dia tersenyum padaku, cih! Ku langkahkan kakiku, meninggalkannya sendirian.

Tapi sepertinya aku gagal, ada tangan yang menahan tangan kiriku.

“Bisakah kau memaafkanku? Aku tau aku salah, aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa melakukan hal seperti itu terhadapmu. Hyemin~ahmianhamnida

Tak bisa ku bendungkan, ternyata air mataku jatuh begitu saja. Untung saja saat ini aku tidak berhadapan dengannya, hanya saja tangannya terus menahan, menggenggam tangan kiriku.

Ne, aku sudah memaafkanmu sejak kejadian itu terjadi, mungkin sebelum kejadian itu terjadi” balasku sambil melepaskan tanganku dari genggamannya tanpa menengok sedikitpun ke arahnya.

Sepanjang jalan menuju kelas, air mataku tak kunjung mengering. Ya! Bagaimana jika Junseonsaengnim melihat? Aish! Itu sangat memalukan!

Ku usap kedua pipiku yang lembab, begitu pula mataku. Sambil berharap agar aku tidak terlihat seperti orang yang habis nangis.

Mianhamnida seonsaengnim, saya terlalu lama”

Gwenchana, duduklah ke tempatmu”

Aku langsung duduk di tempatku, di barisan ke tiga, bangku kedua dari depan.

“Kau kemana saja? Lama sekali” tanya Nara yang penasaran.

“Kau saja yang berlebihan”

“Kau kenapa sih?”

Nara yang penasaran pun perlahan membelokan wajahnya ke arahku, agar wajahku terlihat olehnya dengan jelas.

“Kau habis menangis yah? Ya! Apakah kau tadi bertemu dengan Sehun? Dia berbicara apa terhadapmu? Marhaebwa!”

Aish! Jinjja! Kenapa dia bisa tau! Dia memang tau betul tentang aku.

“Sudahlah, pelajaran sedang berlangsung, nanti saja aku ceritakan, saat pulang sekolah”

Ia membalas ucapanku dengan anggukannya yang menurutku membuat ia terlihat lucu.

***

“Tadi aku bertemu dengannya, dan…….ia meminta maaf denganku” ceritaku singkat kepada Nara.

Aku menundukan kepalaku sambil terus melangkahkan kaki, sesekali aku menendang kerikil yang ada di depan kakiku. Aku dan Nara selalu pulang bersama, karena rumah kami searah, walaupun Nara lah yang sampai ke rumahnya terlebih dahulu.

“Cih! Masih berani saja dia meminta maaf seperti itu kepadamu” ucapnya yang terlihat kesal.

“Huh, sudahlah. Lupakan saja”

“Lalu, bagaimana pendekatanmu dengan artis sekolah kita itu? Ahahaha” lanjutku memecahkan suasana canggung.

“Ah, itu benar-benar tidak mudah. Banyak sekali yeoja yeoja gatel yang mendekatinya. Ingin sekali aku menggaruk wajah mereka”

Ya! Kim Nara menyeramkan sekaliiiii” ledekku terhadapnya.

Ya!”

Andwae! Kau jangan menggaruk wajahku Nara~ah

Kami tertawa bersama, jalanan yang sepi itu serasa milik kita berdua, kami berlarian kesana sini, saling mengejar dan saling meledek.

Sampailah kami di depan rumah Nara.

“Kau tidak ingin main dulu ke rumahku Hyemin~ah?”

Shireo, kau tau kan aku tinggal sendirian. Jika di rumahku tidak ada aku, berarti rumahku kosong. Aku tidak akan berlama-lama membiarkan rumahku sendirian”

“Ah ne, terserah kau sajalah. Josimhae Hyemin~ah

“Ne, gomawo Nara~ah

Setelah saling melambaikan tangan, aku melanjutkan langkahku menuju rumahku.

Aku mengikuti test masuk SMA Han, tak ku kira ternyata aku bisa diterima di sekolah ini. Orangtuaku memilih tetap tinggal di Mokpo dan berhubung kedua orangtuaku memiliki rumah di Seoul yang dibilang minim, karena hanya miliki satu ruangan ditambah dengan kamar mandi saja. Akhirnya aku tinggal di Seoul seorang diri, hitung-hitung agar mandiri.

Aku teringat kejadian sebulan yang lalu, kejadian yang sangat menyakitkan bagiku.

***

Bosannya aku hanya menonton tv di rumah. Malam ini, namjachinguku, Oh Sehoon sedang ada acara keluarga. Aku sangat bosan, hingga akhirnya aku memutuskan untuk keluar rumah.

Ku keluarkan motor untuk menjemput Nara, aku memakai motor hanya untuk berpergian, karena kalau sekolah sangat macet dan aku sangat tidak suka kemacetan. Lebih baik jalan kaki saja, lagipula letak sekolahku tidak terlalu jauh.

From: Jung Hyemin

Ya! Aku sudah di depan rumahmu”

From: Kim Nara

“Ah, mianhae Hyemin~ah. Aku tidak dibolehkan keluar dengan eommaku, jeongmal mianhae 😦 

From: Jung Hyemin

“Ah, neGwenchana Narannie 😀 ”

From: Kim Nara

Ya! Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!

Aku tak membalas pesannya tersebut, aku hanya tertawa cekikkan di depan rumahnya karena membayangkan ekspresi mukanya saat aku memanggilnya “Narannie” ckckck. Dia tidak suka dengan panggilan itu, karena baginya itu terlihat sangat menjijikan.

Ku lanjutkan perjalananku dengan motor kesayanganku ini. Aku berkeliling kota Seoul di malam hari, mencari tempat makan yang enak.

Ahiya, aku akan ke café yang berada di samping N Seoul Tower.

Ku percepat kecepatan motor maticku tersebut. Dan sampailah aku di café yang berada tepat di samping N Seoul Tower.

Ah, pemandangan yang cukup membuatku tenang.

Ku teguk cappuccino yang hangat, benar-benar tenang rasanya.

Aku menikmati pemandangan Seoul di malam hari.

“Aku baru menyadari, kota ini indah juga hihi” ucapku dalam hati.

Ku teguk kembali cappuccino yang mulai dingin ini.

Tapi kali ini bukan rasa tenang yang kurasakan.

Aku bagaikan cappuccino yang ku teguk tersebut.

Awalnya hangat, makin lama aku menjadi dingin.

Apakah itu benar dia?

Aku melihat Sehun dengan yeoja lain.

Sepertinya aku tau yeoja itu.

Itu……

Cho Minah.

Teman sekelasnya Sehun. Ne, aku dan Sehun tidak sekelas.

Ah, mungkin itu hanya sekedar teman.

Tapi tunggu….Sehun bilang malam ini ada acara keluarga, untuk itu ia tak mau menemaniku malam ini.

Jadi….karena yeoja ini? Karena Minah dia tidak mau menemaniku malam ini?

Ya! Aku lihat itu! Aku lihat! Aku melihat mereka berpelukan!

Air mataku perlahan turun membasahi pipiku. Secepat itukah air mataku turun?

Ingin segera aku menghampirinya, menyudahi hubunganku dengan Sehun. Karena aku tak kuat menahan rasa sakitnya. Ini memang berlebihan, tapi ini setara dengan sakit yang ku rasakan.

Ku lihat Minah meninggalkan Sehun sendirian. Dan aku mencoba untuk menghampirinya. Ku  langkahkan kakiku masih dengan wajah tidak percaya.

“Sehun~ah…….” sapaku lirih menahan air mataku.

Sehun yang melihatku, langsung membulatkan matanya.

Air mataku tak dapat dibendung lagi, jatuh lagi dan membasahi pipiku lagi.

“Hyemin~ah…..” ucap Sehun yang masih membulatkan matanya tak percaya.

Aku tersenyum kaku kepadanya, mencoba memberitahu bahwa aku baik-baik saja.

“Sebaiknya kita akhiri hubungan kita, neGomawo untuk semuanya” ucapku masih tersenyum kaku. Aku mengatakannya langsung to the point. Karena aku tidak mau lama-lama melihatnya. Dan aku tidak mau membuang air mataku banyak-banyak di depannya.

Dia menahan tangan kananku.

“Lepaskan tanganku Sehun”

Shireo

Ya!”

“Tolong dengarkan penjelasanku, jebal

“Apa yang harus dijelaskan lagi? Semua sudah sangat jelas”

Jebal Hyemin~ah

Aku terdiam, menunggu penjelasan yang ingin ia katakan.

“Aku……….a….aku…aku mengaku aku salah. Tapi kau jangan salah faham dulu.  Ingatlah, aku benar-benar mencintaimu”

“Kau boleh memukulku sebanyak yang kau mau Hyemin~ah” lanjutnya semakin menarik tanganku.

“Memukulmu? Cih! Itu hanya membuang-buang waktuku” ucapku yang mungkin terlihat sedikit menghinanya, agar aku terlihat kuat di depannya.

“Kau bilang kau benar-benar mencintaiku? Berbuat seperti ini……..kau masih bisa berkata seperti itu? Sadarlah Sehun~ah! Kau telah berbohong kepadaku, kau telah membakar seluruh kepercayaanku kepadamu!”

Berlebihan memang berkata seperti itu, tapi inilah yang kurasakan.

Seluruh pengunjung di café ini melihat ke arah kami. Dramatis memang, tapi aku tak memperdulikan mereka.

Ku lepas tanganku dari genggamannya dan aku berjalan cepat keluar dari café tersebut.

Ternyata Sehun mengikutiku. Aish! Apasih maunya namja ini? Dia menahan tangan kananku, lagi!

“Lepaskan tanganku” ucapku tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya karena aku tak ingin ia melihat aku menangisinya, aku akan terlihat lemah jika ia melihatnya.

Shireo Hyemin~ah

“Lepaskan Oh Sehoon!” bentakku dengan keras.

Shireo Hyemin~ah!” bentaknya yang tidak kalah kerasnya.

“Seharusnya kau berfikir, sekarang kau sudah memiliki yeojachingu impianmu, kenapa kau masih memikirkanku? Namja babo!”

“Dia bukan yeojachinguku Jung Hyemin! Kaulah yeojachinguku! Aku hanya mencintaimu!”

Air mataku semakin menjadi-jadi, aku tak bisa membalas perkataannya tersebut.

“Lepaskan aku”

Aku melepas tanganku kemudian ia menahannya lagi.

“Lepaskan Sehun~ah

Nada suaraku kini terdengar seperti orang menangis.

Shireo

“Kau mau aku teriak agar semua orang memukulimu?!”

Ne! Aku memang pantas kan mendapatkan itu”

“Cukup Sehun! Kau benar-benar ingin membunuhku secara perlahan”

“Hyemin~ahmianhamnida

Aku tak membalas perkataannya tersebut, aku langsung melepaskan genggamannya dan pergi mengambil motorku, mengendarai motorku dengan kecepatan yang sangat cepat, agar air mataku mengering.

Namja babo! Mengatakan perkataan seperti itu, sementara hatiku sudah hancur dibuatnya, tidak berfikir sama sekali. Air mataku terus mengalir, mungkin orang-orang yang melihatku berfikir aku layaknya orang gila, karena mengendarai motor sambil menangis.

Sampainya di rumah, aku menelfon Nara, bercerita panjang lebar sambil terus menangis, ahyeoja babo! Masih saja aku menangisi namja tersebut. Tapi Nara, ia terus mencoba menghiburku.

 

***

 

Ya! Kau tau tidak?! Ta….”

Belum selesai Nara bercerita denganku, aku memotong ceritanya tersebut dengan candaanku.

“Ya manaku tau, kau saja belum cerita ke aku”

“Aish! Jinjja! Dengarkan aku dulu..”

“Ahahaha ne

“Kau tau, tadi saat ke toilet, aku bertabrakan dengan ia, dengan Xi Luhan! Aigooo, ternyata ia lebih imut jika dilihat dari dekat”

Jinjja?! Whoaaa, ini adalah hari keberuntunganmu Nara~ah

“Tapi saat kau bertabrakan dengannya, kau tidak menunjukan derp facemu kan?” lanjutku meledeknya.

Ya! Hyemin~ahJinjja! Kau memang mencari masalah denganku!”

Beginilah kami, selalu seenaknya melakukan sesuatu dimana pun, ckckck.

Ya! Lihat itu” ucap Nara yang menyikut lenganku sambil menunjuk ke suatu arah dengan matanya.

Aku yang sedang tertawa saat itu juga berhenti dan mulai membulatkan mata tak percaya.

Kini adalah waktu pelajaran Jong songsaenim, tapi berhubung Jong songsaenim tidak masuk, aku dan Nara memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi sekolah.

Di koridor ini, sepi sekali.

Aku mengira di koridor ini tak ada orang, tapi dugaanku salah.

Nara yang berjalan tepat di sebelahku melihat dua orang seperti sepasang kekasih.

Namja itu…

Itu Sehun.

Dengan yeojachingunya itu. Cho Min Ah.

Untuk apa mereka berduaan seperti itu di koridor yang sepi?

Aish! Jinjja! Kenapa aku harus peduli dengannya?

“Ah sudahlah, lebih baik kita lewat jalan lain saja. Malas sekali aku melihat namja playboy seperti itu” ucapku yang membalikan arah diikuti Nara yang mengejarku perlahan.

***

Disini lah kami, di jembatan Cheonggyecheon, menikmati keindahan sungai Cheonggyecheon.

“Coba kau seorang namja” ucap Nara yang menahan wajahnya di tangan kanannya itu.

“Aish! Kau jangan ngomong begitu! Aku jadi takut denganmu”

“Aku berbicara seperti itu bukan berarti aku menyukaimu baboya!”

TUK”

Ya!”

Huh, ucapan Nara itu dilanjutkan dengan ketukan tangannya di kepalaku.

“Disini ramai sekali, sebaiknya kita pulang sebelum kau hilang di tempat ini”

“Hyemin~ah, berhenti meledekku”

Ne” jawabku singkat karena aku sibuk tertawa.

“Oops! Sepertinya perjalanan kita menuju rumah akan tertunda” ucapku sembari mencegah langkah Nara yang berada di sebelah kiriku dengan tangan kiriku.

MwoWae?”

Aku tak menjawab pertanyaannya, aku hanya menunjukan suatu arah dengan mataku. Nara perlahan menengok ke arah yang ku tunjuk, senyuman perlahan terukir di wajahnya. Aku tau sekali, dia pasti sangat senang.

Xi Luhan, dialah orang yang ku tunjukan kepada Nara.

“Hyemin~ah, kita mengikutinya yuk! Jebal, kau mau yaah” ucap Nara sembari menunjukan puppy eyesnya.

Ne, Narannie”

Seketika senyumannya hilang.

“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!”

Aku hanya tertawa cekikikan.

Toko baju pengantin? Uh? Untuk apa?

Untuk apa Luhan menuju toko ini?

Ya! Ternyata dia bertemu dengan yeoja disini, sepertinya sudah janjian.

“Nara~ah, itu, kau tau yeoja yang bersama Luhan?”

Mwo? Ah, ani

Ya, kau jangan cemberut begitu”

Aku heran dengan Luhan, dia janjian dengan yeoja bertemuan di toko baju pengantin. Masa iya ia ingin menikah? Sementara kami baru saja kelas 2 SMA.

Mwo? Luhan merangkul yeoja itu? Ah, aku tak berani melihat ke arah Nara, wajahnya pasti sudah menampakan kekecewaan.

“Nara~ah…..” ucapku lirih sembari menengok ke arahnya perlahan.

Ku lihat ia menunduk kecewa.

Ya, kau jangan menundukan wajahmu seperti itu. Ingat! Kau harus kuat! Kau selalu bilang padaku bahwa kau itu kuat, ya kan?”

Nara masih belum menjawab ucapanku.

“Ah, ayolah kita pulang saja”

BRUK

“Ah”

OmooobaboyaJinjja! Aish!

Aku merangkul Nara, mengajaknya keluar dari toko tersebut. Ketahuilah, toko itu lumayan besar jadi kami tidak begitu terlihat.

Babo! Saat mengajak Nara keluar dari toko tersebut, kakiku tersandung kaki dari salah satu pajangan disana! Ahhhh semua orang melihat ke arah kami, begitu pula dengan Luhan dan yeojanya itu!

Luhan yang mengenal wajah kami, mendekatkan diri kepada kami.

“Hyemin~ah? Eunggg, Nara~ah? Sedang apa kalian disini?”

Aniya…..”

Belum selesai aku berbicara, Nara memotong ucapanku tersebut.

Ani, tadi kita berjanjian dengan eommaku disini, tapi ternyata eommaku sudah pergi ke tempat lain, hehehe”

“Ah begitu, baiklah. Kau tidakpapa Hyemin~ah?”

Negwenchana

“Lalu, kau sedang apa disini?” lanjutku bertanya.

“Ah, aku menemani….”

“Ah sudah larut malam, mianhamnida Luhan kami harus pulang. Maaf tidak bisa lama-lama berbicara denganmu. Annyeong” potong Nara.

Sepertinya ia berfikir lebih baik ia memotong ucapan Luhan tersebut daripada harus menahan sakit karena jawabannya tersebut.

***

“Hyemin~ah, kau tidak bersama Nara?”

“Ah, Luhan? Nara sedang ke toilet sebentar”

“Eung, begitu. Baiklah, gomawo

Necheonma

Eh? Tunggu….

“Luhan!”

Ne?”

“Untuk apa kau menanyakan Nara?”

Aniya

Ya! Dia langsung pergi meninggalkanku, aneh.

Nara? Dia kemana? Lama sekali. Sebenarnya dia ke toilet atau kemana sih? Aku sudah menunggunya di kantin sejak bell istirahat berbunyi.

KRIIING….KRIIIING

Aish! Jinjja! Nara lupa dengan aku yang menunggunya di kantin kah? Yasudahlah, mungkin dia sudah di kelas.

Ku langkahkan kakiku menuju kelas sambil terus menaruh tanganku di dalam saku blazer hitam seragam sekolahku.

Mwo? Di kelas pun ia tak ada? Omooo, Naraaaa dimana kauuuu.

“Hyemin~aaaah” teriak seseorang dari arah pintu.

Ya! Kau lupa denganku? Darimana saja kau ini, hah?”

Ya, jangan marah padaku, hehe. Mian.”

Ne, gwenchana. Kau kenapa senyum-senyum seperti itu?”

“Aaah, rasanya aku ingin terjun dari atap sekolah ini”

MwoAndwaeee

“Aish! Aku hanya memperumpamakan Hyemin~ah”

“Kau tau……” lanjutnya seperti malu-malu.

“Luhan……Luhan menyatakan cintanya padaku” lanjutnya kembali.

Mwo?! Ya! Luhan playboy sekali”

Apa-apaan ini, jelas-jelas semalam dia bersama wanita, kenapa sekarang dia malah menyatakan cintanya kepada Nara?

“Ah kau ini, ternyata yang semalam itu noonanya, semalam dia ingin member tahu kepada kita, tapi aku keburu memotongnya”

Mwo? Ternyata Nara salah paham karena ulahnya sendiri, lucu sekali.

“Jadi……kau sekarang yeojachingunya Luhan?”

Ne” ucapnya sembari menutupi wajahnya dengan tangannya.

Chukkae Nara~ah. Whoaaa kau memang lucky girl!” balasku menepuk pundaknya dan memberi selamat kepadanya.

“Bisakah kau perkecil tepukanmu itu?”

“Ah nemianhae hehehe” ucapku mengeluarkan aegyoku.

Gwenchana

Gomawo Hyemin~ah. Kau memang temanku, ah ani, kau memang sahabatku yang paaaaling baik. Kau membantuku dari awal aku suka padanya sampai sekarang, sampai sekarang aku menjadiyeojachingunya” lanjut Nara yang bersemangat.

“Ah, kau berlebihan…..aaah kemarilah sahabatku”

Kami berpelukan, layaknya teletubbies. Tapi inilah kami, aah aku sangat senang melihat Nara bahagia. Walaupun bukan akulah yang mengalaminya, tapi ku akui rasanya aku ingin pula terjun dari atap sekolah ini layaknya seperti yang ingin ia lakukan saat Luhan menyatakan cintanya kepada Nara.

***

Sebulan berlalu.

“Ah, Luhan, Hyemin, mianhae aku tidak bisa pulang bersama kalian. Appaku menjemputku karena akan langsung pergi ke rumah halmeoni

NegwenchanaJosimhae Nara~ah” ucapku tersenyum kepadanya.

Josimhae Narannie chagiya”

“Luhan~ya! Kau jangan mengikuti Hyemin yang memanggilku dengan sebutan itu”

Aku dan Luhan tertawa bersama melihat wajah Nara yang lucu. Nara pun perlahan menjauh dari kami.

Kami melambaikan tangan kepada Nara bersamaan.

“Kau pulang bersamaku kan?” tanya Luhan kepadaku.

“Ah, ani. Aku pulang sendiri saja”

Ya, tapi Nara menyuruhku agar pulang bersamaku. Ia takut kau kenapa-kenapa”

“Kau tau? Dia itu berlebihan”

“Sudahlah, kau pulang duluan saja, ne?” lanjutku.

“Ah, neJosimhae Hyemin~ah” ucap Luhan melambaikan tangan kepadaku diikuti langkah yang semakin menjauh.

Nado josimhae Luhan” teriakku kepadanya yang semakin menjauh.

Fiuh~ aku memasuki sekolah kembali. Sepertinya sudah kosong.

Aku melangkahkan kakiku ke setiap koridor sekolah yang sudah sepi.

Sehun…..

Sejujurnya sampai saat ini aku masih mencintainya, sangat mencintainya.

“Aku mencintaimu Sehun”

“Tapi tidak dengan aku”

“Ketahuilah, aku tidak pernah mencintaimu sedikit pun”

“Jadi kau memilih yeoja babo itu?”

“Berhenti menyebutnya seperti itu!”

“Cih! Bahkan dia sekarang sudah membencimu Sehun~ah!”

Tak ku dengar jawaban dari perkataan tersebut.

“Menjauhlah dariku!”

BUK”

Mwo?! Suara apa itu?

Perlahan aku mencoba melihat lebih jelas dua orang itu.

Ya! Sehun…..

Aku membulatkan mataku dengan sempurna.

Karena takut ketahuan, setelah melihat hal itu, aku langsung pergi meninggalkan mereka.

Oh Sehoon POV

“Cih! Bahkan dia sekarang sudah membencimu Sehun~ah!”

Aku terdiam. Yeoja ini memang benar. Tapi aku takkan lelah untuk mendapatkan kembali yeoja itu, Jung Hyemin.

Eh? Kenapa ini? Kenapa Minah malah mendekat?

“Menjauhlah dariku!”

Ya! Apa yang diinginkan yeoja ini. Mengapa dia mendekatkan diri kepadaku perlahan?

BUK

Tembok? Aku menempel dengan tembok?

Minah semakin mendekatkan…

Dia tepat berada di depanku, dia memegang wajahku.

Perlahan dia mendekatkan kepalanya dengan kepalaku. Apa-apaan ini.

Tunggu, aku melihat Hyemin. Jung Hyemin. Dia mengintipiku sedari tadi?

Tapi sekarang ia kemana? Mengapa langsung menghilang?

Ah, ingin rasanya aku berteriak minta tolong.

“Apa-apaan kau ini!” bentakku mendorong Minah menjauh dariku.

Aku langsung berlari menjauh darinya, mencari Hyemin yang langsung pergi.

TESS” “TESS”

Ah, kenapa harus hujan?

Jung Hyemin POV

Aku benar-benar tidak percaya apa yang Sehun lakukan dengan Minah tadi.

Saat aku masih bersama dengan dia pun, dia tidak pernah seperti itu terhadapku. Ya! Mengapa aku berharap dia seperti itu terhadapku? Sadarlah Hyemin~ah!

TESS” “TESS”

Mwo? Hujan? Sebaiknya aku berlari cepat sebelum semakin deras.

Sebentar lagi sampai, tapi hujan semakin deras. Ah, ada halte bus. Sebaiknya aku berteduh terlebih dahulu, karena jika aku sakit, tidak ada yang mengurusiku.

Blazer hitam seragamku pun tak cukup untuk menahan dingin yang masuk ke dalam tubuhku. Karena hujan yang terlalu deras, jalanan yang ramai pun begitu terlihat karena tertutupi dengan derasnya air hujan.

Seorang namja masuk ke dalam halte bus yang aku pijaki. Seseorang yang tidak asing bagiku. Oh Sehoon. Untuk apa dia di sini? Ah sudahlah aku tidak mau memperdulikannya lagi.

Ketahuilah, di halte ini hanya ada aku dan Sehun. Kau tau, keadaan seperti ini membuatku semakin tersiksa.

Ku dengar suara gertakan giginya, dia kedinginan. Aku cukup mengetahuinya, dia sangat tidak kuat dengan udara dingin. Bisa-bisa dia sakit kalau lama-lama kedinginan. Ah sudahlah Jung Hyemin, kenapa masih peduli dengannya sih?

Tiba-tiba seseorang menarikku dari arah belakangku, membuatku jatuh ke dalam dekapannya. Tidak salah lagi, itu Sehun.

“T…t…to…to…tolong…….hangatkan aku…” ucapku terputus-putus karena dingin yang memasuki badannya.

Ya! Sehun~ah! Kau lupa ini tempat umum? Lepaskan aku”

Aku terus berusaha lepas dari dekapannya, tapi dia malah makin mengeratkan dekapannya tersebut. Dia ini benar-benar playboy!

“Tolong aku…..” ucapnya lirih tepat di telingaku.

“Lepaskan aku dulu”

Dia melepaskan aku tetapi ia tetap memegang kedua tanganku. Dia menunduk dan berusaha melihat wajahku. Dia bergetar kedinginan. Aigooo, tangannya panas sekali, udara yang dingin pun tidak bisa menutupi suhu tubuhnya yang panas itu.

Aku jadi merasa iba kepadanya. Bagaimana pun juga, dia dulu telah memberiku kenangan yang indah..

Hujan pun berhenti walaupun masih menyisakan jalanan yang basah karena derasnya hujan tadi.

“Baiklah, berhubung rumahmu masih jauh sementara rumahku sudah dekat. Kau akan ku bawa ke rumahku. Tenang saja, nanti kau akan ku antarkan pulang” ucapku memegang tangannya dan menaruh tangannya di leherku, menuntunnya jalan.

“Baiklah, kau duduk di sofa ini. Dan jangan kemana-mana”

Oh Sehoon POV

Hujan memang membawa berkah. Tak ku sangka, saat aku ingin berteduh, aku malah bertemu dengannya, Jung Hyemin. Sebenarnya aku memang ingin ke rumahnya, tapi karena hujan, akhirnya ku putuskan untuk berteduh. Aish! Aku benar-benar tidak kuat dengan udara yang dingin.

Ya! Ternyata di halte ini, aku tidak sendiri. Aku bersama seorang yeojayeoja yang sudah ku kenal sejak lama dan sudah ku cintai sejak lama pula. Jung Hyemin.

Ah aku sangat kedinginan, aku mencoba mencari kehangatan dengan memasuki tanganku ke dalam blazer hitamku ini. Tidak mempan.

Aku tau, Hyemin pasti tau kalau aku kedinginan. Dia mengenalku cukup lama, bukan sekedar 1 atau 2 bulan.

Aku menariknya, mencoba memeluknya.

“T…t…to…to…tolong…….hangatkan aku…”

Dia berhasil masuk ke dalam dekapanku. Ia juga berhasil menghangatkan tubuhku seketika.

Ya! Sehun~ah! Kau lupa ini tempat umum? Lepaskan aku”

Dia berusaha keluar dari dekapanku, aku tau itu. Aku semakin mengeratkan dekapanku, aku tak ingin ia lepas dariku.

“Tolong aku…..”

“Lepaskan aku dulu”

Aku melepaskannya, tetapi tetap menggenggam tangannya. Memberi waktu untuk dia berbicara.

“Baiklah, berhubung rumahmu masih jauh sementara rumahku sudah dekat. Kau akan ku bawa ke rumahku. Tenang saja, nanti kau akan ku antarkan pulang”

Dia menuntunku berjalan ke arah rumahnya.

“Baiklah, kau duduk di sofa ini. Dan jangan kemana-mana”

Aku duduk di sofa rumahnya. Rumah minimnya ini tidak berubah sama sekali, masih seperti dulu.

Aku ingat saat aku main di sini dari pagi sampai larut malam, mengerjakan tugas sekolah bersama, membuat kue bersama, masih banyak kenangan indah kami di sini.

Jung Hyemin POV

“Ini pakai bajuku”

Aku memberikan bajuku kepadanya.

Ya..aku ini namja. Masa iya aku memakai baju yeoja

Ya! Kau ini, sedang kedinginan seperti itu masih saja melawan”

“Kau seperti tidak tau aku saja, bajuku kaos semua. Bisa dipakai yeoja maupun namja” lanjutku.

Ya…aku hanya bercanda. Tentu aku tau tentangmu, sangat tau”

Aku terdiam seribu bahasa. Ucapannya itu membuatku sedikit melting. Ah, jinjja.

Ya! Kau ganti bajunya jangan disini, di kamar mandi babo!” bentakku sambil menutupi mataku.

“Ahaha, kau ini. Baru digituin saja sudah menutup mata” balasnya sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

MwoYa! Dia memang sudah gila!

“Baiklah, itu minum teh hangatnya. Setelah itu aku akan mengantarkan kau pulang”

Ku berikan segelas teh hangat kepadanya. Aku duduk di lantai dan dia menyusulku duduk di lantai, ia duduk tepat di depanku.

“Aku tidak mau pulang”

MwoNamja playboy! Ingatlah, kau sudah memiliki yeojachingu. Ubahlah sikapmu”

“Sudah ku bilang ia bukan yeojachinguku!”

Ya, kenapa dia menjadi menyeramkan begini..

“Bagaimana bukan, jelas-jelas kau tadi bermesraan di koridor sepi dengannya” ucapku lantang.

“Aku tau kau mengintipiku”

YaNamja ini terlalu percaya diri, tidak berubah sama sekali.

“Dianya saja yang kegatelan denganku. Kau tidak mendengar perkataan kami tadi? Jelas-jelas dia yang kegatelan. Aku tidak mencintainya karena aku hanya mencintaimu..” lanjutnya.

Mwo?…..Ya, kenapa aku jadi gugup begini….

“Ckckck, geotjimal” ucapku berusaha mengabaikannya.

“Aku serius”

Dia memegang wajahku dengan kedua tangannya. Ya! Cukup Sehun! Kau jangan membuatku gugup!

“Dari dulu aku hanya mencintaimu. Ini semua terjadi karena salah faham. Kau tau, malam itu aku memang berbohong kepadamu, karena Minah memaksaku untuk menemaninya. Dia bilang, jika aku tidak menemaninya, kau akan kenapa-kenapa. Aku tak mau kau kenapa-kenapa, tapi aku juga tak bisa membatalkan janjiku padamu dengan memilih jalan bersama yeoja lain. Ternyata ini semua jebakan. Maafkan aku Hyemin~ahjebal. Aku memang namja babo yang mudah tertipu”

Aku menatap wajahnya, aku merasa ia berkata jujur. Ia membalas tatapanku.

Mataku mulai berkaca-kaca, mencoba menahan air mata yang hendak membasahi pipiku.

Ia mulai mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Semakin ia mendekat air mata yang sedari tadi ingin keluar semakin menjadi-jadi.

Ku pejamkan mataku

Chu~

Saat itu pula air mataku jatuh membasahi pipiku.

Dia mengusap air mataku dengan kedua tangannya yang masih memegang wajahku. Ia membuat hidungnya dan hidungku tak ada jarak sedikit pun.

“Apakah itu sudah membuktikan bahwa aku sangat mencintaimu? Kembalilah kepadaku, jebal…”

Saranghae” ucapnya sembari memelukku.

Nado……nado saranghae” ucapku lirih namun berusaha meyakinkannya.

The End

Huehehe gimana fanfictionnya? Feelnya kurang yah? 😦 kalo udah baca aku harap kalian comment ya 😀 tapi kalo mau like juga boleh exoxo tapi aku gak maksa buat ngelike, cuman tolong kalian comment yah 😀  mianhae kalo kepanjangan._. Dan ini cuman ff jadi jangan dimasukin ke hati yah kata-katanya 😀  gamsahamnida *bow*

Iklan

38 pemikiran pada “Turn Back

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s