I Refuse to Lose You! (Chapter 3)

I Refuse to Lose You! (Chapter 3)

Author : @kim_mus2

Note : Sequel of HMH: Luhan Version

Main Casts: Xi Luhan & Lee Myung Hee

Other Casts:

  • Kim Myungsoo (L infinite)
  • Kamiki Ryunosuke
  • Shida Mirai
  • Lee Taemin (SHINee)
  • Etc.

Length: Multi Chapter

Genre: Romance, Comedy, School Life

Rating: PG-15

Big thanks for: @YasminFatina, yang udah ngasih sumbangan ide disaat otak author lagi nge-hang total hehe… Gomawoo chingu ^^

Cerita sebelumnya di IRTLY (kepanjangan deh -_-“):

Lee Myunghee a.k.a yeojachingunya Luhan (hasil HMH Luhan Ver.) merasa kalau hubungannya dengan Luhan semakin lama semakin biasa-biasa saja (hambar, kaku dkk). Terlebih lagi, saat nilai try out ujian nasional Luhan merosot, Myunghee merasa sangat bersalah dan memutuskan untuk menjauhi Luhan agar tidak mengganggunya.

 Sementara itu, karena Myunghee menjauhinya, Luhan mengira kalau dirinya selama ini telah gagal sebagai seorang namjachingu. Maka Luhan pun pergi ke Jepang untuk kuliah tanpa pamit pada Myunghee terlebih dahulu.

Karena tekad yang kuat, satu tahun kemudian Myunghee menyusul Luhan ke Tokyo dan berkuliah di Universitas yang sama. Tapi, saat bertemu, Luhan tidak mengakui Myunghee sebagai yeojachingunya lagi di hadapan seorang perempuan bernama Shida. Tak lama setelah itu, Myunghee malah bertunangan dengan namja bernama Kim Myungsoo. Bagaimanakah kelanjutan hubungan Luhan dan Myunghee? Apakah kesalahpahaman diantara mereka akan berakhir? Dan apakah Myunghee akan kembali dengan Luhan?

Check this out here! 😀

=♡♡♡=

Luhan’s Side

“… mulai saat ini aku tak akan mengganggumu lagi oppa. Aku akan menjalani hidup baruku. Perkenalkan, dia adalah tunanganku. Kim Myungsoo.” Aku hanya bisa mematung mendengar kata-kata yang diucapkan Myunghee. Aku bahkan tak menyadari kalau dia kini sudah tak lagi berdiri di hadapanku.

“Luhan, siapa perempuan itu?”

“Dia adalah perempuan yang paling aku cintai” jawabku dengan menatap kosong ke arahnya.

“Kenapa harus yeoja itu? Aku lebih mencintaimu Luhan!”

“Maaf, tapi aku tak pernah mencintaimu Shida. Bukankah dulu aku sudah mengatakannya dengan jelas? Lebih baik kau jangan mendekatiku lagi, semuanya akan sia-sia saja.” Jelasku, dengan nada bicara yang lebih rendah mencoba memberinya pengertian.

“Apa kau bilang? Kau akan menyesal telah mengatakan semua itu padaku Luhan!” Shida menatapku tajam sambil berlalu meninggalkanku.

Aku sudah tak peduli dengan perkataan Shida. Pikiranku sudah terlalu kacau. Lebih baik aku pergi.

Ku langkahkan kakiku yang lemas untuk keluar dari gerbang kampus ini. Aku bahkan tak tahu kemana kaki ini akan membawaku.

“Sudahlah Myunghee… aku akan selalu ada disampingmu. Jangan menangis lagi ya… aku mohon,” ujar seorang namja sambil merangkul pundak yeojaku di bangku taman. Aku lupa, dia bukan siapa-siapaku lagi. Pabo! Apa-apaan ini? Kenapa mataku jadi basah? Aku harus kuat, aku ini laki-laki!

Aku baru tahu, ternyata kehilanganmu terasa sesakit ini Myunghee. Aku kira aku tak akan pernah kehilanganmu. Aku memang terlalu percaya diri. Kau melakukan hal yang benar Myunghee… ini keputusan yang paling tepat untuk kita berdua. Aku harap kau bahagia bersamanya.

=♡♡=

Di Kafetaria

 

“Myungsoo…  kau mau makan apa? Taemin oppa memasakkan banyak makanan untuk kita. Coba lihat!”

“Wow! Jeongmal daebakk! Ppalli mokja!”

“Ne… ne… ne…hmm… masshita!”

Syukurlah, dia tersenyum bahagia hari ini. Demi senyumannya, aku tak akan pernah memperdulikan rasa sakit ini. Asal kau bahagia, aku pun bahagia Myunghee…

“Hey! sendirian saja?” sapa seorang namja yang datang menghampiriku. Dia langsung duduk bersila di sampingku sambil menaruh tas punggungnya di atas meja panjang di hadapan kami. Ya, kami memang lebih suka bersantai di tempat duduk ala Jepang ini. Rasanya lebih santai daripada duduk di kursi seperti yang sedang digunakan Myunghee dan namja itu.

“Hey Ryu! Kemana saja kau akhir-akhir ini? Kenapa jarang masuk?” tanyaku sambil menepuk bahu kirinya pelan.

“Ada deh… nanti saja ya kuberitahunya. Oh ya, kenapa wajahmu seperti orang patah hati begini? Kemana Shida?”

“Kenapa bertanya tentang Shida? Kangen ya?”ejekku padanya, sekedar untuk mengalihkan pembicaraan.

“Ti – tidak… memangnya dia siapaku? Aku kan tak ada hubungan apa-apa dengannya.” Jawabnya sedikit terbata-bata.

“Hahaha… ekspresi wajahmu lucu sekali.”

Bruukk…

“Ya ampun, perempuan itu ceroboh sekali. Jatuh dan terguyur jus jeruk seperti itu pasti sangat malu. Matanya juga terkena jus itu, pasti perih. Kasihan sekali. Eh, yang ditabraknya itu kan Shida, Ya kan Luhan?”

Tanpa sadar aku berlari ke arah Myunghee. Sepertinya sudah ada mesin otomatis dalam tubuhku ini. Aku selalu ingin melindunginya. Tapi, langkahku kini tertahan. Namja yang bernama Myungsoo itu membersihkan wajah Myunghee dengan sapu tangannya dan membawanya pergi.

Benar… aku memang sudah tak perlu melakukannya.

“Luhan… ada apa denganmu?” Tanya Ryu sambil memandang aneh ke arahku.

“Aku? Tidak ada apa-apa. Ayo kita pergi.”

“Tunggu! Kau aneh sekali hari ini Luhan.  Pasti ada yang kau sembunyikan. Ya kan?”

“Aneh bagaimana? Aku baik-baik saja ko.”

Sepertinya Ryu menangkap gelagat yang mencurigakan dariku. Aku harus sedikit berwaspada.

“Hey Ryu! Sudahlah, jangan terlalu mengkhawatirkanku seperti itu. Kita main sepak bola saja. Orang-orang di club pasti sudah menunggu.”

“Oh ya, ayo!”

=♡♡=

Di lapangan bola

Bermain sepak bola memang paling tepat untuk melepas penat. Pikiranku terasa lebih fresh  sekarang.

“Luhan! Over bolanya kesini!”

“Ya! Terima ini Ryu!”

“Good job! Cepat maju, aku over lagi kalau sudah dekat gawang!”

“Siap!”

~Dug!~

Suara yang sangat keras terdengar beberapa detik setelah Ryu menendang bola dengan membabibuta.

“Awww!”

“Myunghee!” teriakku tanpa sadar. Myunghee terjatuh dan pingsan karena pukulan keras dari bola yang ditendang Ryu. Aku berlari secepat mungkin untuk menolong Myunghee. Aku mohon, jangan terjadi apa-apa pada Myunghee. Aku memang berlebihan, tapi inilah aku. Kalian tahu kan, bagaimana perasaanku? (ga juga…#abaikan^^)

Author’s Side

Luhan lagi-lagi tak bisa menahan dirinya untuk menolong Myunghee. Dia langsung menggendong Myunghee menuju ruang kesehatan. Tapi, tak lama setelah itu  seorang yeoja membawa seorang namja bersamanya dan itu kembali berhasil menghentikan tindakan Luhan.

“Kim Myungsoo, perempuan itu adalah tunanganmu kan? Kenapa kau membiarkan pria lain menggendongnya?” tanya Shida dengan nada sinis, mencoba memanas-manasi namja yang konon adalah tunangan Myunghee.

“Oh itu, Ya… maaf. Luhan hyung, biar aku saja yang menggendong Myunghee.”

Shida tersenyum puas melihat pemandangan di hadapannya. Sementara Luhan hanya bisa tersenyum miris, merelakan Myunghee dibawa oleh namja lain.

Hampir saja terlupakan. Ryu, sang tersangka utama yang membuat Myunghee tak sadarkan diri berlari menyusul Myungsoo dan Myunghee ke ruang kesehatan. Rupanya dia merasa sangat bersalah pada Myunghee.

Sesampainya di ruang kesehatan, Ryu mendapati Myunghee sudah tersadar dari pingsannya. Ia langsung meminta maaf pada Myunghee sambil memberikan sekantong penuh makanan dan minuman sebagai perwujudan rasa penyesalannya atas kecerobohan yang ia lakukan pada gadis itu.

“Saya benar-benar minta maaf sudah membuatmu pingsan, saya harap makanan-makanan ini bisa membuatmu lebih baik. Sekali lagi saya minta maaf.” Ujar Ryu sambil membungkuk 90 derajat.

“Aduh… tidak usah seperti itu. Saya tidak apa-apa ko. Saya sudah biasa kecelakaan seperti ini. Malahan dulu saya lebih sering menabrak orang, jatuh dari pohon, dan pingsan dengan Luhan oppa di atap sekolah karena kedinginan.”

“Luhan? Kau kenal dengan Luhan? Dia teman baikku. Kami bahkan satu jurusan dan satu club olahraga.” Ryu sangat antusias begitu mendengar nama sahabatnya disebut.

“Ah… ne… aduh maaf saya jadi cerita yang tidak-tidak. Emm…”

“Oh ya, perkenalkan namaku Kamiki Ryunosuke, panggil saja Ryu. Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa kenal dengan Luhan? Dari ceritamu, sepertinya kalian sangat dekat.”

“Mereka dulu satu sekolah dan tentu saja mereka dekat, karena Myunghee adalah adik temannya Luhan hyung. Ya kan Myunghee?” Myungsoo langsung mengambil alih jawaban yang harusnya dilontarkan oleh Myunghee.

“Ryu senpai, sepertinya kami harus segera pergi karena kami ada acara keluarga. Terima kasih atas makanannya.” Lanjut Myungsoo, hampir tidak memberikan kesempatan pada Ryu untuk melanjutkan pertanyaan yang menurutnya sedikit menganggu.

Hari ini Ryu lagi-lagi menyaksikan perilaku orang-orang yang menurutnya aneh dan mencurigakan. Mulai dari Luhan yang dari tadi terus mencoba menolong Myunghee, perempuan yang menurutnya memiliki nasib yang sangat menyedihkan, pasangan Myunghee dan Myungsoo yang sepertinya merasa terganggu dengan bahasan tentang Luhan, dan satu lagi orang yang menurutnya mencurigakan adalah Shida. Setahunya, Shida sangat menyukai Luhan, tapi hari ini dia tidak menempel pada sahabatnya itu dan malah terus berkeliaran di sekitar gadis yang bernama Myunghee tadi. Kini, otak Ryu benar-benar pusing menghubungkan semua fakta yang ditemukannya hari ini. (Salah sendiri mau tahu urusan orang lain :p).

Karena terlalu pusing, akhirnya Ryu memilih untuk bergegas pulang dari kampus untuk kembali pada kesibukannya di luar sana. Sepertinya sekarang Ryu bahkan sudah lupa dengan Luhan dan club sepak bolanya. Padahal, di lapangan sepak bola sana Luhan sedang sangat membutuhkannya bukan hanya sebagai teman satu timnya, tapi juga sebagai teman curhat. Poor Luhan, sahabatnya terlalu asyik dengan dunianya sendiri.

=♡♡=

At Library

“Permisi, emm… boleh saya minta tolong?” tanya Myunghee ragu pada namja yang sedang asyik mencari buku tentang sains yang kini sedang membelakanginya.

“Oh, Ya tentu. Apa yang bisa saya bantu?” tanya sang namja sambil berbalik ke arahnya dan menyunggingkan sebuah senyuman yang ramah.

“Luhan oppa… “ Myunghee tidak menyangka dapat bertemu lagi dengan sosok namja yang ada di hadapannya itu.

“Myunghee…” Luhan tak kalah kaget dengan Myunghee.

“Oh Ya, apa yang bisa kubantu Myunghee?”

“Ah tidak jadi oppa, nanti malah merepotkan. Aku pergi dulu kalau begitu. Annyeong….” Jawab Myunghee sambil tersenyum kaku dan segera berbalik, mencoba menjauh secepat mungkin dari Luhan.

“Tunggu Myunghee!” Panggilan Luhan membuat langkah Myunghee terhenti seketika.

“Waeyo oppa?”

“Katakan saja apa yang kau perlukan, aku akan membantumu Myunghee. Anggap saja ini bantuan dari seorang teman. Otte?”

“Emm… sebenarnya aku ingin mengambil buku yang ada di rak paling atas itu oppa. Yang warna putih itu.”

“Oh ne… tunggu sebentar ya.”

Untuk sejenak, Myunghee tersenyum memandangi mantan kekasihnya itu. Ada sedikit rasa bahagia dan sedih yang bercampur di hatinya. Dia bahagia karena Luhan bersikap sangat baik dan memberikan senyuman terbaiknya. Itulah yang selalu diharapkannya dari dulu. Tapi, di sisi lain dia pun merasa sedih karena perlakuan dan senyuman itu tak bisa ia miliki seutuhnya.

“Myunghee… haloo… Myunghee… ini bukumu,” suara Luhan membuyarkan lamunan Myunghee dan membuatnya salah tingkah.

“Eh… mianhae oppa. Jeongmal gomawoo…”

“Cheonmaneyoo, ngomong-ngomong kenapa membaca buku tentang sains?”

“Oh, ini… aku harus mencari berita dengan bahasan teknologi dan sains untuk majalah kampus edisi minggu ini oppa.”

“Oh, begitu rupanya. Kau memang selalu aktif di kegiatan jurnalis. Kalau begitu, good luck ya! Fighting!” Luhan menepuk bahu kanan Myunghee dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya ia kepalkan sebagai tanda pemberi semangat sambil tak lupa menunjukkan senyuman di wajahnya.

“Ne, Fighting! Gomawoo oppa. Aku pergi dulu ya, annyeong…” balas Myunghee sambil menyunggingkan senyuman bahagia dan melambaikan tangan ke arah Luhan, yang juga melambaikan tangannya sambil memasang raut wajah yang tak bisa diartikan dengan kata-kata. Raut wajah bahagia dengan senyum tulus yang membuat namja itu semakin tampan dan manis.

Luhan’s Side

Ya ampun, apa yang terjadi barusan? Aku bisa membuat Myunghee tersenyum? Ternyata aku bisa membuat Myunghee senang? Aku bisa, ternyata aku bisa.

“Myungsoo!” teriak Myunghee kegirangan.

“Sssstttt!” semua penghuni perpustakaan merasa terganggu dengan teriakannya tadi.

Ternyata aku salah. Dia bukan senang  karena aku, tapi karena ia sudah menemukan buku yang ia cari dan bisa langsung menemui namja itu. Xi Luhan, Paboya!

“Ehem! Sepertinya ada orang yang sedang patah hati disini.”

Aku malas meladeninya. Biarkan saja dia mengoceh sendiri.

“Kasihan sekali ya… mau menolong perempuan yang tersiram jus jeruk, gagal. Mau menolongnya saat pingsan, gagal juga. Giliran bisa membantunya membawa buku dari rak, si perempuan malah berlari kegirangan untuk menemui tunangannya. Tragis sekali…”

Jujur aku benar-benar kesal dengan ucapannya tadi. Tapi, itu memang kenyataannya. Sudahlah, aku tak mau mencari masalah dengan yeoja ini.

“Huh! Luhan tidak merespon, lihat saja nanti. Gadis itu akan lebih sial lagi hari ini“ gumam Shida sambil menyeringai ke arah… itu kan ke arah Myunghee. Benar, aku baru sadar pasti kejadian jus jeruk kemarin, Shidalah yang menjadi dalangnya. Aku berbalik dan berjalan mendekati Shida. Kalau dia sudah berani mencelakakan Myunghee, aku tidak bisa tinggal diam lagi.

“Shida, jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa kau yang sengaja menabrak Myunghee dan menumpahkan jus jeruk ke wajahnya kemarin?” tanyaku sambil menahan amarah.

“Kalau Ya, memangnya kenapa?” jawabnya santai sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Jangan pernah menyakiti Myunghee! Kau akan berhadapan denganku, jika kau melakukannya lagi.” Tegasku sambil mengontrol suaraku, karena sekarang aku ada di perpustakaan. Kalau saja aku ada di luar ruangan ini, entah sekeras apa suara yang kukeluarkan untuk membentaknya. Kelakuan Shida membuatku marah.

“Terserah! Aku tak akan berhenti sampai kau melupakannya!” bentak Shida dengan geram.

“Nona, silahkan keluar dari perpustakaan ini. Anda mengganggu ketenangan para pengunjung disini.” Seorang petugas keamanan menghampiri Shida dan membawanya keluar dari perpustakaan. Dia memang pantas diperlakukan seperti itu.

“Lepaskan!” lagi-lagi Shida berteriak dan itu membuat sang petugas keamanan membekap mulutnya sambil menariknya keluar.

=♡♡=

Author’s Side

Jam dinding di salah satu rumah di daerah Tokyo Jepang sudah menunjukkan pukul 12 malam. Sang penghuni yang seharusnya sudah lelap tertidur di kasurnya yang empuk, masih sibuk mengotak-atik handphonenya dengan wajah cemas. Ia mencoba menghubungi orang-orang yang mungkin dapat membantunya mengurangi rasa khawatir yang melandanya saat ini.

“Myunghee! Kau ada dimana sih sekarang? Kau memang adik menyebalkan dan paling merepotkan sedunia, tapi aku galau setengah mati kalau kau belum pulang larut malam begini.” Taemin benar-benar frustasi malam ini. Adik perempuannya tak kunjung datang, bahkan telpon untuk sekedar mengabarinya pun tak ada. Myunghee seperti hilang ditelan bumi seharian ini.

“Okey, sekarang aku telpon Myungsoo saja. Siapa tahu dia sedang bersama Myunghee.” Lanjut Taemin yang dari tadi terus saja mengoceh sendiri untuk mengurangi rasa cemasnya.

~Tuut… tuut… tuut…~

The number you wish to call is unreachable….

“Aish! Kemana sih si Myungsoo! Kenapa dia juga ikut-ikutan susah dihubungi sih? Harus tanya siapa lagi coba? Aku kan belum tahu teman-teman Myunghee.”

Karena semakin bingung, akhirnya Taemin merebahkan badannya di atas sofa untuk menangkan diri terlebih dulu. Saat ia akan memejamkan matanya sejenak, terlintas sebuah nama di pikirannya. Meskipun Taemin tahu persis kalau orang yang akan dihubunginya itu sudah tak berhubungan dengan Myunghee, tapi setidaknya, mungkin dia masih mau membantunya untuk melacak keberadaan adik perempuan satu-satunya itu.

“Hallo! Apa ini dengan Luhan?”

“Ne… ini siapa ya?”

“Ini Taemin. Kau masih ingat aku kan?”

“Tentu saja. Ada apa Min? Tumben sekali menelponku malam-malam begini.”

“Mian, aku mengganggumu han.  Apa kau tahu dimana Myunghee sekarang? Dia belum pulang. Aku sangat khawatir, takut terjadi apa-apa pada anak itu.”

“Mwo? Belum pulang? Ini sudah lewat tengah malam. Aku akan mencarinya sekarang, kau tunggu di rumah siapa tahu nanti dia pulang duluan.”

~bip~

“Luhan? Hallo! Luhan? Ya ampun, dia sudah menutup telponnya. Myunghee… kau ini sangat bodoh. Luhan masih begitu menyayangimu seperti itu, tapi kau malah memilih untuk berpisah dengannya. Haaah…  Aku cuma bisa berharap yang terbaik untuk mereka.”

Sebenarnya Taemin masih khawatir dengan keadaan adiknya yang tiba-tiba menghilang itu. Tapi, kini ia merasa sedikit lega, karena ada orang yang bersedia untuk membantunya. Satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang adalah menunggu dan tetap terjaga, mengantisipasi datangnya kabar dari Myunghee atau bahkan akan lebih baik jika Myunghee langsung datang ke rumah dengan selamat sesegera mungkin.

Sementara Taemin menunggu dengan harap-harap cemas di rumahnya, di lain tempat, Luhan sedang sibuk memikirkan kemungkinan dimana Myunghee berada dan mencari cara untuk segera menemukannya.

“Tengah malam seperti ini, jalanan di daerah sini sangat sepi. Aku harus meminjam kendaraan. Tapi, pada siapa?”

Setelah merenung beberapa saat, akhirnya Luhan berinisiatif untuk menemui pemilik apartemen yang ia tempati. Ia bermaksud untuk meminjam kendaraan darinya, entah itu motor, mobil atau apapun, yang penting bisa membantunya untuk mencari Myunghee. Di tempat perantauannya ini, Luhan benar-benar hidup mandiri tanpa fasilitas mewah dari kedua orang tuanya. Alhasil, di saat-saat seperti ini, koneksi dengan orang-orang sekitar adalah modal utamanya.

~Ting… tong…~

Luhan menekan bel rumah pak Yamada, sang pemilik apartemen yang rumahnya berada tepat di samping kanan apartemennya. Tak lama setelah bel berbunyi, pintu rumah itu pun terbuka dan sesosok pria paruh baya yang mengenakan piyama abu-abunya keluar menghampiri Luhan sambil mencoba membuka mata sipitnya yang tampak sangat kelelahan. Tapi untunglah, karena pak Yamada sangat menyukai Luhan yang menurutnya adalah anak yang sangat rajin itu, matanya langsung terbuka lebar dan menyambut Luhan dengan senyuman hangatnya yang khas.

“Luhan? Kau rupanya. Ada apa, malam-malam begini datang ke rumahku? Ada yang bisa aku bantu?”

“Pak Yamada, maaf mengganggu. Saya ingin pinjam kendaraan. Emm… ada teman perempuan saya  yang belum pulang ke rumahnya. Saya khawatir terjadi apa-apa, jadi saya ingin mencarinya sekarang. Bolehkah pak?”

“Ya ampun, ini sudah malam sekali. Cepat! Kau harus cepat mencarinya. Semoga tidak terjadi apa-apa pada pacarmu itu. Ayo ikut ke garasi!”

“Maaf pak, dia teman perempuan saya, bukan pacar saya.”

“Ah! Sudahlah, tak perlu malu seperti itu. Bapak ini sudah berpengalaman soal cinta. Kamu tidak mungkin panik seperti ini, kalau gadis itu bukan orang yang berharga untukmu.”

Luhan hanya tersenyum kaku mendengar perkataan pak Yamada dan kemudian melanjutkan langkahnya untuk mengikuti pria itu menuju garasi.

Sesampainya di garasi, Luhan melihat banyak mobil mewah berjejer disana. Waktu untuk mencari Myunghee pasti akan lebih cepat dengan menggunakan mobil, pikir Luhan. Tapi di luar dugaan, pak Yamada memberikan alternative lain.

“Luhan, pakai motor Vespa pink ini! Motor ini sangat bersejarah untuk urusan cinta. Larinya juga masih bagus, aku yakin dia akan mengantarmu sampai pada tujuan hatimu itu dengan cepat.” Jelas pak Yamada sambil memasang wajah serius.

Luhan cukup tercengang dengan kata-kata pak Yamada. Tapi semua itu tak lagi ia pedulikan. Yang ada diingatannya saat ini hanya Myunghee.

”Kau ada dimana Myung Hee?” gumam Luhan resah.

=♡♡=

Tiga orang namja berbadan kekar dan mengenakan pakaian metal serba hitam mendekati Myunghee yang sedang menunggu bis di halte dekat kampusnya. Dua diantaranya berkepala botak dan satunya lagi berambut gondrong dan berkumis tebal.

“Gadis manis… ikut sama abang dangdutan yuk!”#ajakan macam apa ini? =_=“

“Maaf, aku harus pulang sekarang, terima kasih atas ajakannya.” Jawab Myunghee dengan suaranya yang semakin bergetar.

“Ayolah, jangan jual mahal seperti itu cantik… kita akan bersenang-senang, tak perlu takut. Kami jamin pasti menyenangkan.” Ujar salah satu preman botak yang sudah berjarak sekitar satu meter dari Myunghee.

Myung Hee berlari sampai akhirnya menemukan jalan buntu. Karena takut yang luar biasa, Myung Hee hanya bisa berjongkok dan menangis sambil menutup kepalanya dengan tas yang dipegangnya.

~Bruummm… beretek…tek… tek… tek…~

Suara motor vespa terdengar nyaring di telinga Myunghee dan kini terdengar langkah seseorang yang lebih cepat dari deru langkah berat segerombolan preman yang tadi mengejarnya. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh tangan kiri Myunghee dengan lembut dan menarik tubuhnya perlahan untuk berdiri.

Myunghee’s Side

“Istriku, kau kemana saja? Anak kita belum mendapatkan ASI hari ini. Aku mohon, kembalilah ke rumah. Kasihan dia menangis terus seharian. Aku mohon….”

Omona… ini kan… ini… namja ini kan Luhan oppa. Apa aku salah lihat? Kenapa dia mengatakan hal aneh seperti ini? Matanya juga berkaca-kaca. Ada apa lagi ini? Dimana preman tadi? Andwaee! Mereka terlalu dekat.

~Grep~

Luhan oppa? Dia memelukku. Bagaimana ini? Aduh… aku tambah bingung. Preman itu bisa-bisa tambah kesal kalau melihatku begini.

“Istriku, aku mohon… ayo kita pulang sekarang. Uangku tak cukup untuk membeli susu formula. Kau harus segera memberi Sehun ASI.”

Mwo? Sehun? Astaga, Luhan oppa kenapa jadi gila begini? Baiklah, sementara akan aku ladeni dialog aneh ini.

“Buat apa oppa kuliah terus huh? Oppa sama sekali tidak pintar. Oppa orang paling bodoh di dunia ini! Harusnya oppa mencari uang yang banyak. Aku tak mau hidup kita seperti ini terus. Lama-lama, aku, kau, dan anak kita akan mati.”

“Daebak Myunghee, ayo lanjutkan!” bisik Luhan oppa di telingaku. Arasseo, ini akal-akalannya Luhan oppa ternyata.

“Lepaskan aku!” Pekikku sambil mendorong kuat tubuh Luhan oppa.

Aish! Aku salah arah, Luhan oppa malah mengenai preman –preman itu. Pabo! Pabo! Pabo! Ya Tuhan… tolong selamatkan Luhan oppa… Jebaal….

TBC

 

Author’s Talk:

Jinjja! Bikin chapter yang ketiga ini serasa lama banget… nget… nget… Dapet idenya lelet banget. Trus, giliran dapet ide, nulisnya gak jadi-jadi. Cast juga malah nambah lagi. Ada tanda-tanda bakal nambah panjang lagi nih cerita. Bisa-bisa malah jadi drama, hadeuuh! Beneran butuh dukungan semangat nih dari kalian reader-deul (?) So, jangan lupa comment ya. Kritik dan saran ditunggu banget, biar next chapter bisa makin ngebut bikinnya dan ga mengecewakan, oce! Peluk cium dari author… mmuach… mmuach 😀

Iklan

9 pemikiran pada “I Refuse to Lose You! (Chapter 3)

  1. wkwkwkwkwwkwkwk daebakk thorrr~!!! ^.^b
    nguakak bgt luhan oppa pake vespa pink #guling2bayanginnya
    palagi baca trakhirnya klo sehun jd anak myunghee ma luhan oppa hahahahaha XDD
    keselek2 deh tu thehun diomongin dlam keadaan begitu 😛
    chapter slanjutnya yg cepet yaaa
    author HWAITING!

    • Makasih chingu, it seems… you are the only reader here
      big thanks for you 😀
      udah author kirim semua ko, tungguin aja ya… kalo mau mampir ke blog ak juga boleh, tapi jgn lupa komennya ya
      Jeongmal gomawoo… ‘BOW’ 😀

  2. ahahaha thor tau gk? pas bca ff ni tuh q lg mkan biskuit. pas baca adegan luhan dikasih vespa, biskuitnya nyembur tau ~
    aduh, ktor smua XD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s