The Girl and The Sparrows

The Girl and The Sparrows

 

Author             : cnredno         (@cnredno)

Main Cast        :

•           Han Jong Ra (OC)

•           Oh Se Hoon (EXO – K)

Rating              :           PG-13

Genre               :           Romance, AU , Hurt

Length             :           Ficlet

Disclaim          :           The idea of this fanfiction is mine and the cast belong to God.

Tap tap tap

Gadis berhoodie merah itu tetap mempercepat langkah kakinya. Walaupun musim dingin belum tiba, tetapi dinginya malam itu telah berhasil menusuk – nusuk tulangnya. Kedua tanganya saling mengusap , memberi sedikit kehangatan.

Tak jarang disepanjang jalan kota Seoul itu, telah berdiri beberapa papan reklame yang bertuliskan ‘Marry X-Mas !!’. Bahkan toko – toko pun sudah mulai mengganti konsepnya menjadi penuh dengan nuansa natal.

Gadis itu terus menggerutu tak jelas. Ia bahkan menendang apa saja yang dilihatnya. Entah itu batu kerikil di pinggir jalan atau kaleng bekas sekalipun.

Han Jong Ra, gadis berambut sebahu dengan wajah oriental itu pasrah saja ketika seorang rekan kerjanya memintanya untuk datang ke apartmentnya. Ditengah dinginya malam seperti ini? Oh-astaga. Han Jong Ra bahkan harus berulang kali merapatkan jaket dan hoodienya itu.

BRUK

Jong Ra menyadari tubuhnya sudah terjatuh di daratan aspal. Yang ia rasakan, pantat dan sikunya sangat terasa sakit. Ia bangkit berdiri.

“ Maaf, maafkan aku” ucap Jongra. Ia berkali – kali menundukan kepalanya. Tanganya berusaha ikut membersihkan mantel salju yang dikenakan wanita paruh baya yang ikut terjatuh tadi.Ini semua memang salahnya tidak memperhatinkan  jalan!

Wanita paruh baya itu hanya diam membiarkan tangan Jongra yang sibuk menepuk – nepuk mantelnya. Entahlah, mungkin agar debu aspal itu hilang. Matanya menelisik pakaian Jongra. Hoodie merah tua, jaket tebal dan syal yang juga berwarna merah kemudian celana jeans yang telah nampak lusuh.

Wanita itu hanya tersenyum lembut melihatnya.

“ Tak apa, nak. Aku bisa sendiri ”

Perlahan – lahan tangan Jongra mulai menjauh dari tubuh wanita itu. Ia membalas senyumanya kemudian membungkukan tubuh lagi.

“ Maaf. Sekali lagi maafkan aku”

“ Tak apa. Kau terlalu berlebihan”

Wanita itu mengelus – elus bahu Jongra kemudian berjalan pergi meningalkan gadis itu sambil menunjukan senyumnya. Senyum lebar yang tadinya terkembang bebas di wajah wanita itu lama kelamaan berubah menjadi senyum sinis.

Ia mengambil handphonenya. Terlihat ia sedang mencari – cari urutan nomor telephone seseorang dengan  sangat cepat, kemudian

“ Kim, aku butuh bantuanmu”

***

Han Jong Ra,Oh- bahkan gadis itu baru saja mendaratkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Tetapi suara bel berisik –menurutnya- itu membuat ia bangkit kembali untuk membuka pintu.

Ia berjanji akan memukuli Joo San , jika tamu tak diundang itu dia.

***

“ Hachih …”

Laki – laki itu bahkan sudah berulang kali bersin di depan pintu apartment kekasihnya. Ia kembali mengusap – usap hidungnya yang tampak kemerahan.Kakinya menghentak – hentak membuat irama kaki tak beraturan.

Cklek

Kepalanya mendongak cepat, ekspresinya berubah bingung ketika mendapati tangan kekasihya mengepal kuat di udara.

“ Oh , sehun! Kukira Joo San!” ucap gadis itu.

Tangannya kembali turun dan menarik lengan Oh Sehun masuk kedalam apartmentnya. Dengan gerakan cepat,kakinya mendorong pintu apartmen cukup keras.

“ Duduklah!” Jongra mendorong tubuh Sehun kearah sofa tuanya. “ Aku akan buatkan teh hijau”lanjutnya lagi.

Jongra perlahan menjauhi ruang itu dan beranjak ke dapur. Oh Sehun membuka jaket dan syalnya. Ia memandangi apartment tua milik gadisnya itu. Cukup layak memang. Tapi hati kecilnya tak bisa membiarkan keadaan terus begini. Bagaimanapun juga Jongra juga harus tinggal di tempak yang lebih layak lagi.

Beberapa menit berlalu, dan gadis itu kembali dengan dua cangkir tanah liat di nampannya. Ia meletakkan itu di meja, kemudian ikut  mendudukan dirinya di sebelah sehun.

“ Ada apa kemari?” Tanya Jongra langsung. Gadis itu memang tidak suka bertele – tele.

“ Well, bisakah kita sedikit berbasa basi sedikit?” Sebaliknya Sehun tidak suka kebiasaan Jongra yang satu itu.

“ Oh- oke.” Jongra membenarkan posisi duduknya.

“ Kau baru pulang kerja atau apa? Mukamu kusut!”

Jongra menarik nafas sebentar kemudian mulai bercerita “ Oh- Lee Jun Hee putus dengan pacarnya. Ia menangis seharian, dan ia menelponku. Tentu saja sebagai sahabat yang baik aku datang dan meminjamkan bahuku untuknya. Bahkan bantal – bantal dikamarnya sudah banjir akan air mata” Jongra berbicara panjang lebar.Ia mengambil nafas kemudian melanjutkan lagi. “ Lalu saat aku pulang dan ingin istirahat sejenak, kau datang dan …”

“ jadi kau menyesal aku datang?” Potong Sehun cepat, lelaki itu menaikkan sebelah alisnya.

“ Bukan – bukan seperti itu. Dan kau datang menghilangkan semua kejenuhanku hari ini”ujar Jongra, entahlah gadis ini belajar dari mana kata – kata romantis tersebut.

“ Harusnya aku yang berkata seperti itu. “ Sehun terkekeh pelan “ Bahkan sudah 1 bulan aku tak menunjungimu” terlihat ada nada penyesalan di kalimatnya ini.

“ Aku akan mengajakmu ke suatu tempat besok. Aku akan menunggumu di depan gereja seperti biasa. “ Lanjut Sehun lagi.

“ Tapi …” Gadis itu sepertinya masih tampak ragu – ragu.

“ Ibuku tidak akan tahu. Bahkan, aku kemaripun harus sembunyi – sembunyi Jongra!”

“ Baiklah” Jongra mengiyakan ajakan Sehun. Sudah 1 bulan mereka tak bertemu, gadis mana yang tak rindu ditinggal dengan kekasihnya? Begitupun Jongra. Ia hanya ragu , mengenai Ibu Sehun. Yang ia tahu Ibu Sehun sangat melarang anaknya itu bertemu denganya.

 

“ Sudah bersiap menyambut natal?” tanya Sehun antusias membuyarkan lamunan Jongra.

“ Ya. Aku sudah membeli bahan untuk  membuat biskuit Manusia Jahe kesukaanmu!” Jongra tersenyum lebar. Ia sangat tahu apa yang Sehun inginkan. Sehun balas tersenyum dan mencubit pelan pipi Jongra.

***

Menunggu detik demi detik berjalan mundur, melambat. Gadis itu tetap tak berkutik dari layar komputernya. Padahal 30 menit lagi ia akan pergi bersama Oh Sehun ,entah kemana.Yang   pasti  Sehun sangat merahasiakan tempat itu.

“ Hallooo!” seorang gadis berambut hitam panjang dengan sedikit warna merah menyala di setiap sisinya, mengibas – ibaskan kedua tanganya di depan wajah Jongra.

“ Joo san,tolong mengerti aku! Aku sedang sibuk. Dan sebentar lagi aku harus pergi!”. Jongra menghentikan pekerjaanya kemudian menaikkan kacamatanya yang sedikit melorot. Ia melirik tajam kearah Joo San.

“ Oh.Oke Maaf!”

Jongra menghembuskan nafasnya keras, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya. Pekerjaan sebagai seorang editor majalah di sebuah perusahaan kecil di sudut jalan. Memang tak banyak uang yang bisa ia dapatkan dari pekerjaan itu.

“ Kau tahu kabar terakhir dari Hee Yoon? “

Oh- sepertinya Joosan tak bisa menjaga kata – katanya. Ia kembali membuat Jongra memutar kedua bola matanya kesal. Ia kembali mendengus keras. Ia tahu, Joosan bukan tipikal gadis yang menyukai kesunyian tapi bukan juga tipikal yang menyukai kebisingan, Joosan hanya ingin memberi sedikit –Oh,sepertinya tidak- obrolan di sela- sela pekerjaan temannya itu.

“ Terakhir kali ia menayakan kabarku, maksudku kabar kita. Tapi , Oh-kumohon Joosan, aku butuh bantuanmu sekarang!”

Joosan menaikkan kedua alis matanya. Wajahnya terlihat berbinar – binar. “ Apa? “

Jongra tersenyum simpul dan “ Bisakah kau diam sejenak ? ”.

***

Oh Sehun, laki – laki itu tetap setia menunggu seseorang yang telah memenuhi hati dan pikiranya 2 tahun belakangan. Seseorang itu , Han Jong Ra.

Sehun masih tetap memandang burung – burung gereja dihadapanya. Burung gereja yang kicauanya mampu menyejukkan hatinya. Tapi sepertinya untuk saat ini, hal itu tak berlaku. Han Jong Ra terlambat 1 jam 15 menit’.

“ Maaf, aku terlambat!” sebuah suara membuyarkan lamunanya. Ia menoleh dan tersenyum lebar mendapati Jong Ra telah berdiri di sebelahnya. Hingga matanya yang sipit ikut tersenyum melihat kedatangan kekasih hati.

“ Tak apa, duduklah! “ Sehun menepuk – nepuk sisi bangku di sampingnya. Gadis itu menurut.

 

Mereka berdua sibuk dengan pikiranya masing – masing. Menatap kosong pemandangan gereja di depan mata mereka ,seakan tak tertarik. Sisa – sisa hembusan angin musim gugur menerbangkan helaian rambut keduanya. Sebentar lagi Natal, tapi salju sepertinya datang terlambat.

“ Ehem … “ Sehun akhirnya membuka suara.

“ Sehun, ada apa? “

“ Tenggorokanku sakit “ Sehun mengelus – elus tenggorokanya.

“ Kau bercanda !” Jongra memukul lengan Sehun pelan. Kemudian keadaan menjadi sunyi kembali.

***

Sehun merogoh saku jaketnya , mengeluarkan sebuah kalung berkilauan yang ditengahnya terdapat berlian berbentuk sebuah burung.

“ J…Jongra” Suaranya terdengar gugup.

“ Ya?” gadis itu menoleh.

“ Ehm, angkat rambutmu, ehm maksud … maksudku seperti ini” . Laki laki itu mempraktekan kedua tanganya yang terlihat seperti menyibakkan rambut.

“ … “ Jongra terlihat tidak mengerti akan bahasa isyarat Sehun. Padahal terlihat sekali di wajah gadis itu,ia menahan tawa.

“ Aduh, bagaimana ya?”. Sehun tertunduk lesu. Ia mendongak kembali. “ Ma-af” Dengan ragu ia menyibakkan helaian rambut Jongra dan mengangkatnya perlahan.

“ Tahan ini “ Sehun mengambil tangan Jongra untuk mengambil alih rambutnya sendiri.

Perlahan – lahan, Oh Sehun memasangkan kalung itu di leher jenjang Jong Ra. Jongra terlihat terkejut ketika mendapati sebuah kalung dengan manisnya sudah bertengger di lehernya.

“ Sehun, ini ? ”

“ Jaga baik – baik. Kalau kau menghilangkanya atau sampai menjualnya kau akan tahu hukumanya nanti! “

Sehun kembali membenarkan posisi duduknya. Ia menghembuskan nafas lega. ‘Kenapa hanya memasang kalung saja susah seperti ini,Tuhan ‘ Gumamnya.

“Ayo, aku akan mengajakmu ke suatu tempat “ ujar Sehun. Ia menggenggam tangan Jongra. Menelusupkan jari – jemarinya di jari – jari mungil gadis itu. Dan mengajaknya pergi.

 

***

“Sehun, apakah kita sudah dekat? Kita sudah berjalan terlalu jauh “ Jongra menoleh kearah Sehun. Ia terlihat ragu dengan ucapan Sehun yang akan membawanya ke suatu tempat. Entah tempat apa itu.

“ Kita hanya tinggal menyebrang jalan kemudian belok kiri dan ikuti  arah jalan” Jawab Sehun. Kepalanya menoleh ke kanan dan kekiri. Seperti memastikan sesuatu.

“ Tapi, apakah kau benar – benar yakin?”

“ Tentu saja! Kalau tidak untuk apa aku membawamu kesana,huh?”

 

Mereka berdua tetap berjalan bergandengan tangan. Sudah berapa lama mereka tak seperti ini? Jongra merasakn jantungnya selalu dipompa 2 kali lipat ketika Sehun berada di dekatnya . Hatiinya seakan ingin meleleh sekarang juga. Genggaman tangan Sehun, sangat hangat. Itulah yang ia rasakan.

Hingga lampu pejalan kaki berubah warna dan mereka menyebrang.

Drrrt Drttt

Sehun agak terkejut , ponsel di saku celananya bergetar. Ia berhenti dan melepaskan gengaman tangannya. Jongra ikut berhenti.

“ Hallo ? ”

Tin Tiiin

Keduanya terkejut, terlebih Sehun yang lebih dekat dengan asal suara tersebut. Sebuah mobil sedan putih melaju sangat kencang ke arah mereka berdua.

Kejadianya terlalu cepat, badan mobil tersebut menabrak tubuh mereka berdua. Beruntung Jongra hanya terpental tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri tadi. Namun, Sehun? Ia terluka terlau parah.

Dan terlebih lagi, mobil sedan itu tetap melaju kencang meninggalkan korbannya.

***

“ Hallo “ Oh Sehun mengangkat ponselnya dan mulai menyapa si penelpon. Hingga suara klakson sebuah mobil membuatnya terkejut.

Prang

Ponselnya terjatuh

Badanya seakan tak bisa digerakkan. Lidahnya kelu, bahkan untuk berteriak pun rasanya sangat susah. Hanya pupil matanya yang ikut melebar bersamaan dengan semakin mendekatnya mobil tersebut.

Terlalu cepat. Ia merasakan tubuhnya didorong oleh sesuatu yang sangat keras dan besar. Tubuhnya terpental ke belakang. Kepalanya membentur aspal dan mengeluarkan banyak darah.

Yang ia ingat dan ia dengar terakhir kali,yaitu teriakan orang – orang disekitarnya dan kekasihnya yang jatuh tergeletak tak berdaya tak jauh darinya.

Kemudian

Semuanya gelap.

 

***

Sedangkan di suatu tempat. Ruangan yang gelap dan hanya ada cahaya dari jendela besar di sampingnya. Seorang wanita paruh baya dengan seorang laki – laki yang sepertinya terlihat sedikit lebih muda.

“ Sudah ku duga. Ia pasti menyembunyikan sesuatu dariku “

“ Tapi darimana anda tahu, Nyonya ?”

“ Firasatku tak pernah salah Kim! Gadis itu pasti pembawa sial, sejak pertama kali aku bertemu denganya malam itu . Foto foto ini sudah cukup membuktikan.“

“ Tapi … “

“ Tenang saja! Dengan cara apapun aku akan memisahkan mereka. “

“ Baiklah, Nyonya “

Laki – laki dengan setelan jas hitam itu pergi meninggalkan wanita itu sendirian. Tanpa ia sadari, wanita itu meremas kuat foto – foto yang berhasil membuatnya naik pitam. Foto – foto yang memperlihatkan sepasang kekasih di depan sebuah gereja.

Han Jongra dan Oh Sehun.

Tililit tililit

Tiba – tiba suara ringtone ponsel wanita itu berbunyi, Dengan cepat ia mengangkatnya.

“ Ya … Sehun? anakku … Apa?”

Dan ponsel tersebut jatuh.

***

Beberapa jam setelah kejadian tragis itu menimpa mereka….

Tes Tes

Cairun infus itu terus menetes. Satu – satunya suara yang terdengar di ruangan serba putih  itu. Seorang gadis dengan rambut sebahu itu sebenarnya sudah terbangun sedari tadi. Namun ia masih belum mengerti keadaanya sekarang.

Di ruangan serba putih dengan aroma khasnya yang pahit? Rumah Sakit ? Bukankah tadinya ia sedang bergandengan tangan bersama Oh Sehun-kekasihnya ?

Lalu, kenapa ia disini?

Dan terakhir kali ia melihat Sehun …

Tidak, Tidak mungkin.

Ia beranjak dari  ranjang tidurnya, berusaha duduk walaupun seluruh tulangnya seakan ingin remuk.

Ia bergegas mencabut jarum infus di pergelangan tanganya dan pergi keluar kamar begitu saja.

***

Gadis itu- Han Jong Ra- tersenyum miris. Ia merutuki dirinya sendiri. Melihat kekasihnya terbaring koma di hadapanya. Beruntung ia dengan cepat menanyakan dimana kamar rawat Sehun. Hati kecilnya selalu menyalahkan dirinya sendiri. Ia ingin menangis tapi kenapa rasanya terlalu berat?

‘ Harusnya aku saja yang koma’

‘ Harusnya aku melindungi Sehun tadi ’

‘ Harusnya aku menarik Sehun tadi ‘

‘ Harusnya …

‘ Harusnya aku …

Tanpa disadarinya ia menangis. Bulir – bulir air mata yang ia inginkan keluar akhirnya meluncur indah. Isak tangisnya bertambah keras. Ia tak peduli, jika Sehun tiba – tiba bangun dan mengatainya cengeng. Karna memang itulah yang ia inginkan. Tanganya menggenggam kuat tangan Oh Sehun.

‘Brak ‘

Pintu tiba – tiba terbuka lebar. Menampakkan seorang wanita paruh baya dengan raut wajah yang tak bisa ditebak, antara cemas,sedih, marah bercampur jadi satu.

“ Kau …” ucapnya tertahan. Gigi – ginya saling beradu arah, ia terlihat menahan sesuatu. Perlahan – lahan ia mendekat ke arah Jongra.

“ Dasar miskin! Baru saja aku meninggalkan Sehun sebentar dan kau datang! Harusnya kau saja yang koma bukan ANAKKU! ” ucap wanita itu. Dengan cepat ia menarik rambut Jongra hingga gadis itu jatuh tersungkur.

“ PERGI!!!” Amarah wanita itu meluap – luap. Entah kenapa melihat Jongra membuatnya ingin membanting apa saja yang dihadapanya.

“ PERGI!! Dan jangan pernah temui anakku lagi!” ucapnya terakhir kali kemudian wanita itu mendorong paksa Jongra keluar dari kamar rawat kekasihnya.

***

Di depan sebuah gereja di kota Seoul …

Han Jong Ra , kini gadis itu meratapi nasibnya. Menangisi semua yang terjadi. Di sebuah bangku yang menghadapkanya pada pemandangan gereja dengan puluhan burung gereja di depanya. Di sebuah bangku yang sangat berarti baginya. Di sebuah bangku dimana ia dan Sehun selalu berjanji ingin bertemu. Disebuah bangku dimana ia dan Sehun dapat melihat burung gereja yang berkumpul dan berkicau bersama di depan gereja tersebut. Dan

Tempat dimana Oh Sehun menyatakan cintanya pada Han Jong Ra. Tapi kini? Semuanya hanya kenangan. Kenangan yang akan selalu membuat hatinya sakit.

Ketika ia tahu , bahwa wanita itu adalah Oh Seung Ah, Ibu dari kekasihnya sendiri Oh Sehun. Wanita yang ia temui tanpa sengaja ketika malam itu. Wanita yang tega menjambak rambutnya dan memaksanya keluar dari kamar rawat kekasihnya.

Andai saja ia tahu lebih awal, andai saja ia tahu bahwa itu ibu Sehun .

Yang ia tahu, Ibu Sehun sangat melarang anaknya bertemu denganya. Hanya itu ,sungguh.

Ia masih terus terisak.

Kemudian ia bangkit berdiri dengan sisa – sisa isak tangisnya.

***

Beberapa hari berlalu …

Han Jong Ra sama sekali tak mempunyai nyali lebih untuk menggerakan kakinya ke kamar rawat Sehun. Takut hal yang sama akan terulang kembali. Dalam beberapa hari ini pula ia telah membuat sebuah keputusan. Tekadnya sudah bulat, ingin kembali ke apartment kecilnya dan membayar semua biaya administrasi dengan uang tabunganya. Tentu saja sekaligus menjenguk Oh Sehun untuk terakhir kalinya.

‘ Menemui Sehun dan mengucapkan salam perpisahan padanya. Dan tidak akan bertemu denganya lagi’

Ia rela melepaskan cintanya, demi Sehun. Hubunganya dan Sehun tidak mungkin akan terus seperti ini, selalu ditentang oleh Ibu Sehun. Entahlah keputusanya ini benar atau tidak. Tapi yang ia tahu, hatinya sangat tak membenarkan keputusan ini.

Ini semua demi Sehun, ia tak boleh jadi anak yang durhaka pada keinginan ibunya,bukan?. Pikir Jongra.

Tapi hati kecilnya yang lain menyuruhnya untuk berbuat egois. Jika perlu bawalah Sehun pergi dari Rumah Sakit tersebut.

Ia tahu keputusanya terlalu cepat. Tapi inilah Han Jongra, gadis dengan pemikiran yang pendek. Tak pernah memikirkan apa yang akan terjadi nantinya.

“ Oh- Nona Jongra? “ sapa seorang suster. Ia berhasil membuat Jongra menghentikan langkahnya di koridor rumah sakit. Ia menoleh.

“ Kau mengenalku? “

“ Ya, tentu saja kau Nona Jongra pasien kamar 201 bukan? Ada sesuatu yang harus kebicarakan padamu”.

Jongra terlihat berpikir sebentar kemudian mendekat ke arah suster itu. Apa yang ingin dibicarakan suster tersebut?’

“ Apakah Nona ingin membayar semua biaya admistrasi anda? Atau …” suster itu menggantung kalimatnya.

“ Kalau iya, jawaban pertama semua biaya admistrasi anda telah dibayar oleh Nyonya Oh Seung Ah. Dan jika pertanyaan kedua saya benar maka jawabanya Orang yang anda cari sudah pergi”

“ Apa maksud Suster?”

“ Jika pertanyaan kedua saya benar. Apakah Nona kemari mencari pasien yang bernama Oh Sehun?”

“ Jika iya?”

“ Ia telah dipindahkan ke Rumah Sakit di Australia, baru saja”

DEG!

***

Monday, Tuesday, Wednesday , Thursday, Friday, Saturday, Sunday, Monday …

Setiap hari gadis itu menghabiskan hari – harinya dengan  puluhan burung gereja.

Han Jong Ra kembali menangisi hidupnya ,untuk yang kesekian kalinya ia duduk di bangku ini. Lingkaran hitam dibawah matanya sudah menyaingi mata panda mungkin. Pipi tirusnya, matanya yang bengkak, sudah cukup mengatakan bahwa ia sedang banyak masalah.

Sesekali ia menceritakan masalahnya ini pada puluhan burung gereja dihadapanya. Mungkin orang – orang sudah mengangapnya gila. Tapi kenyataanya, ia memang butuh teman untuk mendengar semua masalah hidupnya. Ia tak peduli.

Bahkan Lee Joosan –temannya- tak ia ceritakan masalah ini. Ia hanya tak ingin temannya tahu, bahwa ia adalah gadis yang sangat rapuh.

Kini, ia lebih membutuhkan nyanyian burung – burung gereja itu. Yang selalu membuat hidupnya tenang. Walaupun ia tahu, ia takkan tenang sebelum melihat Sehun,menanyakan keadaanya, me- OH- rasanya mustahil. Sehun, entah bagaimana ia kini di Australia.

Seekor burung gereja mendarat indah di atas telapak tanganya. Gadis itu menunduk. Menatap burung gereja yang juga balas menatapnya. Jongra tersenyum simpul. “ Menurutmu kenapa Ibu Sehun membenciku?”

“ Apa karna aku miskin?” lanjutnya lagi di sela – sela isak tagisnya dan burung gereja itu hanya diam ,kemudian kembali terbang.

Mengucapkan salam perpisahan pada Sehun pun tak sempat. Apalagi kini? Ia harus menerima kenyataan bahwa Sehun tak kan pernah ada disisinya lagi. Jika ia diberi pilihan, ia akan lebih memilih bahwa semua ini hanya mimpi buruknya. Dan Ia akan terbangun dan kembali bersama Oh Sehun lagi.

Tapi ,yang pasti

Dan Yang akan selalu ia katakan dalam hatinya adalah

‘Aku selalu menunggumu disini,Oh Sehun’

***

[ Epilog ]

2 tahun berlalu,

Menatap pintu kaca yang terbuka kemudian kembali tertutup. Di depan sebuah toko perhiasan , ia telah memantapkan niatnya. Tanganya menggenggam erat kalung dengan hiasan burung gereja di tengahnya. Matanya intens menatap kalung itu, kemudian membalik hiasan burung gereja itu.

SJ

‘ Sehun Jongra’ gumamnya pelan ketika membaca inisial sepasang kekasih di balik hiasan burung kalung itu.

Perlahan- lahan, dimasukkanya kalung itu kedalam saku jaketnya. Kemudian ia melangkah mantap , masuk kedalam toko itu.

***

“ kau yakin ingin menjualnya? “

“ ya “

“ apakah kau Han Jong Ra, kekasih Oh Sehun yang tampan itu?”

“ Dari mana Bibi tahu itu?”

“ Oh- ternyata ingatanku masih kuat. Kalung ini, aku masih ingat sekali sejarahnya”

“ Bibi, maksud bibi apa? “

“ Kalung ini, Sehun memaksaku untuk menjualnya dengan harga murah. Katanya ia menabung untuk kalung ini. Ia juga bercerita kalung ini untuk kekasihnya, Han Jong Ra. Aku bahkan masih ingat ketika ia juga memaksaku untuk mebuat inisial SJ di belakang kalung ini. Yah itulah yang aku ingat. Jadi simpanlah kalung ini, dan jangan pernah menjualnya padaku, karna aku tidak mau membelinya. Anak muda itu telah berjuang keras untuk kalung ini, ckck. Apakah hubunganmu dengan Sehun baik – baik saja?”

“ … “

Han Jongra mengambil alih kalung itu dari tangan bibi penjaga toko itu. Terlihat sekali,bahwa ia menahan seseuatu di ujung matanya. Air mata.

“ Bi, terima kasih. Aku akan menyimpan kalung ini baik – baik” Kemudian gadis itu pergi dengan sisa – sisa air matanya.

***

Han Jong Ra berlari sekuat yang ia bisa, sampai – sampai ia tak memperhatikan jalan. Sungguh , mungkin ia akan menyesal telah menjual kalung itu jika bibi itu tak memberitahunya lebih awal.

Brugh

Jongra mendapati dirinya telah terjatuh di atas daratan aspal. Ia cepat – cepat bangkit berdiri dan berkali – kali membungkukan badannya. “ Maaf, maafkan aku”

“ Hei, tak usah berlebihan seperti itu” ucap laki – laki yang tadi ikut terjatuh juga.

Jongra mendongak.

DEG!

Waktu seakan berhenti, matanya menatap dalam mata laki – laki itu. Tapi pandangan lelaki itu tak sehangat yang ia rasakan 2 tahun yang lalu. Apakah ini hanya halusinasinya saja? Tapi, sungguh laki – laki dihadapanya ini sangat mirip dengan Oh Sehun. Lekuk wajahnya, hidungnya, dan Oh- luka di bagian dahiya akibat kecelakaan 2 tahun lalu. Ia masih ingat sekali.

“ Tunggu, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Ucap lelaki itu.

DEG!

Benarkah, laki – laki di hadapanya ini Oh Sehun?

Lalu , menagapa ia tak mengenali Han Jong Ra, kekasihnya?

*FIN*

Hallo! I’m Retno! Salam kenal ^^

Baru pertama kali buat FF yang castnya member EXO. Apakah kalian suka? Jujur ini ff hancur sekali, karna baru pertama kalinya buat ff dgn genre romance hurt. pasti reader nggak dapet feelnya kan? Ato malah nggak nyambung?

Silahkan timpuk saya dengan bias – bias kalian. Hehe

 

The next ff, sequel of The girl and the sparrows tapi bakal aku buat kalo aku ada waktu ngetik. Soalnya tugasku menumpuk. Dan di ff ini udah aku tampilin nama2 asing seperti Junhee, Joosan,, Heeyoon dll. Mereka akan membintangi (?) ff  The Girl versi beikutnya…

Oke, Jangan lupa tinggalkan Komen kalian.

Berkunjung ke blogku ya

http://www.ffartdesign.wordpress.com

Thank YOU!

 

Iklan

11 pemikiran pada “The Girl and The Sparrows

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s